Posts

, ,

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
 
Pertanyaan:
Berikut ini adalah hadis-hadis yang membolehkan dan melarang minum sambal berdiri:
 
Hadis yang Memperbolehkan:
1. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Saya pernah memberi minuman kepada Nabi ﷺ dari sumur Zamzam, kemudian beliau ﷺ meminumnya dengan berdiri.” [HR Bukhari dan Muslim]
2. Dari An Nazzal bin Sabrah ia berkata, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib masuk ke pintu gerbang masjid, kemudian minum sambil berdiri serta berkata: ”Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah berbuat sebagaimana apa yang kamu sekalian lihat saya perbuat ini (minum dengan berdiri).” [HR Bukhari]
 
Hadis yang Melarang:
1. Dari Anas bin Malik dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qotadah bertanya kepada Anas: “Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab: “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” [HR Muslim]
2. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu sekalian minum dengan berdiri. Barang siapa yang terlupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” [HR. Muslim]
 
Yang menjadi pertanyaan, apakah kita diperbolehkan minum sambil berdiri? Atau disunnahkan minum sambil berdiri khusus untuk air Zam-zam saja dan selainnya tidak?
 
Jawaban:
Jumhur (Mayoritas) Ulama berpendapat bolehnya minum sambil berdiri karena Nabi ﷺ melakukannya. Bahkan disebutkan dalam Al Muwaththa’, bahwa Umar, Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhum konon minum sambil berdiri. Demikian pula Aisyah dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) menganggap hal tersebut tidak mengapa. Adapun hadis-hadis yang melarang, maka maksudnya bukan haram namun makruh. Hal ini disimpulkan dengan menjama’ (menggabungkan) hadis-hadis yang zahirnya kontradiksi dalam masalah ini. Intinya, minum sambil berdiri hukumnya BOLEH, tapi lebih baik dilakukan sambil duduk. Pendapat ini dinyatakan oleh Al Khattabi, Al Baghawi, Al Qadhi ‘Iyadh, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar dll. [Lihat: Al Fajrus Saathi’ ‘alash Shahihil Jaami’ 8/22-23]
 
Adapun hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa, “Barang siapa lupa melakukannya, maka hendaklah ia memuntahkannya”, maka dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Umar bin Hamzah yang didha’ifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’ien dan An Nasa’i, dan hadis ini mengandung lafal yang munkar, yaitu perintah untuk memuntahkannya bagi yang lupa. Singkatnya, bagian awal hadis ini Shahih, namun bagian akhirnya tidak demikian (yaitu perintah untuk memuntahkan bagi yang lupa). [Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadis no 177, dan Silsilah Adh Dha’ifah hadis no 927]
 
Demikian pula halnya dengan makan sambil berdiri, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menukil dari Al Maaziri yang mengatakan, bahwa TIDAK ADA khilaf di kalangan ulama akan bolehnya makan sambil berdiri. Sedangkan yang lebih afdhal ialah makan sambil duduk.
 
Wallaahu ta’ala a’lam
 
Dijawab oleh: Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc, MA
@sufyanbaswedan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #bolehkah, #minumsambilberdiri, #makansambilberdiri, #bolehnya, #adabakhlak, #makanan, #minuman
,

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah disyariatkan untuk mencukur kumis dan memotong kuku mayit?

جـ: الأمر واسع ، ذكر هذا جماعة من أهل العلم ، أما الأخذ من العانة والإبط فلا ؛ للتكلفة

Jawaban:

“Perkaranya luas. Bolehnya mencukur kumis dan memotong kuku mayit ini disebutkan oleh sekumpulan ulama. Adapun mencukur bulu kemaluan dan ketiak, maka jangan! Lantaran ini bentuk memberat-beratkan.” [Masaa’il Imam Ibnu Baaz, I/111]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/303/mencukur-kumis-dan-kuku-mayit#sthash.YcBXjDFF.dpuf

,

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FaidahTafsir

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Larangan bagi kaum yang memiliki iman, laki-laki maupun perempuan, untuk melihat yang diharamkan, yaitu:

  • Aurat sesama jenis,
  • Lawan jenis yang bukan mahram,
  • Anak laki-laki yang “cantik”, haram bagi laki-laki melihatnya,
  • Orang-orang yang dapat memunculkan fitnah (godaan),
  • Perhiasan dunia yang menggoda dan menjerumuskan dalam dosa.

2) Perintah bagi kaum Mukminin laki-laki dan perempuan untuk menjaga kemaluan, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan badan yang haram, baik melalui jalan depan maupun belakang, atau selain itu,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal berhubungan badan dengannya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal menyentuhnya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal melihatnya.

3) Menjaga pandangan dan kemaluan lebih menyucikan dan memerbaiki diri, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Barang siapa menahan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari penglihatan hatinya. Dan karena seorang hamba, apabila ia menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan pengantar-pengantarnya, padahal syahwatnya mendorong untuk melakukannya, maka ia lebih dapat menjaga anggota tubuhnya yang lain dari perbuatan yang haram.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 566]

4) Kata (من) dalam ayat di atas menunjukkan makna “Sebagian”, yaitu sebagian pandangan diharamkan. Berarti ada sebagian pandangan yang dibolehkan, contohnya:

  • Melihat sebagai saksi,
  • Pekerjaan yang mengharuskan untuk melihat lawan jenis (sesuai kadar yang diperlukan),
  • Melamar calon istri, dan lain-lain. Maka dilakukan sebatas kebutuhan tanpa disertai syahwat.

5) Larangan terkait perhiasan dan pakaian wanita:

Pertama: Tidak boleh menampakkan perhiasan wanita (sama saja apakah secara langsung atau melalui foto dan video), yaitu:

  • Pakaian yang indah,
  • Berbagai macam perhiasan yang dikenakan,
  • Seluruh tubuh wanita adalah perhiasan. Dan bukan berarti setelah ditutup lalu boleh diperlihatkan. Tetap saja tidak boleh, baik secara langsung maupun melalui foto dan video. Maka termasuk kesalahan besar sebagian orang yang menjadikan wanita sebagai model pakaian yang diperdagangkan, baik pakaian yang sesuai syariat, apalagi yang tidak sesuai syariat.

Kedua: Diperkecualikan adalah pakaian luar yang memang harus dikenakan wanita dengan syarat tidak menggoda, yaitu kerudung yang menutup dari kepala sampai ke dada, dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh, sesuai dengan syarat-syarat pakaian wanita yang disyariatkan.

Ketiga: Kemudian diberikan pengecualian orang yang boleh melihat seluruh perhiasan wanita, yaitu suaminya.

Keempat: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan mahramnya:

  • Bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas,
  • Anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah,
  • Anak suaminya (anak tiri), cucu suaminya dan seterusnya ke bawah,
  • Saudara kandung; sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja,
  • Keponakan (anak saudara laki sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja),
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja).

Kelima: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan selain mahramnya:

  • Sesama wanita atau maknanya sesama wanita beriman (ada perbedaan pendapat ulama. Yang benar insya Allah adalah sesama wanita, walau kafir, maka batasan auratnya sama).
  • Budak-budak yang dimiliki secara penuh.
  • Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai syahwat sama sekali terhadap wanita, tidak pada kemaluannya, tidak pula hatinya.
  • Anak-anak yang belum mumayyiz, yang belum mengerti tentang aurat wanita, yang tidak muncul syahwatnya tatkala melihat wanita.

Keenam: Ayat yang mulia ini juga menjelaskan batas aurat dan perhiasan wanita saat bersama mahramnya atau sesama wanita, adalah tempat-tempat perhiasannya. Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia:

أما ما يجوز للمرأة أن تبديه من زينتها لمحارمها غير زوجها فهو وجهها وكفاها وخلخالها وقرطاها وأساورها وقلادتها ومواضعها ورأسها وقدماها

“Adapun perhiasan yang dibolehkan bagi wanita untuk menampakkannya kepada mahramnya selain suaminya adalah: Wajahnya, dua telapak tangannya, perhiasan di pergelangan kakinya, gelang tangannya, kalung lehernya, semua anggota tubuh tempat perhiasan tersebut, kepalanya dan dua kakinya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/296 no. 2923]

[Disarikan disertai tambahan dari Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiril Kalaamil Mannan karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, hal. 566-567]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

,

TATA CARA MANDI JUNUB

TATA CARA MANDI JUNUB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatMandiNabi

TATA CARA MANDI JUNUB

  • Kitab Thaharah (Perihal Bersuci)

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi:

  1. Keluar Mani, Baik Saat Terjaga ataupun Tidur

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.

“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122)]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau ﷺ berkata: “Ya, jika dia melihat air.” [Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82)]

Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.

“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.” [Nailul Authaar (I/275)]

Asy-Syaukani berkata: [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233)] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata: “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”

Barang siapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barang siapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani), sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab: ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab: ‘Dia tidak wajib mandi’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348)]

 

  1. Jima’, Walaupun Tidak Keluar Air Mani

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi, meskipun tidak keluar air mani.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351)]

  1. Masuk Islamnya Orang Kafir

Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi ﷺ menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafal mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”]

  1. Terputusnya Haid dan Nifas

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi ﷺ berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.

“Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089)]

Nifas dan haid dihukumi sama secara ijma’.

  1. Hari Jumat

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [Muttafaq ‘alaihi]

b. Rukun-Rukun Mandi

1. Niat

Berdasarkan hadis:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

  1. Meratakan air pada sekujur badan.

c. Tata Cara yang Disunnahkan Ketika Mandi

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Dahulu, jika Rasulullah ﷺ hendak mandi janabah (junub), beliau ﷺ memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau ﷺ mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau ﷺ menganggap telah cukup, beliau ﷺ tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau ﷺ guyur seluruh badannya. Kemudian beliau ﷺ basuh kedua kakinya.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603)]

Catatan:

TIDAK WAJIB bagi seorang wanita mengurai rambutnya KETIKA MANDI JANABAH (JUNUB). Namun WAJIB dilakukan ketika MANDI SEHABIS HAID.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau ﷺ berkata:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.

“Tidak. Cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi setelah selesai haid. Beliau ﷺ lalu bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya, lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi ﷺ -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata: “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau ﷺ berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik: “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”

Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau ﷺ tentang mandi (junub) janabah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.

“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci, (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Dalam hadis ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haid dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haid agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada MANDI JANABAH TIDAK ditekankan hal tersebut. Dan hadis Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan, serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haid yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.

Catatan:

Diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

“Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129)]

d. Mandi-Mandi yang Disunnahkan:

  1. Mandi Pada Setiap Selesai Jima’

Berdasarkan hadis Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya. Beliau mandi setiap selesai dari Fulanah dan dari si Fulanah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau ﷺ berkata: “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590)]

  1. Mandinya Wanita Mustahadhah (istihadhah – keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita -pen) Setiap Akan Shalat

Atau sekali mandi untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Subuh sekali mandi.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289)]

Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata: “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Subuh. [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184)]

  1. Mandi Setelah Pingsan

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ sakit parah. Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau ﷺ berkata: ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau ﷺ lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau ﷺ pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadis ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687)]

  1. Mandi Setelah Menguburkan Orang Musyrik

Berdasarkan hadis ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau ﷺ berkata: “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Mandilah.” [Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198)]

  1. Mandi Pada Dua Hari Raya dan Hari ‘Arafah

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab: “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata: “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyariatkan dalam agama-pent).” Dia berkata: “(Mandi) hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”

  1. Mandi Setelah Memandikan Mayat

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463)]

  1. Mandi Untuk Ihram ‘Umrah Atau Haji

Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu: “Dia melihat Nabi ﷺ melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831)]

  1. Mandi Ketika Memasuki Kota Makkah

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi, dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafal darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854)]

 

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/679-mandi.html

 

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“TIDAK HALAL bagi seorang Muslim memboikot sudaranya lebih dari tiga malam, yang mana keduanya saling bertemu, yang ini memalingkan wajahnya, dan ini juga memalingkan wajahnya. Sebaik-sebaik keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari no.6077 dan Muslim no. 2560)

Larangan memboikot seorang Muslim dalam hadis ini berlaku, bila sebabnya adalah urusan dunia, seperti sakit hati, ketersinggungan, merasa tersaingi, dan sebab lainnya.

Adapun urusan agama, maka boleh memboikot seorang Muslim lebih dari tiga malam, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabat memboikot Ka’ab bin Malik beserta dua orang temannya selama 50 malam.

Hanya saja, jangan sampai seseorang beralasan bahwa dia memboikot seorang Muslim karena urusan agama, padahal kenyataanya adalah karena urusan pribadi dan dunia.

 

,

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” [An-Nisa’: 141]

Al-Imam Al-Mufassir Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

إن الله سبحانه لا يجعل للكافرين على المؤمنين سبيلا شرعا ؛ فإن وجد فبخلاف الشرع

“Makna ayat ini adalah, sesungguhnya Allah tidak mengizinkan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukminin dalam hukum syariat. Jika terjadi, maka itu menyelisihi syariat.” [Tafsir Al-Qurthubi, 5/419]

Al-Imam Al-Faqih Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

وأن يكون مسلما لأن الله تعالى يقول ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا والخلافة أعظم السبيل

“Syarat pemimpin haruslah seorang Muslim, karena Allah ta’ala berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan untuk menguasai kaum Mukminin.” [Al-Fishol, 4/128]

Nukilan Kesepakatan Ulama

Imam Besar Mazhab Syafi’i Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah telah menukil ijma’ dari Al-Qodhi ‘Iyadh:

أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

“Ulama telah sepakat (ijma’), bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir. Dan jika seorang pemimpin Muslim menjadi kafir, maka harus diselengserkan.” [Syarah Muslim, 12/229]

Disebutkan dalam Ensiklopedi Fikih:

يَشترط الفقهاء للإمام شروطاً ، منها ما هو متّفق عليه ، ومنها ما هو مختلف فيه .

فالمتّفق عليه من شروط الإمامة :

أ. الإسلام ؛ لأنّه شرط في جواز الشّهادة وصحّة الولاية على ما هو دون الإمامة في الأهمّيّة ، قال تعالى : ( ولن يجعل اللّه للكافرين على المؤمنين سبيلاً ) ، والإمامة – كما قال ابن حزمٍ : – أعظم ” السّبيل ” ، وليراعي مصلحة المسلمين” انتهى .

وعليه : فلا يجوز مبايعة الحاكم الكافر

“Para ulama ahli fikih telah menjelaskan syarat-syarat untuk menjadi pemimpin. Ada syarat yang disepakati semua ulama, ada pula yang masih diperselisihkan. Adapun syarat yang disepakati (di antaranya) adalah: Beragama Islam, karena ini adalah syarat bolehnya menjadi saksi dan syarat menjadi wali dalam urusan yang lebih rendah daripada kepemimpinan (maka menjadi pemimpin lebih wajib untuk memenuhi syarat ini). Allah ta’ala berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan, sebagaimana kata Ibnu Hazm, adalah sebesar-besarnya jalan untuk menguasai kaum Mukminin. Dan juga agar seorang pemimpin memerhatikan kemaslahatan kaum Muslimin (selesai nukilan dari Ibnu Hazm). Maka jelaslah, bahwa tidak boleh mengangkat pemimpin kafir.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 6/218]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/748702311945920:0

 

Artikel Terkait:

 

AL-MAIDAH: 51 MENURUT AHLI TAFSIR, AHLI BAHASA DAN TERJEMAHAN RESMI DEPAG RI

⛔ Larangan Memilih Pemimpin Kafir dalam Surat Al-Maidah Ayat 51 Sesuai Terjemahan Resmi Depag RI dan Penafsiran Ahli…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2016年10月7日

 

PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!

👉 PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ➡ Allah 'azza wa jalla berfirman,وَكَذ…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年2月8日

,

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

Pertanyaan:

Apa hukum memerpanjang sujud terakhir dalam shalat, melebihi panjangnya sujud-sujud yang lainnya?

Jawaban:

الإطالة في السجدة الأخيرة ليست من السنة؛ لأن السنة أن تكون أفعال الصلاة متقاربة، الركوع والرفع منه، والسجود والجلوس بين السجدتين، كما قال ذلك البراء بن عازب رضي الله عنه قال:

Memerpanjang sujud yang terakhir BUKAN termasuk sunnah. Karena yang disunahkan adalah tempo gerakan-gerakan dalam shalat hampir sama lamanya, ketika rukuk, bangkit darinya, sujud dan duduk di antara dua sujud. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu:

رمقت الصلاة مع النبي صلى الله عليه وسلم فوجدت قيامه فركوعه فسجوده فجلسته ما بين التسليم من الصلاة قريبة الاستواء

“Aku pernah memerhatikan shalatnya Nabi ﷺ. Aku dapati ternyata tempo lamanya berdiri, rukuk, sujud dan duduknya antara salam, hampir sama lamanya.”

هذا هو الأفضل

Inilah yang lebih utama.

__________________

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb. Kaset 367

Web | shahihfiqih.com/fatwa/sujud-terakhir-harus-panjang/

 

Sumber: Telegram: ShahihFiqih

 

,

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

Pertanyaan:

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di masjid yang bukan wakaf? Kalau jual beli di masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. Ini merupakan Madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat, bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat tidak bisa dimiliki melalui akad sewa, sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. Dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam Fatwa Syabahakh dinyatakan:

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku, kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara belum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid, sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan:

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan: ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan, maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. Sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau:

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. Dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku, baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan:

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. Ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya:

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau:

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orang dari berzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html

,

BOLEHKAH CERITA ADEGAN RANJANG KE DOKTER?

BOLEHKAH CERITA ADEGAN RANJANG KE DOKTER?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH CERITA ADEGAN RANJANG KE DOKTER?

Pertanyaan:

Orang punya masalah dengan kehidupan seks-nya, ketika ke dokter spesialis, dia harus cerita detail. Tentu saja dokter juga membutuhkan info yang lengkap. Bolehkah melakukan hal semacam ini? Karena konon katanya itu dosa.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Termasuk manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada Hari Kiamat, adalah orang yang melakukan hubungan badan dengan istrinya, kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya. (HR. Muslim 1437).

Hadis ini menunjukkan, hukum asal menceritakan adegan rahasia ranjang adalah dosa besar. Karena di sana ada ancaman, menjadi manusia paling jelek di Hari Kiamat.

An-Nawawi menyebutkan:

وفي هذا الحديث تحريم إفشاء الرجل ما يجري بينه وبين امرأته من أمور الاستمتاع ، ووصف تفاصيل ذلك ، وما يجري من المرأة فيه من قول أو فعل ونحوه

Dalam hadis ini terdapat dalil haramnya seorang lelaki menyebarkan percumbuan yang dia lakukan bersama istrinya, dan bercerita dengan detail, baik gerakan maupun rayuan. (Syarh Shahih Muslim, 10/9).

Ini aturan yang menjadi hukum asal. Tentu saja ada keadaan yang menyebabkan hukum ini bisa bergeser karena sebab tertentu. Kita bisa simak riwayat berikut:

Aisyah bercerita:

Ada lelaki yang bertanya kepada Nabi ﷺ: ‘Ada orang yang berjimak dengan istrinya tapi jadi males. Apakah suami istri ini wajib mandi?’

Ketika itu A’isyah sedang duduk.

Jawab Nabi ﷺ:

إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ ، أَنَا وَهَذِهِ ، ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“Aku juga kadang mengalami hal itu. Aku bersama wanita ini (A’isyah), lalu kami mandi junub. (HR. Muslim 350).

Yang dimaksud berjimak tapi jadi ‘males’ adalah tidak sampai orgasme, tidak keluar mani. Apakah wajib mandi? Jawaban Nabi ﷺ adalah tetap wajib mandi.

Ada yang menarik di sana. Nabi ﷺ sampai menyebutkan kasus yang beliau ﷺ bersama Aisyah. An-Nawawi mengatakan:

فيه جواز ذكر مثل هذا، بحضرة الزوجة ، إذا ترتبت عليه مصلحة ، ولم يحصل به أذى ، وإنما قال النبي صلى الله عليه وسلم بهذه العبارة ليكون أوقع في نفسه

Hadis ini menunjukkan bolehnya melakukan semacam ini di depan istri, jika di sana ada maslahat, dan tidak sampai menyakiti. Nabi ﷺ menyampaikan demikian, agar lebih tertanam dalam hatinya. (Syarh Shahih Muslim, 4/42).

Dalam kasus lain, dikisahkan oleh Ikrimah.

Bahwa Rifaah menceraikan istrinya. Setelah selesai iddah, wanita ini dinikahi Abdurahman bin Zabir al-Quradzi. Setelah menjalani kehidupan bersama Abdurrahman, wanita ini mengadukan masalah suaminya kepada Nabi ﷺ. Kala itu, wanita ini memakai kerudung warna hijau.

Ketika tahu istrinya datang kepada Nabi ﷺ, Abdurahman datang dengan membawa dua anaknya, dari pernikahan dengan istri yang lain.

Setelah semuanya menghadap Nabi ﷺ, dan ketika itu ada Abu Bakr, Ibnu Said bin Ash, dan Khalid bin Walid, mulailah si wanita ini mengadukan:

“Suami saya ini orang baik, tidak pernah berbuat zalim kepada saya. Cuma ‘anu’nya dia tidak pas buat saya.” Sambil dia pegang ujung bajunya.

Maksud si wanita ini, anu suaminya itu loyo. Tidak bisa memuaskan dirinya.

Abdurahman bawa dua anak untuk membuktikan, bahwa dia lelaki sejati. Mendengar pengaduan istri keduanya ini, Abdurrahman langsung protes:

“Istriku dusta ya Rasulullah. Saya sudah sungguh-sungguh dan tahan lama. Tapi wanita ini nusyuz, dia ingin balik ke Rifaah (suami pertamanya).”

Mendengar pengaduan mereka, Nabi ﷺ hanya tersenyum.

(HR. Bukhari 5825 & Muslim 1433).

Al-Hafidz mengatakan:

وتبسّمه صلى الله عليه وسلم كان تعجبا منها ، إما لتصريحها بما يستحيي النساء من التصريح به غالبا… ويستفاد منه جواز وقوع ذلك

Senyum Nabi ﷺ karena beliau heran. Bisa karena melihat wanita ini yang terus terang, padahal umumnya itu malu bagi wanita… Dan disimpulkan dari hadis ini, bolehnya melakukan semacam ini. (Fathul Bari, 9/466)

Dari keterangan di atas, tidak masalah menceritakan rahasia ranjang ke dokter atau konsultan, selama itu dibutuhkan.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25429-boleh-cerita-adegan-ranjang.html

 

,

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

  • Syubhat-Syubhat dan BantahanPembolehannya Demonstrasi
  1. Bagaimana Islam Bisa Dibela, Kalau Cuma Ta’lim (Penyebaran Ilmu) dan Ibadah Di Masjid Atau di Rumah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

العبادةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرةٍ إِليَّ

“Ibadah di masa fitnah/ujian: (pahalanya) seperti Hijrah kepadaku.” HR. Muslim (no. 7588).

Hadis ini sebagai arahan dari Nabi ﷺ yang mulia, bahwa justru dalam masa fitnah ini kita diharuskan BANYAK BERIBADAH. Dan itulah yang menolong kaum Muslimin. Bukan berkata dan berbuat gegabah, yang jelas dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah ta’aalaa berfirman:

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Dalam ayat ini pun Allah menerangkan dan menegaskan kepada kita, bahwa Dia mengetahui makar orang kafir, dan akan menolong orang beriman, dengan syarat SABAR dan TAKWA (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

  1. Anda dan Orang Semisal Anda Yang Tidak Berdemo, Tidak Juga Menasihati Pemerintah dan Mendatanginya. Cuma Omong Doang!

Kita katakana, bahwa kita serahkan pada Ustadz Kibar tentang permasalahan ini, yang bisa langsung menasihati pemerintah. Dan siapa bilang kita diam saja?! Apakah apabila kami dan Ustadz kami menasihati pemerintah, kemudian harus bilang ke wartawan untuk direkam, difoto, disebarkan, bawa bendera partai, bawa spanduk buat promosi, dan lain-lain. Manhaj macam apa ini?!

Kita hanya meneladani para sahabat dan para Salaf. Oleh karena itulah kita disebut SALAFI!

عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قِيْلَ لَهُ: أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ؛ فَتُكَلِّمَهُ؟ فَقَالَ: أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ؟! وَاللَّهِ! لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ؛ مَا دُوْنَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ، وَلاَ أَقُوْلُ لأَحَدٍ يَكُوْنُ عَلَىَّ أَمِيْرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ

Dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya:

Kenapa Anda tidak masuk menemui ‘Utsman dan engkau menasihatinya?”

Maka dia berkata: “Apakah kalian menganggap, bahwa jika aku berbicara padanya (‘Utsman), lantas aku harus memerdengarkannya kepada kalian?!

Demi Allah!

Aku telah berbicara empat mata dengannya, tanpa perlu saya membuka satu perkara yang saya tidak suka menjadi orang pertama yang membukanya, (yaitu menasihati pemimpin terang-terangan). Dan tidakklah aku mengatakan kepada seorang: “Saya memiliki pemimpin, yang dia adalah manusia terbaik.” [HR. Muslim (no. 7674)].

  1. Bukankah Ahok Kafir, Sehingga Kita Boleh Untuk Mendemo Dia? Bukankah Yang Tidak Diperbolehkan Adalah Mendemo Pemerintahan Muslim?

Kita katakan: Anda dan orang semisal Anda, pada hakikatnya berdemo kepada pemerintah yang di atas Ahok, yaitu: Presiden, agar Ahok diadili. Bukankah ini demo terhadap pemerintahan Muslim??!!

Kalaupun pemerintah Anda adalah kafir, di Cina, Rusia, Amerika, dan lainnya, tidak lantas menjadi halal mendemo mereka karena mudharat yang ditimbulkan akan besar. Dan hukum asal demo adalah perbuatan haram.

Lihat kepada Suriah sekarang ini!

Pemerintah Basyar Assad dari dulu memang sudah kafir, akan tetapi Ulama Rabbani, seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh ‘Utsaimin, tidak memerintahkan masyarakat Suriah untuk berdemo dan menggulingkan pemerintahan. Karena mereka mengerti keadaan umat yang lemah apabila memberontak. Namun terjadilah apa yang kita lihat sekarang.

Kalaupun mau menggulingkan pemerintahan kafir, maka lakukanlah dengan cara yang benar, dan ukurlah kekuatan, serta mintalah fatwa dari Ulama Rabbani. Karena ini menyangkut darah kaum Muslimin yang akan tercecer. Jangan sampai sia-sia dan banyak memakan korban!

Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Harun -‘alaihimas salaam- yang berdakwah langsung bertemu dengan penista agama terbesar: Fir’aun. Tidaklah mereka berdua berdemonstrasi, padahal Bani Israil amat banyak. Akan tetapi inilah perintah langsung dari Allah Ta’aalaa:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

  1. Ini Bukan Demonstrasi, Tapi Aksi Damai!

Kita katakan: Terserah kalian mau menamakan aksi kalian dengan nama apa saja, karena Islam menghukumi sesuatu bukan dari namanya, akan tetapi melihat kepada hakikatnya. Apakah kalian namakan aksi damai, protes atau lainnya -atau bahkan: Jihad???!!!- HAKIKATNYA ADALAH DEMONSTRASI!!!

Di antara tipu daya iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah  dengan teknik branding strategi, memberi nama baru untuk mengaburkan hakikat. Riba sekarang dinamakan bunga oleh bank konvensional dan dinamakan sedekah dan tabrru’ oleh kor Syariah dan pegadaian Syariah. Dan hal itu TIDAKLAH mengubah hakikat. Khamr diubah namanya dengan banyak nama: anggur, arak, bir, Whiski, dan lainnya untuk mengaburkan hakikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ؛ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Sungguh, akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr, dengan memberikan nama kepadanya bukan dengan namanya (khamr)” [HR. Abu Dawud (no. 3690)]

  1. Kami Tidak Berbuat Rusak dan Anarkis, Sehingga Tidak Termasuk Orang Yang Berbuat Kerusakan

Pertama: Siapa yang menjamin, bahwa tidak akan terjadi kerusakan dan anarkisme dari luapan banyak orang seperti itu?! Bisa jadi ada penyusup yang merusak dari dalam, sebagaimana dalam perang Jamal.

Kedua: Kerusakan apalagi yang lebih besar dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya?:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah Allah memerbaikinya. Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Abu Bakar bin ‘Ayasy berkata tentang ayat ini: “Allah mengutus Muhammad ﷺ ke permukaan bumi, sedangkan mereka (manusia) berada dalam keburukan. Maka Allah memerbaiki mereka dengan Muhammad ﷺ. Sehingga, barang siapa yang mengajak manusia kepada hal-hal menyelisihi apa yang datang dari Nabi ﷺ, maka dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Ad-Durr Al-Mantsuur (III/476)]

Silakan lihat tafsiran ulama lainnya yang bertebaran, yang menunjukkan, bahwa berbuat kerusakan yang dimaksud di sini adalah: bermaksiat.

  1. Ini Negeri Demokrasi, Demonstrasi Dibolehkan Oleh Pemerintah dan Difasilitasi, Sehingga Dibolehkan

Ini hujjah yang lemah sekali. Tidaklah apa yang dibolehkan oleh pemerintah, lantas semua menjadi halal. Bahkan yang diperintahkan oleh pemerintah pun harus dilihat: apakah itu suatu hal yang ma’ruf atau justru kemungkaran. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf” [HR. Al-Bukhari (no. 7257)]

Ada Perda tentang bolehnya tempat hiburan dan diskotek, lantas apa kemudian menjadi halal?! Ada juga Perda tentang bolehnya khamr, dengan ketentuan khusus. Lantas apa kemudian menjadi boleh??!! Silakan jawab sendiri…

  1. Mereka Yang Melarang Demo: Membawakan Fatwa, Kita Juga Menggunakan Fatwa Yang Membolehkan. Ulama Yang Melarang Tidak Mengerti Keadaan Indonesia

Subhaanallah! Ulama mana dulu yang berfatwa membolehkan demonstrasi? Apakah ad-Damiji yang punya kitab Al-Imaamah Al-‘Uzhmaa yang dilarang terbit di Saudi, atau fatwanya Salman Al-‘Audah dan teman-temannya?? PERMASALAHANNYA ADALAH BUKAN BANYAKNYA FATWA, AKAN TETAPI KUALITASNYA (KESELARASANNYA DENGAN DALIL-DALIL DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT)!!!

Kalaupun ulama berfatwa, maka tidak ditelan mentah-mentah sebagai landasan hukum, akan tetapi dilihat dalil pendukungnya.

Kalau kalian menuduh ulama yang berfatwa tentang Indonesia dari negeri lain tidak tahu keadaan sini, bagaimana dengan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily yang belasan tahun mondar-mandir di negeri kita ini, untuk membahas masalah dakwah di Indonesia. Apakah Anda juga menuduhnya tidak paham Waqi’ (realita)???!!! Fatwa siapapun apabila berbenturan dengan dalil, maka buanglah dia ke belakangmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah (beliau adalah ulama yang paling mengumpulkan As-Sunnah dan paling berpegang kepadanya) berkata:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Shifatush Shalaatin Nabiyy (hlm. 47), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah]

  1. Pemerintah Yang Tidak Boleh Di-Demo Adalah Pemerintah Yang Berjalan Di Atas Alquran Dan As-Sunnah. Adapun Kalau Pemerintah Tidak Berasaskan Keduanya, Maka Boleh Di-Demo

Jawablah dengan hadis Hudzaifah di atas:

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ، وَأَطِعْ

[Rasulullah ﷺ bersabda:] “Akan ada setelahku para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnah-ku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah, apabila aku menemui yang demikian? Beliau ﷺ bersabda: “Engkau dengar dan engkau taat kepada pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Maka dengar dan taatlah!” HR. Muslim (no. 4891)

JELAS DALAM HADIS INI BAHWA: PEMIMPIN YANG DIPERINTAHKAN DITAATI, TIDAK MENGAMBIL SUNNAH NABI ﷺ!!!

  1. Ini Adalah Masalah Ijtihad, Masing-Masing Punya Hujjah dan Jangan Saling Mengingkari, Apalagi Ini Masalah Furu’ Bukan Ushul

Adapun kaidah:

الاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالاِجْتِهَادِ

Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad

لاَ إِنْكَارَ فِيْ مَسَائِلِ الْخِلاَفِ

Tidak Ada Pengingkaran Dalam Masalah Khilaf

 Maka kaidah ini perlu ada tafshiil (perincian).

a. Apabila ijtihad tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan dalil yang Shahih, maka tidak boleh kita mengambil ijtihad dan meninggalkan Nash/dalil.

Contoh: Dalam masalah nikah dengan tanpa wali, maka jelas bertentangan dengan dalil, sehingga kita wajib untuk menolak dan membantahnya.

Ijtihad yang menghalalkan musik, isbal dan lain-lain, maka wajib kita membantah ijtihad tersebut.

b. Apabila ijtihad tersebut menggunakan dalil yang lemah, maka kita juga boleh menjelaskan kelemahannya, bahkan membantahnya.

c. Apabila perbedaan pendapat memiliki dalil yang sama kuat, maka di sini berlaku: Tidak mengingkari perbedaan. Itu pun tetap harus berpegang dengan dalil (tidak hanya mencari-cari rukhshah atau pendapat yang sesuai keinginan (hawa nafsu).

Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan:

الْعِلْمُ: قَالَ اللهُ، قَالَ رَسُوْلُهُ

قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهٍ!!!

 

Artinya:

Ilmu itu adalah: firman Allah dan sabda Rasul-Nya ﷺ

Serta perkataan Sahabat. Bukan hanya sekedar kamuflase

Bukanlah ilmu itu dengan engkau mempertentangkan perselisihan karena kebodohan

(Mempertentangkan) antara Rasul ﷺ dengan pendapat Ahli Fiqih!!!

Adapun kalau Anda mengatakan ini adalah masalah Furu’ (cabang) dan bukan Ushul (prinsip), maka yang benar dalam Islam adalah tidak membedakan masalah Ushul dan Furu’ dalam penting atau tidaknya. Yakni bahwa semuanya adalah penting. Betapa banyak hal yang dianggap kecil akan berubah menjadi bencana dan fitnah yang hebat ketika diremehkan.

Lihat saja kisah zikir jamaah dengan kerikil yang diingkari oleh Abdullah bin Mas’ud, yang mereka mengatakan bahwa tujuan mereka adalah baik.

Akhirnya perbuatan bid’ah yang kecil berubah tersebut berubah menjadi bencana besar, dan orang-orang tersebut semuanya ada di barisan pemberontak melawan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Lihat pembahasan ini dalam Kitab: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Baab: Baina Qisyr Wal Lubaab (Antara Kulit Dan Inti) (hlm. 247), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi hafizhahullaah.

  1. Ulama Terdahulu Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Telah Berdemo Ketika Ada Pencaci Rasul, Sehingga Beliau Menulis Kitab Ash-Shaarim Al-Masluul, dan Asy-Syirazi (Juga Berdemo), dan lain-lain

Pertama: Ibnu Taimiyah rahimahullaah tidak berdemo. Justru beliau mengadukan pencaci rasul kepada pemerintah, dan kebetulan diikuti oleh masyarakat, sehingga terjadilah kerusuhan.

Kedua: Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أَقْوَالُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُحْتَجُّ لَهَا وَلاَ يُحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil.”

Imam Abu Hanifah rahimahullaah berkata:

لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapa pun untuk mengambil pendapat kami, selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambil (dalil)nya”

Imam Asy-Syafi’I rahimahullaah berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa barang siapa yang jelas sunah Rasulullah ﷺ baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

Dan juga telah kita sebutkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Para ulama bukan manusia makshum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah, karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik rahimahullaah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ؛ فَكُلُ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Orang yang hatinya berpenyakit, maka dia akan mencari-cari pendapat yang salah dan aneh dari para ulama, demi untuk mengikuti nafsunya dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At-Taimi rahimahullaah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ؛ اجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172]

  1. Demonstrasi Adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar -Dan Pemimpin Wajib Dinasihati-, Dan Hal Itu Merupakan Seutama-Utama Jihad

Inilah perkataan mereka, dan di antara yang mereka bawakan adalah Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zalim.” [HR. Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011)].

Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):

كَلِمَةُ حَقٍّ

“Perkataan yang haq (benar).”

[Hadis ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Bahkan jika seseorang mati karena dibunuh oleh penguasa yang zalim disebabkan amar ma’ruf nahi munkar, maka dia termasuk pemimpin para Syuhada.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ: ﺣَﻤْﺰَﺓُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَﻠِّﺐِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ؛ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺎﻩُ، ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ

“Penghulu para Syuhada adalah: Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan orang yang berkata melawan penguasa kejam, di mana dia melarang dan memerintah (penguasa tersebut), namun akhirnya dia mati terbunuh.”

[HR. Al-Hakim (no. 4872), dia menyatakan Shahih. Aakan tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 374)].

Jawabannya: Hadisnya Benar Akan Tetapi Pemahamannya Yang Salah

Pertama: Kata-kata dalam Hadis (عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ) menunjukkan, bahwa menasihatinya di dekat penguasa dengan mendatangi, dan tidak menunjukkan terang-terangan, sebagaimana,diisyaratkan oleh kata عِنْدَ yang artinya di sisi.

Demikian dalam riwayat kedua kata ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ dan lelaki yang berkata dan datang kepada imam yang zalim. Ada kata (إلى) berarti kata di Tadhmin, memiliki makna: mendatangi, bukan turun ke jalan dan demonstrasi.

Kalau memang Anda mampu, maka silakan datang langsung ke dalam istana dan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada pemerintah, walaupun sampai terbunuh. Itu baru sesuai dengan Hadis, bukan demo di jalanan yang tidak sesuai dengan Hadis di atas.

Kedua: Hadis Nabi ﷺ adalah saling menjelaskan satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pemahamannya yang benar. Maka hadis di atas dijelaskan dengan cara: menasihati pemimpin dengan cara yang baik dan benar dengan tidak dengan terang-terangan. Dan ber-amar ma’ruf serta nahi munkar kepadanya adalah dengan mendatanginya secara langsung, sebagaimana pemahaman dan pengamalan para Sahabat.

  1. Demonstrasi Pernah Dilakukan Sahabat

Pertama: Kisah Islamnya ‘Umar Yang Thawaf Berbaris Bersama Hamzah

Kita Jawab: Kisahnya lemah sekali, Syaikh Al-Albani mengatakan: Munkar, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. [Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (no. 6531)]

Kalaupun Shahih, maka bukanlah menjadi dalil untuk demonstrasi, karena ini adalah pengumuman Islamnya Hamzah dan ‘Umar, maka di mana letak demonstrasinya? Dan dalam rangka menentang apa?

Kedua: Kisah Wanita Yang Mendatangi Nabi ﷺ Untuk Mengadukan Perilaku Suaminya Yang Kasar Terhadap Istri

Kita Jawab: Ini Bukan Demo

Bahkan inilah yang di syariatkan: Mengadukan permasalahan langsung dengan menghadap pemerintah, bukan berdemo di jalan. Karena Shahabiyat langsung datang ke rumah Nabi ﷺ dan bukan keliling kota Madinah berjalan-jalan meneriakkan yel-yel, bahwa suami mereka berbuat kasar.

Bantahan kedua: Ini terjadi bukan karena kesepakatan, bahkan hanya kebetulan banyak para wanita yang mengadukan kepada Nabi ﷺ perihal suami mereka. Lantas bagaimana dengan demonstrasi yang menggerakkan masa?? Alangkah jauhnya perbedaan antara keduanya!

Masih banyak syubhat (kerancuan) dalam masalah Demonstrasi yang lebih lemah dari syubhat di atas. Insyaa Allaah jika masih ada kesempatan, akan ada bantahan jilid selanjutnya terhadap syubhat mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Dika Wahyudi Lc.

 

Sumber:

https://www.facebook.com/dika.wahyudi.140/posts/764094400411089

https://aslibumiayu.net/17256-alasan-alasan-pendukung-demonstrasi-alasan-yang-rapuh-dan-bukan-di-atas-ilmu.html