Posts

, ,

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
 
Pertanyaan:
Bagaimana cara penulisan insyaaAllah yang benar? InsyaAllah ataukah Insyaa Allah atau Insha Allah? Atau bagaimana? Katanya, kalau salah ucap, salah makna.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dalam bahasa Arab, kata “Insyaa Allah” ditulis dengan:
 
إِنْ شَاءَ اللَّهُ
 
Yang artinya, ‘Jika Allah menghendaki’.
 
Ada tiga kata dalam kalimat ini:
 
a. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa Arab disebut Harfu Syartin Jazim (Huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi Jazm)
 
b. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia Fiil Madhi (Kata kerja bentuk lampau), sebagai Fiil Syarat (Kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum.
 
c. Kata [اللَّهُ], sebagai subjek dari Fiil Syarat.
 
Memahami susunan di atas, berarti kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] adalah kalimat syarat, yang di sana membutuhkan jawab syarat. Namun di sana, jawab syaratnya tidak disebutkan, karena disesuaikan dengan konteks kalimat.
 
Sebagai contoh, jika konteks pembicaraan kita adalah berangkat ke kota Jogja, maka kalimat lengkapnya adalah: ’Jika Allah menghendaki, maka saya akan berangkat ke Jogja.’
 
Kalimat ’Maka saya akan berangkat ke Jogja’ merupakan jawab syarat tersebut.
 
Bagaimana Cara Penulisan yang Benar?
 
Kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa Arab. Dan karena sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa Arab BERBEDA, masyarakat akan sangat kerepotan jika harus menuliskan kalimat ini dengan teks Arabnya. Sehingga kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf Latin.
 
Karena itu, sebenarnya mengenai bagaimana transliterasi tulisan [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] yang tepat, ini kembali kepada ATURAN BAKU masalah infiltrasi kata dan bahasa.
 
Bagi sebagian orang, baku itu bukan suatu keharusan. Yang penting masyarakat bisa memahami. Misalnya kata ‘Allah’, yang benar ditulis Allah, Alloh, ALLAH, atau bagaimana. Bagi sebagian orang, ini kembali kepada selera penulisnya.
 
Sebagai catatan, transliterasi kalimat bahasa asing, dibuat untuk membantu pengucapan kalimat asing itu dengan benar. Kita bisa bandingkan, transliterasi teks Arab untuk masyarakat berbahasa Inggris dengan transliterasi teks Arab untuk orang Indonesia. Karena semacam ini disesuaikan dengan fungsinya, yaitu untuk membantu pengucapan kalimat Arab tersebut dengan benar.
 
Dengan demikian, sebenarnya transliterari TIDAK bisa dijadikan acuan benar dan salahnya tulisan. Karena tidak ada aturan yang disepakati di sana, semua kembali kepada selera penulis. Yang lebih penting adalah, bagaimana cara pengucapannya yang tepat, sehingga tidak mengubah makna.
 
Tulisan Arabnya yang benar adalah:
[إِنْ شَاءَ اللَّهُ],
 
Kita bisa menuliskan Latinnya dengan insyaaAllah atau insyaa Allah atau inshaaAllah atau inshaa Allah atau insyaallah. TIDAK ada yang baku di sini, karena ini semua transliterasi. Yang penting kita bisa mengucapkannya dengan benar, sesuai teks Arabnya.
 
Karena itu, sejatinya TIDAK ADA YANG PERLU DIPERMASALAHKAN dalam penulisan transliterasi semacam ini. Selama cara pengucapan dan makna yang dimaksud sama.
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

MUSUHMU TIDAK PEDULI, KAMU BENAR ATAU SALAH

MUSUHMU TIDAK PEDULI, KAMU BENAR ATAU SALAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#TazkiyatunNufus
MUSUHMU TIDAK PEDULI, KAMU BENAR ATAU SALAH
 
Yang dia inginkan hanyalah menyerangmu.
 Jadi jangan berusaha menjelaskan kepadanya, bahwa kamu tidak bersalah. Atau dia tidak benar. Karena sebenarnya mereka sudah tahu, atau tidak mau tahu.
 Tapi lakukan usaha untuk menahan serangannya atau melawannya.
 
Dalam negara hukum, seharusnya aparat bisa kita minta bantuannya untuk melindungi kita.
 Dan tentunya usaha lahir ini, harus kita barengi dengan usaha batin, yaitu dengan banyak berdoa kepada Allah.
 
Setelah ini semua kita harus yakin, apapun yang terjadi, semua atas kehendak ALLAH yang mengatur alam ini.. Dia bisa saja berkehendak menjadikan yang haq kalah untuk sementara waktu, yang bisa jadi lama menurut kita.
 
Dan bisa saja DIA berkehendak membalik keadaan dalam sekejap, menghapuskan semua kemenangan yang diraih oleh mayoritas masyarakat yang menang-menangan, dan menjadikan yang tadinya lemah sebagai pemenang.
 
Maka jangan kaget, hari-hari itu akan silih berganti
Itu sunnatullah yang tidak mungkin berubah.
Karenanya kita berharap, nantinya dakwah sunnah yang haq ini me-nusantara, biidznillah.
 
Tidak ada yang sulit bagi Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
 
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Sumber: Twitter @IslamDiaries

TIGA PERKARA YANG PALING BERAT

TIGA PERKARA YANG PALING BERAT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama, #TazkiyatunNufus
TIGA PERKARA YANG PALING BERAT

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

Tiga perkara yang paling berat:
1) Kedermawanan dalam kekurangan.
2) Menjaga diri dari maksiat dalam kesendirian.
3) Mengucapkan yang benar di hadapan orang yang diharapkan, maupun orang yang ditakuti.

[Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 162]

Sumber: Bimbingan Islam

,

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

Dijelaskan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitabul Iimaan:

“Orang ini mengatakan insya Allah bukan karena ia RAGU akan kehendak dan ambisinya tersebut. Hanya saja, pada perwujudan apa yang dikehendakinya dan di’azzamkannya tersebut, (maka ia menyandarkannya pada kehendak Allah ﷻ). Dia TAKUT apabila TIDAK mengucapkan insya Allah, maka (Allah) akan mengurangi hasratnya, dan (ia pun) tidak berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya.”

Beliau juga berkata:

“…Mengucapkan insya Allah, BUKANLAH karena RAGU tentang apa yang diharapkan atau dikehendaki, akan tetapi sebagai HARAPAN, agar Allah mewujudkan keinginannya tersebut…” [Kitaabul Iimaan, Edisi Indonesia: Al Iimaan, Pustaka Darul Falah]

Lihatlah dalam perkataan ini saja, sudah tercakup DUA UNSUR PENTING DALAM IBADAH: rasa harap dan rasa takut.

Bukankah jika dalam hati kita ketika mengucapkan perkataan ini, dan kuat rasa harap dan takut kita kepada Allah, akan berbuah sebagai amalan saleh yang tinggi nilainya!? (sebesar rasa takut dan harap kita ketika beramal!?)

Demikianlah, SATU UCAPAN orang yang berilmu dan menghadirkan hatinya, SANGAT JAUH dengan ucapan orang yang tidak tahu ilmunya, atau ucapannya orang yang lalai hatinya, meskipun ia tahu ilmunya.

Dibalik ucapan insya Allah pun terkandung tawakkal dan perwujudan keimanan terhadap qadha dan qadar-Nya!

Tidak hanya itu… ucapan insya Allah… juga merupakan perwujudan ilmu kita tentang TAWAKKAL kepada Allah, dan juga perwujudan ilmu kita akan keimanan kita terhadap qadha dan qadarNya!

Syaikhul Islaam berkata tentang firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا . إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan pasti mengerjakan ini besok pagi…’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insyaa Allah’ (jika Allah menghendaki)…” (al Kahfi 23-24)

إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

“Aku benar-benar akan mengerjakan yang demikian esok hari…” terkandung makna pengharapan dan pengabaran.

Pengharapannya itu KUAT dan PASTI (ada di hatinya). Adapun jika apa yang diharapkannya tersebut terjadi, maka itu karena Allah menghendakinya (terjadi)…

Dalam permintaannya ini, terkandung permintaan kepada Allah. Sedangkan tentang pengabaran, dia tidak mengabarkan, kecuali apa yang diketahui Allah. Oleh karenanya, siapa YANG MEMASTIKAN tanpa istisnaa’, maka dia seperti orang yang yakin terhadap Allah, namun kemudian Allah mendustakannya.

Maka seorang MUSLIM yang berhasrat akan sesuatu, yang ia sangat ingin dan mengharapkannya tanpa ada keraguan padanya, maka hendaklah ia (tetap) mengucapkan insya Allah, agar apa yang diharapkannya terwujud. Sebab hal tersebut sekali-kali tidak akan terjadi, kecuali dengan kehendak Allah. (Sehingga ucapan istisnaa’ ini) bukan karena keragu-raguan kehendaknya.

PENGGUNAAN YANG BENAR tentang insya Allah, adalah sebagaimana dijelaskan al-Ustadz Firanda Andirja hafizhahullaahu ta’aala dalam tulisan berikut ini:

PENGGUNAAN KATA “INSYAA ALLAH” UNTUK TIGA FUNGSI YANG BENAR DAN SATU FUNGSI YANG SALAH

Penggunaan kata “Insyaa Allah” untuk tiga fungsi yang benar, dan satu fungsi yang salah:

(1) Untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam doa ziarah kubur:

“Dan kami insyaa Allah akan menyusul kalian, wahai penghuni kuburan”.

Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah:

“Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjdil Haram insyaa Allah, dalam keadaan aman.” [QS Al-Fath: 27]

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan, akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita: “Bulan depan saya akan umroh, insyaa Allah”.

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu SALAH penggunaan fungsi: Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. Seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka ia pun berkata: “Insyaa Allah”.

Atau tatkala diminta bantuan, lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”.

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan, malah digunakan untuk menolak [Sumber: https://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/267-penggunaan-kata-qinsyaa-allahq-untuk-3-fungsi-yang-benar-dan-1-fungsi-yang-salah]

Wallahu a’lam.

,

AIB YANG SEBENARNYA

AIB YANG SEBENARNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

AIB YANG SEBENARNYA

Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata:

ليس العيب أن يخطئ الشخص، ولكن العيب أن يظهر له الحق ثم لا يرجع إليه.

“Bukanlah aib, seseorang melakukan kesalahan. Tetapi aib adalah ketika kebenaran nampak baginya, namun kemudian dia tidak mau kembali kepadanya.”

 

[Kaset “Al-Asilah al-Imaratiyyah”]

Sumber || https://twitter.com/channel_moh/status/847029090431520774

,

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ShirahNabawiyah
#KisahMuslim

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

Kisah Rasulullah ﷺ melarang Ali berpoligami adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami, atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa. Namun jangan sampai ia menolak syariat poligami, atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan, bahwa dari Nabi ﷺ sebenarnya melarang poligami, sebagaimana beliau ﷺ melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami Disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya:

“Apakah benar Nabi ﷺ melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah ﷺ). Dan apakah itu berarti Nabi ﷺ melarang poligami?”

Beliau menjawab:

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar:

إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

وإني لست أحرم حلالاُ، ولكن والله لا تجتمع بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبنت عدو الله مكاناُ واحد أبداً

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah ta’ala: “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib. Namun lafal “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan, bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadis Shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau ﷺ bersabda:

خير الناس أكثرهم أزواجاً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya.“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi ﷺ. Karena beliau ﷺ menikahi 13 wanita, namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ﷺ ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadis ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadis ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan:

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah KEDUSTAAN! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas, terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan:

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi ﷺ tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi ﷺ melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau ﷺ sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan: “Dan dalam kisah ini juga Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau ﷺ melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah ﷺ.

Syaikh Masyhur menambahkan:

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan, bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi ﷺ. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi ﷺ untuk melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta, bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya, setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum.

Wallahu a’lam.

Sehingga jelaslah bahwa kisah di atas tidak bisa menjadi dalil untuk menolak syariat poligami.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

 

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/30974

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html

 

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html