Posts

,

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
PERINGATAN UNTUK PENYEBAR BERITA
 
Dari Bilal bin Harits Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
 
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa keridaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis keridaan baginya hingga hari tatkala dia menghadap kepada-Nya. Dan sungguh seorang lelaki di antara kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa kemurkaan Allah, tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa, maka lantaran (kalimat itu) Allah menulis kemurkaan baginya hingga hari saat dia menghadap kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu HIbban, Al-Hakim, dan selainnya. Ash-Shahihah no. 888]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: dzulqarnain.net
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #MenyebarkanBerita, #PenyebaranBerita, #AdabBerita, #AdabPosting

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama
#DakwahTauhid

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, bersumber dari hadis Nabi ﷺ. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah ﷺ, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga Alquran.” [HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612].

Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Sanggupkah kalian membaca sepertiga Alquran dalam semalam?”

Mereka bertanya: ‘Bagaimana caranya kita membaca sepertiga Alquran?’

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan:

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga Alquran.” [HR. Muslim 1922)]

Makna al-Ikhlas sepertiga Alquran

Dalam Alquran, ada tiga pembahasan pokok:

[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.

[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang Surga, Neraka, balasan, termasuk kisah orang saleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan, dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.

[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.

Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari Alquran.

Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar:

قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار

Sabda Nabi ﷺ: “Senilai sepertiga Alquran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna Alquran. Karena isi Alquran adalah hukum, berita, dan tauhid, sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  [Fathul Bari, 9/61]

Penjelasan kedua:

Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi dua:

[1] Kalimat Insya’ (non-berita): Berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.

[2] Kalimat Khabar (berita): Dan berita dalam Alquran ada dua:

[2a] Berita tentang makhluk: Kisah orang masa silam, baik orang saleh maupun orang jahat.

[2b] Berita tentang khaliq: Penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.

Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna Alquran.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan:

ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله

Surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, karena isi Alquran ada dua: Khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang khaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. [Fathul Bari, 9/61]

Pahalanya Senilai Membaca sepertiga Alquran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil, sesuai dengan hikmah Allah. Sehingga umat Nabi Muhammad ﷺ yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar, tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.

Umat Muhammad ﷺ diberi oleh Allah Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan. Ada juga Masjidil Haram, yang barang siapa shalat di sana, dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca sepertiga Alquran.

Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan, agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.

  • Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan
  • Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.

Membaca surat al-Ikhlas mendapat NILAI seperti membaca sepertiga Alquran, maknanya adalah senilai dalam PAHALA (al-Jaza’). BUKAN senilai dalam AMAL (al-Ijza’).

Sehingga misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu Alquran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu Alquran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh Alquran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu Alquran.

Sebagaimana ketika ada orang yang shalat dua rakaat shalat wajib di Masjidil Haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun, karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.

Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.

Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti Jumatan, yang dia menggantikan shalat Zuhur. Sehingga orang yang shalat Jumatan tidak perlu shalat Zuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu, bagi orang yang punya udzur.

Syaikhul Islam mengatakan:

فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه

Alquran dibutuhkan manusia untuk mengetahui keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisah yang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.

Lalu beliau mengatakan:

فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه

Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga Alquran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Alquran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah Alquran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. [Majmu’ al-Fatawa, 17/138].

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25969-mengapa-surat-al-ikhlas-senilai-sepertiga-Alquran.html

 

 

,

MENGUNYAH INFORMASI

MENGUNYAH INFORMASI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGUNYAH INFORMASI

Di era teknologi ini.

Ada kaum ‘Sumbu Pendek’, yang mudah marah dan iri, bila melihat status atau postingan orang.

Ada juga masyarakat kurang cerdas dalam penggunaan smartphone ponsel pintar.

Walhasil, mereka kurang bijak dalam menerima dan berbagi informasi.

Padahal allah ta’ala memberi arahan:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS. Al-hujurat: 6]

Asy-syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

ففيه دليل، على أن خبر الصادق مقبول، وخبر الكاذب، مردود، وخبر الفاسق متوقف

“Pada ayat tersebut terdapat dalil bahwa:

  • Berita dari orang jujur, diterima.
  • Dan kabar dari pendusta itu tertolak.
  • Adapun informasi dari orang fasik, maka didiamkan (hingga jelas kebenarannya).”

[Taisir Al-Karimir Rahman]

JANGAN menelan bulat-bulat perkataan dan tulisan yang beredar. Tahu bulat saja harus dikunyah dahulu sebelum ditelan.

 

@sahabatilmu

 

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

Pertanyaan:

Bagaimana jika sudah terlanjur menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan baru tahu, bahwa itu hoax.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

 Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian:

[1] Menyebarkan berita burung (katanya-katanya);

[2] Menyia-nyiakan harta; dan

[3] Banyak bertanya. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4582).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam Alquran, Allah menyebut mereka dengan Al-Murjifuun (Manusia pembuat onar).

Ketika Nabi ﷺ di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat, terutama berita yang terkait keluarga Nabi ﷺ. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah. Allah berfirman:

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah), melainkan dalam waktu yang sebentar. (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita Anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi… prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana ketika tidak sengaja menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan, baru diingatkan bahwa ternyata itu hoax.

Pertama, orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, maka tidak ada dosa baginya, antara dia dengan Allah. Allah berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Tidak ada dosa bagimu terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. al-Ahzab: 5).

Namun jika itu merugikan hak orang lain, maka dia bertanggung jawab atas kerugian itu.

Ketika Nabi Daud menjadi penguasa, ada kasus, hewan ternak milik si A masuk ke lahan pertanian milik si B, dan merusak tanamannya. Akhirnya mereka meminta keputusan Nabi Daud. Beliau memutuskan, hewan si A harus diserahkan ke si B, sebagai ganti dari tanaman yang dirusak.

Sementara Sulaiman memiliki pemahaman berbeda. Beliau memutuskan, hewan si A diserahkan ke si B untuk diperah susunya sampai menutupi nilai kerugian tanaman yang dirusak. Dan Allah memuji keputusan Sulaiman. Allah menceritakan:

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ . فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

(Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). (QS. al-Anbiya: 78 – 79)

Kedua, ketika sudah tersebar di forum, berikan penjelasan di forum yang sama, bahwa berita itu dusta, agar Anda bisa lepas dari tanggung jawab.

Bagi mereka yang pernah menyebarkan kesesatan, kemudian bertaubat, dia berkewajiban untuk menjelaskan kepada masyarakatnya, tentang kesesatan yang pernah dia ajarkan.

Beberapa ulama yang bertaubat dari kesesatan, mereka mengarang buku  yang membantah pendapat lamanya. Di antaranya Abul Hasan al-Asy’ari. Setelah beliau taubat dari akidah Kullabiyah, beliau menulis beberapa buku sebagai bantahan untuk akidah beliau yang lama. Seperti al-Ibanah ‘An Ushul Diyanah, dan Maqalat Islamiyin.

 

Allah menjelaskan:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 160).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/27977-jika-tidak-sengaja-menyebarkan-berita-hoax.html

 

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SabarTakwaTawakalKepadaAllah

#PatrialisAkbarUntukPresidenRI

BERSABARLAH PAK, ALLAH BERSAMA HAMBA-NYA YANG SALEH

Oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi hafizhahullah

Baru-baru saja kita dikejutkan dengan berita penangkapan Bapak Patrialis Akbar, yang dikenal dekat dengan dunia dakwah sunnah.

Media-media penebar berita-berita hoax langsung menggoreng secepat kilat dengan cara-cara politik yang kotor dan culas.

Berikut ini, kami nasihatkan kepada diri kami dan saudara-saudaraku sekalian:

  1. Hendaknya bagi kita TIDAK MUDAH menelan berita-berita media yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang mencoreng kehormatan seorang Muslim yang gigih membela Islam dan dakwah Sunnah. (Baca: http://fokusislam.com/6730-inilah-berita-berita-hoax-seputar-penangkapan-patrialis-akbar.html)

Kewajiban bagi kita adalah husnu dzon dan membela kehormatan saudara kita sesama Muslim. Apalagi beliau telah bersumpah dengan nama Allah, bahwa dia dizalimi, dan tidak menerima serupiah pun.

  1. Hendaknya bagi kita untuk banyak berdoa kepada Allah, agar beliau dipermudah urusannya dan segera dibebaskan dari tuduhannya. Karena doa yang tulus dari kaum Mukminin dan Mukminat bisa menembus pintu-pintu langit yang Maha Adil dan Bijaksana.

Dan untuk saudara-saudara yang dekat dengan beliau, atau keluarga beliau, mari kita dukung dengan doa dan motivasi, agar beliau tegar menghadapi cobaan ini, dan bantu dengan bantuan langkah- langkah hukum di negeri ini.

  1. Hendaknya kita semua bersabar menghadapi ujian di zaman penuh dengan badai dan ombak fitnah ini. Jangan mudah terprovokasi, banyak debat sana sini. Mari kita fokus mendoakan dan membantu yang terbaik untuk beliau. Biarlah proses hukum berjalan, karena kita harus patuh hukum.
  1. Untuk beliau dan keluarganya serta sahabatnya: Bersabarlah dengan ujian ini, dan yakinlah, bahwa Allah akan menolong hamba-hamba yang beriman, lebih-lebih jika ia terzalimi. Optimislah, bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untukmu, meninggikan derajatmu, menghapus dosa-dosamu.
  1. Untuk siapa pun yang diberi amanat di negeri ini, hendaknya kita semua takut kepada Allah. Marilah kita ingat, bahwa Allah tidak akan tidur. Doa orang yang terzalimi adalah terkabul. Ingatlah, bahwa jabatan, harta dan tahta dunia hanyalah sementara, dan kita akan berdiri di pengadilan Akhirat nanti di hadapan Sang Maha Kuasa.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari badai fitnah yang menerpa negeri ini, dan semoga Allah memberikan keamanan dan keadilan di negeri ini.

Aamiin.

,

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini, karena kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan, akan menghapus dosa-dosanya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi ﷺ ketika sakit. Sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya Anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat. Oleh karena itukah Anda mendapatkan pahala dua kali lipat?” Beliau ﷺ menjawab: “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” [HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571]

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu, melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” [HR. Muslim no. 2572].

 

Bergembiralah saudaraku. Bagaimana tidak. Hanya karena sakit tertusuk duri saja, dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.

Sekali lagi bergembiralah. Karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa, bahkan tidak memunyai dosa sama sekali. Kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci, sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan Shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

Hadis ini sangat cocok bagi orang yang memunyai penyakit kronis, yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya Surga telah menunggunya.

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada Hari Kiamat nanti banyak orang yang berandai-andai, jika mereka ditimpakan musibah di dunia, sehingga menghapus dosa-dosa mereka, dan diberikan pahala kesabaran. Nabi ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

”Manusia pada Hari Kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” [HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.]

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini? Orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di Hari Kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.

Yang berikut ini adalah jawaban serta jalan keluar dari Allah, yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah [Sumber ini didapat di file komputer kami. Kami tidak tahu penulisnya. Jika tahu, kami akan meminta izin untuk menukilnya]

– Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

– Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

– Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

– Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

– Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

– Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan Surga untuk mereka.” (QS. 9:111)

-Kepada siapa saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Sesembahan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang Agung”. (QS. 9:129)

– Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dalam menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Orang Yang Sakit Selayaknya Bergembira” oleh: dr. Raehanul Bahraen

Muraja’ah: Al-Ustdaz Fakhruddin, Lc [Mudir Ma’had Abu Hurairah Mataram]

[https://Muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/orang-yang-sakit-selayaknya-bergembira.html

, ,

TERNYATA INI UCAPAN YANG BENAR, KETIKA ADA ORANG MENINGGAL/ TERTIMPA MUSIBAH

TERNYATA INI UCAPAN YANG BENAR, KETIKA ADA ORANG MENINGGAL/TERTIMPA MUSIBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TERNYATA INI UCAPAN YANG BENAR, KETIKA ADA ORANG MENINGGAL/ TERTIMPA MUSIBAH

Pertanyaan:

  • Apa yang diucapkan bagi orang yang mendapat musibah, misalnya atas meninggalnya saudara atau orang yang dicintainya?
  • Apakah yang mendengar berita duka juga mengucapkan kalimat Istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un)? Bila tidak, apakah yang sebaiknya diucapkan kepada keluarga mayyit?

Jawaban:

Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Tertimpa Musibah

  • Mengucapkan kalimat Istirja’, yaitu mengucapkan kalimat: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Inilah yang diucapkan oleh orang yang tertimpa musibah dan BUKANNYA orang yang mendengar kabar musibah. Allah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang APABILA DITIMPA MUSIBAH mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Artinya:

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” (QS. Al Baqoroh: 156)

  •  Kemudian setelah itu membaca doa yang diajarkan  oleh Nabi ﷺ:

 اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

ALLAHUMMA AJIRNII FII MUSHIBATI KHOIRON WAA AKHLIFNII KHOIRON MINHA.

Artinya:

Ya Allah berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim no. 918)

Shohabiyah Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi ﷺ:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tiada seorang Muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.  YaAllah, berilah aku pahala atas (musibah) yang menimpaku, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)

  • Wajib baginya ridha dengan qadha dan ketetapan Allah.
  • Tidak mengapa menangis/bersedih dan berkata:

العين تدمع والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يرضي ربنا

AL-‘AINU TADMAGHU WAL QOLBU YAHZANU, WALAA NAQULU ILLA MAA YARDHA ROBBUNA.

Artinya:

Mata boleh jadi menangis dan hati bersedih, (akan tetapi) kami tidaklah berkata-kata, kecuali apa yang diridhai Rabb kami”

  • Hendaknya ia menjauhi diri dari memukul-mukul tubuh, berteriak-teriak, merobek baju dan mencabut (mengacak-acak) rambut dan lain-lain. Karena termasuk nihayah (meratapi) yang dilarang. Sebagaimana dalam hadis:

“Bukanlah termasuk golongan kami, mereka yang menampar pipi, merobek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah”

Yang Diucapkan Orang yang Datang Bertakziyah

Berdasarkan pendapat para ulama dalam masalah ini, bisa disimpulkan bahwa mereka tidak membatasi dan tidak menentukan bacaan-bacaan khusus yang harus diucapkan ketika bertakziyah.

Ibnu Qudamah berpendapat [Al Mughni (3/480).]: “Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada ucapan tertentu yang khusus dalam takziyah. Namun diriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ  sallam pernah melayat seseorang dan mengucapkan:

رَحِمَكَ اللهُ وَآجَرَكَ

Artinya:

Semoga Allah merahmatimu, dan memberimu pahala. [HR Tirmidzi, (4/60)].

Imam Nawawi berpendapat [Al Adzkar, hlm. 127], yang paling baik untuk diucapkan ketika takziyah, yaitu apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ kepada salah seorang utusan yang datang kepadanya untuk memberi kabar kematian sesorang. Beliau ﷺ  bersabda kepada utusan itu: Kembalilah kepadanya dan katakanlah kepadanya:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

INNA LILLAAHI MAA AKHODZA, WA LAHU MAA A’THA, WA KULLU SYAI’IN ‘INDAHU BI AJALIN MUSAMMA … FALTASHBIR WALTAHTASIB

Artinya:

Sesungguhnya adalah milik Allah apa yang Dia ambil, dan akan kembali kepada-Nya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu yang ada disisi-Nya ada jangka waktu tertentu (ada ajalnya). Maka hendaklah engkau bersabar dan memohon pahala dari Allah. [HR Muslim, 3/39].

Sebagian ulama menyunnahkan, agar ketika melayat orang Muslim yang ditinggal mati oleh orang Muslim, membaca:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاكَ وَرَحِمَ مَيِّتَكَ

Artinya:

Semoga Allah melipatkan pahalamu, memberimu pelipur lara yang baik, dan semoga Dia memberikan rahmat kepada si mayyit [Lihat Hasyiyah Radd al Mukhtar (1/604), al Mughni (3/486), al Inshaf (2/565)]

Menurut Mazhab Syafi’iyah, mendoakan orang yang dilayat atau yang tertimpa musibah dengan mengucapkan:

“Semoga Allah mengampuni si mayyit, melipatkan pahalamu, dan memberimu pelipur yang baik,”. Tetapi ada juga yang berpendapat berdoa dengan doa apa saja [Al Majmu’ (5/306).]

Baik juga jika didoakan dengan yang berikut:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ.

A’ZHAMALLAHU AJROKA, WA AHSANA ‘AZAAKA, WA GHAFARO LIMAYYITIKA.

Artinya:

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerbesar pahalamu, dan kamu bisa berkabung dengan baik serta mayatnya diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala“. (HR. Bukhari: 2/80, Muslim: 2/636. Lihat Al Azkar LinNawawi, hal. 126).

Atau dengan ucapan doa:

أحسن الله عزاك، وجبر مصابك، وغفر لميتك ورحمه وخلفه في عقبه بخير

AHSANALLAHU AZAAKA WA JABARO MUSHABAKA WA GHAFARO LIMAYYITIKA WA ROHIMAHU WA KHALAFAHU FII AQIBIHI BIKHOIR.

Artinya:

Semoga Allah memberimu pelipur lara yang baik, memberi kebaikan atas musibahmu, mengampuni si mayyit, melimpahkan rahmat, dan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

Dan bisa juga berkata:

إن في الله عزاء من كل فائت، وخلفا من كل هالك، فبالله تقوا وإياه فارجوا فإن المصاب من حرم الثواب

“Sesungguhnya Allah akan memberi pelupur lara bagi segala yang telah hilang, dan memberi pengganti bagi semua yang musnah. Kepada Allah-lah bertakwa, kembalilah (kepada Allah), karena orang yang tertimpa musibah bisa dihalangi dari pahala.”

  • Kemudian memotivasi mereka agar bersabar dan ridha, karena setelahnya ada pahala yang melimpah dan pahala atas musibah.

 

Sumber:

https://muslimafiyah.com/ucapan-ucapan-yang-dikatakan-ketika-ada-orang-yang-meninggal.html

https://almanhaj.or.id/3067-fiqih-taziyah.html

 

BANYAKNYA KEDUSTAAN DAN TIDAK ADANYA TATSABBUT (MENCARI KEPASTIAN) DALAM MENUKIL BERITA

BANYAKNYA KEDUSTAAN DAN TIDAK ADANYA TATSABBUT (MENCARI KEPASTIAN)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Tanda_Kiamat

BANYAKNYA KEDUSTAAN DAN TIDAK ADANYA TATSABBUT (MENCARI KEPASTIAN) DALAM MENUKIL BERITA

Di Antara Tanda-Tanda Kecil Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda:

سَيَكُونُ فِـي آخِرِ أُمَّتِـي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ.

“Akan ada sekelompok manusia di akhir umatku yang akan berbicara kepada kalian, dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya, tidak pula oleh bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah kalian dan hindarilah mereka (agar tidak menimpakan fitnah kepada kalian).” [Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, bab an-Nahyu ‘anir Riwaayah ‘anidh Dhu’afaa’ (I/78, Syarh an-Nawawi)].

Dalam satu riwayat:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ اْلأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ.

“Pada akhir zaman akan ada para pembohong yang membawa berita kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar, tidak juga pernah didengar oleh bapak-bapak kalian. Maka hati-hatilah kalian, dan hindarilah mereka, agar tidak menyesatkan kalian, juga tidak mendatangkan fitnah kepada kalian.” [Ibid (I/78-79, Syarh Shahiih Muslim lin Nawawi)].

Muslim rahimahullah meriwayatkan dari ‘Amir bin ‘Abdah, dia berkata: “‘Abdullah [Beliau adalah ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, orang yang meriwayatkan darinya adalah ‘Amir bin ‘Abduh al-Bajali al-Kufi, Abu ‘Iyas, seorang Tabi’in, tsiqah. Ibnu Hajar telah memberikan isyarat kepada riwayat ini dalam Tahdziibut Tahdziib (V/78-79), dan beliau menuturkan bahwa riwayat tersebut dari ‘Amir bin ‘Abduh bin ‘Abdillah bin Mas’ud] berkata:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِيَتَمَثَّلُ فِي صُورَةِ الرَّجُلِ فَيَأْتِي الْقَوْمَ فَيُحَدِّثُهُمْ بِالْحَدِيثِ مِنَ الْكَذِبِ فَيَتَفَرَّقُونَ فَيَقُولُ الرَّجُلُ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَجُلاً أَعْرِفُ وَجْهَهُ وَلاَ أَدْرِي مَا اسْمُهُ يُحَدِّثُ.

‘Sesungguhnya setan menjelma dalam rupa seseorang, lalu dia mendatangi suatu kaum dan menceritakan sebuah berita bohong. Akhirnya mereka berselisih. Lalu seseorang dari mereka berkata: ‘Aku mendengar seseorang bercerita, ‘Aku mengetahui wajahnya, akan tetapi tidak mengetahui namanya.’” [Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, (I/78, Syarh an-Nawawi)].

Dan diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

إِنَّ فِـي الْبَحْرِ شَيَاطِينَ مَسْجُونَةً أَوْثَقَهَا سُلَيْمَانُ يُوشِكُ أَنْ تَخْرُجَ فَتَقْرَأَ عَلَى النَّاسِ قُرْآنًا.

“Sesungguhnya di dalam lautan ada setan-setan terpenjara yang diikat oleh Sulaiman. Hampir saja mereka keluar, lalu membacakan Alquran kepada manusia.” [Shahiih Muslim, al-Muqaddimah, bab an-Nahyu ‘anir Riwaayah ‘anidh Dhu’afaa’ (I/79, Syarh an-Nawawi)].

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Maknanya adalah membacakan sesuatu yang bukan Alquran, akan tetapi mengatakan, bahwa hal itu merupakan Alquran, untuk menipu orang awam dari kalangan manusia. Maka hendaklah mereka tidak tertipu.” [Syarah an-Nawawi untuk Shahiih Muslim (I/80)].

Betapa banyak pembicaraan aneh di zaman sekarang ini. Sebagian manusia tidak hati-hati lagi dengan banyak berbicara bohong dan menukil berita tanpa memastikan terlebih dahulu tentang kebenarannya. Hal itu jelas menyesatkan manusia dan memfitnah mereka. Karena itulah Nabi ﷺ memberi peringatan, agar tidak membenarkan mereka. Para ulama hadis telah menjadikan hadis-hadis ini sebagai landasan tatsabbut (melakukan klarifikasi) dalam menukil sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ dan memeriksa para perawi agar diketahui yang terpercaya dari yang lainnya.

Dengan sebab banyaknya kebohongan manusia pada zaman sekarang ini, maka manusia tidak bisa membedakan berbagai berita, akhirnya dia tidak mengetahui antara berita yang benar dan tidak.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

 

Penulis: Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Sumber: https://almanhaj.or.id/980-38-41-banyaknya-karya-tulis-lalai-melaksanakan-ibadah-sunnah-banyaknya-kedustaan.html

,

PAWANG =TUKANG SIHIR = DUKUN = THAGUT SEKALIGUS SETAN DARI KALANGAN MANUSIA

PAWANG =TUKANG SIHIR = DUKUN = THAGUT SEKALIGUS SETAN DARI KALANGAN MANUSIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PAWANG =TUKANG SIHIR = DUKUN = THAGUT SEKALIGUS SETAN DARI KALANGAN MANUSIA

Sihir dan Perdukunan Perusak Tauhid

Allah Ta’ala berfirman:

{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ، يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ}

“Apakah akan Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Setan-setan tersebut menyampaikan berita yang mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta” (QS asy-Syu’araa’:221-223).

Imam Qatadah [Beliau adalah Qotadah bin Di’aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 409)] menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan “Para pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk” adalah para dukun dan tukang sihir [Dinukil oleh imam al-Bagawi dalam “Ma’aalimut tanziil” (6/135) dan Ibnul Jauzi dalam “Zaadul masiir (6/149)], mereka itulah teman-teman dekat para setan yang mendapat berita yang dicuri para setan tersebut dari langit [Lihat kitab “Ma’aalimut tanziil” (6/135)].

Bahkan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud ketika menafsirkan firman Allah:

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا}

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)” (QS al-An’aam:112).

Baliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Para dukun (dan tukang sihir) adalah setan-setan (dari kalangan) manusia” [Dinukil oleh imam asy-Syaukani dalam tafsir beliau “Fathul Qadiir” (2/466)].

Dalam atsar/riwayat yang lain, sahabat yang mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang arti “Thagut”, beliau berkata: “Mereka adalah para dukun yang setan-setan turun kepada mereka” [[Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/680)]. Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/680)].

Hukum Mendatangi Dukun dan Tukang Sihir

Mendatangi dan bertanya kepada teman-teman dekat setan ini adalah perbuatan dosa yang sangat besar dan bahkan BISA JADI MERUPAKAN KEKAFIRAN kepada Allah Ta’ala [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 354) dan “at-Tamhiid li syarhi kitaabit tauhiid” (hal. 320)], dengan perincian sebagai berikut:

–  Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tanpa membenarkannya (hanya sekedar bertanya), maka ini hukumnya dosa yang sangat besar dan tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari [Lihat kitab “Taisiirul ‘Aziizil Hamiid” (hal. 358), “at-Tamhiid li syarhi kitaabit tauhiid” (hal. 320) dan kitab “Hum laisu bisyai” (hal. 4)], berdasarkan sabda Rasululah ﷺ: “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal (orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib, termasuk dukun dan tukang sihir [Lihat kitab “Taisiirul ‘Aziizil Hamiid” (hal. 358), “at-Tamhiid li syarhi kitaabit tauhiid” (hal. 320) dan kitab “Hum laisu bisyai” (hal. 4)]), kemudian bertanya tentang sesuatu hal kepadanya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama empat puluh malam (hari)” [HSR Muslim (no. 2230)].

–   Mendatangi dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu, kemudian membenarkan ucapan/berita yang mereka sampaikan, maka ini adalah kufur/kafir terhadap Allah Ta’ala [Lihat kitab “Taisiirul ‘Aziizil Hamiid” (hal. 358), “at-Tamhiid li syarhi kitaabit tauhiid” (hal. 320) dan kitab “Hum laisu bisyai” (hal. 4)], berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad ﷺ” [HR Ahmad (2/429) dan al-Hakim (1/49), dishahihkan oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani dalam “Ash-Shahiihah” (no. 3387)].

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu syaikh berkata: “Orang yang membenarkan dukun dan tukang sihir, meyakini (benarnya ucapan mereka), dan meridhai hal tersebut, maka ini merupakan kekafiran (kepada Allah Ta’ala)” [Kitab “Fathul Majiid” (hal. 356)].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Sihir dan Perdukunan Perusak Tauhid” yang ditulis oleh: al-Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA hafizhahullahu ta’ala

[Artikel www.muslim.or.id]

Sumber: http://muslim.or.id/3837-sihir-dan-perdukunan-perusak-tauhid.html

,

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Syiah_Bukan_Islam

MENYIKAPI PENYEBARAN BERITA TENTANG KESESATAN TOKOH-TOKOH SYIAH DI INDONESIA

Pertanyaan:

Beredar broadcast tentang nama-nama/tokoh orang Syiah. Yang saya tanyakan, apakah benar mereka orang Syiah. Dan apa dasarnya mereka menyebutnya orang itu Syiah? Contoh Jalaludin Rakhmat dan beberapa yang lain.

Jawaban:

Jalaludin Rakhmat dan teman-temannya yang dianggap sebagai orang-orang Syiah karena keyakinan dan amalan mereka sama dengan sekte sesat Syiah.

Sebagai contoh, kesesatan Syiah adalah mencerca para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini bertebaran di buku-buku karya Jalaluddin Rakhmat. Padahal sahabat adalah orang-orang yang Allah ta’ala pilih untuk menjadi murid Rasulullah ﷺ dan berjuang bersama beliau.

Demikian pula Alquran dan As-Sunnah sampai kepada kita, dikarenakan para sahabat memelajarinya dengan baik dari Rasulullah ﷺ dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, dalam banyak ayat Alquran dan As-Sunnah, Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ telah memuji para sahabat.

Dan Nabi ﷺ berpesan:

لَا تَسُبُّو أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ لَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencerca sahabatku. Janganlah kalian mencerca sahabatku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan seorang dari kalian bersedekah emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai segenggam emas yang disedekahkan oleh sahabatku, tidak pula separuhnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Dan masih banyak lagi kesesatan Syiah lainnya yang diikuti oleh Jalal dan tokoh-tokoh tersebut. Maka sudah sepatutnya kaum Muslimin diingatkan akan bahaya kesesatan mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: https://nasihatonline.wordpress.com/2013/08/19/menyikapi-penyebaran-berita-tentang-kesesatan-tokoh-tokoh-syiah-di-indonesia/

Artikel Terkait:

Memperingatkan Bahaya Kelompok Sesat, Antara Nasihat dan Cacian

JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT !