Posts

,

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

‏غداً توفى النفوس ما كسبت ويحصد الزارعون ما زرعوا، إن أحسنوا أحسنوا لأنفسهم، وإن أساؤوا فبئس ما صنعوا

“Esok hari (Kiamat), jiwa-jiwa akan disempurnakan, balasan atas perbuatan mereka. Orang-orang yang menanam, akan memanen apa yang mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, maka mereka telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri. Namun jika mereka berbuat buruk, maka alangkah buruknya apa yang mereka perbuatkan.” [Lathaiful Ma’arif, jilid 1, hlm 232]

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN HATI DAN JIWA

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN HATI DAN JIWA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN HATI DAN JIWA

Rasulullah ﷺ bersabda dalam satu hadis:

((اَللَّهُمَّ إِنَّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ و الجبن وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا)) رَوَاهُ مُسْلِم

  • Allahumma innii a’uudzu bika
  • Minal ‘ajzi walkasali wal jubni walbukhli walharomi wa ‘adzaabil qobri
  • Allahumma aati nafsii taqwaahaa
  • Wa zakkihaa anta khoiru man zakkahaa
  • Anta waliyyuhaa wa maulaahaa
  • Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’u
  • Wa min qolbin laa yakhsya’u
  • Wa min nafsin laa tasyba’u
  • Wa min da’watin laa yustajaabu lahaa

Artinya:

  • Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran, pikun dan azab kubur.
  • Ya Allah, berikan jiwaku ini ketakwaan, sucikan ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah penolongnya dan pemiliknya.
  • Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dan dari hati yang tidak khusyu, dan dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” [HR. Muslim 2722].

 

Sumber: [www.yufid.com]

#doa #islam #sunnah #alquran #hadits #nabi

,

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

Bukan hendak membela orang kafir dan orang zalim, bukan pula untuk mencela kaum Muslimin yang menjadi korban, tapi untuk memetik hikmah dan pelajaran dari Revolusi Arab.

Al-Imam Al-‘Allaamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah yang wafat  2001 telah mengingatkan:

“Kami tidak mengajak kepada revolusi dan kudeta, karena akibat buruknya akan menimpa kaum Muslimin;

Demi Allah, kami tidak ingin terjadi revolusi di Irak, karena akan menumpahkan darah kaum Muslimin.

Kami tidak ingin terjadi revolusi di Libia, karena dampak buruknya akan menimpa orang-orang yang lemah.

Demikian pula kami tidak ingin terjadi revolusi di Suriah, karena akibat buruknya akan menimpa kaum Muslimin.” [Fadhooih wa Nashooih, hal. 106]

Inilah teladan ulama Ahlus Sunnah yang sangat sayang kepada kaum Muslimin serta berpandangan JAUH KE DEPAN.

Para ulama Ahlus Sunnah berfatwa tidaklah hanya bermodal semangat dan emosi terhadap pemimpin yang zalim atau kafir, tapi menimbang sejauh mana maslahat dan mudarat yang akan menimpa kaum Muslimin.

Maka ambillah pelajaran dan sadarlah wahai saudaraku yang menyerukan revolusi dan kudeta, jangan engkau korbankan darah kaum Muslimin, terutama kaum wanita, anak-anak dan orang-orang yang lemah.

Dan marilah kita doakan kaum Muslimin yang tertindas, khususnya yang terjadi saat ini di Aleppo, semoga Allah ‘azza wa jalla menolong kaum Muslimin atas orang-orang kafir komunis Rusia dan Syiah Iran, Suriah dan Lebanon yang membantai mereka.

Dan jangan lupa wahai saudaraku rahimakumullaah, sisihkan sebagian hartamu untuk membantu mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/718881828261302

,

KEBAIKAN AGAMA SESEORANG BISA DILIHAT DARI TEMANNYA

KEBAIKAN AGAMA SESEORANG BISA DILIHAT DARI TEMANNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEBAIKAN AGAMA SESEORANG BISA DILIHAT DARI TEMANNYA

Rasulullah ﷺ menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memerhatikan, siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa memengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang. Dengan demikian, pesan Rasulullah ﷺ dalam hadis di atas hendaknya selalu menjadi pertimbangan kita dalam memilih seseorang untuk menjadi teman dekat kita, entah itu sebagai istri, suami, tetangga, guru, teman bekerja atau selainnya.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “Hendaknya kalian menilai orang dengan teman dekatnya. Karena seorang Muslim akan mengikuti orang yang Muslim, sementara orang jahat akan mengikuti orang yang jahat pula.” (Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8919, Al-Ibanah 502)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu juga berkata: “Orang yang dapat berjalan bersama dan berteman, adalah orang yang disuka dan yang sejenis.” (Al-Ibanah, 499)

Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata: “Di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya.” (Al-Ibanah, 379)

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qasim [beliau adalah imam Masjid Nabawi dan hakim di Mahkamah Syariah Madinah] berkata: “Sifat manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya”.

Bahkan manusia bisa terpengaruh dengan seekor binatang ternak. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْفَخْرُ وَالْخُيَلاَءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan pengembala unta. Dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing [HR. al-Bukhari no. 3499 dan Muslim no. 187]

Nabi ﷺ mengabarkan, bahwa menggembalakan unta akan berpengaruh terhadap timbulnya kesombongan dan keangkuhan. Dan menggembalakan kambing berpengaruh akan timbulnya sifat ketenangan. Jika dengan hewan, makhluk yang tidak berakal dan kita tidak tahu apa maksud dari suara yang dikeluarkannya, manusia bisa saja terpengaruh, maka bagaimana pendapat kita dengan orang yang bisa bicara dengan kita, paham perkataan kita, bahkan terkadang membohongi dan mengajak kita untuk memenuhi hawa nafsunya serta memerdayai kita dengan syahwat? Bukankan orang itu akan lebih berpengaruh? [Khuthuwat ila as-Sa’adah hlm. 141]

Di tengah masyarakat, jika kita tidak memilih teman yang baik, maka kita tinggal memilih: Apakah kita yang akan memengaruhi orang-orang untuk menjadi lebih baik? Ataukah kita yang menjadi korban pengaruh buruk lingkungan (kawan-kawan)? Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.

 

Sumber:

 

,

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

النظر إلى العواقب معونة عظيمة في سهولة الأعمال النافعة، وفي الاحتراز مما يخاف ضرره، فإن العواقب الطيبة يسهل على العبد كل طريق يوصل إليها وإن كان شاقا، لما يرجو من الثمرة.

“Memerhatikan akibat, memiliki peran yang besar dalam membantu memudahkan amal-amal yang bermanfaat dan menjaga diri dari hal-hal yang dikhawatirkan akibat buruknya. Karena sesungguhnya, mengingat kesudahan yang baik, akan memudahkan seorang hamba untuk menempuh semua jalan yang akan menyampaikan kepadanya walaupun berat, karena dia mengharapkan buahnya.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 280].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/664057177108377/?type=3&theater

MENYAKITI MUKMIN TANPA KESALAHAN YANG DIPERBUAT, MERUPAKAN KEBOHONGAN DAN DOSA YANG NYATA

MENYAKITI MUKMIN TANPA KESALAHAN YANG DIPERBUAT, MERUPAKAN KEBOHONGAN DAN DOSA YANG NYATA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

MENYAKITI MUKMIN TANPA KESALAHAN YANG DIPERBUAT, MERUPAKAN KEBOHONGAN DAN DOSA YANG NYATA

Menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan kebohongan dan dosa yang nyata! Allah Taala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab:58]

Ketahuilah, bahwa satu kalimat saja dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam Neraka, lebih jauh dari jarak antara Timur dan Barat! Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ الْعَبْدِ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهِا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِ قِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia pikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam Neraka, lebih jauh dari Timur dan Barat. [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].

Rasulullah ﷺ memeringatkan bahaya tuduhan yang tidak benar dengan sabdanya:

لاَيَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَا حِبُهُ كَذَلِك

Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya, jika yang dituduh tidak seperti itu. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].

Beliau ﷺ juga memberitakan ancaman bagi orang yang membuat fitnah atas seorang Mukmin dengan sabdanya:

وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Barang siapa berbicara tentang seorang Mukmin apa yang tidak ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni Neraka, sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan keluar! [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, dishahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ruyah Waqiiyyah hal: 84]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/968-siapakah-Sururi.html

 

, ,

DOA DI DALAM SHOLAT, MOHON PERLINDUNGAN DARI EMPAT PERKARA

DOA DI DALAM SHOLAT, MOHON PERLINDUNGAN DARI EMPAT PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Doa_Zikir

DOA DI DALAM SHOLAT, MOHON PERLINDUNGAN DARI EMPAT PERKARA

Bacalah Doa Ini Di Setiap Tasyahud Akhir Sebelum Salam

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Jika salah seorang di antara kalian (duduk) Tasyahud, maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Yaitu dia berdoa:

ALLOHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZAABIL-QOBR, WA MIN FITNATIL-MAHYAA WAL-MAMAAT, WA MIN SYARRI FITNATIL-MASIIHID-DAJJAAL

Artinya:

Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masih Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

Al-Hafizh berkata dalam Bulugh Al-Maram no. 337, “Dalam sebuah riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari Tasyahud Akhir (sebelum salam –pen).”

Berdoa untuk berlindung dari empat perkara yang tersebut dalam hadis Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu di atas, hukum membacanya adalah WAJIB, berdasarkan perintah dalam hadis di atas. Dia WAJIB dibaca, baik dalam SHOLAT WAJIB maupun SHOLAT SUNNAH. Karenanya, jika seseorang meninggalkannya karena lupa, maka dia digantikan dengan Sujud Sahwi.

InsyaAllahu ta’ala, susunan redaksi doa perlindungan dari empat perkara yang ini adalah yang paling shohih.

 

Sumber: http://al-atsariyyah.com/bacaan-dalam-duduk-tasyahud.html

 

,

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT?

Semua kebaikan ada di tangan Allah Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang mampu melakukan kebaikan, kecuali dengan pertolongan-Nya. Dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari keburukan, kecuali Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ. يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}

✳️ “Jika Allah menimpakan suatu keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yuunus: 107).

Khususnya yang berhubungan dengan pemurnian tauhid dan ibadah kepada Allah Ta’ala, maka manusia tidak akan mungkin meraihnya tanpa pertolongan-Nya. Renungkanlah makna firman-Nya:

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

✳️ “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS al-Faatihah:5).

Oleh karena itu, tekun berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh untuk memohon taufik-Nya dalam memurnikan tauhid dan menjauhi perbuatan syirik dalam segala bentuk dan jenisnya, ini termasuk sebab terbesar untuk meraih penjagaan dari-Nya dari keburukan besar ini.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita yang berhubungan dengan penjagaan dari perbuatan syirik adalah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

ALLOOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA A’LAM, WA ASTAGHFIRUKA LIMAA LAA A’LAM

Artinya:
✅”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) yang aku sadari (ketahui). Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui (sadari)” [HR al-Bukhari dalam “al-Adabul Mufrad” (no. 716) dan Abu Ya’la (no. 60), dinyatakan Shahih oleh Syaikh al-Albani].

Kemudian termasuk sebab yang paling penting untuk memudahkan kita meraih keikhlasan dalam ibadah dan terhindar dari keburukan syirik dalam segala bentuknya, adalah berusaha keras dan berjuang menundukkan hawa nafsu dan keinginan yang buruk. Inilah sifat penghuni Surga yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}

✳️ “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya (Allah Ta’ala) dan menahan diri dari (memerturutkan) keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal (mereka)’ (QS an-Naazi’aat: 40-41).

Keinginan hawa nafsu yang paling penting dan paling sulit untuk ditundukkan, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala, adalah kecintaan dan ambisi mengejar dunia yang berlebihan serta keinginan untuk selalu mendapatkan pujian dan sanjungan. Inilah dua penyakit hati terbesar yang merupakan penghalang utama untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

▶️ Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak akan berkumpul (bertemu) keikhlasan dalam hati dengan keinginan (untuk mendapat) pujian dan sanjungan, serta kerakusan terhadap (harta benda duniawi) yang ada di tangan manusia, kecuali seperti berkumpulnya air dan api (tidak mungkin berkumpul selamanya)… Maka jika terbersit dalam dirimu (keinginan) untuk meraih keikhlasan, yang pertama kali hadapilah (sifat) rakus terhadap dunia dan penggallah sifat buruk ini dengan pisau ‘putus asa’ (dengan balasan duniawi yang ada di tangan manusia). Lalu hadapilah (keinginan untuk mendapat) pujian dan sanjungan, bersikap zuhudlah (tidak butuh) terhadap semua itu…Kalau kamu sudah bisa melawan sifat rakus terhadap dunia dan bersikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan manusia, maka (meraih) ikhlas akan menjadi mudah bagimu” [29 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

▶️ Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan cara untuk menghilangkan dua pernyakit buruk penghalang keikhlasan tersebut. Beliau berkata: “Adapun (cara untuk) membunuh (sifat) rakus terhadap balasan duniawi yang ada di tangan manusia, itu akan dimudahkan bagimu dengan kamu memahami secara yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan oleh (manusia), kecuali di tangan Allah semata perbendaharaannya. Tidak ada yang memiliki/menguasainya selain Dia, Subhanahu Wa Ta’ala. Dan tidak ada yang dapat memberikannya kepada hamba, kecuali Dia, Subhanahu Wa Ta’ala semata. Adapun (berskap) zuhud terhadap pujian dan sanjungan, itu akan dimudahkan bagimu dengan kamu memahami (secara yakin), bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya bermanfaat serta mendatangkan kebaikan, dan celaannya mencelakakan dan mendatangkan keburukan, kecuali Allah satu-satunya” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

▶️ Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) Akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah Ta’ala di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal saleh (yang dilakukan)nya” [Kitab “at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid” (hal. 404-405)].

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA.

Artikel Muslim.Or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html

 

,

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

➰? DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT ?➰

 

? Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan) kecuali Neraka, dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

? Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah Ta’ala dalam ayat lain [Lihat keterangan Syaikh Bin Baz pada catatan kaki kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)]:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu, apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya Neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS al-Israa’: 18).

▶️Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: Orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah Ta’ala akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya, JIKA ALLAH TA’ALA MENGHENDAKi, dan terkadang dia TIDAK mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya, karena Allah Ta’ala TIDAK menghendakinya [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)].

Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan Akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah Ta’ala. Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di Akhirat kelak mereka TIDAK mendapatkan balasan kebaikan sedikit pun. Bahkan mereka akan mendapatkan azab Neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.

➡️Benarlah Rasulullah ﷺ yang bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya. Padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang (menjadikan) Akhirat niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang Shahih, dinyatakan Shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh al-Albani].

➡️Dalam hadis Shahih lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda tentang buruknya perbuatan ini: “Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas. Celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak. Binasalah budak (harta berupa) pakaian indah. Kalau dia mendapatkan harta tersebut, maka dia akan ridha (senang). Tapi kalau dia tidak mendapatkannya, maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya). Dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya), maka dia tidak akan lepas darinya” [HSR al-Bukhari (no. 2730), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu].

Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini. Karena orang yang melakukannya, berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta. Karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya, maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak, maka dia akan murka.

➡️Kemudian Rasulullah ﷺ menggabarkan keadaannya yang buruk, bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya, maka dia TIDAK bisa terlepas dariny,a dan dia TIDAK akan beruntung selamanya [Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam “Igaatsatul lahfaan” (2/149)]. Maka, dengan perbuatan buruk ini, dia TIDAK mendapatkan keinginannya dan dia pun TIDAK bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta [Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmuu’ul fataawa” (10/180)]. Na’uudzu billahi min dzaalik.

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA. hafizhahullah

[Artikel Muslim.Or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html