Posts

, ,

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

Memang …
Tak selamanya iman itu naik …
Kadang di hari ini semangat beramal …
Esoknya menjadi lemah …
Hari ini terasa khusyu membaca Alquran …
Lusa dihantui oleh futur …
Duh …
Tapi semua itu akan selalu ada …
 
Dalam sebuah hadis:
 
لكل عمل شرة ولكل شرة فترة فمن كانت فترته إلى السنة فقد اهتدى ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك
Ingatlah, setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barang siapa yang kemalasannya masih dalam koridor sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barang siapa yang keluar dari petunjuk tersebut, maka ia binasa.”
 
Futur menuju sunnah …
Berpindah dari satu amal kepada amal lain …
Di saat futur untuk membaca Alquran..
Beralih kepada zikir …
Di saat futur untuk berinfak …
Beralih kepada shaum …
 
Tapi di saat futur untuk menuntut ilmu …
Payah …
Karena ilmu itu pondasi amal …
Bagaimana bisa beramal Sunnah …
Sementara pondasi telah rapuh …
 
Futur …
Adalah parasit bagi pencari Surga …
 
Silakan disebarkan. Mudah-mudah Anda mendapatkan bagian dari pahalanya.
 
Barakallah fikum.
Ditulis oleh: Ustadz Badru Salam, Lc. حفظه الله تعالى
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#adabakhlak #tazkiyatunnufus #malas #futur #koridorSunnah #futurlagifuturlagi #semangat #bersemangat

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

, ,

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari
#DakwahSunnah

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

Sejatinya ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi. Ia adalah pemangku tugas nabi. Semua tugas nabi, ia yang mewarisinya. “Para nabi tidak mewariskan Dinar maupun dirham. Yang mereka wariskan adalah ilmu. Siapa yang mengambil warisan itu, berarti ia mengambil bagian yang banyak.” Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Jika ulama adalah pewaris nabi, berarti dialah yang bertugas membimbing dan membina umat sepeninggal nabi. Jika ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi, maka dialah yang berkewajiban menuntun umat menuju kehidupan yang bahagia sebagaimana dicontohkan nabi. Dan jika ulama adalah pemangku tugas nabi, maka dialah yang berhak mengentaskan dan menyelamatkan umat dari kegelapan, kehancuran, kebodohan, dan kenistaan, seperti yang dituntunkan nabi. Jika memang demikian, sungguh berat amanah yang ada di pundaknya, dan sungguh sangat mulia pekerjaan itu. “Ulama adalah pewaris nabi“. Sungguh, hanya orang pilihanlah yang mampu mengambil warisan nabi itu.

Jika kebahagiaan hidup umat manusia itu, baik dunia maupun Akhirat, tergantung pada petunjuk nabi, maka sepeninggal Nabi pun, kebahagian umat manusia juga tergantung pada petunjuk ulama yang menapaktilasi tuntunan nabi.

Lalu, Siapakah Ulama Itu?

Ibnu Jarir ath-Thabari mengungkapkan dalam kitab tafsirnya Jami’ul Bayan, bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah seorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fikih, ilmu, agama, dan dunia.

Sementara itu, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in-nya membatasi, bahwa ulama adalah orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan memelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.

Ulama adalah seorang pemimpin agama yang dikenal masyarakat luas akan kesungguhan dan kesabarannya dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 24).

Ia adalah seorang yang menekuni dan mendalami agama, kemudian mendakwahkannya kepada umat. Allah Azza wajalla menegaskan:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tiap-tiap golongan tidak mengutus beberapa orang untuk memerdalam agama, lalu memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga diri.” (Q.S. At-Taubah [9]: 122).

Ia seorang penunjuk jalan bagi umat manusia pada setiap zaman. Ia seperti yang disabdakan Nabi ﷺ:

“Akan selalu ada di umatku ini, sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah. Tidaklah memberinya madharat, siapa saja yang melecehkannya atau menyelisihinya, sampai datang ketetapan dari Allah, sedangkan ia dalam keadaan dimenangkan atas yang lain” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Siapakah gerangan kelompok yang dimenangkan itu? Mereka, ungkap Nawawi dalam Syarh Shahih Muslimnya, sekelompok orang Mukmin yang terdiri dari para pejuang yang gagah berani, para ahli hadis, para ahli ibadah, para penegak amar makruf dan nahi munkar, dan yang lainnya. Bukanlah sebuah keharusan, tegasnya lebih lanjut, mereka ini berkumpul di bawah satu bendera. Sebab, bisa saja mereka ini menyebar di berbagai belahan bumi. Tetapi yang jelas, siapa pun kelompok itu, para ulamalah yang menjadi pemuka dan pemimpinnya, tanpa ada yang memerselisihkannya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Mengenal Ulama Lebih Dekat” yang ditulis oleh: Abu Hasan Abdillah, BA., MA.

Sumber: http://muslim.or.id/24516-mengenal-ulama-lebih-dekat-1.html

, ,

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MenuntutIlmuSyari
#DakwahSunnah

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya:

“Maka bertanyalah kepada Ahlul Dzikr, jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya):

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata: ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertaubat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya, sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata: ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari SALAH MENGAMBIL RUJUKAN ILMU. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat. Orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“Hadis ini mengandung penjelasan, bahwa seorang Muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang Muslim TIDAK akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Di dalamnya ada penjelasan, bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka, sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?” oleh:  Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan hafizahullah dari website: http://asysyariah.com/siapakah-yang-berhak-diambil-ilmunya/

,

JABAT TANGAN MENGUGURKAN DOSA

JABAT TANGAN MENGUGURKAN DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraHadis

#AdabAkhlak

JABAT TANGAN MENGUGURKAN DOSA

Di antara praktik mudah menerapkan akhlak mulia dalam pergaulan sehari-hari ialah bersalaman ketika bertemu. Ketika bertemu dengan saudara seiman, baik yang sudah dekat ataupun baru dikenal, raihlah tangannya untuk bersalaman. Jangan lewatkan kesempatan tersebut, karena dengan bersalaman, akan menggugurkan dosa-dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dishahihkan oleh al-Albani)

Dalam hadis lain, dikatakan bahwa dosa-dosa orang yang bersalaman itu berguguran, sebagaimana gugurnya daun. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seorang Mukmin bertemu dengan Mukmin yang lain, ia memberi salam padanya, lalu meraih tangannya untuk bersalaman, maka berguguranlah dosa-dosanya, sebagaimana gugurnya daun dari pohon.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/59)

Tidak tepat sikap orang yang hanya bersalaman dengan orang yang dikenal saja atau yang akrab saja. Karena hadis-hadis di atas menyebutkan keutamaan bersalaman antar sesama Muslim secara umum, baik yang dikenal maupun baru kenal atau tidak kenal sebelumnya. Tidak tepat pula orang yang menunggu disodori tangan dahulu, baru ia bersalaman. Hendaknya setiap kita bersemangat untuk menjadi yang pertama kali menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Mengapa? Karena demikian lah yang dipuji oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Sebagaimana dalam hadis: “Ketika datang rombongan penduduk Yaman, Nabi ﷺ bersabda: ‘Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang hatinya lebih halus dari kalian’. Anas bin Malik menambahkan: ‘Dan mereka juga orang-orang yang biasanya pertama kali menyodorkan tangan untuk bersalaman.’” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 967; Ahmad 3/212)

 

 

TG Channel @salamdakwah

 

,

SEMANGATLAH MENGHADIRI KAJIAN ILMIAH

SEMANGATLAH MENGHADIRI KAJIAN ILMIAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEMANGATLAH MENGHADIRI KAJIAN ILMIAH

Sebagai motivasi, lihatlah nasihat ulama berikut tentang lezatnya menimba ilmu agama, di samping kesibukan kita sehari-hari menggeluti ilmu dunia dan aktivitas dunia.

Umar bin Khottob rodhiallohu anhu berkata:

“Sungguh ada orang yang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa seperti Gunung Tihamah. Maka ketika dia mendengar kajian ilmu, dia menjadi takut, kembali baik, dan bertaubat. Lalu orang itu pun kembali ke rumahnya tanpa dosa sedikit pun [Miftahu daris sa’adah, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, 1/122].

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .

“Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena memelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ

“Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”

Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan:

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ

“Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.”

Dalam perkataan lainnya, Imam Asy Syafi’i berkata:

لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ

“Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib, yang lebih utama dari menuntut ilmu.”

Imam Asy Syafi’i berkata pula:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin Akhirat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memeroleh dunia dan Akhirat.

 

Sumber:

https://rumaysho.com/1829-langkah-kuliah-teknik-di-ksu-riyadh.html

https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/663291737184921/?type=3&theater