Posts

,

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
 
“Dunia itu membelakangi/membokongi kita, sedangkan Akhirat itu menghadap kepada kita. Para ulama mengatakan, alangkah anehnya orang yang menghadap kepada sesuatu yang membelakangi dia, dan membelakangi sesuatu yang menghadap kepadanya.
 
Aneh, seharusnya kita menghadap kepada sesuatu yang menghadap kepada kita, dan membelakangi kepada sesuatu yang membelakangi kita. Manusia tertipu dunia, dunia memberikan belakangnya. Masing-masing dunia dan Akhirat memiliki anak-anak.
 
Jadilah kamu anak-anak Akhirat , dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Karena pada hari ini adalah tempat untuk beramal, kita tidak dihisab di dunia ini. Dan besok ketika kita mati dan berada di Akhirat, akan ada hisab dan tidak ada amal.”
 
[Ustaadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullahu]

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#jadilahanakanakAkhirat, #larangan, #dilarang, #jadianakanakdunia, #duniainihina, #duniapenjarabagiorangmukmin, #duniaSurgabagiorangkafir

,

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
 
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً
 
“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini HARAM tanpa diragukan lagi. Dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridaan terhadap hari raya mereka. Padahal RIDA TERHADAP KEKAFIRAN MERUPAKAN KEKAFIRAN, termasuk mengucapkan “Selamat hari Natal” atau”Hari Paskah” atau yang semisalnya. Jadi semacam ini TIDAK BOLEH SAMA SEKALI.
 
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ،
 
Walaupun mereka juga mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita tetap tidak boleh untuk mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka.
 
ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥّ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺤﻖ، ﻭﺃﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻨﺎ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺒﺎﻃﻞ
 
Perbedaannya, karena ucapan selamat mereka terhadap hari raya kita adalah ucapan selamat terhadap kebenaran, sedangkan ucapan selamat kita terhadap hari raya mereka adalah ucapan selamat terhadap kebatilan.
 
ﻓﻼ ﻧﻘﻮﻝ: ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ﺇﺫﺍ ﻫﻨﺆﻭﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻟﻠﻔﺮﻕ ﺍﻟﺬﻱ سمعتم
 
Jadi kita tidak mengatakan, bahwa kita membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita membalas dengan mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka, karena adanya perbedaan yang telah kalian dengar.”
 
 https://youtu.be/_FENNzaK15Q
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ucapan, #selamatnatal, #selamathariraya, #orangkafir, #bisamurtadtanpasadar, #murtadtanpasadar, #murtad, #larangan, #dilarang, #mengucapkan#Natalan #MerryChristmas,#ChristmaskeluardariIslam
,

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?
>> Hukum Puasa Qadha Di Hari Jumat
 
Pertanyaan:
Saya pernah mendengar, kita dilarang melakukan puasa di hari Jumat saja. Apakah larangan ini berlaku untuk puasa qadha? Artinya, jika saya mengqadha utang puasa Ramadan di hari Jumat saja, apakah dibolehkan?
 
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du
 
Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Baz, beliau menjelaskan:
Ya, boleh berpuasa pada hari Jumat, baik puasa sunah maupun qadha, tidak masalah. Hanya saja, tidak boleh mengkhususkan hari Jumat untuk puasa sunah. Namun jika dia berpuasa sehari sebelum atau sehari setelahnya, tidak masalah. Nabi ﷺ bersabda:
 
لا يصومن أحد يوم الجمعة إلا أن يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده
 
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” [HR. Bukhari]
 
Selanjutnya beliau menegaskan:
 
المقصود المنهي عنه هو أن يصومه وحده تطوعاً، فرداً هذا هو المنهي عنه.
 
“Maksud dari larangan itu adalah berpuasa sunah pada hari Jumat saja. Itulah yang dilarang.” [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/13464]
 
Hal yang sama jjuga difatwakan oleh Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Dinyatakan;
 
Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام؛ إلاّ أن يكون في صوم يصومه أحدكم
 
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud, sementara malam yang lain tidak. Dan jangan mengkhususkan Jumat untuk berpuasa tanpa hari yang lain. Kecuali jika puasa hari Jumat itu bagian rangkaian puasa kalian.” [HR. Muslim]
 
Hadis ini menjadi dalil, makruhnya mengkhususkan hari Jumat untuk puasa. Dan Nabi ﷺ memberikan pengecualian, itu boleh jika bertepatan dengan rangkaian puasa seseorang.
 
Oleh karena itu, kami nyatakan:
 
Puasa di hari Jumat saja hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena itu, jika kita mampu untuk melakukan puasa qadha sehari sebelum atau sesudah Jumat, maka itu lebih baik, sehingga tidak melanggar yang makruh. Tapi jika kita tidak mampu, maka kita boleh melakukan puasa pada hari Jumat untuk qadha, insyaaAllah tidak masalah.
 
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatpuasaNabi, #hukum, #qadhapuasa, #qodhopuasa, #puasahariJumat, #larangan, #dilarang, #puasasunnah
,

DILARANG MENGERASKAN SENDAWA

DILARANG-MENGERASKAN-SENDAWA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DILARANG MENGERASKAN SENDAWA
>> Hukum Bersendawa
Pertanyaan:
Kalau makan setelah kenyang bersendawa, apa boleh bersendawanya dengan bunyi atau suara yang kencang?
 
Jawaban
Bismillah, Alhamdulillah wash-shalatu was-salam ‘ala Nabiyyina Muhammad, amma ba’du.
 
Terdapat hadis dari Abdullah bin Umar, Abu Juhaifah, Abdullah bin ‘Amru, Abdullah bin ‘Abbas dan dari hadis Salman tentang tidak disenanginya bersendawa. Hadis tersebut dengan lafal:
 
كف عنا جشاءك ، فإن أكثرهم شبعا في الدنيا ، أطولهم جوعا يوم القيامة
 
“Tahanlah dari kami sendawamu, karena sesungguhnya seseorang yang paling sering kenyang di dunia makan, dia akan paling panjang rasa laparnya di Hari Kiamat.”
 
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam as-Sunan,Ibnu Majah di dalam as-Sunan, al-Hakim di dalam al-Mustadrak dan selain mereka, Asy-Syaikh al-Albani menghukumi hadis ini dengan hukum Hasan Lighairihi dengan berbagai macam jalur periwayatannya.
 
Namun jalan-jalan periwayatan hadis ini TIDAK satu pun yang luput dari cela. Bahkan sanadnya sangat lemah. Ibnu Abi Hatim di dalam al-‘Ilal no. 1910 mengutip dari bapak beliau, “Hadis ini adalah hadis yang mungkar.” Dan di bagian lainnya, beliau mengatakan, “Hadis ini adalah hadis yang batil, …”
 
Dengan demikian, bersendawa BUKANLAH hal terlarang secara syari. Namun walau bersendawa dengan suara yang kencang/keras di hadapan kaum manusia bukanlah suatu yang haram, akan tetapi merupakan prilaku yang tidak sejalan dengan adab dan akhlak yang mulia. Dan sepatutnya bilamana seseorang hendak bersendawa, dia menahannya semampunya, ataulah menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Wallahul ta’ala A’lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Rishky AR
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#dilarang, #larangan, #mengeraskan, #keraskan, #sendawa, #hukumnya, #bersendeawa, #sendawa, #glegean, #masukangin #mungkar, #batil, #bathil, #hadist, #hadits #palingseringkenyangdidunia, #palingpanjangrasalaparnyadiHariKiamat

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?
 
Apabila ada seorang mubtadi’ namun dia menonjol/kuat dalam ilmu bahasa Arab, baik Balaghah, Nahwu, maupun Sharaf, bolehkah kita duduk dengannya dan mengambil ilmu darinya? Yakni ilmu yang dia menonjol di bidang tersebut. Ataukah kita tetap wajib meng-hajr-nya?
 
Jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah:
 
Kita TIDAK BOLEH duduk dengannya, karena hal itu akan memunculkan dua kerusakan:
 
Kerusakan Pertama: Dia (Ahlul Bid’ah tersebut) tertipu dengan dirinya sendiri. Dia mengira bahwa dirinya berada di atas al-Haq (kebenaran).
 
Kerusakan Kedua: Umat akan tertipu dengannya. Yaitu dengan berdatangannya para penuntut ilmu kepada dia dan mengambil ilmu darinya. Sementara orang awam tidak akan membedakan antara ilmu nahwu dengan ilmu akidah.
 
Oleh karena itu KAMI MEMANDANG UNTUK TIDAK BOLEH DUDUK DENGAN AHLUL BID’AH SECARA MUTLAK. Bahkan walaupun dia tidak mendapati ilmu bahasa Arab, ilmu Balaghah, dan ilmu Sharaf – misalnya, kecuali pada mereka. Allah akan menjadikan untuknya yang lebih bagi dari itu. Karena berdatangannya para penuntut ilmu kepada mereka (Ahlul Bid’ah) tidak diragukan akan menyebabkan mereka tertipu (dengan diri sendiri) dan menyebabkan umat tertipu dengan mereka.
 
Di sana ada masalah (lain), yaitu: Bolehkan mengambil ilmu Alquran (yaitu ilmu Qira’ah, Tajwid, dll, pen) dari seorang pengajar Ahlul Bid’ah?
 
Jawabannya: TIDAK BOLEH membaca kepada mereka (yakni tidak boleh mengambil ilmu Alquran dari mereka, pen).
 
– Selesai dengan sedikit perubahan –
 
Dari kaset: “Syarh Hilyah Thalibul ‘Ilmi”
Oleh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#FatwaUlama, #hukum, #hukummengambililmu, #ahlulbidah, #ahlibidah, #bidah, #bid’ah,

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

Pertanyaan:

Saya membaca satu hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang larangan duduk dengan menaikkan paha dan memeluk lutut, ketika khatib sedang menyampaikan Khutbah dari Mimbar ketika Shalat Jumat. Saya harap Anda dapat membantu saya memberi pencerahan tentang hal ini.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah pengawasan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Pertama:

Hadis tentang duduk memeluk lutut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (24/393) dan At-Tirmizi (514) dari Muadz bin Anas radhiyallahuanhu, yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحبْوَة يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah ﷺ melarang duduk Ihtiba’ (memeluk atau mendekap lutut) di hari Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.” Imam At-Tirmizi mengatakan “Hadis ini Hadis Hasan.”

Duduk di dalam hadis tersebut adalah duduk dengan bersandar pada punggung, dengan paha dan betis diangkat hingga menempel atau mendekati perut, lalu memeluknya dengan kedua tangan. [Lihat al-Mu‘jam al-Waseet (1/154, 2/729)].

Para ulama berbeda pendapat tentang hadis di atas. Beberapa dari mereka menglasifikasikan hadis tersebut sebagai Hasan, seperti Syekh Al-Albani Rahimahullah di dalam Sahih At-Tirmizi, dan juga pensyarah Musnad Al-Imam Ahmad.

Beberapa ulama lainnya mengklasifikasikan hadis tersebut sebagai Dhaif, seperti Imam Nawawi di dalam Al-Majmu (4/592), Ibnul Arabi di dalam Aaridat al-Ahwadhi (1/469) dan Ibnu Muflih di dalam Al-Furuu’ (2/127).

Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu, setelah menyatakan bahwa Imam At-Tirmizi mengklasifikasikan hadis ini sebagai Hasan, berkata:

“Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang Dhaif (lemah), sehingga kami tidak bisa menerima klasifikasi (hadis tersebut) sebagai Hasan.”

Akhir kutipan.

Kedua:

Perawi Dhaif yang disebutkan oleh Imam Nawawi adalah Sahl bin Muadz dan Abdurrahim bin Maymun.

Tentang  Sahl bin Muadz, Ibnu Ma’in berkata:

“Beliau Dhaif.”

Ibnu Hibban berkata:

“Hadisnya sangat aneh.”

Abdurrahim bin Maimun juga disebut sebagai perawi yang Dhaif oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata:

“Hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak boleh dikutip sebagai hujjah.” [Lihat: Tahdheeb at-Tahdheeb (4/258, 6/308)].

Diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat juga duduk memeluk lutut pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, seperti Ibnu Umar dan Anas radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, sebagian besar ulama (termasuk empat imam) berpendapat, bahwa duduk seperti ini TIDAK MAKRUH.

Ibnu Qudamah, di dalam Al-Mughni (2/88), berkata:

“Tidak ada yang salah dengan duduk sambil mengangkat dengkul ketika Imam sedang menyampaikan kutbah. Hal ini diiriwayatkan dari Ibnu Umar dan banyak sahabat Rasulullah ﷺ lainnya. Inilah pendapat Said bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Malik, Asy-Syafii, dan Ashabur Ra’yi.”

Abu Dawud berkata:

“Saya tidak mendengar ada seseorang yang menganggapnya Makruh kecuali Ubaadah bin Nasiy, karena Sahl bin Muadz meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan mengangkat kaki pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.”

Ibnu Qudamah Rahimahullah melanjutkan: “Akan tetapi, kami memiliki riwayat dari Ya’la bin Awas yang berkata:

“Saya berada di Baitul Maqdis (Jerusalem) dengan Muawiyah. Beliau berkumpul bersama kami, kemudian saya mengetahui dan melihat, bahwa sebagian besar dari mereka yang berada di dalam masjid adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, dan saya melihat mereka duduk memeluk lutut ketika Imam sedang menyampaikan khutbah. Hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar dan Anas, dan kami tidak melihat adanya seseorang yang tidak setuju dengan mereka; sehingga dari sini ada konsensus (Ijma).

“Sanad dari hadis tersebut masih terus diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mundzir. Akan tetapi, akan lebih bagi kita untuk tidak melakukannya. Meskipun riwayat tersebut Dhaif, duduk dengan cara tersebut (Ihtiba’) lebih berpotensi membuat seseorang ketiduran, atau terjatuh (karena tidur), sehingga membatalkan wudhunya. Oleh karena itu, lebih baik tidak melakukannya.”

Akhir kutipan.

Imam An-Nawawi, di dalam Al-Majmu (4/457), berkata:

“Duduk dengan memeluk kaki pada waktu Jumat bagi seseorang yang mendatangi khutbah, ketika Imam sedang menyampaikan khutbah:

“Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Imam Asy-Syafii, bahwa beliau tidak menganggapnya sebagai Makruh. Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Ata’ bin Rabbah, Ibnu Sirin, Abu Zubair, Salim bin Abdullah, Suraih Al-Qadi, Ikrimah bin Khalid, Nafi, Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Ashabur Ra’yi, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.”

Beliau (Imam An-Nawawi) melanjutkan:

“Beberapa ulama hadis menganggapnya sebagai Makruh, karena sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang hal tersebut, padahal sanadnya masih diperdebatkan.”

Akhir kutipan.

Beberapa ulama menyebutkan alasan kenapa duduk Ihtiba’ (memeluk lutut) ketika Imam menyampaikan Khutbah adalah Makruh.

Al-Baihaqi Rahimahullah berkata:

“Apa yang diriwayatkan di dalam hadis Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan memeluk lutut atau kaki pada waktu Jumat, jika terbukti sahih, itu karena duduk dengan cara tersebut dapat membuat seseorang mudah tertidur, sehingga wudhunya kemungkinan besar menjadi batal. Jika tidak khawatir akan hal tersebut, maka tidak ada yang salah dengan duduk sambil memeluk lutut.“

Akhir kutipan.

Ma‘rifat as-Sunan wa’l-Athaar (1814)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang Ihtiba (duduk memeluk lutut) pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, karena dua alasan:

Satu, karena posisi seperti ini akan menyebabkan mengantuk lalu orang tersebut tertidur dan tidak mendengarkan khutbah.”

Kedua, karena jika dia bergerak, maka auratnya akan tersingkap. Ini karena kebanyakan orang di zaman dulu hanya memakai Izar (semacam sarung) dan Rida’ (semacam jubah atasan). Dan jika seseorang bergerak atau tersungkur, maka auratnya akan terbuka.”

“Akan tetapi jika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, maka hukumnya boleh. Jika sebuah larangan didasarkan pada logika (alasan), maka ketika alasan tersebut hilang, maka larangannya pun batal.”

Akhir kutipan.

Sharh Riyadh as-Saaliheen (4/730-731).

Kesimpulan:

Lebih disukai untuk tidak duduk memeluk lutut ketika imam sedang menyampaikan khutbah pada waktu Jumat. Tetapi jika seseorang duduk memeluk lutut dan tidak ada kekhawatiran bahwa auratnya akan terbuka atau tertidur, maka dalam hal ini hukumnya boleh.

Wallahu’alam bish shawwab.

[Fatwa No: 129182 – Tanggal: 2014-12-04]

 

Sumber: http://islamqa.info/en/129182

 

Penerjemah: Irfan Nugroho

Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

,

HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)

HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)
Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi
 
Pertanyaan:
Manakah pendapat yang shahih mengenai hukum tasybik (menjalin jari-jemari) sebelum shalat dan setelahnya?
 
Jawaban:
Menjalin jari-jemari TERLARANG dilakukan sebelum shalat, yaitu ketika menunggu shalat. Sebagaimana hadis:
 
إذا كان أحدكم يصلي فلا يشبكن بين أصابعه
 
“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka janganlah menjalin jari-jemarinya.”
 
Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Adapun jika sudah selesai shalat, tidak mengapa melakukan tasybik di masjid ataupun di tempat lainnya. Sedangkan jika sebelum shalat, TIDAK BOLEH. Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Nabi ﷺ pernah kurang rakaat shalatnya karena lupa. Beliau ﷺ hanya shalat dua rakaat, kemudian pergi ke tepi masjid dan bersandar di tiang kayu sambil ber-tasybik (HR. Ibnu Hibban). Beliau ﷺ mengira shalatnya tersebut sudah sempurna dikerjakan.
 
Hal ini menunjukkan, bahwa jika shalat sudah selesai, maka boleh ber-tasybik. Sedangkan jika belum, maka tidak boleh. Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Adapun orang yang berjalan ke masjid, maka hukumnya juga sebagaimana hukum orang yang shalat (tidak boleh ber-tasybik, pent.). Dan hendaknya orang yang berjalan ke masjid menghadirkan keagungan Allah dalam hatinya. Demikian yang nampaknya lebih tepat.
 
[Fatawa Munawwa’ah Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi, 6/24, Asy Syamilah]
 
 
Penerjemah: Yulian Purnama
#FatwaUlama
,

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA
.
Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa, sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong: “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”
.
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati, kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’). Imam Ahmad menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.
.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)
.
Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri].
.
Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.
.
Jangan sombong, sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.
.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

LARANGAN MEMAKAI CINCIN DI JARI TENGAH DAN TELUNJUK

LARANGAN MEMAKAI CINCIN DI JARI TENGAH DAN TELUNJUK

LARANGAN MEMAKAI CINCIN DI JARI TENGAH DAN TELUNJUK

Pertanyaan:

Apa ada larangannya memakai cincin pada jari tengah?

Jawaban:

Mengenakan cincin terlarang pada jari tengah dan jari telunjuk bagi laki-laki. Adapun bagi wanita dibolehkan. Al-Imam Muslim rahimahullahu ta’ala menyebutkan dalam Shahih beliau: “Bab Larangan Menggunakan Cincin pada jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk).”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, di antaranya:

قَالَ عَلِىٌّ نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِى إِصْبَعِى هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِى تَلِيهَا.

“Berkata Ali radhiyallahu’anhu: Rasulullah ﷺ melarangku menggunakan cincin pada jari ini dan ini. Beliau berkata: Rasulullah ﷺ memberi isyarat, bahwa yang terlarang itu adalah jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk).” [HR. Muslim]

Beberapa Faidah:

1) Larangan mengenakan cincin pada jari tengah dan telunjuk hanya berlaku bagi laki-laki. Adapun bagi wanita dibolehkan. Telah dinukil ijma’ kebolehannya bagi wanita oleh An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim. Demikian pula yang difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.

2) Laki-laki boleh mengenakan cincin perak. Sedangkan emas diharamkan bagi laki-laki, baik emas murni maupun bercampur dengan bahan lain, baik cincin, maupun perhiasan lainnya, ataupun jam tangan yang bercampur emas. Semuanya diharamkan bagi laki-laki

3) Wanita boleh mengenakan cincin emas maupun perak. Bahkan sebagian ulama telah menukil ijma’ akan kebolehannya, sehingga pendapat yang melarangnya sangat lemah

4) Memakai cincin besi dan tembaga terlarang bagi laki-laki maupun wanit,a karena keduanya merupakan pakaian penduduk Neraka, sehingga dilarang oleh Rasulullah ﷺ

5) Rasulullah ﷺ mengenakan cincin beliau pada jari kelingking, sebagian ulama membolehkan di jari manis

6) Boleh mengenakan cincin di tangan kanan maupun kiri, selain pada dua jari yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis di atas.

7) Tukar cincin bagi pengantin tidak disyariatkan, bahkan hal itu dapat mengandung tiga macam kemungkaran:

  • Pertama: Tasyabbuh kepada orang-orang kafir.
  • Kedua: Jika calon pengantin belum melakukan akad nikah atau bahkan masih pacaran (baca: pengantar kepada zina), maka hukumnya haram, jika mereka saling bersentuhan.
  • Ketiga: Jika terdapat keyakinan bahwa selama cincin itu masih digunakan oleh pasangannya maka hubungan mereka akan langgeng, maka hal ini termasuk SYIRIK (menyekutukan Allah ta’ala). Sebab hanya Allah ta’ala Yang Maha Mampu melanggengkan hubungan keduanya. Demikian faidah dari Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu ta’ala.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://nasihatonline.wordpress.com/2013/03/04/larangan-memakai-cincin-di-jari-tengah-dan-telunjuk/

,

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

Di antara jenis pakaian yang terlarang bagi pria adalah pakaian sutra. Pakaian ini terlarang bagi pria, namun dibolehkan bagi wanita.

Kebanyakan ulama, bahkan ada yang menukil sebagai konsensus (ijma’) mereka, bahwa memakai sutra murni bagi pria itu haram, kecuali jika dalam keadaan darurat. Dalil-dalil yang menunjukkan haramnya:

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutra, karena siapa yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak mengenakannya di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5633 dan Muslim no. 2069). Padahal pakaian penduduk Surga adalah sutra. Jadi seakan-akan hadis di atas adalah kinayah (ibarat) untuk tidak masuk Surga. Allah ta’ala berfirman mengenai pakaian penduduk Surga:

وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Dan pakaian mereka adalah sutra” (QS. Al Hajj: 23).

Juga terdapat riwayat dari Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلاَ الدِّيبَاجَ وَلاَ تَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِى صِحَافِهَا ، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِى الدُّنْيَا وَلَنَا فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian mengenakan pakaian sutra dan juga dibaaj (sejenis sutra). Janganlah kalian minum di bejana dari emas dan perak. Jangan pula makan di mangkoknya. Karena wadah semacam itu adalah untuk orang kafir di dunia, sedangkan bagi kita nanti di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5426 dan Muslim no. 2067).

Begitu pula dari ‘Umar bin Khottob, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ فِى الآخِرَةِ

“Sesungguhnya yang mengenakan sutra di dunia, ia tidak akan mendapatkan bagian di Akhirat” (HR. Bukhari no. 5835 dan Muslim no. 2068)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang kafir, mereka bisa mengenakan emas dan perak di dunia. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan orang Muslim, mereka akan mengenakan perak dan emas di Surga. Dan mereka akan mendapatkan kenikmatan yang lain yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 36)

Dari Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِى وَأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan bagi laki-laki dari umatku sutra dan emas, namun dihalalkan bagi perempuan.” (HR. Tirmidzi no. 1720).

Di antara hikmah kenapa sampai emas dan sutra dilarang:

  • 1- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam hadis Hudzaifah di atas.
  • 2- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan wanita.
  • 3- Berlebihan dalam mengenakan sutra bukanlah sifat jantan dari laki-laki. Memang laki-laki dituntut pula untuk berhias diri, namun tidak berlebih-lebihan. (Lihat Al Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom karya Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, 4: 207)

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3297-larangan-pria-memakai-pakaian-sutra.html