Posts

, , ,

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

Oleh: Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Iftasw

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya: Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia sangat memerlukan gambar atau foto untuk diletakkan pada Kartu Tanda Pengenal (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), kartu jaminan sosial, ijazah, paspor dan untuk keperluan lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah kita boleh untuk keperluan tersebut. Jika tidak boleh, bagaimana dengan mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang (memiliki jabatan tertentu), apakah mereka harus keluar atau terus berkecimpung di dalamnya?

Jawaban:
Mengambil gambar atau berfoto hukumnya haram, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis-hadis shahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ melaknat siapa saja yang membuat gambar, dan penjelasan beliau ﷺ, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berat mendapatkan siksa. Hal itu disebabkan, bahwa gambar atau lukisan merupakan sarana kepada kemusyrikan, dan kerena perbuatan tersebut sama dengan menyerupakan makhluk Allah.

Tetapi jika hal itu terpaksa dilakukan untuk keperluan pembuatan Kartu Tanda Pengenal, Paspor, Ijazah, atau untuk keperluan yang sangat penting lainnya, maka ada pengecualian (rukhsah) dalam hal yang demikian, sesuai dengan kadar kepentingannya, jika ia tidak menemukan cara lain untuk menghindarinya. Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang dan tidak menemukan cara selain dengan cara yang demikian, atau pekerjaannya dilakukan demi kemaslahatan umum, yang hanya dapat dilakukan dengan cara itu, maka bagi mereka ada pengecualian (rukhshah), karena adanya kepentingan tersebut, sebagaimana firman Allah:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang kalian dipaksa kepadanya” [Al-An’am : 119]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

FOTO ATAU GAMBAR WANITA

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Apakah foto wanita yang terdapat di Paspor atau Tanda Pengenal lainnya merupakan aurat bagi wanita? Apakah dibenarkan bagi seorang wanita yang menolak berfoto untuk mewakilkan hajinya kepada orang lain, disebabkan ia tidak mendapatkan Paspor? Sampai di manakah batas-batas pakaian yang harus dikenakan oleh seorang wanita yang terdapat dalam Alquran dan Hadis?

Jawaban:
Tidak diperkenankan bagi seorang wanita untuk berfoto dengan menampakkan wajahnya, baik untuk keperluan paspor maupun untuk keperluan lainnya, karena wajah merupakan aurat bagi seorang wanita. Dan menampakkan wajahnya di dalam Paspor atau kartu identitas lainnya dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya. Tetapi jika ia tidak dapat menunaikan ibadah haji disebabkan hal itu, maka ia mendapatkan pengecualian (rukhshah) dalam hal pengambilan gambar wajah, guna menunaikan ibadah haji, dan ia tidak boleh mewakilkan ibadah hajinya kepada orang lain.

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran dan As-Sunnah. Maka wajib bagi mereka untuk menutup seluruh anggauta tubuh dari yang bukan mahramnya, sebagaimana Allah berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ

“..Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami merea…” [An-Nur : 31]

Dan firman Allah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka …” [Al-Ahzab : 53]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

Sumber: https://almanhaj.or.id/143-gambar-atau-foto-untuk-sesuatu-yang-penting-kartu-tanda-pengenal-pasport.html

, , ,

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan suami saya, agar ia dapat bertaubat kepada Allah. Kami pernah bersetubuh. Kemudian usai berhubungan badan, nampak permulaan darah haid telah keluar.

Jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjaid hafidzahullah:

Alhamdulillah,

Bila seorang laki-laki berhubungan badan dengan istrinya, sementara ia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut mengalami haid, maka tidak ada dosa baginya.

Terdapat hadis dari Abu dzar Al Ghifari berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku kesalahan (yang tidak disengaja), lupa, dan bila mereka dipaksa melakukan perbuatan dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 2033 dan dinilai Shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah n0. 1662)

Akan tetapi wajib bagi istri menjelaskan keadaan dirinya kepada suaminya. Hendaknya si istri memberitahu kepada suami, bahwa darah haid telah keluar. Karena terkadang seorang laki-laki tidak mengetahui hal ini, kemudian ia pun menggauli istrinya, sementara si istri dalam keadaan haid. Padahal perbuatan ini haram secara syariat. Jika kondisi demikian, maka si istri telah berdosa (karena tahu sedang haid, dan tidak memberitahu suaminya -pen). Darah haid sesuatu yang dikenal di kalangan wanita. Kapan pun darah tersebut keluar, maka ia disebut wanita haid.

Adapun jika kejadian di atas terjadi tanpa sepengetahuan kedua pihak, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan.

Sumber: islamqa.info

Di fatwa lain beliau menjelaskan:

Barang siapa yang menyetubuhi istrinya, sementara dia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut sedang haid, demikian pula si istri juga tidak tahu, bahwa dirinya sedang haid, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Dikarenakan keduanya tidak menyengaja melakukan jimak saat haid. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu bersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab:5)

An Nawawi berkata:

فإن كان ناسيا أو جاهلا بوجود الحيض ، أو جاهلا بتحريمه ، أو مكرها : فلا إثم عليه ولا كفارة ، وإن وطئها عامدا ، عالما بالحيض والتحريم ، مختارا ، فقد ارتكب معصية كبيرة ، وتجب عليه التوبة

“Bila seorang suami lupa, atau tidak tahu keberadaan darah haid, atau tidak tahu hukum haram (jimak ketika haid), atau dipaksa (orang lain untuk berbuat haram), maka tidak ada dosa baginya, dan tidak ada kafarah. Adapun bila seorang suami menggauli istrinya dengan sengaja, dalam kondisi tahu bahwa istrinya haid, dan tahu hukumnya haram, tidak ada paksaan orang lain, maka sungguh dia telah telah melakukan kemaksiatan yang besar dosanya. Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah.” (Syarh Muslim)

Sumber: islamqa.info

Pertanyaaan:

Saya seorang pemuda 26 tahun dan alhamdulillah saya telah menikah sejak dua bulan yang lalu. Setelah menikmati malam pertama selama empat hari, istri saya mengalami haid. Oleh karena itu saya tidak menggaulinya, sampailah hari di mana istri saya berkata kepadaku, bahwa haid telah berhenti, dan ia tidak lagi melihat darah sejak dua hari sebelumnya. Akupun bertanya padanya, apakah emang sudah pasti haid telah berhenti? Istri saya menjawab: ‘Iya benar.’Berdasakan hal ini, saya pun menggaulinya. Akan tetapi saya mendapati sedikit darah di dzakar saya. Karena itu saya berhenti menyetubuhinya dan mandi. Dan saya pun menanyakan padanya, dia pun meyakinkanku, bahwa ia tidak tahu menahu soal darah itu, dan tidak melihat darah sejak kemarinnya.

Saya mengharap bantuan penjelasan. Jika saya telah melakukan perbuatan dosa, apa kafarah bagi saya? Apakah istri saya juga berdosa, dan wajib membayar kafarah atau tidak? Syukraan atas waktu yang diberikan.

Jawaban Syaikh Khalid bin Suud Al-Bulihud:

Alhamdulillah,

Haram bagi seorang suami menggauli kemaluan istrinya yang sedang haid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Sunnah Ash Shahihah telah menjelaskan tafsir ayat di atas tentang larangan mendekat istri yang haid, maksudnya adalah khusus melakukan hubungan badan di kemaluan.

Para ulama telah sepakat keharaman perbuatan tersebut. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya yang sedang haid dengan sengaja, dalam keadaan tahu (istri sedang haid dan tahu hukumnya haram), maka dia telah berdosa. Wajib baginya bertaubat dan memohon ampun dari dosa besar ini.

Para ulama pakar Fikih berselisih pendapat tentang kewajiban kafarah bagi suami. Imam Ahmad berpendapat, wajib bagi suami bersedekah satu Dinar atau separuh Dinar. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, bahwa beliau pernah menggauli istri beliau yang sedang haid, kemudian beliau bersedekah satu atau setengah Dinar dan dalam lafal Tirmidzi dinyatakan:

إذا كان دماً أحمر فدينار وإن كان دماً أصفر فنصف دينار

“Jika darah haidnya berwarna merah, bersedekah satu Dinar. Jika darah haidnya berwarna kuning, bersedekah setengah Dinar.”

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada kewajiban membayar kafarah dan mencukupkan untuk bertaubat. Karena dalil (ayat di atas) hanya menyebutkan larangan jimak ketika haid, dan tidak menyebutkan kafarah.

Adapun hadis Ibnu Abbas di atas adalah hadis yang ma’lul menurut para imam Ahli Hadis (Hadis Ma’lul adalah salah satu jenis hadis lemah karena di dalamnya terdapat cacat baik dari sisi sanad ataupun matan hadis-pen). Maka hadis ini tidak boleh dinilai sebagai hadis marfu’, yang sampai kepada Nabi ﷺ. Inilah pendapat yang benar. Karena hukum asalnya seseorang terlepas dari tanggungan dan tidak menyibukkannya dengan sesuatu, kecuali dengan dalil yang selamat dari perbincangan ulama (dalil Shahih).

Dan yang nampak dari penjelasan Anda di atas, bahwa engkau termasuk orang yang diberi uzur (dimaafkan) atas perbuatanmu. Karena perbuatan tersebut Anda lakukan karena kesalahan (tanpa disengaja) dan ketidaktahuan akan kondisi istri Anda. Anda tidak berdosa dan tidak ada kewajiban apapun insyaallah. Karena Allah memaafkan orang yang bersalah (tanpa sengaja) dan tidak tahu.

Demikian pula istri Anda, telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, yaitu tergesa-gesa suci, sebelum melihat tanda suci berupa keluarnya Qashshatul Baidha (Cairan putih) atau keringnya rahim. Istri Anda diberi uzur (dimaafkan) insyaallah, karena ia tidak sengaja melakukannya. Bahkan hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan sedikitnya pengetahuannya.

Diperbolehkan bagi seorang suami menikmati seluruh tubuh istrinya yang sedang haid, selain pada kemaluan, menurut pendapat mayoritas ulama pakar Fikih. Berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ terhadap istri-istri beliau radhiyallahu’anhunna, sebagaimana yang ditetapkan dalam Sunnah Shahihah.

وأخزى الله من يذكرهن بسوء في الدنيا ويوم يقوم الأشهاد.والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

“Semoga Allah menghinakan orang-orang yang menyebut istri-istri Nabi dengan keburukan di dunia dan di Hari Kiamat. Wallahua’lam. Dan semoga shalawat dan salam tercurah bagi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabat“.

 

Sumber: saaid.net

 

****

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

Artikel wanitasalihah.com

Sumber: http://wanitasalihah.com/keluar-darah-haid-saat-berhubungan-badan/

 

,

SYURUT UMAR BIN KHATAB

SYURUT UMAR BIN KHATAB

#DakwahTauhid

#SelamatkanAkidahmu

SYURUT UMAR BIN KHATAB

  • Salah Satu Contoh Bentuk Toleransi dalam Islam

Untuk yang pernah menyimak sejarah Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, tentu pernah mendengar tentang Syurut Umar, aturan dan tata tertib yang dibuat Umar untuk orang Nasrani yang tinggal di dataran Syam (Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon). Orang Nasrani di daerah Syam TIDAK DIPAKSA untuk pindah ke agama Islam dan tetap bertahan di agama Nasraninya, dan status mereka sebagai Ahlu Dzimmah.

Di bagian akhir tata tertib itu Umar menyatakan:

فإن خالفوا شيئاً مما اشترطوا عليهم فلا ذمة لهم وقد حل للمسلمين منهم ما يحل من أهل المعاندة والشقاق‏

“Apabila mereka melanggar salah satu dari aturan untuk mereka, maka tidak ada jaminan perlindungan untuk mereka dan kaum Muslimin berhak untuk menyikapi mereka sebagaimana mana layaknya orang kafir yang melawan dan menentang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu, menetapkan tata tertib ini menjadi aturan baku bagi kaum Muslimin daerah Syam, karena ketika itu daerah Syam telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Saking pentingnya perjanjian ini, hingga kasus melanggar perjanjian ini akan mendapat ANCAMAN BERAT, diperlakukan layaknya orang non-Muslim yang menentang. Bisa dihukum bunuh, penjaga, atau pengusiran.

Seberat apa Syurut Umar bagi orang Nasrani itu? Berikut di antara poin-poin aturan yang ditetapkan Umar untuk orang Nasrani:

ولا نضرب نواقيسنا إلا ضربا خفيا في جوف كنائسنا

”Kami tidak boleh membunyikan lonceng, kecuali pelan dan dibunyikan di dalam gereja.”

ولا نظهر عليها صليبا

”Kami tidak boleh menampakkan salib di atas gereja.”

ولا نخرج صليبا ولا كتابا في أسواق المسلمين

”Kami tidak boleh menampakkan salib dan Injil di pasar kaum Muslimin.”

وألا نخرج باعوثا ولا شعانين ولا نرفع أصواتنا مع موتانا ولا نظهر النيران معهم في أسواق المسلمين

”Kami tidak keluar dalam rangka merayakan hari raya, kami tidak membunyikan suara ketika mengiring mayat kami, dan tidak membawa api (ibadah), ketika bersama kaum Muslimin di pasar.”

Syurut ini menjadi kesepakatan bersama antara kaum Muslimin dan orang Nasrani yang tinggal di negeri Muslim. Syurut Umar menjadi salah satu acuan bagi para ulama setelah generasi sahabat, untuk menjawab setiap kasus yang berkaitan perayaan agama di luar Islam.

Dalam kitab Ahkam Ahli Dzimmah dinyatakan:

وكما أنهم لا يجوز لهم إظهاره فلا يجوز للمسلمين ممالأتهم عليه ولا مساعدتهم ولا الحضور معهم باتفاق أهل العلم الذين هم أهله

”Sebagaimana mereka (orang Nasrani) tidak diizikan untuk menampakkan hari rayanya, maka tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk turut serta bersama mereka dalam perayaan itu, atau membantu mereka, atau menghadiri Natalan bersama mereka, dengan sepakat ulama, yang mereka memahami kasus ini.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87).

Abul Qosim, Hibatullah bin Hasan as-Syafii mengatakan:

ولا يجوز للمسلمين أن يحضروا أعيادهم لأنهم على منكر وزور وإذا خالط أهل المعروف أهل المنكر بغير الإنكار عليهم كانوا كالراضين به المؤثرين له فنخشى من نزول سخط الله على جماعتهم فيعم الجميع نعوذ بالله من سخطه

Kaum Muslimin tidak boleh menghadiri hari raya mereka, karena mereka berada di atas kemungkaran. Jika orang baik berada di tempat yang sama dengan orang yang melakukan kemungkaran, tanpa ada pengingkaran kepada mereka, statusnya sebagaimana orang yang ridha terhadap kemungkaran itu, dan akan memberikan dampak kepadanya. Kami khawatir akan turut murka Allah kepada jamaah itu, sehingga mengenai semuanya. Kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

Umar bin Khatab mengatakan:

ولا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم، فإنَّ السَّخطة تنزل عليهم

”Janganlah kalian bergabung bersama orang musyrik dalam gereja mereka ketika hari raya mereka. Karena murka Allah sedang turun kepada mereka.” (HR. Abdurazaq dalam Mushanaf 9061, al-Baihaqi dalam al-Kubro, 9/432).

Umar bin Khatab juga mengatakan:

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

”Hindari para musuh Allah di hari raya mereka.”

Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Habib, bahwa Ibnul Qosim , murid Imam Malik, pernah ditanya tentang hukum naik perahu, yang saat itu ditumpangi banyak orang Nasrani untuk menghadiri perayaan Natal mereka. Ibnul Qosim melarangnya, karena takkut akan turun murka Allah kepada mereka, disebabkan perbuatan kesyirikan yang mereka lakukan.

Ibnu Habib juga mengatakan:

وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له ورآه من تعظيم عيده وعونا له على كفره

Ibnul Qosim juga membenci ketika kaum Muslimin memberikan hadiah kepada orang Nasrani di hari raya mereka, sebagai balas budi baginya. Beliau menganggap itu termasuk memuliakan perayaan mereka dan membantu mereka melakukan kekufuran [Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87].

Kita merenung sejenak, andaikan umat Muslim saat ini hidup di zaman Umar, kemudian ada salah satu ’Generasi Liberal’ yang memfatwakan, boleh mengucapkan selamat Natal, kira-kira, apa yang akan dilakukan Umar kepada ’Generasi Liberal’ ini? Bukankah ini pengkhianatan?

Suami Muslim Berhak Melarang Istrinya yang Nasrani untuk Merayakan Natal

Pernyataan di atas ditegaskan oleh Al-Imam As-Syafii dalam bukunya al-Umm:

وله منعها من الكنيسة والخروج إلى الاعياد وغير ذلك مما تريد الخروج إليه ، إذا كان له منع المسلمة إتيان المسجد وهو حق ، كان له في النصرانية منع إتيان الكنيسة لانه باطل

”Suami BOLEH melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja dan mendatangi perayaan mereka atau acara lainnya yang mengundang pengikut Nasrani. Jika seorang suami boleh melarang istrinya yang Muslimah untuk menghadiri jamaah di masjid, dan itu dibenarkan, maka suami Muslim berhak melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja, karena itu tindakan kebatilan.” (al-Umm, 5/8 – 9).

Apakah sikap Imam as-Syafii bertentangan dengan asas toleransi beragama?  Jawabannya TIDAK.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Sikap Ulama Terhadap Natal’ yang ditulis oleh:  Al-Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah  (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-Natal.html

,

HUKUM MENYEBARKAN FOTO KORBAN TEWAS DAN TERLUKA DARI KAUM MUSLIMIN

HUKUM-MENYEBARKAN-FOTO-KORBAN-TEWAS-DAN-TERLUKA-DARI-KAUM-MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HUKUM MENYEBARKAN FOTO KORBAN TEWAS DAN TERLUKA DARI KAUM MUSLIMIN

Di era ‘Modern’ saat ini, foto/gambar termasuk salah satu media informasi dan pengetahuan yang sangat besar pengaruhnya. Bahkan kita bisa menamai zaman ini dengan zaman gambar, karena manusia telah demikian cenderung pada gambar-gambar melebihi zaman sebelum ini.

Sampai-sampai ada yang mengatakan, bahwa sebuah gambar lebih baik daripada seribu ucapan.

Gambar yang digunakan pun bermacam-macam sesuai alatnya. Ada yang berupa fotografi, video, gambar di internet, di televisi, di bioskop, lukisan, dll.

Hukum menggambar makhluk bernyawa, baik itu manusia atau yang lainnya, adalah haram secara syari. Nabi ﷺ bersabda:

 ((مَن صوَّر صُورةً في الدُّنيا كُلِّفَ يومَ القيامةِ أنْ يَنفُخَ فيها الرُّوح، وليس بنافِخٍ))؛

Barang siapa menggambar suatu gambar (makhluk bernyawa) ketika di dunia, kelak di Hari Kiamat ia dipaksa untuk meniupkan ruh kepada gambarnya, sedangkan ia tidak dapat melakukannya [HR Bukhari (no 5618) dan Muslim (2110)].

Nabi ﷺ juga bersabda:

 ((إنَّ الذين يَصنعونَ هذه الصُّورَ يُعَذَّبون يومَ القيامةِ، يُقال لهم: أَحْيوا ما خَلقْتُم))؛

Sesungguhnya orang-orang yang menciptakan berbagai gambar itu, kelak akan disiksa pada Hari Kiamat. Dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan!!”. HR. Bukhari (no 5951).

Inilah hukum asal menggambar makhluk bernyawa. Kecuali bila hal tersebut didasari oleh suatu keperluan dan kemaslahatan yang lebih besar. Contohnya menggambar/memfoto musuh di medan perang dan lokasi-lokasi berkumpulnya mereka. Demikian pula foto-foto hasil intaian akan pergerakan musuh, dan gudang-gudang persenjataan mereka; karena foto-foto seperti ini bermanfaat bagi kaum Muslimin dalam menghadapi musuhnya.

Adapun foto/gambar yang kita bahas dalam tulisan kali ini, adalah:

Gambar kaum Muslimin yang menjadi korban kebiadaban musuh, baik itu anak-anak, wanita, maupun laki-laki dari kalangan sipil.

Kemudian foto mereka disebarluaskan dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan tidak berakhlak, seperti foto-foto yang menampakkan potongan organ tubuh, wajah yang terkoyak, leher-leher yang putus, dan aurat-aurat yang tersingkap.

Media pun berlomba-lomba untuk memublikasikan foto yang paling ‘kejam’ dan ‘berdarah’. Laa haula walaa quwwata illa billaah.

Ada yang menampakkan para relawan yang berusaha mengeluarkan seorang bocah dari reruntuhan bangunan dengan menarik kedua kakinya…

Media lain memerlihatkan relawan lain yang teriak-teriak minta tolong menyelamatkan seorang gadis yang terbakar…

Yang satu lagi menunjukkan, bagaimana korban yang nyaris telanjang dan penuh luka bakar sedang dikeluarkan dari reruntuhan…

Atau gambar ‘korban syahid’ yang terbelah dua tubuhnya…

Atau korban wanita yang terbuka auratnya dan tergeletak di jalan bersimbah darah…

Atau seorang lelaki yang sedang menangisi kelima anaknya yang tubuhnya hancur lebur di hadapannya…

Atau orang lain yang sedang mendekap potongan tubuh kerabatnya sambil berteriak histeris…

Demi Allah, membahas fenomena seperti ini hanyalah menyayat hati dan mengucurkan air mata tanpa henti…

Oleh karenanya, gambar-gambar/foto-foto seperti itu HARUS mengindahkan rambu-rambu tertentu bila ingin disebarkan.

Sebab tidak semua gambar/foto tersebut bisa diterma. Dan tidak semuanya dapat mewujudkan kemaslahatan dan niat baik dari orang yang menyebarkannya, bila memang niat baik/kemaslahatan tersebut ada, mengingat gambar-gambar tersebut menimbulkan dampak negatif yang cukup banyak, yaitu:

1- Menyebarkan ketakutan dan kekhawatiran ke dalam hati kaum Muslimin akibat gambar-gambar sadis yang mereka lihat. Sebab mereka menyaksikan pembunuhan, penghancuran, penyiksaan dan teriakan kesakitan serta rintihan para korban di mana-mana.

2- Sebagian gambar tersebut menampakkan aurat yang tidak boleh diekspos, baik itu gambar anak-anak, maupun dewasa, baik pria maupun wanita.

3- Gambar-gambar seperti itu menciptakan opini tentang kekuatan musuh (Yahudi, Nasrani, Syi’ah, Buddha, dll), dan kesadisan mereka. Seakan-akan mereka adalah pasukan yang tak terkalahkan, dan sedang menyampaikan pesan tersirat kepada kita, bahwa “Bila kalian tidak menuruti kemauan kami, maka seperti inilah nasib kalian!!”

4- Menyebabkan jatuhnya mental kaum Muslimin, sehingga nyali mereka menjadi ciut.

5- Gambar-gambar tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak yang jahat, karena gambar memberikan efek tersendiri untuk merubah keyakinan seseorang. Seperti kaum-kaum ‘Ekstrimis Jihadis’ yang memropagandakan kesesatan mereka dengan dalih membela para korban, lalu merekrut para pemuda lugu yang termakan emosinya untuk menjadi pengikut mereka.

6- Gambar-gambar tersebut menunjukkan betapa murahnya darah kaum Muslimin dan betapa terjajahnya umat ini.

7- Dengan sering menyaksikan gambar tersebut, sensitivitas seseorang akan berkurang, sehingga menjadi ‘kebal’ terhadap sadisme dan pemandangan berdarah semisalnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan ia nantinya menjadi pelaku sadisme tersebut, baik kepada pihak yang memang halal ditumpahkan darahnya, atau kepada kaum Muslimin yang berseberangan dengan kelompoknya, seperti yang kita saksikan tentang bagaimana ISIS menyembelih ribuan orang yang menentangnya, padahal mereka adalah kaum Muslimin juga.

Rambu-rambu dalam menyebarkan gambar seperti ini:

Ada sebagian gambar yang memang boleh disebarluaskan, jika memang mengandung manfaat bagi kaum Muslimin. Seperti menjadikan mereka turut merasakan kepedihan saudaranya, dan menghidupkan tali persaudaraan, serta menyadari realita yang terjadi di sekeliling mereka. Akan tetapi hal itu harus mengindahkan beberapa hal, yaitu:

  • Menghindari sejauh mungkin menampilkan gambar aurat kaum Muslimin, apalagi menyebarkannya. Sebab Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat” HR. Bukhari (no 2310) dan Muslim (no 2580).
  • Tidak boleh menampakkan korban-korban mutilasi dari kaum Muslimin, seperti potongan tubuh, wajah yang terbakar, leher yang terputus, dan semacamnya, karena hal itu menimbulkan rasa takut bagi yang melihatnya. Namun cukup dengan pemberitaan tertulis, atau gambar bangunan/ kendaraan yang hancur.
  • Menyebarkan gambar-gambar/video yang mengangkat nyali dan keberanian kaum Muslimin, dan ketabahan mereka dalam menghadapi tindakan musuhnya.

Bagaimana dengan menyebarkan gambar/foto dalam rangka menghasung kaum Muslimin untuk memberikan donasi bagi para korban?

CARA INI TIDAK LAYAK, dan gambar/foto korban-korban yang terluka TIDAK BOLEH dijadikan media untuk meraih simpati para donatur. Namun cukuplah kaum Muslimin kita hasung melalui ceramah, khutbah, atau tulisan, agar memberikan uluran kepada saudara mereka yang tertimpa musibah. Dengan menyampaikan kabar, bahwa saudara mereka sedang ditimpa kesulitan, dan ditindas oleh musuhnya sedemikian rupa, tanpa menampilkan foto mereka, atau foto korban yang terluka. Karena menarik simpati melalui gambar-gambar yang diekspos adalah cara-cara yang kita TIDAK DIPERINTAHKAN oleh Allah untuk melakukannya (takalluf). Di samping itu, gambar-gambar tersebut bisa melemahkan kekuatan kaum Muslimin. Sebab saat kita melihat korban Muslim yang dimutilasi, atau tercabik-cabik tubuhnya di muka umum, maka hal ini menimbulkan ketakutan pada diri kaum Muslimin lainnya terhadap perilaku musuh. Padahal seharusnya kaum Muslimin tidak menampakkan sikap lemah di hadapan musuhnya, dan menyembunyikan luka-luka mereka dari musuhnya, sehingga mereka tetap kelihatan ‘kuat’. Demikian saduran dari jawaban Asy Syaikh Al ‘Allaamah Shalih Al Fauzan, dalam Al Ijaabaat Al Muhimmah (2/105).

Sebagai Penutup:

Jangan sampai kita menjadi umat yang demikian bodoh, yang tidak bisa memahami hakikat ‘Pembunuhan’, ‘Penyembelihan’, ‘Terluka Parah’, ‘Terbakar’, ‘Diperkosa’, dll kecuali setelah melihat gambarnya…

Ingatlah, bahwa korban-korban tersebut adalah saudara/saudari kita, yang darah dan kehormatannya terlindungi di mata syariat, baik sewaktu hidup maupun setelah mati. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang Muslim adalah SAMA, baik ia hidup maupun mati.

Nabi ﷺ juga bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Belumlah seseorang dari kalian dianggap benar-benar beriman, sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya” [Muttafaq ‘Alaih].

Marilah kita tanya diri kita: “Siapa di antara kita yang rela bila foto karib kerabatnya yang terluka/termutilasi/tersingkap auratnya diekspos oleh media massa??!!”

Atau relakah kita bila suatu saat diri kita tewas dalam keadaan yang mengenaskan, lalu fotonya disebarluaskan??

Ingatlah, bahwa menyebarluaskan aib kaum Muslimin termasuk DOSA BESAR, yang bilamana yang bersangkutan telah wafat, maka kita telah kehilangan kesempatan untuk minta maaf kepadanya, dan kita tidak tahu apakah dia meridhai perbuatan kita ataukah tidak!! Maka segeralah bertaubat dan menghapus gambar-gambar tak layak yang pernah kita upload, dan perbanyaklah istighfar. Semoga kita tidak bangkrut karena hal tersebut…

Wallaahul musta’aan.

 

Oleh: Sufyan bin Fuad Baswedan, MA

 

Disadur dan sejumlah tambahan dan penyesuaian dari http://www.alukah.net/publications_competitions/0/6220/#ixzz3BINvkl5F

 

 

رابط الموضوع: http://www.alukah.net/publications_competitions/0/6220/#ixzz3BINvkl5F

 

http://basweidan.com/hukum-menyebarkan-foto-korban-tewas-dan-terluka-dari-kaum-Muslimin/

,

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

HUKUM BEROBAT DENGAN STEM CELL

Terdapat metode pengobatan yang disebut dengan Stem Cell atau Sel Punca yang bisa menggantikan sel yang rusak atau sel yang mati. Misalnya mengganti sel jantung pada kerusakan jantung, mengganti sel saraf pada kasus stroke dan sebagainya.

Metode yang kami ketahui yaitu menggunakan plasenta bayi atau sel darah yang ada di plasenta bayi. Sehingga poin yang perlu dibahas dalam masalah ini adalah:

1) Hukum berobat dengan plasenta manusia dan bagiannya

2) Hukum berobat dengan zat darah Manusia

Hukum Berobat dengan Plasenta Manusia

Kami mendapatkan fatwa Syaikh Muhammad bi Shalih Al-Utsaimin MEMBOLEHKANNYA. Secara kedokteran ilmu embriologi, hakikatnya plasenta bukanlah bagian dari organ tubuh bayi tersebut. Jika memang teranggap organ, maka organ manusia hukum asalnya suci.

Pertanyaan berikut diajukan kepada Fadhilatus syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:

“Apa hukum menyimpan plasenta untuk pengobatan kanker dan menghilangkan kerutan di wajah?”

Beliau menjawab:

“Secara zahir hal tersebut tidak mengapa, selama berita tersebut benar (bisa menyembuhkan)”.

Tanya:

“Apakah bisa diterapkan kaidah “Apa yang terpotong dari orang hidup, maka dianggap mayyit”

Beliau menjawab:

“Mayyit manusia hukumnya suci”.

Tanya:

“Jika ternyata tidak bermanfaat (tidak bisa mengobati), apakah wajib menguburkannya? Atau dibuang di mana saja?”

Beliau menjawab:

“Secara zahir, plasenta sebagaimana kuku dan rambut (jadi bisa dikubur di mana saja dan tidak ada ritual khusus, pent), Wallahu ‘alam” [Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/3794].

Hukum Berobat dengan Zat Darah Manusia

Terkait hal ini ada dua pembahasan juga:

1) Apakah darah manusia itu najis atau tidak, sehingga bisa digunakan, semisal dioleskan atau dicampurkan?

2) Apa hukum memanfaatkan darah manusia?

1) Apakah darah najis atau tidak?

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran, wallahu a’lam, DARAH manusia TIDAKLAH najis. Berikut sedikit penjelasannya:

Dalil yang menyatakan darah adalah najis

Berdasarkan ayat:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al An’am: 145).

Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan ijma’, bahwa darah adalah najis. Beliau berkata:

الدلائل على نجاسة الدم متظاهرة ، ولا أعلم فيه خلافا عن أحد من المسلمين

“Dalil-dalil mengenai kenajisan darah jelas. Aku tidak mengetahui adanya khilaf salah satu pun di antara kaum Muslimin” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab, 2/576 ].

Imam Ahmad rahimahullah ditanya mengenai darah:

لدم والقيح عندك سواء ؟

“Apakah darah dan muntahan sama menurutmu?”

فقال : الدم لم يختلف الناس فيه ، والقيح قد اختلف الناس فيه

Beliau menjawab: “Darah tidak diperselisihkan oleh manusia (kenajisannya). Adapun muntahan maka diperselisihkan” [Syarh Umdatul Fiqh, 1/105].

Begitu juga Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “Orang yang ada sedikit darah di bajunya, apakah ia sholat dengan baju tersebut, atau ia menunggu (misalnya kedaaan dokter setelah operasi), sampai ada baju yang bersih baginya?”.

Beliau menjawab:

“Ia sholat dengan keadaannya saat itu, jika tidak memungkinkan membersihkan/mencucinya atau menggantinya dengan yang bersih/suci, ia sholat sebelum keluar waktunya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah semampu kalian” (At-Taghabun: 16).

Wajib bagi seorang Muslim agar mencuci/ membersihkan darah, atau menggantinya dengan pakaian yang bersih, jika ia mampu. Jika tidak mampu, maka ia sholat sebagaimana keadaannya. Ia tidak perlu mengulang sholatnya, sebagaimana keterangan dari ayat, dan sebagaimana pula Sabda Rasulullah ﷺ:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

“Apa yang aku larang maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian” (Muttafakun ‘alaihi) [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/2458].

Dalil yang menyatakan darah tidak najis

Inilah pendapat yang lebih kuat dengan beberapa alasan:

Pertama: Hukum asal sesuatu suci, sampai ada dalil yang mengharamkan

Kedua: Makna rijs (dalam surat Al-An’am 145) bukan najis secara hakikat, akan tetapi najis maknawi. sebagaiman Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafikin: “Berpalinglah kalian darinya, karena sesungguhnya mereka adalah rijs,” (QS. At-Taubah: 95). Yakni najis kekafirannya, tapi tidak kafir tubuhnya.

Ketiga: para sahabat dahulunya berperang dengan luka di tubuh dan baju, tetapi tidak ada perintah untuk membersihkannya. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ

“Kaum Muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan sholat dalam keadaan luka” [HR. Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dalam kitab shahihnya].

Begitu juga kisah ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh Abu Lu’luah Al Majusi, beliau berkata:

وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” Lalu ‘Umar sholat dalam keadaan darah yang masih mengalir” [HR. Malik dalam Muwatha’nya (2/54)].

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Perlu diketahui, bahwa darah yang keluar dari manusia selain dua jalan (keluar dari qubul dan dubur), tidak membatalkan wudhu, baik sedikit ataupun banyak, semisal darah mimisan dan darah yang keluar dari luka” [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Ibnu Al Utaimin].

Keempat: Mayat manusia adalah suci, maka terlebih lagi darah yang ada di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

“Jasad seorang Mukmin tidaklah najis.”

Dalam Shahih Al Hakim disebutkan:

حَيًّا وَلَا مَيتًا

“Baik hidup ataupun saat mati.”

2) Apakah hukum memanfaatkan darah manusia?

Secara umum darah diharamkan untuk dimakan sebagaimana dalam ayat berikut:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi…” (QS. Al- Baqarah: 173).

Ulama menjelaskan suatu kaidah berdasarkan hadis, jika sesuatu diharamkan memakannya, maka di haramkan juga untuk menjualnya dan memanfaatkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِم ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu, maka (Allah) haramkan harganya atas mereka” [HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/247, 293 dan 322 dan Abu Dawud no. 3488].

Dewan fatwa Islamweb di bawah bimbingan Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan:

“Adapun menjual darah, maka tidak ada khilaf para ulama akan keharamannya, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan darah, dan menegaskan haramnya langsung dinisbatkan pada zatnya (yaitu darah). Maka haram di sini mencakup secara umum penggunaan dari berbagai bentuk pemanfaatan” [Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7041].

Adapun jika daurat dan hanya jalan satu-satunya, maka boleh menggunakan darah sebagaimana fatwa ulama yang sudah sangat banyak, mengenai bolehnya tranfusi darah manusia, asalkan darah tersebut tidak diperjualbelikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu, apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” (Al-An’am : 199)

Ibnu ‘Abidin berkata:

يجوز للعليل شرب البول والدم والميتة للتداوي إذا أخبره طبيب مسلم أن شفاءه فيه ، ولم يجد من المباح ما يقوم مقامه

“Boleh berobat dengan meminum kencing, darah, mengonsumsi mayat, jika memang diberitahu oleh dokter Muslim yang terpercaya, dan tidak didapatkan obat mubah lainnya” [. Raddul Muhtaar ‘Alad durri mukhtaar].

Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa darah penggunaan/memanfaatkan darah, hukum asalnya adalah haram, kecuali jika keadaan darurat dan merupakan satu-satunya jalan.

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan di atas:

1) Boleh menggunakan plasenta manusia untuk pengobatan.

2) Pendapat terkuat darah manusia adalah tidak najis.

3) Hukum asalnya haram memanfaatkan darah manusia, kecuali jika darurat.

4) Stem sel dengan menggunakan darah para plasenta termasuk hukum memanfaatkan darah manusia, maka hukum asalnya adalah haram. Kecuali jika digunakan untuk pengobatan darurat dan merupakan jalan satu-satunya sebagaimana transfusi darah, dan terbukti berhasil secara ilmiah melalui penelitian, bukan hanya berdasarkan praduga saja, atau masih belum jelas hasilnya.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[www.Muslim.or.id]

 

https://Muslim.or.id/28415-hukum-berobat-dengan-stem-cell.html

 

 

, ,

TAFSIR AYAT ‘LAA IKRAHA FIDDIIN’

TAFSIR AYAT ‘LAA IKRAHA FIDDIIN’

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Tafslir_Alquran

TAFSIR AYAT ‘LAA IKRAHA FIDDIIN’

Apakah benar, bahwa semua agama itu benar, dan Islam bukanlah agama yang paling benar? Dan bahwa Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama apa saja?

Allah ta’ala berfirman:

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Sebagian orang SALAH dalam memahami ayat ini, sehingga terjebak dalam pemahaman Pluralisme agama. Yaitu bahwa semua agama itu benar, dan Islam bukanlah agama yang paling benar. Paham ini juga mengajarkan, bahwa Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama apa saja, dan agama apapun dapat mengantarkan pemeluknya kepada Surga Allah ta’ala. Dengan demikian, menurut para Pluralis, dalam Islam tidak ada konsep Mukmin dan kafir.

Padahal Islam sama sekali TIDAK MENGAJARKAN Pluralisme agama. Bahkan Islam mengajarkan tauhid. Dan Allah ﷻ sama sekali tidak ridha terhadap agama selain Islam, serta segala bentuk kemusyrikan. Lalu bagaimana dengan ayat di atas? Mari kita simak pembahasannya.

Penafsiran Ahli Tafsir

Islam mengajarkan kepada ummatnya agar mengembalikan setiap permasalahan kepada ahlinya. Allah ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43)

Bahkan dalam urusan duniawi, harus dikembalikan kepada orang yang ahli dalam urusan tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

أنتم أعلم بأمر دنياكم

“Engkau lebih tahu urusan dunia kalian” (HR Muslim no.2363)

Dan setiap orang berakal tentu akan menerima konsep ‘Kembalikanlah setiap urusan kepada ahlinya‘. Kita tentu tidak akan menanyakan obat suatu penyakit kepada ahli matematika, melainkan kepada dokter bukan?

Oleh karena itu, marilah kita bersikap bijak untuk mengembalikan urusan penafsiran Alquran kepada ulama ahli tafsir, dan BUKAN opini masing-masing, atau opini dari orang yang bukan ulama ahli tafsir.

Seorang imam ahli tafsir yang terkemuka, Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:

“Para ulama berbeda pendapat tentang makna ayat ini dalam enam pendapat:

  1. Ada yang berpendapat bahwa ayat ini mansukh (dihapus). Karena Nabi ﷺ telah memaksa orang Arab untuk masuk Islam dan memerangi mereka. Beliau ﷺ tidak ridha kepada mereka, hingga mereka masuk Islam”. Sulaiman bin Musa berkata: ‘Ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat’:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya” (QS. At Taubah: 73). Pendapat pertama ini diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud dan dari banyak ahli tafsir.

  1. Ayat ini tidak mansukh (tidak dihapus), namun ayat ini ditujukan bagi Ahli Kitab saja. Sehingga Ahli Kitab tidak dipaksa masuk Islam, selama mereka membayar Jizyah (upeti). Yang dipaksa adalah kaum kuffar penyembah berhala. Merekalah yang dimaksud oleh surat At Taubah ayat 73. Inilah pendapat Asy Sya’bi, Qatadah dan Adh Dhahhak.
  1. Berdasarkan yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, beliau berkata: “Ayat ini diturunkan kepada kaum Anshar. Ketika itu ada seorang wanita selama hidupnya tidak memiliki anak. Ia berjanji pada dirinya, jika ia memiliki anak, anak tersebut akan dijadikan beragama Yahudi. Sampai suatu ketika datanglah Bani Nadhir yang juga membawa beberapa anak dari kaum Anshar bersama mereka. Kaum Anshar berkata: “Kemudian terjadilah apa yang telah terjadi. Ketika itu kami (kaum Anshar) memandang agama yang mereka bawa (Yahudi) lebih baik. Namun ketika kami masuk Islam, kami ingin memaksa anak-anak kami”. Kemudian turunlah ayat ini. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, Asy Sya’bi dan Mujahid.
  1. As Sudiy berkata: “Ayat ini turun kepada seorang lelaki kaum Anshar yang bernama Abul Hushain yang memiliki dua anak. Ketika itu datang para pedagang dari Syam yang membawa biji-bijian. Ketika mereka hendak pergi dari Madinah, mereka mengajak dua anak Abul Hushain untuk memeluk agama Nasrani. Mereka berdua pun akhirnya menjadi Nasrani, dan ikut para pedagang tersebut ke Syam. Maka Abul Hushain pun datang kepada Rasulullah ﷺ sambil menangis dan memohon kepada Rasulullah ﷺ agar mengutus seseorang untuk mengambil mereka berdua. Lalu turunlah ayat ini”
  1. Makna ayat ini: “Orang yang ber-Islam karena kalah perang tidak boleh mengatakan bahwa ia dipaksa masuk Islam”.
  1. Ayat ini turun bagi tawanan yang berasal dari golongan Ahli Kitab yang sudah tua. Karena tawanan yang berasal dari golongan Majusi dan penyembah berhala, semua dipaksa masuk Islam baik yang tua maupun muda. Ini pendapat Asyhab.” (Dinukil dari Tafsir Al Qurthubi secara ringkas)

Adanya perbedaan pendapat ini juga dipaparkan oleh Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari, Abu Hatim dalam Tafsir Abi Hatim, Asy Syaukani dalam Fathul Qadhir, dan beberapa ulama ahli tafsir yang lain.

Namun sebagian ulama menafsirkan ayat ini secara mujmal (umum). Sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni. Ash Shabuni menafsirkan ayat ini: “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, karena telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, dan hidayah telah terbedakan dari kesesatan” (Shafwatut Tafasir)

Pendapat yang lebih kuat, wallahu’alam, sebagaimana yang dikuatkan oleh imam ahli tafsir yang lain, Ibnu Jarir Ath Thabari, setelah memberikan sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan ayat ini mansukh (dihapus), beliau menyimpulkan makna ayat: “Sehingga jelas bahwa makna ayat ini adalah: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam bagi orang kafir yang dikenai Jizyah, dan telah membayarnya, dan mereka ridha terhadap hukum Islam.” (Tafsir Ath Thabari)

Telah Jelas Kebenaran dan Kebatilan

Perbedaan di antara ahli tafsir tersebut masing-masing didasari oleh riwayat-riwayat dari para sahabat, atau dari para ulama tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sehingga setiap pendapat dapat diterima dan dapat ditoleransi. Jika demikian, andaikan seseorang mengambil pendapat ulama ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini tidak mansukh (dihapus), dan menafsirkan ayat ini secara umum, yaitu tidak ada paksaan untuk memeluk Islam bagi siapa pun, sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni, pendapat ini tetap tidak sejalan dengan konsep Pluralisme agama. Sama sekali tidak! Karena Allah ta’ala berfirman:

قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

“Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Jelas bahwa pendapat ini menetapkan, bahwa telah JELASLAH KEBENARAN ISLAM DAN TELAH JELASLAH KEBATILAN AGAMA SELAIN ISLAM. Sehingga orang yang berhati bersih dan memandang dengan jernih, tentu akan melihat kebenaran itu, dan dengan sendirinya masuk Islam tanpa perlu dipaksa. Sedangkan orang yang enggan masuk Islam, seolah-olah ia buta dan tertutup hatinya, sehingga tidak dapat melihat kebenaran yang begitu jelas ini.

Ibnu Katsir menyatakan: “Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam, karena telah jelas dan tegas, tanda dan bukti kebenaran Islam, sehingga tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya, sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan oleh Allah dan ditutup hati serta pandangannya, tidak ada manfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam” (Tafsir Ibnu Katsir)

Senada dengan beliau, Ibnu Jarir Ath Thabari juga berkata: “Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kebatilan. Dan telah jelas sudah sisi kebenaran bagi para pencari kebenaran. Dan kebenaran ini telah terbedakan dari kesesatan. Sehingga tidak perlu lagi memaksa para Ahli Kitab dan orang-orang kafir yang dikenai Jizyah untuk memeluk agama Islam, agama yang benar. Dan orang-orang yang berpaling dari kebenaran ini setelah jelas baginya, biarlah Allah yang mengurusnya. Sungguh Allahlah yang akan memersiapkan hukuman bagi mereka di Akhirat kelak” (Tafsir Ath Thabari)

Maka jelaslah, bahwa tidak memaksa orang kafir untuk memeluk Islam, BUKAN berarti ridha terhadap kekafiran mereka, BUKAN membenarkan semua agama yang ada, dan BUKAN menghilangkan status ‘kafir’ dari diri mereka, sebagaimana diklaim oleh para Pluralis.

Agama yang Benar Hanya Islam

Satu hal yang wajib dijadikan pegangan setiap Muslim, yaitu bahwa ayat-ayat Alquran tidak ada yang saling bertentangan. Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Apakah kalian tidak menadabburi Alquran? Andaikan Alquran bukan diturunkan dari sisi Allah, tentu akan banyak pertentangan di dalamnya” (QS. An Nisa: 82)

Dan di dalam ayat lain, pemahaman bahwa semua agama sama dan semua agama itu benar telah DIBANTAH oleh Allah ta’ala sendiri. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al Imran: 85)

Orang yang mengusung isu Pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘Berserah diri’. Menurut mereka, semua agama itu benar, asalkan berserah diri kepada Tuhan. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah ﷺ:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah. Dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. Engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada Ramadan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no. 8)

Sehingga ber-Islam BUKANLAH hanya sekedar berserah diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan-nya. Namun Islam yang diinginkan oleh Allah ta’ala adalah BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH TA’ALA SAJA dengan menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada yang lain. Inilah inti ajaran Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah” (HR. Bukhari no. 1399, Muslim no. 124)

Oleh karena itu jelaslah, bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam, bukan berarti tidak mengakui bahwa Islam itu agamanya yang paling benar, dan agama yang hanya diridhai oleh Allah ta’ala.

Dari sini kita pun melihat keanehan dan kelemahan argumen para Pluralis. Mereka mencomot sebuah dalil, namun di sisi lain menginjak-injak dalil yang lain.

Tidak Memaksa Bukan Tidak Membenci

Inti ajaran Islam adalah mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah ﷻ semata. Karena hanya Allah ta’ala-lah satu-satunya Sesembahan yang berhak disembah dengan benar. Allah ta’ala-lah Dzat yang paling berhak mendapat kecintaan dan ketundukan terbesar dari setiap manusia. Konsekuensinya, seorang Mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, dan kecintaan terhadap Sesembahan selain Allah, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Sebagai bentuk kebencian itu, Allah ta’ala juga MELARANG kaum Mukminin menjadi teman akrab, merendahkan diri, serta tunduk kepada orang kafir,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, sebagai wali. (Yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 57)

Wali secara bahasa artinya orang yang dicintai, teman akrab, atau penolong (Lihat Qamush Al Muhith). Selain itu, rasa benci terhadap kekufuran ini adalah tuntutan iman dan syarat sempurnanya iman. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان

“Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Dengan demikian jelaslah, bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam, bukan berarti tidak membenci mereka. Kita tidak memaksa mereka, namun tetap menyimpan rasa benci kepada mereka, selama mereka belum mengakui, bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang berhak disembah dan memeluk Islam.

Namun perlu digaris bawahi, rasa benci terhadap kekufuran dan orang kafir wajib ada di hati setiap Muslim. Akan tetapi kebencian ini bukan berarti harus menyakiti, menzalimi atau bahkan membunuh setiap orang kafir yang kita jumpai. Karena dalam aturan Islam, orang kafir dibagi menjadi beberapa jenis, ada yang boleh disakiti dan diperangi, ada pula orang kafir yang haram untuk disakiti dan diperangi. Walau demikian, tetap Tidak Boleh memberikan kasih sayang dan loyalitas kepada mereka.

Demikian penjelasan singkat mengenai tafsir ayat ini. Mudah-mudahan Allah ta’ala senantiasa memberikan kita keteguhan hati untuk terus meniti di atas jalan-Nya yang lurus.

Wabillahi At Taufiq.

Penulis: Yulian Purnama

[Artikel www.Muslim.or.id]

 

https://Muslim.or.id/1851-tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html