Posts

,

ANJURAN MAKAN DARI PINGGIR-PINGGIR PIRING

ANJURAN MAKAN DARI PINGGIR-PINGGIR PIRING
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKAN DARI PINGGIR-PINGGIR PIRING
 
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda:
 
“الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ فِي وَسَطِ الطَّعَامِ، فَكُلُوْا مِنْ حَافِيَتِهِ وَلاَ تَأْكُلُوْا مِنْ وَسَطِهِ!”
 
‘Keberkahan tersebut akan turun di tengah-tengah makanan. Maka makanlah dari pinggir-pinggirnya dan JANGAN dari tengahnya!” [1]
 
Dan dari ‘Abdullah bin Busr [2] radhiyallahu anhu, bahwasanya didatangkan kepada Rasulullah ﷺ sebuah piring, [3] lalu beliau ﷺ bersabda:
 
“كُلُوْا مِنْ جَوَانِبِهَا، وَدَعُوْا ذِرْوَتَهَا! يُبَارَكْ فِيْهَا.”
 
“Makanlah dari pinggirannya dan tinggalkanlah (terlebih dahulu) bagian tengahnya [4]. (Niscaya) akan diberkahi padanya.” [5]
 
Dari dua hadis di atas dan yang semisalnya terdapat petunjuk Nabi ﷺ bagi kaum Muslimin ketika makan, yaitu bahwa memulainya dari pinggir-pinggir piring, agar berkah yang ada di tengah makanan tersebut tetap ada. Dan hendaknya TIDAK memulai makan dari tengah piring hingga selesai makan, yang di pinggirnya terlebih dahulu. Adab ini adalah bersifat umum, baik bagi yang makan sendiri maupun yang makan bersama-sama.
 
Al- Kiththabi [6] berkata:
“Kemungkinan larangan tesebut (makan dari tengah piring) apabila makan bersama orang lain, karena penampilan makanannya saat itu adalah yang terbaik dan terindah. Apabila tujuan utamanya adalah agar ia memuaskan diri sendiri, maka hal itu akan memberi kesan yang kurang baik bagi teman-temannya, oleh karena meninggalkan adab-adab makan dan muamalah yang buruk. Nnamun apabila ia makan sendiri, maka tidak apa-apa. Wallaahu a’lam. [7]
 
 
Yang jelas adalah, bahwa hal tersebut bersifat umum, karena telah ada larangan dari Nabi ﷺ dalam dua hadis di atas dengan memakai kata ganti tunggal dan jamak. Kemungkinan maksudnya adalah menjaga keberkahan makanan tersebut agar tetap selalu ada dalam jangka jangka waktu yang lama. Kemudian bukan ini saja, tapi dalam hal tersebut ada suatu adab yang baik, khususnya ketika makan bersama.
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Catatan Kaki:
 
[1]. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (IV/260) Kitaabul Ath’imah bab Maa Jaa-a fii Karaahiyatil Akli min Wasathith Tha’aam, ia berkata: “Hadits ini shahih.” Dengan lafazh darinya. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (II/1090) Kitaabul Ath’imah bab an-Nahyu ‘Anil Akli min Dzirwatits Tsariid, Imam Ahmad dalam Musnadnya (I/270), ad-Darimi dalam Sunan-nya (II/100) Kitaabul Ath’imah bab an-Nahyu ‘anil Akli Wasathits Tsariid hatta Ya’-kula Jawaanibahu, Ibnu Hibban dalam Shahihnya (VII/333) Kitaabul Ath’imah, Dziktul Ibtidaa-i fil Akli min Jawaanibith Tha’aam. Abu Dawud meriwayatkannya dengan lafal:
 
“إٍذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا، فَلاَ يَأْكُلْ مِنْ أَعْلَى الصَّحْفَةِ، وَلَكِنْ لِيَأْكُلْ مِنْ أَسْفَلِهَا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ مِنْ أَعْلاَهَا.”
“Jika salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia makan dari bagian atas piring, tetapi makanlah dari bagian paling bawah darinya, karena keberkahan itu turun dari bagian atasnya.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (IV/142) Kitaabul Ath’imah bab Maa Jaa-a fil Akli min ‘alash Shahfah.
 
[2]. Beliau adalah ‘Abdullah bin Busr al-Mazni Abu Shafwan as-Sulami al-Himshi, ia adalah Sahabat Rasulullah j, begitu pula ayahnya, ibunya, saudaranya, ‘Athiyah, dan saudarinya, ash-Shamma’, beliau wafat di Himsh pada tahun 96 H -ada yang berkata 88 H- pada usia 100 tahun, ia di antara para Sahabat yag terakhir wafat di Syam. Lihat Asadul Ghaabah (III/82), al-Kasyif adz-Dzahabi (II/62), al-Ishaabah (II/273), Tahdziibut Tahdziib (V/158).
 
[3]. Al-Qush’ah adalah bejana yang dipakai makan dan merendam roti di dalam-nya, biasanya dibuat dari kayu. Al-Mu’jamul Wasiith (II/746).
 
[4]. Yaitu yang teratas karena puncak dari setiap sesuatu adalah atasnya. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Aatsaar, Ibnul Atsir (II/159).
 
[5]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (IV/143) Kitaabul Ath’imah bab Maa Jaa-a fil Akli min ‘alash Shahfah di dalamnya terdapat kisah latar belakangnya, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (II/ 1090) Kitaabul Ath’imah bab an-Nahyu ‘anil Akli min Dzirwatits Tsariid, Imam as-Suyuthi menilainya hasan. Al-Jamii’-ush Shagiir (II/96).
 
[6]. Beliau adalah Hamd bin Muhammad bin Ibrahim bin Khitab al-Busti Abu Sulaiman al-Khithabi, seorang imam, ulama, sastrawan dan memiliki banyak karangan di antaranya: Ma’alimus Sunan fii Syarhi Sunan Abi Dawud, Gha-riibul Hadiits, Syahrul Asma’-ul Husna, al-Ghunyah ‘anil Kalaam wa Ahlahu, beliau wafat tahun 388 H. Lihat Mu’jamul Buldaan (I/415), al-Ansaab (II/ 210), Waafiyaatul A’yaan (II/214), Siyaru A’lamin Nubalaa’ (XVII/23) dan al-Bidaayah (XI/236).
 
[7]. Ma‘alimus Sunan (IV/124) oleh al-Khithabi, dengan sedikit perubahan.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#anjuran, #adab makan, #makan dari pinggir pirng, #keberkahan, #berkah, #ada di tengah piring, #barokah #pinggirpiring, #bukantengahpiring, #mulaimakan #adabketikamakan

SEDEKAH TIDAKLAH MENGURANGI HARTA

SEDEKAH TIDAKLAH MENGURANGI HARTA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
SEDEKAH TIDAKLAH MENGURANGI HARTA
 
Nabi ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
 
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” [HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Makna hadis di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:
 
1. Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara indrawi dan kebiasaan.
 
2. Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/141]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan hadis di atas dengan mengatakan:
“Nabi ﷺ tidaklah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya semata. Beliau ﷺ bersabda: “Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta”. Kalau dilihat dari sisi jumlah, harta tersebut mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari hakikat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita bersedekah dengan 10 Riyal, lalu Allah beri ganti dengan 100 Riyal. Sebagaimana Allah a’ala berfirman:
 
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
 
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” [QS. Saba’: 39].
 
Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di Akhirat. Allah ta’ala berfirman:
 
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
 
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al Baqarah: 26]
 
Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah [Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 2/342, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1424 H]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sedekahtidakmengurangiharta, #hartatidakberkurang, #sedekah, #shodaqoh, #shadaqah, #berkah, #keberkahan #rezeki

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEBERKAHAN PADA UCAPAN ULAMA SALAF
 
Ditanyakan kepada Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar:
“Kenapa Ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Hamdun menjawab:
“Karena mereka berbicara untuk keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) rida Ar-Rahman. Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan penerimaan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îman]
 
قِيلَ لِحَمْدُونَ بْنِ أَحْمَدَ: مَا بَالُ كَلامِ السَّلَفِ أَنْفَعُ مِنْ كَلامِنَا؟ قَالَ: ” لأَنَّهُمْ تَكَلَّمُوا لِعِزِّ الإِسْلامِ، وَنَجَاةِ النُّفُوسِ، وَرِضَاءِ الرَّحْمَنِ، وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ لِعِزِّ النَّفْسِ، وَطَلَبِ الدُّنْيَا، وَقَبُولِ الْخَلْقِ،
 
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: dzulqarnain.net
 
#MutiaraSalaf, #SalafusSholih, #SalafusShaleh, #Salafyyin, #Salafi, #ManhajSalaf, #KeberkahanUcapanUlamaSalaf, #KenapaSalafi

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MANFAAT BANGUN SUBUH

MANFAAT BANGUN SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

MANFAAT BANGUN SUBUH

Apa ada keutamaan bangun Subuh? Kita tahu setiap Muslim punya kewajiban untuk bangun Subuh, karena ada shalat fardhu yang mesti ditunaikan kala itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada, akhirnya setan terus membisikkan atau merayu, supaya orang yang tidur tetap terus tidur dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:
(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah
(2) Kemudian berwudhu
(3) Mengerjakan shalat
Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-shubuh.html

,

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

Selama mendampingi Syaikh Anis Thahir di Indonesia, ada beberapa kejadian yang terkadang membuat saya tersenyum bila mengingatnya.

Di antaranya saat akan memasuki jalan tol, syaikh bertanya: “Kenapa kita harus bayar? Bukankah jalan ini fasilitas umum?

Selanjutnya setiap kali meninggalkan tempat pemberhentian/parkir, syaikh lagi-lagi bertanya, mengapa harus bayar? Bukankah ini tempat umum?

Saya hanya diam dan tersenyum.

Syaikh lalu berkata: “Puji syukur kepada Allah, zakat dan sedekah telah membebaskan kami dari semua pungutan ini”.

Alhamdulillah.

Bagi orang yang pernah bermukim di KSA pastinya akan takjub dengan berbagai nikmat yang Allah limpahkan terhadap negeri ini.

Di negeri ini, kita bisa menikmati jalan bebas hambatan tanpa pungutan. Kita pun bisa memarkir mobil di mana saja tanpa ada pungutan.

Di negeri ini, pajak tidak diberlakukan. Listrik dan air bersih disubsidi pemerintah. Kesehatan dan pendidikan 100% ditanggung negara. Negara bahkan memberikan uang saku bagi pelajar pada tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Di negeri ini, harga air minum kemasan jauh lebih mahal dari BBM.
Satu botol air kemasan 600 ml harganya SR 1,00 = Rp 3800. Sedangkan satu liter bensin harganya 50 Halalah atau setengah Reyal. Buah dan sayur pun terbilang murah.

Setiap Ramadan tiba, tak terhitung jumlah dermawan yang membagikan makan gratis. Begitu juga di musim haji.
Selain nikmat materi, adalagi nikmat yang mungkin akan sulit kita dapatkan di tempat lain, yaitu nikmat keamanan.

Di sini, kendaraan dibiarkan pemiliknya terparkir di luar rumah tanpa penjaga.
Bahkan Anda bisa memanaskan mobil dan meninggalkannya begitu saja tanpa ada rasa takut diambil orang.
Bila azan tiba, semua menuju tempat azan dikumandangkan. Sebagian pedagang menutup dagangannya hanya dengan kain seadanya, tanpa takut kemalingan.

Di sini, barang yang ketinggalan di taksi/mobil tumpangan masih bisa kembali. Banyak kisah yang pernah dialami teman-teman soal ini. Kami pun pernah beberapa kali mengalaminya. Waktu itu dalam perjalanan menuju Masjid Nabawi HP dan tas uang kami tertinggal di naql (mobil tumpangan) milik seorang Badui. Tahun itu adalah tahun pertama kami di Madinah.
Saya sempat cemas bukan kepalang, mengingat di HP tersebut tersimpan nomor-nomor penting serta catatan harian kami.

Tapi masyaallah…
Rupanya pada hari itu, setiap selesai sholat pemilik naql itu berdiri pintu no 8 Masjid Nabawi. Iya, pintu no 8 adalah pintu yang biasa dilalui mahasiswa UIM. Pemilik naql itu melihat satu persatu mahasiswa yang keluar.
Saat kami keluar, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kami dari belakang. “Ya akhi… Kemana saja. Sejak tadi saya berdiri di sini menunggu Anda. Ini HP dan tas Anda yang ketinggalan di mobil saya tadi, ucapnya dengan dielek Badui yang khas. Setelah menyerahkan HP dan tas, ia pun berlalu masuk dalam kerumunan orang banyak, yang baru saja keluar dari Masjid Nabawi.

Pernah juga, untuk kesekian kalinya, tas saya tertinggal di naql. Alhamdulillah, pemilik naql menitipkannya pada salah seorang teman. Seingat kami, pemilik naql itu menitipkannya kepada Ustadz Ahmad Syakir hafidzohullah-. Jazahumullah khoiron.

Maha Benar Allah yang telah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”

Begitulah

Keberkahan akan membuat negeri yang tandus menjadi Surga bagi penduduknya. Sebaliknya, negeri yang hijau akan berubah bak Neraka bagi penduduknya, bila keberkahan diangkat dari negeri tersebut.

وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka, disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Hatiku berguman.
“Indonesia juga bisa.
Setidaknya harapan itu masih ada. Insyaallah.
Mari kita mulai dari Bab Akidah…”

Catatan:

Perlu disadari, bahwa penduduk negeri ini bukan malaikat. Sehingga wajar bila masih ada kekurangan di sana sini. Apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah imigran di KSA, setidaknya telah memengaruhi pertumbuhan kriminal di negeri ini. Meskipun demikian, angka kriminal masih terbilang kecil dibanding di negara-negara lain.

Wallahu a’lam

 

Penulis: Aan Chandra Thalib – ACT El-Gharantaly

,

DOA UNTUK PENGANTIN

DOA UNTUK PENGANTIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

DOA UNTUK PENGANTIN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi ﷺ bila memberi ucapan kegembiraan terhadap seorang yang menikah, beliau ﷺ mendoakan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

 Barokallahu laka, wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoyr.

Artinya:

“Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

@dzulqarnainms

, ,

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi

RAIHLAH KEBERKAHAN DENGAN MAKAN SAHUR

Pertama: Makna Makan Sahur

Makan sahur artinya:

كل طعامٍ أو شرابٍ يَتَغَذَّى به آخر الليل في السحر من أراد الصيام

“Setiap makanan dan minuman yang dimakan oleh orang yang hendak berpuasa di akhir malam, di waktu sahur.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247]

Kedua: Hukum Makan Sahur

Ulama seluruhnya sepakat, bahwa makan sahur hukumnya sunnah, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. [Lihat Fathul Baari, 4/139]. Karena itu, makan sahur tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa. Andaikan seseorang berpuasa tanpa makan sahur, maka puasanya sah. Bahkan tetap wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan, walau tidak sempat makan sahur. Dan tidak ada dosa baginya apabila tidak makan sahur dengan sengaja. Namun ia tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan sahur yang melimpah.

Ketiga: Waktu Makan Sahur

Waktu sahur adalah sepertiga malam yang terakhir sampai terbit fajar. [Lihat Lisaanul Arab, 4/350, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 247] Disebut makan sahur, karena dilakukan di waktu sahur. Dan yang lebih afdhal dilakukan di akhir waktu sahur. Rasulullah ﷺ bersabda:

بكِّروا بالإفطارِ، وأخِّروا السحورَ

“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” [HR. Ibnu Adi dan Ad-Dailami dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1773]

Tabi’in yang Mulia ‘Amr bin Maimun rahimahullah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهَمْ سُحُورًا

“Dahulu para sahabat Rasulullah ﷺ paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” [Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 8127]

Keempat: Akhir Waktu Sahur

Akhir waktu sahur adalah mendekati waktu Subuh seukuran membaca 50 ayat, dan itulah waktu terbaik untuk makan sahur. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk sholat Subuh.” Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa jarak antara azan dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) berkata: “Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً

“Seukuran 50 ayat adalah yang pertengahan, tidak panjang dan tidak pendek, tidak dibaca cepat dan tidak pula lambat.” [Fathul Baari, 4/138]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

خمسون آية: من عشر دقائق إلى ربع الساعة إذا قرأ الإنسان قراءة مرتلة أو دون ذلك وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر

“Seukuran membaca 50 ayat adalah sekitar 10 sampai 15 menit, apabila seseorang membaca dengan perlahan-lahan atau sedikit lambat. Dan ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ benar-benar mengakhirkan waktu makan sahur dan bahwa beliau bersegera untuk sholat Subuh dan tidak terlambat.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Hadis yang mulia ini juga menunjukkan, bahwa selesainya makan sahur sebelum terbit fajar. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْفَرَاغَ مِنَ السُّحُورِ كَانَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

“Dalam hadis ini ada petunjuk, bahwa selesai makan sahur sebelum terbit fajar.” [Fathul Baari, 4/138-139]

 

Bahkan azan yang dimaksud dalam hadis yang mulia ini adalah iqomah, sebagaimana ditegaskan dalam lafal yang lain, dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian kami bangkit menuju sholat. Aku (Anas) berkata: Berapa ukuran antara selesainya makan sahur dan sholat? Beliau (Zaid) berkata: Seukuran membaca 50 ayat.” [HR. Muslim]

Dan kata azan sering kali digunakan untuk makna iqomah, di antaranya dalam sabda Rasulullah ﷺ,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، قَالَهَا ثَلَاثًا، قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: ِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan ada sholat. Beliau mengatakannya tiga kali, dan beliau berkata pada yang ketiga: Bagi siapa yang mau melakukannya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu’anhu]

Kelima: Permasalahan Waktu Imsak

Kapan mulai Imsak (menahan diri, tidak boleh lagi makan dan minum serta melakukan seluruh pembatal puasa)? Hadis yang mulia di atas menunjukkan, bahwa waktu selesainya makan sahur Rasulullah ﷺ dan sholat Subuh adalah seukuran membaca 50 ayat. Akan tetapi itu tidak bermakna puasa telah dimulai dan tidak boleh makan dan minum lagi, karena mulainya puasa adalah setelah terbitnya fajar (masuk waktu Subuh), sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [Al-Baqoroh: 187]

Fajar yang dimaksud adalah fajar yang kedua atau Fajar Shodiq, yaitu garis putih atau cahaya putih yang membentang secara horizontal di ufuk, dari Utara ke Selatan. [Dalam istilah Astronomi disebut: “Zodiacal light”]. Apabila fajar tersebut telah muncul, maka masuklah waktu Subuh dan itulah awal waktu puasa, tidak boleh lagi makan dan minum, atau melakukan satu pembatal puasa.

Sedang fajar yang pertama atau Fajar Kadzib adalah garis putih atau cahaya putih yang memanjang secara vertikal, [Dalam istilah Astronomi disebut: “Twilight”] tidak membentang. [Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 248-252]

Adapun penetapan waktu Imsak sebelum terbit fajar maka termasuk mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/199]

Keenam: Anjuran Makan Sahur Bersama

Dalam hadis yang mulia di atas juga terdapat anjuran makan sahur bersama-sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَفِيهِ الِاجْتِمَاعُ عَلَى السُّحُورِ

“Dalam hadis ini ada anjuran bersama-sama makan sahur.” [Fathul Baari, 4/138]

Ketujuh: Adakah Menu Makan Sahur yang Dianjurkan?

Tidak ada jenis makanan yang diharuskan untuk makan sahur. Namun dianjurkan makan kurma, dan dibolehkan memakan apa saja yang halal, walau hanya seteguk air. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang Mukmin adalah kurma.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallaahu’ahu, Ash-Shahihah: 562]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاء

“Makan sahurlah kalian, walau hanya dengan seteguk air.” [HR. Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Amr radhiyallaahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1071]

Kedelapan: Apa Saja Keberkahan Makan Sahur?

Keberkahan maknanya adalah kebaikan yang melimpah dan terus-menerus ada, dan sungguh keberkahan makan sahur sangat banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada keberkahan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Di antara keberkahan makan sahur: [Lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/284-285.]

  • 1) Ibadah kepada Allah ta’ala.
  • 2) Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.
  • 3) Lebih menguatkan orang yang berpuasa untuk dapat berpuasa sampai terbenam matahari, dan tetap melakukan ibadah-ibadah yang lain.
  • 4) Memudahkan sholat Subuh berjamaah, karena itulah disunnahkan makan sahur mendekati waktu Subuh.
  • 5) Menyelisihi puasa Yahudi dan Nasrani. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” [HR. Muslim dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallaahu’anhuma]

  • 6) Memanfaatkan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah di waktu sahur, karena sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik untuk berdoa, [Lihat Fathul Baari. 4/140]. Dan makan sahur itu sendiri adalah doa ibadah, karena doa terbagi dua: Doa ibadah dan doa permohonan. [Sebagaimana telah kami terangkan secara ringkas dalam buku Tauhid, Pilar Utama Membangun Negeri]
  • Maka merugilah orang yang menghabiskan waktu sahur untuk bermain-main atau menonton acara-acara hiburan, yang pada umumnya mengandung maksiat kepada Allah jalla wa ‘ala.
  • 7) Mendapatkan sholawat Allah ta’ala dan malaikat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makan yang penuh berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan, walau seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan para malaikat-Nya bersholawat untuk orang-orang yang makan sahur.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 3683]

Sholawat Allah ta’ala atas mereka maknanya mencakup pemaafan-Nya, rahmat-Nya dan ampunan-Nya dicurahkan untuk mereka. Adapun sholawat malaikat atas mereka adalah mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah ta’ala untuk mereka.

  • 8) Mendapatkan pahala ibadah makan sahur karena meneladani Rasulullah ﷺ. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 9) Menambah semangat dan menghilangkan kemalasan yang disebabkan oleh rasa lapar. [Lihat Fathul Baari, 4/140]
  • 10) Menjadi sebab bersedekah kepada orang yang membutuhkan makan sahur, dan atau makan bersamanya. [Lihat Fathul Baari, 4/140]

Kesembilan: [Faidah Penting] Amalan Batin Saat Makan Sahur

Hendaklah orang yang makan sahur memilik amalan batin, tidak sekedar makan biasa. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

إنه ينبغي للإنسان حين تسحره أن يستحضر أنه يتسحر امتثالا لأمر الله ورسوله ويتسحر مخالفة لأهل الكتاب وكرها لما كانوا عليه ويتسحر رجاء البركة في هذا السحور ويتسحر استعانة به على طاعة الله حتى يكون هذا السحور الذي يأكله خيرا وبركة وطاعة والله الموفق

“Sungguh sepatutnya bagi seseorang, ketika makan sahur hendaklah menghadirkan dalam hatinya, bahwa ia melakukannya dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan demi menyelisihi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), serta membenci perbuatan mereka yang tidak mau makan sahur. Dan hendaklah ia makan sahur dalam rangka mengharap keberkahan dari Allah, dan menguatkannya untuk taat kepada Allah. Sehingga dengan niat-niat tersebut, makan sahurnya bernilai kebaikan, keberkahan dan ketaatan kepada Allah. Wallaahul muwaafiq.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 5/285]

Kesepuluh: Apabila Mendengar Azan Subuh Saat Makan Sahur

Apa yang harus dilakukan oleh orang yang sedang makan sahur dan mendengar azan Subuh? Apabila ia yakin bahwa waktu sholat Subuh telah masuk, yaitu mu’adzin tidak salah waktu, maka wajib baginya untuk segera menghentikan makan sahurnya saat itu juga. Namun apabila ia masih ragu maka boleh baginya meneruskan makannya sampai ia yakin bahwa waktu Subuh telah masuk, karena pada asalnya adalah tetapnya malam. [Lihat Taudhihul Ahkam, 3/472 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/284, no. 6468]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

——————————

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

http://sofyanruray.info/raihlah-keberkahan-dengan-makan-sahur/

,

24 JAM AMALAN DAN AKTIVITAS PUASA RAMADAN

24 JAM AMALAN DAN AKTIVITAS PUASA RAMADAN

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#SifatPuasaNabi
#MutiaraRamadan

24 JAM AMALAN DAN AKTIVITAS  PUASA RAMADAN

Ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan oleh orang yang berpuasa Ramadan sebelum Subuh.

1- Bangun tidur dan segera berwudhu. Tujuannya agar terlepas dari ikatan setan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari, no. 1142 dan Muslim, no. 776]

2- Lakukan shalat tahajud walaupun hanya dua rakaat. Lalu menutup dengan shalat Witir jika belum melakukan shalat Witir ketika shalat Tarawih.

Masih boleh menambah shalat malam setelah Tarawih, karena jumlah rakaat shalat malam tidak ada batasannya. Adapun dalil yang menunjukkan, bahwa shalat malam tidak dibatasi jumlah rakaatnya, yaitu ketika Nabi ﷺ ditanya mengenai shalat malam, beliau ﷺ menjawab:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu Subuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan Witir.” [HR. Bukhari, no. 990 dan Muslim, no. 749; dari Ibnu ‘Umar). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi ﷺ akan menjelaskannya

Yang penting tidak ada dua Witir dalam satu malam. Dari Thalq bin ‘Ali, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak boleh ada dua Witir dalam satu malam.” [HR. Tirmidzi, no. 470; Abu Daud, no. 1439; An-Nasa’i, no. 1679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

3- Setelah shalat, berdoa sesuai dengan hajat yang diinginkan, karena sepertiga malam terakhir (waktu sahur) adalah waktu terkabulnya doa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman: “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” [HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadis di atas dengan berkata: “Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” [Fath Al-Bari, 3: 32].

4- Melakukan persiapan untuk makan sahur lalu menyantapnya. Ingatlah, dalam makan sahur terdapat keberkahan.

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” [Muttafaqun ‘alaih]

5- Waktu makan sahur berakhir ketika azan Subuh berkumandang (masuknya fajar Subuh)

Dalilnya disebutkan, bahwa aktivitas makan dan minum berhenti ketika terbit fajar Subuh (ditandai dengan azan Subuh yang tepat waktu), sebagaimana dalam ayat:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [QS. Al-Baqarah: 187].

Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan: “Kami katakana, bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan, dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya, padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Permasalah ini sama sekali tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama. Dalil dalam masalah ini adalah hadis Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Sungguh Bilal mengumandangkan azan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.” [HR. Bukhari dan Muslim. Dalam kitab Shahih terdapat beberapa hadis lainnya yang semakna]

Adapun hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan bejana (sendok, pen) ada di tangan kalian, maka janganlah ia letakkan hingga ia menunaikan hajatnya.” Dalam riwayat lain disebutkan:

وكان المؤذن يؤذن إذا بزغ الفجر

“Sampai muadzin mengumandangkan azan ketika terbit fajar.” Al-Hakim Abu ‘Abdillah meriwayatkan riwayat yang pertama. Al-Hakim katakana, bahwa hadis ini Shahih sesuai dengan syarat Muslim. Kedua riwayat tadi dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi.

Kemudian Al-Baihaqi mengatakan: “Jika hadis tersebut Shahih, maka mayoritas ulama memahaminya, bahwa azan yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah azan sebelum terbit fajar Subuh (untuk membangunkan shalat malam, pen.). Yaitu maksudnya, ketika itu masih boleh minum, karena waktu itu adalah beberapa saat sebelum masuk Subuh. Sedangkan maksud hadis “Ketika terbit fajar”, bisa dipahami, bahwa hadis tersebut bukan perkataan Abu Hurairah, atau bisa jadi pula yang dimaksudkan adalah azan kedua. Sabda Nabi ﷺ: “Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan, sedangkan bejana (sendok, pen) ada di tangan kalian”, yang dimaksud adalah ketika mendengar azan pertama. Dari sini jadilah ada kecocokan antara hadis Ibnu ‘Umar dan hadis ‘Aisyah.” Dari sini, sinkronlah antara hadis-hadis yang ada. Wabiilahit taufiq, wallahu a’lam.” [Al-Majmu’, 6: 312]

6- Sambil menunggu Subuh, perbanyak istighfar dan sempatkan membaca Alquran.

Allah ta’ala berfirman:

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  [QS. Ali Imran: 17].

Aktivitas baca Alquran dapat dilihat dari aktivitas makan sahur berikut ini.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ قَالَ كَقَدْرِ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi ﷺ berdiri untuk shalat, lalu beliau mengerjakan shalat. Kami bertanya pada Anas tentang berapa lama antara selesainya makan sahur mereka berdua, dan waktu melaksanakan shalat Subuh. Anas menjawab: ‘Yaitu sekitar seseorang membaca 50 ayat (Alquran).’ [HR. Bukhari, no. 1134 dan Muslim, no. 1097].

7- Bagi yang berada dalam keadaan junub, maka segera mandi wajib. Namun masih dibolehkan masuk waktu Subuh dalam keadaan junub dan tetap berpuasa. Termasuk juga masih boleh masuk waktu Subuh belum mandi suci dari haid.

Istri tercinta Nabi ﷺ, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

“Rasulullah ﷺ pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau ﷺ mandi dan tetap berpuasa.” [HR. Muslim, no. 1109]

Hadis di atas diperkuat lagi dengan ayat:

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Maka sekarang campurilah mereka, dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [QS. Al Baqarah: 187].

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan mubasyaroh (basyiruhunna) dalam ayat di atas adalah jima’ atau hubungan intim. Dalam lanjutan ayat disebutkan “Ikutilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian”. Jika jima’ itu dibolehkan hingga terbit fajar (waktu Subuh), maka tentu diduga ketika masuk Subuh masih dalam keadaan junub. Puasa ketika itu pun sah, karena Allah perintahkan “Sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.” Itulah dalil Alquran dan juga didukung dengan perbuatan Rasulullah ﷺ yang menunjukkan bolehnya masuk Subuh dalam keadaan junub.” [Syarh Shahih Muslim, 7: 195].

Catatan:

Mandi junub sebelum fajar Subuh tiba lebih afdhal. Walaupun kalau mandi setelah fajar Subuh terbit, dibolehkan dan boleh menjalankan puasa di hari tersebut. [Lihat bahasan Syaikh Musthafa Al-Bugha dalam Al-Fiqh Al-Manhaji, 1: 348]

Semoga bermanfaat.Tunggu lanjutannya di Rumaysho.Com.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

 

Sumber: https://rumaysho.com/15654-24-jam-di-bulan-Ramadan-aktivitas-sebelum-Subuh.html

,

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

>> Menolak Takdir Dengan Doa

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” [HR. Tirmidzi, no. 6 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak Ada Yang Menolak Takdir Kecuali Doa”]

Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja.
  • Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak.

Yang dimaksud umur tidaklah bertambah melainkan dengan kebaikan terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak melakukan kebaikan, maka umurnya pendek.
  • Kalau seseorang melakukan kebaikan, umurnya bertambah, yaitu bertambah berkah.

Jika dilihat dari pengertian di atas, berarti umur bertambah bisa bermakna hakiki. Atau ada yang mengatakan, bahwa semakin banyak amalan kebaikan, semakin bertambah umur. Sebagaimana pula semakin sering memanjatkan doa, musibah akan terus tertolak.

Artinya yang disebutkan di atas, berarti Allah memberkahi umur. Apa maksud Allah memberkahi umurnya? Ia cukup beramal saleh dalam waktu yang singkat, di mana dengan waktu seperti itu, yang lainnya tidak bisa melakukan amalan yang banyak. Maksud kedua di sini, bertambah umur berarti bertambah secara majaz.

Faidah penting yang bisa diambil:

  • Dorongan untuk memerbanyak kebaikan, serta bersegera melakukan kebaikan dan sebab-sebabnya.
  • Amalan kebaikan menyebabkan umur bertambah, baik secara hakiki atau majazi.
  • Doa punya kedudukan yang begitu mulia. Segala sesuatu yang telah Allah takdirkan pada hamba berupa hal yang dibenci, dapat tertolak dan dipalingkan dengan doa, asalkan seseorang ikhlas dan benar dalam niat.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain. Cetakan kedua, tahun 1421 H. Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. Penerbit Dar Balansia.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15647-menolak-takdir-dengan-doa.html