Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

#ManhajAkidah

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

Antara Ustadz Abdullah Taslim (AT) & Ustadz Adi Hidayat (AH) (Masukan Untuk Al-Ustadz Al-Fadhil Adi Hidayat Ma Hafidzohullah) – Bagian Pertama

Beberapa waktu yang lalu sempat muncul kritikan dari seorang ustadz AT terhadap ustadz AH. Lalu muncul komentar-komentar yang buruk, dan menganggap ustadz AT hasad dan dengki kepada ustadz AT. Tentu seseorang berusaha untuk berprasangka baik terhadap saudaranya yang mengritik. Jika kritikannya baik, hendaknya diterima dengan baik, dan segera berusaha memerbaiki diri. Namun jika kritikannya keliru, maka silakan kritikan tersebut dikritiki kembali. Toh para ulama sejak dahulu hingga sekarang saling mengritiki, saling memerbaiki satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Alhamdulillah masing-masing baik AT maupun AH sudah memunculkan klarifikasi atau komentar atas apa yang telah bergulir. Dan AH pun telah menyatakan siap untuk diberi masukan.

Untuk menanggapi sedikit kegaduhan ini, maka penulis bertekad untuk turut berpartisipasi memberi masukan kepada al-Ustadz AH hafizohullah, semoga bermanfaat. Dan penulis juga menyadari, bahwa tidak ada yang luput dari kesalahan, termasuk penulis yang juga tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi hal ini tidak menghalangi punulis untuk memberi masukan, dan juga diberi masukan, demi kemasalahatan umat, dan menjauhkan umat dari segala kesalahan sejauh-jauhnya, baik kesalahan dalam akidah atau yang lainnya.

Dalam ceramah ustadz AH yang mulia dengan judul: PERBEDAAN ANTARA TAKDIR DAN QODARULLAH https://www.youtube.com/watch?v=p5g7e_o7dJM

Al-Ustadz AH berkata (di menit 0:27):

“Yang seperti ini aliran Qodariyah. Semua terserah Allah, semuanya terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkendak. Tapi kesimpulannya ini SALAH. Anda harus membendakan antara qodar dengan takdir. Kehendak Allah yang TIDAK ada intervensi kita di dalam, itu disebut qodar. Contohnya tentang ajal seseorang….”

(Komentar: AH keliru, kelompok yang seperti itu namanya bukan Qodariyah tapi Jabariyah)

Al-Ustadz AH berkata (di menit 1:29):

”Takdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan, ditetapkan berdasarkan ikhtiar makhluk. Jadi kita ikhtiar dulu, baru Allah menetapkan. Jadi bukan seketika Allah menetapkan…”

Al-Ustadz AH berkata (di menit 2:37):

“Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlak di situ. Kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan…”

Dalam ceramah AH yang lain dengan judul: APAKAH JODOH TERMASUK TAKDIR? https://www.youtube.com/watch?v=anabATdqrWQ)

Al-Ustadz AH berkata (di menit: 0.50):

“Sedangkan takdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan atas ikhtar makhluk. Jadi ada usaha kita dulu, usaha baru Allah tetapkan…. dan jodoh termasuk takdir”

Kritikan:

Apa yang diutarakan oleh al-Ustadz AH adalah akidah al-Qodariyah. Sesungguhnya semua yang terjadi di alam semesta ini, baik makan dan minum maupun bersin, iman dan kufur, jodoh, rezeki dan ajal semuanya dikehendaki dan telah ditetapkan oleh Allah.

Allah berfirman:

‎إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir [QS al-Qomar: 49]

‎وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan takdir (segala sesuatu)nya  [QS Al-Furqon: 2]

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir para makhluk, 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, [HR Muslim No. 2653]

Nabi ﷺ juga menjelaskan, bahwa amal saleh maupun amal buruk, masuk Surga maupun masuk Neraka, semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Tidak ada bedanya hal ini dengan masalah rezeki dan ajal yang juga telah ditakdirkan. Beliau ﷺ bersabda:

‎إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma). Kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah, kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging. Kemudian diutuslah Malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat empat hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka. Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Jannah (Surga), hingga antara dia dengan Jannah sejarak satu hasta, kemudian ia didahului dengan catatan (takdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Naar (Neraka), sehingga masuk ke dalamnya (an-Naar). Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk an-Naar, hingga antara dia dengan an-Naar sejarak satu hasta, kemudian ia didahului dengan catatan (takdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk Jannah (Surga), sehingga masuk ke dalamnya (Jannah) [HR al-Bukhari dan Muslim]

Pernyataan AH:

“Yang seperti ini aliran Qodariyah. Semua terserah Allah, semuanya terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkendak. Tapi kesimpulannya ini SALAH. Anda harus membendakan antara qodar dengan takdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalam itu disebut qodar. Contohnya tentang ajal seseorang….”

Demikian juga pernyataan AH:

“Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlak di situ. Kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan…”

Adalah pengingkaran terhadap takdir. Di antaranya:

– Menganggap ada kehendak Allah yang tidak mutlak.

– Menganggap manusia bisa ikut intervensi dalam keputusan Allah, bahkan keputusan Allah tergantung kehendak manusia. Padahal Allah berfirman:

‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya:

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [QS Al-Insan: 30]

‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam [At-Takwir: 29]

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا

Artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. [QS Yunus: 99]

‎فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Artinya:

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. [QS Al-An’aam: 125]

Nabi Nuuh berkata kepada kaumnya:

‎وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ

Artinya:

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku, jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” [QS Huud: 34]

‎مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya:

Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus [QS Al-An’aam: 39]

Di akhir zaman para sahabat, mulailah muncul kelompok Qodariyah yang sulit menerima dengan akal mereka, bahwa semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Dan kelompok ini telah diingkari oleh Ibnu Umar.

Tatkala seseorang berkata kepada Ibnu Umar:

‎أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ… وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ

“Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar). Sesungguhnya telah muncul dari sisi kami (di Iraq), sekelompok orang yang membaca Alquran dan mendalami ilmu… dan bahwasanya mereka menyangka, bahwa tidak ada qodar, dan bahwasanya perkara adalah baru”

Imam An-Nawawi menjelaskan pernyataan mereka ini:

‎أَيْ مُسْتَأْنَفٌ لَمْ يَسْبِقْ بِهِ قَدَرٌ وَلَا عِلْمٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَإِنَّمَا يَعْلَمُهُ بَعْدَ وُقُوعِهِ

“Yaitu perkara baru tidak didahului oleh takdir dan tidak ada diketahui oleh Allah, akan tetapi Allah mengetahuinya setelah terjadi” (Syarah Shahih Muslim jilid 1 halaman 138, letaknya di bagian kanan atas kalau di cetakan milik penulis).

Mereka menganggap, bahwa perkara belum ditakdirkan, Allah baru menakdirkan (mengkukuhkan/menetapkan) kecuali setelah hamba berbuat. Dan ini sama persis dengan pernyataan ustadz AH “Keputusan Allah baru dikukuhkan setelah ikhtiar/perbuatan manusia”.

Karenanya Qodariyah dijuluki dengan Majusi umat ini, karena menganggap ada penentu keputusan di alam semesta selain Allah. Apalagi menyatakan, bahwa kehendak manusia yang menentukan keputusan Allah?!

Apa komentar Ibnu Umar terahadap pernyataan Qodariyah di atas? Beliau berkata:

‎فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

“Jika engkau bertemu dengan mereka, maka kabarkanlah kepada mereka, bahwasanya aku berlepas diri dari mereka, dan bahwasanya mereka berlepas diri dariku. Dan demi Dzat Yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia infaqkan, maka tidak akan diterima oleh Allah, hingga ia beriman dengan takdir” (Shahih Muslim halaman 24 hadis no 1, letaknya si bagian buku sebelah kanan agak kiri atas).

Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjaga akidah kita. Aaamiin  Yang benar dari Allah, yang salah dari kesilapan penulis. Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada jalan yang lurus. (bersambung)

 

Penulis: Abu Abdil Muhsin Firanda

[www.firanda.com]

https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1133-antara-at-ah-masukan-untuk-al-ustadz-al-fadhil-adi-hidayat-ma-hafidzohullah

INDAHNYA SIFAT MALU

INDAHNYA SIFAT MALU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

INDAHNYA SIFAT MALU

Rasulullahﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan, kecuali kebaikan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Imron bin Hushoin radhiyallahu’anhu]

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإذا كان عند الإنسان حياء وجدته يمشي مشيا مستقيما ليس بالعجلة التي يذم عليها وليس بالتماوت الذي يذم عليه أيضا كذلك إذا تكلم تجده لا يتكلم إلا بالخير وبكلام طيب وبأدب وبأسلوب رفيع ما يقدر عليه وإذا لم يكن حييا فإنه يفعل ما شاء كما جاء في حديث الصحيح إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت وكان النبي صلى الله عليه وسلم اشد حياء من العذراء في خدرها العذراء المرأة التي لم تتزوج وعادتها أن تكون حيية فالرسول عليه الصلاة والسلام أشد حياء من العذراء في خدرها ولكنه لا يستحي من الحق يتكلم بالحق ويصدع به لا يبالي بأحد فأما ما لا تضع به الحقوق فإنه صلى الله عليه وسلم كان أحيى الناس فعليك يا أخي باستعمال الحياء والأدب والتخلق بالأخلاق الطيبة التي تمدح بها بين الناس

“Jika seseorang memiliki rasa malu, maka engkau dapati dirinya berperilaku lurus. Tidak tergesa-gesa, yang akan mengakibatkan ia dicela, tidak pula lambat, yang akan membuat ia dicerca.

Demikian pula jika ia berbicara, engkau dapati dirinya tidak berbicara, kecuali dalam kebaikan, dan dengan ucapan yang baik, beradab dan cara penyampaian yang sangat santun, yang menjadikan ia dihormati.

Adapun jika ia tidak tahu malu, maka ia akan melakukan apa saja yang ia kehendaki (tanpa peduli benar atau salah), sebagaimana dalam hadis shahih:

إنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْت

“Sesungguhnya termasuk yang diketahui manusia dari ucapan kenabian terdahulu: Apabila kamu tidak tahu malu, maka lakukanlah semaumu.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshori radhiyallahu’anhu]

Dan Nabi Muhammad ﷺ lebih pemalu dari seorang wanita perawan yang dipingit. Seorang wanita perawan yang belum nikah pada umumnya sangat pemalu. Namun Rasulullah ﷺ lebih pemalu dari seorang wanita perawan yang dipingit.

Akan tetapi Rasulullah ﷺ tidak malu, dan tidak segan kepada siapa pun, untuk mengatakan yang benar dan menampakkannya.

Adapun dalam urusan yang tidak mengabaikan hak-hak, maka Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling pemalu.

Maka hendaklah engkau wahai Akhi, senantiasa memiliki sifat malu, beradab dan berakhlak yang baik, yang terpuji di tengah manusia.” [Syarhu Riyadhis Shalihin, 4/25]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/760083890807762:0

,

TIGA HAK SAUDARA SEIMAN YANG SERING TERABAIKAN

TIGA HAK SAUDARA SEIMAN YANG SERING TERABAIKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

TIGA HAK SAUDARA SEIMAN YANG SERING TERABAIKAN

Al-Imam Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullah berkata:

ليكن حظُّ المؤمن منك ثلاثة: إنْ لم تنفعه فلا تضرَّه، وإنْ لم تُفرحه فلا تَغُمَّه، وإنْ لم تمدحه فلا تَذُمَّه

“Hendaklah seorang Mukmin mendapatkan darimu tiga bagian:

1) Apabila engkau tidak memberi manfaat kepadanya, maka janganlah membahayakannya.

2) Apabila engkau tidak membahagiakannya. maka janganlah membuat ia sedih.

3) Apabila engkau tidak memujinya, maka janganlah engkau mencelanya.”

[Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam libni Rajab rahimahullah, 2/283]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/744132849069533:0

 

,

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#DakwahTauhid

MENJAWAB SYUBHAT: TIDAK MUNGKIN MENASIHATI PENGUASA SECARA RAHASIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, JANGANLAH ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadis ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Kemudian ada yang mengatakan:

Tidak mungkin menasihati penguasa di zaman ini, seperti hadis ‘Iyadh bin Ganm di atas, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat. Maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.

Menjawab syubhat ini kami katakan:

Pertama:

Hadis ‘Iyadh bin Ganm itu tidak bermakna harus persis seperti teksnya, yaitu setiap orang yang ingin menasihati harus memegang tangan penguasa, menyepi dengannya, atau bertemu empat mata dengannya. Masih ada cara lain yang dibolehkan, asalkan tidak terang-terangan, seperti penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah:

“Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah: Menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan.” (Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, hal. 27)

Kedua:

Jika ternyata memang semua jalan yang disebutkan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah tidak bisa sama sekali, atau penguasa tidak mau menuruti nasihat dan mengubah kebijakannya yang zalim, apakah kemudian boleh melakukan demonstrasi atau menyebar artikel nasihat dan teguran kepada pemerintah di media massa?

Jawabnya: Tetap tidak boleh, sebab hal tersebut bertentangan dengan dalil dan petunjuk Salaf dalam menghadapi keadaan semacam ini.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:

“Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syari), maka solusi akhirnya adalah SABAR dan DOA, karena dahulu mereka, yakni Sahabat, melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-, beliau (Anas) berkata: “Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)]

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/754-tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa

 

 

,

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

ALLAH AKAN MENHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

  • Belum ada sejarahnya, ALLAH memuliakan orang yang MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA.
  • Yang ada dan sudah terjadi, yang melawan Allah hinakan.
  • Bahkan banyak di antara mereka DIBUNUH oleh pemerintah.
  • Bahkan akibat ulah mereka, RAKYAT yang tidak berdosa pun ikut menjadi KORBANNYA.
  • Betul perkataan Rasulullah ﷺ, Allah akan MENHINAKAN siapa yang melawan kepada pemerintahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الأَرْضِ؛ أَهَانَهُ اللهُ

“Barang siapa yang menghinakan Sulthan (yang dijadikan pemimpin oleh) Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.”

Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan [dalam “As-Sunnah” (II/488), dari Anas bin Malik, dia berkata: Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata:

لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تُبْغِضُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH membenci mereka! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”

Sanadnya Jayyid, semua perawinya terpercaya…Dan ada mutaaba’ah (penguat dari jalur sahabat yang sama):

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Ats-Tsiqaat” [V/314-315] dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” [XXI/287], dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

كَانَ الأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ الأُمَرَاءِ

“Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dari mencela para pemimpin.”

Dan atsar ini telah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abul Qashim Al-Ashbahani -yang dijuluki Qiwamus Sunnah- dalam kitabnya “At-Targhiib Wat Tarhiib” [III/68] dan dalam kitabnya “Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah Wa Syarhi ‘Aqiidati Ahlis Sunnah (II/406), dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata:

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تَعْصُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata: “JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH durhaka kepada mereka! Bertakwalah kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-, dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”…

Sebagaimana Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan atsar ini dalam kitabnya “Al-Jami’ Lisyu’abil Iimaan” [XIII/186-202]…dengan lafal:

أَمَرَنَا أَكَابِرَنَا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ نَسُبَّ أُمَرَاءَنَا…

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad ﷺ memerintahkan kami agar kami tidak mencela para pemimpin kami…”

Maka dalam atsar ini terdapat kesepakatan para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ atas HARAMNYA mencela dan mencaci para umara’ (pemimpin/penguasa).

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17299-tahukah-anda-allah-akan-menghinakan-orang-yang-menghinakan-pemimpin-negaranya.html

,

JIKA LUPA JUMLAH HARI PUASA YANG HARUS DIQADHA

JIKA LUPA JUMLAH HARI PUASA YANG HARUS DIQADHA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

JIKA LUPA JUMLAH HARI PUASA YANG HARUS DIQADHA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami mengimbau kepada seluruh kaum Muslimin yang memiliki kewajiban membayar utang puasa, atau kafarah sumpah, atau nazar atau yang lainnya, agar berusaha menjaganya, mengingat-ingat, memberikan perhatian, dan bila perlu mencatatnya. Agar kita tidak dianggap telah melakukan tindakan menyia-nyiakan kewajiban agama, kurang peduli dengan aturan syariat, atau berpaling dari perintah Allah, Sang Maha Pencipta.

Allah mencela orang sibuk dengan urusan dunia, namun dalam masalah Akhirat dia lalai. Allah ta’ala berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka mengetahui yang zahir dari kehidupan dunia, namun dalam urusan Akhirat, mereka lalai. (QS. Ar-Rum: 7).

Banyak orang yang tahu jumlah utang-piutang dalam bisnisnya, karena dia perhatian. Namun utang puasa, dia sia-siakan, sengaja dia lupakan.

Mengingat semacam ini termasuk bentuk kesalahan, maka kewajiban mereka yang melalaikan perintah agama, kurang peduli terhadap utang puasanya, untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Memohon agar amal yang dilakukan, diterima oleh Allah.

Kedua, orang yang lupa dalam ibadah, dia diperintahkan untuk mengambil yang lebih meyakinkan. Kaidah dasar mengenai hal ini adalah sabda Nabi ﷺ terkait orang yang lupa bilangan rakaat ketika shalat:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْقِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ

“Apabila kalian ragu dalam shalat, hendaknya dia buang keraguannya, dan dia ambil yang lebih meyakinkan….” (HR. Abu Daud 1024 dan dishahihkan Al-Albani).

Kemudian, beliau ﷺ mengarahkan, agar orang yang shalat, mengambil bilangan yang lebih sedikit, karena itu yang lebih meyakinkan.

Orang yang shalat Zuhur dan lupa apakah telah mengerjakan dua rakaat atau tiga rakaat, yang harus dia pilih adalah dua rakaat, karena ini yang lebih meyakinkan.

Orang yang thawaf dan lupa, sudah melakukan lima kali putaran ataukah enam kali, yang harus dia pilih adalah yang lebih sedikit, baru melakukan lima kali putaran, karena ini lebih meyakinkan.

Demikian pula orang yang lupa berapa jumlah hari yang menjadi tanggungan dia berpuasa, apakah 12 hari ataukah 10 hari, yang harus dia pilih adalah yang lebih meyakinkan, yaitu 12 hari. Dia memilih yang lebih berat, karena semakin menenangkan dan melepaskan beban kewajibannya. Karena jika dia memilih 10 hari, ada 2 hari yang akan membuat dia ragu. Jangan-jangan yang 2 hari ini juga tanggungan dia untuk berpuasa. Berbeda ketika dia memilih 12 hari. Dan sekalipun kelebihan, puasa yang dia lakukan tidak sia-sia, dan insyaaAllah dia tetap  mendapat pahala.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

إذا كَثرَت الْفوائتُ عليهِ يتشاغلُ بالقضَاء… فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ قَدْرَ مَا عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعِيدُ حَتَّى يَتَيَقَّنَ بَرَاءَةَ ذِمَّتِهِ

“Apabila tanggungan puasa sangat banyak, dia harus terus-menerus melakukan qadha…. Jika dia tidak tahu berapa jumlah hari yang menjadi kewajiban puasanya, maka dia harus mengulang-ulang qadha puasa, sampai dia yakin telah menggugurkan seluruh tanggungannya.”

Kemudian Ibnu Qudamah menyebutkan riwayat keterangan dari Imam Ahmad, tentang orang yang menyia-nyiakan shalatnya:

يُعِيدُ حَتَّى لَا يَشُكَّ أَنَّهُ قَدْ جَاءَ بِمَا قَدْ ضَيَّعَ. وَيَقْتَصِرُ عَلَى قَضَاءِ الْفَرَائِضِ, وَلَا يُصَلِّي بَيْنَهَا نَوَافِلَ, وَلَا سُنَنَهَا

Dia ulangi sampai tidak ragu lagi, bahwa dia telah melakukan apa yang telah dia lalaikan. Dia hanya melakukan yang wajib saja, dan tidak melakukan shalat Rawatib maupun shalat sunah. (Al-Mughni, 1/439)

Berdasarkan keterangan di atas, orang yang lupa sama sekali jumlah hari puasa yang menjadi tanggungannya, dia bisa MEMERKIRAKAN berapa jumlah utangnya, kemudian segera membayar puasa sebanyak yang dia prediksikan, sampai dia yakin telah melunasi utang puasanya.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/18901-lupa-jumlah-hari-qadha-puasa.html

 

,

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BERDOALAH KETIKA MENDENGAR AYAM BERKOKOK DI TENGAH MALAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan  kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).

Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, ’di malam hari’,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ

Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keistimewaan Ayam Jantan

Rasulullah ﷺ menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Ini bagian dari keistimewaan ayam.

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan:

وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي فإنه يقسط أصواته فيها تقسيطا لا يكاد يتفاوت ويوالي صياحه قبل الفجر وبعده لا يكاد يخطئ سواء أطال الليل أم قصر ومن ثم أفتى بعض الشافعية باعتماد الديك المجرب في الوقت

Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum Subuh dan sesudah Subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang atau pendek. Karena itulah, sebagian Syafiiyah memfatwakan, untuk mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).

Mengambil Pelajaran dari Ayam Jago

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan dari ad-Dawudi:

قال الداودي يتعلم من الديك خمس خصال حسن الصوت والقيام في السحر والغيرة والسخاء وكثرة الجماع

Ad-Dawudi mengatakan, kita bisa belajar dari ayam jantan lima hal:

  • Suaranya yang bagus,
  • Bangun di waktu sahur,
  • Sifat cemburu,
  • Dermawan (suka berbagi), dan
  • Sering jimak. (Fathul Bari, 6/353).

Mengapa Dianjurkan Berdoa?

Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat. Karena kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh:

قال عياض كان السبب فيه رجاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص

Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan aamiin dari Malaikat untuk doa kita, dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).

Tidak Boleh Mencela Ayam Jago

Dalam hadis dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ

Janganlah mencela ayam jago, karena dia membangunkan (orang) untuk shalat. (HR. Ahmad 21679, Abu Daud 5101, Ibn Hibban 5731 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan al-Halimi:

قال الحليمي يؤخذ منه أن كل من استفيد منه الخير لا ينبغي أن يسب ولا أن يستهان به بل يكرم ويحسن إليه قال وليس معنى قوله فإنه يدعو إلى الصلاة أن يقول بصوته حقيقة صلوا أو حانت الصلاة بل معناه أن العادة جرت بأنه يصرخ عند طلوع الفجر وعند الزوال فطرة فطره الله عليها

Al-Halimi mengatakan:

Disimpulkan dari hadis ini, bahwa semua yang bisa memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya dia dimuliakan dan disikapi dengan baik. Sabda beliau ﷺ: ‘Ayam mengingatkan (orang) untuk shalat’ bukan maksudnya dia bersuara: ‘Shalat..shalat..’ atau ‘Waktunya shalat…’.Namun maknanya, bahwa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).

Allahu a’lam.

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23982-doa-ketika-ayam-berkokok.html

 

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BERHATI-HATILAH DARI BERMAIN-MAIN DENGAN HAL KAUM MUSLIMIN

Janganlah merasa aman dari siksa yang abadi, selagi di atas kesalahan. Sesungguhnya demi Allah, kamu tidak mengetahui, ternyata musuhmu yang paling keras adalah saudaramu juga yang Muslim. Kamu mengetahui hak-hak seorang Muslim, dan alangkah bahayanya jika sampai terjerumus ke dalam pelanggaran terhadapnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mencela orang Muslim adalah kefasikan, membunuhnya adalah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih dari hadis Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Cukuplah bagi seseorang (dikatakan) berbuat keburukan dengan menghina saudaranya yang Muslim.” (Riwayat Muslim dari hadis Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Keburukan yang membuat seseorang melecehkan seorang Muslim, jauh melebihi keburukan-keburukan lainnya. Cukuplah baginya musibah perbuatan ini. Ia telah membebankan dirinya dengan menanggung sesuatu, yang ia tidak mampu menanggungnya. Hati-hatilah dari bermain-main dengan hal kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Barang siapa yang makan hak seorang Muslim satu kali, maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya makan dengan yang semisalnya, dari Neraka Jahannam. Barang siapa yang merampas pakaian seorang Muslim, maka Allah akan pakaikan padanya pakaian yang semisalnya, pada Hari Kiamat dari Neraka Jahannam.” (Riwayat Hakim, Abu Dawud dan Imam Ahmad dari Al Mustaurid bin Syaddad)

Perhatikanlah, alangkah mengerikan siksa bagi orang yang memeralat orang Muslim sebagai sarana untuk memeroleh tujuan dan angan-angannya. Cukuplah kamu menjadi penasihat bagi kaum Muslimin, dan jagalah dirimu. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

 

Sumber: https://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-nasehat-jangan-membela-kebatilan/