Posts

,

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMPURNANYA SHALAT ITU SESUAI RAPAT DAN LURUSNYA SHAF
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan anjuran Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk merapatkan shaf. Di antaranya:
 
1. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan makmumnya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
 
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” [HR. Bukhari 719]
 
2. Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ mengucapkan:
 
سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ
 
”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR. Muslim 433]
 
3. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أقيموا الصَفِّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ
 
Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. [HR. Muslim 435]
 
4. Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
اِسْتَوُّوا وَلَا تَـخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
 
Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.
 
Kata Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas, sambil mengusap pundak-pundak makmum. [HR. Muslim 122]
 
5. Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
 
”Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” [HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani]
 
Makna: “Perlunak pundak kalian untuk saudaranya” adalah hendaknya dia mempemudah setiap orang yang masuk shaf, dengan berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.
 
6. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَتِـمُّوْا الصَّفَّ الـمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيْهِ
 
“Penuhi shaf depan, kemudian shaf berikutnya…” [HR. Abu Daud 671 dan dishahihkan al-Albani]
 
Dan masih terdapat beberapa riwayat lainnya, yang itu semua menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesempurnaan shalat jamaah, yang meliputi lurus dan rapatnya shaf, terpenuhinya shaf terdepan, tidak boleh ada yang berbeda, tidak mengganggu sesama jamaah, dst.
 
Apa Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah?
 
Jumhur Ulama (Mayoritas) berpandangan, bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib. Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
 
“Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian, atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” [HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” [Syarh Muslim, 4: 157]
 
Dalil dari hadis Anas bin Malik:
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
 
“Dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”Luruskanlah shaf kalian. Aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” [HR. Bukhari no. 725]
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #rapatkan, #luruskan, #merapatkan, #meluruskan, #saff, #shaff, #sof, #shoff, #barisan, #jamaah, #berjamaah, #hukum #dalildalil, #perintah, #anjuran, #menganjurkan
,

SUNNAH-SUNNAH JUMAT

SUNNAH-SUNNAH JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNNAH-SUNNAH JUMAT
 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [QS. Al Jumuah: 9]
 
Jumat adalah satu hari di mana Allah mengistimewakannya dengan beberapa hal, sebagaimana dalam hadis:
“Hari terbaik di mana matahari terbit di hari itu adalah Jumat. Di hari itu Adam diciptakan. Di hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam Surga dan juga dikeluarkan dari Surga. Dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada waktu Jumat.” [HR. Muslim]
 
Jumat juga termasuk hari ‘ied (hari raya) pekanan umat Islam, sebagaimana ucapan sahabat ‘Abdullah bin Zubair ketika pernah di masa beliau Idul Fitri jatuh pada waktu Jumat: “Dua hari raya dalam satu waktu.” [HR. Abu Dawud, dinilai Shahih Al Albani]
 
Di hari Jumat, seorang laki-laki Muslim yang telah baligh wajib melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah di masjid. Nabi ﷺ bersabda: “Shalat Jumat berjamaah adalah kewajiban bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan, yaitu budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit” [HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al Albani]
 
Sbagai seorang Muslim yang mengetahui betapa agungnya Jumat, pasti akan bersemangat untuk melaksanakan berbagai macam ibadah yang dituntunkan pada hari ini. Salah satu contoh langka yang mungkin sebagian kaum Muslimin belum tahu adalah membaca surat Al Kahfi.
 
Sunnah-sunnah ibadah yang Nabi ﷺ tuntunkan untuk dikerjakan pada waktu Jumat sangatlah banyak, baik sunnah-sunnah secara umum, maupun terkait khusus bagi laki-laki yang hendak melaksanakan shalat Jumat.
 
Sunnah-Sunnah Secara Umum
 
[1] Memperbanyak Shalawat Nabi ﷺ
 
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah Jumat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku di dalamnya, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” Para sahabat berkata: “Bagaimana ditunjukkan kepadamu, sedangkan engkau telah menjadi tanah?” Nabi ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa-i]
 
[2] Membaca Surat AlKahfi
 
Nabi ﷺ bersabda: 
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada waktu Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” [HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470]
 
[3] Perbanyak Doa
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyebut hari Jumat kemudian berkata: “Pada waktu Jumat itu terdapat satu waktu, yang jika seseorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau ﷺ memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. [HR. Bukhari dan Muslim]
Yang dimaksud dengan detik terakhir dari Jumat adalah saat menjelang Maghrib, yaitu ketika matahari hendak terbenam.
 
[4] Perbanyak Zikir Mengingat Allah
 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah…” [QS. AlJumu’ah: 9]
 
[5] Imam Membaca Surat Assajdah di Rakaat Kesatu dan Surat Alinsan di Rakaat Kedua pada Waktu Shalat Subuh
 
Dari Abu Harairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ biasa membaca pada shalat Subuh pada waktu Jumat “Alif Lam Mim Tanzil …” (Surat As Sajdah) pada rakaat pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani a¸Yiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuuraa” (Surat Al Insan) pada rakaat kedua.” [HR. Muslim]
 
Tapi seorang imam hendaknya tidak memaksakan diri untuk membaca kedua surat tersebut ketika kondisi makmumnya tidak mampu berdiri terlalu lama.
 
Sunnah-Sunnah Terkait Shalat Jumat
 
[1] Mandi Jumat
Di antara hadis yang menyebutkan dianjurkannya mandi pada waktu Jumat adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi pada waktu Jumat, maka ia mandi seperti mandi janabah…” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Sebagian ulama ada yang mewajibkan mandi Jumat dalam rangka kehati-hatian berdasarkan hadis dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi ﷺ bersabda: “Mandi pada waktu Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
 
[2] Membersihkan Diri dan Menggunakan Minyak Wangi
Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi pada waktu Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dirinya, dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya, maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
 
[3] Memakai Pakaian Terbaik
Nabi ﷺ bersabda: “Wajib bagi kalian membeli dua pakaian untuk shalat Jumat, kecuali pakaian untuk bekerja.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinilai Shahih oleh Al Albani]
 
Di dalam hadis ini Nabi ﷺ mendorong umatnya agar membeli pakaian khusus untuk digunakan shalat Jumat.
 
 
[4] Bersegera Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah shalat Jumat.” [HR. Bukhari]
 
Ibnu Hajar Al ‘Asqalani berkata dalam Fathul Bari: “Makna hadis ini, yaitu para shahabat memulai shalat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang. Berbeda dengan kebiasaan mereka pada shalat Zuhur ketika panas. Sesungguhnya para shahabat tidur terlebih dahulu, kemudian shalat ketika matahari telah berkurang panasnya.”
 
[5] Perbanyak Shalat Sunnah Sebelum Khatib Naik Mimbar
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Barang siapa yang mandi kemudian datang untuk shalat Jumat, lalu ia shalat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian shalat bersama imam, maka akan diampuni dosanya mulai Jumat tersebut sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]
 
Hadis di atas juga menunjukkan terlarangnya berbicara saat khatib sedang berkhutbah, dan wajib bagi setiap jamaah untuk mendengarkannya.
 
[6] Shalat Sunnah Setelah Shalat Jumat
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jumat, maka shalatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata: “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” [HR. Muslim, Tirmidzi]
 
Penutup
Demikian sebagian sunnah-sunnah pada waktu Jumat. Semoga kita senantiasa diberikan semangat dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, dan bersegera menjauhi amalan yang tidak pernah beliau ﷺ ajarkan. Wallahul muwaffiq.
 
 
Penulis: Wiwit Hardi P (Alumni Ma’had Al‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman, B.I.S
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sunnahsunnahJumat, #Jumat, #Jumat, #Jumuah, #Jumuah, #shalawat, #sholawat, #adabadabhariJumat, #hariJumat, #dalildalil, #keutamaanJumat, #fadhilahJumat, #sholat, #shalat, #solat, #salat #waktumustajabuntukberdoa, #setelahAsharsebelumMaghrib, #harirayapekanan #solawat #salawat
,

HUKUM PUASA 11 MUHARRAM

HUKUM PUASA 11 MUHARRAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatPuasaNabi
 
HUKUM PUASA 11 MUHARRAM
 
Boleh saja dan sah puasa pada 11 Muharram dengan beberapa alasan:
 
Pertama:
Sebagian ulama menganggap tingkatan puasa yang paling tinggi dari Puasa Asyura adalah berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram (tiga hari sekaligus). Di bawah itu adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram. Di bawah itu adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. Tiga tingkatan ini dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad, 2:72.
 
Kedua:
Jika ragu menentukan awal Muharram, seperti di tahun 1439 H ini, ada yang mengatakan 10 Muharram itu jatuh pada Sabtu, ada yang mengatakan pada Ahad, saiknya puasa saja tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram.
 
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: ”Jika ragu mengenai penentuan hilal awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari sekaligus (hari ke 9, 10, dan 11 Muharram) untuk kehati-hatian.” Ibnu Rajab menyatakan: bahwa Ibnu Sirin juga berpendapat seperti itu. [Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 99]
 
Ketiga:
Berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram masuk ke dalam puasa tiga hari setiap bulannya. Karena puasa tiga hari setiap bulan Hijriyah itu bebas memilih hari apa saja. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
 
“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:
(1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
(2) Mengerjakan shalat Dhuha,
(3) Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari, no. 1178]
 
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
 
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” [HR. Bukhari, no. 1979]
 
Dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah istri Nabi ﷺ:
 
أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ
 
“Apakah Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab: “Iya”. Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, “Pada hari apa beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau tidak memerhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.” [HR. Muslim, no. 1160]
 
Ada juga puasa Ayyamul Bidh, yaitu hari ke13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah yang dianjurkan puasa. Di mana anjurannya seperti hadis berikut ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda padanya:
 
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
 
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” [HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadisnya Hasan]
 
Dari Ibnu Milhan Al-Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ « هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ »
 
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh, yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau ﷺ bersabda: “Puasa Ayyamul Bidh itu seperti puasa setahun.” [HR. Abu Daud, no. 2449 dan An-Nasa’i, no. 2434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Kalau tidak sempat pada tiga hari tersebut, BISA MEMILIH DI HARI LAINNYA dari bulan Hijriyah, bisa memilih 9, 10, dan 11.
 
Keempat:
Kalau tidak sempat berpuasa pada 9 dan 10 Muharram, bisa memilih berpuasa pada 10 dan 11 Muharram, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Umar Al-Muqbil hafizahullah.
 
Kelima:
Berpuasa 9, 10, dan 11 Muharram punya maksud untuk menyelisihi Yahudi.
 
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata: “Yang afdal adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram karena mengingat hadis (Ibnu ‘Abbas): “Apabila aku masih diberi kehidupan tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Jika ada yang berpuasa pada hari kesepuluh dan kesebelas atau berpuasa tiga hari sekaligus (9, 10 dan 11), maka itu semua baik. Semua ini dengan maksud untuk menyelisihi Yahudi.” [Fatwa Syaikh Ibnu Baz, http://www.binbaz.org.sa/noor/4898]
 
Di tempat lain, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz menyatakan: “Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram lebih utama. Adapun berpuasa 10 dan 11 Muharram, itu pun sudah mencapai maksud untuk menyelisihi Yahudi dalam berpuasa.” [Fatwa di web alifta.net]
 
Walau Hadisnya Bermasalah
 
Adapun hadis yang menganjurkan puasa tiga hari sekaligus (9, 10, dan 11 Muharram):
 
صُوْمُوْا يَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ
 
“Berpuasalah pada hari sebelum dan sesudah Asyura.” [HR. Al-Baihaqi, 4:287, sanad hadis ini Dha’if sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 2:72]
 
Namun lima alasan di atas sudah menjadi jawaban akan masih dibolehkannya berpuasa pada 11 Muharram.
 
Wallahu a’lam. Semoga Allah beri taufik dan hidayah. Selamat berpuasa.
 
Referensi:
  • Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al Islami.
  • Zaad Al-Ma’ad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Referensi Web (diakses 29 September 2017):
  • Fatwa Syaikh Ibnu Baz di situs Al-Lajnah Ad-Daimah, 15:404. http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=159&PageNo=1&BookID=12
  • Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. http://www.binbaz.org.sa/noor/4898
  • Status Telegram Syaikh Prof. Dr. ‘Umar Al-Muqbil. https://t.me/dr_omar_almuqbil
 
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
 

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU’AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU'AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatPuasaNabi

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU’AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH
 
Dalill Puasa Senin Kamis:
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
 
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada waktu Senin dan Kamis. Maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih Lighoirihi yaitu Shahih dilihat dari jalur lainnya].
 
Dalil Puasa 9 Muharram (Tasu’ah) dan 10 Muharram (Asyura)
 
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata:
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
 
“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]
 
Nabi ﷺ punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharram (Tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut:
 
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya. Pada saat itu ada yang berkata:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
 
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan:
 
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
 
“Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan:
 
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
 
“Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah keburu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134]
 
Dalil Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 bulan Hijriyah)
 
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
 
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau ﷺ bersabda: “Puasa Ayyamul Bidh itu seperti puasa setahun.” [HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
 
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada Ayyamul Bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” [HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari Tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.

Sumber:

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

AGAMA ADALAH NASIHAT

AGAMA ADALAH NASIHAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#MutiaraSunnah
 
AGAMA ADALAH NASIHAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Daary radhiallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: “الدين النصيحة”. قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: “لله, و لكتابه, و لرسوله, و لأئمة المسلمين, و عامتهم .”
 
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslim, dan bagi kaum Muslim secara umum.” [HR. Muslim]
 
Makna Hadis
 
Al Khaththabi mengatakan: Nasihat adalah sebuah kalimat yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasihat. Dikatakan pula, bahwa kata nasihat diambil dari kalimat
 
نصح الرجل ثوبه إذا خاطه
 
(Seorang laki-laki menjahit pakaiannya).
 
Seseorang yang memberi nasihat diserupakan dengan orang yang menjahit pakaian, karena orang yang memberi nasihat kepada orang lain, pada hakikatnya adalah memperbaiki orang yang dinasihati. Demikian orang yang menjahit baju yang berlubang (ia memperbaiki lubang yang terdapat pada baju tersebut). [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in an nawawiyyah, 183]
 
Syaikh Shalih Alu Syaikh mengatakan, bahwa nasihat dengan makna “Menghendaki kebaikan bagi orang yang dinasihati” adalah makna nasihat berkaitan dengan nasihat untuk para pemimpin kaum Muslim dan kaum Muslim secara umum.
 
Adapun makna nasihat kepada tiga yang pertama (yaitu kepada Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya), maka maknanya jalinan hubungan antara dua hal, di mana yang satu memberikan hak kepada yang lainnya, sehingga tidak ada permusuhan di antara keduanya.
 
Telah diketahui pula, bahwa seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya dengan cara memenuhi seluruh hak-hak-Nya yang merupakan kewajiban seorang hamba. Demikian pula dalam memenuhi hak-hak Alquran maupun hak-hak Rasulullah ﷺ. [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 629-630]
 
Kandungan Hadis
 
Nasihat kepada Allah Subaanahu wa Ta’ala
 
Berkaitan dengan penjelasan di atas, bahwa makna nasihat kepada Allah adalah merapatnya hubungan antara seorang hamba dengan Allah, dengan cara seorang hamba melaksanakan hak-hak Allah, baik itu berupa hak yang wajib maupun mustahab.
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa makna nasihat kepada Allah ta’ala adalah seorang hamba memahami akan keesaan Allah, meng-esakan Allah dalam sifat-sifat yang sempurna tanpa adanya satu pun yang menyerupai-Nya dari segala sisi, melakukan peribadahan kepada-Nya, baik secara zahir maupun batin, selalu merasa harap dan takut disertai dengan selalu bertobat dan istighfar. Hal ini karena sesungguhnya seorang hamba pasti pernah meremehkan sesuatu dari kewajiban-kewajiban yang Allah berikan, atau terkadang seorang hamba terjatuh pada perkara yang diharamkan. Dengan tobat yang sungguh-sungguh dan istighfar yang terus menerus, maka akan menutup kekurangan-kekurangannya, dan akan menyempurnakan perbuatan dan amalnya. [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal Arba’in An Nawawiyyah, 187]
 
Nasihat kepada Kitabullah
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa nasihat kepada Kitabullah adalah dengan menghafalnya dan menadabburinya, mempelajari lafal-lafal dan maknanya, dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan kandungannya. [Asy Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 187]
 
Nasihat kepada Rasul ﷺ
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa nasihat kepada Rasul ﷺ adalah dengan mengimani dan mencintainya, mendahulukannya dibanding dirinya, hartanya maupun anaknya. Ittiba’ (meneladani) para Rasul dalam perkara pokok-pokok agama maupun perkara cabangnya. Mengutamakan perkataan Rasul ﷺ dibanding perkataan manusia lain, dan bersungguh-sungguh dalam mengambil petunjuk dari petunjuk-petunjuknya dan dalam menolong agamanya. [Asy Syarhul Kabiir, 187]
 
Nasihat kepada Pemimpin Kaum Muslim
 
Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan, bahwa nasihat bagi pemimpin kaum Muslim adalah dengan memberikan hak-hak mereka yang telah Allah berikan kepada mereka, yang telah Allah jelaskan dalam kitab-kitab-Nya, maupun yang telah Rasulullah ﷺ jelaskan dalam sunnah beliau. Di antara hak tersebut adalah menaati mereka dalam perkara yang ma’ruf, meninggalkan ketaatan dalam perkara maksiat, berkumpul dengan mereka dalam perkara hak dan petunjuk, dan pada perkara yang kita ketahui tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Dan termasuk nasihat bagi mereka, yaitu memberikan nasihat dengan makna mengingatkan keasalahan-kesalahan mereka. Ibnu Daqiqil ‘id berkata, bahwa bentuk nasihat ini hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Maka jika sudah ada sebagian orang yang melakukannya, maka gugurlah kewajiban yang lainnya. [Asy Syarhul Kabiir, 633].
 
Nasihat kepada Kaum Muslim Secara Umum
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, bahwa bentuk nasihat kepada kaum Muslim secara umum adalah dengan menampakkan kecintaan kepada mereka, menampakkan wajah yang berseri-seri, menebarkan salam, menasihati, saling tolong-menolong dan hal-hal lain yang dapat mendatangkan maslahat dan menghilangkan mafsadat. [Asy-Syarhul Kabiir, 181]
 
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: Ketahuilah, bahwa perkataanmu terhadap salah seorang kaum Muslim tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap seorang pemimpin. Perkataanmu terhadap seorang pembangkang tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap orang yang masih bodoh. Maka, setiap kondisi orang ada perkataan (yang sesuai). Maka, berilah nasihat kepada kaum Muslimin secara umum semampumu. [Asy Syarhul Kabiir, 181]
 
Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun orang-orang yang membacanya.
 
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in
 
***
Artikel Muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: Indonesia Bertauhid

YANG MENCELA BID’AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

YANG MENCELA BID'AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToBidah, #StopBidah, #MutiaraSunnah

YANG MENCELA BID’AH ADALAH LISAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

Jika ada postingan yang membahas larangan bid’ah, selalu muncul komentar ketidaksukaan, seakan larangan bid’ah bukan perkara yang penting dalam agama ini. Dan menganggap larangan perbuatan bid’ah berasal dari seseorang ulama seperti ustadz, syaikh atau seorang imam paham tertentu. Padahal yang mencela bid’ah adalah Nabi Muhammad ﷺ sendiri, sebagaimana disebutkan di banyak hadis.

Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi ﷺ sendiri, sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis berikut ini:

Hadis 1

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadis 2

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadis 3

Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadis 4

Rasulullah ﷺ bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin, yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadis ini Hasan Shahih”)

Hadis 5

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah, sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadis 6

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di Al Haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari Al Haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata: ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman: ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan:

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman: ‘Sungguh engkau tidak tahu, bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah ﷺ mengatakan: “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadis ini beliau berkata: “Hadis-hadis yang menjelaskan orang-orang yang demikian, yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya, namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan, setiap orang yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridai Allah, itu tidak termasuk jamaah kaum Muslimin. Seluruh Ahlul Bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zalim dan ahli maksiat. Mereka bertentangan dengan Al Haq. Orang-orang yang melakukan itu semua, yaitu mengganti (ajaran agama), dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam, termasuk dalam bahasan hadis ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadis 7

Rasulullah ﷺ bersabda:

انَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh di antara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah’”. Beliau ﷺ mengatakannya tiga kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadis Shahihah, 2864)

 

Referensi dari “Hadis-hadis bid’ah”, karya Yulian Purnama di web Muslim.or.id

, ,

DALIL-DALIL KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

DALIL-DALIL KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan

DALIL-DALIL KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

Allah ta’ala berfirman:

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqoroh: 183]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangs iapa sholat di malam Lailatul Qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman: Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api Neraka. Dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” [HR. Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 4308]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Sebab orang yang berpuasa itu telah meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku’. Dan bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari aroma kasturi.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu, hendaklah ia segera menikah, karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sungguh di Surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan, yang akan dimasuki di Hari Kiamat oleh orang-orang yang berpuasa, tidak ada seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka. Dikatakan (pada Hari Kiamat): Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka pun bangkit (untuk masuk Surga melalui pintu Ar-Royyan), tidak seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka, apabila mereka telah masuk pintu tersebut ditutup, maka tidak seorang pun yang bisa masuk darinya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad As-Saa’idi radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Amalan puasa dan membaca Alquran akan memberi syafaat bagi seorang hamba di Hari Kiamat. Amalan puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Dan amalan membaca Alquran berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1429]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” [HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1797]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

📝 MAKNA, HUKUM, HIKMAH DAN KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN✅ Pertama: Makna PuasaPuasa (الصوم) maknanya secara bahasa adalah…

Posted by Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info on Friday, May 26, 2017

http://sofyanruray.info/makna-hukum-keutamaan-dan-hikmah-puasa-Ramadhan/

 

,

MAKNA, HUKUM, HIKMAH DAN KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

MAKNA, HUKUM, HIKMAH DAN KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi

MAKNA, HUKUM, HIKMAH DAN KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

Pertama: Makna Puasa

Puasa (الصوم) maknanya secara bahasa adalah menahan (الإمساك). [Lihat Lisaanul Arab, 12/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 6]

Adapun maknanya secara istilah adalah:

هو التعبد لله تعالى بالإمساك بنية: عن الأكل، والشرب، وسائر المفطرات، من طلوع الفجر الثاني إلى غروب الشمس، من شخص مخصوص، بشروط مخصوصة

“Ibadah kepada Allah ta’ala yang disertai niat, dengan menahan diri dari makan, minum dan seluruh pembatal puasa, sejak terbit fajar kedua sampai terbenam matahari, yang dilakukan oleh orang yang tertentu, dengan syarat-syarat yang tertentu.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 8]

Penjelasan Ringkas Makna Puasa:

1) Puasa adalah ibadah kepada Allah ta’ala yang disertai niat, yaitu niat karena Allah ta’ala dan niat jenis puasanya, apakah wajib, sunnah, dan lain-lain.

2) Menahan diri dari makan, minum dan seluruh pembatal puasa. Yaitu tidak melakukan pembatal-pembatal puasa tersebut, sebagaimana akan datang rinciannya insya Allah.

3) Sejak terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Yaitu sejak masuk waktu shalat Subuh sampai masuk waktu shalat Maghrib.

4) Yang dilakukan oleh orang yang tertentu, yaitu Muslim, baligh, berakal, mampu, mukim dan tidak memiliki penghalang-penghalang, sebagaimana akan datang penjelasannya lebih detail insya Allah.

5) Syarat-syarat yang tertentu, yaitu syarat-syarat puasa menurut syariat, yang insya Allah akan datang pembahasannya lebih terperinci.

Kedua: Hukum Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam, dan hukumnya wajib berdasarkan dalil Alquran, As-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan seluruh ulama). [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/298]. Allah ta’ala berfirman:

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang telah ditentukan. Maka siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (orang tua dan orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya, yang tidak mampu berpuasa, jika mereka tidak berpuasa) wajib membayar fidyah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin (untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan). Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqoroh: 183-185]

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima rukun: Syahadat Laa ilaaha illallaah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan dan berhaji ke Baitullah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan lafaz ini milik Muslim]

Adapun ijma’, maka para ulama kaum Muslimin seluruhnya telah sepakat atas wajibnya puasa Ramadan, juga sepakat atas kafirnya orang yang mengingkari atau menentang kewajibannya, kecuali orang bodoh yang baru masuk Islam, maka ketika itu hendaklah ia diajari. Apabila ia terus mengingkari atau menentang, maka ia kafir dan wajib dihukum mati oleh pemerintah sebagai orang yang murtad, karena ia menolak satu kewajiban yang ditetapkan dengan dalil Alquran, As-Sunnah dan ijma’, yang termasuk kategori ma’lum min-addin bid-daruroh (sesuatu yang diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti). [Lihat Al-Mughni, 4/324, Maraatibul Ijma’, 70, At-Tamhid, 2/148, Al-Ijma’ libni Abdil Barr, hal. 126 dan Al-Ijma’ libnil Mundzir, hal. 52, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 51]

Sekilas Sejarah Tahapan Diwajibkannya Puasa

Puasa disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah, dan Rasulullah ﷺ berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadan. Adapun tahapan diwajibkannya:

Pertama: Diwajibkan pertama kali dalam bentuk boleh memilih, apakah berpuasa atau memberi makan setiap satu hari satu orang miskin, dan disertai motivasi untuk berpuasa.

Kedua: Diwajibkan berpuasa, dengan aturan, bahwa apabila orang yang berpuasa tertidur sebelum berbuka, maka haram atasnya berbuka sampai malam berikutnya.

Ketiga: Diwajibkan berpuasa, dimulai sejak terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Inilah yang berlaku sampai Hari Kiamat.

Di antara hikmah penahapan kewajibannya yang dimulai dari kebolehan memilih, apakah mau berpuasa atau memberi makan setiap satu hari satu orang miskin, adalah agar syariat puasa lebih mudah diterima oleh jiwa manusia. Maka pada akhirnya puasa diwajibkan, dan bagi yang tidak mampu boleh menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan setiap satu hari yang ditinggalkan kepada satu orang miskin. [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/298-299 dan Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 51-55]. Insya Allah akan datang pembahasan tentang fidyah lebih detail.

Ketiga: Hikmah Puasa

Di antara hikmah dan manfaat ibadah puasa adalah: [Diringkas secara makna disertai tambahan dari Kitab Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 27-30]:

  • 1) Puasa adalah sarana menggapai ketakwaan.
  • 2) Puasa adalah sarana mensyukuri nikmat.
  • 3) Puasa melatih diri untuk mengekang jiwa, melembutkan hati dan mengendalikan syahwat.
  • 4) Puasa memfokuskan hati untuk berzikir dan berfikir tentang keagungan dan kebesaran Allah.
  • 5) Puasa menjadikan orang yang kaya semakin memahami besarnya nikmat Allah kepadanya
  • 6) Puasa memunculkan sifat kasih sayang dan lemah lembut terhadap orang-orang miskin.
  • 7) Puasa menyempitkan jalan peredaran setan dalam darah manusia.
  • 8) Puasa melatih kesabaran dan meraih pahala kesabaran tersebut. Karena dalam puasa terdapat tiga macam kesabaran sekaligus, yaitu sabar menghadapi kesulitan, sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya.
  • 9) Puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan.
  • 10) Hikmah puasa terbesar adalah penghambaan kepada Allah tabaraka wa ta’ala dan peneladanan kepada Rasulullah ﷺ.

Keempat: Keutamaan Puasa

Di antara keutamaan ibadah puasa adalah:

  • 1) Puasa adalah jalan meraih ketakwaan.
  • 2) Puasa adalah sebab dosa-dosa diampuni, apabila dikerjakan berdasar iman, ikhlas, serta meneladani Rasulullah ﷺ.
  • 3) Pahala puasa melimpah ruah, apabila dilakukan sesuai dengan adab-adabnya.
  • 4) Puasa adalah perisai dari perbuatan yang haram.
  • 5) Puasa adalah perisai dari api Neraka.
  • 6) Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari aroma kasturi.
  • 7) Meraih dua kebahagiaan dengan puasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa dengan Allah tabaraka wa ta’ala.
  • 8) Masuk Surga dari pintu khusus yang bernama Ar-Royyan.
  • 9) Berpuasa dan membaca Alquran adalah dua amalan yang akan memberi syafaat bagi pemiliknya di Hari Kiamat.
  • 10) Doa orang yang berpuasa tidak akan ditolak.

Kelima: Dalil-dalil Keutamaan Puasa Ramadan

Allah ta’ala berfirman:

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqoroh: 183]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa shalat di malam Lailatul Qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَف الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Sebab orang yang berpuasa itu telah meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku’. Dan bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari aroma kasturi.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman: Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api Neraka. Dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” [HR. Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 4308]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu hendaklah ia segera menikah, karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sungguh di Surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan, yang akan dimasuki di Hari Kiamat oleh orang-orang yang berpuasa, tidak ada seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka. Dikatakan (pada Hari Kiamat): Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka pun bangkit (untuk masuk Surga melalui pintu Ar-Royyan), tidak seorang pun yang bisa masuk darinya selain mereka, apabila mereka telah masuk pintu tersebut ditutup, maka tidak seorang pun yang bisa masuk darinya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad As-Saa’idi radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ

“Amalan puasa dan membaca Alquran akan memberi syafaat bagi seorang hamba di Hari Kiamat. Amalan puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Dan amalan membaca Alquran berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1429]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” [HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1797]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

—————————

 

Sumber: http://sofyanruray.info/makna-hukum-keutamaan-dan-hikmah-puasa-Ramadan/

 

, , , ,

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

Oleh: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Para ulama sepakat, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan, pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah. [Kesepakatan ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’:42]

Dan yang terjadi PERSELISIHAN di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan, pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama: mengatakan, bahwa tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani. Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang pendapat beliau. [Dalam satu riwayat Malik mengatakan: diangkat tangan pada awal takbir dalam shalat jenazah. Dalam riwayat lain beliau mengatakan: Aku senang agar kedua tangan diangkat pada empat kali takbir. (Al-Mudawwanatul Kubra: 176)]

Pendapat kedua: mengatakan, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin Umar, Umar bin Abdil Aziz, Atha’, Yahya bin Sa’id, Qais bin Abi Hazim, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi ﷺ. [Lihat: Al-Mughni,Ibnu Qudamah: 2/373,Jami’ At-Tirmidzi: 3/388, Al-Muhalla, Ibnu Hazm:5/124, Nailul Authar: 4:105, Al-Majmu’, An-Nawawi: 5/136, Al-Mudawwanatul Kubra, Imam Malik:176. Ahkamul Janaiz, Al-Albani:148. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi:4/44. Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Al-Baihaqi (3/169). Al-Umm,Asy-Syafi’i:1/271, Al-Hawi Al-Kabir (3/55)]

Kesimpulan:

Dari pemaparan dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh masing-masing pendapat (untuk lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html), tampak bagi kita sekalian, bahwa riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama tidak satu pun yang shahih, namun berada di antara lemah dan sangat lemah sekali. Sementara riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, telah shahih datang dari beberapa sahabat Nabi ﷺ, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dalam hal ini, sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Faidah:

Telah ditanya Samahatusy Syekh Bin Baaz rahimahullah tentang mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah bersaman dengan takbir-takbir, apakah termasuk sunnah?

Maka beliau menjawab:

السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدارقطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد.

(مجموع فتاوى ابن باز:13؟148)

Beliau menjawab: “Yang sunnah adalah mengangkat kedua tangan bersamaan dengan empat takbir seluruhnya, berdasarkan (riwayat) yang shahih dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, bahwa keduanya mengangkat (kedua tangannya) bersama dengan seluruh takbir. Diriwayatkan (oleh) Ad-Daruquthni secara marfu’ dari hadis Ibnu Umar dengan sanad yang bagus.” [Majmu’ Fatawa Bin Baaz: 13/148]

Ini juga menjadi jawaban dari Lajnah da’imah, dalam fatwanya dinyatakan:

تجوز صلاة الجنازة بدون رفع اليدين؛ لأن الواجب فيها التكبيرات وقراءة الفاتحة والدعاء للميت والسلام، ولكن رفع اليدين هو السنة في جميع التكبيرات.وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس

عبدالله بن قعود، عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز

(فتاوى اللجنة:2514)

“Boleh shalat jenazah tanpa mengangkat kedua tangan, sebab yang wajib padanya adalah bertakbir dengan beberapa kali takbir, membaca al-Fatihah, berdoa untuk si mayyit, dan mengucapkan salam. Namun mengangkat kedua tangan adalah hal yang sunnah pada seluruh takbir, dan taufiq hanya milik Allah. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, para pengikutnya, dan para shahabat.”

  • Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
  • Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi
  • Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
  • Anggota: Abdullah bin Qu’ud. [Fatawa Al-Lajnah no: 2514

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Apakah termasuk dari sunnah, mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat jenazah?

Beliau menjawab:

نعم من السنة,أن يرفع الإنسان يديه عند كل تكبيرة في صلاة الجنازة كما صح ذلك عن عبد الله بن عمر ولأن رفع اليدين في صلاة الجنازة بمنزلة الركوع والسجود في الصلوات الأخرى ,الصلوات الأخرى تشتمل على فعل وقول ,صلاة الجنازة أيضا تشتمل على فعل وقول ,فكونك ترفع في الأولى وتسكت معناه لم تميز في الذكر بين التكبيرة الأولى والتكبيرة الثانية,ولذلك قد دل الأثر والنظر على أن صلاة الجنازة ترفع فيها الأيدي عند كل تكبيرة

“Iya, termasuk dari sunnah seseorang mengangkat kedua tangannya, pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah, sebagaimana yang telah shahih hal itu dari Abdullah bin Umar. Dan karena mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah kedudukannya seperti ruku’ dan sujud pada shalat-shalat yang lain, shalat-shalat yang lain mencakup perbuatan dan perkataan, shalat jenazah juga mencakup perbuatan dan perkataan. Maka ketika engkau mengangkat pada takbir pertama lalu engkau diam, maka maknanya engkau tidak memisahkan dalam zikir antara takbir pertama dengan takbir kedua. Oleh karenanya, telah ditunjukkan oleh atsar maupun pandangan, bahwa shalat jenazah diangkat kedua tangan pada setiap kali takbir.” [Silsilah Liqa’ al-bab al-Maftuh, kaset no:179, set kedua]

Sumber: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html

,

SIAPAKAH PARA ULAMA? BAGAIMANA SIFAT-SIFATNYA?

SIAPAKAH PARA ULAMA? BAGAIMANA SIFAT-SIFATNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah
#NasihatUlama

SIAPAKAH PARA ULAMA? BAGAIMANA SIFAT-SIFATNYA?

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang keutamaan para ulama, dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Mereka itulah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:

“Sifat-sifat para ulama yang pantas dijadikan sebagai ikutan dan suri teladan, ialah orang-orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, serta mengikuti diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

Orang-orang yang pantas dijadikan suri teladan adalah orang-orang yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh (pada dirinya). Orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, tidak boleh diikuti. Demikian pula orang jahil yang tidak berilmu, tidak boleh diikuti.

Tidak boleh diikuti dan diteladani, kecuali orang yang mengumpulkan dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh. Adapun orang yang berilmu dan tidak sengaja berbuat salah atau menyimpang dalam perjalanan atau pemikirannya, maka pantas diambil ilmunya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 251)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata:

“Orang alim adalah orang yang ada pada dirinya sifat-sifat berikut ini:

  • Mengikuti segala sesuatu yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah,
  • Mengaitkan pemahamannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf ash-shalih,
  • Komitmen dengan ketaatan dan jauh dari kefasikan, maksiat, dan dosa-dosa,
  • Menjauhkan dirinya dari bid’ah, kesesatan, kebodohan, dan mentahdzir (umat) darinya,
  • Mengembalikan (dalil-dalil) yang Mutasyabih (samar) kepada yang Muhkam (jelas pengertiannya) dan tidak mengikuti (dalil-dalil) yang Mutasyabih itu,
  • Khusyuk dan tunduk terhadap perintah Allah,
  • Ahli Istinbath (mengambil kesimpulan hukum dari dalil) dan memahaminya. (Syarh Qaul Ibni Sirin, 116—117)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?” Oleh:  Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan hafizahullah dari website: http://asysyariah.com/siapakah-yang-berhak-diambil-ilmunya/