Posts

,

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
 
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
Mengenal Dropshipping
 
Pada dasarnya, menjadi seorang pengusaha sukses adalah cita-cata banyak orang. Walau demikian sering kali mereka beranggapan, bahwa cita-cita ini tak ubahnya impian di siang bolong alias serasa mustahil tewujud. Masyarakat berpikiran demikian karena mereka beranggapan, bahwa dunia usaha hanyalah milik orang-orang yang berkantong tebal, atau paling kurang dilahirkan di tengah keluarga kaya raya.
 
Hadirnya sistem Dropshipping di tengah masyarakat bak hembusan angin surga bagi banyak orang untuk dapat mewujudkan impian besar mereka.
 
Betapa tidak, dengan sistem “Dropshipping” kita dapat menjual produk, bahkan berbagai produk, ke konsumen. Semua itu tanpa butuh modal atau berbagai piranti keras lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah foto-foto produk yang berasalkan dari supplier/toko. Kita dapat menjalankan usaha dengan sistem ini walau tanpa membeli barang terlebih dahulu. Namun demikian kita dapat menjual produk dimaksud ke konsumen dengan harga yang ditentukan oleh Dropshipper (orang yang melakulan Dropshipping).
 
Dalam sistem Dropshipping konsumen terlebih dahulu melakukan pembayaran, baik tunai atau via transfer ke rekening Dropshipper. Selanjutnya Dropshipper melakukan pembayaran kepada supplier sesuai dengan harga beli Dropshipper disertai dengan ongkos kirim barang ke alamat konsumen. Sebagaimana Dropshipper berkewajiban menyerahkan data konsumen; berupa nama, alamat, dan nomor telpon kepada supplier. Bila semua prosedur di atas telah selesai, maka supplier bertugas mengirimkan barang yang dibeli kepada konsumen.
 
Namun perlu dicatat, walau supplier yang mengirimkan barang, akan tetapi nama Dropshipperlah yang dicantumkan sebagai pengirim barang. Dengan demikian konsumen tidak mengetahui, bahwa sejatinya ia membeli barang dari supplier (pihak ke dua), dan bukan dari Dropshipper (pihak pertama).
 
Keuntungan Sistem Dropshipping
 
Semua orang pasti menyadari, bahwa salah satu tujuan utama setiap kegiataan wirausaha ialah mendapatkan keuntungan. Karena itu sudah sepantasnya bila kita menanyakan, apa saja kuntungan mengikuti sistem ini.
Secara umum, menjalankan Dropshipping memiliki banyak sisi positifnya, di antaranya sebagai berikut:
1. Dropshipper, mendapatkan keuntungan atau fee atas jasanya memasarkan barang milik supplier.
2. Tidak butuh modal besar untuk dapat mengikuti sistem ini.
3. Sebagai Dropshipper, kita tidak perlu menyediakan kantor dan gudang barang.
4. Walau tanpa berbekalkan pendidikan tinggi, asalkan kita cakap dalam berselancar di dunia maya (berinternet), maka kita dapat menjalankan sistem ini.
5. Kita terbebas dari beban pengemasan dan pengantaran produk.
6. Sistem ini tidak kenal batas waktu atau ruang, alias kita dapat menjalankan usaha ini kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Hukum Dropshipping
Sebagai pengusaha Muslim tentu kita bukan hanya memilikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan suatu jenis kewirausahaan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang hendak dijalankan pastilah menempati urutan pertama dari sekian banyak pertimbangan kita . Sikap ini selaras dengan doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla:
 
للَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
 
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, sehingga aku tidak membutuhkan kepada hal-hal yang Engkau haramkan. Dan jadikanlah aku merasa puas dengan kemurahan-Mu, sehingga aku tidak mengharapkan kemurahan selain kemurahan-Mu.
 
Dan untuk mengetahui status hukum halal haram suatu perniagaan, maka kita harus melihat tingkat keselarasan sistem tersebut dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam syariat. Bila perniagaan tersebut selaras dengan prinsip syariat, maka halal untuk kita jalankan. Namun bila terbukti menyeleweng dari salah satu prinsip, atau bahkan lebih, maka sudah sepantasnya kita mewaspadainya.
Berikut beberapa prinsip syariat dalam perniagaan yang perlu dicermati, karena berkaitan erat dengan sistem Dropshipping:
 
Prinsip Pertama: Kejujuran
Berharap mendapat keuntungan dari suatu perniagaan bukan berarti menghalalkan dusta. Karena itu Rasulullah ﷺ dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya melalui sabda beliau ﷺ:
(البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما) متفق عليه
“Kedua orang yang terlibat transaksi jual-beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka akad jual-beli mereka diberkahi. Namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” Muttafaqun ‘alaih.
 
Prinsip Kedua: Jangan Menjual Barang Yang Tidak Kita Miliki
 
Islam begitu menekankan kehormatan harta kekayaan umatnya. Karena itu, Islam mengharamkan atas umat Islam berbagai bentuk tindakan merampas atau pemanfaatan harta orang lain tanpa izin atau kerelaan darinya. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’ 29]
 
(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه)
 
“Tidak halal harta orang Muslim, kecuali atas dasar kerelaan jiwa darinya”. Riwayat Ahmad, dan lainnya.
Begitu besar penekanan Islam tentang hal ini, sehingga Islam menutup segala celah yang dapat menjerumuskan umat Islam kepada praktik memakan harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan.
 
Prinsip Ketiga: Hindari Riba dan Berbagai Celahnya
Sejarah umat manusia telah membuktikan, bahwa praktik riba senantiasa mendatangkan menghancurkan tatanan ekonomi masyarakat. Wajar bila Islam mengharamkan praktik riba dan berbagai praktik niaga yang dapat menjadi celah terjadinya praktik riba.
 
Di antara celah riba yang telah ditutup dalam Islam adalah: “Menjual kembali barang yang telah kita beli, namun secara fisik belum sepenuhnya kita terima dari penjual”. Belum sepenuhnya kita terima bisa jadi:
 
a. Kita masih satu majlis dengan penjualnya.
b. Atau fisik barang belum kita terima, walaupun kita telah berpisah tempat dengan penjual. Pada kedua kondisi ini kita BELUM DIBENARKAN menjual kembali barang yang telah kita beli, mengingat kedua kondisi ini menyisakan celah terjadinya praktik riba. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:
 
فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن تباع السلع حيث تبتاع حتى يحوزها التجار إلى رحالهم. رواه أبو داود والحاكم
 
Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” [Riwayat Abu dawud dan Al Hakim]
 
Dan pada hadis lain beliau ﷺ bersabda:
 
(مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ(. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. متفق عليه
 
“Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali, hingga ia benar-benar telah menerimanya” Ibnu ‘Abbas berkata: Dan saya berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan. [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan ini menyatakan:
 
ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ.
 
”Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sekadar kedok belaka).” [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sistem Dropshipping pada tahapan praktiknya bisa saja melanggar ketiga prinsip di atas, atau salah satunya, sehingga keluar dari aturan syariat alias HARAM. Seorang Dropshipper bisa saja mengaku sebagai pemiliki barang, atau paling kurang sebagai agen, padahal pada kenyataannya tidak demikian. Karena dusta ini bisa jadi konsumen menduga, bahwa ia mendapatkan barang dengan harga murah dan terbebas dari praktik percaloan, padahal kenyataannya tidak demikian. Andai ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang agen atau pihak kedua, bisa saja ia mengurungkan pembeliannya.
 
Pelanggaran bisa juga berupa Dropshipper menawarkan lalu menjual barang yang belum ia terima, walaupun ia telah membelinya dari supplier. Dengan demikian Dropshipper melanggar larangan Nabi ﷺ di atas.
 
Atau bisa jadi Dropshipper menentukan keuntungan melebihi yang diizinkan oleh supplier. Jelaslah ulah Dropshipper ini merugikan supplier, karena barang dagangan miliknya telat laku, atau bahkan kehilangan pasarnya.
 
Solusi:
Agar terhindar dari berbagai pelanggaran di atas, maka kita dapat saja melakukan salah dari beberapa alternatif berikut:
 
Alternatif Pertama: Sebelum menjalankan sistem Dropshipping, terlebih dahulu kita menjalin kesepakatan kerjasama dengan supplier. Atas kerjasama ini kita mendapatkan wewenang untuk turut memasarkan barang dagangannya. Dan atas partisipasi kita dalam pemasaran ini, kita berhak mendapatkan fee alias upah yang nominalnya telah disepakati bersama pula.
 
Penentuan fee atas jasa pemasaran ini bisa saja dihitung berdasarkan waktu kerjasama, atau berdasarkan jumlah barang yang berhasil kita jual. Bila alternatif ini yang menjadi pilihan kita , berarti kita bersama supplier menjalin akad “JU’ALAH” (jual jasa). Yaitu salah satu model dari akad jual-beli jasa yang upahnya ditentukan sesuai dengan hasil kerja, bukan waktu kerja.
 
Alternatif Kedua: Kita juga dapat mengadakan kesepakatan dengan para calon konsumen yang membutuhkan berbagai macam barang. Dan atas jasa kita mengadakan barang, kita mensyaratkan imbalan dalam nominal tertentu. Dengan demikian kita menjalankan model usaha jual beli jasa, atau semacam biro jasa pengadaan barang.
 
Alternatif Ketiga: Kita juga dapat menggunakan skema akad salam dalam aktivitas kita . Dengan demikian kita berkewajiban menyebutkan berbagai kriteria barang kepada calon konsumen, baik dilengkapi dengan gambar barang atau tidak. Dan setelah ada calon konsumen yang berminat terhadap barang yang kita tawarkan dengan harga yang disepakati pula, maka kita baru mengadakan barang. Skema salam samacam ini barang kali yang paling mendekati sistem Dropshipping, walau demikian perlu dicatatkan dua hal penting yang mungkin membedakan antara keduanya:
 
1. Dalam skema akad salam calon konsumen harus melakukan pembayaran secara tunai dan lunas pada awal akad.
2. Semua resiko selama pengiriman barang hingga barang tiba di tangan konsumen menjadi tanggung jawab Dropshipper dan bukan supplier.
 
Alternatif Keempat: Kita menggunakan skema akad MURABAHAH LIL ‘AMIRI BISSYIRA’ (Pemesanan Tidak Mengikat). Yaitu ketika ada calon konsumen yang tertarik dengan barang yang kita pasarkan, segera kita mengadakan barang tersebut sebelum ada kesepakatan harga dengan calon pembeli. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, segera kita mengirimkannya ke calon pembeli. Setiba barang di tempat calon pembeli, kita baru mengadakan negoisasi penjualan dengannya. Dan sudah dapat diduga bahwa calon pembeli memiliki wewenang oenuh untuk membeli atau mengurungkan rencana pembeliannya.
 
Mungkin kita berkata; bila alternatif ini yang saya pilih, betapa besar resiko yang harus saya pikul, dan betapa susahnya kerja saya, terlebih bila calon pembeli berdomisi jauh dari tempat tinggal saya?
 
Apa yang kita utarakan benar adanya. Karena itu mungkin alternatif ini paling sulit untuk diterapkan, terutama bila kita menjalankan bisnis secara online.
 
Walau demikian, bukan berarti besarnya resiko tidak dapat ditanggulangi. Untuk menanggulangi besarnya resiko yang harus kita tanggung, kita sebagai penjual dapat mensyaratkan hak khiyar (hak pilih membatalkan pembelian) kepada supplier dalam batas waktu tertentu. Dengan demikian, bila calon pembeli kita batal membeli, kita dapat mengembalikan barang tersebut kepada supplier . Sebagaimana kita juga dapat mensyaratkan kepada calon pembeli, bahwa batal membeli ia menanggung seluruh biaya mendatangkan barang, dan mengembalikannya kepada supplier.
 
Penutup:
Semoga paparan singkat tentang skema Dropshipping di atas dapat menambah khazanah ilmu agama kita . Dan besar harapan saya semoga Allah taala memudahkan dan memberkahi perniagaan kita . Wallahu taala a’alam bisshawab.
 
 
 
Penulis: Ustadz M. Arifin Badri hafizahullah
#jualbelionline #fikihjualbeli #fiqihjualbeli #hukum #dropshipping #doorshipping #doorshiping #dropshiping #akadjualbeli #agen #calo #sistem #solusidropshipping #jalankeluar #riba #menjualbarangyangtidakadaditangankita #riba #menjualbarangyangtidakadadikita #bisnis #perniagaan #perdagangan #dagang #niaga #dalamIslam #penjualdanpembeli
,

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal dan baligh
  • Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. Jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir.” [QS.. Al Baqarah: 219]

Makna Al Afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab, dengan dalil hadis Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang Muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat, karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

  1. Nishab Emas

Nishab emas sebanyak 20 Dinar. Dinar yang dimaksud adalah Dinar Islam.

  • 1 Dinar = 4,25 gr emas
  • Jadi, 20 Dinar = 85gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatu pun, yaitu dalam emas, sampai memiliki 20 Dinar. Jika telah memiliki 20 Dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ Dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

  1. Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 Dirham, setara dengan 595 gr perak, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

  1. Nishab Binatang Ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak unta, maka nishab unta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

b. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah sapi yang dimiliki: 30-39 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 40-59 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor musinah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 60 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 70 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 80 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 90 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 3 ekor tabi’
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 100 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.

Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing: 40 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 1 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 120 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 2 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 201 – 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 3 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: > 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: setiap 100 ekor kambing adalah 1 ekor kambing
  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam Islam dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [QS.. Al-An’am: 141]

Adapun nishabnya ialah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 Wasaq.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Satu Wasaq setara dengan 60 sha’ [menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364]. Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” [HR. Muslim 2/673]

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

  1. Nishab Barang Dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya:

  • 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • 3) Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki utang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Utang:

  • Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
  • Jadi jumlah harta zakat adalah:
  • Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
  • Zakat yang harus dibayarkan:
  • Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
  1. Nishab Harta Karun

Harta karun yang ditemukan wajib dizakati secara langsung, tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” [HR. Muttafaqun alaihi]

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun, ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata: “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada Muharram 1423 H, lalu Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

***

Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Dipublikasikan ulang oleh www.Muslim.or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

 

,

APA HUKUM JUAL BELI DI MASJID?

APA HUKUM JUAL BELI DI MASJID?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

APA HUKUM JUAL BELI DI MASJID?

Pertanyaan:

Bagaimana hukum jual-beli di mesjid? Manakah yang termasuk batas-batas mesjid?

Jawaban:

Hukum jual-beli di mesjid adalah HARAM, berdasarkan hadis-hadis berikut:

عَن أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوا لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika kamu melihat orang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah: ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.’” [Tirmidzi: 1232 dan beliau berkata: “Hasan Gharib,” Abu Daud: 400, ad-Darimi: 1365, Shahih Ibnu Hibban: 1650, dinilai shahih oleh al-Albani dan ar-Arnauth dalam Shahih Ibnu Hibban]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِد

“Nabi ﷺ melarang jual-beli di mesjid.” [Ibnu Majah : 749]

Imam Syaukani berkata: “Dua hadis ini menunjukkan haramnya jual-beli, bersyair, dan mengadakan halaqah sebelum shalat. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa larangan ini hanya makruh.

Al-Iraqi berkata: “Ulama telah bersepakat, bahwa jual-beli yang telah terjadi di mesjid tidak boleh dibatalkan.” Demikian pula kata al-Mawardi.

Engkau mengetahui, bahwa memalingkan (hukum) larangan kepada makruh membutuhkan qarinah (dalil pendukung) yang memalingkan, dan makna yang hakiki yaitu haram, menurut orang-orang yang berpendapat, bahwa larangan itu pada hakikatnya adalah untuk pengharaman, dan ini adalah benar.

Juga ijma’ (kesepakatan) mereka, bahwa jual-beli yang telah terjadi itu sah, dan tidak boleh dibatalkan, tidak bertentangan dengan larangan jual-beli (maksudnya, jual-beli tersebut tetap sah tetapi haram, pelakunya berdosa, pent). Maka, hal itu tidak boleh dijadikan sebagai qarinah, guna memalingkan larangan kepada hukum makruh.

Sebagian murid asy-Syafi’i berpendapat, bahwa jual-beli di mesjid tidak makruh. Hadis-hadis tadi membantah mereka. Sedangkan murid-murid Abu Hanifah membedakan, bahwa jual-beli yang ramai itu dibenci, sedangkan yang tidak ramai itu tidak dibenci. Pembedaan ini tidak ada dalilnya. [Nailul Authar: 2/455, no. Hadis 641]

Imam Tirmidzi berkata: “Sebagian ahli ilmi membolehkan jual-beli di mesjid.”

Al-Allamah Mubarakfuri dalam syarahnya berkata: “Saya tidak mendapatkan dalil yang menunjukkan demikian. Bahkan hadis-hadis bab merupakan hujjah (membantah) orang yang membolehkan.” (Tuhfatul Ahwadzi)

Syaikh Salim al-Hilali dalam al-Manahi asy-Syari’iyyah: 1/371 menyimpulkan:

“Jual-beli di mesjid adalah haram, sebab mesjid adalah pasar Akhirat. Termasuk di antara adab-adab di mesjid adalah menyucikannya dari perkara dunia, dan apa pun yang tidak ada kaitannya dengan Akhirat.

Larangan jual-beli di mesjid tidak mengharuskan batalnya akad. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya membuat bab “Perintah untuk Melaknat kepada Orang Yang Berjual-Beli di Mesjid Agar Tidak Beruntung Dagangannya”. Ini menunjukkan bahwa jual beli itu sah, meskipun orang yang melakukan berdosa. Katanya lagi: “Kalaulah jual-beli tidak sah, maka sabda beliau ﷺ: ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu’ tidak ada artinya.”

 

[Majalah Al-Furqon, edisi 5, tahun ke-4 1425 H]

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/2030-jual-beli-di-masjid.html

, , ,

JUAL BELI AS SALAM

JUAL BELI AS SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#FatwaUlama

JUAL BELI AS SALAM

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Di antara bukti kesempurnaan agama Islam ialah dibolehkannya jual beli dengan cara Salam, yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati, dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan. Yang demikian itu dikarenakan, dengan akad ini kedua belah pihak mendapatkan keuntungan, tanpa ada unsur tipu-menipu atau ghoror (untung-untungan).

Pembeli (biasanya) mendapatkan keuntungan berupa:

  1. Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan, dan pada waktu yang ia inginkan.
  2. Sebagaimana ia juga mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah, bila dibandingkan dengan pembelian pada saat ia membutuhkan kepada barang tersebut.

Sedangkan penjual juga mendapatkan keuntungan yang tidak kalah besar dibanding pembeli, di antaranya:

  1. Penjual mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga. Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya, dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.
  2. Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.

Jual-beli dengan cara Salam merupakan solusi tepat yang ditawarkan oleh Islam, guna menghindari riba. Dan mungkin ini merupakan salah satu hikmah disebutkannya syariat Jual-Beli Salam seusai larangan memakan riba. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

أشهد أن السلف المضمون إلى أجل مسمى قد أحله الله في الكتاب وأذن فيه، قال الله عز وجل يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه الآية. رواه الشافعي والطبري عبد الرزاق وابن أبي شيبة والحاكم والبيهقي وصححه الألباني

“Saya bersaksi, bahwa jual-beli As Salaf yang terjamin hingga tempo yang ditentukan, telah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman (artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (Riwayat As Syafi’i, At Thobary, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dan Al Baihaqy, dan dishohihkan oleh Al Albany)

Di antara dalil yang menguatkan penafsiran sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu di atas ialah akhir dari ayat tersebut yang berbunyi:

وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيرًا أَو كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا

“Janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar, sampai batas waktu pembayarannya.Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, dan lebih dapat menguatkan persaksian, dan lebih dekat kepada tidak menimbulkan keraguanmu. (Tulislah muamalah itu), kecuali bila muamalah itu berupa perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Maka tiada dosa atasmu, bila kamu tidak menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Dengan demikian, ayat di atas merupakan dalil disyariatkannya Jual-Beli Salam. Di antara dalil lain disyariatkannya Salam ialah hadis berikut:

عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: قَدِمَ النبي صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ. فقال: من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallhu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau ﷺ bersabda: ‘Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Syarat-Syarat Jual Beli Salam

Berdasarkan dalil di atas dan juga lainnya, para ulama’ telah menyepakati akan disyariatkanya Jual-Beli Salam.

Walau demikian, sebagaimana dapat dipahami dari hadis di atas, Jual-Beli Salam memiliki beberapa ketentuan (persyaratan) yang harus diindahkan. Persyaratan-persyaratan tersebut bertujuan untuk mewujudkan maksud dan hikmah dari disyariatkannya Salam, serta menjauhkan Akad Salam dari unsur riba dan ghoror (untung-untungan/spekulasi) yang dapat merugikan salah satu pihak.

Syarat Pertama: Pembayaran Dilakukan di Muka (kontan)

Sebagaimana dapat dipahami dari namanya, yaitu as Salam, yang berarti penyerahan, atau as salaf, yang artinya mendahulukan, maka para ulama’ telah menyepakati, bahwa pembayaran pada akad as Salam harus dilakukan di muka atau kontan, tanpa ada sedikit pun yang terutang atau ditunda.

Adapun bila pembayaran ditunda (diutang), sebagaimana yang sering terjadi, yaitu dengan memesan barang dengan tempo satu tahun, kemudian ketika pembayaran, pemesan membayar dengan menggunakan cek atau bank garansi, yang hanya dapat dicairkan setelah beberapa bulan yang akan datang, maka akad seperti ini terlarang dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

عن بن عمر  ضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع الكالئ بالكالئ. رواه الدارقطني والحاكم والبيهقي وضعَّفه غير واحد من أهل العلم، منهم الشافعي وأحمد وأقرهما الألباني.

“Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ melarang jual-beli piutang dengan piutang.” (Riwayat Ad Daraquthny, Al Hakim dan Al Baihaqy dan hadis ini dilemahkan oleh banyak ulama’ di antaranya Imam As Syafi’i, Ahmad, dan disetujui oleh Al Albany)

Walau demikian halnya, banyak ulama’ yang menyatakan, bahwa kesepakatan ulama’ telah bulat untuk melarang jual-beli piutang dengan piutang.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Tidak ada satu hadis pun yang Shahih tentang hal ini (larangan menjual piutang dengan piutang-pen), akan tetapi kesepakatan ulama’ telah bulat, bahwa tidak boleh memerjual-belikan piutang dengan piutang.”

Ungkapan senada juga diutarakan oleh Ibnul Munzir. [Silakan baca At Talkhisu Al Habir oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 3/406 & Irwa’ul Ghalil oleh Al Albany 5/220-222]

Ibnul Qayyim berkata: “Allah mensyaratkan pada Akad Salam agar pembayaran dilakukan dengan kontan. Karena bila ditunda, niscaya kedua belah pihak sama-sama berutang tanpa ada faidah yang didapat. Oleh karena itu, akad ini dinamakan dengan as Salam, dikarenakan adanya pembayaran di muka. Sehingga bila pembayaran ditunda, maka termasuk ke dalam penjualan piutang dengan piutang. Bahkan itulah sebenarnya penjualan piutang dengan piutang, dan berisiko tinggi, serta termasuk praktik untung-untungan.” [I’lamul Muwaqqi’in oleh Ibnul Qayyim 2/20]

Syarat Kedua: Dilakukan Pada Barang-barang yang Memiliki Kriteria Jelas

Telah diketahui, bahwa Akad Salam ialah akad penjualan barang dengan kriteria tertentu dan pembayaran di muka. Maka menjadi suatu keharusan, apabila barang yang dipesan adalah barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria. Penyebutan kriteria ini bertujuan untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada d ihadapan mereka berdua. Dengan demikian, ketika jatuh tempo, diharapkan tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.

Adapun barang-barang yang tidak dapat ditentukan kriterianya, misalnya: kulit binatang [Kulit binatang, sebelum diolah, misalnya kulit domba, yang sudah dapat dipastikan lebar, dan mutu pengulitannya berbeda-beda.  Ini pada zaman dahulu. Akan tetapi bila pada zaman sekarng telah ditemukan suatu cara yang dapat menjadikan kulit dapat ditentukan kriterianya, maka tidak ada alasan untuk melarang  Akad Salam pada kulit. Misalnya dengan menggunakan meteran panjang dan lebar], sayur mayur dll. Maka tidak boleh diperjual-belikan dengan cara Salam, karena itu termasuk jual-beli ghoror (untung-untungan) yang nyata-nyata dilarang dalam hadis berikut:

أنَّ النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع الغرر. رواه مسلم

“Bahwasannya Nabi ﷺ melarang jual-beli untung-untungan.” (Riwayat Muslim)

Syarat Ketiga: Penyebutan Kriteria Barang Pada Saat Akad Dilangsungkan

Dari hadis di atas dapat dipahami pula, bahwa pada Akad Salam, penjual dan pembeli berkewajiban untuk menyepakati kriteria barang yang dipesan. Kriteria yang dimaksud di sini ialah segala hal yang bersangkutan dengan jenis, macam, warna, ukuran, jumlah barang, serta setiap kriteria yang diinginkan dan dapat memengaruhi harga barang.

Sebagai contoh: Bila A hendak memesan beras kepada B, maka A berkewajiban untuk menyebutkan: Jenis beras yang dimaksud, tahun panen, mutu beras, daerah asal serta jumlah barang.

Masing-masing kriteria ini memengaruhi harga beras, karena sebagaimana diketahui bersama, harga beras akan berbeda sesuai dengan perbedaan jenisnya. Misalnya: beras Rojo Lele lebih mahal dibanding dengan beras IR.

Sebagaimana beras hasil panen 5 tahun lalu, biasanya lebih murah bila dibanding dengan beras hasil panen tahun ini. Beras grade 1 lebih mahal dari grade 2, dan beras yang dihasilkan di daerah Cianjur, lebih mahal dari beras hasil daerah lainnya, dan seterusnya.

Adapun jumlah barang, maka pasti memengaruhi harga beras, sebab beras 1 ton sudah barang tentu lebih mahal bila dibandingkan dengan beras 1 kwintal dari jenis yang sama. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ pada hadis di atas bersabda:

من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila warna barang memiliki pengaruh pda harga barang, maka warna pun harus disepakati kedua belah pihak. Misalnya kendaraan, harganya selain dipengaruhi oleh hal-hal di atas, juga dipengaruhi oleh warnanya. Kendaraan berwarna putih lebih murah dibanding dengan yang berwarna metalik atau yang serupa. Karenanya, bila seseorang memesan kendaraan, ia harus menentukan warna kendaraan yang diinginkan.

Setelah kriteria barang yang diperlukan telah disepakati, maka kelak ketika telah jatuh tempo, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

A. Kemungkinan Pertama:

Penjual berhasil mendatangkan barang sesuai kriteria yang dinginkan, maka pembeli harus menerimanya, dan tidak berhak untuk membatalkan akad penjualan, kecuali atas persetujuan penjual.

Rasulullah ﷺ bersabda:

المسلمون على شروطهم. رواه أحمد والبيهقي وغيرهما وصححه الألباني

“Kaum Muslimin berkewajiban memenuhi persyaratan mereka.” (Riwayat Ahmad, Al Baihaqy dan lainnya, dan hadis ini diShahihkan oleh Al Albani)

B. Kemungkinan Kedua:

Penjual hanya berhasil mendatangkan barang yang kriterianya lebih rendah, maka pembeli berhak untuk membatalkan pesanannya, dan mengambil kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan kepada penjual. Sebagaimana ia juga dibenarkan untuk menunda, atau membuat perjanjian baru dengan penjual, baik yang berkenaan dengan kriteria barang atau harga barang, dan hal lainnya yang berkenaan dengan akad tersebut. Atau menerima barang yang telah didatangkan oleh penjual, walaupun kriterianya lebih rendah, dan memaafkan penjual atau dengan membuat akad  jual-beli baru.

Sikap apapun yang ditentukan oleh pemesan pada keadaan seperti ini, maka ia tidak dicela karenanya.

Walau demikian, ia dianjurkan untuk memaafkan, yaitu dengan menerima barang yang telah didatangkan penjual, atau dengan memberikan tenggang waktu lagi, agar penjual dapat mendatangkan barang yang sesuai dengan pesanan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

رَحِمَ الله رَجُلاً سَمْحاً إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى. رواه البخاري.

Dari sahabat Jabir bin Abdillah semoga Allah meridhai keduanya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, ketika membeli dan ketika menagih.” (Riwayat Bukhary)

Selain dianjurkan untuk memaafkan, pemesan juga disyariatkan untuk tetap menampakkan budi dan perilaku luhur sebagai seorang Muslim, sehingga tidak hanyut dalam amarah, dan bersikap kurang terpuji. Rasulullah ﷺ bersabda:

من طلب حقا فليطلبه في عفاف واف أو غير واف. رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم

“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim. [Hadis yang mengandung ajaran mulia nan indah ini, merupakan setetes dari lautan keindahan syariat Islam, sekaligus bukti, bahwa Islam adalah ajaran yang datang dari Allah ta’ala, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana])

C. Kemungkinan Ketiga:

Penjual mendatangkan barang yang lebih bagus dari yang telah dipesan, dengan tanpa meminta tambahan bayaran, maka para ulama’ berselisih pendapat, apakah pemesan berkewajiban untuk menerimanya atau tidak?

Sebagian ulama’ menyatakan, bahwa pemesan berkewajiban untuk menerima barang tersebut, dan ia tidak berhak untuk membatalkan pemesanannya.

Mereka berdalih, bahwa penjual telah memenuhi pesanannya tanpa ada sedikit pun kriteria yang terkurangi. Dan bahkan ia telah berbuat baik kepada pemesan, dengan mendatangkan barang yang lebih baik tanpa meminta tambahan uang. [Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/425, Al Mughni oleh Ibnu Ghudamah 6/421, Mughni Al Muhtaj oleh As Syarbini 2/115,  & As Syarah Al Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/69]

Sebagian ulama’ lainnya berpendapat, bahwa pemesan berhak untuk menolak barang yang didatangkan oleh penjual, apabila ia menduga, bahwa suatu saat penjual akan menyakiti perasaannya, yaitu dengan mengungkit-ungkit kejadian tersebut di hadapan orang lain. Akan tetapi bila ia yakin, bahwa penjual tidak akan melakukan hal itu, maka ia wajib untuk menerima barang tersebut. Hal ini karena penjual telah berbuat baik, dan setiap orang yang berbuat baik, tidak layak untuk dicela atau disusahkan:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ. التوبة 91

“Tiada jalan sedikitp un untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 91) [Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/425, Al Mughni oleh Ibnu Ghudamah 6/421, Mughni Al Muhtaj oleh As Syarbini 2/115,  & As Syarah Al Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/69]

Pendapat kedua inilah yang lebih moderat dan kuat, karena padanya tergabung seluruh dalil dan alasan yang ada pada permasalahan ini. Wallahu a’alam bis showab.

Syarat Keempat: Penentuan Tempo Penyerahan Barang Pesanan

Tidak aneh bila pada Akad Salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk mengadakan kesepakatan tentang tempo pengadaan barang pesanan. Dan tempo yang disepakati, menurut kebanyakan ulama’, haruslah tempo yang benar-benar memengaruhi harga barang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagai contoh: Bila A memesan kepada B, 1 ton beras jenis Cisadane, hasil panen tahun ini, dan mutu no 1, maka keduanya harus menyepakati tempo/waktu penyediaan beras, dan tempo tersebut benar-benar memengaruhi harga beras, misalnya 2 atau 3 bulan.

Akan tetapi bila keduanya menyepakati tempo yang tidak berpengaruh pada harga beras, misalnya: 1 atau 2 minggu atau kurang, atau bahkan tidak ada tempo sama sekali, maka menurut Jumhur Ulama’, akad mereka berdua tidak dibenarkan.

Ini adalah pendapat Jumhur Ulama’. Mereka berdalil dengan teks hadis di atas:

إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadis ini, Nabi ﷺ mensyaratkan, agar pada Akad Salam ditentukan tempo yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Sebagaimana mereka juga berdalil dengan hikmah dan tujuan disyariatkannya Akad Salam, yaitu pemesan mendapatkan barang dengan harga yang murah, dan penjual mendapatkan keuntungan dari usaha yang ia jalankan dengan dana dari pemesan tersebut, yang telah dibayarkan di muka. Oleh karenanya, bila tempo yang disepakati tidak memenuhi hikmah dari disyariatkannya Salam, maka tidak ada manfaatnya Akad Salam yang dijalin. [Baca Bada’ius Shanai’i oleh Al Kasaany 4/448,  Al Bidayatul Mujtahid oleh Ibnu Rusyd 7/394-396, & Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/402-404]

Pendapat kedua: Ulama’ mazhab Syafi’i tidak sependapat dengan Jumhur Ulama’. Mereka menyatakan, bahwa penentuan tempo dalam Akad Salam bukanlah persyaratan yang baku, sehingga dibenarkan bagi pemesan untuk memesan barang dengan tanpa tenggang waktu yang memengaruhi harga barang, atau bahkan dengan tidak ada tenggang waktu sama-sekali.

Mereka beralasan, bahwa bila pemesanan barang yang pemenuhannya dilakukan setelah berlalu waktu cukup lama dibenarkan, yang mungkin saja penjual tidak berhasil memenuhi pesanan, maka pemesanan yang langsung dipenuhi seusai akad lebih layak untuk dibenarkan. [Baca Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/396 & Mughnil Muhtaj oleh As Syarbiny 2/105]

Bila kita cermati kedua pendapat di atas, maka kita dapatkan, pendapat kedualah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:

  1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Sedangkan pada permasalahan kita ini, tidak ada satu dalil pun yang nyata-nyata melarang Akad Salam yang tidak mengandung tenggang waktu pada proses penyerahan barang pesanan.
  2. Berdasarkan alasan di atas, sebagian ulama’ menyatakan, bahwa selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.
  3. Adapun hadis di atas, maka tidak tegas dalam pensyaratan tempo, sebagaimana hadis ini dapat ditafsirkan: “Bila kalian memesan hingga tempo tertentu, maka tempo tersebut haruslah diketahui/disepakati oleh kedua belah pihak.” Penafsiran ini nampak kuat bila kita kaitkan dengan hal lain yang disebutkan pada hadis di atas, yaitu timbangan dan takaran. Para ulama’ telah sepakat, bahwa timbangan dan takaran tidak wajib ada pada setiap Akad Salam. Timbangan dan takaran wajib diketahui bersama, bila Akad Salam dijalin pada barang-barang yang membutuhkan kepada takaran atau timbangan. Adapun pada barang yang penentuan jumlahnya dilakukan dengan menentukan hitungan, misalnya Salam pada kendaraan, maka sudah barang tentu takaran dan timbangan tidak ada perlunya disebut-sebut. [Baca Ikhtiyarat Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah (dicetak bersama Al Fatawa Al Kubra 5/393 & As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/77-78]

Setelah persyaratan tempo pengadaan barang ini disepakati oleh kedua belah pihak, maka ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada saat jatuh tempo:

A. Kemungkinan Pertama: Pedagang berhasil mendatangkan barang pesanan tepat pada tempo yang telah disepakati. Maka pada keadaan ini, pemesan berkewajiban untuk menerimanya.

B. Kemungkinan Kedua: Pedagang tidak dapat mendatangkan barang pesanan, maka pemesan berhak menarik kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan, atau memerbaharui perjanjian, dengan membuat tempo baru. [Baca Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/407]

C. Kemungkinan Ketiga: Pedagang mendatangkan barang sebelum tempo yang telah disepakati. Pada keadaan ini, apabila pemesan tidak memiliki alasan untuk menolak barang yang ia pesan, maka ia diwajibkan untuk menerimanya. Hal ini dikarenakan pedagang telah berbuat baik, yaitu dengan menyegerakan pesanan, dan orang yang berbuat baik tidak layak untuk disalahkan:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ. التوبة 91

“Tiada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 91)

Adapun bila pemesan memiliki tujuan yang dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya kecuali pada tempo yang telah disepakati, maka ia dibenarkan untuk menolaknya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

لا ضَرَرَ ولا ضِرَار. رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.

“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan.” (Riwayat Ahmad, Ibhnu Majah dan dihasankan oleh Al Albany)

Sebagai contoh: Bila barang yang dipesan adalah buah-buahan sehingga cepat rusak, padahal pemesan bermaksud menjualnya pada tempo yang telah disepakati, karena pada saat itu harga buah tersebut lebih mahal, atau banyak peminatnya, maka pemesan dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya, kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Atau barang pesanannya membutuhkan gudang yang luas, sedangkan saat itu gudang yang dimiliki oleh pemesan sedang penuh, maka ia dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya, kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Syarat Kelima: Barang Pesanan Tersedia di Pasar Pada Saat Jatuh Tempo

Pada saat menjalankan Akad Salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memerhitungkan ketersediaan barang pada saat jatuh tempo. Persyaratan ini demi menghindarkan Akad Salam dari praktik tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syariat Islam.

Sebagai contoh: Bila seseorang memesan buah musiman seperti durian atau mangga dengan perjanjian: “Barang harus diadakan pada selain waktu musim buah durian dan mangga”, maka pemesanan seperti ini tidak dibenarkan. Selain mengandung unsur ghoror (untung-untungan), akad semacam ini juga akan menyusahkan salah satu pihak. Padahal di antara prinsip dasar perniagaan dalam Islam ialah “memudahkan”, sebagaimana disebutkan pada hadis berikut:

لا ضَرَرَ ولا ضِرَار. رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.

“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan.” (Riwayat Ahmad, Ibhnu Majah dan dihasankan oleh Al Albany)

Ditambah lagi pengabaian syarat tersedianya barang di pasaran pada saat jatuh tempo akan memancing terjadinya percekcokan dan perselisihan yang tercela. Padahal setiap perniagaan yang rentan menimbulkan percekcokan antara penjual dan pembeli pasti dilarang. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره. متفق عليه

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau saling hasad. Janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya). Janganlah saling membenci. Janganlah saling merencanakan kejelekan. Janganlah sebagian dari kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Tidaklah ia menzalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Syarat Keenam: Barang Pesanan Adalah Barang yang Pengadaannya Dijamin Pengusaha

Yang dimaksud dengan barang yang terjamin adalah barang yang dipesan tidak ditentukan selain kriterianya. Adapun pengadaannya, maka diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha, sehingga ia memiliki kebebasan dalam hal tersebut. Pengusaha berhak untuk mendatangkan barang dari ladang atau persedian yang telah ada, atau dengan membelinya dari orang lain.

Persyaratan ini bertujuan untuk menghindarkan Akad Salam dari unsur ghoror (untung-untungan). Sebab bisa saja kelak ketika jatuh tempo, pengusaha, dikarenakan suatu hal, tidak bisa mendatangkan barang dari ladangnya, atau dari perusahaannya.

Sebagai contoh: Bila seorang pedagang memesan gabah kepada seorang petani dengan kriteria yang telah disepakati, maka pada Akad Salam ini, petani tidak boleh dibatasi ruang kerjanya, yaitu dengan menyatakan: gabah yang didatangkan harus dari hasil ladang miliknya sendiri. Akan tetapi petani harus diberi kebebasan, sehingga ketika jatuh tempo, ia berhak menyerahkan gabah dari hasil ladang sendiri, atau dari hasil ladang orang lain, yang telah ia beli terlebih dahulu .

Contoh lain: Seorang pedagang yang di tokonya telah tersedia 100 bungkus semen, @ 50 kg dari merek tertentu, tatkala Anda memesan 50 bungkus semen dari merek tersebut yang beratnya @ 50 kg, untuk tempo 4 bulan yang akan datang, maka ketika Anda membuat perjanjian Salam dengannya, Anda berdua tidak dibenarkan untuk mensyaratkan, agar semen yang diserahkan kelak adalah dari ke 100 bungkus semen yang sekarang ini telah dimiliki oleh pedagang. Karena mungkin saja semen yang serang telah ada ketika telah jatuh tempo menjadi rusak, atau dicuri orang.

Persyaratan ini adalah pendapat Jumhur Ulama’. Sedangkan sebagian ulama berpendapat, bahwa persyaratan ini tidak diperlukan [Untuk lebih luas membaca keterangan ulama’ tentang persyaratan ini, silakan baca buku: Al ‘Aziz oleh Ar Rafi’i 4/394-396, Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/406, & Fathul Bary oleh Ibnu Hajar al ‘Asqalaany 4/433], dengan alasan:

  1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang telah nyata-nyata diharamkan dalam dalil.
  2. Berdasarkan hukum asal di atas, sebagian ulama’ menyatakan, selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.

Oleh karena itu, ulama’ yang berpendapat dengan pendapat kedua ini menyatakan, bahwa akad pemesanan dari barang yang telah ada dan terbatas jumlahnya, pada hakikatnya bukanlah Akad Salam/pemesanan, akan tetapi akad jual beli biasa. Hanya saja diiringi dengan akad lain, yaitu penitipan barang dalam tempo waktu yang disepakati.

Dengan demikian, pada contoh kasus pemesanan semen di atas, pemesan telah membeli 50 bungkus semen, ketika akad berlangsung, dan sekaligus menitipkan semen yang telah ia beli kepada pemilik toko hingga tempo 4 bulan. [Baca As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/84]

Permasalahan ini tercakup oleh kaidah fikih yang sangat masyhur, yaitu:

هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُودِ أَوْ بِمَعَانِيهَا ؟

“Apakah yang menjadi pedoman dalam menghukumi suatu akad adalah kata-kata yang diucapkan ketika menjalankan akad, atau maknanya?” [Yang lebih kuat ialah pendapat yang menyatakan, bahwa yang menjadi pedoman dalam menghukumi suatu akad ialah maksud dan maknanya, bukan sekedar lahir dari kata-kata yang diucapkan oleh pelaku transaksi tersebut. Bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang kaidah ini, silakan baca kitab Al Fatawa Al Kubra oleh Ibnu Taimiyyah 6/31-dst, I’ilamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qayyim 3/98-dst, Taqrirul Qawaid oleh Ibnu Rajab 1/267-273, Al Mantsur oleh Az Zarkasyi 2/371, Al Asybah wa An Nazhair oleh As Suyuthi hal: 166]

Bila demikian adanya, maka pendapat yang lebih kuat ialah pendapat kedua. [Baca As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin 9/83-84]

Inilah persyaratan Akad Salam secara global, dan yang berdasarkan ilmu saya yang sempit, rajih dari berbagai persyaratan yang disebutkan dalam berbagai buku fikih.

Fatwa-Fatwa Seputar Transaksi Salam

Selanjutnya, di bawah ini beberapa fatwa Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia yang berkaitan dengan berbagai transaksi Salam:

A. Pertanyaan:

Apabila ada seseorang yang sedang dalam kebutuhan, lalu ia mengambil dari orang lain sejumlah uang, dengan perjanjian: pengutang akan membayarnya setelah beberapa lamanya dengan beberapa sho’ gandum atau kurma. Dan perjanjian ini dilakukan sebelum gandum dan kurma menua siap dipanen?

Jawaban:

Bila pengutang berjanji untuk membayar piutang dengan sejumlah sho’ yang telah disepakati, maka kasus ini tergolong ke dalam permasalahan Salam. Dan Salam adalah salah satu bentuk transaksi jual-beli yang dibolehkan dengan beberapa persyaratan, yaitu:

  • Pertama: Dilakukan pada barang-barang yang dapat ditentukan kriterianya.
  • Kedua: Kedua belah pihak menyepakati berbagai kriteria barang yang memengaruhi harganya.
  • Ketiga: Hendaknya jumlah barang ditentukan, baik dengan takaran pada komoditi yang ditakar, atau dengan timbangan pada komoditi yang ditimbang, atau dengan meteran pada komoditi yang dihitung panjangnya. [Persyaratan ini, pada pembahasan sebelumnya, sengaja saya gabungkan dengan persyaratan kedua]
  • Keempat: Hendaknya pengadaan barang dilakukan setelah berlalunya tempo yang disepakati.
  • Kelima: Hendaknya komoditi yang dipesan adalah komoditi yang banyak diperoleh pada saat jatuh tempo.
  • Keenam: Hendaknya pembayaran dilakukan pada saat transaksi berlangsung.
  • Ketujuh: Hendaknya barang pesanan adalah barang yang pengadaannya dijamin oleh pengusaha, dan bukan barang yang telah ada.

Dasar dihalalkannya transaksi Salam dari Alquran adalah firman Allah ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Saya bersaksi, bahwa transaksi Salaf (Salam) yang terjamin hingga tempo yang ditentukantelah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Alquran, kemudian beliau membaca ayat tersebut. (Diriwayatkan oleh Sa’id -bin Manshur-pen)

Dan di antara dalil dari As Sunnah ialah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa tatkala Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, (beliau mendapatkan penduduknya) memesan buah-buahan dalam tempo satu atau  dua tahun, maka beliau ﷺ bersabda:

من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم. متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/94, Fatwa no: 437]

B. Pertanyaan:

Seseorang memberikan sejumlah pinjaman uang kepada pengusaha lebah madu, dengan perjanjian: ketika musim panen tiba, pemberi pinjaman berhak mengambil madu yang ia suka seharga pinjaman tersebut. Dan kadang kala musim panen tiba, sedangkan pengusaha lebah madu tidak mendapatkan madu sesuai kriteria pemberi piutang, atau mungkin pengusaha lebah telah menjual lebahnya atau lebahnya pergi. Apa hukum uang pinjaman tersebut? Berilah kami arahan, semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Jawaban:

Transaksi jual beli yang disebutkan pada pertanyaan adalah salah satu bentuk transaksi Salam. Hanya saja transaksi tersebut terlaksana dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, karena menyelisihi ketentuan Akad Salam. Yang demikian itu karena Salam adalah akad jual-beli terhadap sesuatu barang yang telah ditentukan kriterianya dan dijamin pengadaanya oleh pengusaha, dengan disertai persyaratan berikut:

  1. Penentuan kriterianya dimulai dari jumlah takaran atau timbangan, atau meteran, dan juga jenis serta segala kriteria yang memengaruhi harganya.
  2. Adanya praduga kuat tentang kemampuan pengusaha untuk mengadakan barang ketika jatuh tempo.
  3. Penentuan tempo pengadaan barang.
  4. Pembayaran sepenuhnya dilakukan di muka, ketika akad berlangsung.

Sedangkan kasus yang disebutkan pada pertanyaan, maka itu adalah transaksi terhadap suatu barang yang pengadaannya tidak dijamin oleh pengusaha, dikarenakan ia memesan hanya dari hasil ladang lebah yang telah dimiliki. Sebagaimana halnya mereka berdua belum menyepakati jumlah madu dalam hitungan kilo yang dipesan, serta tidak menyebutkan tempo penyerahan madu.

Transaksi ini serupa dengan transaksi yang dahulu dilakukan oleh penduduk Madinah yang menerima pesanan kurma dari hasil kebun mereka sendiri. Tatkala Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, beliau ﷺ melarang akan hal itu, dengan alasan  ghoror (untung-untungan) yang ada padanya. Karena mungkin saja kebun tersebut terkena musibah, sehingga tidak menghasilkan.

Ibnu Hajar dalam kitab (Fathul Bary 4/433) berkata: “Ibnu Munzir menukilkan kesepakatan Jumhur Ulama’ yang melarang transaksi Salam pada ladang tertentu; karena itu adalah ghoror/untung-untungan.”

Oleh karenanya dinyatakan pada hadis Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu:

قَدِمَ النبي صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمَارِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ. فقال: من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

Ketika Nabi ﷺ tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berdasarkan itu, maka transaksi Salam yang disebutkan pada pertanyaan tidak sah, karena tidak memenuhi kebanyakan dari persyaratan Salam. Dengan demikian, transaknya tidak sempurna, dan wajib atas pengusaha (lebah) untuk mengembalikan uang tersebut kepada pemesan.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/108, Fatwa no: 19612]

C. Pertanyaan:

Di Sudan ada seseorang yang biasa memanfaatkan perekonomian masyarakat (kaum Muslimin) yang susah, dengan membeli hasil panen mereka jauh-jauh hari sebelum musim panen tiba, dengan harga yang sangat murah. Dan ketika musim panen tiba, ia benar-benar menerima seluruh hasil panen mereka. Menurut syariat, apa hukum perbuatannya tersebut?

Jawaban:

Bila orang tersebut membeli dari para petani atau lainnya hasil panen ladang mereka, dengan persyaratan yang sesuai dengan Jual-Beli Salam, yaitu dengan cara menyebutkan kriteria hasil ladang, dalam takaran atau timbangan yang telah disepakati, serta pembayaran sepenuhnya dilakukan pada saat transaksi, tanpa menentukan, bahwa hasil ladang yang ia beli adalah hasil dari ladang tertentu, maka transaksi ini dibolehkan, dan itulah transaksi Salam yang disyariatkan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم. متفق عليه

“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih)

Adapun bila orang tersebut membeli hasil panen ladang tertentu sebelum masa tanaman menua dan siap panen, maka itu tidak dibolehkan. Hal itu karena Nabi ﷺ melarang kita untuk menjual buah-buahan hingga menua dan biji-bijian hingga mengeras.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitab Shohihnya dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma:

أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع النخل حتى يزهو، وعن بيع السنبل حتى يبيض ويأمن العاهة، نهى البائع والمشتري. متفق عليه

“Bahwa Rasulullah ﷺ melarang jual-beli kurma hingga menua, dan jual-beli biji-bijian hingga memutih dan selamat dari bencana (puso). Beliau melarang penjual dan pembeli.” (Muttafaqun ‘alaih)

Tanda menuanya buah-buahan ialah dengan berwarna merah atau kuning dan enak untuk dimakan.

Apabila ia membeli hasil ladang setelah buah-buahan menua dan biji-bijian mengeras, maka itu adalah transaksi yang dibolehkan, dan tidak mengapa.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 14/88, Fatwa no: 19690]

D. Pertanyaan:

Apa hukumnya menyewakan kebun kelapa? Maksudnya: Seseorang yang memiliki kebun kelapa, kemudian ia menerima dari orang lain uang sebesar 1000 Peso, dengan perjanjian: Buah kelapa kebun tersebut menjadi milik penyewa selama lima tahun. Apakah transaksi in dibolehkan dalam Islam atau tidak?

Jawaban:

Transaksi ini terlarang, dikarenakan padanya terdapat unsur ketidak jelasan dan ghoror (untung-untungan). Yang demikian itu karena mereka tidak dapat mengetahui, seberapa banyak buah kelapa yang akan dihasilkan oleh kebun tersebut selama lima tahun ke depan. Mungkin saja kebun itu berbuah dan mungkin juga tidak berbuah, mungkin berbuah sedikit dan mungkin juga berbuah banyak. Dan telah tetap, bahwa Nabi ﷺ “Melarang dari jual-beli buah-buahan hingga memerah atau menguning” [Riwayat Imam Ahmad, Bukhory, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hibban, At Thoyalisi, At Thohawy dan Al Baihaqy dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu], dan telah tetap pula, bahwa beliau ﷺ “Melarang dari jual-beli biji-bijian hingga mengeras.” [Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ad Daraquthny, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Al Hakim, At Thohawy, dan Al Baihaqy dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu]. Sebagaimana beliau ﷺ juga melarang dari “Jual-beli Al Mu’awamah/tahunan” [Diriwayatkan dengan lafadz Al Mu’awamah oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, At Thohawy, Ibnul Jarud, dan Al Baihaqy],  serta jual-beli As Sinin/Tahunan.” [Diriwayatkan dengan lafadz As sinin oleh Imam As Syafi’i, Ahmad, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Daraquthni, Al Humaidy, Ibnu Bai Syaibah, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Ibnul Jarud, At Thohawy, dan Al Baihaqy]

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, 14/84, Fatwa no: 12990]

E. Pertanyaan

Salah seorang masyarakat mendatangi seseorang yang kaya raya untuk memesan satu unit mobil. Pada saat itu disepakati jenis dan model mobil yang diinginkan. Kemudian orang tersebut menyerahkan sejumlah uang yang ia mampu bayarkan, dengan perjanjian ia akan memberi keuntungan, misalnya sebesar sepuluh ribu atau lebih, sesuai dengan harga mobil di show room. Setelah kesepakatan itu orang kaya tersebut akan pergi ke show room guna membeli mobil dimaksud, kemudian ia menyerahkannya kepada pemesan. Pada gilirannya pemesan melunasi sisa pembayaran dengan dicicil sesuai dengan perjanjian.

Jawaban:

Bila perjanjian jual-beli antara kedua belah pihak dengan harga dan mobil, dan setelah keduanya menyepakati kriteria mobil tanpa menentukan barangnya, dan sebelum pengusaha tersebut membeli mobil dimaksud. Bila demikian adanya, maka itu termasuk Akad Salam tanpa ada tempo, dikarenakan pembayaran atau sebagainnya terutang, sehingga termasuk jual-beli piutang dengan piutang. Disebabkan dengan disepakatinya akad jual-beli, maka mobil pembeli menjadi terutang oleh pengusaha, sebagaimana harga mobil terutang oleh pemesan, karena keduanya sama-sama belum menyelesaikan tanggungannya. Dan transaksi semacam ini adalah terlarang.

Metode yang benar ialah: Hendaknya kedua belah pihak tidak terlebih dahulu membuat akad jual-beli, akan tetapi pengusaha membeli mobil dan membawanya pulang terlebih dahulu. Setelahnya ia dibolehkan untuk menjual mobil tersebut dengan harga yang mereka sepakati. Dengan pembayaran dicicil beberapa kali atau dengan sekali pembayaran pada tempo tertentu. Metode ini disebut dengan jual-beli dengan pembayaran diutang, dan itu dibolehkan.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” [Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, 14/99, Fatwa no: 6097]

***

 

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

[Artikel www.pengusahaMuslim.com]

Sumber: http://pengusahamuslim.com/1154-jual-beli-as-salam.html

, ,

CERAI GARA-GARA FACEBOOK

CERAI GARA-GARA FACEBOOK

CERAI GARA-GARA FACEBOOK

  • Istri Sering Main Facebook, Suami Marah

Pertanyaan:

Semalam saya dan suami bertengkar masalah Facebook (FB). Suami tidak suka saya bermain FB, mengomentari teman dll. Saya jelaskan sama suami kalau saya main FB hanya untuk ajang silaturrahmi. Tapi dia masih tetap marah dan kami saling memertahankan ego masing-masing, karena mungkin kami merasa sama-sama benar.

Lalu keluarlah kata-kata dari suami saya: “Kalau kamu lebih memilih Facebook, pergi aja sana.” Mendengar kata-kata itu, saya terkejut dan takut kalau-kalau itu masuk cerai. Lalu saya bilang sama suami: “Kenapa ngomong asal. Sudah jatuh thalaq untuk saya, dan semuanya sia-sia. Kita sudah tidak bisa bersama lagi”. Lalu suami saya menjawab: “Habisnya kamu dibilangin susah”.

Bagaimana hukumnya? Apakah benar telah jatuh thalaq untuk saya?

Jawaban:

Pilih Facebook atau Keluarga?

Pertama, Sikap Anda memertahankan Facebook = termasuk kesalahan. Apalagi dilarang suami. Minimal, Facebook telah menjadi sebab bencana bagi keluarga Anda. Dan tidak menutup kemungkinan, semacam ini juga menimpa keluarga kaum Muslimin yang lain. Sementara Anda sama sekali tidak diuntungkan Facebook. Seharusnya teknologi melayani kita, bukan kita yang menjadi korban teknologi.

Kemudian, yang Anda lakukan 100% bukan silaturrahmi. Karena rekan Anda di Facebook bukan keluarga Anda. Kecuali jika Anda membuat grup khusus keluarga Anda.

Kata “Silaturrahim” atau “Silaturrahmi” terdiri dari dua kata: Silah, artinya hubungan dan Rahim atau rahmi, artinya rahim tempat janin sebelum dilahirkan. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita.

Dengan demikian, kata ini tidak bisa digunakan untuk menyebut hubungan yang dilakukan antar-tetangga, teman dekat, kolega bisnis, rekan kerja, dan semacamnya, yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan kita. Namun sekali lagi, kata ini hanya KHUSUS terkait jalinan hubungan antar-kerabat yang memiliki hubungan darah dan kekeluargaan. Demikian penjelasan al-Qadhi Iyadh (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 6:253).

Beberapa kasus, hubungan pertemanan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram terkadang beralasan dengan kata ini ‘Silaturrahmi’. Ketika diingatkan, jangan pacaran, jangan melakukan komunikasi yang mengundang syahwat, alasannya, saya tidak ingin memutus silaturahmi. Beberapa suami atau istri yang kurang bertanggung jawab, melakukan hubungan komunikasi dengan lawan jenis sampai membuat cemburu pasangannya yang sah. Ketika diminta untuk memutus hubungan itu, hampir semua beralasan: Saya tidak ingin memutus silaturrahmi. Masya Allah, mereka telah menjadi korban tipuan setan. Setan mengelabui hubungan haram atau minimal dapat mengantarkan kepada yang haram mereka, seolah menjadi hubungan halal, dan bahkan mendatangkan pahala: Silaturrahmi.

Batasan-batasan keluarga yang wajib untuk dijaga hubungan silaturrahminya:

Al-Qodhi Iyadh menjelaskan, bahwa ulama berselisih pendapat tentang batasan keluarga yang wajib untuk dijaga hubungan silaturrahim dengannya.

  • Pendapat pertama, setiap keluarga yang masih memiliki hubungan mahram. Di mana, andaikan dua keluarga ini yang satu laki-laki dan yang satu perempuan, maka tidak boleh menikahkan keduanya. Pendapat ini berdalil dengan hadis yang melarang seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita dengan saudarinya atau bibinya sekaligus. Karena hal ini bisa menyebabkan putusnya tali silaturrahim antara keduanya. Berdasarkan pendapat ini, maka sepupu tidak termasuk kerabat RAHIM. Karena sepupu halal dinikahi.
  • Pendapat kedua, semua keluarga yang memiliki hubungan kekeluargaan saling mewarisi, baik mahram maupun bukan mahram. Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ: “(Yang berhak mendapat warisan darimu) adalah keluarga dekatmu, kemudian yang lebih dekat, dan yang lebih dekat.” Pendapat kedua ini lebih benar, insyaa Allah  (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 6:253).

Kedua, kalimat pengusiran, insyaa Allah bukan termasuk kalimat cerai yang tegas. Karena itu, dikembalikan kepada maksud suami. Jika tujuan dia mengucapkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka jatuh cerai satu untuk istrinya.

Keterangan selengkapnya bisa Anda dapatkan di: https://konsultasisyariah.com/8-prinsip-tentang-cerai-ketika-marah/

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14535-cerai-gara-gara-Facebook.html

 

,

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA BEKERJA?

Pertanyaan:

Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan Manhaj Salaful Ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau memersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu yang full time di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah. Sekarang ini walau tak ada pembantu, saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.

Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33, bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan zikir sebelum tidur. Namun, bolehkah saya punya khadimat ya ustadz. Masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam

Jawaban Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc.:

Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufik-Nya kepada Anda, karena semangat Anda menetapi manhaj yang lurus ini. Aamiin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan Anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:

Pertama: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia, hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang Maha Tahu, mana yang baik dan memerbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia. Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia Akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu“. (QS. Al-Anfal: 24).

Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya, oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia. Allah berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!” (QS. Al-Qiyamah:36, lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/283).

Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di Akhirat.

Kedua: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga. Di pundaknyalah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga. Kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.

Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

Begitu pula firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk di antara kebutuhan yang syari adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Inilah keluarga yang ideal dalam Islam. Kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia Akhiratnya.

Ketiga: Bolehkah Wanita Bekerja?

Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja dalam firman-Nya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para Mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105)

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hamba-Nya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita. Allah berfirman (yang artinya):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar. Akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela di antara kalian” (QS. An-Nisa:29),

Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya. Hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya, harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syari, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktik seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria, harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak, seorang pria boleh mengurusi wanita. Misalnya pria boleh mengobati wanita, karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

Keempat: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, di antaranya:

  1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya. Dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
  1. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib menaati suaminya.
  1. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syari, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.
  1. Pekerjaannya sesuai dengan tabiat wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.
  1. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
  1. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita. Kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

Kelima: Jawaban pertanyaan Anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan Anda

Apa suami mengijinkan Anda untuk bekerja? Apa pekerjaan Anda tidak mengganggu tugas utama Anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja Anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa Anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila Anda tidak bekerja itu, Anda akan terancam hidupnya? Atau paling tidak hidup Anda akan terasa berat sekali, bila Anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah Anda menerapkan adab-adab Islami ketika Anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan Anda.

Memang, seringkali kita butuh waktu dan step by step dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampumu!” (QS. At-Taghabun:16)

Dan firman-Nya (yang artinya):

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Allah!” (QS. Al Imran:159),

Juga sabda Rasul ﷺ: “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani). Dan juga sabdanya ﷺ:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)

“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah azza wajalla, melainkan Allah pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani).

Terakhir: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!

Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam. Mereka menyuarakan pembebasan wanita. Padahal di balik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya. Mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya. Mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya, agar mau memertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.

Lihatlah kaum wanita di negara-negara Barat. Meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir, padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini. Mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya. Dan di antara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita -dengan berbagai cara- agar mau keluar dari rumah mereka.

Cobalah lihat secuil pengakuan orang Barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:

Lord Byron: “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman Yunani kuno, tentu Anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya. Dan tentunya Anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.

Samuel Smills: “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan. Karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.

Dr. Iidaylin: “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan, bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426)

Lihatlah, bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir… Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia. Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan Akhirat… Islam dan pemeluknya, ibarat terapi dan tubuh manusia. Islam akan memerbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memerbaiki tubuh manusia… Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri. Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian…

Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia Akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghindarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya…

Sekian jawaban kami, wallahu a’lam. Semoga bermanfaat dan bisa dimengerti. Wassalam.

,

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

Pertanyaan:

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di masjid yang bukan wakaf? Kalau jual beli di masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. Ini merupakan Madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat, bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat tidak bisa dimiliki melalui akad sewa, sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. Dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam Fatwa Syabahakh dinyatakan:

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku, kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara belum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid, sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan:

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan: ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan, maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. Sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau:

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. Dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku, baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan:

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. Ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya:

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau:

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orang dari berzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html

,

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

Paman Nabi  ﷺ yang hidup di masa kerasulan ada empat orang. Dua orang beriman kepada risalah Islam dan dua lainnya kufur, bahkan menentang. Dua orang yang beriman adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhuma.

Satu orang menolong dan menjaganya, tidak menentang dakwahnya, namun ia tidak menerima agama Islam yang beliau ﷺ bawa, dia adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Dan yang keempat adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia menentang dan memusuhui keponakannya, bahkan menjadi tokoh orang-orang musyrik yang memerangi beliau ﷺ.

Nama terakhir ini kita kenal dengan Abu Lahab. Dan Alquran mengabadikannya dengan nama itu.

Sifat Fisiknya

Lewat film dan gambar-gambar, Abu Lahab dikenalkan dengan perawakan jelek (tidak tampan) dan hitam. Sehingga kesan garang seorang penjahat begitu cocok dengan penampilannya. Namun sejarawan meriwayatkan, bahwa Abu Lahab adalah sosok yang sangat putih kulitnya. Seorang laki-laki tampan dan sangat cerah wajahnya. Demikianlah orang-orang jahiliyah mengenalnya.

Pelajaran bagi kita. Abu Lahab memiliki nasab yang mulia. Seorang Quraisy, paman dari manusia terbaik dan rasul yang paling utama, Muhammad ﷺ. Memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Memiliki paras yang rupawan. Namun semuanya tidak ada artinya tanpa keimanan. Allah hinakan dia dengan mencatatnya sebagai seorang yang celaka. Dan dibaca oleh manusia hingga Hari Kiamat dalam surat al-Masad.

Sementara Bilal bin Rabah, seorang budak, hitam, tidak pula tampan, dan jauh dari kedudukan serta kemapanan, namun Allah ﷻ muliakan dengan keimanan. Oleh karena itu, janganlah tertipu dengan keadaan. Rasulullah  ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Mengapa Ia Disebut Abu Lahab?

Kun-yah dari Abdul Uzza bin Abdul Muthalib adalah Abu Lahab. Lahab artinya api. Karena Abdul Uzza ketika marah, rona wajahnya berubah menjadi merah layaknya api. Dengan kun-yahnya inilah Alquran menyebutnya, bukan dengan nama aslinya. Alasannya:

Pertama: Karena Alquran tidak menyebutkan nama dengan unsur penghambaan kepada selain Allah. Namanya adalah Abdul Uzza, yang berarti hambanya Uzza. Uzza adalah berhala Musyrikin Mekah.

Kedua: Orang-orang lebih mengenalnya dengan kun-yahnya dibanding namanya.

Ketiga: Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, bahwa nama asli itu lebih mulia dari kun-yah. Oleh karena itu, Allah menyebut para nabi-Nya dengan nama-nama mereka sebagai pemuliaan. Dan menyebut Abu Lahab dengan kun-yahnya. Karena kun-yah kedudukannya di bawah nama. Ini menurut al-Qurthubi rahimahullah.

Orang-orang di masanya juga mengenal Abu Lahab dengan Abu Utbah (ayahnya Utbah). Namun karena kekafiran, Allah ﷻ kekalkan nama Abu Lahab untuknya. Sebenarnya ia adalah tokoh Mekah yang cerdas. Sayang kecerdasan dan kepandaiannya tidak bermanfaat sama sekali di sisi Allah, karena tidak ia gunakan untuk merenungkan kebenaran syariat Islam yang lurus.

Anak-anaknya

Abu Lahab memiliki tiga anak laki-laki. Mereka adalah Utbah, Mut’ib, dan Utaibah. Dua nama pertama memeluk Islam saat Fathu Mekah. Sedangkan Utaibah tetap dalam kekufuran.

Di antara kebiasaan bangsa Arab adalah menikahkan orang-orang dalam lingkar keluarga dekat. Sebelum menjadi rasul, Rasulullah ﷺ menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Utaibah dan Ruqayyah dengan Utbah.

Ketika surat Al-Masad turun, Abu Lahab mengultimatum kedua putranya:

“Kepalaku dari kepala kalian haram, sebelum kalian ceraikan anak-anak perempuan Muhammad!!”, kata Abu Lahab. Ia mengancam kedua putranya tidak akan bertemu dan berbicara kepada mereka, sebelum menceraikan putri Rasulullah ﷺ.

Ketika Utaibah hendak bersafar bersama ayahnya menuju Syam, ia berkata:

“Akan aku temui Muhammad. Akan kusakiti dia dan kuganggu agamanya. Saat di hadapannya kukatakan padanya:

“Wahai Muhammad, aku kufur dengan bintang apabila ia terbenam, dan apabila ia dekat dan bertambah dekat lagi…’ Lalu Utaibah meludahi wajah nabi, kemudian menceraikan anak beliau, Ummu Kultsum.

Nabi ﷺ mendoakan keburukan untuknya:

“Ya Allah, binasakan dia dengan anjing dari anjing-anjingmu.” (Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 4/39). Utaibah pun tewas diterkam singa.

Sementara Abu Lahab mati tujuh hari setelah Perang Badr. Ia menderita bisul-bisul di sekujur tubuh. Tiga hari mayatnya terlantar. Tak seorang pun yang mau mendekati bangkai si kafir itu.

Karena malu, keluarganya menggali lubang, kemudian mendorong tubuh Abu Lahab dengan kayu panjang, hingga masuk ke lubang itu. Kemudian mereka lempari makamnya dengan batu, hingga jasadnya tertimbun. Tidak ada seorang pun yang mau membopong mayitnya, karena takut tertular penyakit. Ia mati dengan seburuk-buruk kematian.

Pasangan Dalam Keburukan

Istri Abu Lahab adalah Ummu Jamil Aura’. Nama yang tak seindah karakter aslinya. Ia diabadikan dalam surat al-Masad sebagai wanita pembawa kayu bakar. Perlakuannya amat buruk terhadap Rasulullah ﷺ. Ia taruh kayu dan tumbuhan berduri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah ﷺ di malam hari, agar Nabi tersakiti. Ia tak kalah buruk dengan suaminya.

Ummu Jamil adalah wanita yang suka mengadu domba dan menyulut api permusuhan di tengah masyarakat. Ia memiliki kalung mahal dari permata: “Demi al-Lat dan al-Uzza, akan kuinfakkan kalung ini untuk memusuhi Muhammad”, katanya. Allah ﷻ gantikan kalung indah itu dengan tali dari api Jahannam untuk mengikat lehernya di Neraka.

Ketika Allah ﷻ menurunkan surat al-Masad yang mencelanya dan sang suami, wanita celaka ini langsung mencari Rasulullah ﷺ. Sambil membawa potongan batu tajam, ia masuk ke Masjid al-Haram. Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar berada di sana.

Saat telah dekat, Allah ﷻ butakan pandangannya dari melihat Rasulullah ﷺ. Ia hanya melihat Abu Bakar. Tak ada Muhammad ﷺ di sampingnya.

“Wahai Abu Bakar, aku mendengar temanmu itu mengejekku dan suamiku! Demi Allah, kalau aku menjumpainya akan aku pukul wajahnya dengan batu ini!!” Cercanya penuh emosi.

Kemudian ia bersyair:

مُذمماً عصينا ، وأمره أبينا ، ودينه قلينا

Orang tercela kami tentang

Urusan kami mengabaikannya

Dan agamanya kami tidak suka

Ia ganti nama Muhammad (yang terpuji) dengan Mudzammam (yang tercela). Kemudian ia pergi.

Abu Bakar bertanya heran:

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengira dia melihatmu?”

“Dia tidak melihatku. Allah telah menutupi pandangannya dariku”, jawab Rasulullah ﷺ.

Pelajaran:

Pertama: Abu Lahab memiliki segalanya. Ia menyandang nasab mulia, bangsawan dari kalangan Bani Hasyim. Terpandang dan memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Paman manusia terbaik sepanjang masa. Berwajah tampan. Seorang yang cerdas dan pandai memutuskan masalah. Profesinya pebisnis, mengambil barang dari Syam untuk dipasok ke Mekah atau sebaliknya. Tapi itu semua sama sekali tidak bermanfaat untuknya. Karena itu, seseorang jangan tertipu dengan dunia yang ia miliki. Apalagi yang tidak memiliki dunia.

Kedua: Penampilan fisik, kedudukan, kekayaan, BUKANLAH acuan seseorang itu layak diikuti dan didengarkan ucapannya. Karena sering kita saksikan di zaman sekarang, orang kaya lebih didengar dan diikuti daripada para ulama. Ketika motivator bisnis, mereka yang menyandang gelar akademik tinggi, berbicara tentang agama, masyarakat awam langsung menilainya sebuah kebenaran.

Ketiga: Pasangan seseorang itu tergantung kualitas dirinya. Ia bagaikan cermin kepribadian.

Keempat: Hidayah Islam dan iman itu mahal dan berharga. Sebuah kenikmatan yang tidak Allah berikan kepada keluarga para nabi. Anak Nabi Nuh, istri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad ﷺ, Abu Thalib dan Abu Lahab, tidak mendapatkan kenikmatan ini. Oleh karena itu kita layak bersyukur. Allah memilih kita menjadi seorang Muslim, sementara sebagian keluarga para nabi tidak. Pantas kita syukuri nikmat ini dengan memelajari Islam, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

 

Sumber:

– Hisyam, Ibnu. 2009. Sirah Ibnu Hisyam. Beirut: Dar Ibn Hazm.

– Tafsir al-Qurthubi surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura111-aya1.html

– Tafsir Ibnu Katsir surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura111-aya1.html#katheer

 

Oleh Nufitri Hadi (@nfhadi07)

[KisahMuslim.com]

 

Sumber:

https://kisahmuslim.com/5398-abu-lahab-ia-punya-segalanya-tapi-tak-bermanfaat-untuknya.html

https://aslibumiayu.net/13379-abu-lahab-nasabnya-mulia-parasnya-menawanharta-melimpah-tapi-ketika-tidak-ikut-ajaran-nabi-maka-jadi-orang-yang-rugi.html

 

, ,

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA SYARATNYA AGAR MLM MENJADI HALAL?

Bandingkan Dengan MLM Yang Ada Di Indonesia

Kontroversi mengenai bisnis dengan metode Multi Level Marketing (MLM) telah lama menyebar. Para ulama pun telah mevonis aktivitas ini sebagai cara bisnis yang menzalimi orang lain dan memakan harta atau hasil keringat orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.

Namun demikian, masih ada pihak-pihak yang tetap menggandrungi bisnis ini dan tidak memerdulikan status hukumnya dalam kaca mata syariat Islam. Berikut ini ada sebuah artikel menarik, bagaimana MLM yang telah divonis terlarang tersebut bisa menjadi diperbolehkan dan halal, apabila memenuhi kriteria yang dihalalkan.

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar marketing dengan sistem MLM hukumnya halal:

  • Pertama, orang yang ingin memasarkan produk TIDAK diharuskan untuk membeli produk tersebut.
  • Kedua, harga produk yang dipasarkan dengan sistem MLM itu tidak boleh lebih mahal dari pada harga wajar untuk produk sejenis. Hanya ada dua pilihan harga semisal dengan harga produk sejenis atau malah lebih murah.
  • Ketiga, orang yang ingin memasarkan produk tersebut tidak disyaratkan harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi anggota.

Jika tiga syarat ini bisa dipenuhi, maka sistem MLM yang diterapkan adalah sistem yang tidak melanggar syariat.

Namun bisa dipastikan bahwa tiga syarat ini tidak mungkin bisa direalisasikan oleh perusahaan yang menggunakan MLM sebagai sistem marketingnya. Jika demikian, maka sistem marketing ini TERLARANG, karena merupakan upaya untuk memakan harta orang lain dengan cara cara yang tidak bisa dibenarkan.

Demikian penjelasan Syaikh Dr. Abdullah bin Nashir al Sulmi sebagaimana bisa disimak di sini: https://youtu.be/Ij5swUzbBWU

[Artikel www.PengusahaMuslim.com]

Sumber: https://aslibumiayu.net/9054-bagaimana-syaratnya-agar-mlm-menjadi-halal-bandingkan-dengan-mlm-yang-ada-di-indonesia.html

,

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya tentang usaha atau bisnis yang akhir-akhir ini sedang marak di masyarakat, yaitu MLM (Multi Level Marketing). Bagaimanakah hukumnya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Banyak sekali pertanyaan yang datang kepada Al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhut al-Ilmiyah wal Ifta’ tentang aktivitas perusahaan-perusahaan pemarasan berpiramida (Multi Level Marketing), seperti Biznas. Yang inti dari aktivitas mereka adalah mengajak seseorang untuk membeli sebuah produk, agar dia juga bisa mengajak orang lain untuk membeli produk tersebut, demikian seterusnya.

Setiap kali bertambah tingkatan anggota di bawahnya, maka orang yang pertama akan mendapatkan keuntungan besar, yang bisa mencapai ribuan Real. Dan setiap anggota yang dapat mengajak orang-orang setelah bergabung, maka ia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar pula, selagi ia berhasil merekrut anggota-anggota baru ke dalam daftar para anggota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau Multi Level Marketing (MLM).

Maka, Lajnah Da’imah menjawab:

“Sesungguhnya transaksi jenis ini adalah HARAM, karena tujuannya adalah komisi, bukan produk. Terkadang komisi itu bisa mencapai puluh ribu, padahal harga produk tidaklah sampai seratus. Orang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusaan ini dalam memromosikan produk-produk mereka, adalah menampakkan jumlah komisi yang besar, yang mungkin didapatkan oleh anggota, dan menjanjikan buat mereka keuntungan yang melampaui batas, sebagai imbalan dari modal yang kecil, yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan ini sekadar label dan pengantar untuk mendapatkan keuntungan besar.

Melihat hakikat dari transaksi di atas, maka secara syari, usaha seperti ini adalah HARAM karena beberapa alasan:

Transaksi tersebut mengandung riba, baik Riba Fadhl atau Riba Nasi-Ah (Riba Fadhl adalah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawi [barang yang bisa diterapkan hukum riba padanya] yang sejenis dengan transaksi yang kontan. Adapun Riba Nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawi yang sama sebab ribanya, tapi tidak secara kontan). Orang yang ikut dalam bisnis itu membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar darinya. Maka, ia menukar uang dengan uang dalam bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak kontan). Ini adalah bentuk riba yang diharamkan menurut nash Alquran dan as-Sunnah dan kesepakatan para ulama. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut, dan bukan menjadi tujuan anggota untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya, sehingga keberadaan produk tidak berpengaruh dalam hukum transaksi jual beli.

Transaksi seperti ini termasuk gharar (yaitu hakikat atau kadar barang yang tidak diketahui oleh salah satu dari kedua belah pihak) yang diharamkan menurut syariat, karena anggota tidak mengetahui, apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak? Dan bagaimanapun pemasaran berpiramida itu berlanjut, pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung di dalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung, atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi. Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi, kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Dengan demikian, yang mendominasi adalah kerugian. Maka, ini adalah hakikat gharar (tidak ada kejelasan di antara dua belah pihak). Padahal, Rasulullah ﷺ telah melarang dari perbuatan gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Apa yang terdapat dalam transaksi ini merupakan praktik memakan harta manusia dengan cara yang batil, karena tidak ada yang mengambil keuntungan dari transaksi ini, selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan, dengan tujuan menipu anggota lainnya. Hal ini telah disebutkan dalam Alquran tentang keharamannya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” (QS. An-Nisa: 29).

Dalam transaksi ini terdapat penipuan, pengaburan dan penyamaran terhadap manusia. Dari sisi penampakan produk, seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataannya tidak demikian. Dan dari sisi yang lain, mereka menjanjikan komisi yang besar, tapi seringnya tidak terwujud. Dan ini semua terhitung penipuan yang diharamkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Siapa saja yang menipu, maka ia bukan golonganku.” (HR. Muslim 295).

Dan dalam hadis yang lain, beliau ﷺ bersabda:

الْبَيْعَانِ بِلْخِيَارِ مَا لِمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بِوْرِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Dua orang yang melakukan transaksi jual beli berhak menentukan pilihannya (khiyar) selama belum berpisah, niscaya akan mendapatkan berkah dari transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.” (HR. al-Bukhari, 2079 dan Muslim 1532).

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah (jasa sebagai perantara atau makelar), maka itu TIDAK BENAR. Karena samsarah adalah transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usaha menjual produknya. Adapun pemasaran MLM, anggotalah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut.

Hakikat atau maksud dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berbasis MLM, yang maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu, orang yang bergabung dalam MLM akan memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya. Berbeda dengan samsarah, (di mana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan di antara dua transaksi sangatlah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar. Andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syariat. (Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba.

Oleh karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah:

إِنَّكَ بِأَزْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ إَذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيْرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٌ فَإِنَّهُ رِبًا

“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka, jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadanya sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan, maka itu adalah riba.” (HR. al-Bukhari, 3814).

Dan (hukum) hibah tergantung dari SEBAB ADANYA hibah tersebut. Karena itu, ketika ada seorang pekerja yang datang lalu berkata: “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukankah seandainya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu (saja), apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” (HR. Muslim 1832).

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah, atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali TIDAK mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut juga, ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan. Wabillahi taufiq wa shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ tanggal 14/3/1425 no. 22935)

Sumber: Majalah Al Mawaddah, Vol. 34/Ramadhan-Syawwal 1431 H

Dipublikasikan oleh www.PengusahaMuslim.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh tim redaksi.

Sumber : http://pengusahamuslim.com/tanya-jawab-bagaimana-hukum-bisnis-mlm