Posts

,

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid, #FatwaUlama

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah ada perbedaan antara KESYIRIKAN dan KEKUFURAN?

Jawaban:

TIDAK ADA PERBEDAAN antara keduanya.

  • Sehingga setiap kekufuran adalah kesyirikan.
  • Dan setiap kesyirikan adalah kekufuran.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh percakapan seorang Mukmin dengan dua pemilik kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi.

Perhatikan penjelasan ini sehingga akan hilang darimu sekian banyak permasalahan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, sempurnalah amal saleh.

[Fatawa asy-Syaikh al-Albani 54]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

,

PERBEDAAN AMAL SEORANG MUKMIN DAN SEORANG YANG FAJIR (PENDOSA)

PERBEDAAN AMAL SEORANG MUKMIN DAN SEORANG YANG FAJIR (PENDOSA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PERBEDAAN AMAL SEORANG MUKMIN DAN SEORANG YANG FAJIR (PENDOSA)

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مشفقٌ وجلٌ خايفٌ، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

Seorang Mukmin itu mengamalkan ketaatan dalam keadaan dia ketakutan lagi cemas. Sementara seorang fajir itu mengerjakan maksiat dalam keadaan dia merasa aman.
[Tafsir Ibnu Katsir 2/323 Surat al-A’raf]

 

Sumber: https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=133129

,

TATA CARA MANDI JUNUB

TATA CARA MANDI JUNUB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatMandiNabi

TATA CARA MANDI JUNUB

  • Kitab Thaharah (Perihal Bersuci)

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi:

  1. Keluar Mani, Baik Saat Terjaga ataupun Tidur

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.

“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122)]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau ﷺ berkata: “Ya, jika dia melihat air.” [Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82)]

Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.

“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.” [Nailul Authaar (I/275)]

Asy-Syaukani berkata: [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233)] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata: “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”

Barang siapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barang siapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani), sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab: ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab: ‘Dia tidak wajib mandi’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348)]

 

  1. Jima’, Walaupun Tidak Keluar Air Mani

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi, meskipun tidak keluar air mani.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351)]

  1. Masuk Islamnya Orang Kafir

Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi ﷺ menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafal mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”]

  1. Terputusnya Haid dan Nifas

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi ﷺ berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.

“Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089)]

Nifas dan haid dihukumi sama secara ijma’.

  1. Hari Jumat

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [Muttafaq ‘alaihi]

b. Rukun-Rukun Mandi

1. Niat

Berdasarkan hadis:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

  1. Meratakan air pada sekujur badan.

c. Tata Cara yang Disunnahkan Ketika Mandi

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Dahulu, jika Rasulullah ﷺ hendak mandi janabah (junub), beliau ﷺ memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau ﷺ mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau ﷺ menganggap telah cukup, beliau ﷺ tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau ﷺ guyur seluruh badannya. Kemudian beliau ﷺ basuh kedua kakinya.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603)]

Catatan:

TIDAK WAJIB bagi seorang wanita mengurai rambutnya KETIKA MANDI JANABAH (JUNUB). Namun WAJIB dilakukan ketika MANDI SEHABIS HAID.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau ﷺ berkata:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.

“Tidak. Cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi setelah selesai haid. Beliau ﷺ lalu bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya, lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi ﷺ -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata: “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau ﷺ berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik: “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”

Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau ﷺ tentang mandi (junub) janabah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.

“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci, (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Dalam hadis ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haid dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haid agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada MANDI JANABAH TIDAK ditekankan hal tersebut. Dan hadis Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan, serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haid yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.

Catatan:

Diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

“Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129)]

d. Mandi-Mandi yang Disunnahkan:

  1. Mandi Pada Setiap Selesai Jima’

Berdasarkan hadis Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya. Beliau mandi setiap selesai dari Fulanah dan dari si Fulanah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau ﷺ berkata: “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590)]

  1. Mandinya Wanita Mustahadhah (istihadhah – keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita -pen) Setiap Akan Shalat

Atau sekali mandi untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Subuh sekali mandi.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289)]

Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata: “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Subuh. [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184)]

  1. Mandi Setelah Pingsan

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ sakit parah. Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau ﷺ berkata: ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau ﷺ lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau ﷺ pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadis ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687)]

  1. Mandi Setelah Menguburkan Orang Musyrik

Berdasarkan hadis ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau ﷺ berkata: “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Mandilah.” [Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198)]

  1. Mandi Pada Dua Hari Raya dan Hari ‘Arafah

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab: “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata: “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyariatkan dalam agama-pent).” Dia berkata: “(Mandi) hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”

  1. Mandi Setelah Memandikan Mayat

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463)]

  1. Mandi Untuk Ihram ‘Umrah Atau Haji

Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu: “Dia melihat Nabi ﷺ melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831)]

  1. Mandi Ketika Memasuki Kota Makkah

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi, dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafal darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854)]

 

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/679-mandi.html

 

,

FIKIH WUDHU

FIKIH WUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

#DoaZikir

FIKIH WUDHU

Pertanyaan: Niat apakah yang dimaksudkan dalam berwudhu dan mandi (wajib)? Apa hukum perbuatan yang dilakukan tanpa niat dan apa dalilnya?

Jawaban: Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat untuk menghilangkan hadats atau untuk menjadikan boleh suatu perbuatan yang diwajibkan bersuci. Oleh karenanya, amalan-amalan yang dilakukan tanpa niat tidak diterima. Dalilnya adalah firman Allah:

“Dan mereka tidaklah diperintahkan, melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dan hadis dari Umar bin al-Khaththab, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memeroleh balasan dari), apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”

Pertanyaan: Apakah wudhu itu? Apa dalil yang menunjukkan wajibnya wudhu? Dan apa (serta berapa macam) yang mewajibkan wudhu?

Jawaban: Yang dimaksud wudhu adalah menggunakan air yang suci dan menyucikan, dengan cara yang khusus di empat anggota badan, yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi menjadi dua macam, (Hadats Besar) yaitu segala yang mewajibkan mandi dan (Hadats Kecil) yaitu semua yang mewajibkan wudhu].

Adapun dalil wajibnya wudhu adalah firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Pertanyaan: Apa dalil yang mewajibkan membaca Basmalah dalam berwudhu, dan gugur kewajiban tersebut kalau lupa atau tidak tahu?

Jawaban: Dalil yang mewajibkan membaca Basmalah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah atas wudhunya.”

Adapun dalil gugurnya kewajiban mengucapkan Basmalah kalau lupa atau tidak tahu adalah hadis, “Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan kelupaan.”

Pertanyaan: Apa sajakah syarat-syarat wudhu itu?

Jawaban: Syarat-syarat (sahnya) wudhu adalah sebagai berikut:

(1). Islam,

(2). Berakal,

(3). Tamyiz (dapat membedakan antara baik dan buruk),

(4). Niat,

(5). Istishab hukum niat,

(6). Tidak adanya yang mewajibkan wudhu,

(7). Istinja dan istijmar sebelumnya (bila setelah buang hajat),

(8). Air yang thahur (suci lagi mensucikan),

(9). Air yang mubah (bukan hasil curian -misalnya-),

(10). Menghilangkan sesuatu yang menghalangi air meresap dalam pori-pori.

Pertanyaan: Ada berapakah fardhu (rukun) wudhu itu? Dan apa saja?

Jawaban: Fardhu (rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu:

  1. Membasuh muka (temasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan).
  2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
  3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga).
  4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
  5. Tertib (berurutan).
  6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).

Pertanyaan: Sampai di mana batasan wajah (muka) itu? Bagaimana hukum membasuh rambut/bulu yang tumbuh di (daerah) muka ketika berwudhu?

Jawaban: Batasan-batasan wajah (muka) adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala yang normal, sampai jenggot yang turun dari dua cambang dan dagu (janggut) memanjang (atas ke bawah), dan dari telinga kanan sampai telinga kiri melebar. Wajib membasuh semua bagian muka bagi yang tidak lebat rambut jenggotnya, (atau bagi yang tidak tumbuh rambut jenggotnya), beserta kulit yang ada di balik rambut jenggot yang jarang (tidak lebat). Karena kita lihat sendiri, kalau rambut jenggotnya lebat, maka wajib membasuh bagian luarnya, dan di sunnahkan menyela-nyelanya. Karena masing-masing bagian luar jenggot yang lebat dan bagian bawah jenggot yang jarang bisa terlihat dari depan, sebagai bagian muka, maka wajib membasuhnya.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan tertib (urut)? Apa dalil yang mewajibkannya dari Alquran dan As-Sunnah?

Jawaban: Yang dimaksud dengan tertib (urut) adalah sebagaimana yang tertera dalam ayat yang mulia, yaitu membasuh wajah, kemudian kedua tangan (sampai siku), kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki.

Adapun dalilnya adalah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (ayat 6 surat al-Maidah). Di dalam ayat tersebut telah dimasukkan kata mengusap di antara dua kata membasuh. Orang Arab tidak melakukan hal ini, melainkan untuk suatu faidah tertentu yang tidak lain adalah tertib (urut).

Kedua, sabda Rasulullah ﷺ: “Mulailah dengan apa yang Allah telah memulai dengannya.”

Ketiga, hadis yang diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Abasah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudhu” Rasulullah ﷺ berkata: “Tidaklah salah seorang dari kalian mendekati air wudhunya, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kembali, melainkan gugurlah dosa-dosa di (rongga) mulut dan rongga hidungnya bersama air wudhunya. Kemudian (tidaklah) ia membasuh mukanya sebagaimana yang Allah perintahkan, melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya, melalui ujung-ujung janggutnya bersama tetesan air wudhu. Kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan gugurlah dasa-dosa tangannya bersama air wudhu, melalui jari-jari tangannya. Kemudian (tidaklah) ia mengusap kepalanya, melainkan gugur dosa-dasa kepalanya, bersama air melalui ujung-ujung rambutnya, kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua kakinya, melainkan gugur dosa-dasa kakinya, bersama air melalui ujung-ujung jari kakinya.” (HR. Muslim)

Dan dalam riwayat Ahmad terdapat ungkapan: “Kemudian mengusap kepalanya (sebagaimana yang Allah perintahkan),… kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kaki sebagaimana yang Allah perintahkan.”

Dan di dalam riwayat Abdullah bin Shanaji terdapat apa yang menunjukkan akan hal itu. Wallahu A’lam.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Muwalah dan apa dalilnya?

Jawaban: Maksudnya adalah jangan mengakhirkan membasuh anggota wudhu, sampai mengering anggota sebelumnya, setelah beberapa saat.

Dalilnya, hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ melihat seorang laki-laki di kakinya ada bagian sebesar mata uang logam yang tidak terkena air wudhu, maka beliau ﷺ memerintahkan untuk mengulangi wudhunya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khathab, bahwa seorang laki-laki berwudhu, tetapi meninggalkan satu bagian sebesar kuku di kakinya (tidak membasahinya dengan air wudhu). Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ berkata: “Berwudhulah kembali, kemudian sholatlah.” Sedangkan dalam riwayat Muslim tidak menyebutkan lafaz, “Berwudhulah kembali.”

Pertanyaan: Bagaimana tata cara wudhu yang sempurna? Dan apa yang dibasuh oleh orang yang buntung ketika berwudhu?

Jawaban: Hendaknya berniat, kemudian membaca Basmalah, dan membasuh tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung (lalu mengeluarkannya), sebanyak tiga kali dengan tiga kali cidukan. Kemudian, membasuh mukanya sebanyak tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangannya beserta kedua sikunya sebanyak tiga kali. Kemudian mengusap kepalanya sekali, dari mulai tempat tumbuh rambut bagian depan sampai akhir tumbuhnya rambut dekat tengkuknya, kemudian mengembalikan usapan itu (membalik) sampai kembali ketempat semula memulai. Kemudian memasukkan masing-masing jari telunjuknya ke telinga dan menyapu bagian daun telinga dengan kedua jempolnya. Kemudian membasuh kedua kakinya beserta mata kakinya tiga kali, dan bagi yang cacat membasuh bagian-bagian yang wajib (dari anggota tubuhnya) yang tersisa. Jika yang buntung adalah persendiannya, maka memulainya dari bagian lengan yang terputus. Demikian pula jika yang buntung adalah dari persendian tumit kaki, maka membasuh ujung betisnya.

Pertanyaan: Apa dalil dari tata cara wudhu yang sempurna? Sebutkan dalil-dalil tersebut secara lengkap?

Jawaban: Adapun niat dan membaca Basmalah, telah disebutkan dalilnya di atas. Dan dalam riwayat Abdullah bin Zaid tentang tata cara wudhu (terdapat lafaz): “Kemudian Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya, kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu tangan sebanyak tiga kali.” (Mutafaq ‘alaih)

“Dan dari Humran, bahwa Utsman pernah meminta dibawakan air wudhu. Maka ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian tangan kirinya seperti itu pula. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki kirinya seperti itu pula, kemudian berkata: ‘Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini.’” (Mutafaq alaih)

Dan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim dalam tata cara wudhu, ia berkata: “Dan Rasulullah ﷺ mengusap kepalanya, menyapukannya ke belakang dan ke depan.” (Mutafaq alaih)

Dan lafaz yang lain, “(Beliau) memulai dari bagian depan kepalanya sampai ke tengkuk, kemudian menariknya lagi ke bagian depan tempat semula memulai.”

Dan dalam riwayat Ibnu Amr tentang tata cara berwudhu, katanya: “Kemudian (Rasulullah ﷺ) mengusap kepalanya, dan memasukkan dua jari telunjuknya ke masing-masing telinganya, dan mengusapkan kedua jari jempolnya ke permukaan daun telinganya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Pertanyaan: Apa saja yang termasuk sunnah-sunnah wudhu beserta dalilnya?

Jawaban: Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu adalah:

  1. Menyempurnakan wudhu.
  2. Menyela-nyela antara jari jemari.
  3. Melebihkan dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali bagi yang berpuasa.
  4. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan.
  5. Bersiwak
  6. Membasuh dua telapak tangan sebanyak tiga kali.
  7. Mengulangi setiap basuhan dua kali atau tiga kali.
  8. Menyela-nyela jenggot yang lebat.

Dalil tentang siwak telah lalu penjelasannya. Adapun tentang membasuh dua telapak tangan sebelum berwudhu, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi ia berkata: “Aku melihat Nabi ﷺ berwudhu, maka beliau ﷺ mencuci dua telapak tangannya sebanyak tiga kali.”

Adapun tentang menyempurnakan wudhu, menyela-nyela jari jemari dan melebihkan (dalam memasukkan air ke hidung) kecuali bagi yang berpuasa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’” Nabi ﷺ berkata: “Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah antara jari-jemarimu, dan bersungguh sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung, kecuali jika kamu dalam keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh lima imam, dishahihkan oleh Tirmidzi)

Dan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi suka mengawali sesuatu dengan yang kanan, dalam memakai terompah, bersisir, bersuci, dan dalam segala sesuatu.” (Mutafaq alaih)

Adapun menyela-nyala jenggot, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Utsman: “Bahwa Nabi ﷺ ada menyela-nyala jenggotnya.” (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi dan ia menshahihkannya). Cara menyela-nyela jenggot ini dengan mengambil seraup air dan meletakkannya dari bawahnya dengan jari-jemarinya, atau dari dua sisinya dan menggosokkan keduanya. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Anas, “Bahwa Nabi ﷺ jika berwudhu mengambil seraup air, kemudian meletakkannya di bawah dagunya dan berkata: ‘Demikianlah yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku.’”

Pertanyaan: Berapa takaran air yang dibutuhkan ketika berwudhu atau mandi (junub)?

Jawaban: Takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter menurut ukuran orang Hijaz dan 2 liter menurut ukuran orang Irak. (Lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal 400). Adapun untuk mandi sebanyak satu sha’ sampai lima mud. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas, katanya: “Adalah Rasulullah ﷺ ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” (HR. Muttafaq alaih). Dan makruh (dibenci) berlebih-lebihan, yaitu yang lebih dari tiga kali dalam berwudhu.

Pertanyaan: Bacaan apa yang disunnahkan ketika selesai berwudhu?

Jawaban: Bacaan yang disunnahkan adalah mengucapkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar, katanya: “Berkata Rasulullah ﷺ: ‘Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WAROSUULUH

Artinya:

[Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya], melainkan dibukakan untuknya delapan pintu Surga. Ia dapat masuk dari mana saja yang ia kehendaki.’” (HR. Muslim)

Dan Tirmidzi menambahkan:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

ALLOOHUMMAJ’ALNI MINAT TAWWABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN

Artinya:

Ya Allah jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang suka menyucikan diri.”

Boleh juga ditambah dengan doa berikut, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:“Siapa saja yang berwudhu, kemudian berkata setelah wudhunya selesai:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

SUBHAANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASSYHADU ALAA ILAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK

Artinya:

[Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Saya memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu], pastilah akan dicetak untuknya sebuah cetakan, kemudian akan diangkat di bawah Arsy, dan tidak akan pecah hingga Hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh An-Nasa`iy dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah dengan sanad Shahih di atas syarat Al-Bukhary dan Muslim. Memiliki hukum Marfu’, walaupun dari ucapan Abu Sa’id].

***

Sumber: Majalah Fatawa

Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

 

https://muslim.or.id/85-fikih-wudhu.html

, ,

PERBEDAAN FAQIH DAN BODOH

PERBEDAAN FAQIH DAN BODOH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PERBEDAAN FAQIH DAN BODOH

Imam Mujahid bin Jabr rahimahullah mengatakan:

“Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, meskipun ilmunya banyak”.

[Al-Bidaayah wan Nihaayah (V/237)].

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662777670569661/?type=3&theater

, , , ,

HARUS DIBEDAKAN ANTARA BERBUAT ADIL DAN CINTA KEPADA ORANG KAFIR

HARUS DIBEDAKAN ANTARA BERBUAT ADIL DAN CINTA KEPADA ORANG KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HARUS DIBEDAKAN ANTARA BERBUAT ADIL DAN CINTA KEPADA ORANG KAFIR

Rambu-Rambu Bermuamallah dengan Orang Kafir

Perlu Dibedakan antara Ihsan (Berbuat Baik) dan Wala’ (Loyal)

Wala’ (loyal) tidaklah sama dengan berlaku ihsan (baik). Wala’ secara istilah bermakna menolong, memuliakan, dan loyal dengan orang yang dicintai [Lihat Al Wala’ wal Baro’, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 307, Asy Syamilah]. Sehingga wala’ (loyal) pada orang kafir akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang dengan mereka dan agama yang mereka anut. Larangan loyal terhadap orang kafir ini sudah diajarkan oleh kekasih Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Dan kita pun selaku umat Islam diperintahkan untuk mengikuti jalan beliau. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu, dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Di samping ini adalah ajaran Nabi Ibrahim, larangan loyal (wala’) pada orang kafir juga termasuk ajaran Nabi kita Muhammad ﷺ. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)

Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang DIHARAMKAN [Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 11/138, Mawqi’ Ya’sub].

Sedangkan birr atau ihsan (berbuat baik) itu jauh berbeda dengan wala’ (bersikap loyal). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan, baik pada Muslim maupun orang kafir. Sedangkan bersikap wala’ pada orang kafir TIDAK diperkenankan sama sekali.

Fakhruddin Ar Rozi –rahimahullah– mengatakan: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian, adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum Muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan, bahwa boleh kaum Muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka, itu TIDAK dibolehkan.” [Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar Rozi, 15/325, Mawqi’ At Tafasir]

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan: “Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan (terhadap non-Muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang) padanya, sebagaimana rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22). Ayat ini umum berlaku pada orang yang sedang memerangi, dan orang yang tidak memerangi kaum Muslimin. Wallahu a’lam.” [Fathul Bari Syarh Shohih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i, 5/233, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379]

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya: “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut. ” [Tafsir Juz Qod Sami’a , Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 166, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 2003]

Di Antara Contoh Berbuat Ihsan pada Non-Muslim

Pertama: Memberi hadiah kepada saudara non-Muslim agar membuat ia tertarik pada Islam.

Kedua: Menjalin hubungan dan berbuat baik dengan orang tua dan kerabat non-Muslim.

Allah MELARANG memutuskan silaturahim dengan orang tua atau kerabat yang non-Muslim, dan Allah tetap menuntunkan agar hak mereka sebagai kerabat dipenuhi, walaupun mereka kafir. Jadi kekafiran tidaklah memutuskan hak mereka sebagai kerabat. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk memersekutukan dengan Aku, sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (memergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain. Dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.” (QS. An Nisa: 1)

Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk Surga orang yang memutuskan tali silaturahim (dengan kerabat).” [HR. Muslim no. 2556].

Oleh karenanya, silaturahim dengan kerabat tetaplah wajib, walaupun kerabat tersebut kafir. Jadi, orang yang memunyai kewajiban memberi nafkah, tetap memberi nafkah pada orang yang ditanggung, walaupun itu non-Muslim. Karena memberi nafkah adalah bagian dari bentuk menjalin silaturahim . Sedangkan dalam masalah waris, TIDAK diperkenankan sama sekali. Karena seorang Muslim tidaklah mewariskan hartanya pada orang kafir. Begitu pula sebaliknya. Karena warisan dibangun di atas sikap ingin menolong (nushroh) dan loyal (wala’) [Lihat pembahasan Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani dalam Al Wala’ wal Baro’, hal. 303, Asy Syamilah].

Catatan tentang Silaturahim:

Silaturahim diambil dari kata-kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335).
Terdapat perselisihan di antara ulama tentang batasan kerabat yang wajib disambung dan haram untuk diputus. Pendapat yang terkuat, insyaAllahu ta’ala, adalah semua kerabat baik mahram ataukah bukan, ahli waris ataukah bukan.
Pendapat ini dikomentari oleh Syeikh Abdullah Al Bassam: “Ini merupakan pendapat yang kuat. Namun bentuk menjalin hubungan kekerabatan itu berbeda-beda, tergantung kedekatan hubungan dan kemampuan serta kebutuhan” (Lihat Taudhih al Ahkam 7/324-325). Inilah pengertian rahim yang dimaksudkan dalam hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan silaturahim .

Ketiga: Berbuat baik kepada tetangga walaupun non-Muslim

Al Bukhari membawakan sebuah bab dalam Adabul Mufrod dengan ”Bab Tetangga Yahudi”dan beliau membawakan riwayat berikut.

Mujahid berkata: “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru, sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata:

ياَ غُلاَمُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِي

”Wahai pembantu! Jika Anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah, dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.” Lalu ada salah seorang yang berkata:

آليَهُوْدِي أَصْلَحَكَ اللهُ؟!

“(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memerbaiki kondisi Anda.”

”Abdullah bin ’Amru lalu berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشَيْنَا أَوْ رُؤِيْنَا أَنَّهُ سَيُوّرِّثُهُ

‘Saya mendengar Rasulullah ﷺ berwasiat terhadap tetangga, sampai kami khawatir kalau beliau ﷺ akan menetapkan hak waris kepadanya.” [Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa Jaa-a fii Haqqil Jiwaar)].

Perkara yang Termasuk Loyal pada Orang Kafir dan Dinilai Haram

  • [Diolah dari Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, Prof. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, hal. 224-229, Maktabah Al Mulk Fahd Al Wathoniyah, cetakan pertama, 1425 H]

Pertama: Mencintai orang kafir dan menjadikan mereka teman dekat. Allah Ta’ala berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22). Wajib bagi setiap Muslim memiliki rasa benci pada setiap orang kafir dan musyrik karena mereka adalah orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Dikecualikan di sini adalah cinta yang bersifat tabi’at, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya yang musyrik. Cinta seperti ini dibolehkan.

Kedua: Menetap di negeri kafir. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً,إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً,فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?” Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak, yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisa’: 97-98)

Ada dua rincian yang mesti diperhatikan:

  • Jika orang kafir yang baru masuk Islam, lalu tinggal di negeri kafir dan tidak mampu menampakkan keislaman (seperti menauhidkan Allah, melaksanakan shalat, dan berjilbab –bagi wanita-) dan ia mampu berhijrah, maka saat itu ia wajib berhijrah ke negeri kaum Muslimin. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan tidak boleh Muslim tersebut menetap di negeri kafir, kecuali dalam keadaan darurat.
  • Jika Muslim yang tinggal di negeri kafir masih mampu menampakkan keislamannya, maka berhijrah ke negeri kaum Muslimin pada saat ini menjadi mustahab (dianjurkan). Begitu pula dianjurkan ia menetap di negeri kafir tersebut karena ada maslahat untuk mendakwahi orang lain kepada Islam yang benar.

Ketiga: Diharamkan bepergian ke negeri kafir tanpa ada hajat. Namun jika ada maslahat (seperti untuk berobat, berdakwah, dan berdagang), maka ini dibolehkan asalkan memenuhi tiga syarat berikut:

  1. Memiliki bekal ilmu agama yang kuat sehingga dapat menjaga dirinya.
  2. Merasa dirinya aman dari hal-hal yang dapat merusak agama dan akhlaqnya.
  3. Mampu menampakkan syi’ar-syi’ar Islam pada dirinya.

Keempat: Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’)[ Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H]. Di antara dalilnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” [HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269].

Oleh karena itu, perilaku tasyabuh (menyerupai orang kafir) dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka adalah diharamkan. Contohnya adalah mencukur jenggot dan mengikuti model pakaian yang menjadi ciri khas mereka.

Kelima: Bekerjasama atau membantu merayakan perayaan orang kafir, seperti membantu dalam acara Natal. Hal ini diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan Allah Ta’ala pun berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2)

Begitu pula diharamkan menghadiri perayaan agama mereka. Allah Ta’ala menceritakan mengenai sifat orang beriman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang beriman adalah yang tidak menyaksikan perbuatan Zur. Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Di antara makna “Tidak menyaksikan perbuatan Zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas [Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/484, Mawqi’ Al Islam]. Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib [Lihat Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim, 1/483].

Begitu pula diharamkan mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir. Bahkan diharamkannya hal ini berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama.

Ulama Sepakat: Haram Mengucapkan Selamat Natal

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin mengatakan: ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” [Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah].

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barang siapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” [Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H]

Dinukil dari tulisan berjudul: “Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik” oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber:

https://rumaysho.com/711-mengucapkan-selamat-natal-dianggap-amalan-baik.html

, ,

PENYELEWENGAN TERHADAP AYAT-AYAT JIHAD BEDA DENGAN KASUS AL-MAIDAH AYAT 51

PENYELEWENGAN TERHADAP AYAT-AYAT JIHAD BEDA DENGAN KASUS AL-MAIDAH AYAT 51

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Faidah_Tafsir

PENYELEWENGAN TERHADAP AYAT-AYAT JIHAD BEDA DENGAN KASUS AL-MAIDAH AYAT 51

(DAN RENUNGAN DARI AYAT SELANJUTNYA)

Sebagian orang menyamakan penyelewengan ayat-ayat jihad yang dilakukan oleh ISIS dan yang semisal dengan mereka dari kalangan Khawarij, dengan kasus pendalilan haramnya memilih pemimpin kafir memakai surat Al-Maidah ayat 51. Anggapan ini SANGAT KELIRU, karena yang pertama melakukan penyelewengan makna ayat, sedang yang kedua melakukan pendalilan dengan cara yang benar.

Kami katakan bahwa Khawarij menyelewengkan makna ayat-ayat jihad karena beberapa alasan, di antaranya:

  1. Mereka memerangi kaum Muslimin yang tidak patut diperangi dan memberontak terhadap pemerintah Muslim. Padahal sudah dimaklumi, bahwa jihad untuk memerangi orang-orang kafir.
  2. Tidak memenuhi tiga syarat jihad, yaitu: Pertama: Dipimpin oleh kepala negara, Kedua: Memiliki kekuatan, Ketiga: Memiliki wilayah kekuasaan. Yang terjadi malah mereka melawan pemerintah Muslim, dan ingin merampas kekuasaan dari kaum Muslimin.
  3. Membunuh orang kafir tanpa pandang bulu, dan meyakini semua orang kafir adalah harbi (harus diperangi), padahal dimaklumi dalam syariat, ada orang-orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum Muslimin yang tidak boleh diperangi, selama mereka menaati perjanjian tersebut.

Adapun pendalilan dengan surat Al-Maidah ayat 51 untuk melarang kaum Muslimin memilih pemimpin kafir adalah pendalilan yang benar karena beberapa alasan, di antaranya:

  1. Makna “Auliya” (أولياء) “wali-wali” dalam Bahasa Arab juga bermakna “Sulthan” (السلطان) “Pemimpin” (lihat kamus Mukhtaarus Shihah, hal. 345, Lisaanul Arab, 15/407, Tajul ‘Arus, 40/242)
  2. Terjemahan Alquran Resmi Departemen Agama Republik Indonesia: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Maidah: 51]
  3. Andai diartikan “Teman setia” sekali pun tetap saja tidak bisa menghilangkan makna “Pemimpin”, karena bisa saja satu ayat memiliki banyak makna. Siapa yang memberi hak kepada kita untuk menghilangkan sebagian atau seluruh makna ayat yang sudah jelas…!?
  4. Kesepakatan Ulama Islam dari Seluruh Mazhab atas Haramnya Memilih Pemimpin Kafir: “Ulama telah sepakat (ijma’), bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir, dan jika seorang pemimpin Muslim menjadi kafir, maka harus diselengserkan.” [Syarhu Muslim, 12/229]
  5. Walau sebagian ulama ahli tafsir menyebutkan kisah sebab turunnya ayat ini terkait dengan peperangan di masa Rasulullah ﷺ, namun ayat ini berlaku umum, tidak dibatasi hanya dalam masa perang, atau hanya pada kasus khusus, karena lafaz ayat bersifat umum tanpa memberi pengecualian. Dan termasuk kaidah penting dalam ilmu tafsir: “Yang menjadi patokannya adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.” [Fushulun fi Ushulit Tafsir, hal. 131]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Baca Selengkapnya: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/695719943910824:0

Artikel Terkait:

[Audio] Setelah Al-Maidah 51

Link: http://bit.ly/2fYEtrN

Larangan Memilih Pemimpin Kafir dalam Surat Al-Maidah Ayat 51 Sesuai Terjemahan Resmi Depag RI dan Penjelasan Ahli Tafsir

Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/677211869094965:0

Setelah Menghina Alquran, Minta Maaf Saja Belum Cukup, Jadi Harus Bagaimana?

Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/679235522225933:0

Siapa yang Bohong dan Memanipulasi Ayat?

Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/678785838937568:0

 

 

, , ,

BEDA JIHAD SYARI DAN JIHAD KONSTITUSI YANG BERASAS DEMOKRASI

BEDA JIHAD SYARI DAN JIHAD KONSTITUSI YANG BERASAS DEMOKRASI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

BEDA JIHAD SYARI DAN JIHAD KONSTITUSI YANG BERASAS DEMOKRASI

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu’anhuma, dari bapaknya, beliau berkata:

نَزَلْنَا عَلَى حِصْنِ سِنَانٍ بِأَرْضِ الرُّومِ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ، فَضَيَّقَ النَّاسُ الْمَنَازِلَ، وَقَطَعُوا الطَّرِيقَ، فَقَالَ مُعَاذٌ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّا غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ كَذَا وَكَذَا، فَضَيَّقَ النَّاسُ الطَّرِيقَ، فَبَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنْ ضَيَّقَ مَنْزِلًا أَوْ قَطَعَ طَرِيقًا فَلَا جِهَادَ لَهُ

“Kami pernah menaklukan benteng Sinan di negeri Romawi bersama Abdullah bin Abdul Malik. Maka manusia ketika itu menyempitkan perumahan dan memutus jalan. Maka Mu’adz berkata: Wahai manusia, sungguh kami pernah berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam peperangan ini dan itu, lalu manusia menyempitkan jalan, maka Rasulullah ﷺ mengutus seseorang untuk menyerukan: Barang siapa yang menyempitkan sebuah rumah atau memutus sebuah jalan, maka tidak ada jihad baginya.” [HR. Ahmad dan Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2364]

Al-‘Allamah Ali Al-Qori rahimahullah berkata:

(وَقَطَعُوا الطَّرِيقَ) : بِتَضْيِيقِهَا عَلَى الْمَارَّةِ

“Memutus jalan adalah dengan menyempitkannya, sehingga menyulitkan pengguna jalan.” [Al-Mirqoh, 6/2522]

Al-‘Allamah Al-‘Azhim Al-Abadi rahimahullah berkata:

(وَقَطَعُوا الطَّرِيقَ) أَيْ بِتَضْيِيقِهَا عَلَى الْمَارَّةِ (فَلَا جِهَادَ لَهُ) فِيهِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ تَضْيِيقُ الطَّرِيقِ الَّتِي يَمُرُّ بِهَا النَّاسُ وَنَفَى جِهَادَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَلَى طَرِيقِ الْمُبَالَغَةِ فِي الزَّجْرِ وَالتَّنْفِيرِ وَكَذَلِكَ لَا يَجُوزُ تَضْيِيقُ الْمَنَازِلِ الَّتِي يَنْزِلُ فِيهَا

“Memutus jalan artinya menyempitkannya sehingga menyulitkan pengguna jalan. Maka tidak ada jihad bagi pelakunya. Dalam hadis ini terdapat pelajaran, bahwa tidak boleh menyempitkan jalan yang dilalui manusia. Dan Nabi ﷺ meniadakan jihadnya orang yang melakukan itu dengan bersungguh-sungguh dalam mengecam dan memeringatkan. Demikian pula tidak boleh menyempitkan rumah-rumah yang dilalui seorang mujahid.” [‘Aunul Ma’bud, 7/210]

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/692960050853480:0

, , ,

APA BEDANYA AZAB KUBUR DAN FITNAH KUBUR?

APA BEDANYA AZAB KUBUR DAN FITNAH KUBUR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA BEDANYA AZAB KUBUR DAN FITNAH KUBUR?

Pertanyaan:

Apakah ada perbedaan antara azab kubur dan fitnah kubur?

Jawaban:

Ya (ada perbedaan). Azab (kubur) adalah diazab dan dipukulnya manusia (di dalam kuburnya), serta dibukakan baginya pintu Neraka. Adapun fitnah (kubur) adalah cobaan dan ujian. Maka, datanglah malaikat Nakiir dan Munkar kepadanya yang akan mengujinya dengan pertanyaan: ‘Siapakah Tuhanmu? Apa agamamu? Siapakah nabimu?’ Kemudian datanglah hukuman setelah itu. Ia diberikan fitnah dengan adanya pertanyaan, kemudian ia diazab (karena tidak mampu menjawabnya).

Azab adalah suatu hal, dan fitnah adalah hal yang lain. Azab merupakan akibat/hasil dari fitnah. Setelah diberikan fitnah, maka diazab. Dan fitnah adalah ujian yang menimpa baik Mukmin maupun kafir. Seorang Mukmin diberikan fitnah, lalu ia berhasil melaluinya. Allah selamatkan ia, sehingga mampu menjawabnya. Adapun orang kafir, akan diberikan fitnah dan ia binasa (karenanya). Allah ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memerbuat apa yang Dia kehendaki’ [QS. Ibraahiim: 27].

Kita mohon kepada Allah, agar Dia meneguhkan kami dan kalian dengan ucapan yang teguh”.

Pertanyaan:

Apakah fitnah ini khusus diperuntukkan bagi umat Muhammad ﷺ  saja?

Jawaban:

Tidak, fitnah itu umum bagi setiap orang. Allah ta’ala berfirman:

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

‘Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)’ [QS. Al-A’raaf: 6].

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

‘Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawabanmu kepada para rasul?” [QS. Al-Qashshaash: 65]”.

 

** Dari pertanyaan yang diajukan kepada Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz Ar-Raajihiy hafidhahullah **

[Selesai – sumber: http://majles.alukah.net/t89962/].

 

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2011/10/perbedaan-adzab-kubur-dan-fitnah-kubur.html

 

,

PERBANDINGAN & PERBEDAAN ANTARA ASURANSI SYARIAH DAN ASURANSI KONVENSIONAL

PERBANDINGAN & PERBEDAAN ANTARA ASURANSI SYARIAH DAN ASURANSI KONVENSIONAL

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

☘ ☘ PERBANDINGAN & PERBEDAAN ANTARA ASURANSI SYARIAH DAN ASURANSI KONVENSIONAL

? A. Persamaan antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Jika diamati dengan seksama, ditemukan titik-titik kesamaan antara Asuransi Konvensional dengan Asuransi Syariah, di antaranya sebagai berikut:

  • Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridhoan dari masing- masing pihak.
  • Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota.
  • Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifat mustamir (terus).
  • Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak.

? B. Perbedaan antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Dibandingkan Asuransi Konvensional, Asuransi Syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal:

  • Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan Asuransi Syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam Asuransi Konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.
  • Prinsip akad Asuransi Syariah adalah Takafuli (tolong-menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad Asuransi Konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).
  • Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan Asuransi Syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). Sedangkan pada Asuransi Konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.
  • Dalam Asuransi Syariah, Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada Asuransi Konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
  • Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta, yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong, bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam Asuransi Konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.
  • Dalam Asuransi Syariah, keuntungan investasi dibagi dua, antara nasabah selaku pemilik dana, dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam Asuransi Konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

Dari perbandingan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Asuransi Konvensional TIDAK memenuhi standar syari, yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum Muslimin. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut.

Oleh karena itu hendaklah kaum Muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model asuransi yang menyimpang tersebut, serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam, seperti bentuk-bentuk Asuransi Syariah yang telah dipaparkan di muka.

? Selanjutnya, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah Wal Ifta [Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia] mengeluarkan fatwa sebagai berikut:

“Asuransi ada dua macam. Majlis Hai’ah Kibaril Ulama telah mengajinya sejak beberapa tahun yang lalu, dan telah mengeluarkan keputusan. Tapi sebagian orang hanya melirik bagian yang dibolehkannya saja, tanpa memerhatikan yang haramnya. Atau menggunakan lisensi boleh untuk praktik yang haram, sehingga masalahnya menjadi tidak jelas bagi sebagian orang.

Asuransi Kerjasama (Jaminan Sosial) yang dibolehkan, seperti sekelompok orang membayarkan uang sejumlah tertentu untuk sedekah atau membangun masjid, atau membantu kaum fakir. Banyak orang yang mengambil istilah ini, dan menjadikannya alasan untuk Asuransi Komersil. Ini kesalahan mereka dan pengelabuan terhadap manusia.

Contoh Asuransi Komersil: Seseorang mengasuransikan mobilnya atau barang lainnya yang merupakan barang impor dengan biaya sekian dan sekian. Kadang tidak terjadi apa-apa, sehingga uang yang telah dibayarkan itu diambil perusahaan asuransi begitu saja. Ini termasuk judi yang tercakup dalam firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan.” [Al-Maidah: 90]

Kesimpulannya, bahwa Asuransi Kerjasama (Jaminan Bersama/Jaminan Sosial) adalah sejumlah uang tertentu yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan syari, seperti membantu kaum fakir, anak-anak yatim, pembangunan masjid dan kebaikan-kebaikan lainnya.

? Berikut ini adalah Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah wal Ifta (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa) tentang Asuransi Kerjasama (Jaminan Bersama).

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Telah dikeluarkan keputusan dari Ha’iah Kibaril Ulama tentang haramnya Asuransi Komersil dengan semua jenisnya, karena mengandung madharat dan bahaya yang besar, serta merupakan tindak memakan harta orang lain dengan cara perolehan yang batil, yang mana hal tersebut telah diharamkan oleh syariat yang suci, dan dilarang keras.

Lain dari itu, Hai’ah Kibaril Ulama juga telah mengeluarkan keputusan tentang bolehnya Jaminan Kerjasama (Asuransi Kerjasama), yaitu terdiri dari sumbangan-sumbangan donatur dengan maksud membantu orang-orang yang membutuhkan dan tidak kembali kepada anggota (para donatur tersebut), tidak modal pokok dan tidak pula labanya, karena yang diharapkan anggota adalah pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan tidak mengharapkan timbal balik duniawi. Hal ini termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Ma’idah: 2]

Dan sabda Nabi ﷺ: “Dan Allah akan menolong hamba, selama hamba itu menolong saudaranya” [Hadis Riwayat Muslim, kitab Adz-Dzikr wad Du’at wat Taubah 2699]

Ini sudah cukup jelas dan tidak ada yang samar.

Tapi akhir-akhir ini, sebagian perusahaan menyamarkan kepada orang-orang, dan memutar balikkan hakikat, yang mana mereka menamakan Asuransi Komersil yang haram dengan sebutan Jaminan Sosial, yang dinisbatkan kepada fatwa yang membolehkannya dari Ha’iah Kibaril Ulama. Hal ini untuk memerdayai orang lain, dan memajukan perusahaan mereka. Padahal Ha’iah Kibaril Ulama sama sekali terlepas dari praktik tersebut, karena keputusannya jelas-jelas membedakan antara Asuransi Komersil dan Asuransi Sosial (Bantuan). Pengubahan nama itu sendiri tidak merubah hakikatnya.

Keterangan ini dikeluarkan dalam rangka memberikan penjelasan bagi orang-orang, dan membongkar penyamaran, serta mengungkap kebohongan dan kepura-puraan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada seluruh keluarga dan para sahabat.

[Bayan Min Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta Haula At-Ta’min At-Tijari wat Ta’min At-Ta’awuni]”.

Kemudian, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin berpendapat sebagai berikut:

“Asuransi Konvensional tidak boleh hukumnya berdasarkan syariat, dalilnya adalah firman-Nya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu, dengan jalan bathil” [Al-Baqarah: 188]

Dalam hal ini, perusahaan tersebut telah memakan harta-harta para pengasuransi (polis) tanpa cara yang haq. Sebab (biasanya), salah seorang dari mereka membayar sejumlah uang per bulan dengan total yang bisa jadi mencapai puluhan ribu, padahal selama sepanjang tahun, dia tidak begitu memerlukan servis. Namun meskipun begitu, hartanya tersebut tidak dikembalikan kepadanya.

Sebaliknya pula, sebagian mereka bisa jadi membayar dengan sedikit uang, lalu terjadi kecelakaan terhadap dirinya, sehingga membebani perusahaan secara berkali-kali lipat dari jumlah uang yang telah dibayarnya tersebut. Dengan begitu, dia telah membebankan harta perusahaan tanpa cara yang haq.

Hal lainnya, mayoritas mereka yang telah membayar asuransi (fee) kepada perusahaan, suka bertindak ceroboh (tidak berhati-hati terhadap keselamatan diri), mengendarai kendaraan secara penuh resiko dan bisa saja mengalami kecelakaan, namun mereka cepat-cepat mengatakan: “Sesungguhnya perusahaan itu kuat (finansialnya). Dan barangkali bisa membayar ganti rugi atas kecelakaan yang terjadi”. Tentunya hal ini berbahaya terhadap (kehidupan) para penduduk, karena akan semakin banyaknya kecelakaan dan angka kematian.

[Al-Lu’lu’ul Makin Min Fatawa Ibn Jibrin, hal 190-191]”

 

Penulis: Abu Al Maira

Sumber: https://jacksite.wordpress.com/2007/07/11/hukum-asuransi-menurut-islam/