Posts

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

>> Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

>> Terlarangnya Hadiah Bagi Pejabat dan Pegawai Bawahannya

Segala puji bagi Allah, Rabb se mesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seringnya kita lihat di hari raya, tumpukan parsel dan bingkisan hari raya hadir di rumah pejabat. Lebih-lebih lagi jika ia pejabat tinggi. Seandainya pejabat tersebut bukanlah pejabat, tentu ia tidak akan mendapat hadiah atau parsel istimewa semacam itu. Hadiah ini diberikan karena ia adalah pejabat. Bagaimana status hadiah semacam ini? Pembahasan ini sebenarnya sudah dibahas oleh Nabi ﷺ dalam beberapa hadis. Simak dalam tulisan berikut ini:

Hadis Hadayal ‘Ummal

Di dalam Shohih Bukhari yang sudah kita kenal, dibawakan bab ‘Hadayal ‘Ummal’. Begitu pula dalam Shohih Muslim, An Nawawi rahimahullah membawakan bab ‘Tahrimu Hadayal ‘Ummal (Diharamkannya Hadayal ‘Ummal)’.

Hadaya berarti hadiah, bentuk plural dari kata hadiyah. Sedangkan ‘Ummal berarti pekerja, bentuk plural (jamak) dari kata ‘aamil.

Dalam kedua kitab shahih tersebut dibawakan hadis berikut, dan ini adalah lafal dari Bukhari:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan:

Pernah Nabi ﷺ memekerjakan seseorang dari Bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan: “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau ﷺ memuja dan memuji Allah kemudian bersabda:

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

“Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan: “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi, melainkan ia akan datang dengannya pada Hari Kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.”

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan: ”Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau ﷺ mengulang-ulanginya tiga kali). [HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832]

Ada hadis pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah ﷺ bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” [HR. Ahmad 5/424. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil no. 2622]

Keterangan Ulama

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan: “Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai TERLARANGNYA hadiah bagi pejabat.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Ibnu Habib menjelaskan: “Para ulama tidaklah berselisih pendapat tentang terlarangnya hadiah yang diberikan kepada penguasa, hakim, pekerja (bawahan) dan penarik pajak.” Demikianlah pendapat Imam Malik dan ulama Ahlus Sunnah sebelumnya. [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Dari sini menunjukkan, bahwa hadiah yang terlarang tadi tidak khusus bagi hakim saja, tetapi bagi pejabat dan yang menjadi bawahan pun demikian.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan: “Adapun hadis Abu Humaid, maka di sana Nabi ﷺ menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 5/221]

An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadis Abu Humaid terdapat penjelasan, bahwa Hadayal ‘Ummal (Hadiah untuk pekerja) adalah HARAM dan GHULUL (khianat). Karena uang seperti ini termasuk PENGKHIANATAN DALAM PEKERJAAN DAN AMANAH. Oleh karena itu, dalam hadis di atas disebutkan mengenai hukuman, yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada Hari Kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah khianat.

Dan beliau ﷺ sendiri telah menjelaskan dalam hadis tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah semacam ini sebenarnya masih KARENA SEBAB PEKERJAAN. Berbeda halnya dengan hadiah yang bukan sebab pekerjaan. Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (Kas Negara).” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, cetakan kedua, 1392, 12/219]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan:

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan), yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang BERKAITAN DENGAN PEKERJAANNYA. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini TIDAK boleh diambil sedikit pun oleh pekerja tadi, walaupun dia menganggapnya baik.”

Lalu Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan lagi: “Tidak boleh bagi seorang pegawai di wilayah pemerintahan menerima hadiah berkaitan dengan pekerjaannya. Seandainya kita membolehkan hal ini, maka akan terbukalah pintu riswah (suap/sogok). Uang sogok amatlah berbahaya dan termasuk dosa besar (karena ada hukuman yang disebutkan dalam hadis tadi, pen). Oleh karena itu, wajib bagi setiap pegawai, jika dia diberi hadiah yang berkaitan dengan pekerjaannya, maka hendaklah dia MENGEMBALIKAN hadiah tersebut. Hadiah semacam ini TIDAK boleh dia terima. Baik dinamakan hadiah, sedekah, dan zakat, tetap tidak boleh diterima. Lebih-lebih lagi jika dia adalah orang yang mampu, zakat tidak boleh bagi dirinya, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibni Utsaimin, Asy Syamilah, 18/232]

Mengapa Dikatakan Khianat?

Hadiah bagi pekerja atau pejabat yang di mana hadiah tersebut berkaitan dengan pekerjaannya (seandainya ia bukan pejabat, tentu saja tidak akan diberi parsel atau hadiah semacam itu), ini bisa dikatakan khianat, dapat kita lihat dalam penjelasan berikut ini. Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan:

“Nabi ﷺ pernah menerima hadiah (sebagaimana layaknya hadiah untuk penguasa/pejabat). Perlu diketahui, bahwa hadiah ini karena menjadi kekhususan pada beliau. Karena Nabi ﷺ adalah ma’shum, beliau bisa menghindarkan diri dari hal terlarang. Berbeda dengan orang lain (termasuk dalam hadiah tadi, tidak mungkin dengan hadiah tersebut beliau berbuat curang atau khianat, pen). Lantas ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengembalikan hadiah (sebagaimana hadiah untuk pejabat), beliau tidak mau menerimanya. Lantas ada yang mengatakan pada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Nabi ﷺ sendiri pernah menerima hadiah semacam itu!” ‘Umar pun memberikan jawaban yang sangat mantap: “Bagi Nabi ﷺ bisa jadi itu hadiah. Namun bagi kita itu adalah suap. Beliau ﷺ mendapatkan hadiah semacam itu lebih tepat karena kedudukan beliau sebagai nabi, bukan karena jabatan beliau sebagai penguasa. Sedangkan kita mendapatkan hadiah semacam itu karena jabatan kita.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Kami rasa sudah jelas mengapa hadiah semacam parsel bagi pejabat dan uang tips bagi karyawan yang kaitannya dengan pekerjaannya, itu dikatakan khianat. Jelas sekali, bahwa uang tips atau hadiah semacamm tadi diberikan karena KAITANNYA dengan PEKERJAAN DIA SEBAGAI PEJABAT, KARYAWAN atau PEKERJA. Seandainya bukan demikian, tentu ia tidak diberikan hadiah semacam itu. Seandainya ia hanya duduk-duduk di rumahnya, bukan sebagai pekerja atau pejabat, tentu ia tidak mendapatkan bingkisan istimewa seperti parsel dan uang tips tadi. Inilah yang namanya khianat, karena ia telah mengkhianati atasannya. Inilah jalan menuju suap yang sesungguhnya. Inilah suap terselubung. Orang yang memberi hadiah semacam tadi, tidak menutup kemungkinan ia punya maksud tertentu. Barangkali ia berikan hadiah, agar jika ingin mengurus apa-apa lewat pejabat akan semakin mudah, semakin cepat di-ACC dan sebagainya. Inilah sekali lagi suap terselubung di balik pemberian bingkisan.

Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

Perlu diketahui, bahwa tidak semua hadiah itu halal, atau tidak dalam setiap kondisi kita saling memberikan hadiah satu sama lain. Nabi ﷺ benar bersabda:

وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan timbul rasa cinta di antara kalian.” [HR. Malik secara Mursal.]

Benar sabda di atas. Namun ada beberapa kondisi halalnya hadiah atau tidak, sebagaimana dapat dilihat dalam rincian berikut:

  1. Hadiah yang halal untuk penerima dan pemberi. Itulah hadiah yang diberikan bukan untuk hakim dan pejabat, misalnya hadiah seorang teman untuk temannya. Seorang hakim atau pejabat negara tidak boleh menerima hadiah jenis pertama ini dari orang lain. Dengan kata lain, menerima hadiah yang hukumnya halal untuk umumnya orang. Itu hukumnya berubah menjadi haram dan berstatus suap, jika untuk hakim dan pejabat. Hadiah yang jadi topik utama kita saat ini adalah hadiah jenis ini.
  2. Hadiah yang haram untuk pemberi dan penerima, misalnya hadiah untuk mendukung kebatilan. Penerima dan pemberi hadiah jenis ini berdosa, karena telah melakukan suatu yang haram. Hadiah semisal ini wajib dikembalikan kepada yang memberikannya. Hadiah jenis ini haram untuk seorang hakim maupun orang biasa.
  3. Hadiah yang diberikan oleh seorang yang merasa takut terhadap gangguan orang yang diberi, seandainya tidak diberi, baik gangguan badan ataupun harta. Perbuatan ini boleh dilakukan oleh yang memberi, namun haram diterima oleh orang yang diberi. Karena tidak mengganggu orang lain itu hukumnya wajib, dan tidak boleh menerima kompensasi finansial untuk melakukan sesuatu yang hukumnya wajib. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Mengembalikan Hadiah Khianat

Seorang hakim dan pejabat WAJIB MEMULANGKAN hadiah kepada orang yang memberikannya. Jika hadiah tersebut telah dikomsumsi, maka wajib diganti dengan barang yang serupa.

Jika yang memberi hadiah tidak diketahui keberadaannya, atau diketahui namun memulangkan hadiah adalah suatu yang tidak mungkin karena posisinya yang terlalu jauh, maka barang tersebut hendaknya dinilai sebagai barang temuan (luqothoh) dan diletakkan di Baitul Maal.

Pemberian hadiah kepada seorang hakim itu karena posisinya sebagai hakim, sehingga hadiah tersebut merupakan hak masyarakat umum. Oleh karena itu, wajib diletakkan di Baitul Maal, yang memang dimaksudkan untuk kepentingan umum. Namun status barang ini di Baitul Maal adalah barang temuan. Artinya, jika yang punya sudah diketahui, maka barang tersebut akan diserahkan kepada pemiliknya.

Jika seorang hakim atau pejabat berkeyakinan, bahwa menolak hadiah yang diberikan oleh orang yang punya hubungan baik dengannya itu menyebabkan orang tersebut tersakiti, maka hakim boleh menerima hadiah tersebut, asalkan setelah menyerahkan uang senilai barang tersebut kepada orang yang memberi hadiah. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Itu tadi hadiah bagi hakim dan pejabat yang bekerja di bawah pemerintahan. Bagaimana dengan hadiah bagi bawahan dari perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan pemerintahan? Artinya ia dapat hadiah dari orang lain karena status dia sebagai pekerja di perusahaan tersebut. Hadiah tersebut harus dikembalikan kepada atasannya atau bosnya. Terserah di situ, bosnya rida ataukah tidak. Jika bosnya rida kalau hadiah itu untuk bawahannya, maka silakan ia gunakan.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga para pembaca diberi kemudahan untuk memahami hal ini. Semoga sajian ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1267-uang-tips-dan-hadiah-khianat.html

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

>> Usia Berapa Mulai Baligh?

Pertanyaan:

Pada usia berapa anak dikatakan telah baligh, sehingga dia sudah wajib berpuasa?

Jawaban:

Ukuran baligh tidak semata bersandar pada usia. Yang pasti, jika dia mengalami salah satu saja dari hal berikut ini, dia teranggap sebagai orang yang baligh:

  1. Tumbuh bulu kemaluan,
  2. Telah keluar mani (baik dalam kondisi sadar atau melalui mimpi basah),
  3. Mencapai usia lima belas tahun,
  4. Haid (untuk wanita). [Lihat: al-Jaami fii Fiqh Ibn Baaz, 497-498]

>> Kapan Anak Disuruh Berpuasa?

Pertanyaan:

Pada usia berapakah tepatnya, anak mesti diperintah untuk puasa?

Jawaban:

Sebagian ulama menganalogikan puasa dengan ibadah shalat. Yaitu pada usia tujuh tahun sudah mesti diperintah untuk puasa, jika saat berusia sepuluh tahun dia meninggalkan puasa, maka dipukul. [Lihat: al-Mughni, IV/412-413]

Nampaknya keterangan asy-Syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullah berikut bisa menjadi acuan kita dalam masalah ini. Beliau berkata:

إذا كان صغيراً لم يبلغ فإنه لا يلزمه الصوم ، ولكن إذا كان يستطيعه دون مشقة فإنه يؤمر به ، وكان الصحابة رضي الله عنهم يُصوِّمون أولادهم ، حتى إن الصغير منهم ليبكي فيعطونه اللعب يتلهى بها ، ولكن إذا ثبت أن هذا يضره فإنه يمنع منه

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan, maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para sahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya untuk berpuasa saat masih kecil. Bahkan sampai-sampai di antara anak-anak mereka ada yang menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi si anak, maka jangan.” [Majmu Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/83]

Artinya, tidak ada batasan usia kapan mulai memerintah mereka puasa. Kapan kira-kira tidak membuat mereka terkena mudharat (bahaya karena tidak kuat berpuasa), maka saat itulah mulai dilatih. Namun mesti diingat, ada perbedaan antara susah menjalankan puasa dengan mudharat:

– Susah menjalankan puasa bagi anak kecil: Belum tentu akan membahayakan dirinya. Kondisi susah yang dialami si anak lantaran puasa, jangan sampai menjadikan orang tua enggan melatih mereka puasa.

– Namun jika memudharatkan: Sudah barang tentu mereka kesusahan. Pada kondisi inilah orang tua tidak boleh memaksa mereka untuk puasa.

>> Dapatkah Pahala Jika Anak Kecil Puasa?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apa hukumnya anak kecil puasa?

جـ: صيام الصبي كما أسلفنا ليس بواجب عليه بل هو سنة، له أجره إن صام، وليس عليه إثم إن أفطر، ولكن على ولي أمره أن يأمره به ليعتاده

Jawaban:

“Puasanya anak kecil sebagaimana telah kami terangkan, hukumnya tidak wajib, namun sebatas sunnah. Sehingga jika dia berpuasa maka dapat pahala, jika tidak maka tidak berdosa. Tapi orang yang mengurusnya hendaklah memerintah dia agar puasa, hingga akhirnya terbiasa.” [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/84]

 

Dinukil dari berbagai kitab fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/307/anak-kita-saat-Ramadan#sthash.cjHaOwQ3.dpuf

, , ,

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#WanitaSholihah
#FatwaUlama

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

Jika seorang Muslimah memiliki busana yang tidak syari, bolehkah ia menyedekahkannya kepada wanita yang lain?
Fatwa Islamweb [Asuhan Syaikh Abdullah Al Faqih]

 

Pertanyaan:
Wahai Syaikhuna Al Fadhil, saya sedang bingung dalam menghadapi satu persoalan. Sudah beberapa bulan ini saya mengganti pakaian-pakaian saya. Saya tidak lagi memakai celana panjang, dan tidak lagi menggunakan busana muslimah yang mengundang fitnah. Saya berusaha untuk memerhatikan syarat-syarat hijab yang syari. Pertanyaan saya, saya memiliki banyak pakaian lama yang saya tinggalkan tersebut. Bolehkah saya sedekahkan kepada orang yang saya anggap fakir, ataupun teman yang tidak fakir? Namun warna pakaian tersebut bisa menimbulkan fitnah. Bolehkan saya memberikannya kepada wanita yang masih suka ber-tabarruj (membuka aurat)? Dan ada pula sepatu, yang beberapa ada yang ber-hak tinggi. Dan saya tahu sekali, bahwa orang yang saya berikan tersebut akan memakainya di luar rumah. Demikian juga halnya pakaian-pakaian. Bolehkah saya memberikan ini semua kepadanya? Dan bolehkan saya memberikah khimar yang hanya menutupi kepala, dan warnanya juga dapat menimbulkan fitnah? Karena saya tidak akan pernah memakainya lagi, sedangkan saya tahu pasti, bahwa orang yang saya berikan nanti akan lebih sering memakainya.

Dan bolehkah saya memberikan saudara saya celana panjang untuk dipakai di luar rumah? Dan bolehkah saya membeli hadiah berupa gaun misalnya, atau hal lain, kepada siapa saja yang akan saya berikan, sedangkan saya tahu bahwa mereka tidak punya perhatian terhadap hukum syariat. Bahkan terkadang mereka ber-tabarruj. Apakah makna dari larangan membantu dalam bermaksiat? Lalu jika ini semua tidak diperbolehkan, apakah saya buang saja semua pakaian dan sepatu ini? Sedangkan saya tahu, ada orang yang bisa mengambil manfaat darinya.

Semoga Allah memberikan Anda derajat yang tinggi di Surga, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak atas jawabannya.

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

Alhamdulillah, Allah telah memberi Anda hidayah untuk menjaga kehormatan Anda, dan memberi Anda hidayah untuk berhijab syari. Dan saya berharap semoga Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas Anda.

Dan telah kami jelaskan dalam Fatwa nomor 48924 dan nomor 36082, bahwasanya tidak boleh bersedekah pakaian kepada wanita yang diketahui akan menggunakannya untuk ber-tabarruj. Dan ini termasuk perbuatan membantu dalam berbuat dosa. Dan hadiah itu sama hukumnya sebagaimana sedekah dalam hal ini. Oleh karena ini, mungkin sebaiknya pakaian tersebut Anda gunakan saja untuk berhias di hadapan suami Anda, atau Anda berikan kepada wanita yang diketahui akan hanya memakainya di rumahnya (baik ia miskin ataupun kaya), bukan kepada wanita yang akan memakainya di luar rumah dan ber-tabarruj dengannya.

Dan telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 104449, bolehnya memakai high-heels dengan beberapa syarat [http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=104449]. Silakan lihat penjelasan pada fatwa tersebut. Oleh karena itu boleh menghadiahkannya, jika keadaannya sesuai dengan yang disyaratkan.

Jika khimar yang Anda miliki tersebut warnanya dapat menimbulkan fitnah, maka tidak boleh memakainya. Karena di antara syarat hijab yang syari adalah bukan untuk berhias / memercantik diri. Sebagaimana telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 6745.

Secara khusus mengenai anak gadis yang Anda sebutkan, yaitu yang biasa memakai busana yang lebih parah dari busana yang ingin Anda berikan, maka bukanlah kebaikan, jika Anda memberikan pakaian Anda tersebut, karena diketahui, bahwa ia akan bermaksiat kepada Allah dengannya. Bahkan wajib untuk mengingkari perbuatannya tersebut. Jika ia tetap ngeyel, maka tinggalkan ia, dan jangan berikan hal-hal yang membantunya melakukan hal yang haram. Walaupun itu lebih ringan haramnya daripada yang ia biasa lakukan.

Dan tidak boleh memberikan celana panjang kepada saudari Anda, kecuali ia akan memakai pakaian luar yang menutupi celana panjang tersebut. Silakan lihat Fatwa nomor 251707.

Dan maksud dari larangan membantu dalam maksiat sudah jelas, tidak perlu diperinci lagi. Dan dalam kasus Anda ini, tidak membantu dalam maksiat adalah dengan tidak memberikan pakaian yang tidak syari tersebut dan tidak mengenalkannya dengan model pakaian tersebut, atau semacamnya.

Dan kami tidak menyarankan Anda membuang pakaian-pakaian Anda tersebut, namun hendaknya dipakai di rumah, atau berikan kepada wanita yang akan hanya memakainya di rumahnya.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=265363

Catatan redaksi:
Saudari kita yang hijabnya belum syari mungkin memang sedang dalam proses menuju hijab syari, kita maklumi dan terus kita ajari dan dakwahkan mereka hingga mereka mau berhijab syari. Suatu sikap yang salah jika saudari yang sedang proses tersebut malah kita berikan hijab yang tidak syari.

Penerjemah: Yulian Purnama
Sumber: https://muslimah.or.id/6385-bolehkan-menyedekahkan-busana-yang-tidak-syari.html

,

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini, karena kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan, akan menghapus dosa-dosanya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi ﷺ ketika sakit. Sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya Anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat. Oleh karena itukah Anda mendapatkan pahala dua kali lipat?” Beliau ﷺ menjawab: “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” [HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571]

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu, melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” [HR. Muslim no. 2572].

 

Bergembiralah saudaraku. Bagaimana tidak. Hanya karena sakit tertusuk duri saja, dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.

Sekali lagi bergembiralah. Karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa, bahkan tidak memunyai dosa sama sekali. Kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci, sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan Shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

Hadis ini sangat cocok bagi orang yang memunyai penyakit kronis, yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya Surga telah menunggunya.

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada Hari Kiamat nanti banyak orang yang berandai-andai, jika mereka ditimpakan musibah di dunia, sehingga menghapus dosa-dosa mereka, dan diberikan pahala kesabaran. Nabi ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

”Manusia pada Hari Kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” [HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.]

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini? Orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di Hari Kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.

Yang berikut ini adalah jawaban serta jalan keluar dari Allah, yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah [Sumber ini didapat di file komputer kami. Kami tidak tahu penulisnya. Jika tahu, kami akan meminta izin untuk menukilnya]

– Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

– Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

– Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

– Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

– Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

– Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan Surga untuk mereka.” (QS. 9:111)

-Kepada siapa saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Sesembahan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang Agung”. (QS. 9:129)

– Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dalam menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Orang Yang Sakit Selayaknya Bergembira” oleh: dr. Raehanul Bahraen

Muraja’ah: Al-Ustdaz Fakhruddin, Lc [Mudir Ma’had Abu Hurairah Mataram]

[https://Muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/orang-yang-sakit-selayaknya-bergembira.html

,

BERSYUKUR ITU MENINGGALKAN MAKSIAT

BERSYUKUR ITU MENINGGALKAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

BERSYUKUR ITU MENINGGALKAN MAKSIAT
Allah ta’ala memerintahkan agar kita senantiasa mensyukuri nikmat yang didapatkan dan tidak kufur kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman:

 وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)

“Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur (ingkar) kepada-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)

Sekumpulan para ulama salaf berkata: “Syukur adalah meninggalkan maksiat”.

Sebagian dari mereka ketika ditanya apa syukur itu…?

Maka mereka menjawab: “Syukur adalah tidak menggunakan sedikit pun dari nikmat yang Allah ta’ala berikan untuk kemaksiatan”.

#tadabbur_ayat
Diterjemahkan oleh: Andri Abdul Halim Al_Khalil, dari @tadabborr

—————–

BC Tgram “Islamic Center Unaiza_Indo”

, ,

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Saya seorang pemuda yang bersemangat melaksanakan sholat, hanya saja saya sering pulang larut malam. Maka saya men-setting jam (wekker) pada jam tujuh pagi, yakni setelah terbitnya matahari. Lalu saya sholat, baru kemudian saya berangkat kuliah. Kadang-kadang pada Kamis atau Jumat, saya bangun lebih telat lagi, yaitu sekitar satu atau dua jam sebelum Zuhur, lalu saya sholat Subuh saat bangun tidur. Perlu diketahui pula, bahwa keseringan saya sholat di kamar asrama, padahal masjid asrama tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pernah ada seseorang yang mengingatkan saya, karena hal itu tidak boleh. Saya berharap Syaikh bisa menjelaskan hukum tersebut. Jazakumullah khairan.

Jawaban:

Barang siapa yang sengaja men-setting jam wekker pada waktu setelah terbit matahari, sehingga tidak melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka dianggap telah SENGAJA meninggalkannya. Maka ia KAFIR karena perbuatannya itu, menurut kesepakatan Ahlul Ilmi. Semoga Allah melepaskan kebiasannya sengaja meninggalkan sholat. Demikian juga orang yang sengaja menangguhkan sholat Subuh hingga menjelang Zuhur, kemudian sholat Subuh pada waktu Zuhur.

Adapun orang yang KETIDURAN, sehingga terlewatkan waktunya, maka itu tidak mengapa. Ia hanya wajib melaksanakannya saat terbangun dan tidak berdosa. Demikian juga jika ia ketiduran atau karena lupa. Adapun orang yang sengaja menangguhkannya hingga keluar waktunya, atau dengan sengaja men-setting jam hingga keluar waktunya, sehingga mengakibatkan ia tidak bangun pada waktu sholat, maka ia dianggap sengaja meninggalkan, dan berarti ia telah melakukan kemungkaran yang besar menurut semua ulama.

Akan Tetapi, Apakah Ia Menjadi Kafir Atau Tidak?

Mengenai ini ada perbedaan pendapat di antara ulama, jika ia tidak mengingkari kewajibannya. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa itu tidak menjadikannya kafir dengan kekufuran besar tersebut. Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa ia menjadi kafir karena kekufuran yang besar tersebut. Demikian pendapat yang dinukil dari para sahabat Radhiyallahu Ajmain, Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 82]

Dalam hadis lain Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat. Maka barang siapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir”. [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad Shahih; At-Turmudzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079]

Lain dari itu, meninggalkan sholat jamaah merupakan suatu kemungkaran. Ini tidak boleh dilakukan. Yang wajib bagi seorang mukallaf adalah melaksanakan sholat di masjid, berdasarkan riwayat dalam hadis Ibnu Ummi Maktum, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid”. Ia minta kepada Rasulullah ﷺ untuk memberikannya keringanan, agar bisa sholat di rumahnya. Maka beliau ﷺ mengizinkan. Namun ketika orang itu hendak beranjak, beliau ﷺ bertanya:

“Artinya: Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat ? Ia menjawab: ‘Ya’. Beliau ﷺ berkata lagi: ‘Kalau begitu, penuhilah”. [Hadis Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya. Namun demikian Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk sholat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maksudnya, bahwa diwajibkan atas setiap Mukmin untuk sholat di masjid, dan tidak boleh meremehkannya dengan melaksanakan sholat di rumah jika masjidnya dekat.

Dalil lain tentang hal ini adalah sabda Nabi ﷺ:

“Artinya: Barang siapa yang mendengar adzan lalu ia tidak memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena uzur”. [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420,421 Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246, dari Ibnu Abbas dengan isnad sesuai syarat Muslim]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang uzur ini, ia menjawab, “Takut atau sakit”

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Ada seorang pemuda multazim, Alhamdulillah, namun ia sering kelelahan karena pekerjaannya, sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, karena sangat kelelahan dan kecapaian. Bagaimana hukumnya menurut Syaikh, tentang orang yang kondisinya seperti itu. Dan apa pula nasihat Syaikh untuknya ? Jazzkumullah khaiaran.

Jawaban:

Yang wajib baginya adalah meninggalkan pekerjaan yang menyebabkannya menangguhkan sholat Subuh, karena sebab musabab itu ada hukumnya. Jika ia tahu bahwa apabila ia tidak terlalu keras bekerja tentu ia bisa melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka ia wajib untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras, agar ia bisa sholat Subuh pada waktunya bersama kaum muslimin.

[Dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang ditanda tanganinya]

 

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/621-hukum-meninggalkan-sholat-Subuh-dari-waktunya.html

 

,

APA ITU AR RO’DU?

APA ITU AR RO'DU?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA ITU AR RO’DU?

Rasulullah ﷺ ditanya tentang Ar Ro’du, lalu beliau menjawab:

مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ

”Ar Ro’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan, dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Tirmidzi 3117) Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih.

Al Khoroithi berkata dalam bukunya:

’Ali bin Abi Thalib pernah ditanya mengenai ar Ro’du, beliau menjawab: ”Ar Ro’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai Al Barq, beliau menjawab: ”Al barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga:” Al Barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya”.” (Makarimil Akhlaq)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

”Ar Ro’du adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata Ro’ada, Yar’udu, Ro’dan (yang berarti gemuruh). Namanya gerakan, pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit,) maupun di bawah (bumi), adalah dari malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabb-nya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, Ar Ro’du (suara gemuruh) adalah suara yang membentak awan. Dan Al Barq (kilatan petir) adalah kilauan air atau kilauan cahaya.” (Majmu’ Al Fatawa, 24/263-264)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan:

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ

”Subhanalladzi sabbahat lahu” (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan: ”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan, sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” (Adabul Mufrod 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani.)

_________________________________

 

Telegram: ShahihFiqih

MAKSIAT MENGHILANGKAN KEBERKAHAN

MAKSIAT MENGHILANGKAN KEBERKAHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MAKSIAT MENGHILANGKAN KEBERKAHAN
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya [QS Al A’raf: 96]

 

Penulis: Abu Ubaidillah Al-Atsariy [Facebook Belajar Islam Lebih Mudah]

Sumber: https://www.facebook.com/ustadzabuubaidillah/photos/a.911624565580046.1073741829.896129027129600/1132326893509811/?type=3&theater

, ,

BOLEHKAH MENERIMA HEWAN KURBAN DARI NON-MUSLIM?

BOLEHKAH MENERIMA HEWAN KURBAN DARI NON-MUSLIM?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MENERIMA HEWAN KURBAN DARI NON-MUSLIM?

Pertanyaan:

Dua hari yang lalu saya datang ke lapak pedagang kambing di kawasan Jakarta Barat.  Saat melihat-lihat kambingnya, si pedagang berkata sambil menunjuk ke arah sekelompok kambing yang dipisahkan dari yang lain: “… Itu ada 22 ekor yang sudah dipesan oleh gereja… Mereka akan membagikannya ke berbagai musholla nanti…”

Nah lho … bagaimana ini? Bagaimana hukumnya musholla yang menerima kambing tersebut?  Jelas itu bukan hewan kurban. Tetapi kalau nanti diumumkan “nama” pemilik kambingnya, apakah itu tidak berarti membantu syiar agama Nasrani? Juga bagaimana ucapan si jagal nanti pada saat menyembelihnya (kalau dia diberitahu panitia bahwa itu kambing gereja)? Apakah seharusnya musholla yang bersangkutan menolak pemberian tersebut?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah menegaskan dalam Alquran, amalan apapun yang dilakukan orang kafir tidak akan diterima, sampai mereka bertaubat dan masuk Islam.

Allah berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka infak mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya..” (QS. at-Taubah: 54)

Infak adalah amal yang murni sosial. Meskipun demikian, ketika yang melakukannya orang kafir, tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Mengapa Allah tidak menerimanya?

Bagi kita selaku hamba yang beriman kepada Alquran, kita meyakini bahwa Allah tidak menerima amal orang kafir, karena Allah sendiri yang menyebutkannya dalam Alquran. Yang menerima amal adalah Allah, yang menolak amal juga Allah. Ketika Allah menegaskan bahwa Dia tidak menerima amal orang kafir, kita wajib menerima ketentuan ini.

Karena itu, kurban dari orang kafir tidak sah dan tidak diterima. Untuk itu, kurban mereka tidak boleh digabungkan dengan kurban kaum Muslimin. Misalnya, ikut urunan kurban sapi.

Bolehkah Panitia Menerima Hewan Kurban dari Orang Kafir?

Kita sebut hewan kurban, karena hewan ini diserahkan pada waktu Idul Kurban. Meskipun hakikatnya TIDAK bisa disebut kurban, karena amal mereka TIDAK diterima oleh Allah. Yang menjadi pertanyaan, apa statusnya orang kafir yang menyerahkan hewan kurbannya kepada seorang Muslim?

Jawabannya, statusnya hadiah. Hadiah dari orang kafir kepada kaum Muslimin?

Sehingga kajian mengenai hukum menerima hewan kurban dari orang kafir, kembali kepada hukum menerima hadiah dari orang kafir.

Kita akan simak beberapa riwayat berikut untuk menyimpulkan, bagaimana hukum menerima hadiah dari orang kafir:

[1] Hadis dari Abdurrahman bin Kaab bin Malik, beliau bercerita:

جَاءَ مُلاعِبُ الْأَسِنَّةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَدِيَّةٍ ، فَعَرَضَ عَلَيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلامَ ، فَأَبَى أَنْ يُسْلِمَ ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي لا أَقْبَلُ هَدِيَّةَ مُشْرِكٍ

“Ada seorang yang bergelar ‘Pemain berbagai senjata’ (yaitu ‘Amir bin Malik bin Ja’far) menghadap Rasulullah ﷺ dengan membawa hadiah. Nabi ﷺ lantas menawarkan Islam kepadanya. Orang tersebut menolak untuk masuk Islam. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Sungguh aku tidak menerima hadiah yang orang Musyrik.” (HR. al-Baghawi, 3/151).

[2] Hadis dari Irak bin Malik, bahwa Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

أَن مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- أَحَبَّ رَجُلٍ فِى النَّاسِ إِلَىَّ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا تَنَبَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ شَهِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الْمَوْسِمَ وَهُوَ كَافِرٌ فَوَجَدَ حُلَّةً لِذِى يَزَنَ تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا بِخَمْسِينَ دِينَاراً لِيُهْدِيَهَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Sungguh Muhammad adalah manusia yang paling aku cintai di masa jahiliyyah”. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi yang pergi ke Madinah, Hakim bin Hizam berjumpa dengan musim haji dalam kondisi masih kafir. Saat itu Hakim mendapatkan satu stel pakaian yang dijual. Hakim lantas membelinya dengan harga 50 Dinar untuk dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ.

فَقَدِمَ بِهَا عَلَيْهِ الْمَدِينَةَ فَأَرَادَهُ عَلَى قَبْضِهَا هَدِيَّةً فَأَبَى. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا لاَ نَقْبَلُ شَيْئاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ أَخَذْنَاهَا بِالثَّمَنِ ». فَأَعْطَيْتُهُ حِينَ أَبِى عَلَىَّ الْهَدِيَّةَ.

Akhirnya Hakim tiba di Madinah dengan membawa satu stel pakaian tersebut. Hakim menyerahkan kepada Nabi ﷺ sebagai hadiah namun beliau menolaknya. Nabi ﷺ mengatakan: “Sungguh kami tidak menerima sedikit pun dari orang kafir. Akan tetapi jika engkau mau, pakaian tersebut akan kubeli”. Karena beliau ﷺ menolak untuk menerimanya sebagai hadiah, aku pun lantas memberikannya sebagai objek jual beli. (HR Ahmad 15323 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

[3] Hadis dari Iyadh bin Himar, dia menceritakan:

“Aku bermaksud memberi Nabi ﷺ seekor unta betina sebagai hadiah. Lantas Nabi ﷺ bertanya:

” أَسْلَمْتَ؟”. فَقُلْتُ لاَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- “إِنِّى نُهِيتُ عَنْ زَبْدِ الْمُشْرِكِينَ “

“Apakah kamu sudah masuk Islam?”.

“Belum”, jawabku.

Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku dilarang menerima hadiah dari orang Musyrik” (HR. Abu Daud 3059, Tirmidzi 1672 dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menolak hadiah dari non-Muslim. Namun terdapat hadis lain yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menerima hadiah dari orang kafir.

Hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – تَبُوكَ ، وَأَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بَغْلَةً بَيْضَاءَ ، وَكَسَاهُ بُرْدًا ، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

“Kami mengikuti perang Tabuk bersama Nabi ﷺ. Raja negeri Ailah memberi hadiah kepada beliau ﷺ berupa baghal berwarna putih dan kain. Sang raja juga menulis surat untuk Nabi ﷺ. (HR. Bukhari 1481).

Ada sejumlah pendapat dalam memahami dua jenis hadis ini:

Ibnu Abdil Barr menjelaskan bahwa maksud Nabi ﷺ menerima hadiah dari non-Muslim adalah dalam rangka mengambil simpati hatinya, agar tidak lari dari Islam (al-Munakhkhalah an-Nuniyyah, Murod Syukri, hlm. 202-203).

Karena itu, TERLARANG menerima hadiah dari non-Muslim jika tujuannya:

[1] Sekedar menjalin keakraban tanpa ada unsur dakwah.

[2] Ada latar belakang balas budi terkait masalah agama. Ketika mereka memberikan hadiah kepada kaum Muslimin pada waktu hari raya Islam, mereka berharap agar pada saat hari raya mereka, kaum Muslimin juga turut mendukung kegiatan keagamaan mereka.

Termasuk mereka memberi hadiah bersyarat, untuk bisa menyeret kaum Muslimin secara bertahap agar berpindah agama.

Jika unsur ini ada, maka terlarang menerima hadiah dari non-Muslim. Sebaliknya, jika unsur ini tidak ada, bahkan menerima hadiah dari mereka bisa membuat mereka semakin tertarik dengan Islam, tidak masalah menerimanya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ada pertanyaan mengenai hukum menerima hadiah hewan hidup dari orang non-Muslim untuk disembelih saat Idul Adha. Jawaban Fatwa menyatakan:

فلا مانع من قبول الهدية من الكفار بأنواعهم سواء كانت الهدية شاة أضحية أو غيرها مما أباح الله الانتفاع به بشرط ألا يكون ذلك على حساب دين المسلم، وقد كان النبي- صلى الله عليه وسلم- وصحابته الكرام يقبلون الهدية من الكفار وربما أهدوا للكفار أيضا

TIDAK MASALAH menerima hadiah dari orang kafir dalam bentuk apapun, baik berupa kambing kurban atau yang lainnya, yang Allah bolehkan untuk dimanfaatkan. Dengan syarat, JANGAN sampai ada latar belakang balas budi agama. Dulu Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia, mereka menerima hadiah dari orang kafir, dan terkadang mereka juga memberikan hadiah kepada orang kafir. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 116210)

 

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28311-menerima-kurban-dari-orang-kafir.html