Posts

,

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
 
Tanggal Kelahiran Nabi ﷺ DIPERSELISIHKAN secara tajam. Ada yang mengatakan tanggal 2 , 8 , 10 , 12 bahkan 17 Rabiul Awal [Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185]
Semua pendapat ini TIDAK BERDASARKAN hadis yang shahih. Adapun hadis Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan, bahwa tanggal kelahiran Nabi ﷺ adalah 12 Rabiul Awal TIDAK SHAHIH. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadis tersebut, “Sanadnya (jalur periwayatannya) TERPUTUS.” [Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185]
 
Karena tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat, bahwa hari kelahiran beliau ﷺ adalah pada 9 Rabiul Awal, dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim mengatakan:
“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan, bahwa Nabi ﷺ lahir pada Senin 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh Mayoritas Ulama. Telah tetap tanpa keraguan, bahwa kelahiran beliau ﷺ adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga, bahwa beliau ﷺ wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi ﷺ. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun Qamariyyah akan ketemulah, bahwa umur beliau ﷺ 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. [Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H]
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:
“Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi ﷺ ternyata jatuh pada 9 Rabiul Awal, BUKAN 12 Rabiul Awal.” [Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan]
Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum Muslimin pada 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? Dan apa perlu juga merayakannya, sedangkan Nabi ﷺ sendiri pun TIDAK PERNAH merayakannya seumur hidupnya?
Wallahu a‘lam.
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
[Dikutip oleh muslim.or.id dari artikel 8 Faidah Seputar Tarikh Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M]
kuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#maulidnabi, #tanggallahir, #tanggalkelahiran, #birthday, #ulangtahun, #12RabiulAwal, #9RabiulAwal, #bidah #maulidan

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
 
HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH
 
Terdapat sejumlah pertanyaan seputar makanan-makanan yang berasal dari acara-acara bid’ah atau yang tidak disyariatkan. Berikut beberapa fatwa ulama tentang hal tersebut:
 
Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, pernah ditanya:
“Apakah boleh memakan makanan Ahlul Bid’ah? Perlu diketahui bahwa mereka membuat makanan ini untuk bid’ah tersebut, seperti makanan untuk Maulid Nabi.
 
Beliau menjawab:
“Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137]
 
Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah 22/270-271 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan Syaikh Bakr Abu Zaid, disebutkan tanya-jawab sebagai berikut:
 
“Apa hukum memakan makanan yang dipersiapkan untuk acara-acara tertentu atau suatu kebiasaan, seperti memakan makanan musim semi yang siapkan dengan tepung putih dan tanaman ketika musim semi telah tiba?”
 
Jawaban:
Apabila makanan-makanan ini tidak berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir, tetapi hanya kebiasaan-kebiasaan untuk menganekaragamkan makanan seiring pergantian musim, tidak masalah dalam memakannya, karena asal dalam kebiasaan adalah pembolehan.”
 
Dari jawaban di atas tampak, bahwa pensyaratan pembolehan adalah bila TIDAK berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir.
 
Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3, memuat tanya-jawab berikut:
 
Pertanyaan:
Di negeri kami sebagian orang mengadakan perayaan Maulid dan perayaan-perayaan bid’ah lainnya. Kemudian mereka mengirim sebagian makanan dari perayaan-perayaan tersebut ke rumah kami. Apakah kami boleh memakannya?
 
Jawaban:
Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Asy-Syaikh, pada malam Jum’at, 8 Sya’ban 1425 H, bertepatan dengan 29 September 2004, menjawab sebagai berikut:
“Wallahu a’lam. Tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, TIDAKLAH BOLEH memakan (makanan) pada (acara) tersebut, karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan.”
 
Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhary, pada sore 5 Syawal 1425 H, bertepatan dengan 17 November 2004, menjawab sebagai berikut:
“Makanan perayaan-perayaan Maulid adalah bid’ah dalam agama, menurut (pendapat) yang benar, dan menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ dan para shahabat beliau. Nabi ﷺ bersabda sebagaimana dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim):
 
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 
“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami, yang tidak termasuk dari (agama) tersebut, (perkara) itu tertolak.”
 
Tentunya manusia tidak hanya terbatas dengan mengadakan Maulid-Maulid, bid’ah-bid’ah seperti perayaan Maulid ini, perayaan-perayaan lain yang berkaitan dengan hal seperti ini, bahkan mereka juga menambahnya dengan sembelihan-sembelihan dan berbagai jenis makanan. Oleh karena itu, kiriman makanan tersebut kepada manusia, menurutku, TIDAKLAH pantas untuk diambil dan dimakan, karena ada bentuk menolong Ahlil Bid’ah ‘pelaku bid’ah’. Jika seseorang melihat seorang Sunni (pengikut sunnah), atau selainnya mengambil atau memakan makanan seperti itu dan membolehkan hal seperti ini untuk dirinya, manusia akan menjadi bingung, sehingga mereka tidak mengetahui yang haq dari yang batil. Maka manusia seharusnya diberitahu, bahwa hal seperti ini TIDAKLAH BOLEH, dan makanan-makanan seperti itu TIDAKLAH BOLEH. Juga bahwa TIDAKLAH pantas menghidupkan bentuk (perayaan) seperti ini. Jelaskanlah kepada mereka, ingatkanlah mereka, dan buatlah mereka takut terhadap Allah Jalla wa ‘Azza.
 
Sesungguhnya, makanan seperti ini seharusnya ditinggalkan berdasarkan atsar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang maulanya (budaknya) menghadiahkan makanan kepadanya kemudian berkata: ‘Makanan ini berasal dari perdukunan yang saya lakukan pada masa jahiliyah.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari perutnya, seraya berkata: ‘Demi Allah, andaikata saya tahu bahwa ruhku akan keluar bersama makanan tersebut, niscaya saya akan mengeluarkan (ruhku).’ [1]
 
Hal ini menunjukkan kesempurnaan wara’ beliau radhiyallahu ‘anhu. Maka, dibangun di atas dasar nash ini dan selainnya, seseorang TIDAKLAH pantas membantu orang-orang tersebut, serta tidak boleh memakan makanannya. Tetapi meninggalkan (makanan) itu. Itulah yang terbaik.”
 
Demikian fatwa-fatwa ulama kita yang TIDAK memperbolehkan.
 
Dalam catatan kaki Hasyiyah Fathul Majid, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz meluruskan pendapat Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqiy. Di antara penjelasan beliau adalah:
“… akan tetapi, bila makanan tersebut berasal dari daging sembelihan kaum musyrikin, lemak, atau kuah (daging) itu, hal tersebut adalah HARAM, karena sembelihan (kaum musyrikin) berada pada hukum bangkai, sehingga menjadi haram dan menajisi makanan yang bercampur dengannya. Berbeda dengan roti dan yang semisalnya berupa hal-hal yang tidak bercampur dengan suatu sembelihan kaum musyrikin apapun, hal tersebut adalah halal bagi siapa saja yang mengambilnya ….”
 
 
Catatan Kaki:
[1] Dalam konteks riwayat Al-Bukhary no. 3842 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, Aisyah bertutur:
 
كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ
 
“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya: ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya: ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab: ‘Dahulu saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.”
 
 
 
 
Catatan Tambahan:
Jadi barang siapa yang diundang untuk acara perayaan bid’ah tersebut dan mengetahui, atau besar perkiraannya, bahwa undangan tersebut adalah dalam rangka perayaan kebid’ahan, maka TIDAK disyariatkan untuk menghadirinya, karena kehadirannya termasuk mengakui kemungkaran dan mendukungnya. Allah ta’ala berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ) المائدة/2
 
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al Maidah: 2]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum Mslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka berkumpul untuk berzikir dan sholat, yaitu hari raya ledul Fitri dan ledul Adha, sebagai pengganti hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah pun mensyariatkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai zikir dan ibadah, seperti Jumat, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah tidak mensyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi ﷺ dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-dalil syari dari Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan, bahwa, perayaan-perayaan hari kelahiran merupakan BID’AH dalam agama, dan termasuk TASYABBUH (menyerupai) musuh-musuh Allah, dari kalangan Yahudi, Nasrani dan lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk Islam untuk MENINGGALKANNYA, MEWASPADAINYA, MENGINGKARINYA, terhadap yang melakukannya dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang dapat mendorong pelaksanaannya, atau mengesankan pembolehannya, baik di radio, media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam sebuah hadis Shahih:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Mslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).]

Dan sabda beliau ﷺ:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Mslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718)]

Dikeluarkan oleh Mslim dalam kitab Shahihnya dan dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari, namun ia menguatkannya.

Kemudian disebutkan dalam Shahih Mslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa dalam salah satu khutbah Jumat beliau ﷺ mengatakan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرُ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّه وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [HR. Mslim dalam Al-Jumu’ah (867)].

Dan masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634]

Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم شِبْرًا شِبْرًاوَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْدَخَلُوْا جُحْرَضُبٍّ تَبَعْتُمُوْهُم، قُلنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau ﷺ berkata, “Siapa lagi.” [HR. AI-Bukhari dalam Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (7320). Mslim dalam Al-Ilm (2669)]

Masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna dengan ini. Semuanya menunjukkan kewajiban untuk waspada, agar tidak menyerupai musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan paling utama, NABI KITA MUHAMMAD ﷺ, TIDAK PERNAH MERAYAKAN HARI KELAHIRANNYA SEMASA HIDUPNYA, tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga para tabi’in yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran Nabi ﷺ atau lainnya merupakan perbuatan baik, tentulah para sahabat dan tabi’in sudah lebih dulu melaksanakannya daripada kita. Dan sudah barang tentu Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya dan menganjurkan mereka merayakannya, atau beliau ﷺ sendiri melaksanakannya. Namun ternyata tidak demikian. Maka kita pun tahu, bahwa perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah, termasuk hal baru yang diada-adakan dalam agama, yang harus ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah Rasulullah ﷺ.

Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran ini adalah golongan Syi’ah Fathimiyah pada abad keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada As-Sunnah, karena tidak tahu dan karena meniru mereka, atau meniru kaum Yahudi dan Nasrani. Kemudian bid’ah ini menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya para ulama kaum Mslimin menjelaskan hukum Allah dalam bid’ah-bid’ah ini, mengingkarinya dan memeringatkan bahayanya, karena keberadaannya melahirkan kerusakan besar, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan tertutupnya sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah dari golongan Yahudi, Nasrani dan golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan menjelaskan hukum Allah mengenai bid’ah-bid’ah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Pada kesempatan yang singkat ini, kami bermaksud mengingatkan kepada para pembaca tentang bid’ah ini, agar mereka benar-benar mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para pejabat pemerintahan kita dan kementrian penerangan secara khusus serta para penguasa di negara-negara Islam, untuk mencegah penyebaran bid’ah-bid’ah ini dan propagandanya, atau penyebaran sesuatu yang mengesankan pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan perintah loyal terhadap Allah dan para hamba-Nya, dan sebagai pelaksanaan perintah yang diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran, serta turut dalam memerbaiki kondisi kaum Mslimin, dan membersihkannya dari hal-hal yang menyelisihi syariat yang suci. Hanya Allah-lah tempat meminta dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum Muslimin dan menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ, serta waspada dari segala sesuatu yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah memerbaiki para pemimpin mereka, dan menunjuki mereka agar menerapkan syariat Allah pada hamba hamba-Nya, serta memerangi segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya

[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 4.hal.81]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/498/slash/0/perayaan-hari-kelahiran-ulang-tahun/

, , ,

BOLEHKAH MEMAKAN KUE ULANG TAHUN?

BOLEHKAH MEMAKAN KUE ULANG TAHUN?

#FatwaUlama

BOLEHKAH MEMAKAN KUE ULANG TAHUN?

Jawaban Syaikh Abdul Karim al Khudair, salah seorang ulama besar di KSA

“Perayaan hari lahir (ulang tahun) itu adalah bid’ah dalam agama Allah. Tidak boleh mengadakannya, tidak boleh memakan makanan yang ada pada acara tersebut, ataupun makanan yang dibuat untuk acara tersebut. Anggapan mereka, bahwa makanan peringatan hari lahir itu karena datangnya banyak tamu bukanlah alasan yang bisa dibenarkan untuk menikmatinya. Menjamu tamu itu ada aturannya.

Banyak perkara itu dinilai dengan melihat niat pelakunya. Satu hal yang sangat jelas, bahwa makanan tersebut dibuat dalam rangka acara itu.

Memakan makanan yang di hidangkan pada acara tersebut itu membantu pelakunya untuk terus menerus menyelenggarakannya, sehingga hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran syariat yang Allah larang dalam al Maidah ayat kedua, di mana Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.”

Reposted by: Al-Ustadz Abdulloh Sya’roni hafidzahullah ta’ala

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

 

  • Simak tulisan berikut ini agar kita sadar tentang kebatilan agama Yahudi dan Kristen, sehingga kita pun tidak kebablasan dalam bertoleransi dan mencintai mereka.
  • Nabi Ibrahim, Ya’qub serta anak cucunya semua berada di atas Islam, bukan berada di atas agama Yahudi dan Nasrani-Kristen. Nabi Isa termasuk di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub, yang diajak dan diingatkan agar ber-Islam dan mati di atasnya.
  • Para pemuka agama Kristen seperti Paulus tahu, bahwa Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya’qub) adalah manusia-manusia yang beragama Islam!! Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu Islam), membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Konstantinopel berusaha keras untuk mengubur Islam.
  • Nabi Isa TIDAK PERNAH mengangkat dirinya sebagai Tuhan!

 

Mari kita “sambut” Natal tahun ini dengan kritikan dan petuah serta nasihat bagi kaum Muslimin, agar TIDAK terpengaruh merayakannya bersama dengan kaum Nashara alias Kristen.

Sebab ada fenomena bergampangan yang muncul ke permukaan, dengan adanya sebagian manusia lemah iman, hadir dalam Natal, bahkan kadang ikut jadi panitia hari raya mereka.

Fenomena seperti ini timbul dengan berbagai macam faktor dan sebab, mulai dari sebab kejahilan, duniawi, politik, bisnis, dan sebagainya. Padahal kebiasaan seperti ini AMATLAH BURUK di sisi Allah Azza wa Jalla.

Merayakan Natal adalah kebiasaan kaum Nasrani alias Kristen. Mereka merayakannya pada hari yang mereka klaim sebagai hari kelahiran Isa bin Maryam, yaitu 25 Desember pada setiap tahunnya.

Walaupun penanggalan Natal itu sendiri sebuah polemik di kalangan para sejarawan, bahkan banyak di antara mereka menyatakan bahwa kelahiran Isa bukanlah pada 25 Desember.

Dalam menghadapi Natal, mereka banyak menyalakan lilin di mana-mana dan menghiasi gereja-gereja, rumah, jalanan, toko dan lainnya.

Mereka menggunakan berbagai macam warna lilin dan perhiasan yang tak pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka: Nabi Isa alaihis salam dan pengikutnya yang setia.

Itu hanyalah buatan dan inovasi mereka, BUKAN ajaran Nabi Isa!!!

Mereka merayakan Natal ini secara bersama dan resmi, serta menganggapnya hari libur resmi di semua negara-negara yang beragama Kristen. Bahkan lebih aneh lagi, di sebagian negeri-negeri Islam dianggap hari itu adalah hari libur nasional!!

Perayaan hari lahir (dies Natalis) Al-Masih Isa bin Maryam merupakan perkara yang diada-ada lagi bid’ah dalam agama mereka sendiri. Sebab, perayaan ini nanti muncul setelah kaum Hawariyyin (pengikut dan penolong setia Nabi Isa) meninggal dunia. Jadi, perayaan Natal TIDAK DIKENAL di zaman Nabi Isa dan para Hawariyyin. [Lihat Al-Jawab Ash-Shohih (2/230) dan Al-Majmu’ (28/611) karya Ibnu Taimiyyah]

Namun aneh sungguh aneh, masih ada saja di antara kaum Muslimin yang ikut memeringati Natal. Padahal sudah menjadi prinsip kokoh dalam Islam, bahwa seorang Muslim dilarang keras ikut bergembira dengan hari raya kaum kafir!!!! Karena, kegembiraan saat terjadinya kekafiran, merupakan perkara yang TIDAK DI RIDHAI oleh Azza wa Jalla.

Satu di antara syiar kekafiran adalah merayakan Natal Isa alaihis salam. Di dalamnya dihidupkan syiar kekafiran, pengultusan Nabi Isa dan menghidupkan segala paham kafir yang diyakini oleh kaum Nasrani alias Kristen. Walapun Nabi mereka sebenarnya TIDAK PERNAH mencontohkan semua itu!!!

Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ [الزمر/7]

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu, kesyukuranmu itu”. (QS. Az-Zumar: 07)

Di dalam acara Natal, banyak dihiasi kemungkaran dan hawa nafsu berupa campur baurnya kaum lelaki dan wanita. Dan hal itu memang biasa bagi mereka. Meminum khomer, makan babi atau anjing, joget (disko) dan berbagai macam perkara yang mungkin malu kita sebutkan!!!

Di zaman ini ada sebuah virus yang menjangkiti sebagian kaum Muslimin yang lemah iman. Virus ini disebut dengan “taklid buta”. Virus taklid ini menyeret mereka untuk mengikuti langkah setan dan pengikutnya dari kalangan kaum kafir. Akhirnya, Muslim yang terjangkiti dengan virus berbahaya ini ikut-ikutan merayakan Natal dengan sangkaan batil, bahwa itu, katanya, gaya hidup modern dan gaya hidup maju.

Ikut Natalan dianggapnya kemajuan dan perkembangan. Subhanallah, aneh betul!!! Anggaplah kemajuan dan perkembangan!!!! Akan tetapi kemajuan dan perkembangan dalam kekafiran!!!!!

Di sana ada virus lain yang tak kalah bahayanya dari virus taklid, yaitu virus kedua yang kita kenal dengan “toleransi”. Virus Toleransi ini banyak menyeret bani Adam ke dalam kubang kekafiran dengan beralasan, “Itu kan toleransi”. Ketika ikut Natalan, maka ia berdalih dengan “toleransi”.

Padahal seorang Muslim TIDAK BOLEH bertoleransi dalam hal agama, termasuk di antaranya ikut Natalan. Allah -Tabaroka wa Ta’ala- menegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)  [الكافرون/1-6]

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.  Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah.  Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata:

وَسَبَبُ نُزُولِ هَذِهِ السُّورَةِ أَنَّ الْكُفَّارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْبُدَ آلِهَتَهُمْ سَنَةً وَيَعْبُدُوا إِلَهَهُ سَنَةً، فَأَمَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ أَيْ: لَا أَفْعَلُ مَا تَطْلُبُونَ مِنِّي مِنْ عِبَادَةِ مَا تَعْبُدُونَ مِنَ الأصنام، اهـ من فتح القدير للشوكاني – (5 / 619)

“Sebab turunnya ayat ini, bahwa orang-orang kafir meminta kepada Rasulullah ﷺ agar beliau ﷺ menyembah sesembahan mereka selama setahun dan sebaliknya mereka akan menyembah sembahan beliau (yakni, Allah) selama setahun. Lantaran itu, Allah memerintahkan beliau ﷺ untuk menyatakan kepada mereka: “Aku tak akan menyembah apa yang kalian sembah”. Maksudnya, aku tak akan melakukan sesuatu yang kalian tuntut dariku berupa penyembahan kepada sesuatu yang kalian sembah berupa arca-arca”. [Lihat Faidhul Qodir (5/619)]

Dari sini kita mengetahui kesalahan sikap para pejuang toleransi yang amat keterlaluan dalam bertoleransi, sampai dalam urusan prinsip agama pun mereka tetap menyuarakan toleransi!! SUNGGUH KEJI TOLERANSI SEPERTI INI!!!

Orang-orang dangkal agama seperti ini amat terpukau dengan kaum kafir, sehingga ia pun taklid buta kepada mereka, dan menganggapnya sebagai bentuk kemajuan dan modernisasi. Mereka memandang, bahwa keikutsertaan bersama orang-orang Kristen dalam Natal merupakan sikap maju dan moderen. Lantaran itu, kita akan melihatnya bergegas mendatangi acara Natal, seraya memberikan ucapan selamat kepada kaum Nasrani-Kristen.

Ini semua timbul karena lemahnya benteng agama. Mereka Muslim dalam KTP, tapi perbuatan dan sikapnya bukan Islam!! Karena di dalam perbuatan mereka tersebut terdapat penyelisihan, secara khusus, terhadap larangan Nabi ﷺ dari menyerupai orang-orang kafir, dan menyalahi larangan beliau ﷺ secara umum, dari maksiat-maksiat yang dilakukan pada acara Natal!! [Lihat Al-Bida’ Al-Hawliyyah (hal. 384)]

Adanya Natal, seorang Muslim harusnya marah, karena di dalamnya Allah dipersekutukan dengan Isa bin Maryam alaihis salam, dan agama Islam yang dibawa oleh Nabiﷺ diingkari oleh mereka, serta berbagai maksiat yang mereka lakukan di sana, berupa kekafiran, bid’ah, dosa (besar, maupun kecil).

Dengarkanlah ayat di bawah ini!! Ayat yang menggambarkan betapa besarnya kemarahan Allah terhadap orang-orang Kristen yang menyatakan, bahwa Allah menjadikan Isa (Yesus) sebagai anak-Nya!!

Allah -Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم: 88 – 93]

“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (memunyai) anak”. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar.  Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.  Karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Pemurah memunyai anak.  Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (memunyai) anak.  Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah, selaku seorang hamba”. (QS. Maryam: 88-93)

Ulama Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“لما قرر تعالى في هذه السورة الشريفة عبودية عيسى، عليه السلام، وذكر خلقه من مريم بلا أب، شرع في مقام الإنكار على من زعم أن له ولدا -تعالى وتقدّس وتنزه عن ذلك علوًّا كبيرًا-” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (5 / 265)

“Tatkala Allah sudah menetapkan status Isa alaihis salam sebagai HAMBA, dan menyebutkan penciptaan Isa dari Maryam tanpa bapak, maka Allah mulai pengingkaran-Nya atas orang-orang yang meng-klaim, bahwa Allah memiliki anak. Maha Tinggi Allah lagi Maha Suci dari semua itu, dengan ketinggian yang besar”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/265), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5) [الكهف:1-5]

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Alquran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya sebagai bimbingan yang lurus, untuk memeringatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah, dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memeringatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sekali-kali tidak memunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu), kecuali dusta”. (QS. Al-Kahfi: 1-5)

Allah Azza wa Jalla menjelaskan, bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah milik dan ciptaan-Nya (termasuk di antaranya, Nabi Isa yang dipertuhankan kaum Nasrani-Kristen).

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (116) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُون [البقرة: 116 ، 117]

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah memunyai anak”. Maha Suci Allah. Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi. Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, lalu jadilah ia”. (QS. Al-Baqoroh: 116-117)

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (27) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ (28) وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (29) [الأنبياء: 26 – 29]

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (memunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.  Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah. Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. Demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim”. (QS. Al-Anbiyaa’: 26-29)

Perhatikanlah betapa besar kemurkaan Allah terhadap kaum Kristen dan semisalnya yang menyatakan bahwa Allah memiliki seorang anak!! Lantas kenapa kita berani mendekati orang-orang seperti ini dan selalu berlemah lembut dengan mereka dalam perkara agama.

Kenapa kita tak pernah tegas dan gamblang menyatakan agama kita, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammadﷺ. Agama yang membenci dan memberantas semua bentuk kesyirikan, termasuk di antaranya mengangkat makhluk sebagai anak Allah. SEMUA INI HARUS DIBERANTAS.

Kenapakah kita terlalu menampakkan kemesraan dan kecintaan kepada kaum Nasrani-Kristen yang menentang Allah dan Nabi Muhammad ﷺ!!

Padahal Allah secara tegas mengajari kita agar JANGAN mencintai mereka, apalagi menjadikan mereka orang-orang kepercayaan kita. Allah -Ta’ala- berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة: 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah: 22)

Tak diragukan lagi, bahwa kehadiran seseorang dalam acara Natal dan memberikan hadiah kepada mereka di hari itu termasuk BENTUK KECINTAAN KEPADA MUSUH-MUSUH Allah dan Rasul-Nya Muhammadﷺ.

Pertanyaan besar akan muncul ke permukaan: “Mungkinkah Nabi Isa alaihis salam menyatakan, bahwa dirinya adalah anak Allah atau Tuhan itu sendiri?”

Jawabnya, TIDAK MUNGKIN. Sebab, tak mungkin beliau menyalahi ayat di atas yang berisi ancaman bagi orang yang mengaku dirinya sebagai “Tuhan” dan sekutu dari selain Allah. Oleh karena itu, Nabi Isa alaihis salam di Hari Kiamat nanti akan MENYATAKAN PENGINGKARANNYA atas orang-orang Kristen yang telah memertuhankannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam mengabadikannya dalam Al-Kitab Al-Aziz:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة: 116 ، 117]

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku sebagai dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.  Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu”. (QS. Al-Maa’idah: 116-117)

Al-Imam Al-Hafizh Abul Fidaa’ Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurosyiy Ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata:

“هذا أيضًا مما يخاطب الله تعالى به عبده ورسوله عيسى ابن مريم، عليه السلام، قائلا له يوم القيامة بحضرة من اتخذه وأمه إلهين من دون الله: { وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ } ؟ وهذا تهديد للنصارى وتوبيخ وتقريع على رؤوس الأشهاد.” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (3 / 232)

“Ini juga merupakan perkara yang Allah bicarakan bersama hamba dan Rasul-Nya, Isa bin Maryam alaihis salam, seraya berkata kepadanya pada Hari Kiamat di depan orang-orang yang menjadikan beliau dan ibunya sebagai dua Tuhan dari selain Allah: “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku sebagai dua orang Tuhan dari selain Allah?”. Ini merupakan ancaman, kecaman dan teguran bagi kaum Nasrani (Kristen) di depan makhluk-makhluk” [Lihat Tafsir Ibni Katsir (3/232)].

Para pemimpin agama kaum Nasrani telah mengutak-atik Injil. Dahulu Injil mengajak kepada tauhid dan memberantas syirik, dan kini berubah total. Akhirnya, mereka mengajak kepada kesyirikan (menduakan Allah) bersama Nabi Isa alaihis salam.

Para pemuka agama Kristen, khususnya Paulus, telah mengubah Injil dengan segala macam silat lidahnya. Tidak mungkin Nabi Isa akan mengajak kepada kesyirikan yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam (yakni, tauhid: mengesakan Allah). Islamlah yang Nabi Isa bawa dan dakwahkan di tengah manusia.

Ketahuilah bahwa para nabi dan rasul itu satu di atas sebuah agama, yaitu Islam. Yang membedakan mereka adalah syariat dan metode mereka dalam beribadah.

Adapun kaum Yahudi dan Nasrani-Kristen, maka mereka telah MURTAD dari Islam yang dibawa oleh Nabi Isa alaihis salam, dengan sebab mereka mengangkat Tuhan selain Allah, yaitu Uzair dan Isa bin Maryam atau yang lainnya.

Agama yang mereka anut sepeninggal Nabi Isa adalah agama kekafiran yang mengajak manusia menduakan Allah Azza wa Jalla; BUKAN agama Nabi Isa!! Agama yang dibawa dan diserukan oleh Isa alaihis salam adalah Islam. Allah Azza wa Jalla menjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133) [البقرة: 132 ، 133]

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub (berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian. Maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqoroh: 132-133)

Perhatikan ucapan Ibrahim dan Ya’qub (Israel): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Sebuah pertanyaan: “Siapakah di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub yang diwasiati agar jangan mati, kecuali dalam keadaan beragama Islam?”

Jawabnya, Nabi Isa termasuk di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub, yang diajak dan diingatkan agar ber-Islam dan mati di atasnya.

Nabi Ibrahim, Ya’qub serta anak cucunya semua berada di atas Islam!! Bukan berada di atas agama Yahudi dan Nasrani-Kristen.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68) [آل عمران: 67 – 68]

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad). Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imraan: 67-68)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ  [البقرة: 140]

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan, bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak cucunya), adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah. Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Baqoroh: 140)

“Syahadah dari Allah” ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil, bahwa Nabi Ibrahim dan anak cucunya BUKAN penganut agama Yahudi atau Nasrani. Dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad ﷺ sebagai rasul yang akan MEMBENARKAN risalah sebelumnya, dan MENGHAPUS semua syariat yang ada!!

Seorang ulama tabi’in, Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata saat menafsirkan ayat ini:

كَانَتْ شَهَادَةُ اللَّهِ الَّذِي كَتَمُوا أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْرَءُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ الَّذِي أَتَاهُمْ إنَّ الدِّينَ الإِسْلامُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطَ كَانُوا بُرَّاءً مِنَ الْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ. فَشَهِدُوا لِلَّهِ بِذَلِكَ، وَأَقَرُّوا بِهِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِلَّهِ فَكَتَمُوا شَهَادَةَ اللَّهِ: عِنْدَهُمْ مِنْ ذَلِكَ. فَذَلِكَ مَا كَتَمُوا مِنْ شَهَادَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.” اهـ من تفسير ابن أبي حاتم – محققا – (1 / 246)

 “Syahadah (persaksian) Allah yang mereka sembunyikan adalah bahwasanya mereka dulu telah membaca dalam Kitab-kitab Allah yang datang (turun) kepada mereka: “Sesungguhnya agama (yang ada di sisi Allah) adalah Islam, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, serta bahwasanya Nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak keturunan Ya’qub) berlepas diri dari agama Yahudi dan Nasrani (Kristen)”.

Mereka (Ahlul Kitab) pun memersaksikan hal itu dan mengakui hal itu kepada Allah atas diri mereka. Tapi mereka menyembunyikan persaksian Allah tersebut atas hal tadi di sisi mereka!! Itulah yang mereka sembunyikan di antara persaksian Allah. Namun Allah tidak akan lalai dari apa yang kalian kerjakan”. [Lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim (1/246), Tafsir Ath-Thobariy (2134) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/451)]

Para pemuka agama Kristen seperti Paulus tahu, bahwa Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya’qub) adalah manusia-manusia yang beragama Islam!!

Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu Islam) membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Konstantinopel berusaha keras untuk mengubur Islam.

Pasalnya, Paulus itu beragama Yahudi yang jelas-jelas mengajak kepada kesyirikan (menduakan Allah). Apalagi kerajaan Konstantinopel waktu itu juga berlatar belakang agama penyembah berhala (Paganis).

Walaupun keduanya sudah masuk dalam agama Nabi Isa, menurut mereka, hanya saja kebiasaan syirik Paulus dan Raja Konstantinopel belum bisa ia tinggalkan.

Akhirnya, mereka berdua membuat format agama baru yang mempertuhankan Nabi Isa!! Na’udzu billahi min dzalika!!!

Padahal mereka tahu dengan jelas dan pasti, bahwa Nabi Isa TIDAK PERNAH mengangkat dirinya sebagai Tuhan!!!

Mereka telah memutarbalikkan fakta dan realita dengan silat lidah mereka yang lihai, sampai banyak di antara manusia menjadi domba-domba yang disesatkan oleh Paulus dan para pengekornya.

Mereka inilah yang disinggung oleh Allah Tabaroka wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (78) مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79) وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (80) [آل عمران: 78 – 80]

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab. Padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah”. Akan tetapi hendaknya (ia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani (sempurna ilmu dan takwanya), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap memelajarinya.  Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran, di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.

Kita katakan kepada Paulus dan pengekornya: “Apakah mungkin Nabi Isa mengajarkan manusia untuk mempertuhankan diri beliau??!”

Jawabnya, TIDAK MUNGKIN beliau melakukan hal itu, sebab itu adalah kekafiran yang menyalahi ajaran Islam yang beliau bawa.

Semoga penjelasan ini menyadarkan kita tentang KEBATILAN AGAMA YAHUDI DAN KRISTEN sehingga kita pun tidak kebablasan dalam bertoleransi dan mencintai mereka.

Semoga kaum Muslimin tidak lagi turut dan larut dalam acara batil mereka!! Amiin ya Robbal alamin…

 

Sumber https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/petuah-bermakna-agar-tidak-ikut-ikutan.html?m=1

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#StopBid’ah

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukumnya menerima orderan membuat cake ulang tahun? Yang di situ kita diminta membuat ucapan selamat ulang tahun dan angka usia yangg berulang tahun.

Jawaban:

Merayakan ulang tahun termasuk bid’ah, sebab menambah hari ‘Ied (perayaan rutin) tidak dibenarkan dalam Islam selain yang telah ditentukan oleh syariat yaitu ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha, ‘Iedul ‘Usbu’ (Jumat). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ melarang para sahabat untuk merayakan selain hari raya yang telah ditentukan dalam Islam. Berdasarkan hadis:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ »

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau berkata, ketika Rasulullah ﷺ mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau ﷺ bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu ‘Iedul Adha dan ‘Iedul fitri.” [HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud: 1039]

Hadis ini menunjukkan, bahwa perayaan hari tertentu dalam Islam bukan seremonial belaka, tetapi syariat yang diatur dalam Islam, sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Maka semua tambahan hari perayaan apapun yang tidak berdasarkan dalil termasuk bid’ah, seperti hari ulang tahun, Maulid Nabi ﷺ, perayaan Isra’ Mi’raj, perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram, Hari Ibu, Hari Bapak, Hari Kemerdekaan dan lain-lain.

Demikian pula dalam perayaan ulang tahun itu juga mengandung Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, memboroskan harta, belum lagi maksiat lainnya seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), nyanyian dan musik.

Oleh karena itu tidak boleh membantu membuat kue ulang tahun, karena itu berarti membantu dalam dosa. Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Bolehkah Menerima Orderan Kue Ulang Tahun?

, ,

TERNYATA ULANG TAHUN ADA DALAM INJIL MATIUS 14 : 6

TERNYATA ULANG TAHUN ADA DALAM INJIL MATIUS 14 : 6

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah

#DakwahTauhid

TERNYATA ULANG TAHUN ADA DALAM INJIL MATIUS 14 : 6

Pada masa-masa awal Nasrani, generasi pertama (Ahlul Kitab / Kaum Khawariyyun / pengikut Nabi Isa), mereka tidak merayakan upacara ulangtahun, karena mereka menganggap, bahwa pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar, dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme. Pada masa Herodeslah acara ulang tahun dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil Matius:

Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, di tengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)

————————————————————-

Look at the Bible, Matthew 14 : 6

Celebrating of birthday is Paganism, and Jesus (Isa, peace be upon him) doesn’t to do it, but Herod.

Matthew 14:6 :

“But when Herod’s birthday was kept, the daughter of Herodias danced before them, and pleased Herod”.

————————————————————-

Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya, dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku: Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)

Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada keluarga maupun teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah ini.

Sedangkan kita sama-sama tahu, bahwa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia MUHAMMAD ﷺ, dan kita ketahui Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling mengerti cara bermasyarakat, bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara menggembirakan para sahabat-sahabatnya. Rasulullah ﷺ paling mengerti, bagaimana cara mensyukuri hidup dan kenikmatannya. Rasulullah ﷺ paling mengerti bagaimana cara menghibur orang yang sedang bersedih. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling mengerti CARA BERSYUKUR. Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum Paganism, maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menyelisihinya. Apakah Rasulullah ﷺ pernah melakukannya ? Padahal Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa. Apakah Rasulullah ﷺ mengikuti tradisi ini ?

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak pun, kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya:”Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“ Man tasabbaha biqaumin fahua minhum” (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar).

Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah : 120)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti, apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran , pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al-Isra’:36)

Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan memeringati Ulang Tahun, tanpa mengerti dari mana asal perayaan tersebut.

Ini penjelasan Nabi ﷺ tentang sebagian umatnya yang akan meninggalkan tuntunan beliau ﷺ, dan lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar Islam. Termasuk juga di antaranya adalah peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi dengan label SYUKURAN.

Jika kita mau merenung apa yang harus dirayakan atau disyukuri, dengan BERKURANGNYA usia kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR? SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa merayakannya tahun depan?

Seorang Muslim dia dituntut untuk MUHASABAH setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya TIDAK akan pernah kembali lagi, sampai nanti dipertemukan oleh ALLAH pada hari penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat pada hari itu, baik anak maupun harta, kecuali orang yang menghadap ALLAH dengan membawa hati yang ikhlas dan amal yang saleh.

Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita BUANG jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-anak kita, dan menggantinya dengan tuntunan yang mulia yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

 

Sumber: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/07/ternyata-ulang-tahun-ada-dalam-injil.html

,

BOLEHKAH MERAYAKAN ULANG TAHUN DENGAN MEMBERI MAKAN ANAK YATIM?

BOLEHKAH MERAYAKAN ULANG TAHUN DENGAN MEMBERI MAKAN ANAK YATIM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MERAYAKAN ULANG TAHUN DENGAN MEMBERI MAKAN ANAK YATIM?

Pertanyaan:

Kalau orang yang merayakan hari ulang tahunnya dengan cara memberi makan/uang kepada anak yatim/fakir miskin, itu bagaimana ustadz?

Jawaban Al-Ustadz Abu Muawiah hafizhahullah

Yang kita masalahkan di sini adalah perayaannya, bukan memberi makannya. Memberi makannya adalah kebaikan. Akan tetapi pemberian makanan itu dalam rangka merayakan hari lahirnya, inilah yang kesalahan. Jadi, kalau ingin mensyukuri Allah masih memberinya umur, maka dia bisa memberi makan kepada orang miskin kapan saja, jangan dikhususkan pada hari lahirnya.

Wallahu ta’ala a’lam.

Abu Muawiah [http://al-atsariyyah.com/hukum-mengucapkan-selamat-ulang-tahun.html]

, ,

HUKUM MAKAN KUE ULANG TAHUN

HUKUM MAKAN KUE ULANG TAHUN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM MAKAN KUE ULANG TAHUN

المسلمون هنا يحتفلون بمولد الأطفال ويقدمون الطعام للضيوف ويؤدون الصلاة النارية وقد رفضنا ذلك لكن ذهبنا حتى لا يصيبنا الحرج وهم يجعلوننا نأكل قهراً قائلين أنهم فقط يصنعون الطعام للضيوف فهل لنا أن نأكل من هذا الطعام؟ وما الدليل على عدم الأكل منه مع علمنا أن هذا الأمر بدعة ؟.

Pertanyaan:

“Kaum muslimin di daerah kami merayakan ulang tahun anak-anaknya. Dalam acara tersebut mereka menyuguhkan makanan untuk para tamu. Mereka juga membaca sholawat Nariyah.

Sebenarnya kami tidak menyetujui acara semacam itu, namun kami tetap mendatangi undangan acara ulang tahun, agar kami tidak mendapatkan masalah di tengah-tengah masyarakat. Mereka membuat kami terpaksa memakan makanan ulang tahun. Mereka beralasan bahwa mereka itu hanya membuat makanan untuk para tamu.

Apakah kami boleh turut menikmati makanan yang disuguhkan? Kami sudah mengetahui bahwa acara tersebut bid’ah, namun apa dalil untuk melarang memakan makanan tersebut?”

الحمد لله

الإحتفال بالمولد بدعة في دين الله ، لا تجوز إقامته ، ولا يجوز الأكل مما يصنع فيه ولأجله ، وزعمهم أن طعام المولد من أجل الضيوف لا يبرر أكله ، والضيافة لها أحكامها ، والأمور بماقصدها ، ومن الواضح جدا أن الطعام إنما صنع من أجل هذه المناسبة المبتدعة . والأكل من هذا الطعام مما يعينهم على الإستمرار وهو تعاون على الإثم والعدوان ، والله سبحانه وتعالى قال : ( وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان ) .

الشيخ عبد الكريم الخضير .

Jawaban Syaikh Abdul Karim al Khudair:

“Perayaan hari lahir itu bid’ah dalam agama Allah. TIDAK BOLEH MENGADAKANNYA, TIDAK BOLEH MEMAKAN MAKANAN YANG ADA PADA ACARA TERSEBUT ATAUPUN MAKANAN YANG DIBUAT UNTUK ACARA TERSEBUT. Anggapan mereka bahwa makanan peringatan hari lahir itu karena datangnya banyak tamu, bukanlah alasan yang bisa dibenarkan untuk menikmatinya. Menjamu tamu itu ada aturannya.

Banyak perkara itu dinilai dengan melihat niat pelakunya. Satu hal yang sangat jelas, bahwa makanan tersebut dibuat dalam rangka acara itu.

Memakan makanan yang dihidangkan pada acara tersebut itu membantu pelakunya untuk terus menerus menyelenggarakannya, sehingga hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran syariat yang Allah larang dalam al Maidah ayat kedua”. Sampai di sini perkataan Syaikh Abdul Karim al Khudair.

أما الصلاة النارية فهي من صلوات الصوفية المبتدعة فلا يجوز حضور مجالسها ولا المشاركة فيها .

Tentang sholawat Nariyah Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid mengatakan:

“Sholawat Nariyah adalah sholawat bid’ah buatan orang-orang Sufi. Tidak boleh menghadiri acara membaca sholawat Nariyah, apa lagi berperan serta dalam acara tersebut”.

http://islamqa.com/ar/ref/9485

 

Sumber: http://ustadzaris.com/hukum-makan-kue-ulang-tahun

 

,

HALALKAH PENGHASILAN MEMBANTU MERAYAKAN NATAL?

HALALKAH PENGHASILAN MEMBANTU MERAYAKAN NATAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

HALALKAH PENGHASILAN MEMBANTU MERAYAKAN NATAL?

Pertanyaan:

Apakah penghasilan saya ini termasuk syubhat ataukah tidak halal? Saya seorang pedagang di pasar yang memunyai usaha penggilingan gula halus dengan penggilingan beras. Yang menjadi pertanyaan, apakah saya boleh menggiling gula dan beras milik orang-orang Nasrani yang diperuntukkan membuat kue, saat mereka akan merayakan Natal?

Jawaban.

Peringatan Natal dan semisalnya adalah simbol dan syiar kekufuran. Karenanya seorang Muslim tidak boleh membantunya.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, jangan tolong-menolong dalam dosa dan maksiat. [al-Maidah/5:2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Adapun menjual kebutuhan perayaan orang kafir seperti makanan, pakaian, wewangian dan yang lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, di dalamnya terdapat bentuk pertolongan kepada mereka dalam melaksanakan perayaan yang diharamkan.”

Ibnu Habib al-Maliki rahimahullah berkata:“Tidak halal bagi kaum Muslimin untuk menjual kepada orang Nasrani kebutuhan perayaan mereka seperti daging, lauk, pakaian, meminjamkan kendaraan. Tidak boleh membantu mereka dalam hal ini, karena itu termasuk pengagungan syirik dan membantu kekufuran mereka.” [Lihat Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, 2/526; al-Fatawa al-Kubra, 2/489; dan Ahkam Ahli Dzimmah, 3/125].

Menggilingkan gula dan beras mirip dengan menjual barang-barang di atas. Anda boleh menggilingkan barang kebutuhan mereka sehari-hari. Namun jika diyakini bahwa gula atau beras yang digiling akan dipakai untuk perayaan Natal, Anda tidak boleh untuk membantu mereka [HR ad-Daraquthni, 3/7 dan Ibnu Hibban, no. 4. 938; ditegaskan keshahihannya oleh al-Albani dan Syu’aib al-Arna`uth].

Mengenai uang yang diperoleh dari penggilingan kebutuhan Natal ini, Rasulullah ﷺ   bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذا حَرَّم شَيْئاً حَرَّم ثَمَنَهُ

Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu, Allah mengharamkan uangnya.

Jadi, tidak boleh menggilingkan barang kebutuhan Natal mereka. Jika hal itu sudah terjadi pada masa lalu dalam keadaan kita sudah mengetahui hukumnya, Anda harus membersihkan harta Anda dari uang tersebut. Dan jika hal itu telah dilakukan dalam keadaan tidak mengetahui hukum, maka Anda cukup bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla , dan harta yang telah diperoleh boleh dipakai [Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 14/32 no. 12.240 dan 14/484 no. 18.909]

Wallahu A’lam.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3296-halalkah-penghasilan-membantu-merayakan-natal.html