Posts

,

ANTA MA’A MAN AHBABTA

ANTA MA'A MAN AHBABTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ANTA MA’A MAN AHBABTA

Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).
Inilah di antara faidah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah, atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul ﷺ.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, bahwa seseorang bertanya pada Nabi ﷺ: “Kapan terjadi Hari Kiamat, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ berkata: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab: “Aku tidaklah memersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliauﷺ berkata:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْت
َ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” [HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639]

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan: “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi ﷺ: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan: “Kalau begitu aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”  [HR. Bukhari no. 3688]

Sumber: Rumaysho.Com
Twitter @IslamDiaries

 

INFO DONASI DAN PENYALURAN ZAKAT, INFAK, SEDEKAH DAN BUKA PUASA 1438H

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi

INFO DONASI DAN PENYALURAN ZAKAT, INFAK, SEDEKAH DAN BUKA PUASA 1438H

>> Kesempatan Emas Beramal Saleh di Bulan Berkah

Dukung Dakwah dan Buka Puasa Bersama Muallaf dan Fuqoro Kampung Laut dan Rawajaya Cilacap

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَما أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan harta apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-Baqoroh: 261]

Saudaraku, raihlah amal saleh di bulan yang penuh berkah ini dengan memberi makan orang yang berbuka puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makan buka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala sama dengan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 6415]

Penyaluran Zakat, Infaq dan Sedekah dan Buka Puasa:

  • Rekening Khusus Zakat, Kemanusiaan dan Buka Puasa:
  • BNI Syariah: 0496-0055-48
  • Rekening Khusus Dakwah dan Pendidikan:
  • BNI Syariah: 0496-0056-05
  • Semuanya a/n: Yayasan Markaz Taawun Dakwah
  • (Transfer ATM dari selain Bank BNI dan BNI Syariah: Tambahkan Kode Bank BNI Syariah 009)

Konfirmasi Transfer (SMS/WA/Telegram): 08111377787

Download Rekaman Ahlus Sunnah Melawan Kristenisasi Cilacap: http://sofyanruray.info/dakwah-ahlus-sunnah-membendung-kristenisasi/

DONASI BUKA PUASA TAHAP II DI SEMARAK YPIA 1438H

بسم الله الرحمن الرحيم
#InfoDonasi
 
DONASI BUKA PUASA TAHAP II DI SEMARAK YPIA 1438H
 
Alhamdulillah, hari ini YPIA Yogyakarta telah mendistribusikan donasi sebanyak 13.315 porsi atau senilai Rp 171.560.000,- yang dibagikan di 27 tempat sebagai berikut:
 
01. Masjid Siswa Graha
02. Masjid Al Hasanah Terban
03. Al Ikhlas Sendowo
04. Masjid Al Mukmin Manggung
05. Masjid Al Falah Mrican
06 .Masjid Al Ikhlas Bulaksumur
07. Al Hidayah Purwosari
08. Masjid Al Ashri
09. Masjid Pogung Raya
10. Masjid Pogung Dalangan
11. Masjid Al Kautsar
12. Masjid Al Ikhlas K.Bendo
13. Masjid Jamilurrahman
14. Masjid Ismail
15. Masjid Al Mubarakah
16. Masjid At Takwa
17. Masjid Al Ismail
18. Masjid Istiqomah
19. Masjid Nurulhuda 19
20. Masjid Al Amin
21. Masjid At Takwa
22. Masjid Al Muqarrabin
23. Masjid Baitun Nashihin
24. Masjid An Nur
25. Masjid Baitul Amin
26. Mushola Kumpul Sari
27. Mahad Permata Islam KP
 
Yogyakarta
 
Setelah melihat begitu besarnya antusias donatur yang ada, ditambah lagi dengan proposal permintaan yang terus bertambah, maka dengan ini kami membuka kembali Donasi Buka Puasa Tahap II.
 
Kesempatan berdonasi akan segera ditutup ketika dana kebutuhan di tahap II ini sudah terpenuhi, yakni sebesar 430 juta Rupiah, yang mana saat ini sudah terkumpul sekitar 270 juta Rupiah.
 
Bagi yang ingin berpartisipasi dalam program ini, maka dapat menyalurkannya melalui rekening-rekening berikut ini:
 
  • – Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801.
  • – Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594
  • – Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329.
  • – CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0.
 
 
Agar dapat disalurkan sesuai amanah, kami harapkan setelah berdonasi agar bisa mengonfirmasi ke nomor Tim Donasi Dakwah YPIA: 0857-4722-3366,
 
Dengan format konfirmasi:
Nama # Domisili # Jumlah Donasi # Rekening Tujuan # Tanggal Donasi # Buka Puasa
 
Contoh:
Abdullah # Rp. 2.500.000 # BNI Syariah # 1 April 2017 # Buka Puasa
 
 
Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya):
“Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” [HR. Tirmidzi, No.807]
 
 
Jazaakumullahu khayran kami ucapkan kepada donatur sekalian yang telah membersamai YPIA Yogyakarta dalam banyak kegiatan kebaikan.
 
=====
 
Tim Donasi Dakwah YPIA Yogyakarta
(Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari)
 
085747223366
,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

, ,

YUK TUKAR JILBAB LAMAMU DENGAN YANG SYARI #2

YUK TUKAR JILBAB LAMAMU DENGAN YANG SYARI #2

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi
#BagiBagiJilbabSyari

YUK TUKAR JILBAB LAMAMU DENGAN YANG SYARI #2

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ta’ala atas segala kemudahan dan suksesnya acara YUK TUKAR JILBAB LAMAMU DENGAN YANG SYARI tahun lalu di masjid UNY. Foto kegiatan tahun lalu klik: bit.ly/2odCJhr, di mana acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh saudari-saudari Muslimah dari Yogyakarta, namun juga dari luar kota Yogyakarta.

Antusiasme tinggi para Muslimah yang ingin berhijrah, di luar perkiraan pihak penyelenggara, sehingga ada ratusan saudari Muslimah yang belum dapat menukarkan jilbabnya.

Tahun ini dalam rangka menyambut Ramadan 1438H, kami akan adakan kembali Dauroh Muslimah untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan:

  • Pemateri: Ustadzah Azizah Ummu Yasir
  • Tema Kajian: “MOVE ON”

Yang in syaa Allah diselenggarakan pada:

  • Sabtu, 20 Mei 2017, pukul 08.00-11.00 WIB
  • Tempat: Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota Yogyakarta.

Kami dari Program AISHAH (program offline dari bimbinganislam.com) mengajak saudara-saudara di mana pun Anda berada untuk berpartisipasi dalam acara ini, baik dengan bentuk donasi jilbab syari, maupun donasi dalam bentuk tunai.

Betapa bahagia jika kita dapat mengajak saudari-saudari kita untuk berhijab yang sesuai dengan syariat. Karena terkadang kita sulit berdakwah dengan ilmu, karena keterbatasan kita. Meskipun demikian, in syaa Allah kita dapat berdakwah dengan harta kita.

Yuk sisihkan sedikit dari harta kita untuk bersama mensyiarkan perintah berhijab kepada saudari-saudari Muslimah kita

DIBUKA DONASI JILBAB SYARI pada acara “Yuk Tukar Jilbab Lamamu Dengan Yang Syari #2”. Batas donasi Sabtu, 13 Mei 2017.

  1. DONASI DALAM BENTUK JILBAB dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Panjang depan minimal di bawah perut
  • Longgar
  • Tidak Menerawang

Alamat pengiriman:
Kantor bimbinganIslam (BiAS)
Jeruklegi RT 13 /RW 35
Gang Teratai (paling ujung)
Tegal Tandan
Banguntapan
Bantul
Jogjakarta, Kode pos 55198

Contact Person: 082299996418

_____

  1. DONASI DALAM BENTUK UANG dapat disalurkan ke:

| Rekening Bank Syariah Mandiri
| Kode Bank 451
| Nomer Rekening: 7103000507
| Atas Nama: YPWA Bimbingan Islam

Konfirmasi transfer: SMS ke nomer: 082299996418
Dengan format: #TukarJilbab #Nama# Domisili #TanggalTransfer #Nominal
Contoh: #TukarJilbab #Hasan# Manado#14 April 2017 #100.000

 

>> Kami tekankan bagi para Muhsinin yang berdonasi untuk melakukan konfirmasi, guna pendataan kami dan pelaporan donasi.

____________________

Penyelenggara:

  • AISHAH (Bimbinganislam.com)
  • Yayasan Cinta Sedekah

Bekerjasama Dengan:

  • Takmir Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota Yogyakarta
,

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FaidahTafsir

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Larangan bagi kaum yang memiliki iman, laki-laki maupun perempuan, untuk melihat yang diharamkan, yaitu:

  • Aurat sesama jenis,
  • Lawan jenis yang bukan mahram,
  • Anak laki-laki yang “cantik”, haram bagi laki-laki melihatnya,
  • Orang-orang yang dapat memunculkan fitnah (godaan),
  • Perhiasan dunia yang menggoda dan menjerumuskan dalam dosa.

2) Perintah bagi kaum Mukminin laki-laki dan perempuan untuk menjaga kemaluan, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan badan yang haram, baik melalui jalan depan maupun belakang, atau selain itu,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal berhubungan badan dengannya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal menyentuhnya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal melihatnya.

3) Menjaga pandangan dan kemaluan lebih menyucikan dan memerbaiki diri, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Barang siapa menahan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari penglihatan hatinya. Dan karena seorang hamba, apabila ia menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan pengantar-pengantarnya, padahal syahwatnya mendorong untuk melakukannya, maka ia lebih dapat menjaga anggota tubuhnya yang lain dari perbuatan yang haram.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 566]

4) Kata (من) dalam ayat di atas menunjukkan makna “Sebagian”, yaitu sebagian pandangan diharamkan. Berarti ada sebagian pandangan yang dibolehkan, contohnya:

  • Melihat sebagai saksi,
  • Pekerjaan yang mengharuskan untuk melihat lawan jenis (sesuai kadar yang diperlukan),
  • Melamar calon istri, dan lain-lain. Maka dilakukan sebatas kebutuhan tanpa disertai syahwat.

5) Larangan terkait perhiasan dan pakaian wanita:

Pertama: Tidak boleh menampakkan perhiasan wanita (sama saja apakah secara langsung atau melalui foto dan video), yaitu:

  • Pakaian yang indah,
  • Berbagai macam perhiasan yang dikenakan,
  • Seluruh tubuh wanita adalah perhiasan. Dan bukan berarti setelah ditutup lalu boleh diperlihatkan. Tetap saja tidak boleh, baik secara langsung maupun melalui foto dan video. Maka termasuk kesalahan besar sebagian orang yang menjadikan wanita sebagai model pakaian yang diperdagangkan, baik pakaian yang sesuai syariat, apalagi yang tidak sesuai syariat.

Kedua: Diperkecualikan adalah pakaian luar yang memang harus dikenakan wanita dengan syarat tidak menggoda, yaitu kerudung yang menutup dari kepala sampai ke dada, dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh, sesuai dengan syarat-syarat pakaian wanita yang disyariatkan.

Ketiga: Kemudian diberikan pengecualian orang yang boleh melihat seluruh perhiasan wanita, yaitu suaminya.

Keempat: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan mahramnya:

  • Bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas,
  • Anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah,
  • Anak suaminya (anak tiri), cucu suaminya dan seterusnya ke bawah,
  • Saudara kandung; sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja,
  • Keponakan (anak saudara laki sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja),
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja).

Kelima: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan selain mahramnya:

  • Sesama wanita atau maknanya sesama wanita beriman (ada perbedaan pendapat ulama. Yang benar insya Allah adalah sesama wanita, walau kafir, maka batasan auratnya sama).
  • Budak-budak yang dimiliki secara penuh.
  • Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai syahwat sama sekali terhadap wanita, tidak pada kemaluannya, tidak pula hatinya.
  • Anak-anak yang belum mumayyiz, yang belum mengerti tentang aurat wanita, yang tidak muncul syahwatnya tatkala melihat wanita.

Keenam: Ayat yang mulia ini juga menjelaskan batas aurat dan perhiasan wanita saat bersama mahramnya atau sesama wanita, adalah tempat-tempat perhiasannya. Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia:

أما ما يجوز للمرأة أن تبديه من زينتها لمحارمها غير زوجها فهو وجهها وكفاها وخلخالها وقرطاها وأساورها وقلادتها ومواضعها ورأسها وقدماها

“Adapun perhiasan yang dibolehkan bagi wanita untuk menampakkannya kepada mahramnya selain suaminya adalah: Wajahnya, dua telapak tangannya, perhiasan di pergelangan kakinya, gelang tangannya, kalung lehernya, semua anggota tubuh tempat perhiasan tersebut, kepalanya dan dua kakinya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/296 no. 2923]

[Disarikan disertai tambahan dari Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiril Kalaamil Mannan karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, hal. 566-567]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

, , ,

DAN CARILAH KARUNIA ALLAH

DAN CARILAH KARUNIA ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

DAN CARILAH KARUNIA ALLAH

  • Sejenak Bersama Ayat Alquran

 

{وابتغوا من فضل الله}

“Dan carilah karunia Allah…” [QS. Al – Jumu’ah 10]

إذا فتح الله لك باب رزق، فلا تعجبن بذكائك، أو تظن أنك رزقت بحذقك، بل تذكر أن ذلك من فضل الله عليك …تأمل قوله تعالى:

{وابتغوا من فضل الله}

Jika Allah membuka pintu rezeki untukmu, maka jangan bangga dengan kepintaranmu, atau engkau mengira bahwa rezeki yang diperoleh itu buah dari keterampilanmu. Namun hendaknya engkau itu mengingat, bahwa semua itu dari karunia Allah untukmu.

Cobalah renungkan ayat dibawah ini:

{وابتغوا من فضل الله}

“Dan carilah karunia Allah…” (QS. Al – Jumu’ah:10)

 

[Dr. Umar Al Muqbil]

(Markaz Tadabbur Liddirasat)

Fatawa Al-Qur’an Al karim

http://cutt.us/jwNAS

Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin

 

,

TATA CARA MANDI JUNUB

TATA CARA MANDI JUNUB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatMandiNabi

TATA CARA MANDI JUNUB

  • Kitab Thaharah (Perihal Bersuci)

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi:

  1. Keluar Mani, Baik Saat Terjaga ataupun Tidur

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.

“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122)]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau ﷺ berkata: “Ya, jika dia melihat air.” [Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82)]

Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.

“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.” [Nailul Authaar (I/275)]

Asy-Syaukani berkata: [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233)] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata: “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”

Barang siapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barang siapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani), sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab: ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab: ‘Dia tidak wajib mandi’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348)]

 

  1. Jima’, Walaupun Tidak Keluar Air Mani

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi, meskipun tidak keluar air mani.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351)]

  1. Masuk Islamnya Orang Kafir

Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi ﷺ menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafal mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”]

  1. Terputusnya Haid dan Nifas

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi ﷺ berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.

“Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089)]

Nifas dan haid dihukumi sama secara ijma’.

  1. Hari Jumat

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [Muttafaq ‘alaihi]

b. Rukun-Rukun Mandi

1. Niat

Berdasarkan hadis:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

  1. Meratakan air pada sekujur badan.

c. Tata Cara yang Disunnahkan Ketika Mandi

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Dahulu, jika Rasulullah ﷺ hendak mandi janabah (junub), beliau ﷺ memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau ﷺ mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau ﷺ menganggap telah cukup, beliau ﷺ tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau ﷺ guyur seluruh badannya. Kemudian beliau ﷺ basuh kedua kakinya.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603)]

Catatan:

TIDAK WAJIB bagi seorang wanita mengurai rambutnya KETIKA MANDI JANABAH (JUNUB). Namun WAJIB dilakukan ketika MANDI SEHABIS HAID.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau ﷺ berkata:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.

“Tidak. Cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi setelah selesai haid. Beliau ﷺ lalu bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya, lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi ﷺ -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata: “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau ﷺ berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik: “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”

Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau ﷺ tentang mandi (junub) janabah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.

“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci, (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Dalam hadis ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haid dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haid agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada MANDI JANABAH TIDAK ditekankan hal tersebut. Dan hadis Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan, serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haid yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.

Catatan:

Diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

“Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129)]

d. Mandi-Mandi yang Disunnahkan:

  1. Mandi Pada Setiap Selesai Jima’

Berdasarkan hadis Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya. Beliau mandi setiap selesai dari Fulanah dan dari si Fulanah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau ﷺ berkata: “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590)]

  1. Mandinya Wanita Mustahadhah (istihadhah – keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita -pen) Setiap Akan Shalat

Atau sekali mandi untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Subuh sekali mandi.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289)]

Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata: “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Subuh. [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184)]

  1. Mandi Setelah Pingsan

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ sakit parah. Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau ﷺ berkata: ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau ﷺ lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau ﷺ pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadis ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687)]

  1. Mandi Setelah Menguburkan Orang Musyrik

Berdasarkan hadis ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau ﷺ berkata: “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Mandilah.” [Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198)]

  1. Mandi Pada Dua Hari Raya dan Hari ‘Arafah

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab: “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata: “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyariatkan dalam agama-pent).” Dia berkata: “(Mandi) hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”

  1. Mandi Setelah Memandikan Mayat

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463)]

  1. Mandi Untuk Ihram ‘Umrah Atau Haji

Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu: “Dia melihat Nabi ﷺ melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831)]

  1. Mandi Ketika Memasuki Kota Makkah

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi, dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafal darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854)]

 

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/679-mandi.html

 

,

UMRAH RAMADAN SEPERTI HAJI BERSAMA NABI

UMRAH RAMADAN SEPERTI HAJI BERSAMA NABI

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatHajiUmrahNabi

UMRAH RAMADAN SEPERTI HAJI BERSAMA NABI ﷺ

Umrah sudah kita ketahui keutamaannya. Sebagaimana amalan, ada yang memiliki keistimewaan jika dilakukan pada waktu tertentu, demikian pula umrah. Umrah di bulan Ramadan terasa sangat istimewa dari umrah di bulan lainnya, yaitu senilai dengan haji, bahkan seperti haji bersama Nabi ﷺ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya pada seorang wanita:

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”

Wanita itu menjawab: “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta, di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah Fulan dan anaknya, ditunggangi suami dan anaknya. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadan tiba, berumrahlah saat itu, karena umrah Ramadan senilai dengan haji.” [HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256].

Dalam lafal Muslim disebutkan:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadan senilai dengan haji.” [HR. Muslim no. 1256]

Dalam lafal Bukhari yang lain disebutkan:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadan seperti berhaji bersamaku” [HR. Bukhari no. 1863].

Apa yang dimaksud senilai dengan haji?

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud adalah umrah Ramadan mendapati pahala seperti pahala haji, namun bukan berarti umrah Ramadan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” [Syarh Shahih Muslim, 9:2]

Apakah umrah Ramadan bisa menggantikan haji yang wajib?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Ramadan seperti berhaji bersama Rasul ﷺ. Beliau mendapat pertanyaan:

“Apakah umrah di bulan Ramadan bisa menggantikan haji, berdasarkan sabda Rasul ﷺ: “Barang siapa berumrah di bulan Ramadan maka ia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah:

“Umrah di bulan Ramadan TIDAKLAH bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadan mendapatkan keutamaan haji, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Umrah Ramadan senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain disebutkan bahwa umrah Ramadan seperti berhaji bersama Nabi ﷺ, yaitu yang dimaksud adalah sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Ramadan bisa menggantikan haji. Orang yang berumrah di bulan Ramadan masih punya kewajiban haji, walau ia telah melaksanakan umrah Ramadan, demikian pendapat seluruh ulama. Jadi, umrah Ramadan senilai dengan haji, dari SISI KEUTAMAAN dan PAHALA. Namun tetap TIDAK bisa menggantikan haji yang wajib.” [Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz]

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus beramal saleh dan dimudahkan untuk melaksanakan umrah maupun haji ke Baitullah.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2657-umrah-Ramadan-seperti-haji-bersama-nabi336.html