Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL

SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#MutiaraSunnah
 
SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL
 
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba dalam agamanya untuk mengikuti firman Allah ta’ala dan sabda Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, dan mengiktuti para Khulafa Ar Rasyidin, yaitu para sahabat sepeninggal beliau ﷺ, dan juga mengikuti para tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan .
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
“Wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan” [HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadis ini Hasan Shahih”]
 
Maka wajib bagi setiap hamba untuk taat dan patuh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ yang shahihah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sunnah ini, jika shahih, maka semua kaum Muslimin bersepakat bahwa WAJIB untuk mengikutinya” [Majmu’ Al Fatawa, 19/85, dinukil dari Ushul Fiqh inda Ahlisunnah 120].
 
Seorang hamba yang enggan untuk taat kepada sabda Rasul-Nya ﷺ juga terancam untuk ditimpa fitnah (keburukan) dan azab yang pedih. Allah ta’ala berfirman:
 
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An Nuur: 63]. Wahai hamba Allah! Takutlah engkau akan fitnah dan azab Allah, tundukkanlah jiwamu untuk patuh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
 
 
Diringkas dari:
Penulis:Ustadz Yulian Purnama
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

DALIL SAMI’NA WA ATHA’NA, WALAU TIDAK TAHU HIKMAHNYA

DALIL SAMI’NA WA ATHA’NA, WALAU TIDAK TAHU HIKMAHNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#ManhajSalaf. #KaidahFikih
 
DALIL SAMI’NA WA ATHA’NA, WALAU TIDAK TAHU HIKMAHNYA
>> Kami Telah Mendengar Hukum Tersebut dan Kami akan Taati
 
Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kepada Allah, kecuali menaati dan menerima dengan sepenuh hati, SETIAP ketentuan-Nya. Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan tunduk kepada hukum agama. Allah ﷻ berfirman:
 
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 
“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum di antara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung.” [QS. An Nuur: 51]
 
Tidaklah apa yang Allah tentukan untuk hamba-Nya, melainkan pasti memiliki hikmah yang besar bagi sang hamba. Namun sang hamba wajib pasrah kepada ketentuan itu, baik TAHU akan hikmahnya, maupun TIDAK TAHU hikmahnya. Kaidah fiqhiyyah mengatakan:
 
الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً
 
“Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.”
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: “Kaidah ini meliputi seluruh ajaran Islam, TANPA terkecuali. Sama saja, baik hal-hal Ushul (Pokok), maupun Furu’ (Cabang), baik yang berupa hubungan terhadap Allah, maupun terhadap sesama manusia.
 
 
 
,

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
 
Pertanyaan:
Ketika kita shalat terhadap banyak jenazah dalam satu waktu, apakah pahalanya bertambah sesuai dengan banyaknya jenazah?
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Ya, pahala berlipat sesuatu dengan banyaknya jenazah. Telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, 945, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak turut mengantarkannya, maka dia dapat (pahala) satu Qirath. Kalau dia ikut mengiringinya, maka dia dapatkan dua Qirath. Dikatakan, “Apa itu dua qirth?” Beliau ﷺ menjawab: “Yang paling kecil di antara kedunya seperti (gunung) Uhud.”
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, bahwa bagi orang yang shalat, pada setiap jenazah mendapatkan satu Qirath, dan pahalanya dilipatgandakan dengan bertambahnya jumlah jenazah, keutamaan Allah itu luas sekali. Nafrawi rahimahullah mengatakan: “Jika mayat berjumlah banyak, maka akan bertambah Qirath dalam shalat dan menguburkannya berkali-kali.” Al-Faqih Abu Imron dan Sayyid Yusuf bin Umar: “Dia akan mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath. Karena setiap mayat mendapatkan manfaat dari doa dan kehadiranya.” [Al-Fawakih Ad-Dawani ‘Ala Risalah Abi Zaid Al-Qirwani, 1/295]
 
Al-Khatib As-Syirbini rahimahullah mengatakan: “Kalau jenazahnya banyak dan dilakukan sekali shalat saja, apakah akan mendapatkan Qirath sesuai dengan banyaknya (jenazah) atau tidak, karena hanya satu shalat? Al-Adzro’i mengatakan: “Yang tampak (dia mendapatkan Qirath) sebanyak (jenazah). Dan ini termasuk jawaban Qodhi Humah Al-Barizi. Ini yang kuat.” [Mughni Al-Muhtaj, 2/54]
 
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Seseorang menyolati lima jenazah dengan sekali shalat. Apakah dia mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath, ataukah (untuk mendapatkan) Qirath sesuai dengan bilangan shalat?”
 
Beliau menjawab: “Kami harap dia mendapatkan banyak Qirath sebanyak bilangan jenazah. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
من صلى على جنازة فيه قيراط ، ومن تبعها حتى تدفن فله قيراطان (رواه مسلم)
 
“Barang siapa menyalati jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Dan barang siapa yang mengiringi sampai dikuburkan, maka dia mendapatkan dua Qirath.” [HR. Muslim]
 
Dan hadis-hadis yang semakna dengan itu, semuanya menunjukkan, bahwa Qirath bertambah sesuai dengan bilangan jenazah. Barang siapa yang shalat terhadap satu jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Barang siapa yang mengikuti sampai dikuburkannya, maka dia mendapatkan dua Qirath. Barang siapa yang shalat terhadapnya dan mengikuti sampai selesai penguburan, maka dia mendapatkan dua Qirath. Ini termasuk keutamaan, kemurahan dan kedermawanan Allah subahanhu wa ta’ala terhadap hamba-Nya. Hanya kepada-Nya segala pujian dan rasa syukur, tiada Tuhan melainkan Dia. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.” [Majmu Al-Fatawa, 13/137]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Di dalam Masjidil Haram banyak jenazah. Apakah pahala juga bertambah sebagaimana yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ?”
 
Beliau menjawab: “Kalau jenazah banyak dan dilakukan sekali shalat, apakah seseorang mendapatkan pahala sebanyak bilangan jenazah ini? Yang kuat, ya. Karena dia benar telah melakukan shalat terhadap dua, tiga atau empat (jenazah), sehingga dia mendapatkan pahala. Akan tetapi bagaimana dia cara berniatnya? Apakah berniat shalat sekali atau untuk semuanya? Hendaknya dia berniat shalat untuk semuanya.” [Liqa Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 149]
 
Wallahu a’lam.
,

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
 
Hukum Shalat Jenazah
 
Hukum shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika sebagian kaum Muslimin telah melakukannya, maka gugur dari lainnya.
 
( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ –رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ– قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم– إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)
 
Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah ﷺ, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’  Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Beliau ﷺ pun berkata: ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata: ‘Shalatilah dia, ya Rasulullah! Utangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR Al-Bukhaari no. 2289]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa hukumm shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah, karena ketika itu Nabi ﷺ, jika tahu si mayit tidak melunasi utangnya, maka beliau ﷺ enggan menyalatinya.
 
Keutamaan Shalat Jenazah
 
Pertama: Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“Barang siapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyalatkannya, maka baginya satu Qirath. Lalu barang siapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” Rasulullah ﷺ lantas menjawab: “Dua Qirath itu semisal dua gunung yang besar.” [HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945]
 
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
« مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ». قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ ».
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu Qirath. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” “Ukuran paling kecil dari dua Qirath adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau ﷺ. [HR. Muslim no. 945]
 
Kedua: Dari Kuraib, ia berkata:
 
أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ »
 
“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyalati jenazahnya.” Kuraib berkata: “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul, dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab: “Ada 40 orang.” Kuraib berkata: “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, melainkan Allah akan memprkenankan syafaat (doa) mereka untuknya.” [HR. Muslim no. 948]
 
Ketiga: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
 
مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ
 
“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum Muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafaat (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafaat (doa mereka) akan diperkenankan.” [HR. Muslim no. 947]
 
Keempat: Dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ
“Tidaklah seorang Muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum Muslimin, melainkan doa mereka akan dikabulkan.” [HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini Hasan jika sahabat yang mengatakan]
 
Itulah beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan shalat jenazah.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 

SETIAP MINUMAN YANG MEMABUKKAN ADALAH HARAM

SETIAP MINUMAN YANG MEMABUKKAN ADALAH HARAM

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SETIAP MINUMAN YANG MEMABUKKAN ADALAH HARAM
 
Sabda Rasulullah ﷺ:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
 
“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan adalah haram.” [HR. Muslim]
 
Hal itu juga berdasarkan sebuah hadis:
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ melaknat khamr, peminumnya, yang menuangkannya, yang memerasnya, yang menyuruh memeras, yang membawanya (distributor), yang dibawakan (agen), penjualnya, pembelinya, dan yang memakan hasilnya.” [HR. Abu Dawud]
 
Dalam sebuah hadis shahih, beliau ﷺ juga bersabda:
كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ
 
“Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.” [HR. Bukhari].
 
Dalam hadis lain beliau ﷺ bersabda:
مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
 
“Sesuatu yang bisa memabukkan dalam jumlah banyak, maka sedikitnya pun haram.” [HR. Ibnu Majah].
 
Dalam sebuah hadis shahih, beliau ﷺ juga melarang atau mengharamkan segala sesuatu yang memabukkan dan menyebabkan hilang akal.
 
Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum Muslimin menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bisa memabukkan dan saling memeringatkan sesama mereka dari hal itu. Bagi yang sudah terlanjur mengonsumsinya, dia harus segera meninggalkannya dan cepat-cepat bertaubat kepada Allah ﷻ dari perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman (yang artinya):
 
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung (bahagia).” (QS. An-Nuur: 31).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3397-hukum-minum-bir.html

,

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

Sebagian ulama berpendapat, bahwa jarak safar dikembalikan kepada kebiasaan (‘urf) manusia. Inilah pendapat yang kuat, insya Allah, karena tidak ada dalil yang shahih lagi sharih (tegas), yang menentukan jarak safar. Maka hal ini dikembalikan kepada kebiasaan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كُلُّ اسْمٍ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ فِي اللُّغَةِ وَلَا فِي الشَّرْعِ فَالْمَرْجِعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ فَمَا كَانَ سَفَرًا فِي عُرْفِ النَّاسِ فَهُوَ السَّفَرُ الَّذِي عَلَّقَ بِهِ الشَّارِعُ الْحُكْمَ

“Setiap nama yang tidak memiliki batasan dalam bahasa, dan tidak pula dalam syariat, maka rujukan untuk menentukannya dikembalikan kepada kebiasaan. Maka apa yang dianggap safar menurut kebiasaan manusia, itulah safar yang dikaitkan dengan hukum oleh Penetap Syariat.” [Majmu’ Fatawa, 24/40-41]

Sumber:
https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805016959647788:0
http://sofyanruray.info/hukum-hukum-puasa-bagi-musafir/

, ,

HUKUM MENYEBARKAN SELEBARAN TIGA PULUH DOA UNTUK TIGA PULUH HARI DI BULAN RAMADAN

HUKUM MENYEBARKAN SELEBARAN TIGA PULUH DOA UNTUK TIGA PULUH HARI DI BULAN RAMADAN

HUKUM MENYEBARKAN SELEBARAN TIGA PULUH DOA UNTUK TIGA PULUH HARI DI BULAN RAMADAN

Pertanyaan:

Telah beredar di sebagian website, selebaran dikenal dengan judul ‘Tiga Puluh Doa untuk Tiga Puluh Hari di Bulan Ramadan’.

Doa hari pertama: ‘Ya Allah jadikanlah puasaku ini termasuk golongan orang-orang yang berpuasa, dan qiyamku termasuk golongan orang-orang yang qiyam. Dan ingatkan diriku dari kelengahan orang-orang yang lalai. Berikanlah kesalahanku di dalamnya wahai Tuhan seluruh alam. Maafkanlah daku wahai Yanga Maha Memaafkan dari kesalahan.

Doa hari kedua: ‘Ya Allah dekatkanlah diriku di (bulan Ramadan) ini kepada keridaan-Mu. Jauhkanlah diriku dari kemarahan-Mu. Hindarkanlah diriku dengan membaca ayat-ayat-Mu. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Kasih sayang.

Doa hari ketiga: ‘Ya Allah karuniakanlah kepadaku kecerdasan dan kesadaran. Dan jauhkanlah dariku kebodohan dan kelalaian. Berikan kami bagian dari setiap kebaikan yang turun di (bulan Ramadan). Dengan kedermawanan-Mu wahai Yang Maha Dermawan.

Doa hari ketiga puluh: ‘Ya Allah jadikanlah puasaku di bulan Ramadan ini dengan penuh kesyukuran dan penerimaan dengan penuh keridaan-Mu dan keridaan Rasul yang berhukum cabang-cabang syariat dengan usul. Dan dengan haknya Sayyidina Muhammad dan keluarganya yang suci. Wal hamdulillahi robbil ‘alamin.

Apa hukum berpatokan dengan selebaran ini dan membagikan serta menyebarkannya? Apa hukum berdoa dengan doa ini di bulan Ramadan?

Jawaban:

Alhamdulillah

Doa adalah ibadah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan lainnya dengan sanad Shahih. Hukum asal dalam ibadah adalah tauqifi (paten) dan larangan. Tidak diperkenankan membuat suatu yang baru dalam beribadah. Atau menentukan dengan waktu atau peristiwa tertentu, kecuali syariat telah menentukan hal itu. Maka tidak dibolehkan seorang pun membuat syariat untuk manusia dengan doa (tertentu), yang diucapkannya pada waktu tertentu. Silakan melihat hal itu di dua jawaban soal no. 21902 (https://islamqa.info/en/21902) dan 27237 (https://islamqa.info/en/27237)

Doa di bulan Ramadan sangat dianjurkan. Akan tetapi, walau demikian, TIDAK DIPERKENANKAN  seorang pun menciptakan doa, dan dikhususkan pada waktu tertentu seperti doa Nabi ﷺ. Seorang Muslim dibolehkan berdoa untuk kebaikan dunia dan Akhirat, dengan kata-kata yang mudah diucapkan, pada saat kapan saja. Contoh dalam hal ini adalah peringatan para ulama atas apa yang dilakukan  orang awam berupa pengkhususan doa tertentu pada setiap putaran Thawaf atau setiap putaran Sai  dalam ibadah  haji dan umrah.

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

“Tidak diwajibkan dalam Thawaf ini, juga di Thawaf yang lainnya, tidak juga di Sai, membaca  zikir dan doa tertentu. Apa yang baru dilakukan sebagian orang dengan mengkhususkan setiap putaran dalam Thawaf atau Sai dengan zikir dan doa tertentu, TIDAK ADA DALILNYA. Cukup baginya berdoa dan berzikir  yang mudah dia lakukan, itu sudah mencukupi.” [Fatawa Syekh Ibn Baz, 16/61- 62]

Syekh Muhammad Sholeh Al-UtSaimin rahimahullah berkata:

“Di sana (saat Thawaf), tidak ada doa tertentu pada setiap putaran. Bahkan mengkhususkan setiap putaran dengan doa tertentu termasuk bid’ah, karena hal itu tidak ada dasarnya  dari Nabi ﷺ. Yang ada hanya takbir ketika menyentuh Hajar Aswad dan mengucapkan:

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخرة حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (سورة البقرة: 201)

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat, dan peliharalah kami dari siksa Neraka.” [QS. Al-Baqarah: 201]

Antara Rukun Yamani dan Hajar aswad. Sementara sisa rukun, membaca zikir saja secara umum, atau baca Alquran, atau berdoa, tanpa mengkhsusukan satu putaran dengan putaran lain. ”

[Majmu Fatawa Syekh Al-UtSaimin, 22/336]

Perkara lainnya, dalam doa di hari terakhir, terdapat perkara munkar dan menyalahi syariat, yaitu bertawasul dalam berdoa dengan hak Nabi ﷺ dan hak keluarganya. Telah  dijelaskan bid’ahnya tawasul ini dalam berdoa, serta perkataan para ulama dalam soal jawab no.125339 (https://islamqa.info/ar/125339)  Silakan dilihat.

Seorang Muslim hendaknya jangan ikut serta menyebarkan  selebaran ini. Bahkan kalau bisa memberi peringatan semampunya dari selebaran semacam ini. Hendaklah seorang Muslim mengetahui, bahwa tidak ada kebaikan bagi seseorang apabila dia mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan cara bid’ah. Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Muslim, no.  867]

Silakan melihat hadis-hadis yang menetapkan larangan melakukan bid’ah dalam agama, dan perkataan para ulama yang memberi peringatan dari bid’ah di dua jawaban di soal no. 118225 (https://islamqa.info/ar/118225) dan 864 (https://islamqa.info/en/864)

Wallahu’alam

Sumber: https://islamqa.info/id/139822

,

APAKAH BENAR ADA BID’AH YANG TERPUJI (HASANAH)?

APAKAH BENAR ADA BID’AH YANG TERPUJI (HASANAH)?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf
#StopBid‘ah

APAKAH BENAR ADA BID’AH YANG TERPUJI  (HASANAH)?

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa setiap bid’ah itu adalah SESAT dan TERTOLAK, serta tempatnya di Neraka. Nabi ﷺ bersabda:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan:
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
“Setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadis ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
 
Dalil dari Perkataan Sahabat
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya tsiqoh/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ, -pen), janganlah membuat bid’ah, karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab Shahih)

Hadis dan perkataan sahabat di atas menunjukkan, bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah BID’AH, dan setiap bid’ah itu SESAT dan TERTOLAK dan tempatnya di Neraka.
Kerancuan: Apakah Benar Ada Bid’ah Yang Terpuji ?
Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang, bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, namun ada sebagian yang terpuji, yaitu bid’ah hasanah.
Memang diakui, bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan, bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji, karena bid’ah menurut sebagian ulama tersebut adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi ﷺ.
Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya:
الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة
“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyatul Awliya’, 9/113, Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari, 20/330, Asy Syamilah)
Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata:
نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)
 
Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang RANCU dan SALAH PAHAM. Akhirnya sebagian orang mengatakan, bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan Maulid Nabi atau Shalat Nisfu Sya’ban yang TIDAK ADA DALILNYA atau PENDALILANNYA KURANG TEPAT, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, baik dari sabda Nabi ﷺ maupun perkataan sahabat, semua riwayat yang ada menunjukkan, bahwa BID’AH itu TERCELA dan SESAT dan tempatnya di Neraka.
 
Memahami Perkataan ‘Umar bin Al Khottob tentang Shalat Tarawih
Taruhlah kita setuju dengan perkataan ‘Umar, bahwa ada bid’ah hasanah, karena beliau telah berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Maka cukuplah disanggah dengan perkataan Ibnu Taimiyah: “PERKATAAN SAHABAT BUKANLAH ARGUMEN. Bagaimana perkataan sahabat bisa sebagai alasan, di saat bertentangan dengan sabda Rasululah ﷺ?” [ Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 1: 95]
Jika dengan perkataan sahabat saja TIDAK BISA dipertentangkan dengan sabda Rasul ﷺ, lantas bagaimana lagi dengan perkataan ulama yang berada di bawah sahabat?
Imam Syafi’i adalah orang yang paling semangat dalam ittiba’ atau mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Dan beliau juga adalah orang yang sangat keras pada orang yang membantah sabda Nabi ﷺ. Jika Imam Syafi’i bersikap keras dalam hal semacam ini, bagaimana mungkin kita pahami bahwa perkataan beliau berseberangan dengan sabda Rasul ﷺ: “Kullu bid’atin dholalah” (setiap bid’ah adalah sesat).
Seharusnya kita memosisikan dengan benar perkataan Imam Syafi’i, yaitu kita pahami dengan pemahaman yang TIDAK bertentangan dengan sabda Rasul ﷺ. Jadinya kita pahami, bahwa maksud Imam Syafi’i adalah BID’AH SECARA BAHASA.
Hal yang membuat kita seharusnya semakin husnuzhon kepada Imam Syafi’i, karena beliau pernah mengeluarkan perkataan-perkataan seperti berikut ini:
إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ
“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah ﷺ, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku. Dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan, maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” [Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab, 1: 63]
كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ
“Setiap hadis yang diucapkan oleh Nabi ﷺ, maka itulah pendapatku, meski kalian tak mendengarnya dariku.” [Tarikh Dimasyq, 51: 389]
كُلُّ مَا قُلْتُ فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُونِي
“Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadis Nabi ﷺ, maka hadis Nabi lebih utama untuk diikuti, dan janganlah kalian taqlid kepadaku.” [Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, 2: 9: 15]
كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي
“Setiap masalah yang di sana ada hadis shahihnya menurut para ahli hadis, lalu hadis tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi, baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” [Hilyatul Auliya’, 9: 107]
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ
“Kalau ada hadis shahih, maka itulah mazhabku. Dan kalau ada hadis shahih, maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.” [Siyar A’laamin Nubala’, 3: 3284-3285]
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
“Kaum Muslimin sepakat, bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah ﷺ, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu, karena mengikuti pendapat siapa pun.” [I’lamul Muwaqi’in, 2: 282]
Setelah kita mengetahui pernyataan Imam Syafi’i bahwa perkataan Rasulullah ﷺ wajib didahulukan dari ucapan beliau, maka semestinya kita berbaik sangka kepada beliau dengan mendudukkan ucapan beliau mengenai bid’ah tadi sebagai bid’ah secara bahasa, –yaitu setiap hal baru– yang tidak ada kaitannya dengan agama. Dengan demikian, antara ucapan Imam Syafi’i; “Bid’ah mahmudah dan madzmumah” dan sabda Rasulullah ﷺ: “Setiap bid’ah sesat” tidak akan bertabrakan.
Hanya Allah yang memberikan taufik.
Sumber:

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

Definisi Ikhlas

Pengertian Ikhlas Menurut Bahasa

Akar kata Ikhlas dalam bahasa Arab adalah “خلص” , “يخلص”, “خلوصا”

yang jika dalam bahasa Indonesia bermakna : kesucian, kebeningan dan tanpa ada campuran sedikit pun.

Menurut istilah Syar’i (Islam), yang dimaksud dengan makna ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaan-Nya.

Di dalam Alquran, Allah mengibaratkan ikhlas itu laksana susu yang bersih-mumi, yang enak rasanya apabila diminum, bahkan yang dapat menyehatkan dan menyegarkan badan manusia. Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih, antara tahi dan darah, yang mudah dan sedap ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [QS An-Nahl 16:66]

Pada ayat ini, Allah memberikan contoh tentang ikhlas itu laksana susu murni binatang ternak. Sebelum menjadi susu murni, yaitu tatkala masih berada dalam perut binatang, susu itu terdiri dari dua zat yang kotor dan tidak memberikan faidah, yaitu tahi dan darah. Setelah melalui proses, maka terjadilah susu yang bersih-murni, tidak bercampur dengan kotoran dan zat-zat lainnya. Allah mengibaratkan bahwa sesuatu amal yang ikhlas tak ubahnya laksana susu murni itu.

Di Antara Dalil-Dalil Ikhlas dalam Alquran

Allah ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya beribadah kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… [QS Al-Bayyinah : 5]

Allah ta’ala berfirman:

 ….فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ٢ أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ …….. ٣

Artinya: ….maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….. [QS Az-Zumar : 2-3]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ١١

Artinya: Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaantan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama. [QS Az-Zumar : 11]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut. [Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan: “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk . Atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan: “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan, maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah rida Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan: “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  • Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  • Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  • Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas:

  • Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
  • Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
  • Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
  • Mengharap balasan dari amalannya di Akhirat.

 

Sumber: https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html dengan sedikit penambahan oleh tim redaksi Nasihat Sahabat.