Posts

,

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

Pertanyaan:

Ada beberapa hadis Nabi ﷺ yang menyinggung masalah masjid. Salah satunya adalah jual-beli di dalamnya. Yang ana tahu, kalau ada transaksi di dalam masjid, maka hendaknya didoakan agar tidak mendapatkan berkah.

  1. Bagaimana hadis tersebut? Apakah sampai derajat shahih atau banyak yang meriwayatkannya?
  2. Ada ustadz yang mengatakan, bahwa masjid dimulai dengan pagar atau gerbang. Oleh karena itu, berjual-beli di kompleks masjid terkena hadis itu. Tetapi ada juga yang berpendapat, bahwa masjid itu di mulai dengan temboknya. Jika demikian, tidaklah mengapa berjual beli di teras, halaman, atau serambi masjid. Saat ini banyak pedagang yang menggelar dagangan mereka di serambi, di parkir, dan di komplek masjid. Sebenarnya, bagaimana batasan masjid yang dimaksudkan dengan hadis Rasulullah ﷺ tersebut?
  3. Bagaimana hukum menjual buku yang padanya terdapat kritikan ulama, seperti tafsir Sayyid Quthub, buku Jama’ah Tabligh, Fathul Mu’in dan atau buku harokah yang lain?

Jawaban:

  1. Hadis yang melarang jual-beli di dalam masjid antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kamu melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak menguntungkan perdaganganmu’. Dan jika kamu melihat orang yang mencari barang hilang di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak mengembalikan kepadamu’. [HR Tirmidzi, no. 1 321, Ad Darimi, no. 1.365. Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Tirmidzi, no. 1.321; Irwa’ul Ghalil, no. 1.495, Al Misykah, no. 733]

Setelah membawakan hadis ini, Imam Tirmidzi rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَدْ رَخَّصَ فِيهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فِي الْمَسْجِدِ

Sebagian ulama mengamalkan hadis ini. Mereka membenci jual-beli di dalam masjid. Ini merupakan pendapat (Imam) Ahmad dan Ishaq. Sebagian ulama memberikan kelonggaran jual-beli di dalam masjid.

Al Mubarakfuri rahimahullah mengomentari perkataan Imam Tirmidzi rahimahullah: “Sebagian ulama mengamalkan hadis ini. Mereka membenci jual-beli di dalam masjid di atas dengan perkataan ‘Ini adalah haq, berdasarkan hadis-hadis bab ini… Dan aku tidak mendapati dalil yang menunjukkan kelonggaran (jual-beli di dalam masjid). Dan hadis-hadis bab ini merupakan hujjah atas orang yang memberikan kelonggaran’.” [Tuhfatul Ahwadzi, hadis no. 1.321].

Termasuk yang melarang jual-beli di dalam masjid, ialah Imam Ash Shan’ani di dalam Subulus Salam, dan Syaikh Al Albani di dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab, 2/691-695.

  1. Adapun batasan masjid yang dilarang berjual-beli, apakah di mulai dari pagar (gerbang) atau dimulai dengan temboknya? Kami belum mendapatkan penjelasan yang tegas dari para ulama. Di antara perkataan ulama yang kami dapati, yang nampaknya juga berkaitan dengan masalah ini ialah:

Perkataan Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani rahimahullah: “Hukum serambi masjid dan yang dekat dari serambi adalah hukum masjid. Oleh karena itulah, kebiasaan Nabi ﷺ jika mendapati baunya (yakni bau bawang putih atau semacamnya, red) di dalam masjid, beliau ﷺ memerintahkan mengeluarkan orang yang didapati bau darinya menuju Baqi’, sebagaimana telah shahih di dalam (kitab Shahih Muslim. [Fat-hul Bari, penjelasan hadis no. 856].

Perkataan Al Hafizh tersebut, juga dinukil oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab (2/665). Demikian juga Syaikh Salim Al Hilali, beliau mengatakan: “Hukum arena masjid dan yang dekat darinya adalah hukum masjid. Hal itu nampak di dalam perbuatan Nabi n mengeluarkan orang yang didapati darinya bau bawang putih, bawang merah, dan bawang kucai menuju Baqi’. [Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Shalihin, 3/197]

Hadis yang dimaksudkan oleh Al Hafizh di atas, yaitu mengenai khutbah Jumat Umar bin Al Khaththab. Di antara yang beliau katakan adalah:

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ شَجَرَتَيْنِ لَا أَرَاهُمَا إِلَّا خَبِيثَتَيْنِ هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّومَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ رِيحَهُمَا مِنْ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيعِ

Kemudian sesungguhnya kamu -wahai manusia- makan dua tumbuhan. Aku tidak melihat keduanya, kecuali buruk, yaitu bawang merah dan bawang putih. Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah ﷺ, jika beliau mendapati bau keduanya dari seorang laki-laki di dalam masjid, beliau memerintahkan atas orang tersebut, lalu dia dikeluarkan menuju Baqi (pekuburan penduduk Madinah). [HR Muslim, no. 567].

Namun pendapat di atas, yang menyatakan, bahwa arena masjid termasuk hukum masjid, atau batas masjid mulai pintu gerbangnya, jika hal itu dianggap sebagai hukum umum, akan mengandung beberapa kemusykilan. Antara lain, orang yang masuk arena masjid diperintahkan shalat tahiyatul masjid, sebagaimana ketika masuk ke dalam masjid!

Selain itu kita dapatkan hadis yang menunjukkan perbedaan hukum di dalam masjid dan di luar masjid. Antara lain:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَا يُسْتَقَادُ فِيهَا

Dari Hakim bin Hizam, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Hudud tidak ditegakkan di dalam masjid, dan tidak dilakukan qishosh di dalamnya”. [HR Ahmad dan Daruquthni. Syaikh Al Albani menghasankan hadis ini. Bahkan menyatakan sebagai hadis Shahih Lighairihi di dalam kitab Tsamar Mustathab, 2/698].

Hadis ini melarang menegakkan hudud di dalam masjid, tetapi kebiasaan Nabi ﷺ menegakkan hudud di luar masjid. Dengan demikian terdapat perbedaan hukum antara di dalam masjid dan di luar masjid. Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: “Dan telah dikenal diantara petunjuk Nabi ﷺ, yaitu menegakkan hudud di luar masjid, sebagaimana di dalam hadis Abu Hurairah dalam kisah Ma’iz”. [Tsamar Mustathab, 2/701-702]

Lalu Syaikh Al Albani rahimahullah juga membawakan hadis:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجْمِ الْيَهُودِيِّ وَالْيَهُودِيَّةِ عِنْدَ بَابِ مَسْجِدِهِ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah ﷺ memerintahkan rajam terhadap seorang laki-laki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi di dekat pintu masjid beliau”. [HR Ahmad, 5/261; Al Hakim, 2/453; dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Tsamar Mustathab, 2/703].

Selain itu, kita juga dapati hadis yang dengan tegas menyebutkan kejadian berjualan di dekat pintu masjid.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Al Khaththab melihat kain sutra (dijual) di dekat pintu masjid, lalu dia berkata: “Wahai, Rasulullah. Seandainya engkau membeli ini, lalu engkau memakainya ketika Jumat dan untuk (menemui) utusan-utusan jika mereka datang kepadamu”. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai ini hanyalah orang yang tidak memiliki bagian di Akhirat”. [HR Bukhari, no. 886, kitab Al Jum’ah, Bab Memakai Pakaian Terbaik Yang Didapati].

Dalam riwayat lain dengan lafal:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Umar bin Al Khaththab jubah dari kain sutra dijual di pasar, lalu dia mengambilnya, lalu membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,”Wahai, Rasulullah. Belilah ini. Engkau berhias dengannya untuk hari raya dan untuk (menemui) utusan-utusan,” maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Sesungguhnya ini pakaian orang yang tidak memiliki bagian (di Akhirat)”. [HR Bukhori, no. 948].

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Tersebut di dalam riwayat Malik dari Nafi’ sebagaimana telah lalu di dalam kitab Al Jum’ah, (yakni hadis no. 886, Red), bahwa hal (kejadian) itu berada di pintu masjid. Sedangkan pada riwayat Ishaq dari Nafi’ pada Nasa’i (disebutkan) “bahwa Umar bersama Nabi ﷺ di pasar, lalu dia melihat baju”; kedua riwayat itu tidak bertentangan, karena ujung pasar bersambung ke dekat pintu masjid”. [Fat-hul Bari, syarh hadis no. 5841].

Ringkasnya, ulama berbeda pendapat tentang hukum jual-beli di dalam masjid. Yang rojih (lebih kuat) adalah terlarang. Ini berdasarkan hadis di atas dan lainnya. Kemudian larangan tersebut dengan tegas disebutkan berlaku di dalam masjid.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kamu melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak menguntungkan perdaganganmu’.” [HR Tirmidzi, no. 1.321; Ad Darimi, no. 1.365].

Adapun di serambi masjid, atau lokasi yang berada pada bangunan masjid, lebih selamat juga dijauhi. Sedangkan di komplek (arena) masjid, setelah gerbang masjid, kami tidak mendapatkan dalil yang melarangnya dengan tegas, sehingga kami pun tidak berani malarangnya. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Hujurat:1]

Namun, jika seseorang meninggalkan perkara yang belum jelas baginya atau meragukannya, tentu hal itu lebih baik bagi diri dan agamanya. Nabi ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu, karena kejujuran itu ketenangan, dan sesungguhnya kedustaan itu keraguan. [HR Tirmidzi, no. 2.518, dan lain-lain, dari Al Hasan bin ‘Ali, Arba’in Nawawiyah, hadis no. 11].

Beliau ﷺ juga bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar. Kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dari (meninggalkan) perkara-perkara samar itu, dia telah membersihkan untuk (kebaikan) agamanya dan kehormatannya. Barang siapa jatuh di dalam syubhat (perkara-perkara yang samar), dia jatuh ke dalam yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar tanah larangan, hampir-hampir dia menggembalakan di dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja memiliki tanah larangan. Ingatlah, sesungguhnya tanah larangan Allah adalah apa-apa yang Dia haramkan. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. [HR Muslim, no. 1.599, dari Nu’man bin Basyir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadis ini dimuat oleh An Nawawi di dalam Arba’in Nawawiyah, hadis no. 6 dan Riyadhush Shalihin, no. 588].

Wallahu ‘alam.

3. Tentang hukum menjual buku yang padanya terdapat kesalahan atau kesesatan, di sini kami ringkaskan poin-poin yang dijelaskan oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Aalu Salman di dalam kitab beliau, Kutub Hadzdzara Minha Al ‘Ulama (1/25-53), dalam sub judul “Hukum-Hukum Fiqih Yang Berkaitan Dengan Kitab-Kitab Yang Diperingatkan Oleh Para Ulama”. Ringkasan hukum-hukum tersebut sebagai berikut:

  • Haram menjual buku-buku yang mengandung kemusyrikan.
  • Haram menjual buku-buku khurafat dan sihir
  • Tidak boleh menjual buku-buku yang banyak kesalahannya, (baik pada tulisan atau isinya), kecuali setelah diberi penjelasan.
  • Haram menjual buku-buku (yang mengajarkan) jimat-jimat, mantra-mantra, penangkal-penangkal, rajah-rajah, dan menghadirkan jin.
  • Haram menjual buku-buku puisi yang berisi celaan, arak, minuman keras (atau dendam), dan cabul.
  • Haram menjual majalah-majalah fasiq (cabul) dan buku-buku yang mayoritas berisi penyimpangan-penyimpangan terhadap syari’at.
  • Haram menjual buku-buku filsafat dan ilmu kalam (logika).
  • Haram menjual buku-buku karya Al Hallaj dan Ibnu ‘Arabi, dan yang semacam keduanya dari kalangan orang-orang Shufi.
  • (Disyari’atkan) menghancurkan kitab-kitab Ahli Bid’ah dan kesesatan.
  • Keharaman memperdagangkan kitab-kitab Ahli Bid’ah dan kesesatan.
  • Keharaman memikirkan buku-buku agama-agama lain, dan buku-buku ahli kesesatan dan bid’ah, kecuali bagi orang yang mengetahui keburukan yang ada di dalamnya untuk memperingatkan (umat) darinya.
  • Keharaman membaca (membacakan) buku-buku ini (tersebut di atas, Red) di masjid-masjid dan tempat-tempat perkumpulan umum, dan (keharaman) meletakkannya di perpustakaan-perpustakaan umum.

Berkaitan dengan masalah ini juga, terdapat seruan terbuka dari Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali -hafizhahullah- kepada pengurus (pemilik) toko-toko buku, perpustakaan-perpustakaan pemerintah dan pribadi untuk meninggalkan buku-buku Sayyid Quthub, Muhammad Quthub, Muhammad Al Ghazali, Yusuf Al Qardhawi, Abul A’la Al Mududi, Hasan Al Banna, ‘Umar Al Tilmisani, Hasan At Turabi As Sudani, Abdurrahman Abdul Khaliq, Muhammad Surur, Muhammad Ahmad Rasyid, Sa’id Hawwa, Salman Al ‘Audah, Safar Al Hawali, Nashir Al Umar, ‘Aidh Al Qarni, Mahmud ‘Abdul Halim, Jasim Al Muhalhil, dan murid-murid (Hasan) Al Banna, keluarga Quthub (yakni Sayyid Quthub dan Muhammad Quthub), (dan) semacam mereka dari tiap pemimpin atau orang yang menisbatkan diri kepada satu firqah di antara firqah-firqah yang melawan manhaj Salaf, banyak atau sedikit, dari bab-bab ilmu dan amal sepanjang masa ini. Hal ini karena buku-buku, kaset-kaset, dan selebaran-selebaran mereka, yang namanya dituliskan di atas, di dalamnya terdapat perkara yang diterima (karena sesuai syariat-red) dan ditolak (karena tidak sesuai syariatred).

Kemudian Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah menyebutkan contoh-contoh penyimpangan tulisan mereka satu persatu. [Lihat kitab Al Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal Afrad Wal Umam, hlm. 128-142, karya Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah. Kitab ini dipuji oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh ‘Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihi].

Ini semua merupakan nasihat dari seorang ‘alim kepada umat Islam. Maka selayaknya umat menerimanya dengan senang hati dan syukur. Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3072-jual-beli-di-komplek-masjid-menjual-buku-buku-harokah.html

,

BANYAKNYA KARYA TULIS DAN PENYEBARANNYA

BANYAKNYA KARYA TULIS DAN PENYEBARANNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Tanda_Kiamat

BANYAKNYA KARYA TULIS DAN PENYEBARANNYA

Di Antara Tanda-Tanda Kecil Kiamat

Dijelaskan dalam hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… ظُهُورَ الْقَلَمِ.

“Sesungguhnya menjelang datangnya Kiamat… bermunculannya pena (qalam).” [Musnad Ahmad (V/333-334) (no. 3870), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata: “Sanadnya Shahih”].

Yang dimaksud dengan bermunculannya qalam -wallaahu a’lam- adalah bermunculannya karya tulis [Lihat Syarh Musnad Ahmad (V/334), karya Ahmad Syakir] dan penyebarannya.

Dijelaskan dalam riwayat ath-Thayalisi dan an-Nasa-i dari ‘Amr bin Taghlib, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ… أَنْ يَكْثُرَ التُّجَّارُ وَيَظْهَرَ الْعِلْمُ.

‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat… ‘ banyaknya para pedagang dan merebaknya ilmu.” [Minhatul Ma’buud fi Tartiibi Musnad ath-Thayalisi (II/112), tartib as-Sa’ati, dan Sunan an-Nasa-i, kitab al-Buyuu’, bab at-Tijaarah (VII/244). At-Tuwaijiri berkata mengomentari riwayat an-Nasa-i, “Isnadnya Shahih dengan syarat asy-Syaikhani.” Ithaaful Jamaa’ah (I/428)]

Maknanya -wallaahu a’lam- munculnya berbagai media ilmu, yaitu buku.

Di zaman sekarang ini, hal itu telah berkembang dengan sangat pesat, dan menyebar di berbagai belahan bumi, karena banyaknya alat percetakan dan fotocopy yang memudahkan penyebarannya. Walaupun demikian, kebodohan tetap saja menyebar di kalangan manusia, sedikitnya ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang bersumber dari Alquran dan as-Sunnah, dan pengamalan keduanya. Jadi, banyaknya buku sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka.” [Lihat Ithaaful Jamaa’ah (I/428)].

Penulis: Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/980-38-41-banyaknya-karya-tulis-lalai-melaksanakan-ibadah-sunnah-banyaknya-kedustaan.html

, ,

PROFIL SINGKAT MA’HAD IMAM SYAFI’I JAKARTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PROFIL SINGKAT MA’HAD IMAM SYAFI’I JAKARTA

PROGRAM PENDIDIKAN DA’I SUNNAH – KELAS I’DAD LUGHAWI DAN TADRIBUD DU’AT

Ayo Menuntut Ilmu Lebih Serius di Ma’had Imam Syafi’i Jakarta

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Mafhum hadis ini adalah, siapa yang tidak melakukan Tafaqquh Fid Diin (Berusaha memahami agama), yaitu tidak memelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabangnya, maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165]

Kebutuhan kaum Muslimin bahkan umat manusia secara umum terhadap ilmu agama sungguh sangat besar, namun para da’i dan ustadz yang mengajarkan ilmu agama yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf masih sangat minim.

Ditambah lagi dengan maraknya aliran-aliran sesat yang berdakwah kepada kesyirikan dan kebid’ahan, hingga aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan jihad.

Oleh karena itu kami terpanggil untuk memberikan sedikit sumbangsing melalui Program Pendidikan Da’i Sunnah.

KELAS:

I’dad Lughawi dan Tadribud Du’at (Program 2 tahun / 4 Semester)

WAKTU BELAJAR:

Senin – Jum’at Pukul 07.30 – 11.45 WIB

Kegiatan Ekstrakurikuler Ba’da Shubuh, Ashar dan Maghrib

KURIKULUM:

Kurikulum I’dad Lughawi Universitas Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah Riyadh, Arab Saudi

Kurikulum Tadribud Du’at (Mendalami Kitab-kitab Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah)

STAF PENGAJAR:

  1. Ustadz Sofyan Chalid Ruray (Ketua Program I’dad Lughawi dan Tadribud Du’at)
  2. Ustadz Muhammad Tamrin, Lc (Alumni Universitas Islam Madinah Arab Saudi)
  3. Ustadz Ayub Abu Ayub (Alumni Darul Hadis Yaman)
  4. Ustadz Zubair Al-Maidani, Lc (Alumni LIPIA, Cabang Muhammad bin Su’ud University Arab Saudi)
  5. Ustadz Almanazil Billah, Lc (Alumni LIPIA, Cabang Muhammad bin Su’ud University Arab Saudi)
  6. Ustadz Hendra Abu Dhihyah, Lc (Alumni LIPIA, Cabang Muhammad bin Su’ud University Arab Saudi)
  7. Ustadz Syamsul, Lc (Alumni LIPIA, Cabang Muhammad bin Su’ud University Arab Saudi)
  8. Dan lain-lain.

KEGIATAN EKSTRAKURIKULER:

Di antaranya mengikuti ta’lim umum di Masjid Ibnu Abbas Poltangan dan Masjid As-Salam Pasar Minggu:

Ustadz Abu Zakariya > Kitab Adab, Ushul Fiqh dan Ad-Durorul Bahiyyah (Fiqh)

Ustadz Ibnu Yunus > Kitab Bulughul Marom, Kitabul ‘Ilmi min Shahih Al-Bukhari, Tafsir As-Sa’di, Aqidah dan Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar

Ustadz Ayub Abu Ayub > Kitab Syarhus Sunnah

Ustadz Sofyan Chalid Ruray > Kitab Riyadhus Sholihin dan Silsilah Rosaail

Dan lain-lain

ALAMAT:

Jln. Gunuk I no. 1 C RT. 01 RW. 03, Kel. Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan

WAKTU PENDAFTARAN:

Insya Allah akan dibuka setiap semester dan akan diumumkan melalui media-media Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam.

SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN:

  1. Lulus SMU / Sederajat
  2. Rekomendasi Ustadz/Da’i Ahlus Sunnah
  3. Berakhlak Baik
  4. Sanggup Menaati Peraturan Ma’had
  5. Foto Copy KTP dan Ijazah Terakhir
  6. SKCK dari Kepolisian
  7. Lulus Tes Masuk

BIAYA:

Beasiswa untuk Seluruh Santri Angkatan Pertama

Gratis Asrama dan Konsumsi untuk Santri yang Membutuhkan

REKENING DONASI, ZAKAT, WAKAF DAN SEDEKAH:

BNI: 0387-2424-06.

BCA: 434-0005-282.

Mandiri: 900-0032-4321-80.

Semuanya a/n: Eli Prasetyo

Konfirmasi Transfer (SMS/WA/Telegram): 08111377787.

Mohon ta’awun menyebarkan info dakwah ini, jazaakumullaahu khayron.

 

 

,

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB (BAGIAN KEDUA)

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB (BAGIAN KEDUA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB (BAGIAN KEDUA)

Disusun oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Pada edisi lalu, telah kita bahas beberapa contoh ketimpangan pandangan Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam masalah akidah. Adapun pada edisi ini pembahasan kita lanjutkan dengan beberapa contoh ketimpangan pemikirannya dalam hadis dan fikih.

Dan perlu diingat kembali bahwa tulisan ini bukan bertujuan untuk membuka aib atau menjelek-jelekkan orang lain, melainkan sebagai penjelasan agama kepada umat dan bentuk nasihat bagi umat Islam di mana pun berada. Sebab kita tidak boleh membiarkan kesalahan-kesalahan tanpa usaha untuk meluruskannya.

Semoga Allah menjadikan tulisan ini ikhlas murni hanya mengharapkan wajah Allah, dan bermanfaat bagi hamba-hamba Allah. Aamiin.

Ketimpangan Dr. Quraish Shihab Dalam Masalah Hadis

Dr. Muhammad Quraish Shihab banyak terjatuh dalam ketimpangan seputar hadis Nabi ﷺ. Dia MENOLAK hadis-hadis yang Shahih, melemahkan hadis-hadis lemah dan palsu, serta banyak memahami hadis dengan akal dan pemahaman Ahli Kalam dan filsafat.

Baiklah, agar bantahan ini ilmiah, bukan omong kosong belaka, maka kami akan memberikan beberapa contoh dan fakta tentang apa yang kami sampaikan di atas:

A. Dr. Quraish Menolak Hadis yang Shahih

  1. Menolak Hadis “Di mana Allah”

Dr. M. Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya ““Membumikan Alquran”” hlm. 371–372 terbitan Al-Mizan, Bandung pada judul “Selamat Natal Menurut Alquran!!!”:

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam [1]  sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya “Di mana Tuhan?” Tertolak riwayat yang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi ﷺ.

Jawaban:

Hadis yang dimaksud adalah Shahih, diriwayatkan oleh banyak para ulama Ahli Hadis dalam kitab-kitab mereka, dan dishahihkan oleh sejumlah pakar hadis tanpa memermasalahkannya dengan syubhat seperti di atas. Berikut ini perinciannya:

a. Takhrij Hadis

Hadis ini memiliki beberapa jalur:

1) Jalur al-Imam Malik

Hal ini sebagaimana riwayat beliau sendiri dalam al-Muwaththa’ (2/772/No. 8), al-Imam asy-Syafi’i dalam ar-Risalah (No. 242—tahqiq asy-Syaikh Ahmad Syakir), an-Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (8/427) oleh al-Mizzi, Utsman ibn Sa’id ad-Darimi dalam ar-Radd ’ala Jahmiyyah (No. 62), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hlm. 132—tahqiq asy-Syaikh Khalil Haras), al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (10/98/No. 19984), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (9/246/No. 2365), Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid (9/69–70) dan al-Ashbahani dalam al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/102/No. 57).

2) Jalur Yahya ibn Abi Katsir

Sepanjang penelitian saya, ada empat orang yang meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir. Berikut perinciannya:

a) Hajjaj ibn Abu Utsman ash-Shawwaf

Diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (5/448), al-Bukhari dalam Juz’ul Qira’ah (hlm. 70), Abu Dawud (No. 931 dan 3282), an-Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (8/427), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hlm. 132), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3/237–239/No. 726) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (19/398/No. 9 dari Yahya ibn Sa’id al-Qhaththan dari Hajjaj dengannya.

Dan diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (6/162/No. 30333) dan al-Iman (84), Muslim dalam Shahih-nya (No. 537), Ahmad (5/447), Abu Dawud (No. 931), Ibnu Hibban (165), Utsman ibn Sa’id ad-Darimi dalam ar-Radd ’ala Jahmiyyah (No. 61), Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (490), dan Ibnu Jarud dalam al-Muntaqa (No. 212—Ghautsul Makdud oleh al-Huwaini) dari Isma’il ibn Ibrahim (ibn ’Ulayyah) dari Hajjaj dengannya.

b) Al-Auza’i

Diriwayatkan al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (537), Abu Awanah dalam al-Mustakhraj (2/141), an-Nasa’i dalam Sunan Sughra (3/14–18/No. 1216), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hlm. 121), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (19/398/No. 937), al-Baihaqi dalam as-Sunan Kubra (10/98/19984) dan al-Asma’ wash Shifat (2/326/890–891), ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Atsar (13/367), Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid (9/71) dan al-Ashbahani dalam al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/100/No. 69).

c) Aban ibn Yazid al-Aththar

Diriwayatkan Abu Awanah dalam al-Mustakhraj ’ala Shahih Muslim (2/1141), ath-Thayyalisi dalam Musnad-nya (1105), Ahmad dalam Musnad-nya (5/448), Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (489), Utsman ibn Sa’id ad-Darimi dalam ar-Radd ’ala Jahmiyyah (No. 60) dan Naqdh ’alal Marisi (122), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (939), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wash Shifat (2/326/890–891), dan al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah (3/434–435/No. 652).

d) Hammam ibn Yahya

Diriwayatkan Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad-nya (5/448).

Hadis ini juga memiliki Syawahid (Penguat) dari Sahabat Abu Hurairah, Abu Juhaifah, Ibnu Abbas, Ukkasyah al-Ghanawi, dan Abdurrahman ibn Hathib—radhiyallahu ’anhum—secara Mursal [2].

b. Komentar Para Ulama Ahli Hadis

Hadis ini disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama kaum Muslimin. Berikut ini sebagian komentar mereka:

1) Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Hadis ini disepakati keabsahannya oleh para ulama Muslimin semenjak dahulu hingga sekarang, dan dijadikan hujjah oleh imam-imam besar seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, dan lainnya. Dan dishahihkan oleh Muslim, Abu Awanah, Ibnu Jarud, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para pakar, dan sebagian mereka adalah para penakwil seperti al-Baihaqi, al-Baghawi, Ibnul Jauzi, adz-Dzahabi, (Ibnu Hajar) al-Asqalani, dan lainnya. Lantas, bagaimana pendapat seorang Muslim yang berakal terhadap orang jahil dan sombong yang menyelisihi para imam dan pakar tersebut, bahkan mencela lafazh Nabi ﷺ yang telah dishahihkan oleh para ulama tersebut?!!” [3]

2) Al-Imam al-Baihaqi berkata: “Hadis ini Shahih, dikeluarkan Muslim.” [4]

3) Al-Imam al-Baghawi berkata: “Hadis ini Shahih, dikeluarkan Muslim dari Abu Bakar ibn Abi Syaibah dari Isma’il ibn Ibrahim dari Hajjaj.”[5]

4) Al-Imam al-Ashbahani berkata: “Dan sungguh telah Shahih dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau bertanya kepada seorang budak wanita yang akan dibebaskan oleh tuannya: ‘Di mana Allah?’ Jawab budak tersebut: ‘Di atas langit…’” [6]

5) Al-Imam Ibnu Qudamah berkata: “Hadis ini Shahih.” [7]

6) Al-Imam adz-Dzahabi berkata: “Hadis ini Shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka, dengan memerlakukannya sebagaimana datangnya tanpa Takwil dan Tahrif.” [8]

7) Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadis Shahih, diriwayatkan Muslim.” [9]

8) Al-Wazir al-Yamani berkata: “Hadis ini Tsabit (Shahih), diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.” [10]

9) Al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata:

وَهٰذَاالْحَدِيْثُصَحِيْحٌبِلَارَيْبٍلَايَشُكُّفِيْذٰلِكَإِلَّاجَاهِلٌأَوْمُغْرِضٌمِنْذَوِيْالْأَهْوَاءِالَّذِيْنَكُلَّمَاجَاءَهُمْنَصٌّعَنْرَسُوْلِاللهِيُخَالِفُمَاهُمْعَلَيْهِمِنَالضَّلَالِحَاوَلُواالْخَلَاصَمِنْهُبِتَأْوِيْلِهِبَلْتَعْطِيْلِهِ،فَإِنْلَمْيُمْكِنْهُمْذٰلِكَحَاوَلُوْاالطَّعْنَفِيْثُبُوْتِهِكَهٰذَاالْحَدِيْثِفَإِنَّهُمَعَصِحَّةِإِسْنَادِهِوَتَصْحِيْحِأَئِمَّةِالْحَدِيْثِإِيَّاهُدُوْنَخِلَافٍبَيْنَهُمْفِيْمَاأَعْلَمُهُ.

“Hadis ini Shahih dengan tiada keraguan. Tidak ada yang meragukan hal itu kecuali orang jahil atau pengekor hawa nafsu, yang setiap kali datang pada mereka dalil dari Rasulullah ﷺ yang menyelisihi keyakinan sesat mereka, maka mereka langsung berusaha membebaskan diri darinya, dengan menakwilkannya bahkan meniadakannya. Dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka berupaya untuk mementahkan keabsahannya, seperti hadis ini yang Shahih sanadnya, serta dishahihkan oleh seluruh ulama Ahli Hadis TANPA ADA PERSELISIHAN pendapat di kalangan mereka, sepanjang pengetahuan saya.”[11]

c. Membantah Syubhat

Adapun syubhat yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab “Karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi ﷺ”.

Jawaban:

Apabila yang dimaksud “Tempat” adalah yang tersirat dalam benak pikiran kita, yaitu setiap yang meliputi dan membatasi, seperti langit, bumi, Kursi, ‘Arsy, dan sebagainya, maka benar hal itu mustahil bagi Allah, karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk. Bahkan Dia lebih besar dan agung. Bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah ﷻ berfirman:

وَمَاقَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. az-Zumar [39]: 67)

Dan telah Shahih dalam riwayat al-Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

«يَقْبِضُاللهُبِالأَرْضِوَيَطْوِيْالسَّمَاوَاتِبِيَمِيْنِهِثُمَّيَقُوْلُ: أَنَاالْمَلِكُأَيْنَمُلُوْكُالأَرْضِ؟»

“Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: ‘Aku adalah Raja, manakah raja-raja bumi?’”

Adapun apabila maksud “Tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi, yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta, sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk. Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama [12].

  1. Mengingkari Hadis Turunnya Isa ibn Maryam

Dr. Quraish Shihab mengatakan:

Ada ulama yang menyatakan “Isa ‘alaihissalam masih hidup di langit” bukanlah suatu kewajiban untuk memercayainya. Serta beberapa hadis yang berkaitan dengan kenaikan Isa al-Masih dan akan turun kelak menjelang Kiamat. Hadis-hadis tersebut kesemuanya bermuara pada dua orang saja, yang keduanya bekas penganut agama Kristen, yaitu Ka’ab Al-Akhbar dan Wahb bin Munabbih (yang masih punya keterkaitan pada kepercayaan lamanya). Dengan demikian, pengertian QS. 3:55 di atas bukan dalam arti diangkat fisiknya, tapi diangkat derajatnya ke sisi Allah ﷻ [13].

Jawaban:

a. Hadisnya Mutawatir

Pakar ilmu hadis menetapkan, bahwa hadis-hadisnya mencapai derajat Mutawatir, di antaranya adalah al-Imam ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan (3/291), Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (2/566), asy-Syaukani dalam risalahnya at-Taudhih, Shiddiq Hasan Khan dalam al-Idha’ah (hlm. 160), al-Kattani dalam Nazhmul Mutanatsir (hlm. 147), Syaraful Haq Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud (11/307), asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarhul Musnad (7/98–99 dan 8/20), asy-Syaikh al-Albani dalam ta’liq Syarh Akidah Thahawiyyah (hlm. 501), asy-Syanqithi dalam Adhwa’ul Bayan (7/128, 130–136) dan Daf’u Iham Idhthirab (hlm. 56), Komisi Fatwa Arab Saudi yang diketuai asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz dalam Fatawa Lajnah Da’imah (3/307), Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz dalam Majmu’ Fatawa-nya (1/453), asy-Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kisymiri dalam kitabnya at-Tashrih Bima Tawatara fi Nuzuli Masih, asy-Syaikh Abdullah al-Ghumari dalam ’Akidah Ahli Islam fi Nuzuli ’Isa ’Alaihissalam (hlm. 5), asy-Syaikh Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i dalam Rudud Ahli ’Ilmu (hlm. 25), asy-Syaikh Khalil Harras dalam Fashlul Maqal (hlm. 49), asy-Syaikh Sulaiman Hamdan dalam al-Barahin wal Adillah (hlm. 33), dan sebagainya.

Berdasarkan dalil-dalil yang sangat jelas di atas, maka seluruh ulama terpercaya bersepakat, bahwa turunnya Isa ‘Alaihissalam kelak di Akhir Zaman merupakan akidah Islam yang wajib diimani oleh setiap Muslim. TIDAK ADA yang mengingkarinya, kecuali para ahli filsafat dan penyimpang agama yang sesat, menyesatkan, dan menyelisihi Alquran, hadis, dan kesepakatan Ahlussunnah [14].

b. Membantah Kritikan

Ucapan Dr. Quraish Shihab ini telah didahului sebelumnya oleh Syaikh Mahmud Syaltut [15] dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah ar-Risalah. Syaikh al-Albani berkata: “Saya telah meneliti hadis-hadis tentang turunnya Isa ‘alaihissalam dari sumber aslinya (kitab-kitab hadis) seperti Kutub Sittah dan sebagainya, sehingga saya dapat mengumpulkan banyak hadis dari beberapa jalur yang Mutawatir, lebih dari empat puluh sahabat. Saya sangat terkejut ketika saya tidak menemukan nama Wahb ibn Munabbih dan Ka’ab al-Ahbar pada jalur sanad-sanad tersebut, sekalipun dalam hadis yang lemah sanadnya. Saya lalu berkeyakinan, bahwa Syaikh Syaltut hanya menulis sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya saja, tanpa meneliti kitab-kitab hadis. Lalu saya menulis sebuah risalah terpisah untuk membantah fatwanya itu, tetapi…”[16]

c. Membantah Syubhat

Adapun Tahrif (Perubahan makna) yang dilakukan oleh Dr. Quraish, bahwa yang diangkat bukanlah fisik tetapi kedudukan Isa ‘alaihissalam, maka ini merupakan tahrif yang BATIL dan BERTENTANGAN dengan penafsiran dan pemahaman para ulama.

Sungguh alangkah bagusnya ucapan Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baz Rahimahullahuta’ala tatkala membantah penafsiran ini: “Merupakan kebatilan yang sangat keji dan kelancangan yang sangat kelewat batas terhadap Allah dan Rasul-Nya, adalah perubahan makna sebagian kalangan tidak seperti zahir (tekstualnya). Sebab dia telah mengumpulkan dua bencana:

Pertama: Mendustakan dan tidak mengimani dalil-dalil yang tegas tentang turunnya Isa ‘alaihissalam.

Kedua: Menuduh Rasul ﷺ yang paling mengerti syariat dan ahli penasihat, sebagai orang yang berbicara mengacau dan rancu, maksud ucapannya tidak seperti beliau sabdakan secara zahir. Sungguh ini merupakan KEDUSTAAN yang tiada taranya, dan penipuan terhadap umat yang Nabi ﷺ berlepas diri darinya. Ucapan seperti ini serupa dengan pendapat kaum PENYELEWENG yang menisbahkan pada diri Rasul kerancuan, demi maslahat mayoritas manusia.” [17].

Sebagai kesimpulan, asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz ibn Baz Rahimahullahuta’ala menegaskan, “Turunnya Isa ‘alaihissalam telah ditetapkan berdasarkan Alquran, hadis Mutawatir, dan Ijma’ ulama Islam, sehingga mereka selalu menyebutnya dalam kitab-kitab akidah. Barang siapa mengingkarinya dengan alasan hadisnya ‘Ahad’ tidak menunjukkan qath’i atau menakwilkan, bahwa maksud sebenarnya adalah manusia pada Akhir Zaman berpegang teguh dengan akhlak Isa al-Masih ‘Alaihissalam berupa kasih sayang dan lemah lembut, atau manusia menerapkan ruh syariat dan intinya, maka semua itu adalah KEBATILAN nyata yang BERTENTANGAN dengan akidah para imam kaum Muslimin. Bahkan nyata-nyata merupakan bentuk PENENTANGAN nash-nash Shahih dan Mutawatir, kejahatan terhadap syariat yang mulia, kelancangan yang sangat terhadap Islam dan hadis Nabi ﷺ, menuhankan hawa nafsu, keluar dari rel kebenaran dan petunjuk. Orang tersebut tidak memiliki ilmu mapan tentang syariat dan keimanan yang kuat, serta pengagungan terhadap dalil dan hukum Islam.”[18]

B. Dr. Quraish Menshahihkan Hadis Palsu dan Lemah

Di samping Dr. Quraish Shihab melemahkan hadis-hadis yang Shahih sebagaimana contoh di atas, anehnya dia juga banyak menshahihkan hadis-hadis lemah dan palsu. Berikut ini beberapa contohnya:

  1. Hadis Perpecahan Umat

Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Alquran” hlm. 363, bahwa dalam suatu riwayat (versi) yang telah dinilai Shahih oleh al-Hakim, Nabi ﷺ bersabda: “Umatku akan berkelompok menjadi tujuh puluh sekian kelompok, semuanya di Surga kecuali satu.”

Jawaban:

Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

تَفْتَرِقُأُمَّتِيْعَلَىبِضْعٍوَسَبْعِيْنَفِرْقَةً،كُلُّهَافِيْالْجَنَّةِوَوَاحِدَةٌفِيْالنَّارِ.

“Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh kelompok lebih, semuanya di Surga kecuali satu, yaitu orang-orang Zindiq.”

MAUDHU’. Dikeluarkan oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa’ (4/201), Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (1/267) dari jalan Mu’adz ibn Yasin az-Zayyat: Menceritakan kepada kami al-Abrad ibn al-Asyrasy dari Yahya ibn Sa’id dari Anas Radhiallahu’anhu secara Marfu’.

Ibnul Jauzi mengatakan: “Para ulama menyatakan: ‘Hadis ini DIPALSUKAN oleh al-Abrad, dan dicuri oleh Yasin az-Zayyat, sehingga membalik sanadnya dan mencampurnya, dicuri pula oleh Utsman ibn Affan (BUKAN khalifah pada zaman sahabat), padahal dia adalah MATRUK. Demikian pula Hafsh dia adalah pendusta.’ Hadis yang Shahih adalah berbunyi ‘satu di Surga yaitu al-Jama’ah’.”

Perkataan ini disetujui oleh as-Suyuthi dalam al-’Ala’i al-Mashnu’ah (1/128), Ibnu Arraq dalam Tanzih Syari’ah (1/301), asy-Syaukani dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah (hlm. 502), dan lain-lain.

Di samping sanad hadisnya yang hancur seperti di atas, matan (isi) hadisnya juga lebih hancur lagi ditinjau dari dua segi:

Pertama: Menyelisihi riwayat-riwayat yang Shahih dan masyhur dengan lafazh “Semuanya di Neraka kecuali satu” sebagaimana ditegaskan oleh mayoritas Ahli Hadis.

Kedua: Menyelisihi ketegasan Alquran, di mana hadis menjelaskan, bahwa perpecahan berbagai kelompok tersebut menjurus ke Surga yang merupakan rahmat Allah. Padahal kalau kita perhatikan ayat-ayat Alquran, niscaya kita akan mendapati, bahwa rahmat Allah berada dalam persatuan, seperti dalam firman-Nya:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَيَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ {118} إِلاَّمَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ {119}

“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, ‘Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.’” (QS Hud [11]: 118–119) [19].

  1. Hadis tentang Keutamaan Akal

Dr. Quraish Shihab berkata:

Konon Malaikat Jibril datang kepada kakek kita Adam ‘alaihissalam, menyampaikan bahwa diperintahkan Tuhan, agar Adam memilih salah satu dari tiga pilihan yang disodorkan: Akal, rasa malu dan agama. Maka Adam memilih akal … Demikian riwayat yang disandarkan kepada Sayyidina Ali. Memang “Tiada agama tanpa akal, dan tiada juga agama tanpa rasa malu” [20].

Jawaban:

Ini adalah riwayat yang TIDAK SHAhih. Asy-Syaikh al-Albani mengatakan: “Perlu menjadi perhatian bersama, bahwa seluruh riwayat tentang keutamaan akal, TIDAK ADA yang Shahih satu pun. Semuanya berkisar antara Dha’if dan Maudhu’. Saya telah memeriksa setiap hadis yang dipaparkan oleh Abu Bakar ibn Abi Dunya dalam kitabnya al-Aql wa Fadhluhu, ternyata sesuai dengan perkataan saya tadi, yaitu TIDAK ADA yang Shahih satu pun. Al-Allamah Ibnul Qayyim berkata dalam al-Manar (hlm. 25): ‘Hadis-hadis tentang akal seluruhnya dusta belaka.’ [21]

Perlu menjadi catatan pula, bahwa agama Islam ini TIDAK dibangun di atas akal, tetapi di atas WAHYU dari Rabbil’alamin. Alangkah indahnya ucapan Ali ibn Thalib Radhiallahu’anhu:

لَوْكَانَالدِّيْنُبِالرَّأْيِلَكَانَأَسْفَلُالْخُفِّأَوْلَىبِالْمَسْحِمِنْأَعْلَاهُ،وَقَدْرَأَيْتُرَسُوْلَاللهِn يَمْسَحُعَلَىظَاهِرِهِ.

“Seandainya agama itu berdasarkan akal, tentu bagian bawah sepatu lebih utama untuk diusap, daripada bagian atasnya. Tetapi saya melihat Rasulullah ﷺ mengusap bagian atasnya.” [22].

Inilah yang Shahih dari Sahabat Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu’anhu. Bukan malah seperti yang disandarkan oleh Dr. Quraish kepada beliau tentang pengagungan kepada akal.

C. Dr. Quraish Shihab Memahami Hadis dengan Akal

Hal ini sangatlah tampak bagi yang meneliti tulisan-tulisannya. Dan sepanjang pengamatan saya, dia banyak terpengaruh oleh pemikiran Dr. Muhammad al-Ghazali al-Mishri, sehingga banyak menukil pendapat dan pemikirannya dalam beberapa karyanya. Hal itu tidak aneh, lantaran dia adalah jebolan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Di antara hal menarik untuk diketahui dalam masalah ini adalah, tatkala Syaikh Muhammad al-Ghazali al-Mishri [23] menulis karya buku hitam yang penuh dengan tikaman terhadap Sunnah Nabi ﷺ dengan judul as-Sunnah an-Nabawiyyah Baina Ahli Fiqh wa Ahli Hadis [24], buku ini langsung mendapatkan sambutan hangat dari para Ahli Bidah, sehingga diterjemahkan oleh seorang Syiah bernama Muhammad al-Baqir ke dalam versi Indonesia dengan judul “Studi Kritis Atas Hadis Nabi, Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual”, yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Mizan, Bandung (penerbit buku-buku Syiah)!!! Dan tak lupa, Prof. Dr. M. Quraish Shihab ikut andil memberikan kata pengantar edisi terjemahan untuk melariskannya!!!

Maka bantahan serta kritikan para ulama Sunnah kepada Syaikh al-Ghazali sebenarnya mengarah juga kepada Quraish Shihab!!

Ketimpangan Pemikiran Quraish Shihab dalam Masalah Fikih

Dr. Quraish Shihab memiliki beberapa pemikiran dan pendapat nyeleneh yang dikemukakan di muka masyarakat, sehingga menimbulkan keresahan dan kebingungan di tengah-tengah mereka, dengan alasan kemudahan. Seringkali dia juga hanya memaparkan pendapat nyeleneh tersebut ke muka umum tanpa tanggapan dan sanggahan untuk memerjelas pendapat yang kuat.

Inilah metode yang sering dilakukannya dalam karya-karya tulisnya. Dr. Quraish Shihab mengatakan:

Sayang, rahmat dan kemudahan itu sering tidak dirasakan, bahkan boleh jadi ditutupi atau tertutupi oleh kaum Muslimin sendiri, akibat pemahaman dan penerapan mereka yang tidak tepat terhadap ajaran Islam [25].

Dia juga sering mencari-mencari ketergelinciran ulama atau pendapat nyeleneh sebagian kalangan, lalu dijadikan sebagai alasan pendapat yang diutarakan. Dr. Quraish mengatakan:

Yang penulis maksud, tidak lain hanyalah ingin membuktikan, bahwa ada juga ulama-ulama yang diakui otoritasnya yang menganut, atau bahkan mencetuskan pendapat-pendapat yang berbeda dengan ulama-ulama terdahulu.

Terlepas dari siapa pencetus ide tentang pakaian wanita, yang sedikit dan banyak berbeda dengan pendapat ulama terdahulu, namun yang jelas, bahwa para pencetus dan pendukung ide serta pendapat-pendapat ulama terdahulu, memiliki juga dalil yang menjadi dasar pendapat mereka [26].

Oleh karenanya, sebelum saya menanggapi masalah-masalah terperinci, saya akan menjelaskan terlebih dahulu, bahwa cara seperti ini berbahaya sekali:

Pertama: Benar, Islam adalah agama yang sangat mudah. Banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu. Al-Imam asy-Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti.” [27 ]. Namun perlu diperhatikan, bahwa maksud kemudahan Islam bukan berarti kita menyepelekan sebagian syariat Islam, mencari-cari ketergelinciran atau pendapat lemah sebagian ulama, atau menyebarkan pendapat-pendapat ganjil. Yang benar, kemudahan itu dengan MENGIKUTI Alquran dan as-Sunnah. Perhatikanlah contoh berikut:

عَنْأَبِيهُرَيْرَةَa قَالَ: أَتَىالنَّبِيَّn رَجُلٌأَعْمَىفَقَالَ: يَارَسُولَاللّٰهِ،إِنَّهُلَيْسَلِيقَائِدٌيَقُودُنِيإِلَىالْمَسْجِدِفَسَأَلَرَسُولَاللّٰهِn أَنْيُرَخِّصَلَهُفَيُصَلِّيَفِيبَيْتِهِ،فَرَخَّصَلَهُ،فَلَمَّاوَلَّىدَعَاهُفَقَالَ: «هَلْتَسْمَعُالنِّدَاءَبِالصَّلَاةِ؟» قَالَ: نَعَمْ،قَالَ:«فَأَجِبْ».

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata: “Pernah ada seorang lelaki buta datang kepada kepada Nabi ﷺ seraya mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid.’ Lalu orang tersebut meminta agar Nabi ﷺ memberikan keringanan baginya untuk shalat di rumahnya. Nabi ﷺ pun memberikan keringanan kepadanya. Tatkala orang tersebut berpaling, Nabi ﷺ memanggilnya seraya berkata: ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Kalau begitu, penuhilah panggilan tersebut.’” (HR Muslim: 653)

Dalam riwayat Ahmad (3/423) terdapat tambahan: “Sesungguhnya antara rumah saya dan masjid ada pohon kurma dan pohon-pohon, sedangkan saya tidak mendapati penuntut pada setiap waktu”.

Dalam riwayat Abu Dawud (553) terdapat tambahan: “Sesungguhnya Madinah banyak binatang buasnya”.

Perhatikanlah, wahai saudaraku, sekalipun orang tersebut telah mengajukan alasan-alasan yang begitu kuat, Nabi ﷺ tidak memberikan udzur baginya untuk shalat di rumahnya, dengan alasan Islam agama yang mudah!!

Sangat disayangkan, banyak orang -termasuk Dr. Quraish – menyalahgunakan kemudahan syariat ini, sehingga terjatuh dalam lembah kegelapan dan jalan yang meruwetkan. Mereka memungut pendapat-pendapat ganjil ulama sesuai dengan hawa nafsu mereka dalam masalah hukum fikih, bahkan dalam masalah akidah!! [28]

Kedua: Para ulama salaf telah memberikan peringatan keras terhadap metode mencari-cari ketergelinciran ulama, pendapat-pendapat ganjil dan aneh

Sulaiman at-Taimi mengatakan: “Apabila engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka telah berkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.” Ibnu Abdil Barr berkomentar: “Ini adalah Ijma’, saya tidak mendapati perselisihan ulama tentangnya.” [29].  Al-Auza’i berkata: “Barang siapa memungut keganjilan-keganjilan ulama, maka dia akan keluar dari Islam.” [30]. Hasan al-Bashri berkata: “Sejelek-jelek hamba Allah adalah mereka yang memungut masalah-masalah ganjil untuk menipu para hamba Allah.” [31]. Abdurrahman ibn Mahdi berkata: “Seorang tidaklah disebut alim, bila dia menceritakan pendapat-pendapat yang ganjil.” [32]. Al-Imam Ahmad menegaskan, bahwa orang yang mencari-cari pendapat ganjil adalah seorang yang fasik [33]. Bahkan al-Imam Ibnu Hazm menceritakan Ijma’ (Kesepakatan Ulama), bahwa orang yang mencari-cari keringanan madzhab, tanpa bersandar pada dalil, merupakan kefasikan dan tidak halal [34].

Maka hendaknya seorang Muslim takut kepada Allah, dan mengingat bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban. Dengan mengingat hal itu, dia tidak menggampangkan diri untuk mencari-cari ketergelinciran ulama, dan menyebarkan pendapat-pendapat ganjil, karena hal itu bisa menggolongkan dirinya termasuk orang yang menjadikan ayat-ayat Allah sebagai senda gurau [35]. Al-Imam asy-Syathibi menyebutkan beberapa dampak negatif mencari-cari kesalahan ini, di antaranya:

  1. Keluar dari agama, karena tidak mengikuti dalil tetapi mengikuti perselisihan.
  2. Meremehkan agama.
  3. Mencampuradukkan pendapat sehingga keluar dari Ijma’ ulama.
  4. Meninggalkan sesuatu yang maklum menuju sesuatu yang bukan maklum.
  5. Merusak undang-undang politik syar’i yang dibangun di atas keadilan sehingga akan mengakibatkan kerusakan [36]

Ketiga: Perlu diketahui, bahwa tidak semua perbedaan itu diterima. Lihatlah dahulu siapa yang berbeda pendapat, dan sejauh mana kuatnya argumen yang dibawakan. Jika memang bertentangan dengan dalil yang jelas, maka tidaklah diterima. Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Perselisihan itu ada dua macam, apabila sudah ada dalilnya yang jelas dari Allah dan Sunnah Rasul ﷺ atau Ijma’ kaum Muslimin, maka tidak boleh bagi kaum Muslimin yang mengetahuinya untuk menyelisihinya. Adapun apabila tidak ada dalilnya yang jelas, maka boleh bagi ahli ilmu untuk berijtihad dengan mencari masalah yang menyerupainya dengan salah satu di antara tiga tadi (Alquran, as-Sunnah, dan Ijma’).” [37].

Asy-Syaikh al-Allamah Muhammad ibn Utsaimin berkata: “Termasuk di antara pokok-pokok Ahlussunnah wal Jama’ah dalam masalah Khilafiyyah adalah, apabila perselisihan tersebut bersumber dari Ijtihad, dan masalah tersebut memungkinkan untuk ijtihad, maka mereka saling bertoleransi, tidak saling dengki, bermusuhan, atau lainnya, bahkan mereka bersaudara, sekalipun ada perbedaan pendapat di antara mereka. Adapun masalah-masalah yang tidak ada ruang untuk berselisih di dalamnya, yaitu masalah-masalah yang bertentangan dengan jalan para sahabat dan tabi’in, seperti masalah akidah yang telah tersesat di dalamnya orang yang tersesat, dan tidak dikenal perselisihan tersebut, kecuali setelah generasi utama, maka orang yang menyelisihi sahabat dan tabi’in tadi tidak dianggap perselisihannya.” [38].

وَلَيْسَكُلُّخِلَافٍجَاءَمُعْتَبَرًا

إِلَّاخِلَافًالَهُحَظٌّمِنَاْلنَّظَرِ

Tidak seluruh perselisihan itu dianggap

Kecuali perselisihan yang memang memiliki dalil yang kuat [39].

Hal ini sangat penting dipahami, khususnya bagi kaum Muslimin di Indonesia yang masih banyak yang menilai, bahwa semua perbedaan bisa ditampung dan diakomodasi dengan alas an, bahwa negara Indonesia adalah negara demokrasi, sehingga pendapat-pendapat nyeleneh yang jelas-jelas bertentangan dengan Alquran, Hadis, dan Ijma’ pun harus dihormati, sebagai bentuk perbedaan pendapat, dan perbedaan adalah rahmat!!

Baiklah, kita ambil beberapa contoh masalah fikih yang merupakan pendapat lemah Dr. Quraish Shihab:

A. Jilbab

Dr. Quraish Shihab menulis buku berjudul “Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer” terbitan Lentera Hati, Jakarta, untuk menuangkan ide pemikiran nyelenehnya yang penuh syubhat. Alhamdulillah, buku tersebut sudah dibantah oleh Dr. Ahmad Zain an-Najah, M.A. (Doktor Syari’ah Islam Universitas al-Azhar, Kairo) secara ilmiah dalam bukunya Jilbab Menurut Syar’iat Islam (Meluruskan Pandangan Prof. Dr. Quraish Shihab) terbitan Cakrawala Publishing, Jakarta.

Dari judulnya saja kita sudah dapat menilai, bahwa Dr. Quraish ingin menampakkan, bahwa masalah kewajiban jilbab adalah masalah Khilafiyyah (Perbedaan pendapat) yang dibolehkan, sehingga dia membandingkan pendapat para ulama dahulu yang bersepakat tentang wajibnya jilbab yang menutupi aurat wanita, dengan pendapat sampah sebagian kalangan yang ingin menghidupkan budaya jahiliyyah untuk menanggalkan jilbab, seperti Qasim Amin, al-Asmawai, dan lain-lain!! Inilah salah satu contoh metode rusak (mencari-cari ketergelinciran ulama dengan alasan kemudahan dan perbedaan) yang diterapkan Dr. Quraish Shihab yang telah kita singgung di atas.

Di antara ucapan Dr. Quraish adalah:

Boleh jadi dapat dinilai sebagai pembenaran atas pendapat yang menyatakan, bahwa yang terpenting dari pakaian adalah yang menampilkan mereka dalam bentuk terhormat, sehingga tidak mengundang gangguan dari mereka yang usil [40].

Dia juga mengatakan:

Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan setengah tangannya, bahwa mereka secara pasti telah melanggar petunjuk agama. Bukankah Alquran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbepa pendapat [41].

Bahkan, dengan nada menghina wanita-wanita berjilbab sesuai tuntunan agama, Dr. Quraish menulis:

Pakaian longgar, berwarna hitam yang tidak menampakkan kecuali sepasang, bahkan sebiji bola mata, yang juga tidak jarang ditutup dengan kaca mata hitam, sungguh tidak mengandung nilai-nilai kecantikan dan hiasan. Penulis tidak akan berkata seperti tulis beberapa orang, bahwa pakaian seperti yang diwajibkan oleh sementara ulama itu menjadikan wanita tampil seperti sosok hantu, atau bahwa pakaian itu seperti kafan dan menjadikan pemakainya bagaikan mayat-mayat yang berjalan. Sama sekali penulis tidak akan berkata demikian [42].

Pendapat sang profesor ini, dan fakta bahwa putrinya yang tidak mengenakan jilbab dijadikan legitimasi oleh salah satu majalah tentang tidak perlunya wanita mengenakan jilbab. Pada 22 Maret 2005, majalah tersebut membuat judul cover “TERHORMAT MESKI TANPA JILBAB”.

Saya tidak perlu membantah secara luas ucapan-ucapan kacau di atas. Silakan para pembaca merujuk kepada bantahan Dr. Ahmad Zain an-Najah yang telah saya isyaratkan tadi, sedangkan sebagiannya telah kita bantah dalam penjelasan kerusakan metode Dr. Quraish Shihab di atas tadi. Cukuplah bagi kita ketegasan Allah Ta’ala yang telah mewajibkan kepada segenap wanita Muslimah yang telah mencapai usia baligh untuk memakai jilbab. Hal ini termaktub dalam Alquran:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang Mukmin, hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Ayat yang mulia ini secara tegas dan jelas menunjukkan, bahwa jilbab merupakan perintah dan syariat Allah Ta’ala kepada segenap wanita Muslimah. Bukan seperti yang didengungkan sebagian kalangan, termasuk Dr. Qurais, yang menilai, bahwa hal itu disesuaikan dengan budaya dan zaman yang berbeda-beda, antara satu zaman dengan zaman lain, dan antara satu negara dengan negara lain [43].

Yakinlah bahwa pendapat apa pun yang MENYELISIHI ketegasan Alquran, Hadis dan Ijma’ para ulama, adalah pendapat yang BATIL, siapa pun pelontarnya, dan seindah apapun untaian kata-kata yang dirangkainya.

Dan berdasarkan penelitian para ulama dapat disimpulkan, bahwa jilbab yang syar’i itu harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:

  1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (ada perselisihan, sekalipun menutupnya lebih utama).
  2. Tidak ketat sehingga menggambarkan lekuk tubuh.
  3. Tidak tipis/transparan/tembus pandang sehingga menampakkan kulit tubuh.
  4. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
  5. Tidak menyerupai pakaian khas wanita kafir.
  6. Tidak mencolok dan menarik perhatian.
  7. Tidak diberi parfum dan wewangian [44]

B. Membolehkan Katup Jantung Babi

Dr. Muhammad Quraish Shihab mengatakan ketika menafsirkan Surat al-Ma’idah ayat 3:

Atas dasar ini pula agaknya kita dapat berkata, bahwa penggunaan katup jantung babi sebagai pengganti katup jantung manusia yang sakit dapat dibenarkan, karena tidak digunakan untuk dimakan [45].

Jawaban:

Sesungguhnya babi termasuk hewan yang diharamkan dalam Islam.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآأَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (QS al-Ma’idah [5]: 3)

Babi diharamkan oleh Allah, baik babi peliharaan maupun liar. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi, sekalipun minyaknya. Ibnu Hazm dalam al-Fishal 4/197 berkata, tatkala menyebutkan salah seorang Mu’tazilah bernama Abu Ghifar: “Dia menganggap bahwa lemak babi dan otaknya adalah halal.”(!!) Kemudian, Ibnu Hazm berkomentar: “Ini adalah kekufuran yang nyata.” [46].

Maka apa yang dikatakan oleh sebagian kalangan, bahwa Dawud azh-Zhahiri mengharamkan daging babi saja, adapun selain daging hukumnya boleh, ucapan ini perlu dikoreksi ulang, sebab Ibnu Hazm sendiri dalam kitabnya al-Muhalla 7/390–430 menukil Ijma’ tentang haramnya seluruh bagian babi, padahal beliau adalah orang yang mengerti tentang Madzhab Dawud (azh-Zhahiri). Seandainya saja beliau menyelisihi, niscaya beliau akan membantahnya dengan penyelisihan Dawud!!

Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam Alquran, Hadis, dan Ijma’ ulama. Al-Imam adz-Dzahabi berkata: “Saya tidak mengira akan ada seorang Muslim yang dengan sengaja makan babi, karena yang memakan babi hanyalah orang-orang Zindiq Jabaliyyah dan Tayaminah yang keluar dari Islam. Dalam hati orang-orang yang beriman, makan babi lebih besar dosanya daripada minum khamar.” [47].

Hikmah pengharamannya, karena babi memiliki beberapa sifat berikut:

  1. Babi adalah hewan yang sangat menjijikkan. Makanan kesukaan hewan ini adalah barang-barang yang najis dan kotor [48]
  2. Daging babi mengandung satu virus tunggal yang dapat mematikan dan mengandung penyakit ganas yang sulit obatnya bagi pemakan daging babi, sebagaimana terbukti oleh riset kedokteran [49].
  3. Salah satu sifat hewan babi adalah tinggi/kuat syahwatnya, sehingga babi jantan menaiki babi betina padahal sedang makan rumput. Bahkan sekalipun si betina telah berjalan beberapa meter, si jantan akan terus menumpanginya!! [50 ]. Oleh karena itu, penelitian telah menyibak, bahwa babi memunyai pengaruh dan dampak negatif dalam masalah iffah (kehormatan) dan kecemburuan, sebagaimana kenyataan penduduk negeri yang biasa makan babi [51].

Setelah kita mengetahui bahwa babi termasuk hewan yang diharamkan, maka ketahuilah, bahwa apa yang dikatakan Dr. Quraish Shihab di atas tanpa sanggahan dan perincian, adalah sebuah KESALAHAN yang AMAT FATAL, sebab masalah tersebut harus diperinci sebagai berikut, sehingga tidak menimbulkan kerancuan:

Pertama: Penggunaan katup jantung babi bagi orang sakit dalam kondisi ideal, maka hukumnya haram dengan kesepakatan ulama [52] berdasarkan hadis:

«إِنَّاللهَلَميَجْعَلْشِفَاءَكُمْفِيْمَاحَرَّمَعَلَيْكُمْ».

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat kalian dalam apa yang diharamkan kepada kalian.” (HR al-Bukhari 10/78)

Kedua: Penggunaan katup jantung babi bagi orang sakit dalam kondisi darurat. Inilah yang diperselisihkan para ahli fikih:

Sebagian ulama mengatakan tidak boleh, sekalipun kondisi darurat. Ini adalah madzhab Malikiyyah dan Hanabilah [53]

Mayoritas ulama mengatakan boleh – selain khamar -, dengan syarat, tidak ada obat lainnya, dan berdasarkan petunjuk dokter Muslim terpercaya. Ini adalah Madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Zhahiriyyah [54]. Hingga para ulama mengatakan, jika ada katup kera, misalnya, maka itu lebih didahulukan daripada babi, karena babi jelas haramnya, sedangkan kera ada perselisihan tentang keharamannya.

Oleh karenanya, penggunaan katup jantung babi pada zaman sekarang TIDAK BOLEH secara mutlak, sekalipun dalam kondisi darurat, karena tidak memenuhi syarat yang disebutkan ulama. Sebab para ahli kedokteran sekarang menyebutkan, bahwa pada katup jantung babi malah terkandung virus yang bisa menyerang kesehatan manusia. Lebih-lebih pada zaman sekarang sudah ada pengganti yang lebih aman, yaitu alat-alat medis buatan manusia sekarang, yang jauh lebih aman dari katup hewan atau kalaupun harus menggunakan katup hewan, sekarang juga sudah ada katup sapi, yang jauh lebih aman dan tidak najis/haram [55].

C. Mengingkari Hukum Jenggot

Dr. Quraish Shihab—semoga Allah memberinya petunjuk—menyatakan bahwa:

Tujuan tuntunan Nabi ﷺ itu bersifat sementara, yaitu untuk membedakan antara pria kaum Mukminin dengan pria yang bukan Mukmin (yang ketika itu memelihara kumis dan mencukur jenggot mereka). Kini karena non-Muslim pun sudah banyak yang memelihara jenggot dan mencukur kumis, maka sebenarnya cara pembedaan seperti itu sudah tidak relevan lagi, dan karena itu ia tidak berlaku lagi. Demikian Wallahu A’lam [56]

Jawaban:

Rasulullah ﷺ dalam hadis-hadis yang Shahih mewajibkan untuk memelihara jenggot dan melarang mencukurnya, dengan redaksi yang beragam, baik dengan ucapan, perbuatan, dan persetujuan. Adapun ucapan, Nabi ﷺ bersabda dengan redaksi yang berbeda-beda:

أَحْفُوْاالشَّوَارِبَوَأَعْفُوْااللِّحَى

“Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot.” [57]

خاَلِفُوْاالمُشْرِكِيْنَوَفِرُّوْااللِّحَىوَأَحْفُوْاالشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan cukurlah kumis.” [58]

جَزُّوْاالشَّوَارِبَ،وَأَرْحُوْااللِّحَى،خَالِفُوْاالمَجُوْسَ

“Cukurlah kumis, biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi.” [59]

خَالِفُوْاالمُشْرِكِيْنَأَحْفُوْاالشَّوَارِبَوَأَوْفُوْااللِّحَى

“Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan cukurlah kumis.” [60]

عَنِابْنِعُمَرَرَضِيَاللهُعَنْهُقَالَعَنِالنَّبِيِّn أَنَّهُأَمَرَبِإِحْفَاءِالشَّوَارِبَوَإِعْفَاءِاللِّحْيَةِ

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma, “Dari Nabi ﷺ, sungguh beliau memerintahkan untuk mencukur kumis dan memelihara jenggot.” [61]

Hadis-hadis dengan redaksi di atas sangat jelas menunjukkan perintah memelihara jenggot, sedangkan dalam kaidah Ushul Fikih dikatakan, bahwa asal sebuah perintah adalah menunjukkan wajib, hingga ada dalil yang memalingkannya [62]. Padahal TIDAK ADA dalil yang memalingkan dalam masalah ini. Bahkan hadis-hadis tersebut saling menguatkan.

Para ulama dan ahli fikih secara tegas menyatakan bahwa mencukur jenggot itu haram.

Al-Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama sepakat, bahwa pencukur jenggot merupakan perbuatan mutslah (memerburuk) yang terlarang.” [63].

Ibnul Qaththan berkata: “Para ulama bersepakat, bahwa mencukur seluruh jenggot tidak boleh.” [64]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan hadis-hadis yang Shahih dan tidak ada seorang ulama pun yang membolehkannya.” [65]

Asy-Syaikh Ali Mahfuzh berkata: “Empat madzhab telah bersepakat tentang wajibnya memelihara jenggot dan haramnya mencukur jenggot.” Setelah memaparkan ucapan para imam madzhab, asy-Syaikh Ali Mahfuzh berkomentar: “Dengan penjelasan di muka, maka nyatalah bagimu, bahwa memelihara jenggot termasuk agama Allah dan syariat-Nya yang telah digariskan untuk hamba-Nya. Menyelisihinya merupakan ketololan, kesesatan, kefasikan, kejahilan, dan penyimpangan dari petunjuk Nabi Muhammad ﷺ.” [66].

Adapun syubhat yang dilontarkan oleh Dr. Quraish di atas, maka syubhat ini sangat rapuh. Hal itu ditinjau dari beberapa segi:

Saya berpikir dan membayangkan, seandainya Rasulullah ﷺ hidup di tengah-tengah kita, lalu beliau memerintahkan kepada kita untuk memelihara jenggot, dan kita pun mendengarnya langsung dengan telinga kita, akankah ada seorang di antara kita yang berani protes kepada Nabi ﷺ dengan menampilkan syubhat di atas?!! TIDAK. Itulah keyakinan penulis. Nah, kalau memang kita tidak berani di hadapan beliau ﷺ, apakah kemudian kita berani di hadapan hadis beliau ﷺ ?!!

Ucapan “Kini karena non-Muslim sudah banyak yang memelihara jenggot dan mencukur kumis” perlu diteliti kembali. Dari manakah sensus yang menunjukkan data seperti ini?! Siapakah mereka (orang non-Muslim)?! Benar, kita mengakui memang ada di antara mereka yang demikian, tetapi berapa persenkah bila dibandingkan dengan mereka yang mencukur jenggot?!! Tidak ragu lagi bagi orang yang mau adil dalam masalah ini, bahwa mencukur jenggot adalah ciri khas kaum kuffar. Bahkan mereka melancarkan serangan kepada orang-orang yang berjenggot.

Nabi ﷺ membarengkan perintah memelihara jenggot dengan perintah merapikan kumis. Seandainya perintah memelihara jenggot dimentahkan dengan alasan karena kini orang-orang kafir memelihara jenggot, sehingga kita harus menyelisihi mereka dan mencukurnya, maka konsekuensinya kita juga harus memanjangkan kumis dan membiarkannya, karena kini orang-orang kafir juga merapikan kumis mereka. Apakah kalian menyetujuinya?!!

Menyelisihi orang kafir bukanlah satu-satunya alasan perintah memelihara jenggot. Tetapi banyak alasan lainnya seperti: mengubah ciptaan Allah, menyerupai wanita, menyelisihi fitrah, pemborosan, terang-terangan maksiat, sebagaimana keterangan di atas. Anggaplah mencukur jenggot tidak termasuk meniru orang kafir, tetapi apakah dapat lolos dari kemungkaran-kemungkaran lainnya?!

Memelihara jenggot termasuk fitrah sebagaimana kata Nabi ﷺ. Dengan demikian, adanya sebagian orang kafir memelihara jenggot bukanlah berarti kita tasyabbuh dengan mereka, tetapi merekalah sebenarnya yang meniru kita. Hal ini hendaknya menyembul semangat kita dalam berpegang teguh terhadap Sunnah Nabi ﷺ dan bangga dengan agama kita, karena diakui keindahannya oleh musuh-musuh Islam.

Begitulah, adanya sebagian orang kafir yang memelihara jenggot, bukan berarti kita harus mencukur jenggot [67]. Kalau demikian, berarti jika ada sebagian orang kafir merapikan kumis, maka kita harus memanjangkannya, untuk menyelisihi mereka. Kalau mereka khitan, maka kita tidak khitan untuk menyelisihi mereka. Kalau mereka memotong kuku, mereka maka berarti kita memanjangkannya, untuk menyelisihi mereka, dan sebagainya dari perkara-perkara fitrah. Demikian pula, kalau mereka masuk Islam (agama fitrah), berarti kita keluar darinya untuk menyelishi mereka. Adakah orang berakal yang berpendapat seperti ini?!! [68]

Jadi, maksud kita menyelisihi kaum Majusi dan orang kafir itu bukan berarti dalam segala hal yang benar dan sesuai dengan fitrah serta akhlak yang mulia. Akan tetapi maksudnya adalah, menyelisihi mereka dalam hal-hal yang mereka menyimpang dari kebenaran dan keluar dari fitrah yang bersih [69].

Demikianlah beberapa kritikan ilmiah yang bisa kami utarakan. Semoga Dr. Quraish Shihab dan orang-orang yang mengagumi pemikirannya bisa mengoreksi ulang dan kembali kepada jalan yang benar. Janganlah melihat siapa yang mengatakan, tetapi lihatlah apa yang diucapkan. Tidaklah kami menampilkan, kecuali argumen-argumen dari Alquran, Hadis, dan ucapan para ulama yang Mu’tabar.

 

Disusun oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

 

Catatan Kaki:

[1] Ringkasan shalawat seperti ini tidak dibenarkan. Hendaknya shalawat ditulis secara sempurna, sebagaimana diingatkan oleh para ulama. Lihat Ma’rifah ’Ulum Hadis Ibnu Shalah hlm. 195–196 , Ikhtishar ’Ulum Hadis Ibnu Katsir 2/386–387, Fathul Mughits as-Sakhawi 2/182, Tadrib Rawi as-Suyuthi 1/503, 507, Mu’jam al-Manahi Lafzhiyyah hlm. 351 oleh asy-Syaikh Dr. Bakr ibn Abdillah Abu Zaid.

[2] Lihat as-Sunnah Ibnu Abi Ashim (hlm. 226–227—Zhilalul Jannah al-Albani—) atau (1/344—tahqiq Dr. Basim al-Jawabirah—) dan Silsilah Ahadis ash-Shahihah No. 3161 oleh asy-Syaikh al-Albani.

[3] Silsilah Ahadis ash-Shahihah 1/11

[4] Al-Asma’ wash Shifat hlm. 532–533 terbitan Dar Kutub Ilmiah

[5] Syarh Sunnah 3/239 dan 9/247

[6] Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/118

[7] Itsbat Shifatil ’Uluw hlm. 47

[8] Al-’Uluw lil ’Aliyyin ’Azhim 1/249, tahqiq Abdullah ibn Shalih al-Barrak

[9] Fathul Bari 13/359

[10] Al-Qawashim wal ’Awashim 1/379–380

[11] Mukhtashar al-’Uluw hlm. 82

[12] Muqaddimah Mukhtasar al-’Uluw hlm. 70–71 oleh al-Albani

[13] Republika, 18 Nopember 1994 hlm. 10. Dikutip dari Kenaikan dan Kebangkitan Isa as dalam Bybel dan Alquran hlm. 14 oleh Hj. Irene Handono. (Majalah al-Muslimun 398 Mei 2003 hlm. 22–23)

[14] Demikian ditegaskan oleh as-Saffarini dalam Lawami’ Anwar 2/94–95 dan asy-Syaikh Syaraful Haq Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud 11/312.

[15] Terlepas apakah beliau telah kembali meralat ucapannya ini ataukah tidak, namun yang terpenting bagi kita adalah mengingatkan umat dari kesalahan pendapat beliau yang termuat dalam al-Fatawa. Kami katakan hal ini, sebab dalam risalahnya al-Bidah Asbabbuha wa Madharuha hlm. 30 beliau menguatkan hadis-hadis tentang turunnya Isa. Diperkuat lagi oleh apa yang diceritakan Dr. al-Buthi dalam kitabnya Kubra Yaqiniyyat al-Kauniyyah hlm. 269, “Sebagian para ulama al-Azhar yang dekat dengan Syaikh Syaltut meriwayatkan bahwa beliau di akhir kehidupannya, di saat beliau terkena penyakit stroke di rumahnya, dia membakar semua kertas dan kitab yang berisi pendapat-pendapatnya yang ganjil, khususnya masalah turunnya Isa ibn Maryam, dan beliau bersaksi di hadapan mereka bahwa beliau telah bertaubat kepada Allah dari keyakinan tersebut dan kembali memeluk akidah mayoritas kaum Muslimin Ahli Sunnah wal Jama’ah.” (Dinukil dari muqaddimah asy-Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam al-Fatawa al-Muhimmat karya Syaikh Mahmud Syaltut hlm. 13–15). Para ulama telah membantah pendapat Syaikh Syaltut tentang pengingkarannya terhadap turunnya Isa, seperti asy-Syaikh Humud at-Tuwaijiri dalam Ithaf Jama’ah 3/128–136, asy-Syaikh al-Albani dalam Muqaddimah Qishshatul Masih, dll. Dan asy-Syaikh al-Allamah Abdullah ibn Ali ibn Yabis memiliki sebuah kitab berjudul menarik I’lamul Anam min Mukhalafah Syaikh Azhar Syaltut lil Islam (Pemberitahuan kepada manusia tentang penyimpangan Syaikh Syaltut terhadap Islam).

[16] Qishshatul Masih Dajjal wa Nuzul ’Isa hlm. 24

[17] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 1/455 terbitan Dar al-Wathan

[18] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 1/454

[19] Nushul Ummah fi Fahmi Hadis Iftiraq Ummah hlm. 46–47 karya asy-Syaikh Salim al-Hilali

[20] Dia di Mana-Mana hlm. 135

[21] Silsilah adh-Dha’ifah No. 1

[22] HR Abu Dawud 162 dan dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 103

[23] Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani berkata tentangnya, “Melalui bukunya yang berjudul as-Sunnah Nabawiyyah sangat tampak bahwa dia berpemikiran Mu’tazilah yang tidak menghargai jerih payah Ahli Hadis dan fikih, sehingga mengambil dan melemparkan semaunya tanpa pijakan yang kuat.” (Catatan kaki Shifat Shalat Nabi hlm. 37–38). Para ulama Sunnah ramai-ramai membantah buku hitam dan keji ini sebagai pembelaan kepada agama dan hadis Nabi yang mulia, di antaranya yang paling bagus adalah asy-Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz alusy Syaikh, asy-Syaikh Asyraf ibn Abdul Maqshud, asy-Syaikh Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dan sebagainya banyak sekali.

[24] Alangkah bagusnya ucapan asy-Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz alusy Syaikh (Menteri Agama Arab Saudi sekarang) tatkala berkata: “Al-Ghazali mengangkat dirinya sebagai hakim yang mengadili. Tetapi antara siapa? Antara Ahli Hadis dan ahli fikih dalam memahami Sunnah. Hal ini menunjukkan kedangkalan ilmunya dan kepicikan pandangannya. Sebab, mayoritas ahli fikih dahulu adalah Ahli Hadis dan mayoritas Ahli Hadis dahulu adalah ahli fikih. Contohnya al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, Laits, ats-Tsauri, dll. Bukankah mereka adalah para pakar ilmu hadis?! Dan bukankah mereka adalah ahli fikih?!” (al-Mi’yar li ’Ilmi al-Ghazali hlm. 13)

[25]  Jilbab Pakaian Wanita Muslimah hlm. 10 karya Dr. M. Quraish Shihab

[26] Idem hlm.117

[27] Al-Muwafaqat 1/231.

[28]  Lihat secara luas masalah ini dalam Manhaj Taisir Mu’ashir Abdullah ibn Ibrahim ath-Thawil.

[29] Jami’ Bayanil ’Ilmi wa Fadhlihi 2/91–92

[30] Sunan Kubra al-Baihaqi 10/211

[31] Adab Syar’iyyah 2/77

[32] Hilyatul Auliya’ Abu Nu’aim 9/4

[33] Al-Inshaf al-Mardawi 29/350

[34] Maratibul Ijma’ hlm. 175 dan dinukil asy-Syathibi dalam al-Muwafaqat 4/134

[35] Lihat masalah ini secara luas dan contoh-contohnya dalam kitab Irsal Syuwath ’ala Man Tatabba’a Syawadh oleh Shalih ibn Ali asy-Syamrani.

[36] Lihat al-Muwafaqat 4/222, tahqiq Masyhur ibn Hasan.

[37]  Jima’ul ’Ilmi hlm. 96, ar-Risalah hlm. 560.

[38] Syarh al-Ushul as-Sittah hlm. 155–156

[39] Lihat al-Itqan fi ’Ulum Qur’an 1/24 oleh al-Hafizh as-Suyuthi.

[40] Jilbab Pakaian Wanita Muslimah hlm. 166–167

[41] Idem hlm. 174

[42] Idem hlm. 107

[43] Lihat Jilbab Pakaian Wanita Muslimah hlm. 109 dan 153.

[44] Lihat kitab Jilbab Mar’ah Muslimah karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

[45] Tafsir Al-Mishbah Volume 3 hlm. 16.

[46] Lihat pula at-Tibyan Lima Yahillu wa Yahrumu minal Hayawan, Ahmad al-Aqfahisi hlm. 84.

[47] Al-Kaba’ir hlm. 267–269

[48] Menakjubkanku ucapan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tatkala menjelaskan kemiripan antara sifat hewan babi dengan kelompok Rafidhah. Beliau berkata: “Sesungguhnya babi adalah hewan yang paling kotor dan jelek tabiatnya. Salah satu sifatnya, dia meninggalkan makanan yang baik, tetapi malah makan yang kotor, seorang yang baru saja bangkit dari buang air besar langsung akan diserbunya. Perhatikanlah hal ini pada kaum Rafidhah, mereka malah memusuhi makhluk yang terbaik, para kekasih Allah, namun mereka justru loyal kepada kaum yahudi, nashara, dan musyrikin dan membantu mereka dalam setiap waktu untuk memerangi kaum Mukminin yang cinta kepada para sahabat. Perhatikanlah, alangkah miripnya dua sifat ini.” (Lihat Miftah Dar Sa’adah 1/253.)

[49] Seorang dokter hewan bernama Ahmad Jawwad mengupas masalah ini secara terperinci dalam bukunya al-Khinzir Baina Mizani Syar’i wa Mindharil ’Ilmi (Babi Antara Timbangan Syariat dan Ilmu Kedokteran). Lihat pula Tafsir al-Manar 2/98, 6/135–136, Fi Zhilalil Qur’an Sayyid Quthub 1/156, Ruhuddin al-Islami Afif Thabarah hlm. 437–438, al-Ath’imah Shalih al-Fauzan hlm. 216–218.

[50] Hayatul Hayawan, ad-Damiri 1/424

[51] Lihat penjelasan asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz dalam Fatawa Islamiyyah 3/394–395.

[52] Lihat Hasyiyah Ibni ’Abidin 4/113, al-Fawakih ad-Dawani 2/441, Kasyaful Qana’ 24/76.

[53] Mawahibul Jalil 1/120, Ghayatul Muntaha 1/10.

[54] Hasyiyah Ibni ’Abidin 5/228, al-Majmu’ 9/249, al-Muhalla 1/221.

[55] Lihat Ahkamul Badail al-Hayawaniyyah wa Shina’iyyah fi Jismil Insan hlm. 72–75 oleh Dr. Fahd ibn Shalih al-’Uraid, terbitan Maktabah Shuma’i, KSA.

[56] Republika, Jum’at 7 Mei 2004, hlm. 6.

[57] HR al-Bukhari No. 1893 dan Muslim No. 159

[58] HR al-Bukhari No. 2892

[59] HR Muslim No. 260

[60] HR Muslim No. 259

[61] HR Muslim No. 259

[62] Lihat Irsyadul Fuhul asy-Syukani 94–97, Mudzakkirah Ushul Fiqh asy-Syinqithi hlm. 191–192, al-Ushul min ’Ilmil Ushul Ibnu Utsaimin hlm. 24–25.

[63] Maratibul Ijma’ hlm. 157

[64] Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’ 2/299

[65] Al-Ikhtiyarat al-’Ilmiah hlm. 10

[66] Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’ hlm. 384

[67] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menegaskan hal ini dalam kitabnya Iqtidha’ Shirathil Mustaqim hlm. 177, “Apabila orang-orang musyrik memelihara jenggot mereka, maka fitrah mereka dalam segi ini selamat, karena sesuai dengan fitrah dan petunjuk para nabi … Bagaimana pun juga, tidak boleh bagi kita untuk menolak apa yang disyariatkan dan difitrahkan Allah kepada kita, hanya sekadar karena non-Muslim melakukannya.”

[68] Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin 2/908–909

[69] Fatawa Lajnah Da’imah 5/143

,

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB ( BAGIAN PERTAMA)

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB ( BAGIAN PERTAMA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KRITIK ILMIAH ATAS PEMIKIRAN DR. QURAISH SHIHAB ( BAGIAN PERTAMA)

Muqaddimah

Beberapa bulan lalu, publik dihebohkan oleh ucapan kontroversial seorang yang – konon katanya -adalah pakar tafsir Indonesia, yang menyatakan, bahwa TIDAK ADA JAMINAN SURGA BAGI NABI MUHAMMAD. Kontan saja, komentar tersebut mencuatkan tanggapan pro dan kontra yang ramai di media, sampai-sampai menteri agama yang baru saja ditunjuk ikut angkat berbicara. Dan klarifikasi juga langsung dilakukan oleh sang pelontar untuk mendinginkan suasana.

Membaca kasus ini, memori saya langsung teringat dengan proyek dan keinginan dalam hati saya sejak dahulu yang belum terealisasikan, untuk menulis tulisan yang menguak beberapa PEMIKIRAN BERBAHAYA yang dilontarkan oleh Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam karya-karyanya, sebagai bentuk nasihat yang tulus untuk saudara-saudara kami, agar TIDAK terjerembab dalam kubangan pemikirannya yang MENYIMPANG, karena silau dengan popularitas nama dan kebesaran gelar yang disandangnya.

Aduhai, kalau kita semua diam tidak menjelaskan masalah ini, lantas kapan orang jahil dapat mengerti?! Muhammad ibn Bundar pernah berkata kepada al-Imam Ahmad: “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya saya merasa berat hati untuk mengatakan ‘si Fulan pendusta!!’.” Ahmad menjawab: “Seandainya kamu diam dan saya juga diam, lantas kapan orang yang jahil mengetahui, mana yang benar dan mana yang salah?!!” [1]

Maka dengan bertawakkal kepada Allah, kami akan menyorot beberapa pemikirannya yang BERBAHAYA berikut BANTAHANNYA secara ILMIAH. Semoga hal ini dipahami sebagai bentuk nasihat, dan bukan sebagai celaan dan hinaan.

Hakikat “Ulama

Selama ini, banyak orang yang mengklaim dan menganggap Dr. Quraish Shihab sebagai cendekiawan, intelektual, pakar tafsir Alquran, dan sebagainya, hanya melihat kepada gelar yang disandangnya begitu mentereng, aktif menulis karya tulis hingga puluhan karya, sering nongol mengisi acara di TV, apalagi melihat kepada jabatan yang pernah diembannya, seperti pernah menjadi rektor IAIN, mantan ketua MUI, mantan menteri agama—sekalipun hanya sekitar lima puluh hari.

Ini adalah pandangan yang SALAH tentang hakikat ulama. Karena tidak setiap yang pandai bicara dan berpidato di atas mimbar, berarti dia adalah ulama. Dan tidak setiap orang yang pandai menulis kitab berarti ulama, karena ulama sejati memiliki sifat-sifat yang jarang ada pada tokoh-tokoh agama sekarang ini, terutama memiliki akidah yang lurus sesuai dengan Alquran dan hadis, serta pemahaman Salaf Shalih.

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali pernah mengatakan: “Sangat disayangkan, banyak orang bodoh pada zaman sekarang menyangka, bahwa setiap orang yang pandai bicara, berarti dia lebih alim daripada ulama sebelumnya. Bahkan ada di antara mereka yang menganggap pada seseorang, bahwa dia lebih alim daripada para sahabat Nabi, karena penjelasannya yang banyak, dan pintarnya dalam berdebat.”

Beliau melanjutkan: “Banyak orang sekarang yang TERTIPU dalam masalah ini, sehingga mereka mengira, bahwa setiap orang yang banyak omongnya dan debatnya dalam masalah-masalah agama, berarti dia lebih pandai daripada yang tidak demikian. Padahal harus diyakini, bahwa tidak setiap orang yang lebih banyak omongnya dan debatnya, berarti dia lebih pandai.” [2]

Subhanallah, ini keluhan al-Imam Ibnu Rajab pada zamannya. Lantas bagaimana sekiranya dia jika beliau melihat pada zaman kita sekarang?!! Oleh karenanya, marilah kita tanamkan pada diri kita masing-masing untuk mencintai dan mengagungkan kebenaran yang bersumberkan Alquran dan as-Sunnah, dan TIDAK SILAU dengan ucapan seorang, hanya karena gelar dan popularitasnya semata. JADIKANLAH timbangan kebenaran dengan Alquran dan as-Sunnah untuk menilai seseorang. JANGAN menjadikan kebenaran berdasarkan ucapan seorang.

Susunan Bahasan

Pembahasan saya di sini hanya akan memaparkan beberapa contoh sebagian penyimpangan dan ketimpangan pemikiran Dr. Quraish Shihab, terutama dalam tiga poin:

  • Akidah
  • Hadis
  • Fikih

Tiga poin ini akan memuat beberapa sub-bahasan. Metode kami, terlebih dahulu akan kami nukilkan ucapan Dr. Quraish Shihab beserta referensinya, kemudian kami akan berusaha melakukan sanggahan dan kritikan ilmiah berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, sesuai dengan pemahaman ulama Salaful Ummah.

Kerusakan Pemikiran Quraish Shihab

Akidah

Dalam masalah akidah, Dr. Quraish Shihab terjatuh dalam PENYIMPANGAN dan PEMIKIRAN yang SESAT, baik pemikiran Jahmiyyah, Mu’tazilah, Ahli Kalam (filsafat), Asya’irah, Tasawuf yang parah, dan Liberalisme. Hal itu dapat diketahui oleh setiap orang yang membaca buku-bukunya. Berikut ini beberapa contohnya:

  1. Pemikiran Jahmiyyah dan Mu’tazilah

Di antara contoh bahwa dia berpemikiran Jahmiyyah dan Mu’tazilah adalah pahamnya yang menyatakan, bahwa ALLAH ADA DI MANA-MANA.

Dr. Quraish Shihab mengatakan:

Kalau kita merenung dan berfikir secara tulus dan benar, pasti kita akan menyadari, bahwa Allah hadir di mana-mana. Kita dapat menemukannya setiap saat dan di semua tempat [3].

Jawaban:

Paham ini jelas BERTENTANGAN dengan Alquran dan as-Sunnah, karena merupakan paham Jahmiyyah yang telah dibantah oleh para ulama kita [4].

Sungguh tidak syak (ragu) lagi bagi orang yang mau mengaji ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi ﷺ serta kitab-kitab ulama, dan bersih dari virus Ahli Kalam dan filsafat, bahwa ALLAH BERADA DI ATAS ‘ARSY-NYA. Berikut ini dalil-dalilnya [5].

  1. Dalil dari Alquran

Banyak sekali dalil Alquran yang menunjukkan ketinggian Allah dengan beberapa versi, sampai-sampai sebagian penganut senior madzhab Syafi’i mengatakan: “Dalam Alquran terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan, bahwa Allah tinggi di atas makhluk dan Allah di atas hamba-Nya.” [6].  Di antaranya:

1) Kadang dengan lafazh ‘Ali (tinggi) dan Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. Seperti firman Allah:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS al-Baqarah [2]: 255)

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas ‘Arsy. (QS Thaha [20]: 5)

2) Kadang juga dengan naiknya sesuatu kepada-Nya. Seperti firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nya-lah naik perkataan yang baik, dan amal saleh dinaikkan-Nya. (QS Fathir [35]: 10)

تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada-Nya. (QS al-Ma’arij [70]: 4)

3) Kadang lagi dengan turunnya sesuatu dari-Nya. Seperti firman Allah:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ

Katakanlah Ruh Qudus (Jibril) menurunkan Alquran dari Rabbmu dengan benar. (QS an-Nahl [16]: 102)

  1. Dalil dari as-Sunnah

Ketinggian Allah di atas langit juga ditegaskan dalam banyak hadis Nabi Muhammad ﷺ sehingga mencapai derajat Mutawatir [7] dan dengan beberapa versi, baik berupa perkataan, perbuatan, dan Taqrir (persetujuan) Nabi ﷺ.

Berikut ini akan kami sebutkan beberapa hadis saja:

1) Dalil Pertama:

عَنْمُعَاوِيَةَبْنِالْحَكَمِالسُّلَمِيِّa قَالَ: …وَكَانَتْلِيْجَارِيَةٌتَرْعَىغَنَمًالِيْقِبَلَأُحُدٍوَالْجَوَّانِيَةِفَاطَّلَعْتُذَاتَيَوْمٍ, فَإِذَابِالذِّئْبِقَدْذَهَبَبِشَاةٍمِنْغَنَمِهَا, وَأَنَارَجُلٌمِنْبَنِيْآدَمَ, آسَفُكَمَايَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْصَكَكْتُهَاصَكَّةً, فَأَتَيْتُرَسُوْلَاللهِn فَعَظَّمَذَلِكَعَلَيَّ, قُلْتُ: يَارَسُوْلَاللهِ, أَفَلاَأُعْتِقُهَا؟قَالَ: ائْتِنِيْبِهَا, فَقَالَلَهَا: أَيْنَاللهُ؟قَالَتْ: فِيْالسَّمَاءِ, قَالَ: مَنْأَنَا؟قَالَتْ: أَنْتَرَسُوْلُاللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَافَإِنَّهَامُؤْمِنَةٌ.

Dari Mu’awiyah ibn Hakam as-Sulami Radhiallahu’anhu berkata: “… Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai penggembala kambing di Gunung Uhud dan al-Jawwaniyyah (tempat dekat Gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari Bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah ﷺ. Ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?’ Jawab beliau: ‘Bawalah budak itu kepadaku.’ Lalu Nabi ﷺ bertanya (kepada sang budak): ‘Di mana Allah?’ Jawab budak tersebut: ‘Di atas langit.’ Nabi ﷺ bertanya lagi: ‘Siapa saya?’ Jawab budak tersebut: ‘Engkau adalah Rasulullah.’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita Mukminah.’” [8]

Al-Imam adz-Dzahabi berkata mengomentari hadis ini:

وَهٰكَذَارَأَيْنَاكُلَّمَنْيُسْأَلُ: أَيْنَاللهُ؟يُبَادِرُبِفِطْرَتِهِوَيَقُوْلُ: فِيالسَّمَاءِ. فَفِيْالْخَبَرِمَسْأَلَتَانِ:

إِحْدَاهُمَا: مَشْرُوْعِيَّةُقَوْلِالْمُسْلِمِأَيْنَاللهُ؟

وَثَانِيْهَا: قَوْلُالْمَسْؤُوْلِ: فِيْالسَّمَاءِ. فَمَنْأَنْكَرَهَاتَيْنِالْمَسْأَلَتَيْنِفَإِنَّمَايُنْكِرُعَلَىالْمُصْطَفَى

“Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya ‘Di mana Allah’, niscaya dia akan menjawab dengan fitrahnya ‘Allah di atas langit’. Dalam hadis ini terdapat dua masalah:

Pertama: Disyariatkannya pertanyaan seorang Muslim ‘Di mana Allah’.

Kedua: Jawaban orang yang ditanya pertanyaan tersebut ‘Di atas langit’. Barang siapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari al-Mushthafa (Nabi Muhammad) ﷺ.” [9]

2) Dalil Kedua:

Hadis-hadis tentang kisah peristiwa Isra’ Mi’raj. Para pakar ilmu hadis menegaskan, bahwa hadis-hadis tentang kisah Isra’ Mi’raj mencapai derajat Mutawatir [10].

Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi berkata: “Dalam hadis Mi’raj ini terdapat dalil tentang ketinggian Allah, ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang mencermatinya.” [11]

3) Dalil Ketiga:

عَنْأَبِيْهُرَيْرَةَأَنَّرَسُوْلَاللهِقَالَ: يَنْزِلُرَبُّنَاتَبَارَكَوَتَعَالَىكُلَّلَيْلَةٍإِلَىالسَّمَاءِالدُّنْيَاحِيْنَيَبْقَىثُلُثُالأَخِيْرِيَقُوْلُ: مَنْيَدْعُوْنِيْفَأَسْتَجِيْبَلَهُ, مَنْيَسْأَلُنِيْفَأُعْطِيَهُ, مَنْيَسْتَغْفِرُنِيْفَأَغْفِرَلَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Dan siapa yang yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.’” [12]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas ‘Arsy, sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadis ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah yang berpendapat, bahwa Allah ada di mana-mana – bukan di atas ‘Arsy.” [13]

4) Dalil Keempat:

عَنْجَابِرِبْنِعَبْدِاللهِفِيْقِصَّةِحَجَّةِالنَّبِيِّ: … فَقَالَبِإِصْبِعِهِالسَّبَابَةِيَرْفَعُهَاإِلَىالسَّمَاءِ, وَيَنْكُتُهَاإِلَىالنَّاسِ: اللَّهُمَّاشْهَدْ, اللَّهُمَّاشْهَدْ, ثَلاَثَمَرَّاتٍ

Dari Jabir ibn Abdillah Radhiallahu’anhuma tentang kisah hajinya Nabi ﷺ (setelah beliau berkhutbah di Arafah): Lalu Nabi ﷺ mengatakan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit, dan mengisyaratkan kepada manusia “Ya Allah, saksikanlah, ya Allah saksikanlah” sebanyak tiga kali [14].

Hadis ini merupakan tamparan keras bagi kaum Ahli Bidah yang selalu melarang kaum Muslimin berisyarat dengan jarinya ke arah langit. Mereka berkata: “Kami khawatir orang-orang akan memunyai keyakinan, bahwa Allah berada di atas langit. Padahal Allah tidak bertempat, tetapi Allah ada di setiap tempat.” Demikianlah kekhawatiran yang DIMASUKKAN SETAN ke dalam hati mereka, yang sebenarnya mereka telah membodohkan Nabi ﷺ yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit!! [15]

  1. Ijma’ (Kesepakatan) Para Ulama

Para sahabat, para tabi’in, dan para imam kaum Muslimin telah bersepakat akan ketinggian Allah di atas langit-Nya, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Ijma’ ini banyak dinukil oleh para ulama. Kami nukil sebagian ucapan mereka sebagai berikut: [16]

1) Al-Imam al-Auza’i berkata: “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan: ‘Allah berada di atas ‘Arsy-Nya.’ Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.” [17]

2) Al-Imam Abdullah Ibnul Mubarak berkata: “Kami mengetahui Rabb kami. Dia bersemayam di atas ‘Arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami TIDAK mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyyah, yang mengatakan, bahwa Allah ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).” [18]

3) Al-Imam Qutaibah ibn Sa’id berkata: “Inilah pendapat para imam Islam Ahli Sunnah wal Jama’ah, bahwa kami mengetahui Rabb kami di atas langit-Nya ketujuh di atas ‘Arsy-Nya.” [19]

4) Al-Imam Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata: “Ahli Islam telah bersepakat untuk menetapkan sifat bagi Allah, dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy, berpisah dari makhluk-Nya, dan ilmu-Nya di setiap tempat. Barang siapa yang mengatakan selain ini, maka baginya laknat Allah.” [20]

5) Al-Imam Utsman ibn Sa’id ad-Darimi berkata: “Telah bersepakat kalimat kaum Muslimin dan kafirin bahwa Allah di atas langit.” [21]

6) Al-Imam Abu Umar at-Tolmanki berkata: “Kaum Muslimin dari Ahli Sunnah bersepakat, bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” [22]

7) Al-Imam ash-Shabuni berkata: “Para ulama umat dan imam dari Salaf Shalih tidak berselisih pendapat, bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya dan ‘ArsyNya di atas langit-Nya.” [23]

8) Al-Imam Isma’il ibn Muhammad at-Taimi berkata: “Kaum Muslimin bersepakat, bahwa Allah tinggi, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.” [24]

9) Al-Imam adz-Dzahabi berkata: “Ucapan para salaf dan imam-imam Sunnah bahkan para sahabat, Allah, Nabi, dan seluruh kaum Mukmin, bahwasanya Allah di atas langit dan di atas ‘Arsy, dan bahwa Allah turun ke langit dunia. Hujjah-hujjah mereka adalah hadis-hadis dan atsar-atsar yang banyak.” [25]

  1. Dalil Akal

Setiap akal manusia yang masih sehat tentu akan mengakui ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Hal tersebut dapat ditinjau dari dua segi:

Pertama: Ketinggian Allah merupakan sifat yang mulia bagi Allah.

Kedua: Kebalikan tinggi adalah rendah, sedang rendah merupakan sifat yang kurang bagi Allah. Maha Suci Allah dari sifat-sifat yang rendah.

  1. Dalil Fitrah

Sesungguhnya Allah telah memfitrahkan kepada seluruh makhluk-Nya, baik Arab maupun non-Arab, dengan ketinggian Allah. Marilah kita berfikir bersama di saat kita memanjatkan doa kepada Allah, ke manakah hati kita berjalan? Ke bawah atau ke atas? Manusia yang belum rusak fitrahnya tentu akan menjawab “Ke atas”.

Pernah dikisahkan bahwa suatu hari, al-Imam Abdul Malik al-Juwaini mengatakan dalam majlisnya: “Allah tidak di mana-mana, sekarang Dia berada di mana pun Dia berada.” Lantas bangkitlah seorang yang bernama Abu Ja’far al-Hamdani seraya berkata: “Wahai Ustadz, kabarkanlah kepada kami tentang ketinggian Allah yang sudah mengakar di hati kami. Bagaimana kami menghilangkannya?” Abdul Malik al-Juwaini berteriak dan menampar kepalanya seraya mengatakan: “Al-Hamdani telah membuat diriku bingung, al-Hamdani telah membuat diriku bingung.” [26]

Akhirnya, al-Imam al-Juwaini pun mendapat hidayah Allah, dan kembali ke jalan yang benar. Semoga saudara-saudara kita yang tersesat bisa mengikuti jejak beliau.

Sebenarnya masih sangat banyak lagi dalil dalam masalah ini, yang semuanya telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperti al-Imam adz-Dzahabi dalam bukunya, al-’Uluw lil Aliyyil Azhim.

Semoga Allah merahmati al-Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan – setelah menyebutkan 18 segi dalil -: “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil [27]. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Akan tetapi, sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.” [28]

Adapun paham Dr. Quraish Shihab, bahwa Allah di mana-mana, yang juga banyak dianut oleh sebagian kaum Muslimin sekarang ini, tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Paham ini dicetuskan oleh kaum Jahmiyyah, Hululiyyah, dan Mu’tazilah [29].

Konsekuensi paham sesat “Allah di mana-mana” ini sangatlah batil, yaitu Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk. Sebagaimana diceritakan dari Bisyr al-Marisi [30 ]tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala sesuatu.” Lalu ditanyakan kepadanya: “Apakah Allah berada di kopiahmu itu?!” Jawabnya: “Ya.” Ditanyakan lagi kepadanya: “Apakah Allah ada dalam keledai?!” Jawabnya: “Ya.”(!!!)

Perkataan ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah, sebagian ulama salaf mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrani, tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!”

Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata:

وَزَعَمَتِالْمُعْتَزِلَةُوَالْحَرُوْرِيَّةُوَالْجَهْمِيَّةُأَنَّاللهَعَزَّوَجَلَّفِيْكُلِّمَكَانٍ،فَلَزِمَهُمْأَنَّهُفِيْبَطْنِمَرْيَمَوَفِيْالْحُشُوْشِوَالأَخْلِيَةِ،وَهٰذَاخِلَافُالدِّيْنِ،تَعَالَىاللهُعَنْقَوْلِهِمْ.

“Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah, dan Jahmiyyah beranggapan, bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka, bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah, dan WC. Paham ini MENYELISIHI agama. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.”[31]

  1. Pemikiran Syi’ah

Bagi seorang yang mencermati beberapa buku karya Dr. Quraish Shihab, maka sangatlah nyata pembelaannya terhadap kaum Syi’ah, ikut andil menyelundupkan racun-racun paham Syi’ah, dan usahanya dalam melakukan kompromi pendekatan Sunni dan Syi’ah, sekalipun dia mengaku keberatan jika disebut sebagai penganut paham Syi’ah.

Hal ini sangat tampak, terutama dalam bukunya yang berjudul “Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” [32] dan kata pengantarnya terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah [33 ]. Dua buku tersebut sarat dengan pemikiran-pemikiran Syi’ah, penuh dengan kerancuan, seperti celaan kepada para sahabat Nabi, terutama Umar Radhiallahu’anhu dan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, menyatakan Abdullah ibn Saba’ adalah tokoh fiktif, dan ajakan agar kaum Sunni bergandeng tangan dengan kaum Syi’ah, seperti dalam kesimpulan akhir kitabnya yang pertama. Ada dua hal yang ingin kami tanggapi di sini:

  1. Celaan kepada Sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu

Di antara ucapan Dr. Quraish Shihab yang mencela sahabat Abu Hurairah:

Karena itu, harus diakui, bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya, dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan suatu keharusan. Di samping itu semua, harus diakui juga, bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah menyangkut Nabi, berada di bawah kemampuan sahabat besar Nabi SAW seperti istri Nabi Aisyah [34].

Jawaban:

Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat Nabi ﷺ sekaliber Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dengan menggunakan pendekatan apa pun tidak akan bisa meruntuhkan reputasi dan keagungan kedudukan beliau. Dan sangat mengherankan, adalah ketika Quraish Shihab menjadikan serangan-serangannya terhadap Sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dengan bersenjatakan kitab Adhwa’ ’ala Sunnah Nabawiyyah karya Abu Rayyah [35]. Padahal, para penuntut ilmu hadis sangat mengenal siapa Abu Rayyah dan bagaimana isi kitabnya tersebut [36].

Barang siapa yang mencela sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, maka sesungguhnya dia ingin merusak akidah Islamiyyah. Karena tujuan utama dari celaan mereka, bukanlah hanya pribadi Abu Hurairah Radhiallahu’anhu saja, namun lebih dari itu, mereka ingin merusak agama Islam. Sebab, apabila Abu Hurairah Radhiallahu’anhu telah berhasil dicerca, maka ribuan hadis -yang merupakan sumber hukum agama- tentang Islam akan termentahkan [37]. Semoga Allah merahmati imam Abu Zur’ah yang telah mengatakan:

إِذَارَأَيْتَالرَّجُلَيَنْتَقِصُأَحَدًامِنْأَصْحَابِرَسُوْلِاللهِفَاعْلَمْأَنَّهُزِنْدِيْقٌ, وَذَلِكَأَنَّالرَّسُوْلَعِنْدَنَاحَقٌّوَالْقُرْآنَحَقٌّ, وَإِنَّمَاأَدَّىإِلَيْنَاهَذَاالْقُرْآنَوَالسُّنَنَأَصْحَابُرَسُوْلِاللهِ, وَإِنَّمَايُرِيْدُوْنَأَنْيَجْرَحُوْاشُهُوْدَنَالِيُبْطِلُوْاالْكِتَابَوَالسُّنَّةَ, وَالْجَرْحُبِهِمْأَوْلَىوَهُمْزَنَادِقَةٌ.

“Apabila engkau mendapati orang yang mencela salah satu sahabat Nabi ﷺ, maka ketahuilah, bahwa dia adalah seorang Zindiq (Munafik). Hal itu karena Rasulullah ﷺ adalah benar dan Alquran juga benar menurut (prinsip) kita. Dan orang yang menyampaikan Alquran dan as-Sunnah adalah para sahabat Nabi ﷺ. Dan para pencela para saksi kita (sahabat) hanyalah bertujuan untuk menghancurkan Alquran dan as-Sunnah. Mencela mereka lebih pantas. Mereka adalah orang-orang Zindiq.” [38]

Al-Imam al-Hakim menukil perkataan al-Imam Ibnu Khuzaimah: “Sesungguhnya orang yang mencela Abu Hurairah Radhiallahu’anhu guna menolak hadisnya, tidak lain kecuali orang yang DIBUTAKAN hatinya oleh Allah, sehingga mereka tidak memahami hadis-hadis Nabi ﷺ. Orang kelompok Jahmiyyah menolak riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu yang bertentangan dengan paham kekufuran mereka, dengan mencela dan menuduhnya secara dusta dan bohong, untuk menipu orang-orang awam yang bodoh. Orang kelompok Khawarij yang menghalalkan darah kaum Muslimin dan tidak taat terhadap khalifah/imam tatkala mendengarkan riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Nabi ﷺ yang tidak sesuai dengan paham sesatnya, tiada cara lain untuk menghujatnya, kecuali dengan senjata pamungkasnya, mencela Abu Hurairah Radhiallahu’anhu … Demikian pula orang jahil yang sok pintar fikih, tatkala mendengar hadis Abu Hurairah Radhiallahu’anhu yang bertentangan dengan madzhab yang dianutnya dengan taklid buta/membeo, dia mencela pribadi Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dan mementahkan hadisnya yang tidak sesuai dengan madzhabnya, dan memakai hadisnya yang sesuai dengan madzhabnya. Sebagian golongan telah mengingkari hadis-hadis riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu yang tidak mereka pahami maksudnya…” [39]

  1. Usaha Penyatuan Sunni dan Syi’ah

Dr. Quraish Shihab ini berusaha untuk menyatukan antara Syi’ah dan Sunnah, sebagaimana maksud dan kesimpulan bukunya tersebut.

Jawaban:

Ini adalah suatu hal yang sangat aneh. Mungkinkah kaum Muslimin (Ahli Sunnah) akan bersatu dengan suatu kaum (Syi’ah), yang menjadikan celaan serta pengafiran kepada para istri Nabi ﷺ dan para sahabat, sebagai agama?!! Landasan agama mereka BERBEDA dengan landasan agama Islam yang mulia. Bagaimana kaum Muslimin akan bersatu dengan suatu kaum yang menolak Ijma’ dan menyengaja untuk menyelisihi Ijma’ ulama kaum Muslimin?! Bagaimana akan bersatu, sedangkan tokoh Syi’ah sendiri enggan dengan persatuan ini?!! [40]

Simaklah ucapan seorang tokoh mereka, Ni’matullah al-Jazairi, yang mengatakan: “Kita TIDAK AKAN BERSATU dengan mereka (Ahli Sunnah) dalam satu Tuhan, nabi, atau imam. Hal itu karena mereka mengatakan: “Sesungguhnya Rabb mereka adalah yang Muhammad Nabi-Nya dan khalifah setelahnya adalah Abu Bakar. Sedangkan kami tidak sependapat dalam Rabb dan Nabi mereka. Bahkan kami mengatakan: Sesungguhnya Rabb yang khalifah Nabinya adalah Abu Bakar maka bukanlah Rabb kita dan Nabinya bukan Nabi kita.” [41]

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Saya adalah seorang yang sangat bersemangat untuk menyatukan antara Sunnah dan Syi’ah. Saya telah berusaha semaksimal mungkin selama tiga decade, dan saya tidak mengetahui seorang Muslim pun yang lebih semangat daripada saya untuk persatuan tersebut. Lalu tampak jelaslah bagi saya, dengan pengalaman yang lama, bahwa mayoritas ulama Syi’ah sangat enggan dengan persatuan ini, sebab hal itu sangat berlawanan dengan manfaat pribadi mereka berupa harta dan kedudukan. Saya telah berdialog tentang hal ini dengan banyak orang di Mesir, Suriah, India, dan Iraq. Dari pengalaman tersebut saya menarik kesimpulan, bahwa SYI’AH SANGAT MEMUSUHI AHLI SUNNAH!!! Mereka bersemangat untuk menyebarkan kitab-kitab untuk mencela Sunnah, para Khalifah Rasyidin yang menaklukkan negeri dan menyebarkan Islam di penjuru dunia, dan mencela para pembela Sunnah dan imamnya, serta orang-orang Arab secara umum.” [42]

  1. Pemikiran Wahdatul Wujud

Dr. Quraish Shihab juga berkata:

Ulama asal Iran itu (Husain Thoba’thobai) lebih jauh menggarisbawahi, bahwa penyifatan Allah sebagai Nur mengisyaratkan, bahwa Dia adalah wujud yang paling nyata. Tidak ada sesuatu pun yang tidak mengenal-Nya, karena semua yang wujud dan nampak adalah limpahan dari penampakan-Nya [43]

Jawaban:

Demikianlah Dr. Quraish Shihab menukil ucapan tokoh Syi’ah dari Iran tersebut tanpa memberikan sanggahan, bahkan menyetujuinya. Padahal ini adalah PEMAHAMAN TASAWUF YANG SESAT DAN MENYESATKAN yaitu akidah Wahdatul Wujud, yang biasanya diistilahkan dengan Manunggaling Kawula lan Gusti, yaitu bersatunya Tuhan dengan hamba. Sungguh, ini adalah sebuah akidah yang BERTENTANGAN seratus persen dengan pokok-pokok ajaran Islam, bahkan menghancurkan persendiannya, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, dan sebagainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Bangkit membantah mereka (Ahli Wahdatul Wujud) merupakan kewajiban yang sangat utama, sebab mereka adalah PERUSAK AKAL DAN AGAMA MANUSIA. Mereka membuat kerusakan di muka bumi, dan menghalangi dari jalan Allah. Bahaya mereka terhadap agama melebihi bahaya para penjajah dunia, seperti perampok dan pasukan Tatar, yang hanya merampas harta tanpa merusak agama.” [44].

Di antara pengibar bendera paham sesat ini adalah beberapa tokoh zaman dahulu seperti Ibnu Arabi [45], al-Hallaj, Ibnu Faridh, Ibnu Sab’in, dan sebagainya. Adapun pengibar benderanya di Indonesia, di Jawa: Syaikh Siti Jenar, di Sumatra: Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, di Sulawesi dan Kalimantan: Yusuf al-Maqossari dan Muhammad Nafis al-Banjari. Akhir-akhir ini ada yang berusaha membungkus pemahaman sesat ini dengan baju sains, yaitu Agus Musthofa, dalam bukunya “Bersatu dengan Allah” [46].

Sesungguhnya akidah KUFUR [47] dan SESAT ini sangat RUSAK, dan memiliki dampak negatif yang banyak dalam berbagai sector, baik masalah tauhid, akhlak, ibadah, dan sebagainya [48].

Salah satu kerusakan paham sesat ini adalah munculnya paham, bahwa seorang, apabila telah sampai pada tingkatan tertentu, maka gugurlah hukum taklif baginya [49], karena dia merasa telah bersatu dengan Allah [50]. Paham Tasawuf ini SANGAT BERTENTANGAN dengan Islam. Allah berfirman (yang artinya):

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat”” dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (QS Maryam [19]: 31)

Dalam ayat yang mulia ini terdapat bantahan yang sangat jelas terhadap paham ahli khurafat yang menggugurkan taklif, apabila telah sampai pada tingkatan tertentu. Karena Nabi Isa ‘Alaihissalam menggantungkan kewajiban ibadah dengan selama hidupnya [51].

Paham ini juga BERTENTANGAN dengan firman Allah:

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS al-Hijr [15]: 99)

Makna “Al-yaqin” dalam ayat ini adalah KEMATIAN dengan kesepakatan para ulama. Barang siapa yang menafsirkan dengan tingkatan tertentu, sebagaimana dalam istilah kaum Sufi, maka dia telah melakukan KEDUSTAAN yang amat besar, dan memermainkan ayat Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Penafsiran ini SALAH dengan kesepakatan kaum Muslimin, ahli tafsir, dan lainnya, karena semua kaum Muslimin bersepakat tentang wajibnya ibadah seperti shalat lima waktu, sekalipun seorang telah mencapai tingkatan yang tinggi.” [52]

Al-Qadhi Iyadh berkata: “Kaum Muslimin bersepakat tentang kafirnya seorang yang mendustakan atau mengingkari suatu syariat yang diketahui secara Mutawatir dari Nabi ﷺ dan disepakati oleh para ulama, seperti ucapan sebagian kaum Sufi, bahwa seorang yang lama beribadah dan jernih hatinya, akan bisa gugur dari kewajiban dan boleh melakukan keharaman.” [53]

Alangkah bagusnya nasihat al-Imam al-Ajurri tatkala mengatakan: “Sesungguhnya aku memeringatkan saudara-saudaraku kaum Mukminin untuk berhati-hati dari pemahaman Hululiyyah (Allah menyatu dengan makhluk-Nya). Setan telah memermainkan penganut pemahaman ini, sehingga dengan pemahaman yang jelek ini mereka menyimpang keluar dari rel para ulama, menuju kepada pemahaman-pemahaman yang keji, yang TIDAK dianut, kecuali oleh orang yang terfitnah dan binasa … Perkataan mereka TIDAK SESUAI dengan Alquran, as-Sunnah, perkataan para sahabat, maupun perkataan para imam kaum Muslimin.” [54]

  1. Pemikiran Liberal

Dr. Quraish Shihab sangat nyata memiliki pemikiran sesat liberal [55] yang telah difatwakan kesesatannya oleh MUI dalam MUNAS 19–22 Jumadil Akhir 1426 H [56]. Banyak sekali bukti ucapannya yang menunjukkan hal itu, di antaranya:

  1. Ahli Kitab Bukan Kaum Kafir

Dr. Quraish Shihab mengatakan:

Tentang hukuman kafir bagi penganut ajaran Trinitas dan hukuman haram bagi wanita Muslim yang kawin dengan pria kafir, merupakan hal-hal yang perlu disajikan kepada anak didik. Hanya saja, penyajian tersebut hendaknya dikaitkan dengan penjelasan, bahwa penganut ajaran Trinitas tidak disebut kafir oleh Alquran, melainkan disebut Ahli Kitab [57].

Jawaban:

Pemikiran ini adalah pemikiran yang SESAT dan MENYIMPANG, karena Ahli Kitab alias Yahudi dan Nasrani adalah kaum KAFIR, dengan KETEGASAN Alquran, hadis, dan Ijma’ kaum Muslimin. Berbeda dengan celotehan para pengusung Liberalisme. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk [58]

عَنْأَبِيهُرَيْرَةَa عَنْرَسُولِاللهِn أَنَّهُقَالَ: « وَالَّذِينَفْسُمُحَمَّدٍبِيَدِهِ،لَايَسْمَعُبِيأَحَدٌمِنْهٰذِهِالْأُمَّةِيَهُودِيٌّوَلَانَصْرَانِيٌّ،ثُمَّيَمُوتُوَلَمْيُؤْمِنْبِالَّذِيأُرْسِلْتُبِهِ،إِلَّاكَانَمِنْأَصْحَابِالنَّارِ ».

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang  pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentangku kemudian dia meninggal dan tidak beriman kepada ajaranku, kecuali dia termasuk Ahli Neraka.”[59]

Al-Imam asy-Syathibi berkata: “Kami melihat dan mendengar, bahwa kebanyakan Yahudi dan Nasrani mengetahui tentang agama Islam, dan banyak mengetahui banyak hal tentang seluk-beluknya, tetapi semua itu TIDAK bermanfaat bagi mereka, selagi mereka tetap di atas KEKUFURAN [60] dengan kesepakatan ahli Islam.” [61]

  1. Selamat Natal

Dr. Quraish Shihab membuat sebuah judul “Selamat Natal Menurut Alquran”, setelah membawakan surat Maryam ayat 23–30, dia berkata:

Itu cuplikan kisah Natal dari Alquran. Dengan demikian, Alquran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama, dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa Al-Masih [62]

Lalu dia juga mengatakan:

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan (ucapan Selamat Natal) itu, bila ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif dan bijaksana, dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntutan keharmonisan hubungan [63].

Jawaban:

Ucapan ini KELIRU DAN MENYIMPANG, karena umat Nasrani telah menjadikan hari Natal telah sebagai hari besar mereka, dan syiar agama mereka. Apa itu hari Natal?! Natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa al-Masih ‘Alaihissalam), yang dalam pandangan umat Kristen saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak, sedang mereka meyakini ajaran Trinitas.

Apa sih yang sedang mereka rayakan? Apa yang sedang mereka gembirakan?? Tentunya semua kaum Nasrani—dari Sabang sampai Merauke—sepakat, bahwa mereka sedang merayakan hari kelahiran Tuhan dan sembahan mereka. Mereka TIDAK sedang merayakan kelahiran Yesus sebagai seorang nabi, tetapi merayakan kelahiran Yesus sebagai “Tuhan” atau “anak Tuhan”.

Setelah kita tahu, bahwa perayaan Natal adalah mengandung AKIDAH KUFUR yang menuhankan Isa al-Masih, maka pantaskah seorang Muslim mengucapkan selamat atas perayaan tersebut? Jawabnya: Tentu TIDAK BOLEH. Coba kita renungkan dengan akal sehat…, tatkala seorang Muslim mengucapkan selamat kepada mereka, apakah yang dipahami oleh mereka? Apakah mereka memahami seorang Muslim sedang menyatakan: “Selamat atas kelahiran Yesus sebagai seorang nabi”? Tentunya sama sekali tidak (!!!). Karena jika mereka memahami demikian, tentunya mereka akan mengamuk dan merasa dihina oleh seorang Muslim …

Karena itu, mengucapkan selamat Natal menimbulkan kelaziman-kelaziman yang SANGAT BURUK … ((Selamat hari Natal = Selamat hari lahirnya “Tuhan” kalian = Selamat menyembah salib = Selamat kalau Allah punya anak = Selamat bertrinitas = Selamat memusuhi agama tauhid (Islam) = Selamat bahagia dengan bangkitnya kaum Salibis yang senantiasa mengharapkan hancurnya Islam)).

Ucapan selamat Natal LEBIH PARAH daripada ucapan “Selamat berzina…”, “Selamat mabuk…”, “Selamat mencuri…”, “Selamat membunuh…”, “Selamat korupsi…”, karena DOSA TERBESAR ADALAH DOSA KESYIRIKAN…

Akan tetapi, masih banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya…!!!!

Hal ini, ternyata telah jauh-jauh hari yang lampau DIPERINGATKAN oleh para ulama. Ibnul Qayyim Rahimahullahuta’ala menegaskan: “Adapun ucapan selamat dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus, maka hukumnya adalah HARAM dengan kesepakatan ulama, seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran, maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi selamat atas sujud mereka terhadap salib. Bahkan hal itu lebih parah dosanya dan lebih dahsyat kemurkaannya di sisi Allah, dengan ucapan selamat atas minum khamr, membunuh, berzina, dan sebagainya. Sungguh, banyak orang yang TIDAK memiliki agama dalam hatinya terjatuh dalam hal tersebut, dan TIDAK mengetahui kejinya perbuatannya tersebut.” [64]

Tidak diragukan bagi orang yang berakal/waras, bahwasanya jika seseorang berkata kepada orang lain “Selamat berzina” sambil mengirimkan kartu ucapan selamat, disertai senyuman tatkala mengucapkannya, maka tidak diragukan lagi bahwasanya ini menunjukkan ia ridha dengan “Zina” tersebut. Dan itulah yang dipahami oleh sang pelaku zina [65].

Lantas jika ada orang yang mengucapkan “Selamat hari Natal”, bukankah ini menunjukkan ia ridha dengan acara kesyirikan dan kekufuran tersebut?? Ucapan selamat seperti ini TIDAK diragukan lagi secara zhahir menunjukkan keridhaan!!!

Dari sinilah kenapa para ulama MENGHARAMKAN ucapan “Selamat Natal”, meskipun pelakunya tidak bermaksud ridha dengan kekufuran dan kesyirikan. Bahkan ini merupakan kesepakatan ulama, sebagaimana nukilan Ibnul Qayyim di atas dan ini merupakan Fatwa ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin.

  1. Kitab-Kitab Akidah Ulama Tidak Relevan Pada Zaman Sekarang

Dr. Quraish Shihab mengatakan:

Secara umum, para ahli keislaman mengakui, bahwa materi-materi yang ditemukan di dalam berbagai kitab akidah (Teologi) tidak sepenuhnya lagi relevan dengan kondisi masa kini. Materi-materi tersebut diambil dari generasi demi generasi. Sedangkan penulisannya pertama kali dipengaruhi oleh situasi sosial politik ketika itu [66].

Jawaban:

Ini adalah ucapan yang penuh dengan KESESATAN dan PENYIMPANGan, bertujuan untuk memalingkan umat Islam dari kitab-kitab akidah salaf yang berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, serta ingin menggantinya dengan kitab-kitab akidah yang berisi filsafat dan ilmu kalam.

Sungguh ini adalah celaan kepada kitab-kitab ulama terdahulu, dan tidak menghargai jasa dan jerih payah mereka. Maka WASPADALAH dari pemikiran-pemikiran sesat seperti ini [67]

 

Disusun oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

 

Catatan Kaki

[1] Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah al-Baghdadi hlm. 63 , al-Abathil wal Manakir al-Jauzaqani 1/133, al-Maudhu’at Ibnul Jauzi 1/43, Syarh ’Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab hlm. 88.

[2] Bayanu Fadhlu Ilmi Salaf ’ala Ilmi Khalaf hlm. 38–40. Dan lihat penjelasan secara bagus tentang hakikat ulama, ciri-ciri mereka, perbedaan antara ulama asli dan palsu, serta etika terhadap ulama dalam kitab Qawa’id fi Ta’amul Ma’al Ulama karya Abdurrahman ibn Mu’alla al-Luwaihiq.

[3] Dia Di Mana-Mana hlm. ix, karya Dr. Muh. Quraish Shihab, Penerbit Lentera Hati, Ciputat, Tangerang, Cet. Kelima, Mei 2007 M/Jumadil Awwal 1428 H.

[4] Seperti al-Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Itsbat Shifat al-Uluw, al-Imam adz-Dzahabi dalam al-Uluw lil Aliyyil Azhim, al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Ijtima’ Juyusy al-Islamiyyah, asy-Syaikh Usamah al-Qashashas dalam Itsbat Uluwwillahi ’ala Khaliqihi war Raddu ’ala al-Mukhalifin, asy-Syaikh Humud ibn Abdillah at-Tuwaijiri dalam Itsbat Uluwwillahi wa Mubayanatihi li Khalqihi, asy-Syaikh Dr. Musa ibn Sulaiman ad-Duwaisy dalam Uluwwullahi ’ala Khaliqihi. Semua kitab ini secara khusus membahas ketinggian Allah di atas langit dan bantahan terhadap paham Jahmiyyah yang mengatakan Allah di mana-mana.

[5] Kami telah membahas masalah penting ini secara khusus dalam risalah kami Di Mana Allah? Pertanyaan Penting yang Terabaikan terbitan Media Tarbiyah, Bogor. Bagi pembaca yang ingin penjelasan lebih luas, silakan membaca buku tersebut.

[6] Majmu’ Fatawa 1/121, Bayanu Talbis Jahmiyyah 1/555.

[7] Sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam adz-Dzahabi dalam Shifat Rabbil ’Alamin 1/175/2 dan Kitabul Arsy 2/21, Ibnu Qudamah dalam Itsbat Shifat Uluw hlm. 12, dan al-Albani dalam Mukhtashar al-Uluw hlm. 50.

[8] HR Muslim dalam Shahih-nya: 537, al-Bukhari dalam Juz al-Qira’ah: 70, asy-Syafi’i dalam ar-Risalah: 242, Malik dalam al-Muwaththa’ 2/77, Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad-nya 5/447, dan lain-lain banyak sekali.

[9] Al-’Uluw lil ’Aliyyil Azhim hlm. 81 (Mukhtasar al-Albani)

[10] Di antaranya adalah Imam al-Ashfahani dalam al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah (1/538), al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah hlm. 29, al-Allamah as-Safarini berkata dalam Lawami’ al-Anwar (1/191), al-Muhaddits al-Albani dalam Mukhtashar al-Uluw hlm. 90 dan ash-Shahihah (1/616/2), as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah, as-Sakhawi dalam Fathul Mughits sebagaimana dinukil dan disetujui oleh al-Kattani dalam Nazhmul Mutanatsir hlm. 219–22.

[11] Syarh Akidah ath-Thahawiyyah 1/277

[12] HR al-Bukhari: 1145 dan Muslim: 758

[13] At-Tamhid 3/338

[14] HR Muslim: 1218

[15] Lihat Al-Masaail, oleh Ustadzuna al-Fadhil Abdul Hakim bin Amir Abdat 1/124, terbitan Darul Qolam.

[16] Kami banyak mengambil manfaat nukilan-nukilan ini dari kitab Ahadisul Akidah Allati Yuhimu Zhahiruha Ta’arudh hlm. 531–542 oleh Dr. Sulaiman ibn Muhammad ad-Dubaihi.

[17] Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Asma’ wa Shifat: 408, adz-Dzahabi dalam al-’Uluw hlm. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyyah sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa 5/39 dan lbnul Qayyim dalam Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 131.

[18] Diriwayatkan ash-Shabuni dalam Akidah Salaf Ashhabul Hadis hlm. 28.

[19] Dar’u Ta’arudh Naql wal Aql Ibnu Taimiyyah 6/260

[20] Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah al-Lalikai 1/198

[21] Naqdhu Abi Sa’id ala Mirisi al-Jahmi al-Anid 1/228

[22] Dar’u Ta’arudh 6/250, Ijtima’ Juyusy hlm. 142, al-’Uluw: 246.

[23] Akidah Salaf Ashhabul Hadis hlm. 176

[24] Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 182

[25] Al-’Uluw hlm. 143

[26] Lihat kisah lengkapnya dalam Siyar A’lam Nubala’ 18/475, al-’Uluw hlm. 276–277 oleh adz-Dzahabi.

[27] Sebagian pembesar sahabat asy-Syafi’i berkata: “Dalam Alquran terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas para hamba-Nya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 5/121)

[28] Syarh Akidah Thahawiyyah hlm. 386

[29] Lihat Naqdhu Ta’sis Ibnu Taimiyyah 1/7.

[30] Demikian harakatnya yang benar, dengan memfathah mim, mengkasrah ra’ dan menyukun ya’. (Wafayatul A’yan Ibnu Khallikan 1/278).

[31I] dem hlm. 26.

[32] Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati, Ciputat, Tangerang, cetakan pertama Maret 2007 M/Rabi’ul Awal 1428 H. Buku ini telah dibantah secara tuntas dalam buku Mungkinkah Sunnah-Syi’ah Dalam Ukhuwah? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab “Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri. Diterbitkan oleh Pustaka Sidogiri, Pasuruan, tahun 2012, dan di buku bantahan ini dijadikan referensi oleh MUI dalam buku “Mengenal dan Mewaspadai Syiah Di Indonesia” hlm. 85–87.

[33] Buku ini ditulis oleh Tim Ahlul Bait Indonesia. Diberi pengantar oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab. Buku ini sarat dengan propaganda pemikiran-pemikiran Syi’ah dan melontarkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang sangat berbahaya bagi umat Islam. Lihat beberapa kritikan terhadap buku ini dalam tulisan Ustadzuna Arif Fathul Ulum, Lc. dalam Majalah Al Furqon Edisi 147/Tahun 13 dengan judul “Noda-Noda Hitam Buku Putih Madzhab Syiah”.

[34] Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? hlm. 160

[35] Idem hlm. 322–323

[36] Mahmud Abu Rayyah adalah seorang yang sangat benci terhadap Sunnah dan para pembelanya dari kalangan para sahabat, terutama Sahabat mulia Abu Hurairah Radhiallahu’anhu yang banyak meriwayatkan hadis. Di antara buku hasil goresan tangannya yang keji adalah Adhwa’ Islamiyyah ’ala Sunnah Muhammadiyyah yang memuat pendapat para tokoh Mu’tazilah, Syi’ah, dan orientalis sehingga buku ini sangat menyenangkan musuh-musuh Islam. Oleh karena itu, para ulama bangkit membantah kitab sesat tersebut seperti asy-Syaikh Abdurrazzaq Hamzah dalam bukunya Zhulumat Abu Rayyah dan asy-Syaikh Abdurrahman ibn Yahya al-Mu’allimi dalam bukunya al-Anwar al-Kasyifah… (lihat as-Sunnah wa Makanatuha asy-Syaikh Musthafa as-Siba’i hlm. 467 dan Zawabi’ fi Wajhi Sunnah Maqbul Ahmad hlm. 81–85). Telah banyak para ulama yang membantahnya dan membongkar kegelapan kitabnya tersebut, seperti asy-Syaikh Muhammad Abdurrazzaq Afifi dalam kitabnya Zhulumat Abi Rayyah dan al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibn Yahya al-Mu’allimi dalam al-Anwar al-Kasyifah yang mengatakan dalam muqaddimahnya: “Tatkala saya mencermati isi buku ini, ternyata telah tersusun rapi untuk menghujat dan mencela hadis Nabi.”

[37] Al-Imam Ibnu Hazm menegaskan dalam Jawami’ Sirah: 275 bahwa Abu Hurairah Radhiallahu’anhu meriwayatkan sebanyak 5.374 hadis. Demikian juga Ibnul Jauzi dalam Talqih Fuhum Ahli Atsar: 183 dan adz-Dzahabi dalam Siyar 2/632. Dr. Muhammad Dhiya’ Rahman al-A’zhami telah mengumpulkan riwayat-riwayat Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad dan Kutub Sittah, beliau dapat mencapai 13.336 hadis saja. Lihat Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyyatihi hlm. 76. (Dinukil dari Syarh Bulughul Maram al-Audah 1/275)

[38] Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah hlm. 48 oleh al-Khathib al-Baghdadi

[39] Al-Mustadrak ’ala ash-Shahihahin 3/513

[40] Lihat Masalah Taqrib Baina Ahli Sunnah wa Syi’ah 1/375–390 oleh Dr. Nashir al-Qifari dan Baina Syi’ah wa Ahli Sunnah hlm. 16–17 karya asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

[41] Al-Anwar Nu’maniyyah 2/278–279 karya Ni’matullah al-Jazairi

[42] Majalah al-Manar 31/290, dinukil dari Khud’atu Taqrib Baina Sunnah wa Syi’ah Asyraf ibn Abdul Maqshud hlm. 39–40.

[43] Dia Di Mana-Mana hlm. 58 karya Dr. Muh. Quraish Shihab, Penerbit Lentera Hati, Ciputat, Tangerang, Cet. Kelima, Mei 2007 M/Jumadil Awwal 1428 H.

[44] Majmu’ Fatawa 2/132

[45] Dia adalah seorang dedengkot Sufi, pengibar bendera Wahdatul Wujud (wafat 638 H). Dia memunyai berbagai pemikiran kufur. Oleh karena itu, para ulama menganggapnya sesat bahkan tak sedikit yang mengkafirkannya. Asy-Syaikh Burhanuddin al-Biqa’i (885 H) menulis sebuah kitab berjudul Tanbih al-Ghabiyyi ’ala Takfir Ibni Arabi sebanyak 241 halaman. Dalam kitab tersebut, beliau menukil ±50 ulama yang mengkafirkan atau minimal menganggapnya sesat; di antaranya: al-Izz ibn Abdussalam, Ibnu Daqiq al-’Id, Ibnu Shalah, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Bulqini, al-Iraqi, Abu Zur’ah al-Iraqi, al-’Aini, adz-Dzahabi, Badruddin ibn Jama’ah, al-Jazari, Ibnu Hisyam, as-Subki, Abu Hayyan, dan lainnya. (Lihat pula Juz Akidah Ibni Arabi wa Hayatihi oleh Taqiyuddin al-Faasi, Mashra’ Tashawwuf hlm. 138–168 oleh Burhanuddin al-Biqa’i dan ar-Radd ’ala ar-Rifa’i wa al-Buthi hlm. 111–113 oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.)

[46] Lihat Misteri Syekh Siti Jenar karya Prof. Dr. Hasanu Simon hlm. 386, Syekh Yusuf Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang karya Abu Hamid hlm. 180, Ensiklopedi Islam Indonesia hlm. 676–678. (Dinukil dari buku 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah hlm. 91–92, al-Ustadz Abdullah Zaen)

[47] Al-Qadhi Iyadh menukil Ijma’ (kesepakatan ulama) tentang kafirnya orang yang mengaku bersatu dengan Allah seperti ucapan kaum Sufi, Bathiniyyah, Nasrani, dan Qaramithah. (Lihat asy-Syifa’ 2/1067.)

[48] Lihat secara luas masalah ini dalam kitab yang bagus yang khusus mengupas akidah sesat ini yaitu kitab Akidah Shufiyyah, Wihdatul Wujud al-Khafiyyah oleh Dr. Ahmad ibn Abdul Aziz al-Qushayyir, terbitan Maktabah ar-Rusyd.

[49] Lihat bantahan secara detail terhadap paham ini dalam kitab ar-Raddul Munif ’ala Da’wa Raf’i Taklif karya Dr. Muhammad ibn Ahmad al-Juwair.

[50] Alangkah bagusnya apa yang diceritakan bahwa Abu Rudhabari pernah ditanya tentang seorang yang mendengar nyanyian dengan alasan “Nyanyian halal bagiku, karena saya telah sampai kepada derajat yang tidak mungkin ada perubahan”? Beliau menjawab dengan enteng: “Benar, dia telah sampai, tetapi ke Neraka Saqar!!” (al-Hilyah 10/356 dan Siyar 14/536)

[51] Min Kulli Suratin Fa’idah hlm. 146, Abdul Malik ibn Ahmad Ramadhani.

[52] Dar’u Ta’arudhil Aqli wa Naqli 3/270. Lihat pula Madarijus Salikin 3/316 oleh Ibnul Qayyim dan Adhwa’ul Bayan 2/325 oleh asy-Syinqithi.

[53] Asy-Syifa’ 2/1074

[54] Asy-Syari’ah: 287–288

[55] Ada sebuah buku yang cukup bagus berjudul 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia karya Budi Handrianto, Hujjah Press, cet. 3, November 2007. Namun, sayangnya sang penulis belum mencantumkan Dr. Quraish Shihab sebagai tokoh liberal. Semoga ini menjadi bahan pertimbangan untuk memasukkannya dalam cetakan berikutnya, karena saya yakin bahwa bukunya tersebut bukan sebagai pembatasan, apalagi nama Dr. Quraish Shihab jauh lebih populer dari sebagian nama tokoh yang ada dalam daftar buku tersebut. Wallahu A’lam.

[56] Lihat Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 92–97, Edisi Ketiga, 2010.

[57] Membumikan Alquran, hlm. 290, penerbit Mizan Bandung, edisi baru cetakan pertama Juli 2007/Rajab 1428 H. Dan penerbit Mizan, Bandung, sangat populer sebagai penerbit buku-buku Syi’ah. Maka waspadalah. Lihat juga buku panduan MUI Pusat Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia hlm. 110, tentang daftar lembaga penerbit Syi’ah, disebutkan di antaranya adalah Mizan. Anehnya, saya pernah mendapati beberapa mahasiswa-mahasiswi yang mempelajari buku ini karena dijadikan sebagai kurikulum mata kuliah di Universitas Islam!!!

[58] QS al-Bayyinah [98]: 6

[59] HR Muslim: 153

[60] Asy-Syaikh Masyhur ibn Hasan berkomentar: “Seperti para orientalis dan para peneliti ilmu syariat dari orang-orang kafir. Dan hal ini sangat masyhur pada zaman sekarang.”

[61] Al-Muwafaqat 1/85, tahqiq asy-Syaikh Masyhur Hasan.

[62] Membumikan Alquran hlm. 579–580

[63] Idem hlm. 583

[64] Ahkam Ahli Dzimmah hlm. 202–203

[65] http://www.firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/363-dibalik-ucapan-selamat-hari-natal

[66] Membumikan Alquran hlm. 289

[67] Lihat al-Ajwibah al-Mufidah ’an As’ilah Manahij Jadidah hlm. 55–56 oleh Dr. Shalih ibn Fauzan al-Fauzan.

 

Sumber: http://abiubaidah.com/kritik-ilmiah-atas-pemikiran-dr-quraish-shihab-bagian-pertama.html/

 

 

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

Etika Indah terhadap Kitab Suci Alquran

Sering, tanpa disadari, kita telah melanggar larangan yang satu ini. Kadang karena terburu-terburu, atau karena ketidaktahuan kita, kita meletakkan pensil atau handphone yang tengah kita gunakan, di atas Mushaf. Perhatikan nasihat indah yang satu ini, agar kita terhindar dari melanggar ketentuan Allah ta’ala.

Imam Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:

” وَمِنْهَا : أَنْ لَا يُحْمَلَ عَلَى الْمُصْحَفِ كِتَابٌ آخَرُ ، وَلَا ثَوْبٌ ، وَلَا شَيْءٌ ؛ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُصْحَفَانِ ، فَيُوضَعَ أَحَدُهُمَا فَوْقَ الْآخَرِ : فَيَجُوزُ “

“Dan di antaranya (yakni etika-etika terhadap Alquran; -penj.), adalah:

Tidak meletakkan di atas Alquran, buku yang lainnya, atau kain/pakaian atau apapun, kecuali ada dua Mushaf yang diletakkan di atas yang lainnya”.

Artinya, kita tidak boleh meletakkan sesuatu apapun di atas Mushaf. Tidak boleh menaruh buku yang lainnya, atau peci, handphone, jam tangan, pensil dan lain-lain. Tidak boleh juga menaruh apapun di atas kitab-kitab agama Islam lainnya. Adalah dibolehkan bagi kita menumpuk satu Mushaf di atas Mushaf lainnya. Seandainya kita akan menumpuk Alquran dengan kitab-kitab Islam lainnya, maka letakkan Alquran di tumpukan paling atas.

Wallahu ta’ala a’lam.