Posts

,

ZIKIR YANG SANGAT DAHSYAT PAHALANYA

ZIKIR YANG SANGAT DAHSYAT PAHALANYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

ZIKIR YANG SANGAT DAHSYAT PAHALANYA

Suatu saat Nabi ﷺ melihat Abu Umamah radhiallahu ‘anhu menggerakkan bibirnya, maka beliau bertanya: “Apa yang sedang kau baca wahai Abu Umamah”.

Dia menjawab: “Aku sedang berzikir kepada Allah”.

Beliau ﷺ mengatakan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu zikir yang pahalanya LEBIH BANYAK dari zikirmu selama SEHARI SEMALAM?

Kemudian beliau ﷺ mengajarinya (…zikir di bawah ini…), dan beliau ﷺ berpesan ajarkanlah zikir ini kepada orang-orang setelahmu.

[HR Ath-Thobroni dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabir no 7930, Hadis dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahihul Jami’: 2615].

Mari kita berzikir dengannya, dan mari kita ajarkan kepada orang lain:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

سُبْحَان الِله عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

 

  • Alhamdulillahi ‘Adada Maa Kholaqo
  • Walhamdulillahi Mil-a Maa Kholaqo
  • Walhamdulillahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
  • Walhamdulillahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
  • Walhamdulillahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
  • Walhamdulillahi ‘Adada Kulli Syai-in
  • Walhamdulillahi Mil-a Kulli Syai-in
  • Subhanallahi ‘Adada Maa Kholaqo
  • Wa Subhanallahi Mil-a Maa Kholaqo
  • Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
  • Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
  • Wa Subhanallahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
  • Wa Subhanallahi ‘Adada Kulli Syai-in
  • Wa Subhanallahi Mil-a Kulli Syai-in

Artinya:

  • ALHAMDULILLAH sebanyak semua ciptaan-Nya,
  • Dan ALHAMDULILLAH sepenuh semua ciptaan-Nya,
  • Dan ALHAMDULILLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
  • Dan ALHAMDULILLAH sebanyak semua yang dicatat kitab-Nya,
  • Dan ALHAMDULILLAH sepenuh apa yang dicatat kitab-Nya,
  • Dan ALHAMDULILLAH sebanyak segala sesuatu,
  • Dan ALHAMDULILLAH sepenuh segala sesuatu.
  • SUBHANALLAH sebanyak semua ciptaan-Nya,
  • Dan SUBHANALLAH sepenuh semua ciptaan-Nya,
  • Dan SUBHANALLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
  • Dan SUBHANALLAH sebanyak semua yang dicatat kitab-Nya,
  • Dan SUBHANALLAH sepenuh apa yang dicatat kitab-Nya,
  • Dan SUBHANALLAH sebanyak segala sesuatu,
  • Dan SUBHANALLAH sepenuh segala sesuatu.

 

Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Sumber:

 

,

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

إذا ﺍﺷﺘﺪﺕ ﻏﺮﺑﺔ ﺍﻹ‌ﺳﻼ‌ﻡ، ﻗﻞَّ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻏﻠﺐَ ﺍﻟﺴﻔﻬﺎﺀ.

“Jika keterasingan Islam semakin besar, maka para ulama semakin sedikit, dan orang-orang dungu yang akan mendominasi.” [Zaadul Ma’ad, jilid 3 hlm. 443]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA
Rasulullah ﷺ bersabda:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu Dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba, sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” [HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

 

Sumber: https://rumaysho.com/358-memakan-satu-dirham-dari-hasil-riba.html

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA…!

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#Mutiara_Sunnah

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA…!

Rasulullah ﷺ bersabda:

 يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

 لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

 وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

 وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

 وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

 وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

 

“Wahai kaum Muhajirin, waspadailah lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemuinya:

1) Tidaklah perzinahan nampak (terang-terangan) pada suatu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un, dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.

2) Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan diazab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

3) Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit. Andaikan bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.

4) Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.

5) Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.” [HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 106]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1989695814596553:0

http://www.taawundakwah.com/mutiara-sunnah/mutiara-sunnah-awas-lima-dosa-besar-penyebab-bencana/

 

 
,

APAKAH WANITA HAID BOLEH MEMBACA ALQURAN ATAU TIDAK?

APAKAH WANITA HAID BOLEH MEMBACA ALQURAN ATAU TIDAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH WANITA HAID BOLEH MEMBACA ALQURAN ATAU TIDAK?

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah wanita yang haid boleh membaca Alquran atau tidak? Dan yang kuat, wallahu a’lam, diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca Alquran, karena tidak adanya dalil yang shahih yang melarang.

Bahkan dalil menunjukkan, bahwa wanita yang haid boleh membaca Alquran. Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha yang akan melakukan umrah, akan tetapi datang haid:

ثم حجي واصنعي ما يصنع الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت ولا تصلي

“Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali thawaf dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

Berkata Syeikh Al-Albany:

فيه دليل على جواز قراءة الحائض للقرآن لأنها بلا ريب من أفضل أعمال الحج وقد أباح لها أعمال الحاج كلها سوى الطواف والصلاة ولو كان يحرم عليها التلاوة أيضا لبين لها كما بين لها حكم الصلاة بل التلاوة أولى بالبيان لأنه لا نص على تحريمها عليها ولا إجماع بخلاف الصلاة فإذا نهاها عنها وسكت عن التلاوة دل ذلك على جوازها لها لأنه تأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز كما هو مقرر في علم الأصول وهذا بين لا يخفى والحمد لله

“Hadis ini menunjukkan bolehnya wanita yang haid membaca Alquran. Karena membaca Alquran termasuk amalan yang paling utama dalam ibadah haji, dan Nabi ﷺ telah membolehkan bagi Aisyah semua amalan, kecuali thawaf dan shalat. Dan seandainya haram baginya membaca Alquran, tentunya akan beliau ﷺ terangkan, sebagaimana beliau ﷺ menerangkan hukum shalat (ketika haid). Bahkan hukum membaca Alquran (ketika haid) lebih berhak untuk diterangkan, karena tidak adanya nash dan ijma’ yang mengharamkan. Berbeda dengan hukum shalat (ketika haid). Kalau beliau ﷺ melarang Aisyah dari shalat (ketika haid), dan tidak berbicara tentang hukum membaca Alquran (ketika haid), ini menunjukkan, bahwa membaca Alquran ketika haid diperbolehkan, karena mengakhirkan keterangan ketika diperlukan tidak diperbolehkan, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam ilmu Ushul Fiqh. Dan ini jelas tidak samar lagi, walhamdu lillah.” (Hajjatun Nabi hal:69).

Namun jika orang yang berhadats kecil dan wanita haid ingin membaca Alquran, maka DILARANG menyentuh Mushhaf atau bagian dari Mushhaf, dan ini adalah pendapat empat madzhab, Hanafiyyah (Al-Mabsuth 3/152), Malikiyyah (Mukhtashar Al-Khalil hal: 17-18), Syafi’iyyah (Al-Majmu’ 2/67), Hanabilah (Al-Mughny 1/137). Mereka berdalil dengan firman Allah ta’alaa:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (الواقعة: 79)

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.”

Sebagian ulama mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan Mushaf yang kita dilarang menyentuhnya adalah termasuk kulitnya/sampulnya, karena dia masih menempel. Adapun memegang Mushhaf dengan sesuatu yang tidak menempel dengan Mushhaf (seperti kaos tangan dan yang sejenisnya), maka diperbolehkan.

Berkata Syeikh Bin Baz:

يجوز للحائض والنفساء قراءة القرآن في أصح قولي العلماء ؛ لعدم ثبوت ما يدل على النهي عن ذلك بدون مس المصحف، ولهما أن يمسكاه بحائل كثوب طاهر ونحوه، وهكذا الورقة التي كتب فيها القرآن عند الحاجة إلى ذلك

“Boleh bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Alquran menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama, karena tidak ada dalil yang melarang. Namun TIDAK BOLEH menyentuh Mushhaf, dan boleh memegangnya dengan penghalang seperti kain yang bersih atau selainnya. Dan boleh juga memegang kertas yang ada tulisan Alquran (dengan menggunakan penghalang) ketika diperlukan” (Fatawa Syeikh Bin Baz 24/344).

Ketiga:

Yang lebih utama adalah membaca Alquran dalam keadaan suci, dan boleh membacanya dalam keadaan tidak suci karena hadats kecil. Dan ini adalah kesepakatan para ulama.

Berkata Imam An-Nawawy:

أجمع المسلمون على جواز قراءة القرآن للمحدث الحدث الاصغر والأفضل أن يتوضأ لها

“Kaum Muslimin telah bersepakat atas bolehnya membaca Alquran untuk orang yang tidak suci karena hadats kecil, dan yang lebih utama hendaknya dia berwudhu.” (Al-Majmu’, An-Nawawy 2/163).

Di antara dalil yang menunjukan bolehnya membaca Alquran TANPA berwudhu adalah hadis Ibnu Abbas ketika beliau bermalam di rumah bibinya Maimunah radhiyallahu ‘anha (istri Rasulullah ﷺ). Beliau berkata:

فنام رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى إذا انتصف الليل أو قبله بقليل أو بعده بقليل استيقظ رسول الله صلى الله عليه و سلم فجلس يمسح النوم عن وجهه بيده ثم قرأ العشر الخواتم من سورة آل عمران

“Maka Rasulullah ﷺ tidur sampai ketika tiba tengah malam, atau sebelumnya atau sesudahnya. Beliau bangun kemudian duduk dan mengusap muka dengan tangan beliau, supaya tidak mengantuk. Kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran.” (HR.Al-Bukhary)

Di dalam hadis ini Rasulullah ﷺ membaca Alquran setelah bangun tidur, sebelum beliau berwudhu. Imam Al-Bukhary telah meletakkan hadist ini di beberapa bab di dalam kitab beliau (Shahih Al-Bukhary). Di antaranya di bawah bab:

باب قراءة القرآن بعد الحدث وغيره

“Bab Membaca Alquran Setelah Hadats Dan Selainnya”

Namun sekali lagi, TIDAK BOLEH bagi orang yang berhadats kecil menyentuh Mushaf secara langsung.

Wallahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/892-bolehkah-wanita-haid-membaca-Alquran.html

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

JANGAN LAGI PERNAH KATAKAN, IKHLAS ITU BAGAIKAN BUANG AIR BESAR

>> Buang Air Besar (Sekilas Nampak Cerdas Namun Ternyata Kejam)

Dalam banyak kesempatan, bisa jadi kita berpikir pintas dan bertindak ceroboh. Akibatnya, di kemudian hari kita menyesali ucapan dan sikap kita . Terlebih setelah kita terbentur dan menyadari konsekwensi ucapan atau sikap kita.

Imam Al Hasan Al Bashri mengisahkan:

” كَانُوا يَقُولُونَ إِنَّ لِسَانَ الْحَكِيمِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُولَ رَجَعَ إِلَى قَلْبِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ . وَإِنَّ الْجَاهِلَ قَلْبُهُ عَلَى طَرْفِ لِسَانِهِ ، لَا يَرْجِعُ إِلَى قَلْبِهِ ، مَا أَتَى عَلَى لِسَانِهِ تَكَلَّمَ ” .

“Dahulu orang orang bijak/ulama berkata: Sesungghnya lisan orang bijak selalu diposisikan di belakang akalnya, sehingga setiap hendak berkata sesuatu, terlebih dahulu ia memikirkannya. Bila ia merasa ucapan itu bermanfaat baginya, maka ia mengucapkannya. Namun bila ia anggap dapat merugikannya, maka ia menahan dirinya.”

Sedangkan orang pandir, akal pikirannya seakan berada di ujung lisannya, sehingga ia tidak pernah memikirkan ucapannya (ceroboh). Apapun yang ingin ia ucapkan, maka spontan ia ucapkan .

Di antara ucapan ceroboh ialah perkataan: Gambaran orang ikhlas bagaikan orang yang buang air besar atau air kecil, tidak pernah ada pamrih atau keberatan, benar-benar direlakan. Bahkan kalaupun harus bayar untuk dapat BAB atau BAK, maka kitapun rela membayar.

Sekilas ilustrasi ini tampak baik. Namun bila dipikirkan baik-baik, hal ini adalah GAMBARAN KEJI yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang beriman.

BAB atau BAK kita lakukan karena kita sadar, itu adalah sampah, dan kita terganggu dengan keduanya. Sehingga kita pun rela membuangnya, kalaupun tidak ada yang tahu, kita tidak lagi sudi menyimpannya, apalagi memanfaatkannya lagi.

Sedangkan ibadah, sedekah dan amal kebaikan lainnya, maka bukan sampah yang kita berikan atau kita lakukan, namun harta yang paling bagus atau minimal bagus, dan kita menyayanginya.

Harta yang kita cintailah yang kita sedekahkan, dan amal kebaikan yang kita lakukan. Andai bukan karena mengharap balasan dari Allah, niscaya kita tidak rela memberikannya, dan dengan senang menyimpannya. Demikianlah gambaran sedekah yang kita salurkan dengan ikhlas. Allah ta’ala berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kalian tidaklah dapat mencapai derajat kebajikan hingga kalian rela menginfakkan sebagian harta yang kalian sayangi. Dan tidaklah ada harta sedikit pun yang engkau infakkan, melainkan Allah pasti mengetahuinya ( dan membalasnya).” [QS Ali Imran 92]

Dan pada ayat lain, Allah mencela orang yang hanya menginfakkan harta yang telah rusak atau cacat, sehingga pemiliknya saja risih untuk melihat atau memilikinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Wahai orang orang yang beriman, infakkanlah sebagian harta yang baik dari yang kalian peroleh, dan dari sebagian dari yang Kami keluarkan dari perut bumi untuk kalian. Janganlah engkau sengaja memilih harta yang buruk, lalu darinya kalian berinfak. Padahal kalian tidak lagi sudi mengambilnya, kecuali dalam kondisi memercingkan mata ( risih). Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS Al Baqarah 267]

 

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri

Sumber: https://bahterailmu.wordpress.com/2014/11/14/ikhlas-itu-bagaikan-buang-air-besar/

,

TATA CARA MANDI JUNUB SESUAI SUNNAH NABI (VIDEO)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah
#KajianSunnah

TATA CARA MANDI JUNUB SESUAI SUNNAH NABI ﷺ (VIDEO)

Tautan: https://youtu.be/tbedjQW1GPI

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#MenuntutIlmuSyari

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata:

ولَا رَيب أن حِرمان العِلم النّـافع مِـن أَعظم المَصَـائب

“Tidak diragukan lagi, bahwasanya terhalanginya seseorang dari mendapatkan ilmu yang bermanfaat itu, termasuk musibah yang sangat besar.” [Majmu’ fatawa 6/312]

Sumber:
Instagram: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir #UtangPiutang #PinjamMeminjam #FikihMuamalah

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

Penulis: Ustadz Sufyan Baswedan

Pertanyaan:

Saya punya utang yang cukup banyak, salah satunya karena usaha yang gagal. Saya tidak berniat sedikit pun untuk lari dari utang. Saya takut kalau suatu saat saya meninggal, namun utang saya belum dilunasi.
Satu-satunya usaha yang sekarang sedang saya jalani ikut bisnis online. Pertimbangannya: sudah ada internet dan komputer.
Usia saya 45 tahun. Tentunya tidak memungkinkan melamar kerja, karena kerja di mana pun pasti usianya dibatasi, maksimal 30 tahunan.
Mau usaha dagang ini butuh modal yang tidak sedikit, dan butuh tempat. Ini juga tidak memungkinkan. Di samping itu tenaga saya juga lemah.
Kira-kira bagaimana solusinya ya Ustadz? Mohon doanya juga agar masalah saya cepat selesai.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya:

“Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku: “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu, utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah. Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

 

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya: “Hai putraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.
“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya:” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”
“Allah,” jawab Zubeir.
“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata: “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.
Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping Dinar maupun Dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah), 11 unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.
“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.
Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat, atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.
“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta Dirham!” Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya: “Wahai putra saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”
Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “Seratus ribu.”
Hakim berkomentar: “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menuruntuku.”
“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.
“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.
Abdullah lantas mengumumkan: “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu Dirham.
Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”
“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.
“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.
“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.
Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.
Mu’awiyah bertanya: “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”
“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.
“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
‘Amru bin Utsman berkata: “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Mu’awiyah bertanya: “Berapa kapling yang tersisa?”
“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.
“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.

Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu Dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian, sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir, hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! [HR. Bukhari No. 3129]

Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana. Namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari utangnya, tapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada putranya, doa apa kiranya yang harus kita baca agar bebas dari lilitan utang?

Dalam Sahih Muslim disebutkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita membaca doa berikut setiap hendak tidur:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Alquran). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami, dan berilah kami kekayaan (kecukupan), hingga terlepas dari kefakiran.” [HR. Muslim no. 2713]

Tulisan di atas merupakan artikel yang ditulis oleh Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. yang diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim edisi 33. Secara khusus, Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. merupakan kolumnis Majalah Pengusaha Muslim untuk rubrik adab dan doa. Ada banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari tulisan beliau. Sederhana, namun sarat makna.

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15787-karena-doa-utang-jadi-kekayaan.html