Posts

, ,

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#StopBidah, #DoaZikir
 
BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA
 
Pertanyaan:
Apakah artikel berikut ini shahih dan apakah boleh diamalkan doanya?
 
Obat Stroke
 
Pada satu ketika, di mana Nabi Allah Sulaiman ‘alaihi salaam duduk di singgasananya, datang satu angin yang cukup besar. Maka bertanya Nabi Allah, Sulaiman ‘alaihi salaam: “Siapakah engkau.?”
 
Maka dijawablah oleh angin tersebut, bahwa akulah Angin Rihul Ahmar…. Dan aku bila memasuki rongga anak Adam, maka lumpuh, keluar darah dari rongga. Dan apabila aku memasuki otak anak Adam, maka menjadi gilalah anak Adam.
 
Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam supaya membakar angin tersebut. Berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam, bahwa “Aku kekal sampai Hari Kiamat tiba, tiada sesiapa yang dapat membinasakan aku melainkan Allah.
 
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang.
 
Diriwayatkan cucu Nabi Muhammad ﷺ terkena Rihul Ahmar, sehingga keluar darah dari rongga hidungnya. Maka datang malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ dan bertanya Nabi ﷺ kepada Jibril. Maka menghilang sebentar, lalu malaikat Jibril kembali mengajari akan doa Rihul Ahmar kepada Nabi ﷺ, kemudian dibaca doa tersebut kepada cucunya dan dengan sekejap cucu Rasulullah ﷺ sembuh serta merta. Lalu bersabda Nabi ﷺ. bahwa barang siapa membaca doa stroke/ doa Rihul Ahmar walau sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari penyakit ANGIN AHMAR atau STROKE.
 
Doa menjauhkan terhindar dari angin ahmar dan penyakit kronik:
 
اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر
 
Allahumma inni a’uzubika minarrihil ahmar, waddamil aswad, waddail akbar.
 
Artinya;
Ya Allah Tuhanku, lindungi aku dari angin merah ,dan lindungi aku dari darah hitam (stroke) dan dan dari penyakit berat.
 
Syukron atas jawabannya ustadz, Jazakallahu khairan katsiran
 
(Fulanah, Sahabat BiAS T06 G-47)
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.
 
Keberadaan fenomena tersebut di atas adalah merupakan pembicaraan terhadap hal gaib. Dan kita TIDAK BOLEH memercayai kegaiban, melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi ﷺ. Dan TIDAK ADA di dalam keduanya, keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini. Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah:
 
بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:
 
قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
 
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.
 
“Setelah diadakan penelitian terhadap selebaran ini, maka menjadi jelas adanya PENYIMPANGAN yang sangat banyak. Maka TIDAK BOLEH disetujui dan tidak boleh di-share di kalangan khalayak ramai, karena selebaran ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafal-lafal yang aneh. Di antaranya disebutkan di sana:
 
“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suara-Mu dengan membaca Alquran. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”
 
Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.
 
Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin Merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini TIDAK ADA dalilnya sama sekali, karena Nabi ﷺ berlindung dari keburukan angin secara mutlak.” [Fatawa Lajnah Daimah: 24/280].
 
Wallahu a’lam
 
 
Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
 
Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
 
,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

Bagaimanakah seseorang bisa mendapatkan anak yang saleh?

Faktor utama adalah pada istri yang salehah. Karena istri adalah madrasah awal di rumah.

Kalau suami SALAH memilih atau membina istri menjadi baik, maka keadaan anakmu ikut serba SALAH. Kalau suami menyerahkan pada istri yang salehah, anaknya jelas ikut saleh.

Karena yang sehari-hari bertemu dengan anak di rumah adalah ibunya. Makanya orang Arab mengatakan:

الأُمُّ هِيَ المدْرَسَةُ الأُوْلَى فِي حَيَاةِ كُلِّ إِنْسَان

“Ibu adalah sekolah pertama bagi kehidupan setiap insan.”

Kalau istri salehah yang dipilih, pasti akan mendapatkan keberuntungan. Karena:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاك

َ“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor, yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. [HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah].

Jadi awalnya dari orang tua, anak itu menjadi baik.

Bagi yang sudah terlanjur, tinggal memerbaiki diri. Semoga dengan istri menjadi baik, keadaan anak pun menjadi baik.

Namun sebenarnya bukan hanya dari istri. Suami juga memegang peranan. Suami hendaklah yang baik. Sehingga keduanya akan mendapatkan anak yang saleh/salehah.

Semoga Allah memberkahi keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sumber: RumayshoCom
Sumber: Twitter @IslamDiaries
, ,

SEPULUH PELAJARAN DARI DATANGNYA JIBRIL

SEPULUH PELAJARAN DARI DATANGNYA JIBRIL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#DakwahTauhid
#MutiaraSunnah

SEPULUH PELAJARAN DARI DATANGNYA JIBRIL

Pertemuan yang Istimewa

Datangnya malaikat yang paling mulia, menemui Nabi yang paling mulia ﷺ, disaksikan para sahabat yang mulia, tentulah merupakan hal yang istimewa. Pastinya banyak sekali faidah yang ada di sana. Kali ini kita akan mengambil beberapa faidah tentang ilmu dari kisah tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan:

بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يُرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منّا أحد، فجلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه

“Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba muncul dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah, dan meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri.” [H.R Muslim].

Selanjutnta Jibril bertanya kepada Nabi tentang makna Islam, iman, dan ihsan, serta perkara tentang Hari Akhir dan dijawab oleh Nabi ﷺ.

Mendulang Faidah dari Sebuah Kisah

Dalam kisah datangnya Jibril ini kita bisa mengambil beberapa faidah tentang ilmu:

  1. Anjuran untuk Aktif Menghadiri Majelis Ilmu

Tatkala Jibril ‘alaihis salam datang, para sahabat sedang duduk bermajelis bersama Nabi ﷺ. Demikianlah kebiasaan para sahabat. Mereka datang kepada Nabi ﷺ untuk mendapatkan ilmu, dan meminta nasihat kepada beliau ﷺ. Mereka adalah orang yang semangat untuk mencari ilmu. Hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, dan menjadi motivasi bagi kita untuk aktif mendatangi majelis ilmu. Seseorang tidak akan bisa mendapat ilmu, jika tidak datang menghadiri majelis ilmu, sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah:

العلم يؤتى ولا يأتي

“Ilmu itu didatangi. Dia tidak akan datang sendiri.”

  1. Anjuran Bagi Para Dai untuk Aktif Mengajarkan Ilmu

Datangnya Jibril ‘alaihis salam tujuannya adalah untuk mengajarkan ilmu kepada para sahabat. Kedatangan beliau bukan karena diminta oleh Nabi ﷺ dan para sahabat. Demikianlah semestinya seorang dai dan juru dakwah. Adakalanya dia harus aktif dan punya inisiatif sendiri untuk mengajarkan ilmu, tanpa harus diminta oleh muridnya, atau harus menunggu diundang oleh panitia pengajian.

  1. Memakai Pakaian yang Bagus Saat Menghadiri Majelis Ilmu

Jibril ‘alaihis salam datang menggunakan pakaian yang sangat putih, yang menunjukkan pakaian yang beliau pakai adalah pakaian yang bersih dan bagus. Baju putih juga adalah warna yang disukai oleh Rasul ﷺ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ

“Pakailah oleh kalian pakaian yang putih, karena itu termasuk pakaian yang paling baik” [HR. Abu Daud 4061, Hasan).

Oleh karena itu, seyogyanya bagi penuntut ilmu untuk berhias diri dengan pakaian dan penampilan yang baik, tatkala akan menghadiri majelis ilmu.

  1. Hendaknya Murid Mengambil Posisi yang Dekat dengan Guru

Dalam kisah tersebut diceritakan:

فجلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه

“Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah, dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah”

Jibril menempelkan lutut beliau dengan lutut Nabi ﷺ. Ini menunjukkan beliau mengambil posisi duduk yamg sangat dekat, dan juga menghadap kepada Nabi ﷺ yang akan menyampaikan ilmu. Dengan posisi demikian, beliau bisa menyimak dengan seksama, ilmu yang disampaikan, dan mendapat faidah yang lengkap. Inilah di antara adab dalam menuntut ilmu, yaitu mengambil posisi yang dekat dengan guru yang akan mengajarkan ilmu.

  1. Fokus dan Konsentrasi dalam Belajar

Dalam kisah tersebut diceritakan:

ووضع كفيه على فخذيه

“Dan beliau (Jibril) meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri”

Tatkala duduk, Jibiril meletakkan kedua tangannya di atas paha beliau sendiri. Ini menunjukkan sikap duduk yang sempurna, dan posisi yang fokus dalam memelajari ilmu. Demikianlah seharusnya duduknya penutut ilmu di majelis ilmu. Mengambil posisi duduk yang benar, dan sikap yang fokus memerhatikan guru. Tidak duduk asal-asalan, sibuk ngobrol sendiri, mengantuk dan tidur, atau bahkan bermain HP saat di majelis ilmu.

  1. Metode Tanya Jawab dalam Mengajarkan Ilmu

Cara seperti ini adalah di antara metode yang efektif dalam belajar, yaitu berdialog atau tanya jawab, sehingga baik yang mengajarkan maupun yang diberi pelajaran sama-sama aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini akan mudah dipahami dan juga mudah untuk diingat. Metode seperti ini banyak dipraktikkan oleh Nabi ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis.

  1. Boleh bertanya tentang sesuatu yang sudah diketahui, dalam rangka mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ bukan berarti beliau tidak tahu. Akan tetapi ini dalam rangka pengajaran kepada para sahabat yang hadir pada saat itu. Dengan sebab pertanyaan Jibril, Nabi ﷺ memberikan banyak penjelasan ilmu tentang Islam, iman, ihsan, tanda Hari Kiamat, dll, sehingga para sahabat yang hadir mendapatkan tambahan ilmu.

  1. Anjuran Mengucapkan Salam Ketika Menghadiri Majelis Ilmu

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa Jibril mengucap salam kepada Nabi ﷺ ketika beliau memasuki majelis. Jibril mengucapkan: “Assalaamu ‘alaika Yaa Muhammad”, dan Nabi ﷺ pun menjawab salam tersebut, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadis Abu Hurairah dan Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

  1. Tidak Boleh Menjawab Pertanyaan Tanpa Dasar Ilmu

Tidak boleh seseorang menjawab pertanyaan tanpa dasar ilmu. Oeh karena itu jawaban Nabi ﷺ ketika ditanya tentang kapan  terjadinya Hari Kiamat:

. ما المسؤول عنها بأعلم من السائل

“Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Beliau menjawab demikian, karena memang beliau ﷺ tidak mengetahui ilmu tentang hal tersebut.

  1. Keutamaan dan Pentingnya Memelajari dan Mendakwahkan Akidah

Datangnya Jibril kepada Nabi ﷺ dan disaksikan oleh para sahabat adalah suatu momen yang langka dan istimewa. Ilmu yang diajarkan dalam majelis tersebut adalah ilmu tentang pokok-pokok agama Islam, yaitu tentang Islam, iman, ihsan, dan juga tanda Hari Kiamat. Ini menunjukkan pengajaran tentang ilmu tersebut adalah sangat penting, dan sangat dibutuhkan oleh umat. Oleh karena itu para da‘i hendaknya menjadikan akidah sebagai materi utama dalam dakwah.

Demikian beberapa faidah tentang ilmu yang bisa kita petik dari kisah datangnya Jibril ‘alaihis salam. Semoga menambah ilmu dan meningkatkan keimanan kita.

Wallahu a‘lam bish shawab. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.

 

Penyusun: dr. Adika Mianoki
[Artikel: Muslim.or.id]

Sumber bacaan:

  • Al-Minhatu Ar-Rabaniyyah fii Syarhi al Arba’in an Nawawiyyah karya Syaikh Dr. Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafidzahullah.
  • Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Syaikh Saleh bin ‘Abdil ‘Aziiz ‘Muhammad ‘Alu Syaikh hafidzahullah.
  • Syarhu Hadiitsi Jibril fii Ta’liimiddiin karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbaad al Badr hafidzahullah.

 

Sumber: https://Muslim.or.id/29905-10-pelajaran-dari-datangnya-jibril.html

,

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIFAT MALAS

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Faidah dari hadis di atas:

  1. Dianjurkan untuk membiasakan doa tersebut.
  2. Doa tersebut berisi permintaan, agar kita diberi keselamatan terhindar dari sifat-sifat jelek yang disebutkan di dalamnya.[ Nuhzatul Muttaqin Syarh Riyadhus Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin dkk, hal.1007, Muassasah Ar Risalah]
  3. Doa tersebut berisi permintaan, agar kita tidak terjerumus dalam sifat-sifat jelek tersebut. [Nuhzatul Muttaqin Syarh Riyadhus Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin dkk, hal.1007, Muassasah Ar Risalah]
  4. Meminta perlindungan dari sifat ‘Ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/28, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi]
  5. Meminta perlindungan dari sifat Kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh An Nawawi rahimahullah. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/28, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi] Jadi ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.
  6. Meminta perlindungan dari sifat Al Jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani). Yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. [Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi Abuthh Thoyib, 4/289, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah]. Juga doa ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. [Nuhzatul Muttaqin, hal. 1007]
  7. Meminta perlindungan dari al harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. [Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/28-29]
  8. Meminta perlindungan dari sifat bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu doa ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga doa ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. [Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/30]
  9. Meminta perlindungan dari siksa kubur.
  10. Menunjukkan adanya siksa dan fitnah kubur, karena bagaimana mungkin sesuatu yang dimintai perlindungan, namun hal itu tidak ada. Sungguh mustahil!!! Ibnu Hajar Al Makki mengatakan, “Dalam doa perlindungan terhadap siksa kubur ini terdapat bantahan telak terhadap Mu’tzilah yang mengingkari adanya siksa kubur.” [Aunul Ma’bud, 3/94]
  11. Meminta perlindungan dari fitnah (cobaan) ketika hidup dan mati. Ibnu Daqi Al ‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” [Aunul Ma’bud, 3/95]

Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1013-doa-meminta-perlindungan-dari-sifat-malas.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

,

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ShirahNabawiyah
#KisahMuslim

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

Kisah Rasulullah ﷺ melarang Ali berpoligami adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami, atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa. Namun jangan sampai ia menolak syariat poligami, atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan, bahwa dari Nabi ﷺ sebenarnya melarang poligami, sebagaimana beliau ﷺ melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami Disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya:

“Apakah benar Nabi ﷺ melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah ﷺ). Dan apakah itu berarti Nabi ﷺ melarang poligami?”

Beliau menjawab:

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar:

إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

وإني لست أحرم حلالاُ، ولكن والله لا تجتمع بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبنت عدو الله مكاناُ واحد أبداً

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah ta’ala: “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib. Namun lafal “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan, bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadis Shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau ﷺ bersabda:

خير الناس أكثرهم أزواجاً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya.“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi ﷺ. Karena beliau ﷺ menikahi 13 wanita, namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ﷺ ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadis ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadis ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan:

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah KEDUSTAAN! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas, terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan:

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi ﷺ tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi ﷺ melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau ﷺ sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan: “Dan dalam kisah ini juga Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau ﷺ melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah ﷺ.

Syaikh Masyhur menambahkan:

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan, bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi ﷺ. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi ﷺ untuk melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta, bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya, setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum.

Wallahu a’lam.

Sehingga jelaslah bahwa kisah di atas tidak bisa menjadi dalil untuk menolak syariat poligami.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

 

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/30974

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html

 

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

Bolehkah masuk ke areal makam atau pemakaman atau kuburan dengan menggunakan alas kaki atau sandal (sendal) atau sepatu? Bahasan ini pernah disinggung oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ yang merupakan kitab Syarh dari Al Muhaddzab karya Asy Syairozi. Masalah ini berkaitan erat dengan orang yang ingin ziarah kubur atau memasuki kubur atau areal pemakaman.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

المشهور في مذهبنا أنه لا يكره المشى في المقابر بالنعلين والخفين ونحوهما ممن صرح بذلك من اصحابنا الخطابى والعبد رى وآخرون ونقله العبدرى عن مذهبنا ومذهب اكثر العلماء قال احمد بن حنبل رحمه الله يكره وقال صاحب الحاوى يخلع نعليه لحديث بشير بن معبد الصحابي المعروف بابن الخصاصية قال ” بينهما انا أماشى رسول الله صلي الله عليه وسلم نظر فإذا رجل يمشي في القبور عليه نعلان فقال يا صاحب السبتتين ويحك الق سبتتيك فنظر الرجل فلما عرف رسول الله صلي الله عليه وسلم خلعهما ” رواه أبو داود والنسائي باسناد حسن * واحتج أصحابنا بحديث أنس رضى الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال ” العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه حتى إنه ليسمع قرع نعالهم اتاه ملكان فاقعداه إلي آخر الحديث ” رواه البخاري ومسلم (وأجابوا) عن الحديث الاول بجوابين (أحدهما) وبه أجاب الخطابي انه يشبه انه كرههما المعنى فيهما لان النعال السبتية – بكسر السين – هي المدبوغة بالقرظ وهى لباس أهل الترفه والتنعم فنهي عنهما لما فيهما من الخيلاء فاحب صلي الله عليه وسلم أن يكون دخوله المقابر علي زي التواضع ولباس أهل الخشوع (والثانى) لعله كان فيهما نجاسة قالوا وحملنا علي تأويله الجمع بين الحديثين

“Yang masyhur dalam madhzab kami (Madzhab Syafi’i), yaitu tidaklah makruh memakai sandal atau khuf (sepatu) ketika memasuki area pemakaman. Yang menegaskan seperti ini adalah Imam Al Khottobi dari ulama Syafi’iyah, juga disampaikan oleh Al ‘Abdari dan ulama Syafi’i lainnya. Hal ini dinukil oleh Al ‘Abdari dari pendapat Syafi’iyah dan mayoritas atau kebanyakan ulama. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, bahwa memakai sandal ketika itu dimakruhkan. Penulis kitab Al Hawi mengatakan, bahwa sandal mesti dilepas ketika masuk areal makam mengingat hadis dari Basyir bin Ma’bad – sahabat yang telah ma’ruf dengan nama Ibnul Khososiyah, ia berkata: “Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau ﷺ melihat orang yang berjalan di areal pemakaman dalam keadaan memakai sandal, maka beliau ﷺ menegurnya: “Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu!” Orang tersebut lantas melongok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah ﷺ, ia mencopot sandalnya.” Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An Nasai dengan sanad yang Hasan. [HR. Abu Daud no. 3230 dan An Nasai no. 2050. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]

Sedangkan dalil bolehnya dari Madzhab Syafi’i adalah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:

“Jika seseorang dimasukkan dalam liang kubur, lalu ia ditinggalkan dan keluarga yang menziarahinya pergi, maka ia akan mendengar hentakan sandalnya, lalu dua malaikat akan mendatanginya, dan akan duduk di sampingnya.” Kemudian disebutkan hingga akhir hadis, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari no. 1338 dan Muslim no. 2870]

Ulama Syafi’iyah untuk menyikapi hadis yang melarang yaitu hadis yang pertama memberikan dua jawaban:

1- Al Khotobi mengatakan, bahwa itu cuma tidak disukai oleh Nabi ﷺ karena sandal tersebut disamak dan sandal seperti itu digunakan oleh orang yang biasa bergaya dengan nikmat yang diberi. Nabi ﷺ melarangnya karena dalamnya ada sifat sombong. Sedangkan Nabi ﷺ sangat suka jika seseorang memasuki areal kubur dengan sikap tawadhu’ dan khusyu’.

2- Boleh jadi di sandal tersebut terdapat najis. Dipahami demikian, karena kompromi antara dua hadis yang ada. (Al Majmu’, 5: 205).

Sehingga kesimpulan berdasarkan kompromi dua dalil dan inilah yang jadi pegangan Madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama, memasuki areal pemakaman dengan sandal (sendal) TIDAKLAH TERLARANG. Namun melepas sandal atau alas kaki ketika memasuki areal pemakaman lebih selamat dari perselisihan ulama.

Wallahu a’lam.

Semoga mencerahkan dan jadi ilmu yang bermanfaat bagi para peziarah kubur.

Referensi:

Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: Muhammad Najib Al Muthi’i, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3553-memasuki-areal-pemakaman-dengan-sandal.html