Posts

,

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AMANAT BERAT PADA MANUSIA
 
Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah ta’ala. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
Allah ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah ta’ala memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman.
 
Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka, atau ingin sedikit saja menuai pahala, lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.
 
Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:
1. Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara batin tidak.
2. Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.
3. Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.
 
Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah ta’ala berfirman:
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 73]
 
Ayat terakhir ini Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” [Taisir Al Karimir Rahman, 673-674]
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Alquran, #AlQuran, #tafsir, #QSAlAhzabayat73, #QSAlAhzabayat72, #AlAhzabayat73, #AlAhzabayat72 #arti, #definisi, #makna, #munafik, #munafiqun, #musyrikin,k #afir, #takwa, #taqwa #amanat, #amanah, #bebanberat, #bumi, #gunung #menjalankanperintah, #menjauhilaranganNya

THALABUL ILMI

THALABUL ILMI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

THALABUL ILMI

Pernahkah terbayang, jika ada yang mendoakan kita, dan mereka adalah makhluk sejagat?
Yang ada di langit berlapis dan yang hidup di atas permukaan bumi, semuanya turut berdoa untuk kebaikan kita. Bahkan semut-semut di sarangnya, juga ikan-ikan di air tempat hidupnya, tak ketinggalan untuk mendoakan kebaikan.

Untuk siapa?
Semua mendoakan kebaikan kepada hamba yang selalu mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada masyarakatnya.
Sungguh menyenangkan!
Dan hanya ada satu tangga untuk meraihnya, yaitu Thalabul Ilmi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai pun semut di sarangnya, dan ikan di lautan, turut mendoakan kebaikan, untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” [Hadis Abu Umamah Al Bahili riwayat Tirmidzi, di shahihkan oleh Al Albani]

Jangan heran dan jangan kaget! Allah Maha Mampu untuk menjadikan makhluknya dapat berbicara dan berdoa.
Amatlah mudah bagi Allah untuk mengijinkan semut dan ikan turut mendoakan kebaikan untuk para pemilik ilmu agama.
Allah berfirman dalam ayat-Nya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاْلأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّيُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِن لاَّتَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. [QS. 17:44]

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Ustadz Abu Nasim Mukhtar “Iben” Rifai
Twitter @IslamDiaries

 

, , ,

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

PERAYAAN ISRA MIRAJ, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

Seorang Mukmin, saat menemukan kebenaran yang sebelumnya belum pernah ia ketahui, seperti seorang yang menemukan sebuah barang berharga yang hilang, yang ia cari sepanjang siang dan malam. Bagaimana gerangan perasaannya, manakala berhasil menemukan barang tersebut? Tentu senang dan bahagia. Demikian perumpamaan seorang Mukmin, manakala ia menemukan kebenaran, yang sebelumnya belum ia ketahui. Sebelumnya ia tidak sadar, kalau ternyata selama ini berada pada jalan yang keliru. Lalu ia menemukan kebenaran yang menyadarkannya dari kekeliruan tersebut. Tentu ia akan merasa bahagia dan berlapang dada untuk menerima kebenaran tersebut.

Sebagai seorang Mukmin yang telah berikrar, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, tentu ia akan lebih selektif dalam dalam hal amalan ibadah. Bila ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, maka akan dilakukan sebagai bentuk ittiba‘ (mengikuti sunah) kepada Rasulullah ﷺ. Bila tidak, maka ia akan tinggalkan karena Allah. Karena di antara konsekuensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah adalah ittiba’, atau mencontoh beliau ﷺ dalam beribadah kepada Allah. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron : 31).

Imam Syafi’i mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ e لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum Muslimin sepakat, bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah Sunnah (ajaran) Rasulullah ﷺ, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu, karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 2: 282).

Terkait perayaan Isra Miraj, ada nasihat indah dari salah seorang ulama di kota Madinah An-Nabawiyyah, Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafizhahullah, di mana dalam salah satu majelis di Masjid Nabawi, beliau ditanya terkait masalah ini. Mari simak pemaparan beliau berikut:

Pertanyaan:

Apakah benar peristiwa Isra dan Miraj itu terjadi bulan Rajab? Lalu bolehkah kita merayakan peristiwa tersebut, dan menjadikan hari terjadinya sebagai ‘Ied (perayaan yang dirayakan secara periodik) setiap tahunnya? Di mana pada hari perayaan tersebut, kita saling memberi ucapan selamat dan saling bertukar hadiah?

Jawaban:

TIDAK ADA riwayat yang menerangkan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj terjadi di bulan Rajab. Benar kita tidak meragukan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj benar-benar terjadi. Bahkan ini bagian dari perkara agama yang qot’i, tidak boleh seorang Muslim meragukannya. Namun kapan peristiwa ini terjadi? Bulan apakah?

Para ulama telah menjelaskan, bahwa tidak ada keterangan riwayat yang menerangkan bulan terjadinya peristiwa Isra Miraj. Tidak pula zamannya. Yakni tidak diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada bulan apa. Tidak pula di sepuluh hari dari suatu bulan apapun. Oleh karenanya, para ulama berselisih pendapat dalam masalah penentuan bulan terjadinya Isra dan Miraj, karena disebabkan tidak adanya riwayat shahih yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini.

Maka berangkat dari alasan di atas, TIDAK BOLEH kita menjadikan hari ke-27 dari bulan Rajab, sebagai hari Isra dan Miraj. Dan menetapkan, bahwa pada hari itulah terjadi peristiwa Isra Miraj. Hari di mana saling memberi ucapan selamat, demi memeriahkan perayaan tersebut. Terkadang pula saling bertukar hadiah.

Pertama, karena memang tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa 27 Rajab adalah hari Isra dan Miraj.

Kedua, karena Nabi ﷺ, di mana beliaulah yang diberi Allah nikmat untuk mengalami peristiwa agung ini, dan beliau ﷺ adalah hamba-Nya yang paling banyak bersyukur, yang mendirikan shalat sampai pecah-pecahlah telapak kaki beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Tidakkah aku menginginkan untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur?!”

Semoga shalawat dan salam tercurahkan untuk beliau ﷺ, namun beliau ﷺ tidak pernah merayakan malam Isra dan Miraj tersebut. Beliau ﷺ juga tidak mengkhususkan malam tersebut dengan shalat tertentu, atau mengkhususkan siangnya dengan puasa tertentu. Sementara dalam perkara ini (juga seluruh seluk beluk kehidupan) umat ini dituntut untuk meneladani Nabi ﷺ.

Demikian pula tidak ada keterangan dari para sahabat, semoga Allah meridai mereka, bahwa mereka merayakan peristiwa Isra dan Miraj. Tidak pula dari generasi tabi’in, tidak pula dari Imam mazhab yang empat; yang dijadikan rujukan, semoga Allah meridhoi para ulama pendahulu kita, seluruhnya. Tidak ada keterangan dari mereka semua, bahwa mereka merayakan peristiwa ini. Bahkan meski satu patah kata pun tentang perayaan ini.

Selanjutnya, wahai hamba Allah, saat Anda mengetahui, bahwa ternyata tidak ada riwayat tentang hari terjadinya peristiwa ini, tidak pula berkaitan dengan perayaannya pada malam maupun siang harinya, ini menunjukkan, bahwa para Salafus Shalih tidak terlalu perhatian dengan waktu terjadinya peristiwa ini. Ini juga menjadi bukti, bahwa mereka tidak pernah merayakan peristiwa Isra dan Miraj (yang diklaim terjadi) pada 27 Rajab ini. Karena andai mereka merayakannya, tentu akan ada riwayat yang menjelaskan mengenai waktu kejadian Isra Miraj. Dan tentu akan ada penjelasan dari mereka perihal perayaan ini.

Kemudian, sesungguhnya kaidah syariat yang kita sepakati bersama, bahwa agama ini dibangun di atas ittiba‘ (mencontoh Nabi ﷺ). Dan bahwa ibadah itu dibangun di atas dalil (tawqif). Oleh karenanya, tidak selayaknya bagi seorang Muslim, untuk melakukan suatu ibadah, kecuali bila ia memiliki cahaya petunjuk dan bimbingan dari Nabi ﷺ, yang menerangkan kepada mereka tata cara ibadahnya.

Haknya Nabi Muhammad ﷺ atas kita, adalah kita tidak menyembah Allah, kecuali dengan petunjuk yang datang dari beliau ﷺ. Dan setiap amalan ibadah yang dikerjakan, yang tidak ada perintahnya dari Nabi yang mulia ini ﷺ,  maka ibadah tersebut tidak diterima di sisi Allâh. Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada kita dan membimbing kita melalui sabdanya:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dan beliau ﷺ senantiasa mengulang-ulang nasihatnya dalam setiap khutbah beliau ﷺ:

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Maka alangkah indahnya bila umat ini menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang ada tuntutannya. Karena sungguh, andai mereka menyibukkan hari-hari mereka dengan ibadah yang ada sunahnya dari Nabi ﷺ, maka sungguh dalam hal tersebut ada pengaruh yang besar di hati kaum Mukminin, dalam hal kasih sayang di antara mereka, saling mencintai,  persatuan,  kemuliaan mereka, pertolongan untuk mereka atas musuh-musuh mereka, dan akan tampaklah  wibawa umat di hadapan musuh-musuh mereka.

Namun amat disayangkan, banyak dari hamba Allah lebih condong kepada amalan-amalan ibadah yang baru, lalu meninggalkan banyak dari amalan yang ada tuntunannya. Dan kekurangan ini kembali pada kekurangan ulama, dan penuntut ilmu, di negeri-negeri mereka, dalam menjelaskan sunnah kepada masyarakat, mengajarkan kebaikan kepada mereka,  dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Sunnah Nabi ﷺ.

Wasiatku untuk seluruh kaum Muslimin, untuk bersama bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, melakukan amalan ibadah yang disyariatkan oleh Allah ta’ala, dan kita mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan ibadah-ibadah yang dituntukan tersebut.”

Demikian yang beliau sampaikan. Rekaman dari tausiyah beliau, bisa kita simak di sini, di menit ke 06.30 sampai selesai: https://www.dropbox.com/s/t7iamlsxtvu334h/Fatawa%20Syaikh%20Sulaiman%20ar%20Ruhaili%20.m4a?dl=0

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk istiqomah di atas Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

***

 

Direkam dan diterjemahkan oleh Ahmad Anshori (yang senantiasa butuh akan taufik dan ampunan-Nya)

Dinukil dari tulisan berjudul: “Perayaan Isra’ Mi’raj, Siapa Bilang Tidak Boleh?” yang ditulis oleh: Ahmad Anshori hafizahullah

Sumber: https://Muslim.or.id/25540-perayaan-isra-miraj-siapa-bilang-tidak-boleh.html

, ,

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

Sesungguhnya peristiwa Isra‘ dan Miraj termasuk peristiwa sejarah yang sangat dahsyat dalam Islam, karena beberapa hal:

  • Peristiwa dahsyat ini bukan hanya peristiwa yang terjadi di bumi semata, melainkan peristiwa dahsyat yang berhubungan dengan bumi dan langit. Suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam peristiwa lainnya.
  • Peristiwa ini merupakan mukjizat dan tanda besar tentang kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan risalah yang beliau ﷺ
  • Membenarkan peristiwa agung ini termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sangat penting, dan mengingkarinya termasuk perangai orang-orang kafir.
  • Perhatian para ulama dalam setiap bidang untuk membahasnya, bahkan menulisnya secara khusus.

Namun demikian, perayaan Isra’ Miraj ini TIDAK DISYARIATKAN DALAM ISLAM ditinjau dari dua sisi:

  1. Tinjauan Sejarah. Tidak ada bukti autentik dalam sejarah yang mengatakan: bahwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab. Bahkan masalah ini diperselisihkan dan tidak diketahui secara pasti. Bahkan, menakjubkanku ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu ta’ala, tatkala beliau mengatakan: “Perlu diketahui, bahwa penetapan Isra Miraj pada tanggal ini (27 Rajab, Pen.) termasuk pendapat yang paling lemah.”
  2. Ditinjau dari segi syariat. Jika memang benar Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab, bukan berarti waktu tersebut harus dijadikan sebagai malam perayaan dengan pembacaan kisah-kisah palsu tentang Isra Miraj. Bagi seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu, bahwa hal tersebut termasuk perkara bid’ah dalam Islam. Sebab perayaan tersebut tidaklah dikenal di masa sahabat, tabi’in, dan para pengikut setia mereka. Islam hanya memiliki tiga hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha tiap satu tahun, dan Jumat tiap satu pekan (minggu). Selain tiga ini, TIDAK termasuk agama Islam secuil pun.

Syaikh al-Albani rahimahullahu ta’ala berkata setelah menyebutkan perselisihan ulama tentang kapan Isra Miraj terjadi: “Hal itu menunjukkan bagi orang yang cerdas, bahwa para salaf tidak pernah mengadakan perayaan malam Isra Miraj, baik di bulan Rajab atau selainnya. Seandainya mereka membuat perayaan sebagaimana orang-orang belakangan sekarang, niscaya beritanya akan populer dari mereka, dan apa diketahui secara pasti tentang ketentuan malamnya. dan mereka tidak akan berselisih pendapat dengan perselisihan yang mengherankan ini.”

Ibnu Hajj rahimahullahu ta’ala berkata: “Termasuk perkara bid’ah yang diada-adakan orang-orang pada malam 27 Rajab adalah…” Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh bid’ah pada malam tersebut, seperti kumpul-kumpul di masjid, ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan), menyalakan lilin dan pelita. Beliau juga menyebutkan, perayaan malam Isra Miraj termasuk perayaan yang disandarkan kepada agama, padahal bukan darinya.

Ibnu Nuhas rahimahullahu ta’ala berkata: “Sesungguhnya perayaan malam ini (Isra Miraj) merupakan bid’ah yang besar dalam agama, yang diada-adakan oleh saudara-saudara setan.”

Muhammad bin Ahmad asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala menegaskan: “Pembacaan kisah Miraj dan perayaan malam 27 Rajab merupakan perkara bid’ah … Dan kisah Miraj yang disandarkan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, seluruhnya merupakan KEBATILAN dan KESESATAN, tidak ada yang shahih, kecuali beberapa huruf saja. Demikian pula kisah Ibnu Sulthan, seorang penghambur yang tidak pernah shalat kecuali di bulan Rajab saja. Namun tatkala hendak meninggal dunia, terlihat padanya tanda-tanda kebaikan. Sehingga saat Rasulullah ﷺ ditanya perihalnya, beliau ﷺ menjawab: ‘Sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan berdoa pada bulan Rajab.’ Semua ini merupakan KEDUSTAAN dan KEBOHONGAN. Haram hukumnya membacakan dan melariskan riwayatnya, kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. Sungguh sangat mengherankan kami, tatkala para jebolan al-Azhar membacakan kisah-kisah palsu seperti ini kepada khalayak.”

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta’ala berkata: “Malam Isra Miraj tidak diketahui waktu terjadinya. Karena seluruh riwayat tentangnya TIDAK ADA YANG SHAHIH menurut para pakar ilmu hadis. Di sisi Allah-lah hikmah di balik semua ini. Kalaulah memang diketahui waktunya, tetap tidak boleh bagi kaum Muslimin mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Sebab hal itu tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Seandainya disyariatkan, pastilah Nabi ﷺ menjelaskannya kepada umat, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan…”

Kemudian beliau (Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala) berkata: “Dengan penjelasan para ulama beserta dalil-dalil dari Alquran dan Hadis, sudah cukup bagi para pencari kebenaran mengingkari bid’ah malam Isra Miraj, yang memang bukan dari Islam secuil pun … Sungguh amat menyedihkan, bid’ah ini meruyak di segala penjuru negeri Islam, sehingga diyakini sebagian orang, bahwa perayaan tersebut merupakan agama. Kita berdoa kepada Allah ta’ala, agar memerbaiki keadaan kaum Muslimin semuanya, dan memberi karunia kepada mereka, berupa ilmu agama dan taufik serta istiqamah di atas kebenaran.”

Demikian juga amalan yang tidak ada dasarnya yang shahih adalah shalat yang disebut dengan shalat Malam Isra Miraj, karena ini adalah shalat yang bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadis yang shahih, sebagaimana ditegaskan oleh al-Fairuz Abadi dalam Khatimah Sifri Sa’adah hlm. 150, al-Iraqi dalam Takhrij Ihya‘, Ibnul Himmat ad-Dimasyqi dalam at-Tankit wal Ifadah hlm. 97 dan ulama-ulama yang lainnya banyak sekali.

 

Dinukil dari tulisan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi yang berjudul: “KEAJAIBAN PERISTIWA ISRA‘ MI’RAJ”.

Sumber: http://abiubaidah.com/keajaiban-peristiwa-isra-miraj.html/

,

PERBANYAK ISTIGHFAR KITA

PERBANYAK ISTIGHFAR KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

PERBANYAK ISTIGHFAR KITA

Bismillaah alloohumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyinaa Muhammadin

 

(والملائكة يسبحون بحمد ربهم ويستغفرون لمن في الأرض) [الشورى: ٥]

 

“Dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya, dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi .” [QS. As Syuraa:5]

 

‏الملائكة تسبح ولا تستغفر لنفسها لأنها لا تذنب .

من كثر ذنبه ينبغي أن يغلب استغفارُه تسبيحه …

الشيخ عبدالعزيز الطريفي

 

  • Malaikat selalu bertasbih kepada Allah, tapi tidak beristighfar untuk dirinya, karena malaikat tidak memunyai dosa.
  • Maka orang yang banyak dosanya seharusnya lebih membanyakkan istighfarnya daripada bertasbih.

 

قناة بلغوا عني ولو آية

 

[Qonah Ballighuu Anni Walaw Ayah]

,

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

Penulis: Abul-Jauzaa’

Belakangan ini kita dihebohkan oleh kabar beredarnya rekaman suara Ustadz Abdullah Taslim yang berkomentar terhadap Ustadz Adi Hidayat, hafidhahumallah. Sebuah rekaman yang asalnya dari grup WA atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau (Ustadz Abdullah Taslim), dari anggota grup tentang Ustadz Adi. Isinya adalah nasihat kepada anggota grup dan tahdzir kepada Ustadz Adi Hidayat terkait dengan manhaj beliau.

Sebenarnya, apapun kontennya tidak patut dipermasalahkan [1]. Tahdzir yang beliau katakan adalah wujud pertanggungjawaban atas pengetahuan yang dimiliki, sebagai pembina grup. Tahdzir bukan barang yang asing [2] Meski substansinya sah-sah saja, jika ada yang tidak sepakat. Yang menjadikan ramai, selain oknum yang menyebarkan keluar grup, adalah gorengan dan tambahan kata-kata oleh oknum tak bertanggung jawab yang bernada provokatif. Misalnya: Kembalilah kepada para asatidz yang jelas manhajnya, yaitu para asatidz Rodja yang pasti benar dan di atas manhaj yang benar. Ada juga framing berita dengan judul: Takut Ditinggal Jamaah! Ustadz Rodja’ Ini Larang Jamaahnya Dengarkan Ceramah Ustadz Adi Hidayat!

Benar-benar dagelan…. Saya yakin, ini bukan berasal dari Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah, dan memang bukan tipikal beliau. Entah siapa….

Maybe ‘they’ realize, making a lie is the only way to win the war (?)

Kembali,… kemarin saya menyimak respon positif Ustadz Adi Hidayat terkait perkataan Ustadz ‘Abdullah Taslim hafidhahumallah (yang saat ini sedang menjalankan ibadah umrah). Intinya, beliau terbuka menerima kritikan dari siapa pun dan bersedia rujuk apabila kritikan tersebut memang benar, serta ajakan bersinergi dalam kebaikan (https://goo.gl/XiepHX dan https://goo.gl/MK16ga).

Tentu ini sangat baik, karena sikap beliau tersebut didasari oleh pemahaman yang sangat baik atas sabda Nabi ﷺ:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertaubat” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2499, Ahmad 3/198, Ibnu Abi Syaibah 13/187, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/604].

Oleh karena itu, izinkan di sini saya memberikan sedikit catatan atau kritikan terkait dengan beberapa isi ceramah Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah yang rekamannya banyak bertebaran di Youtube.

  1. Takdir

Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah dalam satu rekaman video yang berjudul “MEMAHAMI TAKDIR ALLAH DENGAN BENAR” (https://youtu.be/joqsMvsheXE), membacakan sebuah pertanyaan:

“Apakah semua orang telah ditetapkan takdirnya oleh Allah subhaanahu wa ta’ala? Dan apakah orang kafir itu sudah takdir Allah?”

Kemudian direspon:

“Pertama begini, antum pahami dulu apa itu takdir. Takdir itu pilihan hidup. Yang pilihan kita itu KEMUDIAN DITETAPKAN oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Jadi Anda bisa terbuka, ingin mengambil atau tidak. Itu pilihan Anda. Karena itu manusia diberikan kemampuan untuk memilih……dst. (kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang menguatkan itu, yang intinya manusia diberikan pilihan antara yang positif dan negatif)……”

Dalam rekaman video yang berjudul “PERBEDAAN TAKDIR DAN QODARULLAH” (https://youtu.be/6DsR0RQDdfY), awal ceramah (menit 00:24) beliau mengatakan:

“Yang seperti ini, seperti aliran Qadariyyah [3]. Semua terserah Allah. Semua terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin, kecuali kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum, kecuali saya berkehendak. Tapi kesimpulannya salah. Anda harus bedakan antara Qadar dan Takdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalamnya, itu disebut Qadar”

Kemudian beliau hafidhahullah mencontohkan qadar adalah ajal dan rezeki. Selanjutnya beliau berkata (di menit 01:23):

“Tapi, ada sesuatu yang disebut dengan takdir. Takdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan/ditetapkan berdasarkan ikhtiar makhluk. Kita ikhtiar dulu, BARU ALLAH MENETAPKAN. Jadi bukan seketika Allah tetapkan. Contoh, perbuatan itu takdir. Amal baik atau buruk, amal saleh atau salah, maka itu adalah takdir, bukan qadar……dst.”.

Abu-Jauzaa’ berkata:

Ini adalah pemahaman KELIRU dalam masalah keimanan terhadap takdir. Secara istilah, makna Al-Qadar adalah:

تقدير الله للكائنات حسبما سبق به علمُه، واقتضته حكمته

“Ketetapan (taqdiir) Allah bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu, dan yang dikehendaki oleh hikmah-Nya” [Rasaail fil-‘Aqiidah oleh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin, hal. 37].

Pembedaan dua hal tersebut (qadar dan takdir) tidaklah benar. Tidak mungkin ketetapan Allah datang menyusul setelah adanya ketetapan dari makhluk dalam ikhtiarnya. Bahkan Allah ta’ala telah menuliskan segala sesuatu di sisi-Nya, di Lauh Mahfuudh, 50.000 tahun sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Maka, tidak ada sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, luput dari Lauh Mahfuudh. Allah ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudh) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid: 22].

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].

Bahagia dan celaka, Neraka dan Surga seseorang, maka semua itu telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Sama seperti ajal dan rezeki. Bukankah dalam hadis ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu secara marfuu’ dari Nabi ﷺ telah disebutkan:

إِنَّ  أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ، أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) seperti itu pula (40 hari). Kemudian menjadi Mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula (40 hari). Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan REZEKINYA, AJALNYA, AMALANYA, dan CELAKA atau BAHAGIANYA. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak antara dirinya dengan Surga hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA, lalu ia beramal dengan amalan ahli Neraka. Maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga, maka dengan itu ia memasukinya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3207 dan Muslim no. 2643].

Juga tentang kisah perdebatan antara Adam dan Musa ‘alaihimas-salaam:

احْتَجَّ آدَمُ، وَمُوسَى، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ لَهُ آدَمُ: يَا مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَة، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ثَلَاثًا

“Adam dan Musa saling berhujjah (berdebat). Musa berkata kepadanya (Adam): “Wahai Adam, engkau adalah ayah kami. Engkau telah mengecewakan kami, dan mengeluarkan kami dari Surga”. Adam berkata kepadanya: “Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan firman-Nya dan telah menuliskan (Taurat) dengan tangan-Nya untukmu. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang Allah telah menakdirkannya untukku 40 tahun sebelum Allah menciptakanku?” Maka Adam mengalahkan Musa, Adam mengalahkan Musa” – sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6614 dan Muslim no. 2652].

Yaitu, ketetapan Allah ta’ala telah mendahului perbuatan Adam, yang menyebabkannya keluar dari Surga.

Ahlus-Sunnah berpendapat, bahwa keimanan terhadap takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan mengimani empat tingkatan takdir, atau disebut juga Rukun Takdir. Mulai Al-‘Ilmu[4], Al-Kitaabah[5], Al-Iraadah Wal-Masyii’ah[6], Dan Al-Khalq[7] yang uraiannya dapat dibaca dalam banyak referensi.

Pernyataan ketetapan Allah baru datang menyusul setelah adanya ihtiar makhluk, mengonsekuensikan penafikan terhadap banyak nash.

Jika yang dinafikkan dalam fase ihtiar adalah tingkatan Ilmu dan Kitaabah, maka ini tergolongan pemahaman Qadariyyah purba yang muncul di jaman sahabat radliyallaahu ‘anhum. Para sahabat radliyallaahu ‘anhum mengafirkan mereka, karena mereka menisbatkan kepada Allah ta’ala sifat bodoh (al-jahl). Allah (dianggap) tidak tahu, kecuali setelah terjadinya sesuatu (yaitu perbuatan hamba). Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa pernah berkata tentang mereka:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ، مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ، حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila engkau berjumpa dengan mereka, beritahukanlah kepada mereka, bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengannya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar Uhud, lalu ia menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya, hingga ia beriman kepada takdir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 8].

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنِ الْقَدَرِيِّ، فَلَمْ يُكَفِّرْهُ إِذَا أَقَرَّ بِالْعِلْمِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang Qadariy (penganut Qadariyyah), maka ia tidak mengafirkannya apabila menetapkan ilmu (Allah) [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 868].

وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: إِذَا جَحَدَ الْعِلْمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَعْلَمُ الشَّيْءَ حَتَّى يَكُونَ، اسْتُتِيبَ، فَإِنْ تَابَ وَإِلا قُتِلَ

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr, ia berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata: “Apabila ada seseorang yang mengingkari ilmu (Allah) dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak mengetahui sesuatu hingga terjadi’; maka ia diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat, maka diterima, dan jika enggan maka dibunuh[8]” [idem no. 869].

Jika yang dinafikkan dalam fase ihtiar itu adalah tingkatan Al-Iraadah Wal-Masyii’ah dan Al-Khalq (dengan tetap mengimani tingkatan al-‘Ilmu dan Al-Kitaabah), maka inilah keumuman paham Qadariyyah yang masih eksis hingga saat ini. Kehendak dan perbuatan hamba adalah murni dari hamba itu sendiri; bukan terjadi karena kehendak dan penciptaan Allah ta’ala.

Dua jenis Qadariyyah di atas adalah sama-sama SESAT, yang tidak ada jalan lain bagi pelakunya kecuali harus rujuk darinya.

  1. Semua Muslim adalah Salafiy (https://youtu.be/6vzOKxwvQqY)

Dalam Perbedaan Muhammadiyah, NU dan Salafi, ketika menjawab apa perbedaan Muhammadiyyah dan Salafi, maka Ustadz Adi Hidayat menjawab (setelah menjelaskan tentang Muhammadiyyah dan NU – mulai menit 05:23):

“Kalau Salafi, itu bukan Ormas, bukan madzhab. Tapi dari kata salaf. Salaf itu manhaj. Salaf itu artinya sesuatu yang lampau, yang lalu. Kenapa disebut dengan salaf, karena saat kita berusaha untuk beribadah menunaikan pendekatan ibadah kita kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, maka cara ibadah kita mesti seperti siapa?. Rasululah ﷺ. Rasulullah itu hidup di jaman kita atau di jaman dulu? Jaman dulu. Dulu itu bahasa Arabnya salaf. Jadi, mengikuti yang dulu, dulu bahasa Arabnya salaf. Kalau disebutkan mengikuti, ditambah dengan i ujungnya dalam bahasa Arab dengan ya’ nisbah. Ya’ nisbah itu gampangnya ditambah i saja di ujungnya. Misal, salaf , dulu, ikut yang dulu disebut dengan Salafi. Ni asalnya Salafi itu bukan madzhab, bukan kelompok, bukan ormas, tapi manhaj. Satu cara, satu arah, supaya kita beribadah mengikuti tuntunan yang dulu Rasulullah ﷺ sampaikan kepada para sahabat, yang disampaikan kepada para tabi’in. Itu masa lalu dulu. Kita ikuti jalannya. Nah, maka cara kita mengikuti jalan itu, cara kita disebut Salafi. Sebetulnya semua orang Islam itu gak ada yang gak Salafi. Semua Salafi. Semua Salafi. Tidak mungkin. Misalnya ada orang yang mengaku:  ‘Saya bukan Salafi’, maka berarti shalatnya beda itu. Pasti Salafi. Nggak mungkin. Pasti Salafi, karena Salafi itu artinya ikut yang dulu. Ikut Nabi ﷺ. Manhajnya. Salafi itu bukan golongan tertentu, bukan kelompok tertentu, bukan eksklusif ini Salafi yang lain bukan, maka tidak. Salafi itu manhaj. Nanti satu saat akan saya tunjukkan. Ibu kalau mau akan saya berikan slidenya…..”.

Kemudian beliau mencontohkan praktik ibadah shalat dengan variasi dalil yang ada. Dalam kesempatan lain (video berjudul Semua Muslim Adalah Salafi) dikatakan hal yang senada (menit: 00:28):

Maka di sini ada istilah Manhaj Salaf. Orang-orang yang mengikuti manhaj ini, sejalur dengan ini sampai ke ujungnya, kemudian bermuara ke Rasulullah ﷺ. Maka orangnya disebut dengan Salafi. Jadi Salafi itu bukan istilah khusus, atau nama khusus, untuk golongan tertentu, aliran tertentu, kelompok tertentu. Semua orang Islam pasti Salafi. Bapak Salafi ya?…Bukan pak, saya Doni…. Iya, nama bapak Doni, cuma bapak pasti melewati jalur ini… pasti ini…. Jadi teman-teman sekalian, tidak ada yang tidak Salafi. Pasti Salafi. Dan jangan juga mengatakan kepada orang: ‘O ini manhajnya bukan salaf ini’. Lalu apa (kalau bukan Salafi)?”

[selesai kutipan sampai menit 01:12].

Abu-Jauzaa’ berkata:

Jika Salafiy adalah orang-orang yang mengikuti cara beragama As-Salafush-Shaalih, maka mereka itu (As-Salafush-Shaalih) utamanya adalah tiga generasi pertama: Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, taabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’iin. Mereka adalah generasi yang diridlai Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah: 100].

Generasi terbaik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651, Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, dan yang lainnya].

Setelah itu, Nabi ﷺ bersabda tentang keadaan umat sepeninggal beliau ﷺ:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk Neraka kecuali satu (yang masuk Surga)”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641, Al-Haakim 1/218-219, Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 85, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain:

مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 dan Al-Ausath 5/137 no. 4886].

Dalam riwayat lain:

وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ia adalah Al-Jamaa’ah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4597].

Hadis di atas selaras dengan hadis ‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…..

“Karena siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Peganglah erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ahmad 4/126-127, dan yang lainnya; shahih].

Hadis-hadis ini menginformasikan, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya. Merekalah Salafi (sesuai dengan pengertian sebelumnya). Merekalah Ahlus-Sunnah, sebagaimana dikatakan As-Sam’aaniy rahimahullah mengenai ciri pokok mereka:

شعار أهل السنَّة اتباعهم السلف الصالح، وتركهم كل ما هو مبتدع محدث

“Syiar Ahlis-Sunnah adalah sikap ittiba’ mereka kepada As-Salafush-Shaalih, dan meninggalkan segala sesuatu yang diada-adakan (dalam agama)” [Al-Intishaar li-Ashhaabil-Hadiits hal. 31].

Selain mereka (Salafi/Ahlus-Sunnah), maka masuk dalam 72 golongan sisanya yang terdiri dari kelompok-kelompok menyimpang dalam Islam yang tidak mengikuti jalan As-Salafush-Shaalih.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah berkata:

شعار أهل البدع: هو ترك انتحال اتباع السلف

“Syiar Ahli Bid’ah adalah meninggalkan penerimaan dalam ittiba’ terhadap salaf” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/155].

Kelompok menyimpang/Ahli Bid’ah yang masuk ke kelompok sempalan yang 72 buah itu di antaranya apa yang dikatakan oleh Yuusuf bin Asbath rahimahullah:

أُصُولُ الْبِدَعِ أَرْبَعٌ: الرَّوَافِضُ، وَالْخَوَارِجُ، وَالْقَدَرِيَّةُ، وَالْمُرْجِئَةُ، ثُمَّ تَتَشَعَّبُ كُلُّ فِرْقَةٍ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ طَائِفَةً، فَتِلْكَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً، وَالثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ الْجَمَاعَةُ الَّتِي قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِنَّهَا النَّاجِيَةُ “

“Pokok-pokok kebid’ahan ada 4 (empat), yaitu Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, dan Murji’ah. Kemudian masing-masing firqah tersebut bercabang-cabang lagi menjadi 18 golongan, sehingga totalnya menjadi 72 firqah. Dan yang ke-73 adalah Al-Jamaa’ah yang disabdakan Nabi ﷺ: ‘Inilah firqah/kelompok yang selamat” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 17].

Ada perkataan ulama lain yang merinci untuk 72 kelompok sempalan ini selain dari penjelasan Yuusuf bin Asbath rahimahullah di atas. Ke-72 kelompok tersebut masih memiliki pokok Islam, namun menyimpang dari jalan As-Salafush-Shaalih.

Jika demikian, apakah dapat dibenarkan untuk dikatakan semua Muslim adalah Salafiy? Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok sempalan/Ahli Bid’ah yang menggembosi Islam dari dalam? Tentu saja tidak.

Adz-Dzahabiy rahimahullah ketika menyebutkan biografi para ulama Ahlus-Sunnah yang kuat ittiba’-nya kepada As-Salafush-Shaalih, menyifatinya dengan Salafiy. Di antaranya, ketika menyifati Ad-Daaraquthniy rahimahullah:

لم يدخل الرجل أبدا في علم الكلام ولا الجدال، ولا خاض في ذلك، بل كان سلفيا

“Ia (Ad-Daaraquthniy) tidak masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jidal (perdebatan), serta tidak pula mendalaminya. Bahkan ia seorang salafy” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 16/457].

Juga Abul-‘Abbas Ahmad bin Al-Muhaddits Al-Faqiih Majduddiin ‘Isaa bin Al-Imaam Al-‘Allamah Muwaffaquddiin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah:

وكان ثقة ثبتا، ذكيا، سلفيا، تقيا، ذا ورع وتقوى

“Ia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabt, pandai, Salafiy, hati-hati, punya sifat wara’ dan taqwa…” [Idem, 23/118].

Sebaliknya, ketika menyebut orang-orang yang manhaj atau ‘akidahnyanya ‘bermasalah’, Adz-Dzahabiy rahimahullah menyifati mereka dengan kebid’ahannya. Misalnya, Ibraahiim bin Abi Yahyaa Al-Aslamiy Al-Madaniy:

قدري، معتزلي، يروى أحاديث ليس لها أصل. وقال البخاري: تركه ابن المبارك والناس. وقال البخاري أيضا: كان يرى القدر، وكان جهميا.

“Qadariy, mu’taziliy. Ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak ada asalnya. Al-Bukhaariy berkata: ‘Ibnul-Mubaarak dan orang-orang meninggalkannya’. Al-Bukhaariy juga berkata: ‘Ia memiliki pandangan Qadariyyah, seorang jahmiy” [Miizaanul-I’tidaal, 1/57-58 no. 189].

Ibraahiim bin Thahmaan:

ثقة متقن من رجال الصحيحين، وكان مرجئاً

“Tsiqah, mutqin, termasuk perawi kitab Ash-Shahiihain, namun ia seorang Murji’ (memiliki pemikiran Murji’ah)” [Ar-Ruwaatuts-Tsiqaat Al-Mutakallamu fiihim, hal. 35 no. 1].

Al-Hasan bin Shaalih bin Hay:

مع جلالة الحسن وامامته كان فيه خارجية.

“Bersamaan dengan keagungan dan keimaman Al-Hasan, namun padanya ada pemikiran Khawaarij (Khaarijiyyah)” [Tadzkiratul-Huffadh, 1/217].

Jadi, apakah kita pikir paham Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, Murji’ah, dan yang lainnya itu telah punah di dunia saat ini? Jawabannya: Tidak. Malah mereka telah bermutasi dengan berbagai nama, sehingga hakikatnya menjadi samar dari kejauhan.

Di antaranya Khawaarij pada hari ini berada di bawah bendera ISIS, yang menghalalkan darah kaum Muslimin di berbagai penjuru negeri, dari Timur sampai Barat. Mereka Muslim,…. tapi apakah mereka Salafi?. Kalau Anda mengatakan Salafi; mohon maaf, saya jelas tidak sependapat.

Apabila slogan semua Muslim adalah Salafi dimaksudkan sebagai ajakan liberalisasi Salafi/ahlus-sunnah dengan menyatukan semua kelompok Islam, tak peduli benar atau salahnya ‘akidah dan manhaj mereka dalam baju Salafiy; tentu ini menyalahi kaidah. Tidak mungkin dua hal yang berlawanan untuk disatukan: Sunnah dengan Bid’ah, Salafi/Ahlus-Sunnah dengan Ahli Bid’ah.

Di sini poin pentingnya.

Tafsir Alquran ala Ustadz Adi Hidayat hafizohullah (Bagian Kedua)

​Menafsirkan Alquran tentu harus berhati-hati, berusaha merujuk kepada tafsiran para Salaf. Apalagi kalau mengaku bermanhaj Salaf. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru dengan model Tafsir Majaz (Kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat, lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh Salaf dan kaum Muslimin.

Saya rasa hampir seluruh kaum Muslimin di dunia ini, termasuk juga di Indonesia, menafsirkan atau menerjemahkan firman Allah “Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim” dengan “Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus”.

Namun ternyata terjemah/tafsir yang selama ini diyakini oleh kaum Muslimin dinilai salah oleh al-Ustadz Adi Hidayat!!?

Ustadz Adi Hidayat dalam video yang berjudul CARA AMPUH BERDOA KETIKA SHALAT AGAR CEPAT DIKABULKAN (link: https://youtu.be/oaizDNHxRf4 ), saat menjelaskan tempat dikabulkannya doa saat berdiri shalat, dengan membawakan hadis Abu Hurairah, berkata (mulai menit 06:17):

“Perhatikan, karena itulah saat berdiri diberikan oleh Allah satu tawaran, kalau dibacakan diberikan apa yang dibutuhkan. Mau nggak? Itulah Ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Tunjukkan kami ya Allah, solusi terbaik dari masalah yang kami miliki. Maaf, Ihdinash-shiraathal-mustaqiim itu arti yang tepat bukan ‘Tunjukkan kami pada jalan yang lurus’. Itu bahasa kiasan. Ga pakai oo.. bu. Itu bahasa kiasan. Ihdinaa dari kata hudan, hidayah, itu solusi dari persoalan yang dihadapi. Jadi punya masalah apapun ya Allah, solusinya tolong berikan. Ash-shiraathal-mustaqiim itu kata kiasan. Majaz dalam bahasa Arab. Yang mudah tidak sulit prosesnya. Jadi berikan solusinya, tapi mudah. Jadi ketika kita minta dalam shalat, itu minta ya Allah, saya punya masalah, tolong berikan. Diberikan oleh Allah satu bacaan. Dibaca. Jadi yang punya masalah di rumah tangga, diberikan solusinya. Yang punya masalah di pekerjaan, diberikan solusinya. Dan itu bukan biasa………”

Kesimpulan tafsir ustadz Adi Hidayat:

  • – Arti “Ihdinas shirothol mustaqim” dengan “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” ternyata salah.
  • – Arti tersebut salah, karena diterjemahkan secara tekstual. Padahal menurut ustadz Adi Hidayat susunan “Ihdinas shirothol mustaqim” adalah susunan majaz/kiasan (tidak sesuai dzohir tekstualnya)
  • – Yang benar “Tunjukanlah kami solusi terbaik dari masalah yang kami hadapi.

Adapun tafsir “Ihdinas shirothol mustaqim” menurut ahli tafsir adalah: “Tunjukanlah/anugerahkanlah/ilhamkanlah/bimbinglah/berilah kepada kami jalan yang lurus”.

Dan As-shirot al-mustaqim menurut tafsir para ahli tafsir ada beberapa tafirasan yaitu:

  • Kitabullah,
  • Tali Allah yang sangat kuat,
  • Islam,
  • Agama Allah,
  • Kebenaran, serta
  • Nabi ﷺ dan kedua sahabatnya: Abu Bakr dan ‘Umar

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata (tentang tafsir “Ihdina”):

والهداية هاهنا: الإرشاد والتوفيق، وقد تعدى الهداية بنفسها كما هنا (1) { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } فتضمن معنى ألهمنا، أو وفقنا، أو ارزقنا، أو اعطنا

“Dan Al-Hidayah di sini maksudnya adalah bimbingan dan taufik. Kadang kata Al-Hidayah dimuta’addikan dengan dirinya sebagaimana ayat ini ‘Ihdinash-shiraathal-mustaqiim’; sehingga mengandung pengertian “ilhamkanlah kepada kami”, “Bimbinglah kami”, “Anugerahkanlah kami”, dan “Berikanlah kepada kami”

Beliau juga berkata (tentang tafsir As-shirot al-mustaqim):

وأما الصراط المستقيم، فقال الإمام أبو جعفر بن جرير: أجمعت الأمة من أهل التأويل جميعًا على أن “الصراط المستقيم” هو الطريق الواضح الذي لا اعوجاج فيه.

Adapun ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’, Al-Imaam Abu Ja’far bin Jariir berkata: Umat Islam dari kalangan pakar ta’wiil (mufassiriin) telah SEPAKAT, bahwa ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’ maknanya adalah jalan yang jelas, yang tidak ada kebengkokan padanya” [Tafsiir Ibni Katsiir 1/137].

Setelah menurunkan ragam pendapat mufassirin tentang makna Ash-shiraath al-mustaqiim (Kitabullah, tali Allah yang sangat kuat, Islam, agama Allah, kebenaran, serta Nabi ﷺ dan kedua sahabatnya: Abu Bakr dan ‘Umar), Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

وكل هذه الأقوال صحيحة، وهي متلازمة، فإن من اتبع النبي صلى الله عليه وسلم، واقتدى باللذين من بعده أبي بكر وعمر، فقد اتبع الحق، ومن اتبع الحق فقد اتبع الإسلام، ومن اتبع الإسلام فقد اتبع القرآن، وهو كتاب الله وحبله المتين، وصراطه المستقيم، فكلها صحيحة يصدق بعضها بعضا، ولله الحمد.

“Semua perkataan/penafsiran ini adalah benar, yaitu saling menguatkan. Karena, barang siapa yang mengikuti (ittiba’) Nabi ﷺ, meneladani orang-orang sepeninggal beliau, yaitu Abu Bakr dan ‘Umar, sungguh ia telah mengikuti kebenaran. Barang siapa yang mengikuti kebenaran, sungguh ia telah mengikuti Islam. Barang siapa yang mengikuti Islam, sungguh ia telah mengikuti Alquran, yaitu Kitabullah, tali-Nya yang sangat kuat, dan jalan-Nya yang lurus. Semuanya penafsiran itu benar dan membenarkan yang lain. Walillaahil-hamd”

Terdapat hadis marfuu’ dari Nabi ﷺ yang menjelaskan makna Ash-shiraathul-mustaqiim:

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْكِلَابِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ” إِنَّ اللَّهَ ضَرَبَ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ دَارَانِ لَهُمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، عَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ، وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ، وَدَاعٍ يَدْعُو فَوْقَهُ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، وَالْأَبْوَابُ الَّتِي عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ حُدُودُ اللَّهِ، فَلَا يَقَعُ أَحَدٌ فِي حُدُودِ اللَّهِ حَتَّى يُكْشَفَ السِّتْرُ، وَالَّذِي يَدْعُو مِنْ فَوْقِهِ وَاعِظُ رَبِّهِ “

Dari An-Nawwaas bin Sam’aan Al-Kilaabiy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ:

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah membuat perumpamaan Ash-shiraathul-mustaqiim dengan Shirath yang di sampingnya ada dua tembok yang memunyai pintu terbuka. Di setiap pintu terdapat tirai, penyeru yang menyeru di tengah Shiraath, dan penyeru yang menyeru di atasnya (penyeru pertama). ‘Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)’ (QS. Yuunus: 25). Pintu-pintu yang berada di samping Shiraath adalah batasan-batasan (larangan-larangan) Allah. Tidak ada seorang pun yang jatuh kepada larangan Allah, hingga ia menyingkap tirainya. Penyeru yang berada di atasnya adalah penasihat (ilham) dari Rabbnya”

Dalam riwayat lain dirinci:

وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي من فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Dan Shiraath tersebut adalah Islam, kedua tembok/dinding adalah batasan-batasan (larangan-larangan) Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Penyeru yang berada di tengah Shiraath adalah Kitabullah ‘azza wa jalla, sedangkan penyeru yang berada di atas Shiraath adalah penasihat Allah (ilham), yang berada di hati setiap Muslim” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2859, Ahmad 4/182 & 183, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 18-19, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/141].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: ” هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ “، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ “، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata: “Rasulullah ﷺ pernah menggambar untuk kami sebuah garis (di tanah), lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggambar banyak garis di kanan dan kiri garis tersebut, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang lain, di mana setiap jalan tersebut ada setan yang menyeru pada jalan tersebut”. Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya’ (QS. Al-An’aam: 153)” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/435; sanadnya Hasan].

‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu sendiri menafsirkan Ash-shiraathul-mustaqiim dengan perkataannya:

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، قَالَ: هُوَ كِتَابُ اللَّهِ

“Makna ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’ adalah Kitabullah” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 2/258, dan ia menshahihkannya].

‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, salah seorang pakar tafsir di kalangan sahabat, menjelaskan:

هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَاهُ “، قَالَ: فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلْحَسَنِ، فَقَالَ: ” صَدَقَ وَاللَّهِ وَنَصَحَ وَاللَّهِ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا “

“Ash-shiraathul-mustaqiim adalah Rasulullah ﷺ dan dua orang sahabatnya”. Perawi berkata: Maka kami menyebutkan hal itu kepada Al-Hasan, lalu ia berkata: “Ia benar. Demi Allah, ia telah memberikan nasihat, demi Allah. (Ash-shiraathul-mustaqiim) adalah Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak, 2/259; dan ia menshahihkannya].

Rasulullah ﷺ merupakan Ash-Shiraathul-Mustaqiim (Jalan yang lurus), karena Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab: 21].

Begitu juga dengan Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, karena Nabi ﷺ sendiri yang memerintahkan para sahabat, (dan kita pada umumnya), untuk meneladani Abu Bakr dan ‘Umar sepeninggal beliau ﷺ:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ

“Mencontohlah kepada dua orang setelahku: Abu Bakr dan ‘Umar” [lihat: Silsilah Ash-Shahiihah no. 1233].

Jadi, jika penafsiran-penafsiran yang didasarkan oleh riwayat/atsar dan perkataan as-Salafush-shaalih di atas dikatakan tidak tepat karena hanya kiasan saja, apakah kita harus membenarkan penafsiran Ustadz Adi Hidayat di atas? Yaitu: berikanlah kami ya Allah solusi yang mudah atas persoalan kami? Apakah kita mesti meninggalkan hadis, atsar sahabat dan ijmaa’ mufassiriin (sebagaimana ditegaskan Ibnu Katsiir) untuk mengikuti tafsir majaz/kiasan ala Ustadz Adi Hidayat?

Metode penafsiran tanpa membawakan penjelasan ulama tentu sangat disayangkan, bagi sekelas Ustadz Adi Hidayat – yang saya yakin sangat mampu untuk membawakannya (berikut judul, juz, halaman, dan letak baris kalimatnya) – karena rawan kesalahan.

Ingat pesan Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:

إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ

“Berhati-hatilah berkata dalam satu permasalahan yang engkau tidak memiliki pendahulunya” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 11/296].

 

 

Catatan Kaki

 

[1]  Pertama, karena itu merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Sama seperti ketika Anda ditanya: ‘Apa pandangan Anda tentang Ayam Bakar Wong Solo?’ Tentu Anda bebas menjawab sesuai pandangan Anda. Enak, tidak enak, tidak tahu, atau bahkan tidak menjawab sama sekali.

Kedua, jawaban tersebut sifatnya tertutup untuk anggota grup, khususnya yang bertanya. Hanya saja, karena kurangnya sifat amanah sebagian anggota grup, rekaman jawaban itu pun menyebar keluar (padahal sudah dipesan untuk tidak disebarkan). Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [QS. Al-Anfaal: 27].

Inilah adab yang banyak dilupakan oleh banyak anggota grup media sosial yang sifatnya tertutup (WA, path, dll.). Nabi ﷺ bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah kepadamu, dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1264, Abu Daawud no. 3535, Ad-Daarimiy no. 2600, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 1831-1832, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 423].

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia berkhianat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 33 & 2682 & 2749 & 6095, Muslim no. 59, At-Tirmidziy no. 2631, dan yang lainnya].

[2] Itulah yang dilakukan para ulama zaman ke zaman. Bukan hanya dilakukan oleh ‘duaat Rodja’ saja (sebenarnya saya tidak nyaman menggunakan frasa ini). Bahkan (sebaliknya), yang mentahdzir ‘duaat Rodja’, ‘pendengar Rodja’, Salafi, Wahabi, dan yang semisalnya; banyak, dan lebih banyak. Termasuk di antaranya yang menggoreng masalah ini…. Gak percaya?

Tentang tahdzir,….. dulu, ‘Aliy bin Abi Khaalid pernah menceritakan kepada Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah tentang seorang syaikh yang duduk bermajelis dengan Al-Haarits Al-Muhaasibiy (Mubtadi’). Syaikh tersebut telah dinasihati agar tidak bermajelis dengannya, namun tetap saja ia bermajelis dengannya. ‘Aliy bin Abi Khaalid berkata:

فرأيت أَحْمَد قد أحمر لونه، وانتفخت أوداجه وعيناه، وما رأيته هكذا قط، ثم جعل ينفض، ويقول: ذاك؟ فعل اللَّه به وفعل، ليس يعرف ذاك إلا من خبره وعرفه، أويه، أويه، أويه، ذاك لا يعرفه إلا من خبره، وعرفه، ذاك جالسه المغازلي، ويعقوب، وفلان، فأخرجهم إلى رأي جهم، هلكوا بسببه،

فقال الشيخ: يا أبا عَبْد اللَّه، يروي الحديث، ساكن خاشع، من قصته، ومن قصته؟ فغضب أَبُو عَبْدِ اللَّهِ، وجعل يقول: لا يغرك خشوعه ولينه، ويقول لا يغتر بتنكيس رأسه، فإنه رجل سوء، ذاك لا يعرفه، إلا من قد خبره، لا تكلمه، ولا كرامة له، كل من حدث بأحاديث رَسُول اللَّهِ ﷺ وكان مبتدعا، تجلس إليه؟ لا، ولا كرامة، ولا نعمى عين

Maka aku melihat wajah Ahmad memerah, serta urat leher dan kedua matanya menjadi membesar (karena menahan amarah). Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya sama sekali. Setelah mereda, beliau rahimahullah berkata: “Orang itu (Al-Haarits)? Semoga Allah menimpakan sesuatu kepadanya. Tidak ada orang yang mengenalnya kecuali orang yang tahu dan kenal dengannya. Ah…ah…ah… Orang itu, …. tidak ada yang mengenalnya kecuali orang yang tahu dan kenal dengannya. Al-Maghaazaliy, Ya’quub, dan Fulaan telah bermajelis dengannya, lalu ia (Al-Haarits) menjerumuskan mereka kepada pemikiran Jahm (bin Shafwaan), hingga mereka binasa dengan sebab dirinya”.

Maka syaikh itu berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah, ia (Al-Haarits) meriwayatkan hadis, tenang, lagi khusyu’. Dan ceritanya begini dan begitu”. Abu ‘Abdillah marah dan berkata: “Jangan engkau tertipu dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Jangan engkau tertipu dengan kepalanya yang tertunduk, karena ia adalah orang yang jelek. Tidak ada orang yang mengenalnya, kecuali orang yang tahu tentangnya. Jangan engkau berbicara dengannya. Tidak ada kemuliaan padanya. Apakah semua orang yang berbicara tentang hadis-hadis Rasulullah ﷺ, sementara ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah), boleh untuk bermajelis dengannya? Tidak, tidak ada kemuliaan padanya. Kita tidak boleh membutakan mata kita (terhadap hal itu)” [Thabaaqatul-Hanaabilah, 2/149-150].

Beberapa pelajaran dari kisah di atas:

  1. Hakikat kesalahan/kesesatan seseorang seringkali hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang telah mengenalinya.
  2. Tahdzir dilakukan para ulama terhadap Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan dalam rangka menjaga agama dan kaum Muslimin.
  3. Nasihat untuk tidak bermajelis dengan Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan, karena dapat menjerumuskan dalam kesesatan/penyimpangannya tanpa disadari.
  4. Sebagian manusia terkelabuhi oleh ilmu yang disampaikan Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan dan akhlak yang nampak darinya, sehingga kesesatan/penyimpangannya menjadi samar.
  5. Anjuran untuk bertanya kepada ahli ilmu terkait permasalahan agama yang ia hadapi.

Wallaahu a’lam.

[3]  Mungkin ini keseleo lidah (slip of tongue), karena yang dikatakan tersebut adalah aliran Jabriyah sebagai lawan dari Qadariyyah. Mereka (Jabriyyah) berkata: Sesungguhnya para hamba dipaksa dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan mereka tidak memunyai pilihan. Apabila suatu perbuatan disandarkan kepada makhluk, maka itu hanyalah Majaziy saja, karena yang berbuat secara hakiki adalah Allah. Hamba tidak ubahnya seperti kayu yang hanyut di air, atau daun yang tertiup angin.

Adapun Qadariyyah, maka mereka menafikan takdir dengan berbagai tingkatannya.

قِيلَ لابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ قَوْمًا يَقُولُونَ: لا قَدَرَ، قَالَ: فَقَالَ: أُولَئِكَ الْقَدَرِيُّونَ أُولَئِكَ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ

Dikatakan kepada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu: “Sesungguhnya ada satu kaum yang mengatakan: ‘Tidak ada qadar”. Maka ia (Ibnu ‘Umar) berkata: “Mereka adalah Qadariyyah. Mereka adalah Majusinya umat ini” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 958 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 1517].

[4] Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu yang ada maupun yang tidak ada; yang mungkin maupun yang tidak mungkin (mustahil); yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta mengetahui bagaimana terjadinya. Dalilnya diantaranya adalah firman Allah ta’ala:

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Agar kamu mengetahui, bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” [QS. Ath-Thalaq: 12].

[5] Yaitu beriman, bahwa Allah ta’ala telah menuliskan segala sesuatu di sisi-Nya, di Lauh Mahfuudh, 50.000 tahun sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi. Maka tidak ada sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi luput dari Lauh Mahfuudh.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ * وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis” [QS. Al-Qamar: 52-53].

[6] Yaitu beriman bahwa segala sesuatu yang ada hanya terjadi dengan keinginan dan kehendak Allah ta’ala. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan apa yang telah dikehendaki Allah. Apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah ta’ala tidak akan terjadi.

[7] Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu, baik dzat maupun perbuatannya; semua yang bergerak dan gerakannya; serta yang ada, yang pernah ada, maupun yang belum ada. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi, kecuali Allah ta’ala adalah Penciptanya.

[8] Juga diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz radliyallaahu ‘anhu.

عَنْ مَالِك، عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، فَقَالَ: ” مَا رَأْيُكَ فِي هَؤُلَاءِ الْقَدَرِيَّةِ ؟ فَقُلْتُ: رَأْيِي أَنْ تَسْتَتِيبَهُمْ فَإِنْ تَابُوا وَإِلَّا عَرَضْتَهُمْ عَلَى السَّيْفِ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: ” وَذَلِكَ رَأْيِي “. قَالَ مَالِك: وَذَلِكَ رَأْيِي

Dari Maalik, dari pamannya yaitu Abu Suhail bin Maalik, ia berkata: Aku pernah berjalan bersama ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, lalu ia bertanya: “Apa pendapatmu tentang orang-orang Qadariyah?” Aku menjawab: “Menurutku, engkau mesti meminta mereka untuk bertaubat. Jika mereka bertaubat, maka diterima. Namun jika tidak mau bertaubat, maka engkau bunuh mereka dengan pedang”. ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azii berkata: “Itu juga pendapatku”. Maka Maalik (bin Anas – perawi riwayat ini) berkata: “Dan itu juga pendapatku” [Al-Muwaththa’].

 

Sumber:

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/03/sebuah-masukan-1.html?m=1

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/04/masukan-untuk-ah-hafizohullah.html

 

,

JANGAN PERNAH BERSEDIH, ALLAH BERSAMA KITA

JANGAN PERNAH BERSEDIH, ALLAH BERSAMA KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

JANGAN PERNAH BERSEDIH, ALLAH BERSAMA KITA

Saudaraku dengarlah ini.

Demi Allah, engkau mungkin bahagia di pagi hari, tetapi sore hari engkau malah terkena musibah.

Hari ini engkau bahagia, bisa jadi esok justru engkau menangis.

Subhanallah, inilah dunia.

Dunia ini adalah sebuah tempat, di mana yang sehari membuatmu tertawa, dan esok membuatmu menangis.

Saat seperti itu, apa yang harus engkau lakukan?

  • Saat engkau sedang diuji sakit.
  • Saat engkau gundah karena memikirkan utang yang bertumpuk.
  • Saat diuji dengan meninggalnya orang-orang yang kita sayangi.
  • Saat ada permasalahan dengan orang terdekat (suami/istri).
  • Bahkan saat engkau gundah, gelisah dan putus asa karena dosa yang pernah dilakukan.

 

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَ

“Jangan engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.” [QS. At Taubah 40]

Seorang Muslim yang bertauhid, selama dahi masih menempel di tanah, maka jangan pernah takut! Selama dahimu menempel di tanah, jangan takut apapun!

Wahai saudaraku, ingatlah ini.

“Sesungguhnya, jarak antara masalahmu dan jalan keluar, seperti jarak antara dahimu dan bumi (tanah)”

Semua jalan keluar dan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi Rasulullah ﷺ datang dengan sujud.

 وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Maka sujudlah dan mendekatlah.” [QS Al-‘Alaq 19]

Jika demikian apa solusinya?

Apa jalan keluarnya dari permasalahan dan kesedihan yang menghimpit?

Solusinya adalah perbanyak sujud (shalat).

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ  مِّنَ السّٰجِدِيْنَ

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan jadilah engkau di antara orang-orang yang SUJUD (sholat).” [QS. Al-Hijr 98]

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabb-nya, adalah ketika dia dalam keadaan sujud. Maka perbanyak doa (di dalamnya ketika sujud).” [HR. Muslim]

Sujudlah. Sujudlah. Dan perbanyaklah doa di dalamnya. Lakukanlah dengan penuh penghambaan karena-Nya. Maka niscaya Dia akan mudahkan jalan keluar dari setiap permasalahanmu, dan pula kesedihanmu.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: http://shahihfiqih.com/tazkiyatun-nafz/jangan-pernah-bersedih-allah-bersama-kita/

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#StopBid‘ah

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

Pertanyaan:

Banyak di antara masyarakat kita yang meyakini akan hal berikut ini:

MAHALLUL QIYAM, MENGHADIRKAN ROH NABI ﷺ DALAM SALAM PENGHORMATAN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي، حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ“.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidaklah seseorang di antara kalian mengucapkan salam penghormatan kepadaku, melainkan Allah mengembalikan rohku, hingga aku menjawab salamnya [Hadis riwayat Imam Abu Daud dan dinilai Sahih oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar].

Ibnul Qoyyim al-Jauzi, berkata dalam kitab ar-Ruh:

وقال سلمان الفارسى أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata: Arwah kaum mukminin berada di Alam Barzah dekat dari bumi, dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya.

الروح – (ج 1 / ص 91)

Pada setiap di saat kita membaca Tasyahud dalam shalat, kita selalu mengucapkan:

 “ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي ّ”ُ

“Assalamualika ayyuhan nabi”, yang artinya: “Salam penghormatan kepada engkau wahai Nabi”.

Penjelasan:

Pada saat menyebut Nabi dalam shalat, kita memakai kata ganti كَ atau kata ganti orang kedua, atau Dlamir Mukhatab, yang berarti kamu atau Anda. Kita tidak menyebut nabi dengan Dlamir Ghaib هُ atau dia, atau beliau. Kita menyebut nabi dengan engkau. Ini artinya, bahwa pada saat kita mengucapkan salam penghormatan, Allah menghadirkan roh Nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab salam penghormatan dari kita.

Begitu juga pada saat Mahallul Qiyam pada peringatan Maulid Nabi saat saat kita berdiri mengucapkan salam penghormatan:

” يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْك “َ

Dalam kalimat yang kita baca “Wahai Nabi salam penghormatan kepadamu, Wahai Rasul salam penghormatan kepadamu”. Salam penghormatan kepada nabi inilah yang menghadirkan roh Nabi ﷺ pada saat itu.

Demikianlah mengapa di acara peringatan Maulid Nabi ada momen berdiri.

والله أعلم….

Mohon penjelasannya mengenai tulisan di atas.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Hadis tersebut Shahih insya’Allah, namun maknanya diperselisihkan para ulama. Dan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan banyak pendapat tentang makna hadis ini dalam kitab Ar Ruh, demikian pula Imam Ibnu Baz dalam fatwa beliau.

Kesimpulan pendapat terkuat adalah makna hadis tersebut dikembalikan sebagaimana adanya. Dan hadis ini TIDAK sedikit pun memberikan keterangan, bahwa Nabi ﷺ hadir di dekat orang yang mengucapkan salam kepada beliau ﷺ.

Bayangkan seandainya ada sejuta orang mengucapkan salam di berbagai lokasi berbeda, di mana beliau ﷺ kala itu?

Pernyataan Salman Al-Farisi juga TIDAK memberikan keterangan, bahwa roh keluar dari Barzakh, ia pergi ke mana saja sesuka hatinya, tapi masih dalam ruang lingkup Barzakh.

Dhamir Ka (kamu) TIDAK menjadi indikasi, beliau ﷺ ada di dekat kita, karena di sana ada riwayat lain Shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang memerintahkan mengubah lafal As-slamualaika ayyuhannabi diubah menjadi Assalamu ‘alannabi warahmatullah. Pengubahan ini dilakukan setelah Nabi ﷺ wafat [HR Bukhari 6265, Muslim: 402, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwaul Ghalil: 321].

Terakhir, jika kita harus berdiri ketika mengucapkan salam dalam rangka menyambut Nabi ﷺ, ada dua kejanggalan di sini:

  1. Kenapa kita tidak berdiri ketika membaca salam dan shalawat ketika Tasyahud?
  2. Justru Nabi ﷺ di kala beliau ﷺ hidup, beliau ﷺ melarang para sahabatnya dari perbuatan tersebut:

عن أنس رضي الله عنه قال: ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih para sahabat cintai saat melihatnya, daripada Nabi ﷺ. Namun jika melihat beliau ﷺ, mereka tidak pernah berdiri, karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu” [HR Bukhari dalam Adabul-Mufrad: 946, Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 2754 dan Asy-Syamaail  335, Ibnu Abi Syaibah: 8/586, Ahmad: 3/132, Abu Ya’la: 3784, Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar: 1126 hadis ini Shahih].

Nabi ﷺ juga bersabda:

من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار

“Barang siapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di Neraka” [HR. Abu Dawud: 5229, Tirmidzi: 2753, Ahmad: 4/93, Bukhari dalam Adabul Mufrad: 977, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan: 1/219, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadis As-Shahihah:1/627].

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/benarkah-ruh-nabi-hadir-saat-tasyahud-salam-penghormatan/

,

RAIHLAH KEMULIAAN ILMU AGAMA

RAIHLAH KEMULIAAN ILMU AGAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 #MenuntutIlmuSyari

RAIHLAH KEMULIAAN ILMU AGAMA

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sungguh, malaikat menghamparkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Dan sungguh, seorang ulama itu dimohonkan ampun baginya, oleh penduduk langit dan bumi, sampai ikan di kedalaman laut. Dan sungguh, keutamaan orang yang berilmu di atas ahli ibadah, bagaikan keutamaan bulan di malam purnama, di atas seluruh bintang-bintang. Dan sungguh, para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh, para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]

Tiga Kunci Utama Dalam Menuntut Ilmu

Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وأهم شيء هو الاجتهاد والمثابرة وحسن القصد فإن ذلك من أسباب حصول العلم.

 “Yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah:

[1] Kesungguhan,

[2] Sabar dalam menuntut ilmu secara terus menerus,

[3] Niat yang baik.

Inilah sesungguhnya di antara sebab untuk meraih ilmu.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail, 26/148 no. 50]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1930454157187386

 

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

Pertanyaan:

  • Apakah ada tanda khusus yang muncul sebelum seorang manusia meninggal, baik dia Mukmin atau kafir?
  • Apakah ada tanda bahwa ajalnya semakin dekat?
  • Jika sudah jelas bahwa ajalnya sudah dekat, apa yang harus dia lakukan? Kalau dia belum merasakan tanda-tanda tersebut, kapan sebenarnya tanda-tanda itu akan muncul?
  • Apa ada cara untuk meringankan sakaratul maut?
  • Amal saleh apa yang paling bagus untuk dilakukan terus-menerus?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama:

Tidak ada seorang pun yang tahu, kapan ajalnya akan menjemput. Juga tidak ada yang tahu, di belahan bumi mana dia akan mati. Allah berfirman:

( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti), apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui, di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Kedua:

Tidak ada tanda khusus yang bisa menjadi petunjuk bagi manusia, bahwa ajalnya sudah dekat, dan jatah umurnya sudah habis. Ini bagian-bagian dari rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Karena ketika manusia tahu kapan ajalnya datang, dan dia tahu, bahwa taubat akan menghapus kesalahan yang telah lampau, dia akan tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Dia akan “menghibur” dirinya, satu jam sebelum ajal datang: “Sudah, bertaubatlah dan tinggalkan dosa ini.” Tipikal orang semacam ini tidak cocok disebut hamba Allah, tapi lebih cocok disebut budak nafsu.

Berbeda dengan kenyataan yang terjadi, manusia tidak tahu kapan maut menjemput. Sehingga orang yang berakal akan cepat-cepat memerbaiki masa lalunya, dan segera bertaubat serta beramal saleh, karena dia tak tahu kapan waktu ajalnya tiba. Dia terus berusaha dengan ikhtiar tersebut, hingga Allah mewafatkannya. Seperti ini yang layak disebut hamba yang saleh: Gemar berbuat taat dan berlari jauhi maksiat.

Hanya saja, ada beberapa tanda yang kadang menjadi petunjuk, bahwa ajal kian dekat, seperti: menderita sakit parah, yang umumnya tidak mungkin lagi disembuhkan, sudah berusia lanjut, tertimpa musibah yang mematikan, atau hal-hal lain yang umumnya bisa menjadi sebab kematian.

Ketiga:

Manakala seseorang merasa ajalnya semakin dekat, ketika sakitnya bertambah parah, atau kondisi semisal itu, dia wajib memerbaiki keadaan ukhrawinya, dengan taubat kepada Allah, dan mengembalikan hak setiap orang yang dia zalimi, serta memohon maaf dari mereka. Juga bersegera beramal saleh, penuh kesungguhan berharap kepada Allah, berlari menuju ketaatan, dan memohon kebaikan Allah, berupa pemaafan serta ampunan dari-Nya. Iringi itu semua dengan banyak prasangka baik kepada-Nya. Sertai pula dengan menaruh harapan besar terhadap kemurahan Allah, dan luasnya rahmat Allah. Dia tak akan mengkhianati persangkaan baik dari hamba-Nya.

Telah diriwayatkan oleh Muslim, no. 2877, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:

” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) “

“Aku dengar Nabi ﷺ, tiga hari sebelum wafatnya, bersabda: ‘Jangan sampai kalian meninggal, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’

Gapai itu dengan memerbanyak amalan penghilang dosa dan penghapus kesalahan, yaitu istigfar, menjaga wudhu dan shalat, menunaikan haji dan umrah, dan sebagainya.

Keempat

Sakaratul maut adalah ujung kehidupan yang begitu dahsyat, sebelum perjumpaan dengan Allah. Sakaratul maut adalah kesempatan terakhir Allah menghapus kesalahan hamba-Nya.  Kita mohon kepada Allah, agar sakaratul maut diringankan, dan kita dimudahkan dalam menjalaninya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Rasulullah ﷺ tengah menderita sakit, yang akhirnya menjadi sebab wafatnya beliau. (Ketika masih sakit), beliau ﷺ masukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu beliau ﷺ usap wajahnya. Beliau ﷺ katakan: ‘Laa ilaaha illallah (Tiada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah).’ Kemudian beliau ﷺ angkat tangannya seraya berucap: ‘Bersama Ar-Rafiiq Al-‘Ala,’ hingga akhirnya tangan beliau ﷺ melemas lalu meninggal.”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Rasulullah ﷺ tengah menderita sakit, yang akhirnya menyebabkan beliau ﷺ wafat. (Ketika masih sakit), beliau ﷺ masukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu beliau ﷺ usap wajahnya. Lantas beliau ﷺ berkata:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ

‘Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi perihnya kematian, atau masa menjelang kematian.’

Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 978, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dia berkata:

“Aku melihat Rasulullah ﷺ yang tengah menghadapi maut. Di sisi beliau ﷺ terletak bejana berisi air. Beliau ﷺ masukkan tangannya ke dalam bejana, lalu beliau ﷺ basuh wajahnya dengan air. Kemuadian beliau ﷺ berkata: ‘Ya Allah, mohon tolong aku menghadapi perihnya maut, atau masa menjelang maut.‘” (Hadis ini dinilai Hasan oleh Al-Hafiqzh dalam Fathul Bari, 11:362. Dalam kitab Dha’if At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadis ini Dhaif)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Apakah sakitnya sakaratul maut bisa meringankan beban dosa di Akhirat? Apakah penyakit yang diderita sebelum ajal bisa meringankan beban dosa di Akhirat?

Beliau rahimahullah menjawab: “Setiap (musibah) yang menimpa manusia, baik itu penyakit, penderitaan, kesedihan, rasa galau, hingga duri yang menusuknya, maka semua itu merupakan penghapus dosa. Kemudian jika dia sabar dan mengharap pahala, dosanya akan dihapuskan, dan dia akan mendapat pahala atas kesabarannya menghadapi musibah tersebut. Sama saja apakah musibah itu terjadi menjelang kematian, atau jauh waktu sebelum proses kematian.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2:24)

Seiring makin dekatnya kematian dan kuatnya sakaratul maut, seorang Mukmin akan menghadapinya dengan jiwa gembira dan teguh. Dia menghadapi (kematian dan sakaratul maut) dengan mudah. Dia diliputi rindu, untuk menyongsong sesuatu yang akan didapatinya setelah kematian, yaitu perjumpaan dengan Allah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimaullah berkata: “Seseorang yang telah mati tak mungkin lepas dari salah satu keadaan: Dia akan berisitirahat dengan tenang, atau dia tak akan bisa beristirahat di alam kuburnya. Dua golongan tersebut mungkin saja sakaratul mautnya semakin berat, dan mungkin pula malah semakin ringan.

Golongan yang pertama adalah orang yang menyongsong sakaratul maut dengan ketakwaan, bukan kemaksiatan. Bahkan, jika dia orang yang bertakwa, (semakin dekat kematiannya) maka semakin kuat pula taubatnya. Bila tidak demikian, dosanya tetap akan diampuni, sesuai dengan kadar (rasa sakit) yang dia hadapi (ketika sakaratul maut). Setelah itu, dia pun ‘beristirahat’ dari kepedihan dunia, yang telah ditutup dengan (kematian). Umar bin Abdul Aziz berkata: ‘Satu hal yang kusukai dari sakaratul maut adalah, bahwa sakaratul maut merupakan akhir (kepedihan dunia), yang menjadi penghapus dosa seorang Mukmin.’

Dengan demikian, selain kabar gembira, kesenangan malaikat berjumpa dengannya, kelembutan mereka terhadapnya, dan kebahagiaannya ketika berjumpa dengan Rabb-nya, akan lenyap pula segala sakit menjelang kematian, sampai-sampai tidak ada sedikit pun rasa sakit yang ia alami.” (Fathul Bari, 11:365)

Kita tidak tahu jalan lain yang bisa membuat sakaratul maut menjadi lebih ringan, selain meminta tolong kepada Allah, serta berdoa kepada-Nya, agar memudahkan sakaratul maut itu, dan tidak memersulitnya. Semoga kita bisa melakukan amalan yang dikerjakan Nabi ﷺ, yaitu memasukkan tangan ke dalam air, kemudian mengusapkan kedua tangan ke wajah, lalu berdoa kepada Allah, agar Dia berkenan menolong dalam melalui sakaratul maut. Hadisnya telah disebutkan di atas.

Di sisi lain, sebagian salaf menilai, bahwa perihnya sakaratul maut merupakan bentuk rahmat Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat Umar bin Abdul Aziz. Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad, dalam Zawaiduz Zuhud, hlm. 388, dari Ibrahim An-Nakha’I, dia berkata: “Mereka menganjurkan orang yang sakit untuk berjuang (menahan kepedihan), ketika menghadapi kematian.”

Juga diriwayatkan dari Manshur: “Sesungguhnya Ibrahim an-Nakhai menyukai sakit yang dirasakan sewaktu nyawanya dicabut.”

Kita tidak tahu, bahwa ada orang yang pasti berhasil melalui kedahsyatan (sakaratul maut), melainkan orang yang mati syahid. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 7953; At-Tirmidzi, no. 1668, dan beliau menilainya Shahih; An-Nasa’i, no. 3161, dan Ibnu Majah, no. 2802; dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ

“Seorang yang mati syahid tidak merasakan kematian, melainkan hanya seperti bila ia digigit.” (Dinilai Shahih oleh Al-Albani – dalam Shahih At-Tirmidzi – dan selain beliau)

Al-Munawi berkata: “Maksudnya, Allah ta’ala meringankan kematian untuknya, dan mencukupkan baginya sakatarul maut dan kepedihannya. Bahkan, kadang seseorang yang mati syahid menjadikan merasakan kelezatan dalam perjuangannya di jalan Allah. Sebagaimana ucapan Khabib Al-Anshari ketika ia terbunuh (di medan jihad):

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh dalam keadaan Muslim

Di bagian mana aku terjatuh untuk Allah (Faidhul Qadir, 4:182)

Kelima

Amal saleh adalah setiap hal yang diperintahkan, yang dikhususkan, dan disunnahkan oleh pembuat syariat (yaitu Allah). Satu amal saleh lebih afdhal (utama) dibandingkan amal saleh yang lain. Salah satu amal saleh yang paling afdhal, yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya dan seorang Muslim disarankan untuk terus melakukannya, adalah:

  • Memerbanyak zikir kepada Allah,
  • Membaca Alquran,
  • Berbakti kepada orang tua,
  • Silaturahim (menyambung hubungan kekerabatan),
  • Haji,
  • Umrah,
  • Qiyamul lail (shalat tahajud),
  • Sedekah secara sembunyi-sembunyi,
  • Berakhlak mulia,
  • Menebarkan salam,
  • Memberi makan orang lain,
  • Berkata jujur,
  • Amar ma’ruf dan nahi mungkar,
  • Menyukai kebaikan bagi orang lain,
  • Menyingkirkan gangguan dari orang lain,
  • Tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa,
  • Mendamaikan dua orang yang berseteru,
  • Dan bentuk-bentuk amal kebaikan lainnya.

Kami nasihatkan kepada Saudari Penanya, ketika mengingat mati dan kepedihannya, agar menjadikannya sebagai pemacu untuk lebih bertakwa kepada Allah, dan memerbanyak amal saleh. Jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mudahkan kesulitan yang meliputinya, Allah akan sirnakan semua ganjalan yang ada, dan Dia akan hapuskan segala kepedihan.

Wallahu a’lam.

Situs Islam Tanya-Jawab (diasuh oleh Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid)

Sumber: http://islamqa.info/ar/201751

**

Penerjemah: Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

[Artikel WanitaSalihah.Com]

ماذا يفعل الإنسان إذا أحس بقرب أجله ؟

السؤال :

– هل هناك علامات قبل وفاة الإنسان سواء كان مؤمنا أو كافرا ؟ وهل للعلامات أوقات محدده ؟

– وإذا تبين له أن أجله قريب ماذا يفعل ؟ ولما نتلقى هذه العلامات إذا كانت موجودة ؟

– وهل هناك طريقة لتخفيف سكرات الموت ؟

– وما أفضل الأعمال الصالحة التي ينصح التمسك بها ؟

الجواب :

الحمد لله

أولا :

لا يعلم أحد من الناس على وجه التحديد متى يموت ، ولا بأي أرض يموت ، قال تعالى : ( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34 .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 100451 ) ، ( 180876 ) .

ثانيا :

ليست هناك علامات معينة يتعرف بها الإنسان على قرب أجله وانقضاء عمره ، وهذا من رحمة الله بعباده ، فإن الإنسان إذا علم متى يكون أجله ، وعلم أن التوبة تكفر ما قبلها من الخطايا ، ربما انغمس في الذنوب ، وارتكس في الآثام ، ومنى نفسه أنه قبل موته بساعة من نهار : تاب وأقلع ، ومثل هذا لا يصلح أن يكون عبدا لله ؛ بل هو عابد لهواه .

بخلاف الواقع الذي لا يدري معه الإنسان متى يموت ، فالعاقل يتدارك ما فاته سريعا ويبادر بالتوبة والعمل الصالح ، فإنه لا يدري متى يكون انقضاء أجله ، ولا يزال على ذلك حتى يتوفاه الله ، ومثل هذا حري أن يكون عبدا صالحا محبا لطاعة الله نافرا من معصية الله .

إلا أن هناك بعض العلامات التي قد تدل على دنو أجل العبد ، كإصابته بمرض خطير لا يكاد يسلم منه الناس عادة ، وكذا بلوغه أرذل العمر ، وتعرضه لحادث مهلك ونحو ذلك من الأمور القدرية .

ثالثا :

تقدم في إجابة السؤال رقم : ( 184737 ) ذكر العلامات التي تدل على صلاح العبد عند موته ، والعلامات التي تدل على سوئه .

رابعا :

متى أحس العبد بدنو أجله لمرضه الشديد ونحو ذلك ؛ فالواجب عليه أن يتدارك أمره بالتوبة إلى الله ورد المظالم إلى أهلها والتحلل منهم ، والمسارعة في العمل الصالح والجد في الرغبة إلى الله والتفرغ لطاعته ، وطلب الإحسان منه بالعفو والمغفرة ، مع وافر حسن الظن به سبحانه ، والثقة في عظيم كرمه وواسع رحمته ، وأنه لا يخيب ظن عبد ظن به خيرا .

وقد روى مسلم ( 2877 ) عَنْ جَابِرٍ، قَالَ : ” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) ” .

وكذلك الإكثار من مكفرات الذنوب وماحيات الآثام من الاستغفار والمحافظة على الوضوء والصلاة والحج والعمرة ونحو ذلك .

خامسا :

سكرات الموت آخر شدة يلقاها العبد قبل لقاء الله ، وسكرات الموت هي آخر ما يكفر الله به عن عبده ، نسأل الله أن يخفف عنا هذه السكرات وأن يعيننا عليها .

روى البخاري ( 4449 ) عن عَائِشَةَ : ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في مرضه الذي تُوُفِّيَ فِيه جَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي المَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، يَقُولُ : ( لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ) ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ ، فَجَعَلَ يَقُولُ : ( فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ) حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ ” .

وروى الترمذي ( 978 ) عَنْ عَائِشَةَ : ” أَنَّهَا قَالَتْ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ ، ثُمَّ يَقُولُ : (اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ) .

حسنه الحافظ في “الفتح” ( 11/362 ) وضعفه الألباني في ” ضعيف الترمذي “.

سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

هل تخفف صعوبة سكرات الموت من الذنوب ، وكذلك المرض الذي يسبق الموت هل يخفف من الذنوب ؟/”

\’.’;

فأجاب :

” كل ما يصيب الإنسان من مرض أو شدة أو هم أو غم ، حتى الشوكة تصيبه فإنها كفارة لذنوبه ، ثم إن صبر واحتسب كان له مع التكفير أجر ذلك الصبر الذي قابل به هذه المصيبة التي لحقت به ، ولا فرق في ذلك بين ما يكون في الموت وما يكون قبله ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” ( 24 / 2 ) بترقيم الشاملة .

ومع شدة الموت وسكرته ، فإن ما يلقاه المؤمن من البشارة والتثبيت عند موته ؛ مما يهون عليه ما يلقى ، ويشوقه إلى ما بعده من لقاء الله .

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :

” الْمَيِّت لَا يَعْدُو أَحَدَ الْقِسْمَيْنِ : إِمَّا مُسْتَرِيحٌ وَإِمَّا مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ، وَكُلٌّ مِنْهُمَا يَجُوزُ أَنْ يُشَدَّدَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَنْ يُخَفَّفَ ، وَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي يَحْصُلُ لَهُ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ وَلَا يَتَعَلَّقُ ذَلِكَ بِتَقْوَاهُ وَلَا بِفُجُورِهِ ، بَلْ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى ازْدَادَ ثَوَابًا ، وَإِلَّا فَيُكَفَّرُ عَنْهُ بِقَدْرِ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَسْتَرِيحُ مِنْ أَذَى الدُّنْيَا الَّذِي هَذَا خَاتِمَتُهُ ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ : مَا أُحِبُّ أَنْ يُهَوَّنَ عَلَيَّ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ ، إِنَّهُ لَآخِرُ مَا يُكَفَّرُ بِهِ عَنِ الْمُؤْمِنِ.

وَمَعَ ذَلِكَ فَالَّذِي يَحْصُلُ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْبُشْرَى ، وَمَسَرَّةِ الْمَلَائِكَةِ بِلِقَائِهِ ، وَرِفْقِهِمْ بِهِ ، وَفَرَحِهِ بِلِقَاءِ رَبِّهِ : يُهَوِّنُ عَلَيْهِ كُلَّ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنْ أَلَمِ الْمَوْتِ ، حَتَّى يَصِيرَ كَأَنَّهُ لَا يُحِسُّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ ” انتهى من “فتح الباري” ( 11 / 365 ) .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 135314 ) .

ولا نعلم طريقة تخفف من سكرات الموت ، إلا أن يفزع العبد إلى ربه في ذلك ، ويدعو به في العسر واليسر ، ولعلنا أن نفعل مثل ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل ، حيث كان يدخل يديه في الماء ثم يمسح بهما وجهه ويسأل الله أن يعينه على سكرات الموت – كما تقدم – .

على أن بعض السلف كانوا يرون في هذه الشدة الرحمة كما تقدم عن عمر بن عبد العزيز ، وروى عبد الله بن أحمد في “زوائد الزهد” (ص 388 ) عن إبراهيم النخعي قال : ” كانوا يستحبون للمريض أن يجهد عند الموت ” وعن منصور : ” أن إبراهيم كان يحب شدة النزع “.

ولا نعلم أحدا ينجو من هذه الشدة إلا الشهيد ، فقد روى الإمام أحمد ( 7953 ) ، والترمذي ( 1668 ) وصححه ، والنسائي ( 3161 ) ، وابن ماجة ( 2802 ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ ) وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” وغيره .

قال المناوي رحمه الله :

” يعني أنه تعالى يهون عليه الموت ويكفيه سكراته وكربه ، بل رب شهيد يتلذذ ببذل نفسه في سبيل الله طيبة بها نفسه ؛ كقول خبيب الأنصاري حين قتل:

ولست أبالي حين أقتل مسلما ** علي أي شق كان لله مصرعي ”

انتهى من ” فيض القدير” ( 4 / 182 ) .

سادسا :

الأعمال الصالحة هي كل ما أمر به الشارع وحض عليه وندب إليه ، وبعضها أفضل من بعض ، ومن أفضل الأعمال الصالحة التي يتقرب بها العبد من ربه ، وينصح المسلم بالمداومة عليها : كثرة ذكر الله وتلاوة القرآن وبر الوالدين وصلة الرحم والحج والعمرة وصلاة الليل وصدقة السر وحسن الخلق وإفشاء السلام وإطعام الطعام وصدق الحديث والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وحب الخير للناس وكف الأذى عنهم والتعاون على البر والتقوى والإصلاح بين الناس ونحو ذلك من أعمال البر .

وراجع للمزيد إجابة السؤال رقم : ( 26242 ) .

وننصح الأخت السائلة أن تجعل من ذكر الموت وشدته ما يحثها على تقوى الله والعمل الصالح ؛ فإن العبد إذا اتقى الله وأحسن العمل يسر الله عليه كل عسير ، وفرج عنه كل هم ، وكشف عنه كل شدة .

ينظر للفائدة إجابة السؤال رقم : ( 8829 ) .

والله أعلم .

موقع الإسلام سؤال وجواب

Sumber: http://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-firasat-menjelang-kematian/