Posts

,

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf
MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?
 
Allah telah menjelaskan, apa yang Dia turunkan bukan hanya al-Kitab (Alquran). Bahkan yang Allah turunkan ialah berupa al-Kitab (Alquran) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah ﷻ berfirman:
 
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
 
“Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah, serta ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. [QS. Al-Baqarah/2:231]
 
Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
 
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
 
“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [QS an-Nisa`/4:113].
 
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu Alquran, dan menyebutkan al-Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku ridai, yaitu seseorang yang ahli ilmu Alquran berkata: ’Al-Hikmah ialah Sunnah Rasulullah ﷺ.” [Adwin as-Sunnah an-Nabawiyyah, karya Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrani, Penerbit Darul- Khudhairi, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H / 1998 M]
 
Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi ﷺ ialah as-Sunnah, yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi ﷺ hanyalah Alquran dan as-Sunnah. Sementara Allah ta’ala berfirman:
 
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
 
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. [QS Al-Ahzab/33:34].
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi), apa yang diturunkan Allah tabaraka wa ta’ala kepada Rasul-Nya ﷺ di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”. [Tafsir Alquran `anil ‘Azhim, Surat al-Ahzaab/33 ayat 34]
 
Oleh karena itu Nabi ﷺ memberitakan, bahwa beliau ﷺ diberi al-Kitab dan yang semisalnya, yaitu as-Sunnah. Keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA, sama-sama wajib diikuti.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan al-Kitab berada pada SATU DERAJAT. Dari kedua sumber ini diambillah sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) dalam menentuankan hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: ‘Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan, bahwa al-Kitab (Alquran) MEMILIKI KEISTIMEWAAN DAN KELEBIHAN di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah, dilihat pada sisi ini, KEUTAMAANNYA berada di bawah Alquran.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan Al-Kitab berada pada SATU DERAJAT, dari sisi keduanya digunakan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) terhadap hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa Al-Kitab (Alquran) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah DI BAWAH Alquran, di dalam KEUTAMAAN pada sisi-sisi ini.
 
Akan tetapi hal itu TIDAK menyebabkan keduanya berbeda keutamaannya dalam masalah penggunaan sebagai HUJJAH. Yaitu menganggap kedudukan as-Sunnah di bawah Alquran dalam penggunaan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen), sehingga seandainya terjadi pertentangan, maka As-Sunnah disia-siakan, dan hanya Alquran yang diamalkan.
 
Sesungguhnya kedudukan Sunnah itu SEDERAJAT dengan al-Kitab (Alquran) dalam pengambilannya sebagai HUJJAH. Dijadikannya al-Kitab sebagai hujjah, karena ia merupakan wahyu dari Allah…, dan dalam masalah ini, as-Sunnah sama dengan Alquran, karena as-Sunnah juga merupakan wahyu seperti halnya Alquran. Sehingga wajib menyatakan, dalam hal i’tibar, as-Sunnah TIDAK berada di belakang Alquran” [Sebuah pembahasan dalam kitab Hujjiyyatus-Sunnah, hlm. 485-494. Dinukil dari Dharuuraat Ihtimaam bis-Sunnah Nabawwiyah, hlm. 24]
 
Oleh karena itu, Alquran dan as-Sunnah merupakan DUA PERKARA YANG SALING MENYATU, TIDAK TERPISAH, DUA YANG SALING MENCOCOKI, TIDAK BERTENTANGAN. Nabi ﷺ bersabda:
 
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
 
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” [Hadis Shahiih Li Ghairihi. HR Maalik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam at-Ta’zhim wal-Minnah Fil-Intisharis-Sunnah, hlm. 12-13].
 
Kesimpulan:
Dari uraian di atas maka jelaslah, bahwa as-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Alquran. Oleh karena itu, keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA sebagai hujjah (argumen), sumber akidah, dan hukum dalam agama, dan wajib diikuti. Baik Alquran maupun As-Sunnah mempunyai KESETARAAN TINGKAT. Kedudukan keduanya ini SATU DERAJAT, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah ta’ala. Yang demikian ini merupakan prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah.
 
Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)

MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)
 
Pertanyaan:
Jika bayi baru lahir harus disedekahkan sesuai dengan berat rambut bayi. Yang ingin ditanyakan, jumlah sedekahnya sesuai dengan harga emas atau perak? Karena tentunya harga emas dan perak berbeda cukup jauh. Mohon penjelasannya.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
 
Yang dianjurkan untuk dijadikan acuan sedekah adalah PERAK, BUKAN EMAS, menurut pendapat yang lebih kuat. Meskipun ada sebagian ulama yang menilai Dhaif semua hadis yang menganjurkan sedekah dengan perak, seberat rambut bayi.
 
Salah satu hadis pokok yang bisa kita jadikan acuan dalam hal ini adalah hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ mengakikahi Hasan dengan kambing, dan beliau ﷺ menyuruh Fatimah:
 
عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة احلقي رأسه وتصدقي بزنة شعره فضة
 
‘Cukur rambutnya, dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut itu.’
 
Fatimah pun menimbang rambut itu, dan ternyata beratnya sekitar satu Dirham atau kurang dari satu Dirham. [HR. Turmudzi 1519, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf 24234, dishahihkan al-Hakim dalam Mustadrak 7589 dan didiamkan azd-Dzahabi]
 
Catatan: Satu Dirham = 2,975 gr perak [Lihat: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-7108.html]
 
Kemudian dalam karyanya Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyim menyebutkan beberapa riwayat dan keterangan ulama yang menganjurkan bersedekah dengan perak seberat rambut bayi.
 
Pertama: Imam Ahmad mengatakan:
 
إن فاطمة رضي الله عنها حلقت رأس الحسن والحسين وتصدقت بوزن شعرهما ورقا
 
“Sesungguhnya Fatimah radhiyallahu ‘anha mencukur rambut Hasan dan Husain, dan bersedekah dengan wariq (perak) seberat rambutnya.
 
Kedua, Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, beliau mengatakan:
 
وزنت فاطمة شعر حسن وحسين وزينب وأم كلثوم فتصدقت بزنة ذلك فضة
 
Fatimah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, dan beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.
 
Ketiga, Imam Malik juga menyebutkan dalam al-Muwatha’ dari Muhammad bin Ali bin Husain, bahwa beliau mengatakan:
 
وزنت فاطمة بنت رسول الله شعر حسن وحسين فتصدقت بزنته فضة
 
Fatimah bintu Rasulullah ﷺ menimbang rambut Hasan dan Husain, kemudian beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.
 
Dan masih banyak riwayat lainnya yang disebutkan Ibnul Qoyim.
 
Cara Bersedekah dengan Rambut Bayi
 
Sebagian orang ada yang kebingungan, bagaimana cara yang tepat bersedekah dengan perak seberat rambut bayi. Terlebih di beberapa daerah, cukup sulit untuk bisa mendapatkan perak.
 
Di masa silam, perak termasuk mata uang yang berlaku di masyarakat dan mudah didapatkan. Karena itu, sedekah dalam hal ini tidak harus berujud perak. Boleh diberikan dalam bentuk uang, namun mengacu pada harga perak.
 
Caranya:
Timbang rambut bayi. Jika tidak memungkinkan, karena kita kesulitan mendapatkan timbangan benda ringan, cukup diprediksi saja. Kita perkirakan berapa gram berat rambut itu. Misal: 2 gram.
 
Kita cari informasi harga perak/gr. Misal: 12.000. Kalikan seberat prediksi berat rambut bayi. (2 gr x Rp 12.000 = Rp 24.000)
 
Sedekahkan uang Rp 24.000 kepada orang miskin SIAPAPUN yang ada di sekitar kita. Boleh juga kita tambahi atau digenapkan.
 
Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
, ,

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama, #FatwaUlama

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المراد بأهل القرآن ليس الذين يحفظونه ويرتّلونه و إلى آخره .أهل القرآن هم الذين يعملون به حتّى ولو لم يحفظوه ، الذين يعملون بالقرآن بأوامره ونواهيه وحدوده ، هؤلاء هم أهل القرآن ، وهم أهل الله وخاصّته من خلقه . أمّا من , يحفظ القرآن , ويجيد التّلاوة , ويضبط الحروف , ويضيّع الحدود , فهذا ليس من أهل القرآن وليس من الخاصّة وإنّما هو عاص لله ولرسوله ومخالف للقرآن ، نعم. وكذلك أهل القرآن الذين يستدلّون به ولا يقدّمون عليه غيره في الاستدلال ويأخذون منه الفقه والأحكام والدّين هؤلاء هم أهل القرآن

Yang dimaksud dengan “Ahlul Quran” bukanlah semata-mata orang-orang yang menghapal Alquran, membacanya dengan tartil, dst..

Namun Ahlul Quran adalah orang-orang yang mengamalkan Alquran, meskipun dia belum menghapalnya. Orang yang mengamalkan Alquran, yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, dan batasan-batasannya, merekalah “Ahlul Quran”, merekalah Ahlullah dan khaashshatuh (orang-orang khususNya) dari kalangan makhluk-Nya.

Adapun barang siapa yang menghapal Alquran, bagus bacaannya, tepat (pengucapan) huruf-hurufnya, NAMUN melanggar batas-batas, Maka dia TIDAK termasuk Ahlul Quran, tidak pula termasuk orang-orang khusus. Tapi dia adalah penentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi Alquran.

Ahlul Quran juga adalah orang-orang yang berdalil dengan Alquran dan tidak mendahulukan apapun di atas Alquran dalam berdalil. Mengambil fikih dan hukum-hukum dari Alquran. Merekalah Ahlul Quran. [Syarh Kitab al-‘Ubudiyyah]

 

Sumber: https://shahihfiqih.com/nasehat-ulama/siapakah-yang-dimaksud-ahlul-quran/

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

>> Apakah mereka orang yang sama atau berbeda?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dua nama ini adalah dua orang yang berbeda.

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan: bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah.

Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi ﷺ, sekaligus penentang dakwah beliau ﷺ.

Sabab Nuzul Surat Al-Lahab

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah ﷺ naik Bukit Shafa, beliau memanggil-manggil:

يا بني فهر!. يا بني عدي! لبطون قريش

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi! Beliau ﷺ panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi ﷺ memulai nasihatnya:

أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلا بالوادي تريد أن تغير عليكم، أكنتم مصدقي؟

Bagaimana menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian, bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan memercayaiku?

Mereka serentak mengatakan: “Ya, kami memercayainya. Kami tidak pernah menilai kamu, kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi ﷺ mengatakan:

فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya azab (Kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan:

تبا لك سائر اليوم. ألهذا جمعتنا؟

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… Apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami, bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk azab di Neraka, kekal selamanya. Dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati kafir, selalu menentang Islam. Padahal surat ini turun sepuluh tahun sebelum meninggalnya Abu lahab.

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya dengan membayar 4000 Dirham.

Abu Lahab meninggal tujuh hari pasca Perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama tiga hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Abu Jahal

Abu Jahal nama aslinya Amr bin Hisyam bin Mughirah dari Suku Makhzum.

Dia termasuk pemuka suku Quraisy dari Kabilah Kinanah. Sebelumnya dia digelari masyarakatnya dengan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Dia diizinkan untuk mengikuti Darun Nadwah – forum orang Quraisy yang hanya dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Namun oleh Nabi ﷺ digelari dengan Abu Jahal (Bapak Kebodohan), karena dia membunuh Sumaiyah bintu Khayyath dengan tombak yang dimasukkan ke kemaluannya sampai mati.

Dialah yang mengusulkan untuk membantai Nabi ﷺ bareng-bareng dari banyak suku. Ketika mereka berkumpul di Dar an-Nadwah membahas bagaimana cara paling tepat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ, ada banyak usulan, tapi semuanya mentok, karena mereka khawatir Bani Abdi Manaf akan menggugat dan menunntut qishas.

Kemudian Abu Jahal usul:

Setiap kabilah harus mengutus satu pemuda yang paling kuat, paling gagah, paling bagus. Masing-masing kita beri pedang terhunus, kemudian bersama-sama menyerang Muhammad dengan satu komando, dan dibunuh bareng-bareng. Jika Bani Abdi Manaf menuntut, mereka tidak akan mampu melawan banyak suku. Sehingga Bani Abdu Manaf hanya akan meminta ganti Diyat 100 ekor unta.

Dan rencana inilah yang dijalankan… Permusuhannnya yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslimin, hingga dia digelari dengan Fir’aun umat ini.

Abu Jahal mati ketika Perang Badar. Pada saat barisan kaum Muslimin berhadapan dengan barisan musyrikin, tiba-tiba ada dua pemuda berusia 16an tahun berposisi tepat di samping kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah Muawidz dan Muadz bin Afra. Masing-masing bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: ‘Wahai paman, mana Abu Jahal yang paling keras memusuhi Nabi ﷺ?’. Setelah ditunjukkan, kedua pemuda ini berlomba menyerang hingga Abu Jahal tersungkur…

Setelah perang usai, Ibnu Mas’ud menyisir lapangan perang, hingga bertemu Abu Jahal yang sudah tidak berdaya.

“Siapa hari ini yang menang?” tanya Abu Jahal.

“Allah dan Rasul-Nya yang menang, wahai musuh Allah.” jawab Ibnu Mas’ud.

“Sungguh kamu telah berhasil naik ke puncak yang sulit, wahai penggembala kambing.” Kata Abu Jahal.

Kemudian Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal yang sudah terpotong telinganya. Dan dibawanya menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkomentar:

“Telinga balas telinga dan ditambah kepala.” Karena Abu Jahal pernah memotong telinga Ibnu Mas’ud.

Allahu a’lam

 

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum
  • Sirah Ibnu Hisyam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29308-siapa-abu-lahab-dan-abu-jahal.html

,

BACALAH SUBHANALLAHI WABIHAMDIH SERATUS KALI SETIAP PAGI DAN PETANG

BACALAH SUBHANALLAHI WABIHAMDIH SERATUS KALI SETIAP PAGI DAN PETANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

BACALAH SUBHANALLAHI WABIHAMDIH SERATUS KALI SETIAP PAGI DAN PETANG

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Artinya: “Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia datangkan, kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu, atau lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 2692).

Makna Subhanallahi Wabihamdih

Makna ucapan Subhanallah (Maha Suci Allah) adalah  kita menyucikan Allah ta’ala dari segala aib dan kekurangan, dan kita menyatakan, bahwa Allah Maha Sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah, Wabihamdih, yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk, serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya. (Lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446)

Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya, bahwa Allah adalah Sang Pemilik berbagai kesempurnaan, sehingga yakinlah dirinya, bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal Rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk menauhidkan Allah dalam hal ibadah, Tauhid Uluhiyah. Dengan demikian, maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut, Rububiyah dan Uluhiyah. (Lihat Taudhih al-Ahkam, 4/885)

Makna Al-Hamdu (Pujian Kepada Allah)

Al-Hamdu atau pujian adalah sanjungan kepada Allah, dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah ta’ala memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan termulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya, tidak ada sifat yang tercela. Bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimanapun keadaannya, Allah senantiasa terpuji (Lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Al-Hamdu adalah menyifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna, yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan dari yang memuji, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha Sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)

Catatan:

  • Yang patut kita ketahui, bahwa keutamaan membaca tasbih tersebut hanya diperoleh bagi setiap Muslim dan Muslimah yang meninggal dunia dalam keadaan menauhidkan Allah. Yakni hanya beribadah kepada Allah, dan tidak pernah berbuat syirik dan kufur kepada-Nya sedikit pun semasa hidupnya di dunia.
  • Dan kalaupun ia pernah berbuat syirik dan kufur kepada Allah, hanya saja ia telah bertaubat darinya dengan taubat nasuha sebelum ia meninggal dunia.
  • Para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan, bahwa yang dihapus dan diampuni oleh Allah dengan sebab bacaan tasbih maupun amal saleh lainnya hanyalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidaklah dihapus dan diampuni oleh Allah, kecuali dengan taubat nasuha.

Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

 

Sumber:

https://Muslim.or.id/534-ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

>> Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

>> Terlarangnya Hadiah Bagi Pejabat dan Pegawai Bawahannya

Segala puji bagi Allah, Rabb se mesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seringnya kita lihat di hari raya, tumpukan parsel dan bingkisan hari raya hadir di rumah pejabat. Lebih-lebih lagi jika ia pejabat tinggi. Seandainya pejabat tersebut bukanlah pejabat, tentu ia tidak akan mendapat hadiah atau parsel istimewa semacam itu. Hadiah ini diberikan karena ia adalah pejabat. Bagaimana status hadiah semacam ini? Pembahasan ini sebenarnya sudah dibahas oleh Nabi ﷺ dalam beberapa hadis. Simak dalam tulisan berikut ini:

Hadis Hadayal ‘Ummal

Di dalam Shohih Bukhari yang sudah kita kenal, dibawakan bab ‘Hadayal ‘Ummal’. Begitu pula dalam Shohih Muslim, An Nawawi rahimahullah membawakan bab ‘Tahrimu Hadayal ‘Ummal (Diharamkannya Hadayal ‘Ummal)’.

Hadaya berarti hadiah, bentuk plural dari kata hadiyah. Sedangkan ‘Ummal berarti pekerja, bentuk plural (jamak) dari kata ‘aamil.

Dalam kedua kitab shahih tersebut dibawakan hadis berikut, dan ini adalah lafal dari Bukhari:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan:

Pernah Nabi ﷺ memekerjakan seseorang dari Bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan: “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau ﷺ memuja dan memuji Allah kemudian bersabda:

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

“Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan: “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi, melainkan ia akan datang dengannya pada Hari Kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.”

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan: ”Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau ﷺ mengulang-ulanginya tiga kali). [HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832]

Ada hadis pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah ﷺ bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” [HR. Ahmad 5/424. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil no. 2622]

Keterangan Ulama

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan: “Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai TERLARANGNYA hadiah bagi pejabat.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Ibnu Habib menjelaskan: “Para ulama tidaklah berselisih pendapat tentang terlarangnya hadiah yang diberikan kepada penguasa, hakim, pekerja (bawahan) dan penarik pajak.” Demikianlah pendapat Imam Malik dan ulama Ahlus Sunnah sebelumnya. [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Dari sini menunjukkan, bahwa hadiah yang terlarang tadi tidak khusus bagi hakim saja, tetapi bagi pejabat dan yang menjadi bawahan pun demikian.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan: “Adapun hadis Abu Humaid, maka di sana Nabi ﷺ menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 5/221]

An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadis Abu Humaid terdapat penjelasan, bahwa Hadayal ‘Ummal (Hadiah untuk pekerja) adalah HARAM dan GHULUL (khianat). Karena uang seperti ini termasuk PENGKHIANATAN DALAM PEKERJAAN DAN AMANAH. Oleh karena itu, dalam hadis di atas disebutkan mengenai hukuman, yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada Hari Kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah khianat.

Dan beliau ﷺ sendiri telah menjelaskan dalam hadis tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah semacam ini sebenarnya masih KARENA SEBAB PEKERJAAN. Berbeda halnya dengan hadiah yang bukan sebab pekerjaan. Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (Kas Negara).” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, cetakan kedua, 1392, 12/219]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan:

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan), yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang BERKAITAN DENGAN PEKERJAANNYA. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini TIDAK boleh diambil sedikit pun oleh pekerja tadi, walaupun dia menganggapnya baik.”

Lalu Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan lagi: “Tidak boleh bagi seorang pegawai di wilayah pemerintahan menerima hadiah berkaitan dengan pekerjaannya. Seandainya kita membolehkan hal ini, maka akan terbukalah pintu riswah (suap/sogok). Uang sogok amatlah berbahaya dan termasuk dosa besar (karena ada hukuman yang disebutkan dalam hadis tadi, pen). Oleh karena itu, wajib bagi setiap pegawai, jika dia diberi hadiah yang berkaitan dengan pekerjaannya, maka hendaklah dia MENGEMBALIKAN hadiah tersebut. Hadiah semacam ini TIDAK boleh dia terima. Baik dinamakan hadiah, sedekah, dan zakat, tetap tidak boleh diterima. Lebih-lebih lagi jika dia adalah orang yang mampu, zakat tidak boleh bagi dirinya, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibni Utsaimin, Asy Syamilah, 18/232]

Mengapa Dikatakan Khianat?

Hadiah bagi pekerja atau pejabat yang di mana hadiah tersebut berkaitan dengan pekerjaannya (seandainya ia bukan pejabat, tentu saja tidak akan diberi parsel atau hadiah semacam itu), ini bisa dikatakan khianat, dapat kita lihat dalam penjelasan berikut ini. Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan:

“Nabi ﷺ pernah menerima hadiah (sebagaimana layaknya hadiah untuk penguasa/pejabat). Perlu diketahui, bahwa hadiah ini karena menjadi kekhususan pada beliau. Karena Nabi ﷺ adalah ma’shum, beliau bisa menghindarkan diri dari hal terlarang. Berbeda dengan orang lain (termasuk dalam hadiah tadi, tidak mungkin dengan hadiah tersebut beliau berbuat curang atau khianat, pen). Lantas ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengembalikan hadiah (sebagaimana hadiah untuk pejabat), beliau tidak mau menerimanya. Lantas ada yang mengatakan pada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Nabi ﷺ sendiri pernah menerima hadiah semacam itu!” ‘Umar pun memberikan jawaban yang sangat mantap: “Bagi Nabi ﷺ bisa jadi itu hadiah. Namun bagi kita itu adalah suap. Beliau ﷺ mendapatkan hadiah semacam itu lebih tepat karena kedudukan beliau sebagai nabi, bukan karena jabatan beliau sebagai penguasa. Sedangkan kita mendapatkan hadiah semacam itu karena jabatan kita.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Kami rasa sudah jelas mengapa hadiah semacam parsel bagi pejabat dan uang tips bagi karyawan yang kaitannya dengan pekerjaannya, itu dikatakan khianat. Jelas sekali, bahwa uang tips atau hadiah semacamm tadi diberikan karena KAITANNYA dengan PEKERJAAN DIA SEBAGAI PEJABAT, KARYAWAN atau PEKERJA. Seandainya bukan demikian, tentu ia tidak diberikan hadiah semacam itu. Seandainya ia hanya duduk-duduk di rumahnya, bukan sebagai pekerja atau pejabat, tentu ia tidak mendapatkan bingkisan istimewa seperti parsel dan uang tips tadi. Inilah yang namanya khianat, karena ia telah mengkhianati atasannya. Inilah jalan menuju suap yang sesungguhnya. Inilah suap terselubung. Orang yang memberi hadiah semacam tadi, tidak menutup kemungkinan ia punya maksud tertentu. Barangkali ia berikan hadiah, agar jika ingin mengurus apa-apa lewat pejabat akan semakin mudah, semakin cepat di-ACC dan sebagainya. Inilah sekali lagi suap terselubung di balik pemberian bingkisan.

Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

Perlu diketahui, bahwa tidak semua hadiah itu halal, atau tidak dalam setiap kondisi kita saling memberikan hadiah satu sama lain. Nabi ﷺ benar bersabda:

وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan timbul rasa cinta di antara kalian.” [HR. Malik secara Mursal.]

Benar sabda di atas. Namun ada beberapa kondisi halalnya hadiah atau tidak, sebagaimana dapat dilihat dalam rincian berikut:

  1. Hadiah yang halal untuk penerima dan pemberi. Itulah hadiah yang diberikan bukan untuk hakim dan pejabat, misalnya hadiah seorang teman untuk temannya. Seorang hakim atau pejabat negara tidak boleh menerima hadiah jenis pertama ini dari orang lain. Dengan kata lain, menerima hadiah yang hukumnya halal untuk umumnya orang. Itu hukumnya berubah menjadi haram dan berstatus suap, jika untuk hakim dan pejabat. Hadiah yang jadi topik utama kita saat ini adalah hadiah jenis ini.
  2. Hadiah yang haram untuk pemberi dan penerima, misalnya hadiah untuk mendukung kebatilan. Penerima dan pemberi hadiah jenis ini berdosa, karena telah melakukan suatu yang haram. Hadiah semisal ini wajib dikembalikan kepada yang memberikannya. Hadiah jenis ini haram untuk seorang hakim maupun orang biasa.
  3. Hadiah yang diberikan oleh seorang yang merasa takut terhadap gangguan orang yang diberi, seandainya tidak diberi, baik gangguan badan ataupun harta. Perbuatan ini boleh dilakukan oleh yang memberi, namun haram diterima oleh orang yang diberi. Karena tidak mengganggu orang lain itu hukumnya wajib, dan tidak boleh menerima kompensasi finansial untuk melakukan sesuatu yang hukumnya wajib. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Mengembalikan Hadiah Khianat

Seorang hakim dan pejabat WAJIB MEMULANGKAN hadiah kepada orang yang memberikannya. Jika hadiah tersebut telah dikomsumsi, maka wajib diganti dengan barang yang serupa.

Jika yang memberi hadiah tidak diketahui keberadaannya, atau diketahui namun memulangkan hadiah adalah suatu yang tidak mungkin karena posisinya yang terlalu jauh, maka barang tersebut hendaknya dinilai sebagai barang temuan (luqothoh) dan diletakkan di Baitul Maal.

Pemberian hadiah kepada seorang hakim itu karena posisinya sebagai hakim, sehingga hadiah tersebut merupakan hak masyarakat umum. Oleh karena itu, wajib diletakkan di Baitul Maal, yang memang dimaksudkan untuk kepentingan umum. Namun status barang ini di Baitul Maal adalah barang temuan. Artinya, jika yang punya sudah diketahui, maka barang tersebut akan diserahkan kepada pemiliknya.

Jika seorang hakim atau pejabat berkeyakinan, bahwa menolak hadiah yang diberikan oleh orang yang punya hubungan baik dengannya itu menyebabkan orang tersebut tersakiti, maka hakim boleh menerima hadiah tersebut, asalkan setelah menyerahkan uang senilai barang tersebut kepada orang yang memberi hadiah. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Itu tadi hadiah bagi hakim dan pejabat yang bekerja di bawah pemerintahan. Bagaimana dengan hadiah bagi bawahan dari perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan pemerintahan? Artinya ia dapat hadiah dari orang lain karena status dia sebagai pekerja di perusahaan tersebut. Hadiah tersebut harus dikembalikan kepada atasannya atau bosnya. Terserah di situ, bosnya rida ataukah tidak. Jika bosnya rida kalau hadiah itu untuk bawahannya, maka silakan ia gunakan.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga para pembaca diberi kemudahan untuk memahami hal ini. Semoga sajian ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1267-uang-tips-dan-hadiah-khianat.html

,

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal dan baligh
  • Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. Jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir.” [QS.. Al Baqarah: 219]

Makna Al Afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab, dengan dalil hadis Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang Muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat, karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

  1. Nishab Emas

Nishab emas sebanyak 20 Dinar. Dinar yang dimaksud adalah Dinar Islam.

  • 1 Dinar = 4,25 gr emas
  • Jadi, 20 Dinar = 85gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatu pun, yaitu dalam emas, sampai memiliki 20 Dinar. Jika telah memiliki 20 Dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ Dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

  1. Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 Dirham, setara dengan 595 gr perak, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

  1. Nishab Binatang Ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak unta, maka nishab unta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

b. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah sapi yang dimiliki: 30-39 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 40-59 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor musinah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 60 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 70 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 80 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 90 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 3 ekor tabi’
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 100 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.

Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing: 40 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 1 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 120 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 2 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 201 – 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 3 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: > 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: setiap 100 ekor kambing adalah 1 ekor kambing
  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam Islam dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [QS.. Al-An’am: 141]

Adapun nishabnya ialah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 Wasaq.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Satu Wasaq setara dengan 60 sha’ [menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364]. Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” [HR. Muslim 2/673]

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

  1. Nishab Barang Dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya:

  • 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • 3) Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki utang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Utang:

  • Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
  • Jadi jumlah harta zakat adalah:
  • Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
  • Zakat yang harus dibayarkan:
  • Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
  1. Nishab Harta Karun

Harta karun yang ditemukan wajib dizakati secara langsung, tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” [HR. Muttafaqun alaihi]

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun, ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata: “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada Muharram 1423 H, lalu Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

***

Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Dipublikasikan ulang oleh www.Muslim.or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

 

,

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima, merupakan kewajiban yang sudah ditetapkan bagi yang sudah terpenuhi syarat-syaratnya. Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” [QS. Al-Baqarah: 43]

Juga dalam ayat:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. At-Taubah: 103]

Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di Akhirat. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [QS. At Taubah: 34-35]

Perintah menunaikan zakat dalam hadits disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ pernah mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah ﷺ bersabda:

ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Ajaklah mereka untuk bersaksi, bahwa tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang wajib dari harta mereka, diambil dari orang kaya di antara mereka, dan disalurkan pada orang miskin di tengah-tengah mereka.” [HR. Bukhari, no. 1395 dan Muslim, no. 19]

Syarat Bayar Zakat

Yang wajib mengeluarkan zakat adalah yang Islam dan merdeka. Tidak dipersyaratkan harus baligh dan berakal. Karena orang gila dan anak kecil, jika memang memiliki harta yang sudah memenuhi syarat, juga tetap dikeluarkan zakatnya.

Berkaitan dengan harta yang dikeluarkan, SYARAT yang harus dipenuhi adalah:

  • Harta tersebut dimiliki secara sempurna,
  • Harta tersebut adalah harta yang berkembang,
  • Harta tersebut telah mencapai nishab (batas minimal pengeluaran harta selama setahun jumlah harta benda minimum yg dikenakan zakat)
  • Harta tersebut telah mencapai haul (harta tersebut bertahan selama setahun),
  • Harta tersebut merupakan kelebihan dari kebutuhan pokok.

Beberapa harta yang para ulama sepakat wajib dikenai zakat adalah:

  • Atsman (emas, perak dan mata uang).
  • Hewan ternak (unta, sapi, dan kambing).
  • Pertanian dan buah-buahan (gandum, kurma, dan anggur).

Daftar Ketentuan Zakat Maal

>> Emas
Nishab: 20 Dinar (85 gram emas murni 24 karat)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Perak
Nishab: 200 Dirham (595 gram perak murni)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Mata uang (zakat penghasilan dan zakat simpanan)
Nishab: Jika sudah mencapai nishab perak atau emas (nishab perak yang paling rendah, sekitar Rp 6 juta)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Hewan ternak (unta, sapi, kambing)
Nishab: Unta 5 ekor, Sapi 30 ekor, Kambing 40 ekor
Besar Zakat: ada ketentuannya
 
>> Hasil pertanian
Nishab: 5 wasaq (720 kg)
Besar Zakat: 10% dengan pengairan gratis, 5% dengan pengairan membutuhkan biaya
 
>> Barang dagangan
Nishab: Jika sudah mencapai nishab perak atau emas (nishab perak yang paling rendah, sekitar Rp 6 juta)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Harta karun (Rikaz)
Nishab: Tidak dipersyaratkan nishab dan haul dalam zakat rikaz. Sudah ada kewajiban zakat ketika harta tersebut ditemukan.
Besar Zakat: 20%

Keterangan:

  • Semua harta zakat di atas memerhatikan haul (bertahan satu tahun Hijriyah), kecuali zakat hasil pertanian dikeluarkan setiap kali panen.
  • Zakat perhiasan emas dan perak terkena zakat, dan mesti dikeluarkan setiap tahunnya, kalau terus berada di atas nishab.
  • Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada tanaman yang merupakan kebutuhan pokok dan dapat disimpan.
  • Pada zakat barang dagangan, barang tersebut bukan termasuk harta yang asalnya wajib dizakati, seperti hewan ternak, emas, dan perak.
  • Perhitungan zakat barang dagangan = nilai barang dagangan + uang dagang yang ada + piutang yang diharapkan – utang yang jatuh tempo.
  • Harta rikaz berarti harta zaman jahiliyah berasal dari non-Muslim yang terpendam, yang diambil dengan tidak disengaja, tanpa bersusah diri untuk menggali, baik yang terpendam berupa emas, perak atau harta lainnya.

Ketentuan untuk Zakat Fitrah

Zakat Fithri atau zakat Fitrah adalah sedekah yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadan.

”Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat Fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum, bagi setiap Muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan, sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘Ied.” [HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984]

Zakat Fitrah wajib ditunaikan oleh:

(1) Setiap Muslim,

(2) Yang mampu mengeluarkan zakat Fitrah. Batasan mampu di sini adalah memunyai kelebihan makanan bagi dirinya, dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘Ied.

Kepala keluarga wajib membayar zakat Fitrah orang yang ia tanggung nafkahnya. Menurut Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan Mayoritas Ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat Fithri si istri, karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat Fitrah, jika ia bertemu terbenamnya matahari di malam hari raya Idul Fitri.

Bentuk zakat Fitrah adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya. Para ulama sepakat, bahwa kadar wajib zakat Fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat Fitrah, kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis), sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’.

Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang . Ukuran satu sho’, jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. Ulama lainnya mengatakan, bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg. Artinya jika zakat Fithri dikeluarkan 2,5 kg seperti kebiasan di negeri kita, sudah dianggap sah.

Zakat Fitrah dengan UANG TIDAKLAH SAH. Abu Daud, murid Imam Ahmad menceritakan: “Imam Ahmad pernah ditanya dan aku pun menyimaknya. Beliau ditanya oleh seseorang, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang Dirham untuk zakat Fitrah?” Jawaban Imam Ahmad: “Aku khawatir seperti itu tidak sah. Mengeluarkan zakat Fitrah dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ.” [Al-Mughni, 4: 295]

Waktu pembayaran zakat Fitrah ada dua macam:

  • (1) Waktu afdhol, yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul Fitri, hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘Ied;
  • (2) Waktu yang dibolehkan, yaitu satu atau dua hari sebelum ‘Ied, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar.

Delapan Golongan Penerima Zakat

Golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada delapan golongan, sebagaimana telah ditegaskan dalam ayat berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk

  • [1] Orang-orang fakir,
  • [2] Orang -orang miskin,
  • [3] Amil zakat,
  • [4] Para mu’allaf yang dibujuk hatinya,
  • [5] Untuk (memerdekakan) budak,
  • [6] Orang -orang yang terlilit utang,
  • [7] Untuk jalan Allah dan
  • [8] Untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [QS. At Taubah: 60]

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “Innama” yang memberi makna hashr (pembatasan). Ini menunjukkan, bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, TIDAK untuk yang lainnya.

Semoga sajian singkat ini bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/15929-panduan-singkat-zakat-maal-dan-zakat-Fitrah.html

 

Catatan Tambahan:

Makna NISHAB di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat (Lihat:  https://muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html)

Makna HAUL adalah kepemilikan harta yang sudah melewati masa satu tahun kalender Hijriyah.

 

,

PANDUAN PRAKTIS MENGHITUNG DAN MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASAN

PANDUAN PRAKTIS MENGHITUNG DAN MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PANDUAN PRAKTIS MENGHITUNG DAN MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASAN
>> Perhiasan Wanita yang Terbuat dari Emas dan Perak, Apakah Wajib Dikeluarkan Zakatnya?

Oleh: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz Lc, MA

Perhiasan yang biasa digunakan oleh para wanita itu beraneka ragam bentuk dan sifatnya. Jika perhiasan tersebut terbuat dari permata, zamrud dan mutiara, selain emas dan perak, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, bahwa itu semua tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Kecuali kalau itu dijadikan barang perdagangan, maka wajib dizakati dengan zakat perdagangan. [Lihat al-Umm oleh Imam Syafi’i II/36, Jami’ ahkamin Nisa’ Syaikh Mushthafa al-Adawi II/143-165, Shahih Fiqhis Sunnah oleh Syaikh Abu Malik II/26]

Lalu dengan perhiasan wanita yang terbuat dari emas dan perak, apakah wajib dikeluarkan zakatnya ataukah tidak?
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama menjadi beberapa pendapat:

Pendapat Pertama: Mengatakan, bahwa tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan emas dan perak yang biasa dipakai oleh kaum wanita. Ini adalah pendapat Mayoritas Ulama. [Lihat ad-Durr al-Mukhtar II/41, Bidayatu al-Mujtahid I/242, al-Majmu’ VI/29, dan al-Mughni III/9-17. Dan ini juga merupakan pendapat Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Aisyah dan Asma’ binti Abu Bakr Ash-Shiddiq. Dan Ini adalah mazhab imam Malik, imam Ahmad, dan imam asy-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya]

Pendapat Kedua: Mengatakan, bahwa perhiasan emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya secara mutlak, jika telah mencapai nishab dan telah berlalu satu tahun, baik dipakai, disimpan maupun dipersiapkan untuk perdagangan. [Ini adalah Madzhab Hanafiyyah, satu riwayat dari imam Ahmad, dan Ibnu Hazm. Lihat Fathul Qadir I/524, ad-Durr al-Mukhtar II/41, al-Muhalla VI/78. Ini juga merupakan pendapat Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khathab, Abdullah bin Umar dan satu riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Pendapat Ketiga: Mengatakan, bahwa wajib dizakati sekali saja untuk selamanya, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

Pendapat Keempat: Ada yang berpendapat, bahwa zakat perhiasan emas adalah dengan cara meminjamkannya kepada orang lain. Demikian riwayat dari Asma` radhiyallahu anhuma dan juga Anas Radhiyallahu anhu. [Lihat Subulus Salam, imam ash-Shan’ani IV/42-43]

Inilah beberapa pandangan para ulama tentang zakat perhiasan. Namun pendapat terpopuler di kalangan para ulama, dan diperkuat dengan dalil-dalil syari, adalah dua pendapat pertama. Berikut perinciannya:

Pendapat Pertama
Yaitu tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan emas dan perak yang biasa dipakai oleh kaum wanita. Ini adalah pendapat Mayoritas Ulama.
Untuk memerkuat pendapat ini, mereka melandasinya dengan beberapa hujjah (argumentasi) dari hadis, atsar (perkataan) para sahabat dan qiyas.

1. Dalil dari Hadis:

لَيْسَ فِى الْحُلِىِّ زَكَاةٌ

Tidak ada zakat pada perhiasan.
Namun riwayat ini mauquf dari perkataan Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu. [Ibnul jauzi dalam at-Tahqiq, dan dinilai oleh al-Baihaqi serta selainnya sebagai hadis batil. (Lihat Irwa’ul Ghalil oleh Syaikh al-Albani no. 817)]

2. Dalil dari Atsar Para Sahabat Radhiyallahu Anhum:
• Diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah, bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma memakaikan perhiasan emas kepada anak-anak perempuan dan budak-budak wanitanya, kemudian beliau radhiyallahu anhuma tidak mengeluarkan zakatnya. [Shahih. Diriwayatkan oleh imam Malik no. 585, al-Baihaqi IV/138 dengan sanad yang Shahih]
• Perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma: “Tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan.” [Shahih. Diriwayatkan dari Abdur Razzaq IV/82, Ibnu Abi Syaibah III/138, Ad-Daruquthni 2/109 dengan sanad yang Shahih]
• Perkataan Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma, ketika ditanya tentang perhiasan, apakah ada zakatnya? Beliau radhiyallahu anhu menjawab: “Tidak ada.” Beliau radhiyallahu anhu ditanya lagi, “Meskipun harganya mencapai seribu Dinar?” Beliau radhiyallahu anhu menjawab: “Walaupun banyak.” [Shahih. Diriwayatkan dari Abdur Razzaq IV/82, Al-Baihaqi IV/148 dengan sanad Shahih. Dan riwayat Ibnu Abi Syaibah III/155] Dalam riwayat lain disebutkan: “(Perhiasan itu) kadang dipinjamkan dan kadang dipakai.”
• Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia memakaikan perhiasan pada anak perempuan saudaranya (keponakannya) yang yatim, yang berada dalam pengasuhannya, dan ia tidak mengeluarkan zakat dari perhiasan mereka. [Shahih. Diriwayatkan oleh Malik no.584, dan Abdur Rozzaq 4/83. Hadis ini Shahih]
• Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu anhuma, bahwa ia tidak mengeluarkan zakat perhiasannya.” [Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf III/155 dengan sanad Shahih]

3. Dalil Qiyas
Menurut mereka, bahwa zakat hanya diwajibkan pada harta yang bisa berkembang. Adapun perhiasan mubah yang tidak bisa berkembang, maka hukumnya seperti pakaian yang tidak wajib dikeluarkan zakatnya, meskipun pakaian tersebut mahal harganya. Hal ini berbeda kalau emas tersebut memang untuk di simpan, atau dipersiapkan untuk perniagaan, maka ada zakatnya.

Pendapat Kedua
Perhiasan emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya secara mutlak, jika telah mencapai nishabnya dan telah berlalu satu tahun, baik dipakai, disimpan, maupun dipersiapkan untuk perdagangan.
Untuk memerkuat pendapatnya ini, mereka melandasinya dengan beberapa dalil, di antaranya:

1. Keumuman dalil-dalil Alquran tentang zakat emas dan perak, seperti firman Allah Azza wa Jalla:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴿٣٤﴾يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [At-Taubah/9:34-35]

2. Hadis-hadis Nabi ﷺ yang bersifat umum tentang zakat emas dan perak, seperti sabda beliau ﷺ:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ

Tidaklah seorang pemilik emas dan perak lalu tidak menunaikan kewajibannya, kecuali nanti pada Hari Kiamat akan di jadikan lempengan dari api Neraka, lalu dipanaskan dan disetrikakan kepada lambung, dahi dan punggung mereka. [Shahih. Diriwayatkan imam Muslim II/680 no. 987, dan Abu Dawud no.1642]

3. Hadis-hadis khusus tentang zakat perhiasan, dan ancaman bagi yang tidak mengeluarkannya. Di antaranya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِي يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا قَالَتْ لَا قَالَ أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah ﷺ bersama putrinya, sedangkan ditangan putrinya terdapat dua gelang besar yang terbuat dari emas. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakat ini?” Dia menjawab: “Belum.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah engkau mau bila Allah Azza wa Jalla akan memakaikan kepadamu pada Hari Kiamat dengan dua gelang dari api Neraka?” Wanita itupun melepas keduanya dan memberikannya kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata: “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.” [Shahih, dengan beberapa riwayat penguatnya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud no.1563, an-Nasa’i V/38, at-Tirmidzi no.637, dan Ahmad II/178]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَرَأَى فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ قُلْتُ لَا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Syadad bin Hadi, ia berkata: “Kami masuk menemui Aisyah istri Rasulullah ﷺ , lalu ia berkata: “Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, lalu beliau ﷺ melihat di tanganku ada beberapa cincin dari perak, lalu beliau ﷺ bertanya: ‘Apa itu, wahai Aisyah?” Maka aku jawab: “Aku memakainya untuk berhias diri di depanmu, wahai Rasulullah !” Lalu beliau ﷺ bertanya lagi: “Apakah sudah engkau keluarkan zakatnya?” Aku jawab: “Belum” Maka beliau ﷺ bersabda: “Cukuplah itu untuk memasukkanmu ke dalam api Neraka.” [Hasan, dengan beberapa riwayat penguatnya. Diriwayatkan oleh Abu Daud no.1565, Ad-Daruquthni II/105, Al-Hakim I/389, dan Al-Baihaqi IV/1393]

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ دَخَلْتُ أَنَا وَخَالَتِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَعَلَيْهَا أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَنَا أَتُعْطِيَانِ زَكَاتَهُ قَالَتْ فَقُلْنَا لَا قَالَ أَمَا تَخَافَانِ أَنْ يُسَوِّرَكُمَا اللَّهُ أَسْوِرَةً مِنْ نَارٍ أَدِّيَا زَكَاتَهُ

Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Saya masuk bersama bibiku menemui Rasulullah ﷺ, dan saat itu bibiku memakai beberapa gelang terbuat dari emas. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepada kami: ‘Apakah kalian berdua sudah mengeluarkan zakatnya?’ Kami menjawab: ‘Tidak.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidakkah kalian takut bila Allah akan memakaikan kepada kalian, gelang-gelang dari api Neraka? Tunaikanlah zakatnya!” [HR. Ahmad VI/461, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir XXIV/181 dengan sanad hasan karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat sebelumnya]
4. Atsar-atsar yang diriwayatkan dari sebagian sahabat, di antaranya:

• Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhuma, bahwasanya ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau radhiyallahu anhuma tentang zakat perhiasan, maka beliau radhiyallahu anhuma menjawab: “Jika telah mencapai 200 (dua ratus) Dirham, maka keluarkanlah zakatnya.” Wanita itu bertanya lagi: “Sesungguhnya di rumahku ada beberapa anak yatim (dalam pengasuhanku). Apakah aku boleh memberikan zakatnya kepada mereka?” Beliau menjawab: “Boleh.” [Shahih Li Ghairihi. Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq IV/83, Thabrani 9/371, dan ath-Thabrani IX/371]

• Dari Abdulllah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhu, bahwasannya beliau menulis surat kepada bendaharanya, Salim agar mengeluarkan zakat perhiasan putri-putrinya setiap tahun. [Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dalam sunannya II/107 dengan sanad Hasan]

• Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, ia menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu, yang isinya: “Perintahkan rakyatmu dari kalangan kaum wanita agar mengeluarkan sedekah dari perhiasan-perhiasan mereka, (dalam riwayat lain: Agar mengeluarkan zakat perhiasan). Janganlah mereka menjadikan hadiah dan kelebihan sebagai pertentangan di antara mereka.” [Dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah III/, Bukhari dalam at-Tarikhull-Kabir IV/217, dan al-Baihaqi IV/139. Sanad hadis ini Mursal]

• Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Tidak mengapa memakai perhiasan, asalkan dikeluarkan zakatnya.” [Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni II/107, dan al-Baihaqi IV/139 dengan sanad Hasan]

• Pendapat tentang wajibnya zakat perhiasan juga diriwayatkan dari sejumlah ulama tabi’in, di antaranya: atsar dari Sa’id bin Musayyib, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Atha’ bin Abi Rabah, Zuhri, Abdullah bin Syadad, Sufyan ats-Tsauri dan selainnya. [Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ II/156-157]

Pendapat Yang Rajih
Setelah memaparkan berbagai pendapat para ulama beserta dalil-dalilnya, maka pendapat yang nampak rajih menurut kami adalah pendapat kedua yang menyatakan, bahwa hukum mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak adalah WAJIB jika telah mencapai nishab dan genap berlalu satu tahun. Karena lebih kuat dalilnya dan lebih selamat untuk diamalkan, serta dapat membebaskan seseorang dari perselisihan. Wallahu a’lam bish-shawab. Alasan lain yang menjadikan pendapat kedua ini lebih rajih ialah karena beberapa hal berikut:

1. Keumuman dalil-dalil yang mewajibkan zakat emas, perak, dan perhiasan yang juga terbuat dari emas dan perak. Dan di dalam ilmu Ushul Fiqih ditetapkan, bahwa sebuah lafal umum harus dibawa pada maknanya umum, sampai ada dalil yang mengkhususkan. Dan ternyata tiada dalil dari Alquran maupun hadis Shahih yang mengkhususkan kewajiban mengeluarkan zakat emas dan perak. Adapun hadis yang dijadikan hujjah bagi pendapat pertama derajatnya Dha’if (Lemah). Demikian juga atsar atau perkataan para sahabat tidak bisa dijadikan sebagai pengkhusus bagi keumuman makna Alquran dan as-Sunnah.

2. Adanya dalil-dalil khusus yang Shahih dari Nabi ﷺ tentang kewajiban mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak.

3. Mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak merupakan sikap yang lebih hati-hati dan lebih selamat dalam menjalankan perintah syariat.

4. Lemahnya dalil-dalil yang dipegangi oleh pendapat pertama yang menyatakan tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak. Demikian pula atsar atau perkataan para sahabat tidak bisa dijadikan landasan dalam beramal, karena bertentangan dengan Alquran dan as-Sunnah yang Shahih, disamping itu juga bertentangan dengan atsar/perkataan para sahabat lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Apakah Wajib Dikeluarkan Zakat Pada Perhiasan yang Terbuat dari Mutiara dan Batu-Batuan Berharga?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah TIDAK ada kewajiban zakat pada perhiasan selain emas dan perak, seperti mutiara, marjan, yaqut dan batu berharga lainnya, berdasarkan kesepakatan para ulama, karena tidak ada dalil yang mewajibkannya. [Lihat al-Muwaththo’ karya imam Malik I/250, al-Umm karya imam Asy-Syafi’I II/36, dan al-Majmu’ karya imam an-Nawawi VI/6, Jami’ Ahkamin nisa’ Syaikh Mushthofa al-‘Adawi II/143-165, Shahih fiqhis sunnah oleh Syaikh Abu Malik II/26]

Akan tetapi, jika batu-batu mulia tersebut dipersiapkan untuk diperdagangkan, maka wajib dikeluarkan zakatnya, seperti barang-barang perdagangan lainnya. Dan ini merupakan pendapat Mayoritas Ulama.

Nishab dan Kadar Zakat Perhiasan

Nishab perhiasan emas adalah sama seperti nishab emas, yaitu 20 Dinar/Mitsqal atau seberat 85 gram emas murni (24 karat). Sedangkan nishab perhiasan perak adalah sama seperti nishab perak, yaitu 200 Dirham atau seberat 595 gram perak murni.

Adapun rincian nishab emas dan perak berdasarkan ukuran modern hasil penelitian sebagian ulama seperti syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya asy-Syarhul Mumti’ VI/103 adalah sebagai berikut:
1 Dinar = 4,25 gr, 1 Dirham = 2,975 gr.

Berdasarkan data ini, maka nishab emas adalah: 4,25 gr x 20 = 85 gram. Dan nishab perak adalah: 2,975 gr x 200 = 595 gram.
Adapun kadar atau persentase zakat yang wajib dikeluarkan dari perhiasan emas dan perak adalah 2,5% (dua setengah persen). Ketentuan-ketentuan tersebut di atas telah dijelaskan di dalam hadis-hadis berikut ini:

عَنْ عَلِىٍّ z عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: « فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَىْءٌ – يَعْنِى فِى الذَّهَبِ – حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ »

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu , bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika engkau memiliki 200 Dirham dan telah melewati 1 tahun (haul), maka zakatnya adalah 5 Dirham, dan engkau setelah itu tidak ada kewajiban apapun atas 200 Dirham tersebut, sampai engkau memiliki 20 Dinar dan telah melewati masa 1 tahun, maka zakatnya adalah ½ Dinar. Adapun kelebihan Dirham atau Dinar, maka patokannya adalah seperti tersebut di atas.” [HR. Abu Daud I/493 no.1573. dan hadis ini dishahihkan oleh syaikh al-Albani]

Dan diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ ،

Tidak ada kewajiban zakat pada wariq/perak yang kurang dari 5 Uqiyah (1 Uqiyah berjumlah 40 Dirham)”. [HR. Bukhari II/529 no. 1390, dan Muslim II/675 no. 980]

Dan dalam sebuah surat Abu Bakar radhiyallahu anhu yang ditulisnya kepada Anas bin Malik radhiyallahu anhu dinyatakan:

وَفِى الرِّقَةِ رُبْعُ الْعُشْرِ

Dan pada perak, ada kewajiban zakat sebesar 2,5% (dua setengah persen).” [HR. Bukhari II/527 no. 1386].
Cara Menghitung dan Mengeluarkan Zakat Perhiasan

Untuk membayar zakat perhiasan emas dan perak ada dua cara:

Cara Pertama: Yaitu dengan membeli perhiasan emas atau perak sebesar atau seberat zakat yang harus ia bayarkan, lalu memberikannya langsung kepada orang yang berhak menerimanya. Cara ini berlaku, jika pemilik perhiasan tersebut tidak memersiapkannya untuk perniagaan, tetapi hanya untuk dipakai saja.

Cara Kedua: Yaitu dengan membayar zakat perhiasan emas atau perak dengan uang yang berlaku di negerinya, sesuai dengan jumlah harga zakat (perhiasan emas atau perak) yang harus ia bayarkan pada saat itu. Sehingga yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menanyakan harga beli emas atau perak per gram saat dikeluarkannya zakat. Jika ternyata telah mencapai nishab dan haul, maka dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (1/40) dari berat perhiasan emas atau perak yang dimiliki, dan disetarakan dalam mata uang di negeri tersebut. Cara ini berlaku jika pemilik perhiasan telah memersiapkannya untuk perniagaan.

Sebagai contoh:
Bila harga perhiasan emas murni Rp.550.000,-/gram, dan perhiasan perak murni 8.000,-/gram. Maka cara mengetahui nishab dan kadar zakatnya dalam bentuk emas atau uang (nilainya) adalah sebagai berikut:
Nishab emas = 85 gram x Rp.550.000,-/gram = Rp.46.750.000,-
Nishab perak = 595 gram x Rp.8.000,-/gram = Rp.4.760.000,-

Contoh 1
Perhiasan yang dimiliki adalah 100 gram emas murni (24 karat) dan telah berputar selama setahun. Berarti dikenai wajib zakat karena telah melebihi nishab.
Zakat yang dikeluarkan (kalau dengan emas) = 2,5 % x 100 gram emas = 2,5 gram emas
Zakat yang dikeluarkan (kalau dengan uang) = 2,5 gram emas x Rp.550.000,-/gram = Rp.1.375.000,-

Contoh 2
Perhiasan yang dimiliki adalah 700 gram perak murni dan telah berputar selama setahun. Berarti dikenai wajib zakat karena telah melebihi nishab.
Zakat yang dikeluarkan (dengan perak) = 2,5% x 700 gram perak = 17,5 gram perak
Zakat yang dikeluarkan (dengan uang) = 17,5 gram perak x Rp.8.000,-/gram perak = Rp.140.000,-

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan tentang cara menghitung dan mengeluarkan zakat perhiasan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Sumber: https://almanhaj.or.id/3684-panduan-praktis-menghitung-dan-mengeluarkan-zakat-perhiasan.html