Posts

BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?

BENARKAH-BIDAH-ADALAH-MASALAH-KHILAFIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?
 
Pertanyaan:
Benarkah masalah bidah adalah masalah Khilafiyah? Seringkali mereka yang gemar mengada-ada mengatakan ini masalah khilafiyah. Bahkan mereka mencap orang yang berbicara masalah bidah di jaman sekarang norak.
 
Dan bagaimana tindakan kita terhadap orang awam, yang ketika kita ingin mendakwahkn tauhid maupun sunnah, akan tetapi mereka telah terkena syubhat masalah imam dan ulama yang tidak bisa lagi diambil perkataannya.
 
Jawaban Redaksi SalamDakwah
 
Jawaban terperinci untuk soal ini sebenarnya panjang karena membahas tiga perkara besar sekaligus:
1. Bidah
2. Khilaf atau perbedaan pendapat
3. Sikap menghadapinya
 
Tapi saya akan mencoba memberi jawaban pendek sesuai pertanyaan. Saya akan membagi jawaban menjadi beberapa poin:
 
Pertama:
– Ada perkara bidah yang bersumber dari masalah khilafiyah, seperti selalu melaksanakan Qunut Subuh,
– Ada yang mengatakan itu bidah karena dalil yang jadi sandaran amalan itu tidak bisa dijadikan hujjah,
– Ada yang mengatakan itu sunnah karena ada dalil yang menguatkan amalan itu
– Ada perkara bidah yang tidak bersumber dari masalah khilafiyah, bahkan perkara itu menyelisihi Ijma’ (Kesepakatan Ulama’), seperti sebagian orang Sufi berkeyakinan tidak boleh berdoa kepada Allah dalam masalah duniawi [Lihat: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=4059]
 
Kedua:
Yang saya fahami dari pertanyaan Anda, bahwa orang yang Anda ajak bicara kelihatannya berdalih dengan ikhtilaf untuk pembolehan bidah (karena ini masalah ikhtilaf jadi tidak usah diingkari). Dan pemahaman seperti ini tidak benar.
 
Berkata Ibnu Abdil Bar:
“Sepengetahuanku, tidak ada seorang ahli fikih pun yang berpendapat, bahwa perbedaan pendapat adalah hujjah, kecuali bagi orang yang tidak punya ilmu pengetahuan, dan perkataan orang seperti ini bukanlah dalil. [Lihat Kitab Jami’ bayanil ilmi wa fadhlihi juz 2 hal. 922]
 
Perlu diketahui, bahwa ketika ada perbedaan pendapat ulama-ulama yang bertolakbelakang dan tidak bisa disatukan, maka kebenaran saat itu hanya satu dari beberapa pendapat tersebut. Dan seorang Muslim wajib menjalankan apa yang diyakininya sebagai pendapat yang benar.
 
Untuk mengetahui dalil-dalil dari Alquran, Sunnah, Ijma’ yang menyatakan, bahwa kebenaran itu hanya satu. [Lihat kitab Raudhatunnadhir oleh Ibnu Qudamah Juz 2 hal 357]
 
Jadi meskipun bidah itu bersumber dari masalah khilafiyah, maka kita tetap memilih pendapat yang benar, yang dalilnya kuat.
 
Ketiga:
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
” وإياكم والأمور المحدثات, فإن كل بدعة ضلالة.” رواه ابن ماجه رقم 42, صححه الألباني
 
Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru. Sesungguhnya setiap bidah itu sesat.
Karena bidah itu kesesatan, dan kesesatan adalah perkara yang mungkar, maka kita harus menghilangkan kemungkaran itu dengan cara yang bijak dan tidak mendiamkannya.
 
Keempat:
Adapun masalah orang awam yang tidak mau menerima pandangan Ulama Sunnah seperti syaikh Bin Baz dan Albani, maka Anda bisa cukup membawakan dalil dari Alquran atau Sunnah dalam masalah tersebut. Kalau misalnya tidak ada dalil dari kitab atau sunnah dalam masalah tersebut, maka Anda bisa menghadirkan ulama sunnah yang dianggap di hampir semua kalangan orang Islam, seperti Imam Empat Madzhab, Ibnu Abdil Bar, Shon’ani, Syaukani dll
 
Wallahu a’lam bis showab
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bedaantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaanantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaan #beda #khilafiyah #ijtihadiyah #khilafiyyah #ijtihadiyyah #ahlulbidah #ahlibidah, #bidah, #masalahkhilafiyah

BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH

BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH
 
Sebagian orang tidak bisa membedakan masalah khilafiyah dan ijtihadiyah.
 
Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperselisihkan.
Sedangkan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih tidak pula Ijma ulama.
 
Yang perlu diingat:
Tidak setiap masalah khilafiyah itu masuk dalam kategori ijtihadiyah.
Tidak setiap yang diperselisihkan diterima pendapatnya. Seperti perselisihan antara Ahlussunnah dengan Syiah. Atau perselisihan Ahlussunnah dengan Khawarij dan Murjiah.
 
Karena bila telah ada nash yang sharih atau Ijma ulama, pendapat yang menyelisihinya dianggap menyimpang dan sesat.
 
Sedangkan masalah ijtihadiyah, maka kita tidak boleh saling memaksakan pendapat. Apalagi memvonisnya pelakunya sebagai ahlul bidah.
 
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Sebagaimana kaum Muslimin berbeda pendapat, apakah lebih utama tarji’ dalam azan atau tidak. Apakah lebih utama mengganjilkan iqamah atau menduakan? Apakah Shalat Fajar lebih utama di waktu gelap atau di waktu agak terang? Apakah Qunut Subuh disunnahkan atau tidak? Apakah Bismillah dibaca dengan keras atau sirr, dan sebagainya.
 
Ini adalah masalah ijtihadiyah diperselisihkan oleh para ulama terdahulu. Setiap mereka mengakui ijtihad ulama lainnya. Siapa yang benar, ia mendapat dua pahala dan siapa yang telah berijtihad lalu salah, maka kesalahannya dimaafkan.
 
Ulama yang memandang lebih kuat pendapat Asy Syafii tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Malik.
Siapa yang menguatkan pendapat Ahmad, tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Asy Syafii dan seterusnya. [Majmu fatawa 20/292]
 
Imam Asy Syathibi berkata:
Bukan kebiasaan para ulama memutlakkan lafal bidah untuk masalah furu’ (ijtihadi). [Al I’tisham 1/208]
 
Inilah sikap yang benar dalam masalah ijtihadiyah. Adapun masalah khilafiyah, maka wajib kita lihat apakah ia termasuk kategori ijtihadiyah atau bukan.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Penulis: Badru Salam, حفظه الله تعالى
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bedaantarakhilafiyahdanijtihadiyah, #perbedaanantarakhilafiyahdanijtihadiyah, #perbedaan, #beda #khilafiyah #ijtihadiyah #khilafiyyah #ijtihadiyyah #perbedaanpendapatulama
,

BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN

BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#TauhidAkidah
BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN
>> Sikap Orang Beriman dan Orang Kafir pada Rezeki
 
Orang beriman diberikan REZEKI oleh Allah. Mereka diberi rezeki yang halal, yang digunakan untuk ketaatan dan bersyukur pada Allah. Allah ta’ala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
 
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” [QS. Al Baqarah: 172]
 
Sedangkan orang kafir mendapatkan KESENANGAN DUNIA, sebagaimana halnya hewan ternak yang bersenang-senang di muka bumi. Kelak mereka akan disiksa di Neraka. Allah ta’ala berfirman:
 
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
 
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. Al Baqarah: 126]
 
Dalam dua ayat di atas disebutkan, bahwa rezeki itu penyebutan untuk orang beriman, sedangkan bagi orang kafir disebut dengan mataa’ atau kesenangan duniawi. Jadi yang diperoleh oleh orang kafir BUKANLAH rezeki, namun mataa’ atau kesenangan dunia. Karena hakikat rezeki adalah sesuatu yang halal, yang digunakan untuk bersyukur dan untuk taat pada Allah Yang Memberi Rezeki.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
Referensi:
Kitabut Tauhid fii Dhou-il Quran was Sunnah, Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At Tuwaijiriy, terbitan Dar Ashdaul Mujtama’, cetakan pertama, tahun 1432 H.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
 
Sumber : https://rumaysho.com/10738-orang-kafir-tidak-diberi-rezeki-namun.html
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah, #ManhajSalaf

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

Petuah berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi ﷺ, Persatuan itu rahmat,perpecahan itu azab.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi ﷺ pernah menyampaikan petuah di mimbar:
“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jamaah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.” [HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667]

Beberapa catatan kaki dari hadis di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad:
1. Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit memraktikan syukur yang hakiki secara keseluruhan.
2. Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri, asal bukan dalam rangka menyombongkan diri.
3. Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jamaah itu lebih baik, daripada berpecah belah.
4. Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “Ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber:

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

>> Apakah mereka orang yang sama atau berbeda?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dua nama ini adalah dua orang yang berbeda.

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan: bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah.

Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi ﷺ, sekaligus penentang dakwah beliau ﷺ.

Sabab Nuzul Surat Al-Lahab

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah ﷺ naik Bukit Shafa, beliau memanggil-manggil:

يا بني فهر!. يا بني عدي! لبطون قريش

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi! Beliau ﷺ panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi ﷺ memulai nasihatnya:

أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلا بالوادي تريد أن تغير عليكم، أكنتم مصدقي؟

Bagaimana menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian, bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan memercayaiku?

Mereka serentak mengatakan: “Ya, kami memercayainya. Kami tidak pernah menilai kamu, kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi ﷺ mengatakan:

فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya azab (Kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan:

تبا لك سائر اليوم. ألهذا جمعتنا؟

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… Apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami, bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk azab di Neraka, kekal selamanya. Dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati kafir, selalu menentang Islam. Padahal surat ini turun sepuluh tahun sebelum meninggalnya Abu lahab.

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya dengan membayar 4000 Dirham.

Abu Lahab meninggal tujuh hari pasca Perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama tiga hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Abu Jahal

Abu Jahal nama aslinya Amr bin Hisyam bin Mughirah dari Suku Makhzum.

Dia termasuk pemuka suku Quraisy dari Kabilah Kinanah. Sebelumnya dia digelari masyarakatnya dengan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Dia diizinkan untuk mengikuti Darun Nadwah – forum orang Quraisy yang hanya dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Namun oleh Nabi ﷺ digelari dengan Abu Jahal (Bapak Kebodohan), karena dia membunuh Sumaiyah bintu Khayyath dengan tombak yang dimasukkan ke kemaluannya sampai mati.

Dialah yang mengusulkan untuk membantai Nabi ﷺ bareng-bareng dari banyak suku. Ketika mereka berkumpul di Dar an-Nadwah membahas bagaimana cara paling tepat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ, ada banyak usulan, tapi semuanya mentok, karena mereka khawatir Bani Abdi Manaf akan menggugat dan menunntut qishas.

Kemudian Abu Jahal usul:

Setiap kabilah harus mengutus satu pemuda yang paling kuat, paling gagah, paling bagus. Masing-masing kita beri pedang terhunus, kemudian bersama-sama menyerang Muhammad dengan satu komando, dan dibunuh bareng-bareng. Jika Bani Abdi Manaf menuntut, mereka tidak akan mampu melawan banyak suku. Sehingga Bani Abdu Manaf hanya akan meminta ganti Diyat 100 ekor unta.

Dan rencana inilah yang dijalankan… Permusuhannnya yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslimin, hingga dia digelari dengan Fir’aun umat ini.

Abu Jahal mati ketika Perang Badar. Pada saat barisan kaum Muslimin berhadapan dengan barisan musyrikin, tiba-tiba ada dua pemuda berusia 16an tahun berposisi tepat di samping kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah Muawidz dan Muadz bin Afra. Masing-masing bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: ‘Wahai paman, mana Abu Jahal yang paling keras memusuhi Nabi ﷺ?’. Setelah ditunjukkan, kedua pemuda ini berlomba menyerang hingga Abu Jahal tersungkur…

Setelah perang usai, Ibnu Mas’ud menyisir lapangan perang, hingga bertemu Abu Jahal yang sudah tidak berdaya.

“Siapa hari ini yang menang?” tanya Abu Jahal.

“Allah dan Rasul-Nya yang menang, wahai musuh Allah.” jawab Ibnu Mas’ud.

“Sungguh kamu telah berhasil naik ke puncak yang sulit, wahai penggembala kambing.” Kata Abu Jahal.

Kemudian Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal yang sudah terpotong telinganya. Dan dibawanya menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkomentar:

“Telinga balas telinga dan ditambah kepala.” Karena Abu Jahal pernah memotong telinga Ibnu Mas’ud.

Allahu a’lam

 

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum
  • Sirah Ibnu Hisyam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29308-siapa-abu-lahab-dan-abu-jahal.html

,

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

Pertanyaan:
Apakah shalat Tarawih dengan shalat Tahajud itu sama? Dalam arti, kalau sudah shalat Tarawih tidak perlu melakukan shalat Tahajud? Terima kasih, Ustadz.

Jawaban:
Berikut ini adalah keterangan dari Syekh Hamid bin Abdillah Al-Ali:

“Di zaman Nabi ﷺ dan sahabat, keduanya dinamakan Qiyamul Lail. Pada waktu Ramadan juga dinamakan ‘Qiyamul Lail‘ atau ‘Qiyam Ramadan‘. Mereka melaksanakan shalat selama satu bulan di waktu awal malam sampai akhir malam. Sementara di luar Ramadan, Nabi ﷺ terkadang melaksanakan Qiyamul Lail di awal malam, di tengah malam, atau terkadang di akhir malam. Ketika Ramadan, beliau lebih rajin lagi dalam beribadah, melebihi rajinnya beliau di luar Ramadan.

Kemudian setelah itu, kaum Muslimin di generasi setelah beliau, melaksanakan shalat di awal malam, ketika Ramadan, karena ini keadaan yang paling mudah bagi mereka. Mereka melaksanakan shalat malam di sepuluh malam terakhir di penghujung malam, dalam rangka mencari pahala yang lebih banyak dan mendapatkan Lailatul Qadar, karena shalat di akhir malam itu lebih utama. Selanjutnya, mereka menyebut kegiatan shalat di awal malam setelah Isya dengan nama ‘shalat Tarawih’, dan mereka menyebut shalat sunah yang dikerjakan di akhir malam dengan nama ‘shalat Tahajud’. Semua itu, dalam bahasa Alquran, disebut ‘Tahajud‘ atau ‘Qiyamul Lail‘, dan TIDAK ADA perbedaan antara keduanya dalam bahasa Alquran.

Karena itu, jika ada orang yang ingin melaksanakan (Qiyamul Lail) selama Ramadan di akhir malam, maka ini lebih utama. Sebaliknya, jika ingin shalat (Qiyamul Lail) sepanjang Ramadan di awal malam, atau tengah malam, maka semua ini diperbolehkan.” [Diambil dari Al-Fatawa Al-Mukhtarah Thariqul Islam]

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

 

Sumber: https://konsultasIsyariah.com/5901-Tahajud-dan-Tarawih.html

 

#SifatSholatNabi
#SeriPuasaRamadan

 

, , ,

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabMembacaAlquran

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

>> Perbedaan Antara Alquran Terjemahan dan Mushaf

Pertanyaan:

Apakah boleh memegang Alquran terjemahan ketika haid ?

Jawaban:

“Mushaf yang dilarang untuk disentuh secara langsung oleh orang yang sedang berhadats kecil atau besar (termasuk haid) adalah mushaf yang mengandung ayat-ayat Alquran saja, baik itu 30 juz atau sebagian. Akan tetapi jika dipegang menggunakan pelapis seperti kain yang suci, maka itu tidak mengapa. Adapun kitab tafsir, maka boleh menyentuh dan memegangnya, karena itu tidak dinamakan Mushaf, tapi kitab tafsir.” [Lihat Majmu’ Fatawa bin Baz juz.24 hal.348 no.118 dan lih.ibid juz 10 hal. 209]

Syaikh Utsaimin menjelaskan lebih detail: “Seandainya isi sebuah kitab banyak ayat Alqurannya dari pada tafsirnya, maka itu dinamakan Mushaf, dan hukumnya sama dengan Mushaf biasa (yang hanya berisi ayat-ayat Alquran -pen). Sebaliknya, apabila isi tentang tafsirnya lebih banyak dari pada ayat-ayat Alqurannya, maka boleh dipegang secara langsung oleh orang yang berhadats, karena itu kitab tafsir.

Apabila isinya berimbang antara tulisan ayat Alquran dan tafsir, maka tidak boleh disentuh oleh orang yang berhadats, berdasarkan kaidah: Jika berkumpul hal yang membolehkan dan melarang, dan tidak ada pembeda yang menguatkan salah satu sisi, maka dikuatkanlah sisi yang melarang [Lihat Majmu’ fatawa wa Rasail Al-Utsaimin juz.11 hal.215]

 

وبالله التوفيق

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/memegang-al-qur-an-terjemahan-ketika-haid.html

,

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#HajiUmrah

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU
>> Disuruh Pilih, Mau Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Pertanyaan:

Apa hukum bagi orang yang tidak daftar haji, padahal dia mampu?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki keinginan untuk tidak berhaji. maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ([QS. Ali Imran: 97]

Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati Yahudi atau mati Nasrani.”

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya Shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

“Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa di antara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/85]

Belum Berhaji Hingga Mati

Orang yang mampu secara finansial, sementara tidak berhaji hingga mati, maka dia dihajikan orang lain, dengan biaya yang diambilkan dari warisannya. Meskipun selama hidup, dia tidak pernah berwasiat.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرج من تركته من رأس المال ـ أوصى به أو لا ـ ويحج النائب من حيث وجبا على الميت، لأن القضاء يكون بصفة الأداء

Apabila ada orang yang wajib haji atau umrah meninggal dunia, maka diambil harta warisannya (untuk badal haji), baik dia berwasiat maupun tidak berwasiat. Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal. Karena pelaksanaan qadha itu sama dengan pelaksanaan ibadah pada waktunya (al-Ada’). (ar-Raudh al-Murbi’, 1/249)

Keterangan:

Yang dimaksud ’Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal’ adalah bahwa sang badal melaksanakan haji atau umrah sesuai miqat si mayit. Jika mayit miqatnya dari Yalamlam, maka badal juga harus mengambil miqat Yalamlam.

Miqat Boleh Beda

Al-Buhuti memersyaratkan, miqat orang yang menjadi badal haji harus sama dengan miqat mayit. Namun beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa miqat tidak harus sama. Dalam Hasyiyah ar-Raudh dinyatakan:

وقيل: يجزئ من ميقاته، وهو مذهب مالك، والشافعي، ويقع الحج عن المحجوج عنه

Ada yang mengatakan, badal haji boleh dari miqatnya sendiri. Ini pendapat Malik dan as-Syafii. Dan hajinya sah sebagai pengganti bagi orang yang dihajikan. (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’, 3/519).

Dalam al-Mughni Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua ini:

ويستناب من يحج عنه حيث وجب عليه، إما من بلده أو من الموضع الذي أيسر فيه، وبهذا قال الحسن وإسحاق

Dia dibadalkan oleh orang berhaji atas namanya sesuai kondisinya, baik berangkat dari negerinya (mayit), atau dari tempat manapun yang mudah baginya. Ini adalah pendapat Hasan al-bashri dan Ishaq. (al-Mughni, 3/234).

Dan insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena inti yang diinginkan adalah hajinya, bukan usaha keberangkatan hajinya. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23443-ancaman-orang-yang-tidak-mau-haji.html

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraHadis

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB
>> “Perbedaan Umatku Adalah Rahmat”, TIDAK diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu

Petuah berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi ﷺ, persatuan itu rahmat. Perpecahan itu azab:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi ﷺ pernah menyampaikan petuah di mimbar:

“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur, enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.” [HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667]

Beberapa catatan kaki dari hadis di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad:

  • Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit memraktikkan syukur yang hakiki secara keseluruhan.
  • Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri, asal bukan dalam rangka menyombongkan diri.
  • Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jamaah itu lebih baik, daripada berpecah belah.
  • Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 30: 390-391.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15341-petuah-nabi-persatuan-itu-rahmat-perpecahan-itu-azab.html

, ,

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ManhajAkidah
#StopBidah

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

>> Perbedaan dan Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

Penulis: Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[A1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[A2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena, menurut kesepakatan ulama, maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya Kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150]. Begitu juga bid’ah terbagi menjadi:

  • -Bid’ah yang membuat pelakunya kafir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Kaba’ir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Shaga’ir

Pembagian dan penglasifikasian ini bisa benar, jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan. Terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya Shigharul Bida (Bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya dianggap sebagai bagian dari al-Kaba’ir dan bukan ash-Shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya.

[A3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syariat dan hilangnya sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah, maka semakin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah, ditinjau dari ini, sama-sama menghempaskan Al-Hudaa (Ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[A4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan Maqaashidusysyarii’ah (Tujuan-tujuan syariat) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syariat.

B. Perbedaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[B1]. Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Alquran , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya, biasanya dalil-dalil yang umum dan Maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ﷺ: ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (Setiap bida’ah itu sesat).

[B2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyariatkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya. Kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

[B3]. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Karena sangatlah jelas, bahwa hal ini MENYALAHI DALAM MEYAKINI KESEMPURNAAN SYARIAT. Menuduh bahwa syariat ini masih kurang, dan membutuhkan tambahan, serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, padanya tidak ada keyakinan bahwa syariat itu belum sempurna. Bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui, bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[B4]. Maksiat merupakan pelanggaran yang sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, karena pada dasarnya dalam jiwa pelaku maksiat tidak ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dengan tidak tunduknya dia pada syariat agamanya. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah siapa yang engkau bangkang” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62].

Berbeda dengan bid’ah, sesungguhnya pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dengan Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat Ahli Bid’ah, dengan syarat ia TIDAK mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut, dan tidak menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat adalah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayatnya dengan kesepakatan ulama.

[B5]. Maka sesungguhnya, pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali. Berbeda dengan ahli bid’ah, sesungguhnya dia meyakini bahwa amalanya itu adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan kepada Allah, -pent), terutama Ahli Bid’ah Kubra (Pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaan yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir: 8]

Sufyan At-Tsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, dan bid’ah tidak (idharapkan) taubat darinya.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

[B6]. Jenis bid’ah lebih besar dari maksiat, karena fitnah Ahli Bid’ah (Mubtadi) terdapat dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdapat dalam syahwat. [Lihat Al-Jawwabul Kaafi: 58, dan Majmu Fatawa 20/103]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah, bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tidak dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yang bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Di antara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut adalah:

  • Pelanggaran, baik maksiat atau bid’ah, bisa membesar jika diiringi praktik terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahayanya, jika dibarengi dengan pelaksanaan yang sembunyi-sembunyi, terselubung tidak terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain:

  • Pelanggaran itu dengan sendirinya bisa membesar dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Jika bahayanya kembali kepada dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar, daripada penyimpangan yang bahayanya hanya kembali kepada hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan agama, lebih besar daripada pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan jiwa.

Jadi sebenarnya untuk mengomparasikan antara bid’ah dengan maksiat, kita harus memerhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yang dtimbulkan sesudahnya. Karena memeringatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya menimbulkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri. Sebagaimana ketika kita memeringatkan, bahwa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya mengakibatkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

 

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]

Sumber: