Posts

,

SAHABAT SALEH BISA MEMBERIKAN SYAFAAT UNTUK MASUK SURGA, DENGAN IZIN DAN RIDA ALLAH

SAHABAT SALEH BISA MEMBERIKAN SYAFAAT UNTUK MASUK SURGA, DENGAN IZIN DAN RIDA ALLAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SAHABAT SALEH BISA MEMBERIKAN SYAFAAT UNTUK MASUK SURGA, DENGAN IZIN DAN RIDA ALLAH

Hasan Al- Bashri berkata:
 
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
 
”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada Hari Kiamat.” [Ma’alimut Tanzil 4/268]
 
Dalilnya adalah hadis, di mana mereka menyebut kebersamaan: pernah berpuasa, shalat dan haji BERSAMA. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dalam hadis yang panjang, Rasulullah ﷺ bersabda tentang syafaat di Hari Kiamat:
 
حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…
 
Setelah orang-orang Mukmin itu dibebaskan dari Neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memerjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam Neraka pada Hari Kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di Neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.
 
Dijawab: ”Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api Neraka.
 
Para Mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di Neraka. Aada yang dibakar sampai betisnya, dan ada yang sampai lututnya.
 
Kemudian orang Mukmin itu lapor kepada Allah: ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari Neraka, sudah tidak tersisa.”
 
Allah berfirman: ”Kembali lagi. Keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat Dinar.”
 
Maka dikeluarkanlah orang Mukmin banyak sekali, yang sedang disiksa di Neraka. Kemudian mereka melapor: ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” [HR. Muslim no. 183]
 
Catatan Kaki:
Dinukil dari tulisan berjudul: “Para Sahabat Saling Memberi Syafaat di Hari Kiamat di: https://muslimafiyah.com/para-sahabat-saling-memberi-syafaat-di-hari-kiamat.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

BOLEHKAH KITA MEMINTA KEMBALI HADIAH YANG SUDAH KITA BERIKAN?

BOLEHKAH KITA MEMINTA KEMBALI HADIAH YANG SUDAH KITA BERIKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BOLEHKAH KITA MEMINTA KEMBALI HADIAH YANG SUDAH KITA BERIKAN?

Hadiah itu tergolong transaksi social, alias non-profit; bukan transaksi profit. Orang yang diberi hadiah itu boleh menerima hadiah, sebagaimana dia boleh menolaknya.

Hak kepemilikan benda yang dihadiahkan itu BERPINDAH, dengan adanya serah terima. Jika telah terjadi serah terima, maka hadiah tersebut TIDAK BOLEH ditarik kembali. Tolok ukur terjadinya serah terima adalah urf (baca: tradisi masyarakat setempat).

Jika orang yang diberi hadiah mengucapkan kalimat terima kasih misalnya, maka benda yang dihadiahkan itu telah sah menjadi milik, halal orang yang diberi hadiah, dan tidak boleh ditarik kembali oleh pemberi hadiah. Seandainya istri tersenyum setelah diberi sesuatu oleh suaminya, maka maknanya dia telah menerima hadiah, sehingga suami tidak boleh menarik kembali pemberiannya.

Dengan adanya serah terima, maka orang yang diberi hadiah memiliki hadiah yang diberikan kepadanya. Hak kepemilikan dalam hadiah itu belum berpindah selama belum ada serah terima.

TIDAK BOLEH menarik kembali pemberian, kecuali pemberian ayah kepada anaknya. Nabi ﷺ bersabda:

العائد في هبته كالكلب يعود في قيئه، إلا الوالد لولده

“Orang yang menarik kembali hadiahnya itu, bagaikan anjing yang menjilati kembali muntahannya. Kecuali pemberian ayah kepada anaknya.” [HR Nasai, Shahih].

Ibnu Qoin dan selainnya mengatakan, bahwa ketentuan ini hanya berlaku untuk ayah, dan tidak berlaku untuk ibu. Ayah boleh menarik kembali pemberiannya, sedangkan ibu tidak boleh menarik kembali pemberiannya. Walid dalam hadis di atas kita maknai dengan ayah. TIDAK kita artikan dengan orang tua, mengingat Nabi ﷺ secara khusus menyebutkan ‘ayah’. Dan ayah itu memiliki hak kepemilikan atas harta anaknya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

أنت ومالك لأبيك

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” [HR. Ibnu Majah, Shahih].

Sehingga jika seorang ayah menarik kembali hadiah yang dia berikan kepada anaknya, maka pada hakikatnya dia mengambil apa yang menjadi hak miliknya. [Fatwa Syaikh Masyhur Hasan al Salman no 289].

Sumber: http://pengusahamuslim.com/3007-beberapa-ketentuan-terkait-1596.html

 

 

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

Pertanyaan:

Dosakah istri yang secara diam-diam membantu keluarganya dengan menggunakan uang hasil kerjanya sendiri, karena suami kurang memerhatikan orang tua istri?”

Jawaban:

عَنْ أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – – أَوْ قَالَ عَطَاءٌ أَشْهَدُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ ، فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يُسْمِعِ النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ ، وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ ، فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلْقِى الْقُرْطَ وَالْخَاتَمَ ، وَبِلاَلٌ يَأْخُذُ فِى طَرَفِ ثَوْبِهِ .

Dari Ayyub, aku mendengar Atha’ berkata, bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas bercerita:

“Aku bersaksi, bahwa Nabi pergi ditemani Bilal saat shalat ‘Ied. Nabi ﷺ mengira bahwa para wanita tidak mendengar khutbah yang Nabi ﷺ sampaikan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ nasihati mereka secara khusus, dan Nabi ﷺ perintahkan mereka supaya bersedekah. Para wanita pun melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke arah kain yang dibentangkan oleh Bilal, dan Bilal memegang ujung kainnya” [HR Bukhari no 98 dan Muslim no 884].

Hadis di atas adalah dalil yang sangat tegas menunjukkan bahwa seorang istri boleh menyedekahkan harta pribadinya meski tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Dalam hadis di atas tidak dijumpai penjelasan, bahwa para wanita tersebut pergi dan meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu, ketika Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk bersedekah.

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ مَيْمُونَةَ بِنْتَ الْحَارِثِ – رضى الله عنها – أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا أَعْتَقَتْ وَلِيدَةً وَلَمْ تَسْتَأْذِنِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُهَا الَّذِى يَدُورُ عَلَيْهَا فِيهِ قَالَتْ أَشَعَرْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّى أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِى قَالَ « أَوَفَعَلْتِ » . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ « أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ »

Dari Kuraib, bekas budak, dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Maimunah binti al Harits pernah bercerita kepada Ibnu ‘Abbas, bahwa dia memerdekakan budak perempuannya tanpa meminta izin kepada Nabi ﷺ terlebih dahulu. Pada saat hari giliran Nabi ﷺ menginap di rumah istrinya Maimunah, barulah Maimunah berkata kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, apakah kau tahu, bahwa aku telah memerdekakan budak perempuan yang kumiliki?” Komentar Nabi ﷺ: “Benarkah kau telah melakukannya?” “Ya”,  jawab Maimunah. Sabda Nabi ﷺ: “Jika kau berikan budak perempuan tersebut kepada pamanmu, tentu pahalanya lebih besar” [HR Bukhari no 2452 dan Muslim no 999].

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ tidak menyalahkan perbuatan istrinya Maimunah yang menginfakkan harta pribadinya, tanpa sepengetahuan dan seizin beliau ﷺ. Andai hal ini terlarang, tentu Nabi ﷺ akan menegurnya.

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَنْفِقِى وَلاَ تُحْصِى فَيُحْصِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعِى فَيُوعِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ »

Dari Asma’, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: “Berinfaklah dan jangan dihitung-hitung (sehingga engkau merasa sudah banyak berinfak, dan pada akhirnya kau berhenti berinfak). Jika demikian, maka Allah akan perhitungan denganmu dalam anugrah-Nya. Dan jangan kau simpan kelebihan hartanya, sehingga Allah akan menyimpan (baca: menahan) anugrah-Nya kepadamu.” [HR Bukhari no 2451 dan Muslim no 1029].

Dalam hadis ini Nabi ﷺ memerintahkan Asma untuk banyak-banyak berinfak dan Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk minta izin terlebih dahulu kepada suaminya, yaitu az Zubair. Andai itu sebuah keharusan, tentu Nabi ﷺ akan memerintahkannya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَجُوزُ لاِمْرَأَةٍ أَمْرٌ فِى مَالِهَا إِذَا مَلَكَ زَوْجُهَا عِصْمَتَهَا ».

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya)” [HR Abu Daud no 3546, Nasai no 3756, Ibnu Majah no 2388 dan dinilai al Albani sebagai hadis Hasan Shahih].

Hadis ini kita kompromikan dengan hadis-hadis di atas, dengan kita katakan, bahwa di antara bentuk pergaulan yang baik antara suami dan istri adalah, jika seorang istri ingin membelanjakan harta pribadinya untuk membeli sesuatu atau berinfak, hendaknya bercerita kepada suaminya terlebih dahulu. Inilah adab yang hendaknya dimiliki oleh seorang istri, dan itulah yang terbaik.

Berdasarkan uraian di atas, maka ibu boleh membantu orang tua dengan harta pribadi ibu, meski dengan cara diam-diam dan tanpa sepengetahuan suami. Namun lebih baik jika ibu bercerita kepada suami tentang apa yang ibu lakukan.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: http://ustadzaris.com/membelanjakan-harta-tanpa-izin-suami

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

, , ,

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#WanitaSholihah
#FatwaUlama

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

Jika seorang Muslimah memiliki busana yang tidak syari, bolehkah ia menyedekahkannya kepada wanita yang lain?
Fatwa Islamweb [Asuhan Syaikh Abdullah Al Faqih]

 

Pertanyaan:
Wahai Syaikhuna Al Fadhil, saya sedang bingung dalam menghadapi satu persoalan. Sudah beberapa bulan ini saya mengganti pakaian-pakaian saya. Saya tidak lagi memakai celana panjang, dan tidak lagi menggunakan busana muslimah yang mengundang fitnah. Saya berusaha untuk memerhatikan syarat-syarat hijab yang syari. Pertanyaan saya, saya memiliki banyak pakaian lama yang saya tinggalkan tersebut. Bolehkah saya sedekahkan kepada orang yang saya anggap fakir, ataupun teman yang tidak fakir? Namun warna pakaian tersebut bisa menimbulkan fitnah. Bolehkan saya memberikannya kepada wanita yang masih suka ber-tabarruj (membuka aurat)? Dan ada pula sepatu, yang beberapa ada yang ber-hak tinggi. Dan saya tahu sekali, bahwa orang yang saya berikan tersebut akan memakainya di luar rumah. Demikian juga halnya pakaian-pakaian. Bolehkah saya memberikan ini semua kepadanya? Dan bolehkan saya memberikah khimar yang hanya menutupi kepala, dan warnanya juga dapat menimbulkan fitnah? Karena saya tidak akan pernah memakainya lagi, sedangkan saya tahu pasti, bahwa orang yang saya berikan nanti akan lebih sering memakainya.

Dan bolehkah saya memberikan saudara saya celana panjang untuk dipakai di luar rumah? Dan bolehkah saya membeli hadiah berupa gaun misalnya, atau hal lain, kepada siapa saja yang akan saya berikan, sedangkan saya tahu bahwa mereka tidak punya perhatian terhadap hukum syariat. Bahkan terkadang mereka ber-tabarruj. Apakah makna dari larangan membantu dalam bermaksiat? Lalu jika ini semua tidak diperbolehkan, apakah saya buang saja semua pakaian dan sepatu ini? Sedangkan saya tahu, ada orang yang bisa mengambil manfaat darinya.

Semoga Allah memberikan Anda derajat yang tinggi di Surga, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak atas jawabannya.

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

Alhamdulillah, Allah telah memberi Anda hidayah untuk menjaga kehormatan Anda, dan memberi Anda hidayah untuk berhijab syari. Dan saya berharap semoga Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas Anda.

Dan telah kami jelaskan dalam Fatwa nomor 48924 dan nomor 36082, bahwasanya tidak boleh bersedekah pakaian kepada wanita yang diketahui akan menggunakannya untuk ber-tabarruj. Dan ini termasuk perbuatan membantu dalam berbuat dosa. Dan hadiah itu sama hukumnya sebagaimana sedekah dalam hal ini. Oleh karena ini, mungkin sebaiknya pakaian tersebut Anda gunakan saja untuk berhias di hadapan suami Anda, atau Anda berikan kepada wanita yang diketahui akan hanya memakainya di rumahnya (baik ia miskin ataupun kaya), bukan kepada wanita yang akan memakainya di luar rumah dan ber-tabarruj dengannya.

Dan telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 104449, bolehnya memakai high-heels dengan beberapa syarat [http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=104449]. Silakan lihat penjelasan pada fatwa tersebut. Oleh karena itu boleh menghadiahkannya, jika keadaannya sesuai dengan yang disyaratkan.

Jika khimar yang Anda miliki tersebut warnanya dapat menimbulkan fitnah, maka tidak boleh memakainya. Karena di antara syarat hijab yang syari adalah bukan untuk berhias / memercantik diri. Sebagaimana telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 6745.

Secara khusus mengenai anak gadis yang Anda sebutkan, yaitu yang biasa memakai busana yang lebih parah dari busana yang ingin Anda berikan, maka bukanlah kebaikan, jika Anda memberikan pakaian Anda tersebut, karena diketahui, bahwa ia akan bermaksiat kepada Allah dengannya. Bahkan wajib untuk mengingkari perbuatannya tersebut. Jika ia tetap ngeyel, maka tinggalkan ia, dan jangan berikan hal-hal yang membantunya melakukan hal yang haram. Walaupun itu lebih ringan haramnya daripada yang ia biasa lakukan.

Dan tidak boleh memberikan celana panjang kepada saudari Anda, kecuali ia akan memakai pakaian luar yang menutupi celana panjang tersebut. Silakan lihat Fatwa nomor 251707.

Dan maksud dari larangan membantu dalam maksiat sudah jelas, tidak perlu diperinci lagi. Dan dalam kasus Anda ini, tidak membantu dalam maksiat adalah dengan tidak memberikan pakaian yang tidak syari tersebut dan tidak mengenalkannya dengan model pakaian tersebut, atau semacamnya.

Dan kami tidak menyarankan Anda membuang pakaian-pakaian Anda tersebut, namun hendaknya dipakai di rumah, atau berikan kepada wanita yang akan hanya memakainya di rumahnya.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=265363

Catatan redaksi:
Saudari kita yang hijabnya belum syari mungkin memang sedang dalam proses menuju hijab syari, kita maklumi dan terus kita ajari dan dakwahkan mereka hingga mereka mau berhijab syari. Suatu sikap yang salah jika saudari yang sedang proses tersebut malah kita berikan hijab yang tidak syari.

Penerjemah: Yulian Purnama
Sumber: https://muslimah.or.id/6385-bolehkan-menyedekahkan-busana-yang-tidak-syari.html

,

COWOK KEREN HOBINYA BACA ALQURAN

COWOK KEREN HOBINYA BACA ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

COWOK KEREN HOBINYA BACA ALQURAN

Kalau kita melihat kenyataan yang ada, maka kita akan mendapatkan, bahwa sebagian besar manusia di masa kini telah melalaikan Alquran. Kaum tuanya banyak yang tersibukkan dengan dunia, sehingga lalai untuk membaca dan memelajari Alquran. Sementara itu, kaum mudanya banyak yang disibukkan dengan memelajari ilmu dunia, dan mengesampingkan belajar Alquran. Akibatnya, tidak sedikit orang-orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, namun belum bisa membaca Alquran.

Hal yang demikianlah yang diadukan oleh Rasulullah ﷺ kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat-Nya:

Berkatalah Rasul: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu (sebagai) sesuatu yang dilalaikan.” (al-Furqan: 30) “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya. Dan begitu (pula) pada hari ini, kamu pun dilupakan’.” (Thaha: 124—126)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah juga telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari jalan sahabat ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang memelajari Alquran dan mengajarkannya.”

Sementara itu, al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, meriwayatkan dari jalan sahabat Abi Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Alquran, karena sesungguhnya dia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.”

Sumber: Salam Dakwah

 

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

ORANG TERBAIK DI ANTARA KEDUANYA ADALAH YANG MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“TIDAK HALAL bagi seorang Muslim memboikot sudaranya lebih dari tiga malam, yang mana keduanya saling bertemu, yang ini memalingkan wajahnya, dan ini juga memalingkan wajahnya. Sebaik-sebaik keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari no.6077 dan Muslim no. 2560)

Larangan memboikot seorang Muslim dalam hadis ini berlaku, bila sebabnya adalah urusan dunia, seperti sakit hati, ketersinggungan, merasa tersaingi, dan sebab lainnya.

Adapun urusan agama, maka boleh memboikot seorang Muslim lebih dari tiga malam, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabat memboikot Ka’ab bin Malik beserta dua orang temannya selama 50 malam.

Hanya saja, jangan sampai seseorang beralasan bahwa dia memboikot seorang Muslim karena urusan agama, padahal kenyataanya adalah karena urusan pribadi dan dunia.

 

, ,

SERBA SERBI TENTANG HADIAH

SERBA SERBI TENTANG HADIAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

SERBA SERBI TENTANG HADIAH

  • 21 Faidah Tentang Hadiah

Ada 21 faidah tentang hadiah, yang barangkali di antara kita belum mengetahuinya.

1- Hadiah itu punya pengaruh yang besar, semakin memererat cinta dan memersatukan hati, juga memerbaiki hubungan.

2- Terimalah Hadiah dan Berusahalah untuk Membalasnya

Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

“Rasulullah ﷺ biasa menerima hadiah, dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari, no. 2585)

3- Rasul ﷺ sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ ketika disodorkan makanan, beliau ﷺ bertanya dahulu, apakah makanan tersebut berasal dari hadiah, ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau ﷺ berkata: “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077)

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Rasulullah ﷺ menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya Hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)

4- Tetap Memberi Hadiah Walau Jumlahnya Sedikit

Coba perhatikan apa yang Nabi ﷺ sebutkan pada para wanita:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita Muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga, walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030)

Ini pertanda, bahwa tetaplah perhatikan tetangga dalam hadiah, dengan sesuatu yang gampang bagi kita. Memberi sedikit tetap lebih baik, daripada tidak sama sekali.

5- Rajin Memberi Hadiah Akan Menimbulkan Rasa Cinta

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: Tahaadu tahaabbu,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadis ini diHasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan, bahwa sanad hadisnya Hasan dengan syawahidnya)

Juga ada hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ

“Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai, dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 2/ 908/ 16. Syaikh Al-Albani menukilkan pernyataan dari Ibnu ‘Abdil Barr, bahwa hadis ini bersambung dari beberapa jalur yang berbeda, semuanya Hasan)

6- Hendaknya Hadiah Itu Diterima, Jangan Ditolak

Dalam hadis ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ

“Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum Muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadis ini juga dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)

7- Hadiah Yang Sedikit Tetap Diterima, Sebagaimana Jika Diberi Banyak

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ

“Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir, sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima, sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki).” (HR. Bukhari, no. 2568)

Dziro’ (paha) menandakan suatu yang mahal dan disukai. Kuro’ menandakan suatu yang remeh dan tidak punya nilai apa-apa. Demikian kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69.

8- Boleh Saja Hadiah Itu Ditolak Atau Dikembalikan

Kalau ada yang diberi hadiah, lantas ia mengembalikan hadiah tersebut, hendaklah kita tidak bersedih dan menaruh uzur padanya, selama alasan yang diutarakan pada kita benar-benar jelas.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau ﷺ memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau ﷺ selesai dari shalatnya, beliau ﷺ bersabda:

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي.

“Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm, dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm. Sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.”

Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi, ia termasuk sahabat Nabi ﷺ, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah ﷺ berupa keledai liar, saat beliau ﷺ berada di Abwa, atau di Waddan, dan beliau ﷺ sedang ihram. Maka beliau ﷺ pun menolaknya. Sha’b berkata: “Tatkala beliau ﷺ melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku, beliau ﷺ bersabda:

لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ

“Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram.” (HR. Bukhari, no. 2596)

9- Boleh Menyedekahkan Sesuatu Terus Mewarisinya Setelah Itu

‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata: “Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan ia (ibuku) telah wafat.’ Lalu beliau ﷺ bersabda:

قَدْ آجَرَكِ اللَّهُ وَرَدَّ عَلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ

“Semoga Allah memberimu pahala dan Allah mengembalikan warisan kepadamu.” (HR. Ahmad, 5: 349. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: bahwa sanad hadis ini Shahih sesuai syarah Muslim)

10- Boleh Menerima Hadiah Dari Lawan Jenis Selama Tidak Menimbulkan Godaan

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ مِنَ الأَقِطِ والسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَّذُّرًا وَأَكَلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata: “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberikan hadiah kepada Nabi ﷺ berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak). Beliau ﷺ makan keju dan menteganya, dan beliau ﷺ meninggalkan daging biawak karena merasa jijik. Kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah ﷺ dimakan (oleh para sahabat). Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, no. 2575 dan Muslim, no. 1544)

11- Jangan Sampai Kita Mengharap Hadiah Kita Dikembalikan

Kalau memang punya harapan semacam itu, baiknya tidak memberi hadiah sama sekali.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِىءُ ، ثُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ

“Orang yang meminta kembali hadiahnya, seperti anjing muntah, lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622)

Namun seorang ayah masih boleh mengambil kembali apa yang ia beri pada anaknya.

Dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ

“Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian, kemudian ia memintanya kembali, kecuali ayah pada apa yang ia berikan kepada anaknya (maka boleh diminta kembali). Permisalan orang yang memberi hadiah, lantas ia memintanya kembali, seperti anjing yang makan, lalu ketika ia kenyang, ia muntahkan, kemudian ia menelan muntahannya.” (HR. Abu Daud, no. 3539; Tirmidzi, no. 1299; An-Nasa’i, no. 3720; Ibnu Majah, no. 2377. Hadis ini diShahihkan oleh Ibnul Jarud, 994; juga oleh Imam Al-Hakim, 2: 46, begitu pula disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)

12- Jangan Pula Mengungkit-Ungkit Hadiah yang Telah Diberi

Allah Ta’ala berfirman:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu, dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263-264)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak akan memandangnya, tidak akan meyucikannya, bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah ﷺ mengulangi hal itu sampai tiga kali. Abu Dzar berkata: “Benar-benar rugi mereka-mereka itu.” Abu Dzar pin bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ pun menjawab:

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

  1. Orang yang isbal, pria yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki.
  2. Orang yang mengungkit terus apa yang ia sedekahkan.
  3. Orang yang melariskan dagangan dengan sumpah yang dusta.” (HR. Muslim, no. 106)

Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan: “Al-mannan itu yang tidak memberi sesuatu, melainkan ia selalu mengungkit-ungkitnya.”

13- Saling Memberi Hadiah Antara Suami Istri Juga Penting, untuk Semakin Langgengnya Cinta Antara Keduanya

Coba lihat yang dibicarakan tentang mas kawin dalam ayat berikut:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi), sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap, lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’: 4)

Ayat tersebut menunjukkan boleh saja istri memberi hadiah pada suami dari mahar (mas kawin) yang telah diberi.

Hadiah antara suami istri menunjukkan cinta antara mereka. Bentuknya juga bisa dengan bertutur kata yang baik, mengutarakan kata-kata romantis antara mereka, hingga pada senyuman manis.

14- Bagaimana Jika Hanya Punya Satu Hadiah, Kepada Siapakah Diberi?

Kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 72, dahulukan orang yang paling dekat. Dahulukan yang punya kedekatan nasab (keturunan), dan kedekatan sebagai tetangga.

Coba perhatikan dahulu istri Nabi ﷺ bernama Maimunah, ketika itu ia memiliki seorang budak wanita, dan ia merdekakan budak tersebut (sebagai bentuk sedekah, -pen.). Nabi ﷺ lantas mengatakan pada Maimunah:

أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ

“Coba engkau memberikan budak tersebut pada bibimu, tentu lebih besar pahalanya.” (HR. Bukhari, no. 2592 dan Muslim, no. 999)

15- Boleh Menerima Hadiah dari Non-Muslim dan Boleh Juga Memberi Hadiah Padanya

Seorang Yahudi pernah memberikan pada Nabi ﷺ daging kambing, lantas Nabi ﷺ menerima dan menyantapnya.

Juga masih boleh berbuat baik dengan memberi hadiah pada non-Muslim, sebagaimana kesimpulan dari ayat:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ , إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu, orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Umar juga pernah memberikan hadiah berupa kain pada saudaranya yang musyrik di Makkah, sebelum saudaranya masuk Islam.

Catatan:

  • Selama non-Muslim tersebut dengan hadiah tadi tidak menindas kaum Muslimin, maka tidak masalah memberi hadiah padanya.
  • Termasuk juga tidak boleh menerima dan memberi hadiah pada non-Muslim, terkait dengan hari raya atau ibadah mereka.

16- Ada Hadiah yang Tidak Boleh Ditolak, Yaitu Minyak Wangi, Susu dan Bantal

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ

“Tiga hal yang tidak boleh ditolak:

  1. Bantal,
  2. Minyak rambut dan
  3. Susu.” (HR. Tirmidzi, no. 2790. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini Hasan)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak jika diberi hadiah minyak wangi. (HR. Bukhari, no. 2582)

Dalam hadis juga disebutkan: “Siapa yang diberi hadiah minyak wangi, maka janganlah menolaknya, karena yang paling mudah untuk dibawa adalah bau yang wangi.” (HR. Muslim, no.  2253, dari Abu Hurairah)

17- Sebaliknya, Hadiah yang Mesti Ditolak, di Antaranya:

  • Hadiah dalam rangka sogok pada agama. Contohnya pada kisah Ratu Balqis, yang memberi hadiah pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, dengan tujuan supaya Nabi Sulaiman menyembah matahari. Lantas Nabi Sulaiman menolaknya.
  • Hadiah dalam rangka sogok untuk memutar balikkan kebenaran dan kebatilan.
  • Hadiah pada pegawai dan pekerja negara yang ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pekerjaannya.
  • Hadiah yang asalnya dari barang curian, atau dari sesuatu yang haram.
  • Hadiah yang maksudnya diberi untuk dapat gantian lebih banyak. Jika tidak dapat gantian lebih banyak, ia murka.
  • Hadiah karena sebab utang, sebelum utang tersebut dilunasi.
  • Hadiah dari al-mannan, yang biasa mengungkit-ungkit pemberian.

18- Ada Hadiah Yang Dilarang Untuk Diberikan, Yaitu:

  • Hadiah yang diberikan pada safih, orang yang menggunakan hadiah dalam maksiat atau membuat kerusakan.
  • Hadiah yang diberikan secara tidak adil pada anak-anak. Dalam hadis disebutkan: “Bertakwalah pada Allah dan adillah pada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2587 dan Muslim, no. 1623)

19- Seringnya di tengah-tengah kita memberikan hadiah sebagai tips dan yang diberi menerimanya.

Uang tips semacam ini terlarang, jika memang yang diberi sudah diberi gaji dari tugasnya, seperti pada pegawai negeri atau pejabat.

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan:

Pernah Nabi ﷺ memekerjakan seseorang dari Bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah, untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan: “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar, sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’, beliau ﷺ memuja dan memuji Allah, kemudian bersabda:

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

“Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan: “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi, melainkan ia akan datang dengannya pada Hari Kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya, seraya mengatakan: “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari, no. 7174 dan Muslim, no. 1832)

Ada hadis pula dari Abu Humaid As Sa’idiy, Rasulullah ﷺ bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad, 5: 424. Syaikh Al-Albani menshohihkan hadis ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil, no. 2622)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan: “Adapun hadis Abu Humaid, maka di sana Nabi ﷺ menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah, yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” (Fath Al-Bari, 5: 221)

20- Perbedaan Hadiah Dan Sedekah

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah berikut ini:

“Sedekah itu dikeluarkan dalam rangka ibadah, tanpa maksud diberikan kepada orang tertentu, dikeluarkan pada orang-orang yang butuh. Sedangkan hadiah itu dikeluarkan untuk memuliakan orang tertentu, bisa jadi maksudnya karena cinta, atau bentuk sedekah, atau bisa juga diserahkan pada orang yang butuh.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 269)

21- Hendaknya membalas hadiah. Kalau tidak bisa, maka hendaknya mendoakan orang yang memberi.

Dalam hadis disebutkan:

مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ

“Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia, sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan AnN-asa’i no. 2568. Hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi).

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (Semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji.” (HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasa’i dalam Al-Kubro, no. 10008, juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 180. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

Semoga jadi tulisan yang bermanfaat.

 

Referensi:

Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.

Fiqh Al-Akhlaq wa Al-Mu’amalaat ‘ala Al-Mu’miniin, Cetakan Pertama, tahun 1418 H, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, Penerbit Dar Majid ‘Usairi.

Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm.

Maktabah Syamilah, kitab hadis dan referensi lain.

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah, segala kebaikan menjadi sempurna.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15422-21-faidah-tentang-hadiah.html

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FaidahTafsir

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka, balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan), kecuali Neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat duniawi, adalah termasuk perbuatan syirik, yang bisa merusak kesempurnaan tauhid, yang semestinya dijaga. Dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memerlihatkan amal saleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan). Karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal saleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal saleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

Faidah Tafsir

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu berkata tentang makna ayat di atas:

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”. Artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia), berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan” [Dinukil oleh Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh dalam kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata:

“Barang siapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama) niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia. Kemudian di Akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia, dan memeroleh pahala di Akhirat (kelak)” [Dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (15/264)].

Syaikh Muhammad bin Saleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah ta’ala bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah ta’ala, akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya, dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan Akhirat [Kitab “al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid” (2/242)].

Keinginan hawa nafsu yang paling penting dan paling sulit untuk ditundukkan, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah ta’ala, adalah kecintaan dan ambisi mengejar dunia yang berlebihan, serta keinginan untuk selalu mendapatkan pujian dan sanjungan. Inilah dua penyakit hati terbesar yang merupakan penghalang utama untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Tidak akan berkumpul (bertemu) keikhlasan dalam hati, dengan keinginan (untuk mendapat) pujian dan sanjungan, serta kerakuasan terhadap (harta benda duniawi) yang ada di tangan manusia, kecuali seperti berkumpulnya air dan api (tidak mungkin berkumpul selamanya). Maka jika terbersit dalam dirimu (keinginan) untuk meraih keikhlasan, yang pertama kali hadapilah (sifat) rakus terhadap dunia, dan penggallah sifat buruk ini dengan pisau ‘putus asa’ (dengan balasan duniawi yang ada di tangan manusia). Lalu hadapilah (keinginan untuk mendapat) pujian dan sanjungan, bersikap zuhudlah (tidak butuh) terhadap semua itu. Kalau kamu sudah bisa melawan sifat rakus terhadap dunia, dan bersikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan manusia, maka (meraih) ikhlas akan menjadi mudah bagimu” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan cara untuk menghilangkan dua pernyakit buruk penghalang keikhlasan tersebut, beliau berkata:

“Adapun (cara untuk) membunuh (sifat) rakus (terhadap balasan duniawi yang ada di tangan manusia, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami secara yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan oleh (manusia), kecuali di tangan Allah semata perbendaharaannya. Tidak ada yang memiliki/menguasainya, selan Dia subhanahu wa ta’ala, dan tidak ada yang dapat memberikannya kepada hamba, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala semata. Adapun (berskap) zuhud terhadap pujian dan sanjungan, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami (secara yakin), bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya bermanfaat, serta mendatangkan kebaikan, dan celaannya mencelakakan dan mendatangkan keburukan, kecuali Allah satu-satunya” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

 

Dinukil dari tulisan berjudul “Jangan Nodai Ibadah Anda dengan Niat Duniawi” oleh Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA

Sumber: http://muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html

 

,

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#MutiaraSunnah

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa memerbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah:

– Menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan

– Untuk setiap kesempitannya kelapangan dan

– Allah akan memberinya rezeki (yang halal), dari arah yang tiada disangka-sangka”.

[Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas]

Dalam hadis yang mulia ini, Nabi ﷺ yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memerbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi Rezeki, yang Maha Memiliki Kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan tidak diharapkan, serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rezeki, hendaklah ia bersegera untuk memerbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Jadi kita diperintahkan meminta ampun, bukan hanya dengan lisan semata, tetapi juga dengan perbuatan. Sekali lagi diingatkan, hendaknya setiap Muslim waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “KUNCI-KUNCI REZEKI MENURUT ALQURAN & AS-SUNNAH”, yang ditulis oleh: Dr.Fadhl Ilahi

Sumber:

https://salafiyunpad.wordpress.com/2007/09/27/kunci-kunci-rezeki-menurut-al-quran-as-sunnah/