Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Yang Tidak Melagukan Alquran, Tercelakah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Kalau tidak membaguskan bacaan Alquran atau tidak melagukannya, apakah tercela? Apa syaratnya jika boleh melagukan Alquran?

Hadis berikut barangkali bisa jadi renungan. Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘Yataghonna bil Qur’an’ adalah:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Sedangkan menurut Sufyan bin ‘Uyainah, yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Ada yang katakan pula, yang dimaksud adalah mencukupkan Alquran dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Alquran dari hadis dan berbagai kitab lainnya.

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan, bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama Syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah memerindah dan memerbagus bacaan Alquran. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadis lainnya:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Baguskanlah suara bacaan Alquran kalian.” [HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih].

Al Harawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud Yataghonna bil Quran adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya, karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadis lainnya: “Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “Yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Alquran. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “Yataghonna bil qur’an adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami ,orang yang tidak memerindah bacaan Alquran adalah ditafsirkan dengan dua makna:

  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran
  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Alquran dari selainnya. [‘Aunul Ma’bud, 4: 271].

Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran.

Namun aturan dalam melagukan Alquran harus memenuhi syarat berikut:

  • Tidak dilagukan dengan keluar dari kaidah dan aturan Tajwid.
  • Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
  • Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. [Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472]

Wallahu a’lam. Wabillahit taufiq was sadaad.

 

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/10711-yang-tidak-melagukan-Alquran-tercelakah.html

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TAUHID ADALAH MISI DAKWAH SELURUH NABI DAN RASUL ‘ALAIHIMUSSALAAM

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Tauhid adalah awal dakwah para rasul, landasan pertama dalam perjalanan, dan awal pijakan bagi orang yang menuju Allah subhanahu wa ta’ala.

  • Allah ta’ala berfirman (tentang Nabi Nuh ‘alaihissalaam):

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat).” [Al-A’raf: 59]

  • Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 65)

  • Nabi Shalih ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” [Al-A’raf: 73]

  • Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah saja. Sekali-kali tak ada Sesembahan yang benar bagimu selain-Nya.” [Al-A’raf: 85]

  • Dan Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” [An-Nahl: 36]

Tauhid adalah Misi Dakwah Nabi ﷺ dan Sahabat Radhiyallahu’anhum

Maka tauhid adalah kunci dakwah para rasul. Oleh karena itu Nabi ﷺ berpesan kepada utusan beliau (untuk berdakwah di Negeri Yaman), Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ: عِبَادَةُ اللَّهِ وَحْدَهُ، فَإِذَا شَهِدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab. Maka hendaklah pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah yang satu saja. Apabila mereka telah bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka kabarkan kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk sholat lima waktu dalam sehari semalam…” [Muttafaq ‘alaih]

Dan Nabi ﷺ bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” (Muttafaq ‘alaihi)

  • Oleh karena itu yang benar adalah, awal kewajiban yang ditetapkan atas mukallaf adalah persaksian, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, bukan meneliti, bukan pula bermaksud meneliti. Tidak diragukan lagi bukan itu, seperti ucapan-ucapan Ahlul Kalam (Ahli Filsafat) yang tercela.
  • Maka tauhid adalah pintu pertama untuk masuk ke dalam Islam, dan pintu terakhir untuk keluar dari dunia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa akhir ucapannya “Laa ilaaha illallah” ia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud, Shahihul Jaami’: 6470]

Maka tauhid adalah kewajiban pertama dan kewajiban terakhir; awal perkara dan akhirnya.” [Madaarijus Saalikin, 3/411-412]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/763881430428008:0

, , ,

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#StopBidah
#KajianSunnah

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

Di antara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami, bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah melarang puasa Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak. Dan tidak jarang kesalahan memahami tersebut ditambah dengan kesalahan berikutnya yang lebih besar, yaitu menjelek-jelekan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan memberi gelar “Wahabi” dan gelar-gelar lainnya yang mereka anggap jelek.

Padahal yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis khusus tentang puasa Rajab adalah para ulama yang hidup jauh sebelum Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Bahkan ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, yaitu Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah memiliki buku khusus yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut, yang beliau beri judul “Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab”.

Dan kesalahan tersebut berasal dari kesalahan memahami ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ucapan para ulama Ahlus Sunnah lainnya yang semisal, tentang hadis-hadis puasa Rajab secara khusus. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) berkata:

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh hadisnya LEMAH, bahkan PALSU. Tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya. Dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan beramal). Bahkan seluruhnya termasuk hadis palsu lagi dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290-291]

Sebagian orang menyangka, bahwa beliau melarang puasa Rajab secara mutlak dan membid’ahkannya, sebagai jawaban atas kesalahpamahaman ini:

Pertama: Beliau hanyalah menjelaskan, bahwa hadis-hadis khusus yang berbicara tentang puasa Rajab dan keutamaannya adalah lemah dan palsu, sebagai peringatan untuk tidak menyebarkannya, karena Rasulullah ﷺ telah memeringatkan dengan keras sekali:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di Neraka.” [Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menyampaikan hadis atas namaku, padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

Dan bukan hanya beliau yang menjelaskan kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut. Masih banyak ulama Ahli Hadis yang lainnya yang menjelaskannya, di antaranya:

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Dan semua hadis yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif: 170]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada satu hadis Shahih pun yang berbicara tentang keutamaan Rajab, tidak pula puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab: 11]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

 

📙 SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ🚧 Diantara…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 5 April 2017

 

 

Terkait:

 

🌙 ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB?بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 27 Maret 2017

 

 

 

,

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

Takhrij Hadis

Hadis ini Shahih diriwayatkan oleh: Al-Bukhari (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abu Dawud (no. 4797), Ibnu Majah (no. 4183), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayalisi (no. 655), dan Ibnu Hibban (no. 606-at-Ta’liqatul Hisan).

Penjelasan Hadis

A. Pengertian Malu

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. [Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala’ (hal. 53)]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat, bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhur. Hidup dan matinya hati seseorang sangat memengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullah berkata: “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran, sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan, dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’” [Madarijus Salikin (II/270). Lihat juga Fathul Bari (X/522) tentang definisi malu]

Kesimpulan definisi di atas ialah, bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat, serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain. [Lihat al-Haya’ fi Dhau-il Qur-anil Karim wal Ahadis ash-Shahihah (hal. 9)]

B. Keutamaan Malu

  1. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan sifat-sifat yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Sahabat ‘Imran bin Husain]

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

  1. Malu Adalah Cabang Keimanan

Rasulullah ﷺ bersabda:

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha illallah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” [Shahih: HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abu Dawud (no. 4676), an-Nasa-i (VIII/110) dan Ibnu Majah (no. 57), dari Sahabat Abu Hurairah. Lihat Shahihul Jami’ ash-Shaghir (no. 2800)]

 

  1. Allah ﷻ Cinta Kepada Orang-Orang Yang Malu

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Pemalu, Maha Menutupi. Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.” [Shahih: HR.Abu Dawud (no. 4012), an-Nasa-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la]

  1. Malu Adalah Akhlak Para Malaikat

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para malaikat merasa malu kepadanya.” [ Shahih: HR.Muslim (no. 2401)]

  1. Malu Adalah Akhlak Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahih: HR.Ibnu Majah (no. 4181) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir (I/13-14) dari Sahabat Anas bin Malik. Lihat Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah (no. 940)]

  1. Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat

Ada salah seorang sahabat radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu, dan ia berkata kepadanya: “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abu Dawud (no. 4795), at-Tirmidzi (no. 2516), an-Nasa-i (VIII/121), Ibnu Majah (no. 58), dan Ibnu Hibban (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullah berkata: “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman, yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bari (X/522)]

  1. Malu Senantiasa Seiring dengan Iman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah yang Lainnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.” [Shahih: HR.al-Hakim (I/22), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhib wat Tarhib (no. 3827), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3200)]

  1. Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

[“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga. Dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” Shahih: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzi (no. 2009), Ibnu Hibban (no. 1929-Mawarid), al-Hakim (I/52-53) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah (no. 495) dan Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3199)]

C. Malu Adalah Warisan Para Nabi Terdahulu

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalimat kenabian terdahulu…”

Maksudnya, ini sebagai hikmah kenabian yang sangat agung, yang mengajak kepada rasa malu, yang merupakan satu perkara yang diwariskan oleh para Nabi kepada manusia generasi demi generasi, hingga kepada generasi awal umat Nabi Muhammad ﷺ . Di antara perkara yang didakwahkan oleh para Nabi terdahulu kepada hamba Allah ﷻ adalah berakhlak malu. [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/497) dan Qawa’id wa Fawa-id (hal. 179-180). Cet. I Dar Ibni Hazm]

Sesungguhnya sifat malu ini senantiasa terpuji, dianggap baik, dan diperintahkan serta tidak dihapus dari syariat-syariat para nabi terdahulu. [Lihat Syarh al-Arba’in (hal. 83) karya Ibnu Daqiq al-‘Ied]

D. Rasulullah ﷺ Adalah Sosok Pribadi Yang Sangat Pemalu

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi, kecuali bila kamu diizinkan untuk makan, dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). Tetapi jika kamu diundang, maka masuklah. Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memerpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. [al-Ahzab/ 33:53]

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi ﷺ lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” [ Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6119)]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah ﷻ sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharizah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi ﷺ memiliki dua jenis malu ini. Akan tetapi sifat tabiat beliau ﷺ lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.” [Fathul Bari (X/522)]

E. Makna Perintah Untuk Malu dalam Hadis Ini

Sabda Rasulullah ﷺ: “Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.”

Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran dari perintah dalam hadis ini, di antaranya:

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Peringatan dan Ancaman

Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di Akhirat, atau kedua-duanya. Seperti firman Allah ﷻ:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Perbuatlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Fushilat/41:40]

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Penjelasan

Maksudnya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang memunyai rasa malu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

“Barang siapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 110), Muslim (no. 30), dan selainnya dengan sanad Mutawatir dari banyak para sahabat]

Sabda beliau ﷺ di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan, bahwa barang siapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/498) dan Qawa’id wa Faawaid (hal. 180)]

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Pembolehan

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah ﷻ dan manusia, maka lakukanlah. Jika tidak, maka tinggalkanlah.” [Fathul Bari (X/523)]

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat Jumhur Ulama. [Lihat Madarijus Salikin (II/270)]

F. Malu Itu Ada Dua Jenis

  1. Malu Yang Merupakan Tabiat dan Watak Bawaan

Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah ﷻ kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37)]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrah bin ‘Abdullah al-Hakami berkata: “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/501)]

  1. Malu Yang Timbul Karena Adanya Usaha

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullah (mengenal Allah ﷻ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah ﷻ sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabiat maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat, sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk, yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah ﷻ. [Lihat Qawa’id wa Fawa-id (hal. 181)]

Dahulu, orang-orang Jahiliyyah, yang berada di atas kebodohannya, sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang buruk, karena dicegah oleh rasa malunya. Di antara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan ketika bersama Heraklius, ketika ia ditanya tentang Rasulullah ﷺ., Abu Sufyan berkata:

فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ.

“Demi Allah ﷻ, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Rasulullah ﷺ).” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 7)]

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah ﷺ, karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta.

G. Konsekuensi Malu Menurut Syariat Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barang siapa yang menginginkan kehidupan Akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barang siapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu. [Hasan: HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hakim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 935)]

H. Malu Yang Tercela

Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang lainnya mengatakan: “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak, bukanlah malu yang disyariatkan. Bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu, karena menyerupai malu yang disyariatkan.” [Fathul Bari (X/522)]. Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah ﷻ, sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum Muslimin, adalah tercela, karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. [Lihat Qawa’id wa Fawaid (hal. 182)]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syari, malu mengaji, malu membaca Alquran, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjamaah di masjid bersama kaum Muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syari, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela, karena akan menghalanginya memeroleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata:

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu. [Atsar Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara Muallaq dalam Shahih-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Haya’ fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jami’ bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879)]

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshar:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memerdalam ilmu Agama. [Atsar Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya kitab al-‘Ilmu bab al-Haya’ fil ‘Ilmi secara Muallaq]

Para wanita Anshar radhiyallahu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah ﷺ, jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah ﷺ! Sesungguhnya Allah ﷻ tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mimpi (berjima’)?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Apabila ia melihat air.”[Shahih: HR.al-Bukhari (no. 130) dan Muslim (no. 313)].

Maksud hadis ini ialah, wajib bagi laki-laki dan wanita mandi janabat, apabila ia mimpi jima’ (bersetubuh) lalu keluar mani. Apabila ia mimpi jima’ tetapi tidak keluar mani, maka tidak wajib mandi. Adapun jika suami-istri jima’ (bersetubuh), keduanya wajib mandi, meskipun tidak keluar mani.

I. Wanita Muslimah dan Rasa Malu

Wanita Muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Di dalamnya kaum Muslimin bekerjasama untuk memakmurkan bumi, dan mendidik generasi dengan kesucian fitrah kewanitaan yang selamat. Alquranul Karim telah mengisyaratkan, ketika Allah ﷻ menceritakan salah satu anak perempuan dari salah seorang bapak dari suku Madyan. Allah ﷻ berfirman:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa, salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu. Dia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami)…” [Al-Qashash/28: 25]

Dia datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki; tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, dan tidak merangsang. Namun, walau malu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetail, tidak grogi dan tidak terbata-bata. Semua itu timbul dari fitrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus merasa malu dengan fitrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya. Tetapi karena kesuciannya dan keistiqamahannya, dia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia berbicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.

Adapun wanita yang disifati pada zaman dahulu sebagai wanita yang suka keluyuran, adalah wanita yang pada zaman sekarang disebut sebagai wanita tomboy, membuka aurat, tabarruj (bersolek), campur baur dengan laki-laki tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan syariat. Maka wanita tersebut adalah wanita yang tidak dididik oleh Alquran dan adab-adab Islam. Dia mengganti rasa malu dan ketaatan kepada Allah dengan sifat lancang, maksiat, dan durhaka. Merasuk ke dalam dirinya, apa-apa yang diinginkan musuh-musuh Allah, berupa kehancuran dan kebinasaan di dunia dan Akhirat. [Lihat al-Wafi fi Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah (hal. 153)] Nas-alullaah as-salaamah wal ‘aafiyah.

Setiap suami atau kepala rumah tangga wajib berhati-hati, dan wajib menjaga istri dan anak-anak perempuannya, agar tidak mengikuti pergaulan dan mode-mode yang merusak dan menghilangkan rasa malu, seperti terbukanya aurat, bersolek, berjalan dengan laki-laki yang bukan mahram, ngobrol dengan laki-laki yang bukan mahram, pacaran, dan lain-lain. Para suami dan orang tua wajib mendidik anak-anak perempuan mereka di atas rasa malu, karena rasa malu adalah perhiasan kaum wanita. Apabila ia melepaskan rasa malu itu, maka semua keutamaan yang ada padanya pun ikut hilang.

J. Buah Dari Rasa Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa’ (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata: “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Di antara berkah mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu, adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu, berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah, dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup. [Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala’ (hal. 55)]

Beliau melanjutkan: “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya, maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya. Siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia. Siapa yang dibenci manusia, pasti ia akan disakiti. Siapa yang disakiti, pasti akan bersedih. Siapa yang bersedih, pasti memikirkannya. Siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya, dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu. Tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya ,dan berucap apa saja yang disukainya.”

Fawaid Hadis

  1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.
  2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyariatkan oleh para Nabi terdahulu.
  3. Hadis ini menunjukkan, bahwa malu itu seluruhnya baik. Barang siapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barang siapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
  4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
  5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
  6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
  7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa’ (setia).
  8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
  9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
  10. Allah ﷻ Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
  11. Rasulullah ﷺ adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
  12. Malaikat memunyai sifat malu.
  13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok). Ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya, serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.

Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan. [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abu Hurairah Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abu Hurairah]

  1. Para orang tua wajib menanamkan rasa malu kepada anak-anak mereka.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

[Artikel: manhaj.or.id]

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/hadits/837-jika-engkau-tidak-malu,-berbuatlah-sesukamu

,

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

Tahdzir Adalah Tanda Cinta Yang Hakiki

Di antara tugas penting seorang da’i Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para da’i sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang da’i sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij, yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memrovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Jawaban Syubhat: Jika Pemerintah Membolehkan Demo, Maka Menjadi Boleh

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya, lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]

Petuah Rasulullah ﷺ di dalam hadis yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. Tatkala seseorang berkata kepada sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma:

أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya)? Maka ia berkata: “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memerdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya, ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafal ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قوله قد كلمته ما دون أن افتح بابا أي كلمته فيما أشرتم إليه لكن على سبيل المصلحة والأدب في السر بغير ان يكون في كلامي ما يثير فتنة أو نحوها

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu): “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, TANPA ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

فالنصح يكون بالأسلوب الحسن والكتابة المفيدة والمشافهة المفيدة , وليس من النصح التشهير بعيوب الناس , ولا بانتقاد الدولة على المنابر ونحوها , لكن النصح أن تسعى بكل ما يزيل الشر ويثبت الخير بالطرق الحكيمة وبالوسائل التي يرضاها الله عز وجل

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan, dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridai Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata:

ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة , وذكر ذلك على المنابر; لأن ذلك يفضي إلى الفوضى وعدم السمع والطاعة في المعروف , ويفضي إلى الخوض الذي يضر ولا ينفع , ولكن الطريقة المتبعة عند السلف : النصيحة فيما بينهم وبين السلطان , والكتابة إليه , أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير

“Bukan termasuk Manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar. Sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]

Maka menasihati pemerintah secara terang-terangan melalui demo atau yang lainnya MENYELISIHI petunjuk Rasulullah ﷺ, sedang ketaatan kepada pemerintah hanyalah dalam perkara yang ma’ruf, bukan yang menyelisihi syariat.

  1. Berdemo juga termasuk tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir. Apakah jika pemerintah membolehkannya lalu menjadi halal?!

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar, bahwa sarana-sarana, jika tidak menyelisihi syariat, maka hukum asalnya mubah, ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana, jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang; metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam, tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan iqomatul hujjah (penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah), ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas, kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat, karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan perubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar, akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

  1. Fakta dan realita di negeri-negeri yang membolehkan demo telah memunculkan berbagai macam kemudaratan. Sebagian orang menuduh ulama Ahlus Sunnah di Saudi atau di negeri lain sebagai orang-orang yang tidak tahu realita di lapangan, padahal merekalah yang menutup mata terhadap fakta dan realita berbagai macam kemudaratan akibat demo.

Beberapa Dampak Buruk Demonstrasi

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin [lihat Fathul Bari, 13/51-52]
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya [lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619]
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah Muslim [lihat Umdatul Qaari, 22/33]
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik [lihat Haqqur Ro’i, hal. 27]
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya [lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99]
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa [lihat Fathul Bari, 13/52]
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij [lihat Syarah Muslim, 18/118]
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa Muslim [lihat As-Sailul Jarror, 4/556]
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya [lihat Madarikun Nazhor, hal.211]
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.

Untuk Saudaraku Yang Di-Bully Karena Men-Tahdzir Pelaku dan Pendukung Demo

Inilah fenomena saat ini. Karena sudah terlanjur cinta, maka tidak rela kalau tokohnya di-tahdzir. Walau salah harus tetap dibela, tak peduli lagi walau harus mem-bully orang yang dianggap sebagai lawannya. Maka bagi seorang da’i Ahlus Sunnah, janganlah takut kepada manusia yang akan menjatuhkan kehormatannya. Tetap suarakan kebenaran. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang sifat orang-orang yang Dia cintai di antaranya adalah:

وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ

“Dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [Al-Maidah: 54]

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

“Perhatikanlah. Janganlah rasa segan kepada manusia yang menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 168]

Al-Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata:

لو أن العلماء تركوا الذب عن الحق خوفاً من كلام الخلق لكانوا قد : أضاعوا كثيراً ، وخافوا حقيراً

“Andaikan ulama tidak membela kebenaran karena takut kepada celaan makhluk, maka sesungguhnya mereka telah menyia-nyiakan sesuatu yang mulia, dan takut kepada sesuatu yang remeh.” [Al-‘Awaashim wal Qowaashim, 1/223]

Al-Imam Abu Ismail Al-Harowi rahimahullah berkata:

عرضت على السيف خمس مرات ، لا يقال لي: ارجع عن مذهبك؛ ولكن يقال لي:اسكت عمن خالفك فأقول: “لا أسكت

“Aku pernah terancam dibunuh dengan pedang sebanyak lima kali. Bukan untuk dikatakan kepadaku: Tinggalkan pendapatmu. Akan tetapi dikatakan kepadaku: Diamlah, jangan membantah orang yang menyelisihimu. Maka aku tegaskan: Aku tidak akan diam.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah libnil Muflih, 1/207]

Peringatan

Tahdzir yang dimaksud di sini adalah men-tahdzir da’i sesat dan kesesatannya, berdasarkan ilmu dan hikmah, dengan memerhatikan kaidah-kaidahnya, di antaranya kaidah maslahat dan mudarat. Bukan tahdzir yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tanpa ilmu, bukan pula tahdzir antara sesama Ahlus Sunnah secara serampangan.

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

 

,

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwy azh-Zhafiry hafizhahullah berkata:

‏الإسراف في الماء مذموم في الوضوء وهو طاعة؛ فكيف إذا كان في غير ذلك (ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ) (ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ)

“Berlebihan dalam menggunakan air ketika berwudhu adalah perkara yang tercela. Padahal itu merupakan ketaatan. Lalu bagaimana jika hal terjadi pada selain ketaatan?!”

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ.

“Dan janganlah kalian melakukan segala sesuatu secara berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang suka menghambur-hamburkan sesuatu dengan sia-sia adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)

 

,

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JANGAN SEMBARANGAN MELAKNAT

Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan orang yang jorok omongannya

Hendaknya kita berhati-hati dalam masalah laknat, bahkan kepada orang kafir sekalipun. Orang kafir yang masih hidup tidak boleh ditujukan laknat kepadanya secara personal. Hukumnya haram melaknat orang kafir secara personal yang masih hidup. Karena boleh jadi Allah merahmati dia, sehingga dia mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.

Dalilnya adalah ketika Nabi ﷺ mendoakan laknat untuk Abu Jahl, begitu juga orang-orang musyrik Quraisy lainnya, Allah ta’ala menegur beliau ﷺ melalui firman-Nya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

“Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (QS. Ali imran:128).

Adapun untuk orang kafir yang sudah meninggal, maka boleh bagi Anda untuk mendoakan laknat untuknya. Karena orang yang mati dalam keadaan kafir, maka dia sudah pasti mendapatkan laknat Allah ‘azza wa jalla.

Meskipun boleh, bagi seorang Mukmin meninggalkannya lebih utama, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Dan tanpa Anda laknat sekalipun, mereka telah divonis oleh Allah sebagai orang-orang terlaknat. Dan cukuplah ini bagi kita:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir, dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka).

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memeroleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong (QS. Al-Ahzab: 64-65).

Bila melaknat secara personal orang kafir saja terlarang, maka melaknat seorang Muslim tentu lebih terlarang lagi. Sungguh mengherankan bila seorang Muslim begitu mudah mengucapan laknat kepada saudaranya, padahal perkara laknat ini adalah perkara yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang melaknat seorang Mukmin, maka ia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464).

Beliau ﷺ juga bersabda: “Orang yang banyak melaknat tidak akan diberi syafaat, dan syahadatnya tidak akan diterima pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda radhiallahu ‘anhu)

Jadilah insan Muslim yang santun dan lembut tutur katanya. Nabi kita ﷺ adalah nabi yang penuh dengan kasih sayang. Beliau ﷺ pernah bersabda:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat. Sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

____

(Faidah dari rekaman muhadhoroh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di Masjid Nabawi)

 

Penulis: Ahmad Anshori

[Muslim.Or.Id]

Sumber: http://Muslim.or.id/23309-jangan-sembarang-melaknat.html