Posts

,

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihHajiUmrah

RINGKASAN CARA MUDAH MEMAHAMI FIKIH UMRAH

Keutamaan Umrah dan Haji

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah sampai umrah berikutnya adalah penghapus dosa yang dilakukan antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidaklah ada balasannya, kecuali Surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Keutamaan Umrah Pada Waktu Ramadan

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah pada waktu Ramadan seperti berhaji bersamaku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

Cara Mudah Memahami Fikih Umrah

Memahami Fikih Umrah dalam waktu kurang dari 1/2 menit dalam empat poin berikut:

  1. Ihram dari Miqat (Ihram termasuk rukun, melakukannya dari Miqat termasuk kewajiban).
  2. Thawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Kakbah (termasuk rukun).
  3. Sa ’yu sebanyak tujuh putaran antara Shafa dan Marwa (termasuk rukun).
  4. Memendekkan atau mencukur rambut (termasuk kewajiban).

Dengan melakukan empat poin ini saja umrah sudah sah, meskipun tanpa ditambahi dengan amalan-amalan lainnya. Akan tetapi untuk kesempurnaannya, insya Allah akan kami jelaskan dalam rincian berikut.

Waktu Melakukan Umrah

Waktu melakukan umrah adalah seluruh waktu dalam setahun.

Tempat Memulai Haji dan Umrah

Tempat memulai Haji dan Umrah yang biasa disebut Miqat (Makani) adalah tempat-tempat yang diwajibkan untuk memulai melakukan ihram di situ. Jika seorang yang berniat umrah atau haji melewati tempat tersebut tanpa melakukan ihram (yaitu berniat mulai melakukan amalan-amalan umrah atau haji), dan tanpa melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka wajib atasnya hadyu, berupa menyembelih seekor kambing, dan membaginya kepada fakir miskin Mekkah, tanpa mengambil bagian darinya sedikit pun.

Adapun Miqat-Miqat itu ada lima:

  1. Dzul Hulaifah (sekarang dinamakan Bi’r ‘Ali), Miqat penduduk kota Madinah dan yang melalui rute mereka).
  2. Al-Juhfah, Miqat penduduk Saudi Arabia bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat, negeri Syam (Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina) dan yang melewati rute mereka.
  3. Qarnul Manazil (sekarang dinamakan As-Sail) dan Wadi Muhrim (bagian atas Qarnul Manazil), Miqat penduduk Najed, Selatan Saudi di seputar pegunungan Sarat, negara-negara Teluk, Irak, Iran dan yang melewati rute mereka.
  4. Yalamlam (sekarang dinamakan As-Sa’diyyah), Miqat penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, negara-negara sekitarnya dan yang melewati rute mereka.
  5. Dzatu ‘Irqin (sekarang dinamakan Adh-Dharibah), Miqat penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan yang melewati rute mereka.

Dan bagi orang-orang yang tinggal di Mekkah atau yang tinggal di tempat-tempat yang terletak setelah Miqat-Miqat di atas, boleh bagi mereka berihram untuk haji (baik Tamattu’, Qiron maupun Ifrod) dari rumah masing-masing, tanpa harus pergi ke Miqat lagi. Adapun bagi penduduk Mekkah yang ingin melakukan umrah, mereka harus keluar ke daerah halal terdekat, seperti Tan’im dan yang lainnya, lalu berihram dari sana.

Urutan Amalan-Amalan Umrah

Pertama: Ihram dari Miqat

Ihram adalah berniat memulai pelaksanaan ibadah umrah atau haji. Tata caranya sebagai berikut:

▪ Mendatangi Miqat.

▪ Memotong kuku, memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Hal ini bukan termasuk amalan ihram. Hanya saja apabila seseorang mau melakukannya ketika ihram, maka dilarang. Oleh karena itu, hendaklah ia melakukannya sebelum ihram, kecuali jika ia berniat menyembelih kurban, maka tidak boleh melakukannya, jika telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, sampai ia menyembelih.

▪ Tidak dibenarkan mencukur atau memotong jenggot.

▪ Mandi seperti mandi janabat.

▪ Mandi ini juga berlaku bagi wanita haid dan nifas, karena Nabi ﷺ memerintahkan Asma’ binti Umais radhiyallahu’anha untuk mandi ketika ia melahirkan di Dzul Hulaifah, sebagaimana dalam hadis Jabir yang masyhur (Hadis tersebut sekaligus sebagai dalil sahnya ihram wanita haid dan nifas, serta boleh melakukan semua amalan haji dan umrah kecuali Thawaf, harus menunggu suci terlebih dahulu kemudian Thawaf).

▪ Menggunakan wewangian pada tubuh (pada bagian tubuh yang tidak terkena pakaian ihram) bila memungkinkan.

▪ Pakaian ihram tidak boleh dikenakan wewangian.

▪ Bagi yang Miqatnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat, maka mandinya bisa dilakukan sejak dari rumah, atau sebelum naik pesawat, maupun setelah berada di pesawat.

▪ Mengenakan pakaian ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwana putih). Yaitu sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah, dan sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas, dengan menutup seluruh tubuh bagian atas termasuk kedua bahu.

▪ Di antara hikmah mengenakan pakaian ihram tanpa dibedakan antara si kaya dan si miskin, atasan dan bawahan, pemerintah dan rakyatnya adalah untuk mengingatkan kepada kain kafan, bahwa setiap manusia hanya akan membawa kain kafannya sampai ke kuburan.

▪ Bagi yang Miqatnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang, atau setelah berada di atas pesawat terbang, meskipun jeda waktu yang agak lama dengan Miqatnya, agar ketika melewati Miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihram.

▪ Adapun pakaian ihram wanita adalah pakaian yang menutup seluruh auratnya yang sesuai dengan batasan-batasan syari.

▪ Wanita yang ihram TIDAK BOLEH menggunakan cadar dan kaos tangan, dan jika ada laki-laki asing, hendaklah ia menutup auratnya tersebut dengan kerudungnya.

▪ Setelah mengenakan pakaian ihram, lakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat sunnah wudhu’ atau shalat wajib, jika bertepatan dengannya. Dan yang shahih, tidak ada shalat khusus untuk ihram.

▪ Ketika masih berada di Miqat, naik ke kendaraan, lalu mulai berniat ihram untuk melakukan umrah dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“Labbaika ‘umrotan”

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Lalu membaca Talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika laka”

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu]

▪ Jika khawatir tidak bisa menyempurnakan seluruh rangkaian ibadah haji atau umrah, hendaklah membaca ucapan pensyaratan niat:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

“Allaahumma mahilliy haitsu habastaniy”

Artinya: “Ya Allah tempat berakhir amalanku, di mana Engkau menahanku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

▪ Faidah ucapan pensyaratan niat, adalah jika seseorang terhalangi dari menyempurnakan haji atau umrahnya, maka tidak ada fidyah dan qadha’ atasnya. Ini bermanfaat terutama bagi wanita haid yang melakukan umrah, dan khawatir ditinggal rombongannya jika harus menunggu sampai suci.

▪ Boleh bagi wanita untuk minum obat penunda haid, selama tidak membahayakannya.

▪ Berangkat ke Mekkah.

▪ Memerbanyak ucapan Talbiyah ini dengan mengeraskan suara sepanjang perjalanan ke Mekkah.

▪ Berhenti mengucapkan Talbiyah ketika menjelang Thawaf (adapun ketika haji, membaca Talbiyah sampai sebelum melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah).

▪ Mengucapkan Talbiyah secara berjamaah dengan membentuk sebuah koor, termasuk perbuatan bid’ah.

▪ Boleh memakai sandal, sepatu yang tidak menutupi mata kaki, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang dan barang-barang berharga lainnya.

▪ Boleh mencuci pakaian ihram atau mengganti dengan pakaian ihram yang lain.

▪ Sebelum masuk Mekkah, jika memungkinkan untuk mandi kembali.

▪ Hendaklah senantiasa menjalankan printah Allah ta’ala dan menjauhi larangan-Nya, seperti perbuatan syirik, kefasikan, kata-kata keji dan kotor, berdebat untuk membela kebatilan, dan lain-lain.

Larangan-Larangan Ihram

Larangan-larangan ihram ada sembilan, yaitu:

  1. Memotong rambut (seluruh badan).
  2. Memotong kuku.
  3. Menggunakan wewangian (adapun menggunakan wewangian dilakukan sebelum ihram).
  4. Mengenakan penutup kepala yang menempel (yang tidak menempel seperti payung atau berteduh di bawah atap tidak mengapa).
  5. Mengenakan pakaian yang membentuk tubuh (yang diistilahkan oleh sebagian fuqaha dengan pakaian berjahit).
  6. Membunuh hewan Tanah Haram. Bahkan diharamkan sekedar menakutinya atau membuatnya lari. Termasuk dalam hal ini mencabut atau merusak tumbuhan yang ditumbuhkan Allah ta’ala (bukan yang ditanam manusia) di Tanah Haram.
  7. Akad nikah dan melamar atau menikahkan dan melamar untuk orang lain.
  8. Berhubungan suami istri.
  9. Bercumbu antara suami istri, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Hukuman-Hukuman Bagi Yang Melanggar Larangan Ihram

Hukuman bagi yang melanggar sembilan larangan di atas terbagi lima bentuk:

  1. Melakukan pelanggaran nomor 1-5 maka hukumannya adalah membayar fidyah berupa menyembelih seekor kambing, atau memberi makan enam orang miskin (setiap orang dapat 1/2 sho’), atau berpuasa tiga hari. Boleh memilih.
  2. Melakukan pelanggaran nomor 6, maka hukumannya hendaklah menyembelih yang semisalnya dari hewan yang biasa digunakan untuk zakat, lalu bersedekah dengannya, dan tidak boleh makan darinya sedikit pun. Atau menakarnya dengan makanan dan membaginya kepada fakir miskin, setiap orang mendapat 1/2 sho’. Atau berpuasa selama sejumlah orang-orang miskin tersebut. Jika yang melanggar tidak menemukan hewan yang semisalnya, barulah ia diberi pilihan apakah memberi makan ataukah puasa.
  3. Melakukan pelanggaran nomor 7 tidak ada fidyah, namun berdosa jika dilakukan bukan karena lupa, atau tidak tahu, dan nikahnya dihukumi sebagai nikah syubhat, harus diulang setelah ihram. Dan hendaklah bertaubat kepada Allah ta’ala.
  4. Melakukan pelanggaran nomor 8 (berhubungan suami istri), apabila sebelum Tahallul Awal (pada haji), maka hajinya tidak sah, dan wajib membayar fidyah dengan menyembelih seekor unta, dan dibagikan bagi fakir miskin di Haram dan wajib mengqadha’ haji tersebut di tahun depan. Apabila dilakukan setelah Tahallul Awal, maka hajinya sah, berdasarkan Ijma’, dan baginya fidyah berupa menyembelih seekor kambing.

Adapun dalam umrah, jika pelanggarannya dilakukan sebelum Thawaf atau Sa’yu, maka batal umrahnya. Hendaklah melakukan umrah lagi sebagai ganti, yaitu keluar lagi ke Miqat, dan wajib baginya fidyah menyembelih seekor kambing. Jika dilakukan pada umrah setelah Thawaf dan Sa’yu (yakni sebelum memendekkan atau mencukur rambut) maka umrahnya sah dan wajib baginya fidyah.

  1. Melakukan pelanggaran nomor 9, jika seorang bercumbu dengan istrinya di selain kemaluannya, walaupun sampai mengeluarkan mani, maka hajinya tidak batal. Hendaklah dia menyembelih unta, jika hal itu dilakukan sebelum Tahallul Awal. Jika dilakukan setelahnya, hendaklah menyembelih kambing. Bagi wanita sama hukumanya dengan laki-laki, kecuali jika ia dipaksa untuk melakukannya.

Hukuman-hukuman di atas berlaku bagi orang yang sengaja melakukannya, baik karena butuh atau tidak. Adapun yang tidak tahu hukumnya, atau karena lupa, maka tidak ada hukuman baginya, dan hajinya tetap sah.

Kedua: Thawaf Sebanyak Tujuh Putaran Mengelilingi Kakbah

▪ Thawaf adalah rukun umrah yang kedua.

▪ Thawaf adalah ibadah khusus mengitari Kakbah sebanyak tujuh kali. Adapun Thawaf dengan mengitari selain Kakbah adalah mengada-ada dalam agama.

▪ Disunnahkan masuk Makkah di waktu siang setelah mandi, karena Nabi ﷺ melakukannya. Beliau ﷺ menginap di Dzi Tuwa, shalat Subuh dan mandi padanya, sebagaimana dalam hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Ash-Shahihain.

▪ Tiba di Masjidil Haram Makkah, pastikan telah bersuci dari najis dan hadats.

▪ Disunnahkan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai Thawaf.

▪ Masuk dengan kaki kanan dan membaca doa masuk masjid:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“A’udzu billaahil ‘azhimi wa biwajhihil kariimi wa sulthoonihil qodiimi minasy syaithoonir rojiimi”

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang Maha Mulia dan kekuaasaan-Nya yang Maha Terdahulu, dari setan yang terkutuk.” [HR. Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahih Sunan Abi Daud: 485]

Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Allaahummaftah liy abwaaba rohmatik”

Artinya: “Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]

▪ Keluar masjid membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِك

“Allaahumma inniy as-aluka min fadhlik”

Artinya: “Ya Allah aku memohon kepada-Mu anugerah dari-Mu.” [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]

Dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu membaca:

اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Allaahuma’shimniy minasy syaithoonir rohim”

Artinya: “Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” [HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ibnu Majah: 627]

▪ Lafal-lafal doa di atas berlaku umum di seluruh masjid. Tidak ada doa khusus untuk Masjidil Haram, baik ketika haji dan umrah, maupun tidak.

▪ Melakukan Idhthiba’. Caranya, selempangkan pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dan membiarkan pundak kanan terbuka, dan pundak kiri tetap tertutup.

▪ Idhtiba’ ini khusus bagi laki-laki dan khusus pada Thawaf Qudum dan Thawaf Umrah. Adapun bagi wanita dan selain pada Thawaf Qudum dan Thawaf Umrah, tidak disyariatkan.

▪ Segera menuju Hajar Aswad, menghadapnya, menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya tanpa ada suara ciuman.

▪ Jika tidak memungkinkan, hendaklah menyentuhnya dengan tangan kanan dan mencium tangan yang menyentuhnya.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka dengan tongkat dan sejenisnya, lalu mencium tongkat tersebut.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka cukup berisyarat kepadanya.

▪ Jika seseorang bisa menciumnya, maka hendaklah dia membaca: “Bismillahi Allahu Akbar” (Berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Sunan Al-Baihaqi).

▪ Jika berisyarat kepadanya hanya membaca, “Allahu Akbar” (Berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dalam Shahih Al-Bukhari) [Lihat At-Talkhis Al-Habir, 2/47]

▪ Lakukan Thawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Kakbah. Mulai dari Hajar Aswad dengan memosisikan Kakbah di sebelah kiri, sambil mengucapkan bacaan di atas ketika memulai Thawaf.

▪ Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi terhitung satu putaran.

▪ Disunnahkan berlari-lari kecil dengan mendekatkan langkah-langkah (raml) pada tiga putaran pertama (hal ini disunnahkan pada Thawaf Umrah dan Thawaf Qudum pada haji), dan berjalan pada putaran keempat sampai ketujuh.

▪ Raml dan Idhthiba’ tidak disyariatkan untuk wanita berdasarkan Ijma’.

▪ Disyariatkan sepanjang Thawaf untuk memerbanyak zikir dan doa, namun tidak ada zikir dan doa khusus yang disunnahkan, selain bacaan-bacaan yang telah kami sebutkan di atas.

▪ Tidak boleh mengeraskan suara ketika Thawaf, termasuk ketika berzikir dan berdoa saat Thawaf, agar tidak mengganggu kaum Muslimin.

▪ Tidak ada doa khusus ketika Thawaf, kecuali ketika berada di antara dua rukun, yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di Akhirat, serta jagalah kami dari azab api Neraka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

▪ Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Rukun Yamani untuk menyentuhnya tanpa dicium, sambil mengucapkan, “Bismillahi Allahu Akbar”. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya, maka tidak disyariatkan untuk berisyarat kepadanya, dan tidak pula mencucapkan Tasmiyyah dan Takbir.

▪ Tidak menyentuh Kakbah atau apapun selain hajar Aswad dan Rukun Yamani, karena tidak ada dalilnya.

▪ Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad, untuk melakukan sebagaimana ketika mulai pertama kali, sampai pun pada putaran terakhir.

▪ Tidak disyariatkan untuk mengusapkan tangan ke badan setelah mengusap Hajar Aswad maupun Rukun Yamani.

▪ Bahkan tidak disyariatkan untuk mengusap dan mencium selain Hajarul Aswad, dan mengusap selain Rukun Yamani, dan tidak pula ada bacaan tertentu ketika melewatinya.

▪ Menyentuh dan mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hanya dilakukan ketika Thawaf saja. Kecuali menyentuh Hajar Aswad juga disyariatkan setelah selesai shalat dua rakaat Thawaf di belakang Maqom Ibrahim ‘alaihissalam. Selain itu tidak disyariatkan.

▪ Janganlah berdesak-desakan untuk mencapai Hajar Aswad atau Rukun Yamani, agar tidak menyakiti kaum Muslimin. Karena mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hukumnya sunnah, sedangkan memuluskan dan tidak menyakiti kaum Muslimin adalah wajib.

▪ Juga tidak boleh bagi wanita berdesak-desakan dengan laki-laki, melainkan mereka berjalan di belakang kaum laki-laki.

▪ Tidak boleh bagi wanita membuka wajahnya jika terdapat laki-laki asing. Hendaklah dia menutupi wajahnya dengan kerudungnya (bukan dengan niqob atau kain yang menempel di wajahnya).

▪ Tidak mengapa melakukan Thawaf di belakang Zam-zam dan di seluruh masjid (termasuk di lantai atas dan atap), terutama ketika sangat ramai, namun lebih dekat ke Kakbah yang lebih afdhal. Dan ulama sepakat tidak boleh Thawaf di luar masjid.

▪ Tidak sah Thawaf di dalam Kakbah atau dalam Al-Hijr, karena Al-Hijr termasuk Kakbah.

▪ Dan penamaan Al-Hijr tersebut dengan Hijr Ismail ‘alaihissalam tidak benar, karena ia dibangun setelah meninggalnya beliau, oleh orang-orang Qurays ketika mereka kekurangan harta untuk membangun Kakbah. Demikian pula sangkaan, bahwa Nabi Ismail ‘alaihissalam dikuburkan di Al-Hijr adalah tidak benar.

▪ Jika tidak mampu Thawaf sambil berjalan, tidak mengapa mengendarai kendaraan atau digendong.

▪ Tidak disyariatkan menyentuh Maqom Ibrahim, dinding Kakbah dan kiswahnya.

▪ Berdoa kepada Kakbah adalah syirik besar.

▪ Tidak ada lafal niat Thawaf.

▪ Jika terjadi keraguan pada jumlah putaran Thawaf, hendaklah diambil persangkaan yang paling kuat. Jika tidak memiliki persangkaan kuat, maka ambil hitungan yang paling sedikit, lalu menambah putaran yang masih kurang.

▪ Jika telah dikumandangkan iqomah shalat, hendaklah memutuskan Thawaf dan melakukan shalat. Setelah shalat dilanjutkan kembali, tanpa harus memulai dari awal kembali. Kecuali jika terpaut waktu yang panjang, maka hendaklah dimulai dari awal, sebab Muwaalah (dilakukan secara bersambung) adalah syarat Thawaf.

▪ Jika batal wudhu’, maka boleh terus melanjutkan Thawaf, karena tidak ada dalil shahih dan tegas yang mengharuskan berwudhu’.

▪ Namun lebih afdhal berwudhu’ kembali dan terus melanjutkan Thawaf, tanpa harus memulai dari awal. Kecuali jika terpaut waktu yang lama, maka hendaklah mulai dari awal.

▪ Menyentuh wanita dengan sengaja maupun tanpa sengaja tidak membatalkan wudhu’. Namun haram hukumnya menyentuh dengan sengaja, dan perbuatan haram lebih diharamkan lagi di negeri yang suci, atau di waktu-waktu yang mulia, seperti bulan-bulan haji, terutama, 10 hari pertama Dzulhijjah dan Ramadan.

▪ Setelah Thawaf, tutup kembali pundak kanan dengan pakaian ihram bagian atas seperti sebelum Thawaf.

▪ Pergi ke Maqom Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika membangun Kakbah) lalu membaca:

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Wattakhidzuu mim-maqoomi Ibraahiima mushollaa”

“Dan jadikanlah bagian dari Maqom Ibrahim itu sebagai tempat shalat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

▪ Lalu shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim walaupun tidak tepat di belakangnya.

▪ Jika tidak memungkinkan, maka lakukan shalat di mana saja di Masjidil Haram. Lakukan shalat ini, walaupun bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang untuk shalat. Jika lupa mengerjakannya, maka tidak ada kewajiban fidyah.

▪ Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun. Rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash. Dan tidak ada doa khusus sebelum dan selesai shalat.

▪ Menghalangi orang yang lewat di depan kita ketika sedang shalat hendaklah dilakukan, dan tidak ada dalil yang mengecualikan Masjidil Haram.

▪ Disunnahkan shalat yang ringan, tidak memerpanjang bacaan, agar tidak menyulitkan orang lain.

▪ Tidak disunnahkan menyentuh atau mencium Maqom Ibrahim ‘alaihissalam.

▪ Berdoa kepada Maqom Ibrahim atau mengharapkan berkah darinya termasuk syirik besar.

▪ Lalu minum Zam-zam dan siramkan sebagiannya ke kepala.

▪ Air Zam-zam memiliki banyak keistimewaan, dan disunnahkan bagi jamaah haji dan umrah untuk mengambilnya sebagai bekal dan hadiah.

▪ Disunnahkan berdoa di Multazam, yaitu tempat yang berada di antara Hajarul Aswad dan pintu Kakbah. Dan waktu berdoa di Multazam boleh kapan saja, karena tidak ada dalil yang membatasi waktunya. Dan diriwayatkan sebagian sahabat menyandarkan dadanya, wajahnya, dan dua lengannya ke Multazam.

▪ Jika memungkinkan, untuk kembali menyentuh atau mencium Hajar Aswad setelah shalat dan minum Zam-zam. Jika tidak, maka tidak perlu berisyarat kepadanya.

▪ Lalu pergi ke bukit Shafa untuk melakukan Sa’yu.

▪ Hendaklah bersegera melakukan Sa’yu setelah Thawaf, walaupun bersegera bukan syarat. Sehingga boleh, misalkan seseorang Thawaf di pagi hari, lalu Sa’yu di sore hari.

Ketiga: Sa’yu Sebanyak Tujuh Putaran antara Shafa dan Marwah

▪ Sa’yu adalah rukun pada haji dan umrah, dan tidak ada dalil melakukan Sa’yu selain pada haji dan umrah. Berbeda dengan Thawaf, boleh melakukannya kapan saja.

▪ Jika telah mendekati Shafa hendaklah membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللهِ

“Innas shofaa wal marwata min sya’airillaah”

Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-syiar Allah.” (Al-Baqarah: 158)

Lalu membaca:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Abdau bimaa badaallaahu bihi”

Artinya: “Aku memulai (Sa’yu), dengan apa yang dimulai oleh Allah, (yakni disebutkan dulu Shafa lalu Marwah).” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

▪ Masih di Shafa, jika memungkinkan untuk menaikinya, lalu menghadap Kakbah dan mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan bala tentara kafir, tanpa bantuan siapa pun.”

Dibaca tiga kali, setiap kali selesai salah satunya, disunnahkan untuk berdoa kepada Allah ta’ala sesuai keinginan kita, sambil mengangkat tangan, berdasarkan hadis Jabir radhiyallahu’anhu dalam riwayat Muslim.

▪ Setelah itu berjalan ke Marwah. Ketika lewat di antara dua tanda hijau, langkah dipercepat. Setelah melewati tanda tersebut, hendaklah kembali berjalan seperti biasa.

▪ Bagi wanita tetap berjalan seperti biasa, meskipun pada dua tanda hijau, berdasarkan Ijma’ ulama, sebagaimana yang dinukil Ibnul Mundzir rahimahullah. Adapun berlarinya Hajar Ummu Ismail ‘alaihimassalam ketika dalam keadaan beliau seorang diri, sehingga aman dari fitnah.

▪ Boleh naik kendaraan dalam melakukan Sa’yu jika terdapat Masyaqqoh (beban yang berat).

▪ Tiba di Marwah telah dianggap melakukan satu putaran (kembalinya ke Shafa juga terhitung satu putaran).

▪ Berdiri di Marwah dan lakukan seperti yang dilakukan di Shafa.

▪ Setelah itu kembali lagi ke Shafa, dan seterusnya, sampai tujuh putaran yang berakhir di Marwah.

▪ Boleh melakukan Sa’yu di lantai atas.

▪ Disyariatkan untuk memerbanyak zikir dan doa ketika melakukan Sa’yu, di antaranya doa yang dibaca oleh sebagian Salaf seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhum:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَم

“Allaahummaghfir liy wa Antal A’azzul Akrom”

Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, dan Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.” [HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahumullah dalam Mansak beliau, hal. 28]

▪ Menghindari perkataan dosa dan perkataan sia-sia.

▪ Disunnahkan melakukan Sa’yu dalam keadaan suci. Jika dilakukan dalam keadaan berhadats, maka tidak mengapa. Sehingga jika seorang wanita haid setelah Thawaf, boleh baginya melakukan Sa’yu.

▪ Tidak mengapa jika seseorang melakukan Sa’yu sebelum Thawaf, karena tidak tahu atau lupa.

▪ Jika lupa jumlah putaran, hendaklah mengambil persangkaan jumlah yang paling kuat. Jika tidak memiliki persangkaan kuat, maka hendaklah mengambil jumlah yang paling kecil.

▪ Jika Sa’yu terputus karena shalat atau karena suatu hajat, boleh melanjutkan kembali, tanpa harus mengulang dari awal, sebab Al-Muwaalah tidak dipersyaratkan menurut pendapat yang paling kuat. Akan tetapi jika seseorang memulainya dari awal lagi, itu lebih baik, agar lebih hati-hati. Terlebih jika terpaut waktu yang lama, hendaklah dimulai dari awal lagi.

Keempat: Mencukur Atau Memendekkan Rambut

▪ Mencukur atau memendekkan rambut termasuk kewajiban haji dan umrah.

▪ Setelah melakukan Sa’yu, segera mencukur atau memendekkan rambut secara merata.

▪ Tidak cukup mencukur atau memendekkan sebagian rambut, namun harus seluruh rambut secara merata.

▪ Mencukur lebih afdhal dibanding memendekkan (karena Nabi ﷺ mendoakan tiga kali untuk yang mencukur dan satu kali untuk yang memendekkan saja, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

▪ Kecuali yang melakukan umrah untuk haji Tamattu’, lebih afdhal baginya memendekkan, untuk kemudian mencukur pada 10 Dzulhijjah, jika waktu umrahnya sudah mendekati 10 Dzulhijjah.

▪ Bagi wanita hanya memotong pada ujung-ujung rambutnya sepanjang ujung jari.

▪ Hendaklah tetap mencukur atau memendekkan rambut, meskipun telah niat berkurban, dan telah masuk 1 Dzulhijjah.

▪ Dengan ini, telah masuk pada Tahallul, yakni telah halal semua yang tadinya diharamkan ketika ihram. Selesailah rangkaian ibadah umrah.

Walhamdulillahi Rabbil’alamiin.

Rujukan

  1. Catatan pribadi dari pelajaran fikih pada kitab Ad-Durorul Bahiyyah karya Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah di Al-Madrasah As-Salafiyyah Depok yang disampaikan Al-Ustadz Abdul Barr hafizhahullah, 1430 H.
  2. Al-Ikhtiyaraat Al-Fikihiyyah fi Masaailil ‘Ibaadat wal Mu’aamalaat min Fatawa Samaahatil ‘Allaamah Al-Imam ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz –rahimahullah-, ikhtaaroha Khalid bin Su’ud Al-‘Ajmi hafizhahullah, Bab Shifatul Hajj, hal. 322-352. Cetakan ke-6, 1431 H.
  3. Bayaanu maa yaf’aluhul Haaj wal Mu’tamir, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, terbitan Kantor Pusat Haiah Al-Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar, 1430 H.
  4. Tabshirun Naasik bi Ahkaamil Manasik ‘ala Dhauil Kitab was Sunnah wal Ma’tsur ‘anis Shahaabah, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah, cetakan ke-3, 1430 H.
  5. Jami’ul Manasik, karya Asy-Syaikh Sulthan bin AbdurRahman Al-‘Ied hafizhahullah, cetakan ke-3, 1427 H.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805660969583387:0

,

HUKUM-HUKUM PUASA BAGI MUSAFIR

HUKUM-HUKUM PUASA BAGI MUSAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi

HUKUM-HUKUM PUASA BAGI MUSAFIR

Pertama: Keringanan Bagi Musafir

Musafir, orang yang melakukan perjalanan jauh, dibolehkan berbuka dan tidak diwajibkan berpuasa, berdasarkan dalil Alquran, As-Sunnah dan ijma’. Allah ta’ala berfirman:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain (di luar Ramadan).” [Al-Baqoroh: 184]

Dan firman Allah ta’ala:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqoroh: 185]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ، أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنِ الْمُسَافِرِ، وَعَنِ الْمُرْضِعِ، أَوِ الْحُبْلَى

“Sesungguhnya Allah ta’ala meringankan sebagian shalat atau separuh shalatdan puasa, dari musafir dan dari wanita menyusui, atau wanita hamil.” [HR. Abu Daud dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 2083]

Al-‘Allaamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وقد أجمع العلماء أنه يجوز للمسافر الفطر

“Ulama sepakat, bahwa dibolehkan bagi musafir untuk berbuka.” [Asy-Syarhul Mumti’, 6/326]

Kedua: Bolehkah Musafir Berpuasa?

Kondisinya ada tiga:

1) Apabila musafir berpuasa akan membahayakannya, atau sangat memberatkannya, maka hukumnya haram, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ الله كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [An-Nisa’: 29]

Dan firman Allah ta’ala:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” [Al-Baqoroh: 195]

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ، فَصَامَ النَّاسُ، ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ، حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ، ثُمَّ شَرِبَ، فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ، فَقَالَ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ

“Bahwa Rasulullah ﷺ keluar menuju Makkah di tahun Fathu Makkah pada waktu Ramadan. Beliau ketika itu sedang berpuasa. Sampai tiba di bukit lembah Al-Ghamim, dan manusia ketika itu juga berpuasa. Maka beliau meminta segelas air, lalu mengangkatnya, agar manusia dapat melihatnya. Kemudian beliau minum. Maka dikatakan kepada beliau setelah itu: Sesungguhnya sebagian manusia masih ada yang berpuasa. Beliau ﷺ bersabda: Mereka adalah orang-orang yang bermaksiat, mereka adalah orang-orang yang bermaksiat.” [HR. Muslim]

2) Apabila musafir berpuasa akan memberatkannya, namun ia masih mampu untuk berpuasa, maka hukumnya makruh, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ، فَقَالَ مَا هَذَا؟ فَقَالُوا: صَائِمٌ، فَقَالَ لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Rasulullah ﷺ pernah melihat kerumunan orang, dan seseorang yang dinaungi (karena kepayahan). Beliau ﷺ pun bersabda: Ada apa dengannya? Mereka berkata: Dia sedang puasa. Maka beliau ﷺ bersabda: Tidak termasuk kebaikan, melakukan puasa ketika safar.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat An-Nasaai:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ، وَعَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ اللهِ الَّتِي رَخَّصَ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا

“Sesungguhnya tidak termasuk kebaikan, kalian berpuasa ketika safar. Hendaklah terhadap keringanan dari Allah yang Dia berikan kepada kalian, terimalah.” [HR. An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubro dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1054]

Dan sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai keringanan-keringanan dari-Nya diambil, sebagaimana Allah membenci kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 1886]

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

إذا اشتد الحر، وعظمت المشقة، تأكد الفطر، وكره الصوم للمسافر

“Apabila sangat panas dan berat bebannya, maka dimakruhkan bagi musafir untuk berpuasa.”[Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 15/237]

3) Apabila musafir berpuasa tidak membahayakannya dan tidak pula memberatkannya, atau kondisinya sama saja, baik berbuka atau berpuasa tidak ada bedanya, maka boleh baginya untuk berpuasa dan boleh berbuka, berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

سَأَلَ حَمْزَةُ بْنُ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيُّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِر

“Hamzah bin Amr Al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang puasa ketika safar. Beliau ﷺ bersabda: Kalau kamu mau berpuasa silakan, dan kalau kamu mau berbuka, juga silakan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Juga hadis Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ، وَلاَ المُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

“Kami pernah melakukan safar bersama Nabi ﷺ. Maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak puasa, dan orang yang tidak puasa tidak mencela orang yang berpuasa.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

ومن صام فلا حرج عليه إذا لم يشق عليه الصوم، فإن شق عليه الصوم كره له ذلك

“Barang siapa berpuasa, maka tidak ada dosa atasnya, apabila puasa tidak menyulitkannya. Namun apabila memberatkannya, maka dimakruhkan baginya berpuasa.” [Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 15/237]

Ketiga: Bagi Musafir yang Boleh Berbuka dan Boleh Berpuasa, Manakah yang Lebih Afdhal?

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah menguatkan, bahwa yang afdhal baginya adalah berpuasa karena empat alasan: [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/330 dan 6/343]

1) Rasulullah ﷺ pernah berpuasa ketika safar. Sahabat yang Mulia Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِي يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَابْنِ رَوَاحَةَ

“Kami keluar bersama Nabi ﷺ dalam sebagian safar beliau di hari yang sangat panas, sampai seorang laki-laki meletakkan tangannya di atas kepala karena sangat panasnya, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang berpuasa selain Nabi ﷺ dan Abdullah bin Rowahah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

2) Berpuasa lebih cepat membebaskan diri dari kewajiban.

3) Berpuasa lebih mudah ketika dilakukan bersama-sama kebanyakan kaum Muslimin daripada melakukannya sendiri.

4) Berpuasa pada waktu Ramadan lebih afdhal.

Keempat: Jarak Safar yang Membolehkan Buka Puasa

Jarak safar yang membolehkan seseorang berbuka puasa adalah jarak safar yang membolehkannya mengqoshor shalat, yaitu meringkas shalat yang tadinya empat rakaat menjadi dua rakaat. Berapa jarak minimalnya?

Pendapat Pertama: Mayoritas ulama berpendapat, jarak minimalnya adalah kurang lebih 80 KM. Pendapat ini yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dan Al-Lajnah Ad-Daimah. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 10/203, no. 7652]

Pendapat Kedua: Sebagian ulama berpendapat, bahwa jarak safar dikembalikan kepada kebiasaan (‘urf) manusia. [Sebagai faidah seputar permasalahan ‘urf, lihat risalah ringkas kami yang berjudul “Al-‘Urf, Haqiqatuhu, wa Hujjiyyatuhu wa Tathbiqotuh”] Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 24/38-44] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumallah. [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 15/265 no. 1098]

Pendapat yang kuat, insya Allah, adalah pendapat kedua, karena tidak ada dalil yang shahih lagi sharih (tegas), yang menentukan jarak safar. Maka hal ini dikembalikan kepada kebiasaan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كُلُّ اسْمٍ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ فِي اللُّغَةِ وَلَا فِي الشَّرْعِ فَالْمَرْجِعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ فَمَا كَانَ سَفَرًا فِي عُرْفِ النَّاسِ فَهُوَ السَّفَرُ الَّذِي عَلَّقَ بِهِ الشَّارِعُ الْحُكْمَ

“Setiap nama yang tidak memiliki batasan dalam Bahasa, dan tidak pula dalam syariat, maka rujukan untuk menentukannya dikembalikan kepada kebiasaan. Maka apa yang dianggap safar menurut kebiasaan manusia, itulah safar yang dikaitkan dengan hukum oleh Penetap Syariat.” [Majmu’ Fatawa, 24/40-41]

Apabila Terjadi Perbedaan Kebiasaan Manusia dalam Penentuan Jarak Safar

Apabila seseorang sulit memastikan kebiasaan manusia dalam penentuan satu jarak safar karena perbedaan kebiasaan mereka, maka hendaklah kembali kepada pendapat Jumhur Ulama, yaitu 80 KM. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ولا حرج عند اختلاف العرف فيه أن يأخذ الإنسان بالقول بالتحديد؛ لأنه قال به بعض الأئمة والعلماء المجتهدين, فليس عليهم به بأس إن شاء الله تعالى, أما مادام الأمر منضبطاً فالرجوع إلى العرف هو الصواب

“Tidak mengapa ketika terjadi perbedaan kebiasaan dalam jarak tertentu, sehingga seseorang mengambil pendapat yang menentukan jarak safar, karena itu adalah pendapat sebagian imam dan ulama mujtahid, maka tidak mengapa insya Allah. Namun apabila perkaranya dapat dipastikan dengan kebiasaan, maka dikembalikan kepada kebiasaan, itulah yang benar.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 15/265 no.1098]

Kelima: Kapan Musafir Mulai Berbuka?

Musafir baru dibolehkan berbuka ketika ia telah berstatus sebagai musafir. Misalkan seseorang berniat di malam hari untuk safar di siang hari, maka tidak boleh ia masuk waktu pagi dalam keadaan tidak berpuasa, karena ia baru meniatkan safar, belum melakukan safar. Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:

وَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ فِي الْمُسَافِرِ فِي رَمَضَانَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُبَيِّتَ الْفِطْرَ لِأَنَّ الْمُسَافِرَ لَا يَكُونُ مُسَافِرًا بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا يَكُونُ مُسَافِرًا بِالْعَمَلِ وَالنُّهُوضِ فِي سَفَرِهِ

“Para Fuqoha sepakat dalam permasalahan musafir pada waktu Ramadan, bahwa ia TIDAK BOLEH bermalam dalam keadaan berniat tidak berpuasa, karena musafir tidak menjadi musafir dengan sekedar berniat safar, tetapi dengan perbuatan dan mulai melakukan safarnya.” [At-Tamhid, 22/49]

Keenam: Di Mana Musafir Boleh Berbuka?

Pendapat Pertama: Apabila sudah meninggalkan perumahan kampungnya. Ini yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah. [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/346]

Pendapat Kedua: Apabila sudah siap melakukan safar, walau masih berada di kampungnya. Ini yang dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. [Lihat risalah beliau yang berjudul “Tashih Hadis Ifthoris Shooim Qobla Safarihi wa Ba’dal Fajri”]

Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat yang kedua, berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya dari Al-Imam Muhammad bin Ka’ab rahimahullah, beliau berkata:

أَتَيْتُ أَنَسَ بْنِ مَالِكٍ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ سَفَرًا، وَقَدْ رُحِلَتْ لَهُ رَاحِلَتُهُ، وَلَبِسَ ثِيَابَ السَّفَرِ، فَدَعَا بِطَعَامٍ فَأَكَلَ، فَقُلْتُ لَهُ: سُنَّةٌ؟ قَالَ: سُنَّةٌ ثُمَّ رَكِبَ

“Aku mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada waktu Ramadan dan beliau ingin melakukan safar. Kendaraannya pun telah disiapkan, dan beliau telah mengenakan pakaian safar. Maka beliau meminta makanan, lalu memakannya. Aku pun berkata kepadanya: Apakah ini sunnah? Beliau berkata: Ya sunnah. Kemudian beliau naik kendaraan.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi, 1/419]

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata:

وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ إِلَى هَذَا الحَدِيثِ، وَقَالُوا: لِلْمُسَافِرِ أَنْ يُفْطِرَ فِي بَيْتِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلاَةَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ جِدَارِ الْمَدِينَةِ أَوِ القَرْيَةِ، وَهُوَ قَوْلُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الحَنْظَلِيِّ

“Sebagian ulama yang berdalil dengan hadis ini, mereka berkata: Boleh bagi musafir untuk berbuka di rumahnya sebelum keluar, tetapi tidak boleh baginya meng-qoshor shalat sampai ia keluar dari perumahan kotanya atau kampungnya. Ini adalah pendapat Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali.” [Sunan At-Tirmidzi, 2/155]

Ketujuh: Apabila Musafir Singgah di Suatu Negeri, Masih Bolehkah Baginya untuk Tidak Puasa?

Pendapat Pertama: Bolehnya berbuka hanya bagi musafir yang tinggal sementara di suatu negeri dalam waktu kurang dari empat hari. Apabila lewat empat hari, maka wajib baginya puasa, dan tidak boleh lagi meng-qoshor shalat. Pendapat ini yang dikuatkan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 12/276]

Pendapat Kedua: Selama apa pun boleh baginya berbuka selama ia tidak berniat mukim. Pendapat ini yang dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 24/18]

Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat yang kedua, karena tidak ada dalil shahih dan sharih yang menunjukkan penentuan batas waktu bagi musafir yang singgah di satu negeri. Maka selama ia tidak menetap, statusnya masih musafir, berlaku baginya hukum-hukum musafir terkait shalat dan puasa. Dan terdapat banyak riwayat para sahabat dan tabi’in yang tinggal sementara di satu negeri selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun dalam keadaan meng-qoshor shalat, karena mereka tidak berniat untuk menetap atau bermukim.

Kedelapan: Apakah Orang yang Melakukan Safar dengan Pesawat Masih Boleh Berbuka?

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

ولا حرج فيه سواء كانت وسائل النقل مريحة أو شاقة لإطلاق الأدلة

“Tidak apa-apa bagi musafir untuk berbuka. Sama saja apakah sarana transportasinya nyaman atau tidak nyaman, berdasarkan keumuman dalil-dalil (tidak memberikan pengecualiaan terhadap jenis transportasi tertentu).” [Majmu’ Al-Fatawa, 15/236]

Kesembilan: Apabila Musafir Kembali Pulang di Siang Hari dalam Keadaan Tidak Berpuasa, Bolehkah Baginya Makan, Minum dan Berhubungan Suami Istri?

Tidak sah baginya berpuasa apabila telah masuk waktu pagi dalam keadaan berbuka, atau tadinya berpuasa kemudian telah berbuka karena safar. Tetapi bolehkah ia makan, minum dan berhubungan suami istri apabila telah sampai ke rumahnya?

Pendapat Pertama: Tidak boleh karena statusnya bukan lagi musafir. Pendapat ini dikuatkan Al-Lajnah Ad-Daimah. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/210 no. 1954]

Pendapat Kedua: Boleh karena ia berbuka dengan sebab yang dibolehkan syariat. Pendapat ini dikuatkan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah. [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/409]

Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat kedua, karena tidak ada dalil shahih lagi sharih yang mengharuskannya untuk menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri dalam keadaan ia tidak berpuasa. Dan terdapat beberapa riwayat dari Salaf yang menguatkan pendapat ini. Sahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:

من أفطر أول النهار فليفطر آخره

“Barang siapa dibolehkan berbuka di awal hari, maka boleh baginya berbuka di akhirnya.”[Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 3/54]

Al-Imam Malik dan Asy-Syafi’i rahimahumallah berkata:

وَلَوْ قَدِمَ مُسَافِرٌ فِي هَذِهِ الْحَالِ فَوَجَدَ امْرَأَتَهُ قَدْ طَهُرَتْ جَازَ لَهُ وَطْؤُهَا

“Andai seorang musafir kembali dalam keadaan seperti ini, lalu ia mendapati istrinya baru bersih dari haid (dan tidak berpuasa karena haid), maka boleh baginya untuk menggauli istrinya tersebut.” [At-Tamhid, 22/53]

Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ubaid, dari Jabir bin Zaid rahimahumullah:

أَنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَوَجَدَ الْمَرْأَةَ قَدِ اغْتَسَلَتْ مِنْ حَيْضَتِهَا فَجَامَعَهَا

“Bahwa beliau ketika pulang dari safar pada waktu Ramadan, mendapati istrinya baru mandi besar dari haidnya, maka beliau menggaulinya.” [At-Tamhid, 22/53]

Peringatan: Suami istri yang melakukan safar bersama pada waktu Ramadan boleh berhubungan suami istri, karena tidak wajib bagi mereka berpuasa. Akan tetapi bila mereka melakukan safar hanya untuk mendapatkan keringanan berhubungan suami istri, maka dosa mereka lebih besar, karena mereka telah membatalkan puasa dengan berjima’ dan melakukan tipu daya dalam syariat. Dan wajib atas mereka untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dan membayar kaffaroh, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah ta’ala.

Kesepuluh: Apa Kewajiban Musafir yang Tidak Berpuasa?

Kewajibannya hanyalah meng-qodho’ sejumlah hari yang ia tidak berpuasa padanya pada waktu Ramadan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqoroh: 185]

Termasuk orang-orang yang bekerja dalam keadaan safar seperti supir, pilot dan yang semisalnya, maka boleh bagi mereka untuk berbuka dan meng-qoshor shalat, dan kewajiban mereka hanyalah meng-qodho’ puasa setelah bulan Ramadan, selain di hari-hari yang terlarang berpuasa, yaitu dua hari raya dan hari-hari Tasyriq. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/212.]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber:

https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805016959647788:0

http://sofyanruray.info/hukum-hukum-puasa-bagi-musafir/

,

DI MANA MUSAFIR BOLEH BERBUKA PUASA?

DI MANA MUSAFIR BOLEH BERBUKA PUASA?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

DI MANA MUSAFIR BOLEH BERBUKA PUASA?

Mengenai batasan tempat di mana musafir boleh berbuka, maka pendapat yang kuat, insya Allah, adalah pendapat yang mengatakan, apabila sudah siap melakukan safar, walau masih berada di kampungnya. Dan pendapat inilah yang dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. [Lihat risalah beliau yang berjudul “Tashih Hadis Ifthoris Shooim Qobla Safarihi wa Ba’dal Fajri”]

Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya dari Al-Imam Muhammad bin Ka’ab rahimahullah, beliau berkata:

أَتَيْتُ أَنَسَ بْنِ مَالِكٍ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ سَفَرًا، وَقَدْ رُحِلَتْ لَهُ رَاحِلَتُهُ، وَلَبِسَ ثِيَابَ السَّفَرِ، فَدَعَا بِطَعَامٍ فَأَكَلَ، فَقُلْتُ لَهُ: سُنَّةٌ؟ قَالَ: سُنَّةٌ ثُمَّ رَكِبَ

“Aku mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada waktu Ramadan, dan beliau ingin melakukan safar. Kendaraannya pun telah disiapkan, dan beliau telah mengenakan pakaian safar. Maka beliau meminta makanan, lalu memakannya. Aku pun berkata kepadanya: Apakah ini sunnah? Beliau berkata: Ya sunnah. Kemudian beliau naik kendaraan.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi, 1/419]

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata:

وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ إِلَى هَذَا الحَدِيثِ، وَقَالُوا: لِلْمُسَافِرِ أَنْ يُفْطِرَ فِي بَيْتِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلاَةَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ جِدَارِ الْمَدِينَةِ أَوِ القَرْيَةِ، وَهُوَ قَوْلُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الحَنْظَلِيِّ

“Sebagian ulama yang berdalil dengan hadis ini, mereka berkata: Boleh bagi musafir untuk berbuka di rumahnya sebelum keluar, tetapi tidak boleh baginya meng-qoshor sholat sampai ia keluar dari perumahan kotanya atau kampungnya. Ini adalah pendapat Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali.” [Sunan At-Tirmidzi, 2/155]

Sumber:
https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805016959647788:0
http://sofyanruray.info/hukum-hukum-puasa-bagi-musafir/

,

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DALIL URF UNTUK MENENTUKAN BATASAN JARAK SAFAR

Sebagian ulama berpendapat, bahwa jarak safar dikembalikan kepada kebiasaan (‘urf) manusia. Inilah pendapat yang kuat, insya Allah, karena tidak ada dalil yang shahih lagi sharih (tegas), yang menentukan jarak safar. Maka hal ini dikembalikan kepada kebiasaan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كُلُّ اسْمٍ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ فِي اللُّغَةِ وَلَا فِي الشَّرْعِ فَالْمَرْجِعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ فَمَا كَانَ سَفَرًا فِي عُرْفِ النَّاسِ فَهُوَ السَّفَرُ الَّذِي عَلَّقَ بِهِ الشَّارِعُ الْحُكْمَ

“Setiap nama yang tidak memiliki batasan dalam bahasa, dan tidak pula dalam syariat, maka rujukan untuk menentukannya dikembalikan kepada kebiasaan. Maka apa yang dianggap safar menurut kebiasaan manusia, itulah safar yang dikaitkan dengan hukum oleh Penetap Syariat.” [Majmu’ Fatawa, 24/40-41]

Sumber:
https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/805016959647788:0
http://sofyanruray.info/hukum-hukum-puasa-bagi-musafir/

, ,

MENGUSAP KEDUA KHUF

MENGUSAP KEDUA KHUF

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatWudhuNabi
#DakwahSunnah
MENGUSAP KEDUA KHUF

Matan Kitab: Mengusap Kedua Khuf

(فصل) والمسح على الخفين جائز بثلاث شرائط أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما ويمسح المقيم يوما وليلة والمسافر ثلاثة أيام بلياليهن وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين فإن مسح في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام أتم مسح مقيم.ويبطل المسح بثلاثة أشياء بخلعهما وانقضاء المدة وما يوجب الغسل.

Mengusap khuf (kaus kaki khusus) itu boleh dengan 3 (tiga) syarat:

  • Memakai khuf setelah suci dari hadats kecil dan hadats besar.
  • Khuf (kaus kaki) menutupi mata kaki.
  • Dapat dipakai untuk berjalan.

Orang mukim dapat memakai khuf selama satu hari satu malam (24 jam). Sedangkan musafir selama 3 (tiga) hari 3 malam.

Waktunya dihitung mulai dari saat hadats (kecil) setelah memakai khuf. Apabila memakai khuf di rumah kemudian bepergian, atau mengusap khuf di perjalanan kemudian mukim, maka dianggap mengusap khuf untuk mukim.

Mengusap khuf batal oleh 3 (tiga) hal:

  • Melepasnya,
  • Habisnya masa,
  • Hadats besar.

[Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’]

Apa yang Dimaksud dengan Al-Khuf?

Al-khuf adalah bentuknya seperti kaus kaki namun dia terbuat dari kulit yang tebal dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung kaki. Dan terkadang sampai pertengahan betis ataupun di bawah itu.

Dan yang semakna dengan khuf tadi adalah Al-Jawrab (kaus kaki) yang terbuat dari kain katun atau kaus atau semisalnya. Dan juga termasuk makna dari khuf adalah sepatu.

Hukum Mengusap Khuf Atau yang Semakna Dengannya

قال المصنف:

((والمسح على الخفين جائز))

((Dan mengusap kedua khuf (atau yang semakna) adalah boleh))

Mengusap kedua khuf ini adalah sebagai ganti dari mencuci kaki tatkala seseorang berwudhu’. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’iyyah, para ulama madzhab, dan juga keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahkan dikatakan ini adalah ijma’.

Yang menyelisihi pendapat ini adalah kelompok yang sesat yang menyimpang dari agama, yaitu kelompok Syi’ah dan kelompok Khawarij, yang menyatakan bahwa mengusap khuf atau yang sejenisnya adalah mutlak dilarang.

Pendapat mereka ini bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ, di antaranya dalam hadis Jabir radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau menceritakan:

أنَّه رأى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ يَمسحُ على الخُفَّينِ

“Bahwasanya beliau melihat Nabi ﷺ mengusap kedua khufnya.” [HR. Muslim]

Begitu pula hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

لَوْ كان الدِّينُ بالرأي لكان أسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهِ…

“Seandainya agama ini adalah dengan akal saja, maka bagian bawah dari khuf (sepatu) itu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya…”

Kenapa? Karena bagian bawahlah bagian yang kotor, kenapa yang diusap bagian atasnya? Akan tetapi agama ini adalah dengan dalil dari Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, kata ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

… وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“…Dan sungguh saya melihat Rasulullah ﷺ, beliau mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” [HR. Abu Dawud dan Daruquthni dan sanadnya dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Syarat Diperbolehkannya Seseorang Untuk Mengusap Kedua Khufnya

قال المصنف:

((بثلاث شروط))

((Dengan memenuhi tiga syarat))

Di sini Penulis menyebutkan tiga syarat dan di sana ada syarat-syarat yang lainnya, di antaranya bahwasanya:

✓Khuf/kaus kaki/sepatu yang digunakan itu terbuat dari bahan yang suci.

Kita akan sebutkan syarat yang disebutkan oleh Mushannif.

  • Syarat (1)

((أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة))

((Memakai dua khuf, setelah sempurna dari thaharah/berwudhu’))

Seseorang, setelah selesai berwudhu’ kemudian memakai khufnya, maka dia diperbolehkan untuk mengusap khufnya, apabila nanti batal kemudian berwudhu’, karena dia memakai khufnya dalam keadaan suci. Dan ini sebagaimana yang disebutkan hadis Mughīrah bin Syu’bah, beliau mengatakan:

سكبت لرسول الله صلى الله عليه وسلم الوضوء فلما انتهيت إلى الخفين أهويت لأنزعهما فقال دعهما فإني أدخلتهما طاهرتان فمسح عليهما

“Saya menuangkan air dari bejana kepada Rasulullah ﷺ untuk berwudhu’.

Manakala sampai pada bagian kedua khufnya, saya pun membungkuk hendak melepaskan keduanya.

Maka beliau ﷺ pun bersabda: “Tinggalkanlah keduanya (maksudnya jangan dilepas), karena saya memasukkan kedua kaki tersebut dalam keadaan suci.” [HR. Al-Khamsah]

  • Syarat (2)

((وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين))

((Dan harus menutup bagian kaki yang wajib dicuci))

⇒ Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan kesepakatan aimmah madzhab, bahwasanya khuf (atau yang semakna) yang dipakai, maka dia harus menutupi sampai mata kaki, karena bagian yang wajib dicuci adalah sampai mata kaki.

Dan pendapat yang kedua mengatakan bahwasanya:

◆ Tidak harus sampai menutupi mata kaki, seperti sepatu yang dipakai tidak sampai menutupi mata kaki, minimal adalah sebagian besar menutupi kakinya.

⇒ Ini adalah pendapat Ibnu Hazm yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.

  • Syarat (3)

((وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما))

((Kedua khuf ini bisa dipakai berjalan di atasnya))

Yaitu dibuat dari bahan yang bisa dipakai untuk berjalan di atasnya seperti kulit, kain yang kuat atau yang semisalnya.

Apabila dibuat dari bahan yang akan tercabik-cabik (robek) tatkala diusap, maka tidak diperkenankan untuk mengusap khuf tadi.

Waktu yang Diperbolehkan Untuk Mengusap Khuf (Atau yang Semakna dengan Khuf)

قال المصنف:

((و يمسح المقيم يوما و ليلة و المسافر ثلاثة أيام بلياليهن))

((Orang yang mukim/tinggal/menetap, dia diberi rukshah untuk mengusap selama satu hari satu malam. Sedangkan untuk musafir/orang yang bepergian dia diberi rukshah selama tiga hari tiga malam))

Ini pendapat Syafi’iyyah dan Jumhur Mayoritas Ulama, kecuali Malikiyyah. Dalil Jumhur, bahwasanya di sana ada hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

جَعَلَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah ﷺ menetapkan waktu untuk mengusap bagi orang-orang yang safar (orang yang bepergian/musafir) selama tiga hari tiga malam. Dan untuk orang-orang yang tinggal (menetap), diberi rukshah satu hari satu malam.” [HR. Muslim]

Kapan Mulai Dihitung Waktu Untuk Mengusap Khuf Tersebut?

قال المصنف:

((وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين))

((Waktu untuk mengusap mulai terhitung, yaitu pada saat hadats yang pertama kali setelah menggunakan kedua khuf tadi))

Jadi misalnya, seseorang berwudhu’ dan memakai khuf/kaus kaki/sepatu pada jam 1 siang setelah Zuhur, kemudian dia berhadats pada jam 4 sore maka waktu rukshah terhitung dari jam 4 sore tadi.

Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah dan riwayat yang masuk dari Hanabilah.

◆ Dan di sana ada pendapat kedua yang merupakan pendapat yang rajih dan kuat, adalah terhitung sejak awal bersuci setelah hadats yang pertama.

Misal contoh di atas (contoh sebelumnya).

  • Dia batal pada jam 4 sore.

⇒ Ini adalah hadats yang pertama setelah memakai khufnya

  • Kemudian bersuci jam 6 sore.

⇒ Ini adalah dia berwudhu’ yang pertama kali. Maka yang terhitung adalah yang jam 6 sore.

Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Imam Nawawi Asy-Syafi’i, Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin. Dalilnya adalah suatu riwayat dari Abi ‘Utsman An-Nahdiy, beliau mengatakan:

حَضَرْتُ سَعْدًا , وَابْنَ عُمَرَ , يَخْتَصِمَانِ إِلَى عُمَرَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ ، فَقَالَ عُمَرُ: يَمْسَحُ فَقَالَ عُمَرُ: ” يَمْسَحُ عَلَيْهِمَا إِلَى مِثْلِ سَاعَتِهِ مِنْ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ”

“Saya menghadiri tatkala Sa’dan dan Ibnu ‘Umar berselisih pada masalah mengusap kedua khuf (dan dan bertahqin kepada ‘Umar).

Maka ‘Umar pun mengatakan: “Hendaknya dia mengusap keduanya dihitung sehari semalam seperti waktu dia mengusapnya.” [HR. ‘Abdurazzaq dalam Mushannaf dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Kemudian Penulis mengatakan:

((فإن مسح في الحضر ثم سافر، أو مسح في السفر ثم أقام، أتم مسح مقيم))

((Didalam Madzhab Syafi’i, di dalam dua keadaan:

  • (1) Jika dia mengusap pada saat mukim/tinggal kemudian safar/bepergian, atau
  • (2) Mengusap pada saat safar, kemudian dia mukim/tinggal))

Maka (kata beliau), yang berlaku adalah rukshah mengusap bagi orang yang mukim, atau hanya satu hari satu malam saja. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah di dalam dua keadaan. Namun untuk keadaan yang pertama, yang rajih dan dipilih oleh Syaikh ‘Utsaimin adalah:

◆ Tetap berlaku rukshah mengusap untuk musafir, karena predikat yang melekat pada dia adalah predikat seorang musafir. Maka berlaku pada dia adalah semua yang berlaku pada orang-orang yang safar.

Pembatal-Pembatal dari Rukshah untuk Mengusap Dua Khuf

((و يبطل المسح بثلاثة أشياء))

((Dan hukum mengusap kedua khuf ini batal dengan tiga macam hal))

  • Pembatal (1)

((بخلعهما))

((Dengan melepas dua khuf/kaus kaki/sepatunya))

Maka secara otomatis rukshah untuk mengusap dua khuf tadi adalah batal.

  • Pembatal (2)

((وانقضاء المدة))

((Waktunya sudah habis))

⇒ Untuk yang mukim satu hari satu malam.

⇒ Untuk yang musafir tiga hari tiga malam.

  • Pembatal (3)

((وما يوجب الغسل))

((Dan hal-hal yang mewajibkan untuk mandi))

Jika terdapat halangan ini, maka dia batal rukshah untuk mengusap kedua khufnya. Berdasarkan sebuah hadis:

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا إذَا كُنّا مُسَافِرِيْنَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلاثةَ أَيّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلِّا مِنْ جَنَابَةِ (رواه النساعي و ترمذي بسند صحيح)

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kami, apabila kami dalam keadaan safar (bepergian) untuk mengusap khuf-khuf kami dan tidak melepasnya selama tiga hari walaupun buang air besar, buang air kecil, maupun dari tidur, kecuali apabila junub*.” [HR. Nasa’i, Tirmidzi dengan sanad yang shahīh]

*Apabila junub maka seseorang melepaskannya dan kemudian dia bersuci.

Demikian yang bisa kita sampaikan.

 

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

وآخر دعونا عن الحمد لله رب العلمين

______________________________

Catatan Tambahan Diambil dari Website islamqa.info:

Adapun cara mengusapnya adalah letakkan tangan yang sudah dibasahi air di atas jari jemari kaki, kemudian diusap ke arah (pangkal) betis (mulai dari ujung jari kaki ke arah pangkal betis – pent). Kaki kanan diusap oleh tangan kanan, dan kaki kiri diusap oleh tangan kiri. Jari tangan direnggangkan, dan mengusap dilakukan hanya sekali. [Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, oleh Al-Fauzan, 1/43].

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Maksudnya adalah, bahwa yang diusap adalah bagian atas khuf. Maka tangannya dijalankan dari jari kaki hingga pangkal betis saja. Dan mengusap dilakukan dengan kedua tangan sekaligus. Maksudnya, tangan kanan mengusap kaki kanan, dan tangan kiri mengusap kaki kiri PADA SAAT YANG BERSAMAAN, sebagaimana halnya mengusap kedua telinga. Karena itulah yang tampak dari perkataan Mughirah bin Syu’bah radhiallahu anhu, ‘(Beliau ﷺ ) mengusap keduanya’. Dia tidak mengatakan, bahwa beliau (Nabi ﷺ ) mulai mengusap dengan tangan kanan sebelum kiri. Banyak orang yang mengusap dengan kedua tangannya kaki kanan, dan kedua tangannya kaki kiri. Ini tidak ada landasannya sepengetahuan kami. Akan tetapi dengan cara mana saja jika yang diusap bagian atas khuf, maka usapannya sah. Akan tetapi apa yang telah kami jelaskan (caranya), itulah yang lebih utama. [Lihat Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/250]

Tidak boleh mengusap bagian samping khuf atau belakangnya. Tidak satu pun riwayat yang menjelaskan cara mengusap demikian.

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://abuwt.blogspot.co.id/2015/12/mengusap-kedua-khuf.html

https://islamqa.info/id/12796

 

 

Cara Mengusap Khuff
Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek: 7103000507
| A.N: YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer: +628-222-333-4004
Website:
Home
Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp

TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

 

 

Website:

�� Facebook Page:

Fb.com/TausiyahBimbinganIslam

�� Telegram Channel:

http://goo.gl/4n0rNp

�� TV Channel:

http://BimbinganIslam.tv

 

,

BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#AhkamulJanaiz
#FatwaUlama
BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

Terkadang tenaga medis harus mengurus mayit/jenazah, atau pasien yang baru meninggal. Maka selayaknya mereka memerhatikan dan berusaha untuk menutupi aurat mayit, serta menjaga kehormatannya. Bagaimana batasan aurat mayit/jenazah? Berikut sedikit pembahasannya.

Aurat mayit sama dengan aurat orang hidup. Dalilnya adalah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تنظر إلى فخذ حي ولا ميت

“Janganlah engkau melihat ke paha orang hidup maupun orang mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Berikut fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

س 2: هل عورة الميت – أقصد الجثة المعدة للتشريح – محرم كما هي محرمة علينا على قيد الحياة، وما العمل إذا؟

ج 2: النظر إلى عورته ميتا كالنظر في عورته حيا، فلا يجوز إلا في الصورة التي رخص فيها في تشريحه؛ للضرورة إلى ذلك.

Pertanyaan:

Aurat mayit, maksud saya kadaver/jenazah yang disiapkan untuk dipotong-potong untuk belajar, apakah  (melihat) auratnya haram, sebagaimana haram ketika hidup. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Memandang pada aurat mayit, sebagaimana memandang pada aurat orang hidup. Tidak boleh melihatnya, kecuali pada hal yang diberi keringanan untuk memotong-motongnya. Karena kebutuhan darurat pada hal itu. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 9421, Syamilah]

Orang Yang Memandikan Mayit Harus Memakai Pelapis

Pertanyaan:

س: هل يجوز لمن يغسل الميت أن يكشف عورته أم أنه يجب أن تكون مستورة؟

Apakah boleh bagi yang memandikan mayit menyingkap auratnya, atau wajibkah memandikan dalam keadaan tertutup?

1) لا يجوز لمس عورة الميت، ولا النظر إليها، ولا كشفها لا للمغسل، ولا لغيره.

2) من يتولى غسل الميت عليه أن يعمل في يده خرقه حائلة بين اليد والعورة.

Jawaban (ringkasan):

  1. Tidak boleh menyentuh aurat mayit, tidak boleh juga melihatnya, tidak boleh menyingkapnya, baik bagi yang memandikan atau yang lain.
  2. Bagi yang memandikan mayit, wajib baginya memakai pelapis antara tangan dan aurat mayit (misalnya pakai sarung tangan). [Fatwa ulama yaman, syaikh Muhammad bin Ismail Al-Umrani, sumber: http://olamaa-yemen.net/main/articles.aspx?article_no=11367

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://Muslimafiyah.com/batasan-aurat-mayitjenazah.html

,

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

JUAL-BELI DI KOMPLEKS MASJID DAN HUKUM MENJUAL BUKU-BUKU HAROKAH

Pertanyaan:

Ada beberapa hadis Nabi ﷺ yang menyinggung masalah masjid. Salah satunya adalah jual-beli di dalamnya. Yang ana tahu, kalau ada transaksi di dalam masjid, maka hendaknya didoakan agar tidak mendapatkan berkah.

  1. Bagaimana hadis tersebut? Apakah sampai derajat shahih atau banyak yang meriwayatkannya?
  2. Ada ustadz yang mengatakan, bahwa masjid dimulai dengan pagar atau gerbang. Oleh karena itu, berjual-beli di kompleks masjid terkena hadis itu. Tetapi ada juga yang berpendapat, bahwa masjid itu di mulai dengan temboknya. Jika demikian, tidaklah mengapa berjual beli di teras, halaman, atau serambi masjid. Saat ini banyak pedagang yang menggelar dagangan mereka di serambi, di parkir, dan di komplek masjid. Sebenarnya, bagaimana batasan masjid yang dimaksudkan dengan hadis Rasulullah ﷺ tersebut?
  3. Bagaimana hukum menjual buku yang padanya terdapat kritikan ulama, seperti tafsir Sayyid Quthub, buku Jama’ah Tabligh, Fathul Mu’in dan atau buku harokah yang lain?

Jawaban:

  1. Hadis yang melarang jual-beli di dalam masjid antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kamu melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak menguntungkan perdaganganmu’. Dan jika kamu melihat orang yang mencari barang hilang di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak mengembalikan kepadamu’. [HR Tirmidzi, no. 1 321, Ad Darimi, no. 1.365. Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Tirmidzi, no. 1.321; Irwa’ul Ghalil, no. 1.495, Al Misykah, no. 733]

Setelah membawakan hadis ini, Imam Tirmidzi rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَقَدْ رَخَّصَ فِيهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فِي الْمَسْجِدِ

Sebagian ulama mengamalkan hadis ini. Mereka membenci jual-beli di dalam masjid. Ini merupakan pendapat (Imam) Ahmad dan Ishaq. Sebagian ulama memberikan kelonggaran jual-beli di dalam masjid.

Al Mubarakfuri rahimahullah mengomentari perkataan Imam Tirmidzi rahimahullah: “Sebagian ulama mengamalkan hadis ini. Mereka membenci jual-beli di dalam masjid di atas dengan perkataan ‘Ini adalah haq, berdasarkan hadis-hadis bab ini… Dan aku tidak mendapati dalil yang menunjukkan kelonggaran (jual-beli di dalam masjid). Dan hadis-hadis bab ini merupakan hujjah atas orang yang memberikan kelonggaran’.” [Tuhfatul Ahwadzi, hadis no. 1.321].

Termasuk yang melarang jual-beli di dalam masjid, ialah Imam Ash Shan’ani di dalam Subulus Salam, dan Syaikh Al Albani di dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab, 2/691-695.

  1. Adapun batasan masjid yang dilarang berjual-beli, apakah di mulai dari pagar (gerbang) atau dimulai dengan temboknya? Kami belum mendapatkan penjelasan yang tegas dari para ulama. Di antara perkataan ulama yang kami dapati, yang nampaknya juga berkaitan dengan masalah ini ialah:

Perkataan Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani rahimahullah: “Hukum serambi masjid dan yang dekat dari serambi adalah hukum masjid. Oleh karena itulah, kebiasaan Nabi ﷺ jika mendapati baunya (yakni bau bawang putih atau semacamnya, red) di dalam masjid, beliau ﷺ memerintahkan mengeluarkan orang yang didapati bau darinya menuju Baqi’, sebagaimana telah shahih di dalam (kitab Shahih Muslim. [Fat-hul Bari, penjelasan hadis no. 856].

Perkataan Al Hafizh tersebut, juga dinukil oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab (2/665). Demikian juga Syaikh Salim Al Hilali, beliau mengatakan: “Hukum arena masjid dan yang dekat darinya adalah hukum masjid. Hal itu nampak di dalam perbuatan Nabi n mengeluarkan orang yang didapati darinya bau bawang putih, bawang merah, dan bawang kucai menuju Baqi’. [Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Shalihin, 3/197]

Hadis yang dimaksudkan oleh Al Hafizh di atas, yaitu mengenai khutbah Jumat Umar bin Al Khaththab. Di antara yang beliau katakan adalah:

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ شَجَرَتَيْنِ لَا أَرَاهُمَا إِلَّا خَبِيثَتَيْنِ هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّومَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ رِيحَهُمَا مِنْ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيعِ

Kemudian sesungguhnya kamu -wahai manusia- makan dua tumbuhan. Aku tidak melihat keduanya, kecuali buruk, yaitu bawang merah dan bawang putih. Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah ﷺ, jika beliau mendapati bau keduanya dari seorang laki-laki di dalam masjid, beliau memerintahkan atas orang tersebut, lalu dia dikeluarkan menuju Baqi (pekuburan penduduk Madinah). [HR Muslim, no. 567].

Namun pendapat di atas, yang menyatakan, bahwa arena masjid termasuk hukum masjid, atau batas masjid mulai pintu gerbangnya, jika hal itu dianggap sebagai hukum umum, akan mengandung beberapa kemusykilan. Antara lain, orang yang masuk arena masjid diperintahkan shalat tahiyatul masjid, sebagaimana ketika masuk ke dalam masjid!

Selain itu kita dapatkan hadis yang menunjukkan perbedaan hukum di dalam masjid dan di luar masjid. Antara lain:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَا يُسْتَقَادُ فِيهَا

Dari Hakim bin Hizam, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Hudud tidak ditegakkan di dalam masjid, dan tidak dilakukan qishosh di dalamnya”. [HR Ahmad dan Daruquthni. Syaikh Al Albani menghasankan hadis ini. Bahkan menyatakan sebagai hadis Shahih Lighairihi di dalam kitab Tsamar Mustathab, 2/698].

Hadis ini melarang menegakkan hudud di dalam masjid, tetapi kebiasaan Nabi ﷺ menegakkan hudud di luar masjid. Dengan demikian terdapat perbedaan hukum antara di dalam masjid dan di luar masjid. Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: “Dan telah dikenal diantara petunjuk Nabi ﷺ, yaitu menegakkan hudud di luar masjid, sebagaimana di dalam hadis Abu Hurairah dalam kisah Ma’iz”. [Tsamar Mustathab, 2/701-702]

Lalu Syaikh Al Albani rahimahullah juga membawakan hadis:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجْمِ الْيَهُودِيِّ وَالْيَهُودِيَّةِ عِنْدَ بَابِ مَسْجِدِهِ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah ﷺ memerintahkan rajam terhadap seorang laki-laki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi di dekat pintu masjid beliau”. [HR Ahmad, 5/261; Al Hakim, 2/453; dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Tsamar Mustathab, 2/703].

Selain itu, kita juga dapati hadis yang dengan tegas menyebutkan kejadian berjualan di dekat pintu masjid.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Al Khaththab melihat kain sutra (dijual) di dekat pintu masjid, lalu dia berkata: “Wahai, Rasulullah. Seandainya engkau membeli ini, lalu engkau memakainya ketika Jumat dan untuk (menemui) utusan-utusan jika mereka datang kepadamu”. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai ini hanyalah orang yang tidak memiliki bagian di Akhirat”. [HR Bukhari, no. 886, kitab Al Jum’ah, Bab Memakai Pakaian Terbaik Yang Didapati].

Dalam riwayat lain dengan lafal:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Umar bin Al Khaththab jubah dari kain sutra dijual di pasar, lalu dia mengambilnya, lalu membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,”Wahai, Rasulullah. Belilah ini. Engkau berhias dengannya untuk hari raya dan untuk (menemui) utusan-utusan,” maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Sesungguhnya ini pakaian orang yang tidak memiliki bagian (di Akhirat)”. [HR Bukhori, no. 948].

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Tersebut di dalam riwayat Malik dari Nafi’ sebagaimana telah lalu di dalam kitab Al Jum’ah, (yakni hadis no. 886, Red), bahwa hal (kejadian) itu berada di pintu masjid. Sedangkan pada riwayat Ishaq dari Nafi’ pada Nasa’i (disebutkan) “bahwa Umar bersama Nabi ﷺ di pasar, lalu dia melihat baju”; kedua riwayat itu tidak bertentangan, karena ujung pasar bersambung ke dekat pintu masjid”. [Fat-hul Bari, syarh hadis no. 5841].

Ringkasnya, ulama berbeda pendapat tentang hukum jual-beli di dalam masjid. Yang rojih (lebih kuat) adalah terlarang. Ini berdasarkan hadis di atas dan lainnya. Kemudian larangan tersebut dengan tegas disebutkan berlaku di dalam masjid.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kamu melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah ‘Allah tidak menguntungkan perdaganganmu’.” [HR Tirmidzi, no. 1.321; Ad Darimi, no. 1.365].

Adapun di serambi masjid, atau lokasi yang berada pada bangunan masjid, lebih selamat juga dijauhi. Sedangkan di komplek (arena) masjid, setelah gerbang masjid, kami tidak mendapatkan dalil yang melarangnya dengan tegas, sehingga kami pun tidak berani malarangnya. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Hujurat:1]

Namun, jika seseorang meninggalkan perkara yang belum jelas baginya atau meragukannya, tentu hal itu lebih baik bagi diri dan agamanya. Nabi ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu, karena kejujuran itu ketenangan, dan sesungguhnya kedustaan itu keraguan. [HR Tirmidzi, no. 2.518, dan lain-lain, dari Al Hasan bin ‘Ali, Arba’in Nawawiyah, hadis no. 11].

Beliau ﷺ juga bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar. Kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dari (meninggalkan) perkara-perkara samar itu, dia telah membersihkan untuk (kebaikan) agamanya dan kehormatannya. Barang siapa jatuh di dalam syubhat (perkara-perkara yang samar), dia jatuh ke dalam yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar tanah larangan, hampir-hampir dia menggembalakan di dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja memiliki tanah larangan. Ingatlah, sesungguhnya tanah larangan Allah adalah apa-apa yang Dia haramkan. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. [HR Muslim, no. 1.599, dari Nu’man bin Basyir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadis ini dimuat oleh An Nawawi di dalam Arba’in Nawawiyah, hadis no. 6 dan Riyadhush Shalihin, no. 588].

Wallahu ‘alam.

3. Tentang hukum menjual buku yang padanya terdapat kesalahan atau kesesatan, di sini kami ringkaskan poin-poin yang dijelaskan oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Aalu Salman di dalam kitab beliau, Kutub Hadzdzara Minha Al ‘Ulama (1/25-53), dalam sub judul “Hukum-Hukum Fiqih Yang Berkaitan Dengan Kitab-Kitab Yang Diperingatkan Oleh Para Ulama”. Ringkasan hukum-hukum tersebut sebagai berikut:

  • Haram menjual buku-buku yang mengandung kemusyrikan.
  • Haram menjual buku-buku khurafat dan sihir
  • Tidak boleh menjual buku-buku yang banyak kesalahannya, (baik pada tulisan atau isinya), kecuali setelah diberi penjelasan.
  • Haram menjual buku-buku (yang mengajarkan) jimat-jimat, mantra-mantra, penangkal-penangkal, rajah-rajah, dan menghadirkan jin.
  • Haram menjual buku-buku puisi yang berisi celaan, arak, minuman keras (atau dendam), dan cabul.
  • Haram menjual majalah-majalah fasiq (cabul) dan buku-buku yang mayoritas berisi penyimpangan-penyimpangan terhadap syari’at.
  • Haram menjual buku-buku filsafat dan ilmu kalam (logika).
  • Haram menjual buku-buku karya Al Hallaj dan Ibnu ‘Arabi, dan yang semacam keduanya dari kalangan orang-orang Shufi.
  • (Disyari’atkan) menghancurkan kitab-kitab Ahli Bid’ah dan kesesatan.
  • Keharaman memperdagangkan kitab-kitab Ahli Bid’ah dan kesesatan.
  • Keharaman memikirkan buku-buku agama-agama lain, dan buku-buku ahli kesesatan dan bid’ah, kecuali bagi orang yang mengetahui keburukan yang ada di dalamnya untuk memperingatkan (umat) darinya.
  • Keharaman membaca (membacakan) buku-buku ini (tersebut di atas, Red) di masjid-masjid dan tempat-tempat perkumpulan umum, dan (keharaman) meletakkannya di perpustakaan-perpustakaan umum.

Berkaitan dengan masalah ini juga, terdapat seruan terbuka dari Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali -hafizhahullah- kepada pengurus (pemilik) toko-toko buku, perpustakaan-perpustakaan pemerintah dan pribadi untuk meninggalkan buku-buku Sayyid Quthub, Muhammad Quthub, Muhammad Al Ghazali, Yusuf Al Qardhawi, Abul A’la Al Mududi, Hasan Al Banna, ‘Umar Al Tilmisani, Hasan At Turabi As Sudani, Abdurrahman Abdul Khaliq, Muhammad Surur, Muhammad Ahmad Rasyid, Sa’id Hawwa, Salman Al ‘Audah, Safar Al Hawali, Nashir Al Umar, ‘Aidh Al Qarni, Mahmud ‘Abdul Halim, Jasim Al Muhalhil, dan murid-murid (Hasan) Al Banna, keluarga Quthub (yakni Sayyid Quthub dan Muhammad Quthub), (dan) semacam mereka dari tiap pemimpin atau orang yang menisbatkan diri kepada satu firqah di antara firqah-firqah yang melawan manhaj Salaf, banyak atau sedikit, dari bab-bab ilmu dan amal sepanjang masa ini. Hal ini karena buku-buku, kaset-kaset, dan selebaran-selebaran mereka, yang namanya dituliskan di atas, di dalamnya terdapat perkara yang diterima (karena sesuai syariat-red) dan ditolak (karena tidak sesuai syariatred).

Kemudian Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah menyebutkan contoh-contoh penyimpangan tulisan mereka satu persatu. [Lihat kitab Al Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal Afrad Wal Umam, hlm. 128-142, karya Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah. Kitab ini dipuji oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh ‘Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihi].

Ini semua merupakan nasihat dari seorang ‘alim kepada umat Islam. Maka selayaknya umat menerimanya dengan senang hati dan syukur. Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3072-jual-beli-di-komplek-masjid-menjual-buku-buku-harokah.html

,

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

>> Pahala Puasa untuk Allah

Ingatlah puasa itu memiliki keistimewaan dibanding amalan lainnya. Amalan lainnya akan kembali untuk manusia, yaitu dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga lebih dari itu. Namun tidak untuk amalan puasa. Amalan tersebut, Allah khususkan untuk diri-Nya. Sehingga pahala puasa pun bisa tak terhingga pahalanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Pahala Puasa yang Tak Terhingga

Setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa TIDAK DIBATASI lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali, semoga Allah merahmati beliau mengatakan: ”Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az Zumar: 10]

Sabar itu ada tiga macam, yaitu:

  • (1) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
  • (2) Sabar dalam meninggalkan yang haram dan
  • (3) Sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.

Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan. Di dalamnya ada pula menjauhi hal-hal yang diharamkan. Begitu juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga, sebagaimana sabar.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatShalatNabi
#MutiaraSunnah

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

Shalat Qashar

Dari Muhammad bin Ja’far: ”Telah bercerita kepadaku Syu’bah, dari Yahya bin Yazid Al-Hanna’i yang menuturkan: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Sedangkan aku pergi ke Kufah, maka aku shalat dua rakaat hingga aku kembali. Kemudian Anas berkata: “Artinya: Adalah Rasulullah ﷺ, manakala keluar sejauh tiga mil atau tiga farskah (Syu’bah ragu), dia mengqashar shalat. (Dalam suatu riwayat): Dia shalat dua rakaat”. (Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/129) dan Al-Baihaqi (2/146).

Syaikh Al Albani menilai hadis ini sanadnya Jayyid (Bagus). Semua perawinya tsiqah,yakni para perawi Asy-Syaikhain, kecuali Al-Hanna’i di mana dia adalah perawi Muslim. Namun segolongan orang-orang tsiqah juga telah meriwayatkan darinya.

Dan hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim (2/145), Abu Dawud (1201), Ibnu Abi Syaibah (2/108/1/2). Juga diriwayatkan darinya oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (Q. 99/2) dari beberapa jalur yang berasal dari Muhammad bin Ja’far, tanpa dengan ucapan Al-Hanna’i: “Sedangkan aku pergi ke Kufah….sampai aku kembali”. Meskipun ini tambahan yang benar. Bahkan oleh karenanya, hadis ini berlaku. Demikian pula hadis ini juga dikeluarkan oleh Abu Awannah (2/346) dari jalur Abu Dawud (dia adalah Ath-Thayalisi), dia berkata: “Telah bercerita kepadaku Syu’bah. Namun Ath-Thayalisi tidak meriwayatkannya dalam Musnad-nya”.

(Al-Farsakh) berarti tiga mil. Dan satu mil adalah sejauh mata memandang ke bumi, di mana mata akan kabur ke atas permukaan tanah, sehingga tidak mampu lagi menangkap pemandangan. Demikianlah penjelasan Al-Jauhari.

Namun dikatakan pula, batas satu mil adalah jika sekira memandang kepada seseorang di kejauhan, kemudian tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, dan dia hendak pergi atau hendak datang, seperti keterangan dalam Al-Fath (2/467). Dan menurut ukuran sebagian ulama sekarang adalah sekitar 1680 meter.

Kandungan Hukumnya

Hadis ini menjelaskan, bahwa jika seseorang pergi sejauh tiga farsakh (satu farsakh sekitar 8 km), maka dia boleh mengqashar shalat. Al-Khuththabi telah menjelaskan dalam Ma’alimus Sunan (2/49): “Meskipun hadis ini telah menetapkan, bahwa jarak tiga farsakh merupakan batas, di mana boleh melakukan qashar shalat, namun sungguh saya tidak mengetahui seorang pun dari ulama fikih yang berpendapat demikian”.

Dalam hal ini ada beberapa pertimbangan:

Bahwa hadis ini memang tetap seperti semula, namun Imam Muslim mengeluarkannya dan tidak dinilai lemah oleh lainnya.

Hadis ini tidak berbahaya dan boleh saja diamalkan. Soal tidak mengetahui adanya seorang pun ulama fikih yang mengatakan demikian, itu tidak menghalangi untuk mengamalkan hadis ini. Tidak menemukan, bukan berarti tidak ada.

Sesungguhnya perawinya telah mengatakan demikian, yaitu Anas bin Malik. Sedang Yahya bin Yazid Al-Hanna’i, sebagai perawinya juga telah berfatwa demikian, seperti keterangan yang telah lewat. Bahkan telah berlaku pula dari sebagian sahabat yang melakukan shalat qashar dalam perjalanan yang lebih pendek daripada jarak itu. Maka Ibnu Abi Syaibah (2/108/1) telah meriwayatkan pula dari Muhammad bin Zaid bin Khalidah, dari Ibnu Umar yang menuturkan. “Shalat itu boleh diqashar dalam jarak sejauh tiga mil”. Hadis ini sanadnya Shahih. Seperti yang telah Syaikh Al Albani jelaskan dalam Irwa’ul Ghalil (no. 561).

Kemudian diriwayatkan dari jalur lain yang juga berasal dari Ibnu Umar, bahwa dia berkata: “Sesunguhnya aku pergi sesaat pada waktu siang, dan aku mengqashar (shalat)”.

Hadis ini sanadnya juga Shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath (2/467). Kemudian dia meriwayatkan dari Ibnu Umar (2/111/1).

“Sesungguhnya dia mukim di Makkah, dan manakala dia keluar ke Mina, dia mengqashar (shalat),” Hadis ini sanadnya juga Shahih, dan dikuatkan. Apabila penduduk Makkah hendak keluar bersama Nabi ﷺ ke Mina, dalam haji Wada’, maka mereka mengqashar shalat juga, sebagaimana sudah tidak ada lagi dalam kitab-kitab hadis. Sedangkan jarak antara Makkah dan Mina hanya satu farsakh. Ini seperti keterangan dalam Mu’jamul Buldan.

Sementara itu Jibilah bin Sahim memberitahukan: “Aku mendengar Ibnu Umar berkata: “Kalau aku keluar satu mil, maka aku mengqashar shalat”

Hadis ini disebutkan pula oleh Al-Hafidz dan dinilainya Shahih.

Hal ini tidak menafikan terhadap apa yang terdapat dalam Al-Muwatha maupun lainnya dengan sanad-sanadnya yang Shahih, dari Ibnu Umar, bahwa dia mengqashar dalam jarak yang jauh daripada itu. Juga tidak menafikan jarak perjalanan yang lebih pendek daripada itu. Nash-nash yang telah Syaikh Al Albani sebutkan adalah jelas memerbolehkan mengqashar shalat dalam jarak yang lebih pendek daripada itu. Ini tidak bisa disanggah, terlebih lagi karena adanya hadis yang menunjukkan lebih pendek lagi daripada itu.

Al-Hafidzh telah menandaskan di dalam Al-Fath (2/467-468): “Sesunguhnya hadis itu merupakan hadis yang lebih Shahih dan lebih jelas dalam menerangkan soal ini. Adapun ada yang berbeda dengannya, mungkin soal jarak diperbolehkannya mengqashar, di mana bukan batas akhir perjalanannya.

Apalagi Al-Baihaqi juga menyebutkan, bahwa Yahya bin Yazid bercerita: “Saya bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Saya keluar Kufah, yakni Bashrah, saya shalat dua rakaat dua rakaat, sampai saya kembali. Maka Anas berkata: (Kemudian menyebutkan hadis ini)”.

Jadi jelas, bahwa Yahya bin Yazid bertanya kepada Anas tentang diperbolehkannya mengqashar shalat dalam bepergian, bukan tentang tempat di mana dimulai shalat qashar. Kemudian yang benar dalam hal ini adalah, bahwa soal qashar itu tidak dikaitkan dengan jarak perjalanan, tetapi dengan melewati batas daerah, di mana seorang telah keluar darinya. Al-Qurthubi menyanggahnya sebagai suatu yang diragukan, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan. Jika yang dimaksudkannya adalah bahwa jarak tiga mil itu tidak bisa dijadikan pegangan adalah bagus, akan tetapi tidak ada larangan untuk berpegang pada batas tiga farsakh. Karena tiga mil memang terlalu sedikit, maka diambil yang lebih banyak sebagai sikap berhati-hati.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Hatim bin Ismail, dari Abdurrahman bin Harmilah yang menuturkan: “Aku bertanya kepada Sa’id bin Musayyab: “Apakah boleh mengqashar shalat dan berbuka di Burid dari Madinah?” Dia menjawab: “Ya”. Wallahu a’lam. [Syaikh Al Albani mengatakan sanad atsar ini, menurut Ibnu Abi Syaibah (2/15/1) adalah Shahih.]

Diriwayatkan dari Allajlaj, dia menceritakan: “Kami pergi bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu sejauh tiga mil, maka kami diberi keringanan dalam shalat dan kami berbuka”.

Hadis ini sanadnya cukup memadai untuk perbaikan. Semua adalah tsiqah, kecuali Abil Warad bin Tsamamah, di mana hanya ada tiga orang meriwayatkan darinya. Ibnu Sa’ad mengatakan: “Dia itu dikenal sedikit hadisnya”.

Atsar-atsar itu menunjukkan diperbolehkan melakukan shalat qashar dalam jarak yang lebih pendek daripada apa yang terdapat dalam hadis tersebut.

Ini sesuai dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu anhum. Karena dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, kata safar (bepergian) adalah mutlak, tidak dibatasi oleh jarak tertentu, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’al,.“ yang artinya:

“Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat….” [An-Nisaa: 101]

Dengan demikian, maka tidak ada pertentangan antara hadis tersebut dengan atsar-atsar ini. Karena ia memang tidak menafikan diperbolehkannya qashar dalam jarak bepergian yang lebih pendek daripada yang disebutkan di dalam hadis tersebut.

Oleh karena itu, Al-Allamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (juz I, hal. 189) mengatakan: “Nabi ﷺ tidak membatasi bagi umatnya pada jarak tertentu untuk mengqashar shalat dan berbuka. Bahkan hal itu mutlak saja bagi mereka mengenai jarak perjalanan itu. Sebagaimana Nabi ﷺ memersilakan kepada mereka untuk bertayamum dalam setiap bepergian. Adapun mengenai riwayat tentang batas sehari, dua hari atau tiga hari, sama sekali tidak benar. Wallahu ‘alam”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Setiap nama di mana tidak ada batas tertentu baginya dalam bahasa maupun agama, maka dalam hal itu dikembalikan kepada pengertian umum saja, sebagaimana ‘bepergian” dalam pengertian kebanyakan orang yaitu bepergian, di mana Allah mengaitkannya dengan suatu hukum”.

Para ulama telah berbeda pendapat mengenai jarak perjalanan diperbolehkannya qashar shalat. Dalam hal ini ada lebih dari dua puluh pendapat. Namun apa yang kami sebutkan dari pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyah adalah yang paling mendekati kebenaran, dan lebih sesuai dengan kemudahan Islam.

Pembatasan dengan sehari, dua hari, tiga hari atau lainnya, seolah juga mengharuskan mengetahui jarak perjalanan yang telah ditempuh, yang tentu tidak mampu bagi kebanyakan orang. Apalagi untuk jarak yang belum pernah ditempuh sebelumnya.

Dalam hadis tersebut juga ada makna lain, yakni bahwa qashar itu dimulai dari sejak keluar dari daerah. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

Sebagaimana dalam kitab Nailul Authar (3/83) di mana penulisnya mengatakan:  “Sebagian ulama-ulama Kufah, manakala hendak berpergian memilih shalat dua rakaat, meskipun masih di daerahnya. Sebagian mereka ada yang berkata:”Jika seseorang itu naik kendaraan, maka qashar saja kalau mau”.

Sementara itu Ibnul Mundzir lebih cenderung kepada pendapat yang pertama. Di mana mereka sepakat, bahwa boleh qashar setelah meninggalkan rumah. Namun mereka berbeda mengenai sesuatu sebelumnya. Tapi hendaknya seseorang menyempurnakan sesuatu yang perlu disempurnakan, sehingga dia diperbolehkan mengqashar shalat. Ibnul Mundzir berkata lagi: “Sungguh saya tidak mengetahui bahwa Nabi ﷺ mengqashar shalat dalam suatu perjalanannya, kecuali setelah keluar dari Madinah”.

Syaikh Al Albani menemukan: Sesungguhnya hadis-hadis yang semakna dengan hadis ini adalah banyak. Syaikh Al Albani telah mengeluarkan sebagian darinya dalam Al-Irwa’ yaitu dari hadis Anas, Abi Hurairah, Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Silakan periksa no. 562!

Adapun mengenai shalat qashar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berpendapat: “Qashar shalat itu dianjurkan, bukan wajib, walau dari zhahir nas terlihat wajib, sebab di sana sini masih banyak nas lainnya yang menunjukkan tidak wajib. Safar yang bisa membolehkan qashar shalat, berbuka puasa, menyapu dua sepatu atau dua kaos kaki, adalah tiga hari lamanya. Hal ini masih diperselisihkan ulama. Sebagian mereka mensyaratkan, bahwa jarak qashar itu harus mencapai sekitar 81 Km. Sebagian lainnya tidak menentukan jarak tertentu, yang penting sesuai dengan adat yang berlaku, sebab syara’ tidak menentukannya. Dalam suatu nazham disebutkan: “Setiap perkara yang timbul dan tak ada ketentuan syara’, maka lindungilah dengan ketentuan adat suatu tempat (‘uruf)“.

Dengan demikian, jika telah berlaku hukum safar, baik menurut jarak atau ‘uruf, maka setiap orang patut mengikutinya, baik dalam hal qashar shalat, berbuka puasa atau menyapu sepatu, dalam waktu tiga hari lamanya. Jika tidak ada kesulitan, maka puasa lebih baik tetap dipenuhi, bagi yang tengah dalam perjalanan.

Qashar Dalam Perjalanan

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam berpendapat sebagai berikut:

Qashar di sini berlaku untuk shalat-shalat empat rakaat, yaitu Zuhur, Ashar dan Isya. Dinukil dari Ibnul Mundzir adanya ijma’, bahwa tidak ada qashar dalam shalat Maghrib dan Subuh. Tidak ada sebab untuk qashar ini kecuali perjalanan, karena ini merupakan rukhshah yang ditetapkan sebagai rahmat bagi musafir, dan adanya kesulitan yang dialaminya.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhum, dia berkata: ‘Aku menyertai Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak melebihkan shalat dalam perjalanan dari dua rakaat, begitu pula yang dilakukan Abu Bakar, Umar dan Utsaman”.

Makna Hadis

Abdullah bin Umar menuturkan, bahwa dia pernah menyertai Nabi ﷺ dalam perjalan beliau. Dia juga pernah menyertai Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam perjalanan mereka. Ternyata masing-masing di antara mereka senantiasa mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua rakaat, dan tidak lebih dari dua rakaat itu.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Para ulama saling berbeda pendapat tentang qashar, apakah itu wajib ataukah rukhshah yang disunnatkan pelaksanaannya?

Tiga Imam, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad membolehkan penyempurnaan shalat, namun yang lebih baik adalah mengqasharnya. Sedangkan Abu Hanifah mewajibkan qashar, yang juga didukung Ibnu Hazm. Dia berkata: “Fardhunya musafir ialah shalat dua rakaat”.

Dalil orang yang mewajibkan qashar ialah tindakan Rasulullah ﷺ yang senantiasa mengqashar dalam perjalanan. Hal ini dapat ditanggapi, bahwa perbuatan tidak menunjukkan kewajiban. Begitulah pendapat jumhur. Mereka juga berhujjah dengan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha di dalam Ash-Shahihaian: “Shalat diwajibakan dua rakaat, lalu ditetapkan shalat dalam perjalanan, dan shalat orang yang menetap disempurnakan.

Hujjah ini dapat ditanggapi dengan beberapa jawaban. Yang paling baik ialah, ini merupakan perkataan Aisyah yang tidak dimarfu’kan kepada Nabi ﷺ. Sementara Aisyah juga tidak mengikuti masa difardhulkannya shalat.

Adapun dalil-dalil jumhur tentang tidak wajibnya qashar ialah firman Allah “Maka tidaklah mengapa kalian mengqashar shalat kalian” [An-Nisa: 101]

Penafian kesalahan di dalam ayat ini menunjukkan, bahwa qashar itu merupakan rukhshah dan bukan sesuatu yang dipastikan. Di samping itu, dasarnya adalah penyempurnaannya. Adanya qashar, karena dirasa shalat itu terlalu panjang. Dalil lainnya adalah hadis Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengqqashar dalam perjalanan dan menyempurnakannya, pernah puasa dan tidak puasa [Diriwayatkan Ad-Daruquthni, yang menurutnya, ini hadis Hasan]

Dalil-dalil jumhur dapat ditanggapi sebagai berikut: Ayat ini disebutkan tentang qashar sifat dalam shalat khauf dan hadis tentang hal ini dipermasalahkan. Sampai-sampai Ibnu Taimiyah berkata: “Ini merupakan hadis yang didustakan terhadap Rasulullah ﷺ”.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam mengatakan, sebaiknya musafir tidak meninggalkan qashar, karena mengikuti Rasulullah ﷺ dan sebagai cara untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan orang yang mewajibkannya, dan memang qashar inilah yang lebih baik menurut mayoritas ulama.

Dikutip dari Ibnu Taimiyah di dalam Al-Ikhtiyarat, tentang kemakruhan menyempurnakannya. Dia menyebutkan nukilan dari Al-Imam Ahmad, yang tidak mengomentari sahnya shalat orang yang menyempurnakan shalat dalam perjalanan, Ibnu Taimiyah juga berkata: “Telah diketahui secara mutawatir, bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa shalat dua rakaat dalam perjalanan. Begitu pula yang dilakukan Abu Bakar dan Umar setelah beliau. Hal ini menunjukkan, bahwa dua rakaat adalah lebih baik. Begitulah pendapat mayoritas ulama.

Kesimpulan Hadis

  • Pensyaratan qashar shalat empat rakaat dalam perjalanan menjadi dua rakaat saja.
  • Qashar merupakan sunnah Rasulullah ﷺ dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidun dalam perjalanan mereka.
  • Qashar bersifat umum dalam perjalanan haji, jihad dan segala perjalanan untuk ketaatan. Para ulama juga memasukkan perjalanan yang mubah. Menurut An-Nawawy, jumhur berpendapat bahwa dalam semua perjalanan yang mubah boleh dilakukan qashar. Sebagian ulama tidak membolehkan qashar dalam perjalanan kedurhakaan. Yang benar, rukhshah ini bersifat umum dan sama untuk semua orang.
  • Kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya dan keluwesan syariat ini, yang memberi kemudahan dalam beribadah kepada makhluk. Karena perjalanan lebih sering mendatangkan kesulitan, maka dibuat keringanan untuk sebagian shalat, dengan mengurangi bilangan rakaat shalat. Jika tingkat kesulitan semakin tinggi seperti karena memerangi musuh, maka sebagian shalat juga diringankan.
  • Perjalanan di dalam hadis ini tidak terbatas, tidak dibatasi dengan jarak jauh. Yang lebih baik ialah dibiarkan menurut kemutlakannya. Lalu rukhshah diberikan kepada apapun yang disebut perjalanan. Pembatasanya dengan tempo tertentu atau jarak farsakh tertetntu, tidak pernah disebutkan di dalam nash. Syaihul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Perjalanan tidak pernah dibatasi oleh syariat, tidak ada pembatasan menurut bahasa. Hal ini dikembalikan kepada tradisi manusia. Apa yang mereka sebut dengan perjalanan, maka itulah perjalanan”

Shalat Jamak

“Adalah Rasulullah ﷺ dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau ﷺ mengakhirkan Zuhur, hingga beliau ﷺ mengumpulkannya dengan Ashar. Lalu beliau ﷺ melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau ﷺ hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau ﷺ menyegerakan Ashar bersama Zuhur, dan melakukan shalat Zuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau ﷺ berjalan. Dan apabila beliau ﷺ hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau ﷺ mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’, dan apabila beliau ﷺ berangkat setelah Maghrib, maka beliau ﷺ menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (1220), At-Tirmidzi (2/438) Ad-Daruquthni (151), Al-Baihaqi (3/165) dan Ahmad (5/241-242), mereka semua memerolehnya dari jalur Qutaibah bin Sa’id: ” Telah bercerita kepadaku Al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abi Habib dari Abi Thufail Amir bin Watsilah dari Mu’adz bin Jabal, secara marfu. Dalam hal ini Abu Dawud berkomentar:”Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini kecuali Qutaibah saja”.

Syaikh Al Albani menilai: “Dia adalah tsiqah dan tepat. Maka tidak mengapa meskipun dia sendirian dalam meriwayatkan hadis ini dari Al-Laits selain darinya. Inilah yang benar, semua perawinya tsiqah. Yakni para perawi Asy-Syaikhain. Juga telah dinilai Shahih oleh Ibnul Qayyim dan lainnya. Namun Al-Hakim dan lainnya menganggapnya ada ‘illat yang tidak baik, seperti yang telah saya jelaskan dalam Irwa ‘Al-Ghalil (571). Di sana saya menyebutkan mutabi’ (hadis yang mengikuti) kepada Qutaibah dan beberapa syahid (hadis pendukung) yang memastikan keShahihannya.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik (I/143/2) dari jalur lain yang berasal dari Abi Thufail dengan redaksi: “Sesungguhnya mereka keluar bersama Rasulullah ﷺ pada tahun Tabuk. Maka adalah Rasulullah ﷺ mengumpulkan antara Zuhur dan Ashar serta Magrib dan Isya. Abu Thufail berkata: ‘Kemudian beliau mengakhirkan (Jamak Takhir) shalat pada suatu hari. Lalu beliau ﷺ keluar dan shalat Zuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau ﷺ masuk (datang). Kemudian keluar dan shalat Maghrib serta Isya sekalian“.

Dan dari jalur Malik telah dikeluarkan oleh Imam Muslim (7/60) dan Abu Dawud (1206), An-Nasa’i (juz I, hal 98), Ad-Darimi (juz I, hal 356), Ath-Thahawi (I/95), Al-Baihaqi (3/162), Ahmad (5/237) dan dalam riwayat Muslim (2/162) dan lainnya dari jalur lain:

“Kemudian saya berkata: ‘Apa maksudnya demikian?” Dia berkata: Maksudnya agar tidak memberatkan umatnya”.

Kandungan Hukumnya

Dalam hadis ini terdapat beberapa masalah.

  • Boleh mengumpulkan dua shalat pada waktu bepergian, walaupun pada tempat selain Arafah dan Muzdalifah. Demikian pendapat jumhurul ulama. Berbeda dengan mazdhab Hanafiyah. Mereka menakwilkannya dengan ‘Jamak Shuwari,’ yakni mengakhirkan DZuhur sampai mendekati waktu Ashar, demikian pula Maghrib dan Isya’. Pendapat ini telah dibantah oleh Jumhurul Ulama dari berbagai segi. Pertama: Pendapat ini jelas menyalahi pengertian jamak secara zahir. Kedua: Tujuan disyariatkan jamak adalah untuk memermudah dan menghindarkan kesulitan, seperti yang telah dijelaskan oleh riwayat Muslim. Sedangkan jamak dalam pengertian ‘Shuwari’ masih mengandung kesulitan. Ketiga: Sebagian hadis tentang jamak jelas menyalahkan pendapat mereka itu. Seperti hadis Anas bin Malik yang berbunyi. “Mengakhirkan Zuhur sehingga masuk awal Ashar, kemudian dia menjamak (mengumpulkan) keduanya”. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (2/151) dan lainnya. Keempat: Bahkan pendapat itu juga bertentangan dengan pengertian Jama Taqdim sebagaimana dijelaskan oleh hadis Mu’adz berikut ini:

“Dan apabila dia berangkat setelah tergelincir matahari, maka dia akan menyegerakan Ashar kepada Zuhur”. Dan sesungguhnya hadis-hadis yang serupa ini adalah banyak, sebagaimana telah disinggung.

  • Sesungguhnya soal jamak (mengumpulkan dua shalat), disamping boleh Jama Takhir, boleh juga Jama Taqdim. Ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Um (I/67), disamping oleh Imam Ahmad dan Ishaq, sebagaimana dikatakan oleh At-Tarmidzi (2/441).
  • Sesungguhnya diperbolehkan jamak pada waktu turunnya (dari kendaraan), sebagaimana diperbolehkan manakala berlangsung perjalanan. Imam Syafi’i dalam Al-Um, setelah meriwayatkan hadis ini dari jalur Malik, mengatakan: “Ini menunjukkan, bahwa dia sedang turun bukan sedang jalan. Karena kata ‘dakhala’ dan ‘kharaja’ (masuk dan keluar) adalah tidak lain bahwa dia sedang turun. Maka bagi seorang musafir, boleh menjamak pada saat turun dan pada saat berjalan’.

Syaikh Al Albani berpendapat: Dengan nash ini maka tidaklah perlu menghiraukan kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/189) menuturkan: “Bukanlah petunjuk Nabi ﷺ, melakukan jamak sambil naik kendaraan dalam perjalanannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Dan tidak juga jamak itu harus pada waktu dia turun“.

Nampaknya banyak kaum Muslimin yang terkecoh oleh kata-kata Ibnul Qayyim ini. Oleh karenanya mestilah ingat kembali.

Adalah janggal, bila Ibnul Qayyim tidak memahi nash yang ada dalam Al-Muwatha’, Shahih Muslim dan lain-lain ini. Akan tetapi keheranan tersebut akan hilang, manakala kita ingat, bahwa dia menulis kitab Az-Zad itu adalah pada waktu di mana dia jauh dari kitab-kitab lain, yakni dia dalam perjalanan, sebagai seorang musafir. Inilah sebabnya mengapa dalam kitab tersebut, di samping kesalahan itu, banyak juga kesalahan yang lain. Dan mengenai hal ini telah saya jelaskan dalam At-Ta’liqat Al-Jiyad ‘Ala Zadil Ma’ad.

Yang membuat pendapat ini tetap janggal adalah, bahwa gurunya, yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah menjelaskan dalam sebuah bukunya, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Mengapa hal itu tidak diketahui oleh Ibnul Qayyim padahal dia orang yang paling mengenal Ibnu Taimiyah dengan segala pendapatnya? Setelah menuturkan hadis itu, Syaikhul Islam dalam Majmu’atur Rasail wal-Masa’il (2/26-27) mengatakan: “Pengertian jamak itu ada tiga tingkatan: Manakala sambil berjalan, maka pada waktu yang pertama. Sedangkan bila turun, maka pada waktu yang kedua. Inilah jamak sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Anas dan Ibnu Umar. Itu menyerupai jamak di Muzdalifah. Adapun manakala di waktu yang kedua, baik dengan berjalan maupun dengan kendaraan, maka dijamak pada waktu yang pertama. Ini menyerupai jamak di Arafah. Sungguh hal ini telah diriwayatkan dalam As-Sunnan (yakni hadis Mu’adz ini). Adapun manakala turun pada waktu keduanya, maka dalam hal ini tidak aku ketahui hadis ini menunjukkan, bahwa beliau Nabi turun di kemahnya dalam bepergian itu. Dan bahwa beliau mengakhirkan Zuhur, kemudian keluar, lalu shalat Zuhur dan Ashar sekalian.

Kemudian beliau masuk ke tempatnya, lalu keluar lagi dan melakukan shalat Maghrib dan Isya’ sekalian. Sesungguhnya kala ‘ad-dukhul’ (masuk) dan ‘khuruj’ (keluar), hanyalah ada di rumah (kemah saja). Sedangkan orang yang berjalan tidak akan dikatakan masuk atau keluar. Tetapi turun atau naik.

“Dan Tabuk adalah akhir peperangan Nabi ﷺ. Sesudah itu beliau ﷺ tidak pernah bepergian, kecuali ketika haji Wada’. Tidak ada kasus jamak darinya, kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Adapun di Mina, maka tidak ada seorang pun yang menukil, bahwa beliau pernah menjamak di sana.

Mereka hanya menukilkan, bahwa beliau ﷺ memang mengqashar di sana. Ini menunjukkan, bahwa beliau ﷺ dalam suatu bepergian terkadang menjamak dan terkadang tidak. Bahkan yang lebih sering adalah bahwa beliau ﷺ tidak menjamak . Hal ini menunjukkan, bahwa beliau ﷺ tidak menjamak. Dan juga menunjukkan, bahwa jamak bukan menjadi sunah Safar sebagaimana qashar, tetapi dilakukan hanya bila diperlukan saja, baik dalam bepergian, maupun sewaktu tidak dalam bepergian, supaya tidak memberatkan umatnya. Maka seorang musafir, bilamana memerlukan jamak, maka lakukan saja, baik pada waktu kedua atau pertama, baik ia turun untuknya atau untuk keperluan lain seperti tidur dan istirahat pada waktu Zuhur dan waktu Isya’. Kemudian dia turun pada waktu Zuhur dan waktu Isya. Dia turun pada waktu Zuhur karena lelah dan mengantuk serta lapar, sehingga memerlukan istirahat, tidur dan makan. Dia boleh mengakhirkan Zuhur kepada waktu Ashar, kemudian menjamak Taqdim Isya dengan Maghrib, lalu sesudah itu bisa tidur, agar bisa bangun di tengah malam dalam bepergiannya.

Maka menurut hadis ini dan lainnya, adalah diperbolehkan menjamak. Adapun bagi orang yang singgah beberapa hari di suatu kampung atau kota, maka meskipun ia boleh mengqashar, karena dia musafir, namun tidak diperkenankan menjamak. Ia seperti halnya tidak boleh shalat di atas kendaraan, tidak boleh shalat dengan tayamum dan tidak boleh makan bangkai.

Hal-hal seperti ini hanya diperbolehkan sewaktu diperlukan saja. Lain halnya dengan soal qashar. sesungguhnya ia memang menjadi sunnah dalam shalat perjalanan”.

Menjamak Dua Shalat Dalam Perjalanan

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam berpendapat sebagai berikut:

Diperbolehkan baginya manjamak shalat Zuhur dengan Ashar dalam salah satu waktu di antara keduanya, menjamak shalat Maghrib dengan Isya’ dalam salah satu waktu di antara keduanya. Semua ini merupakan keluwesan syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ dan kemudahannya, yang berarti merupakan karunia dari Allah, agar tidak ada keberatan dalam agama.

“Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: ‘Rasulullah ﷺ pernah menjamak antara Zuhur dan Ashar jika berada dalam perjalanan, juga menjamak antara Maghrib dan Isya” [Ini lafazh Al-Bukhary dan bukan Muslim, seperti yang dikatakan Abdul haq yang menghimpun Ash-Shahihain. Ibnu Daqiq Al-Id juga mengingatkan hal ini. Mushannif mengaitkan takhrij hadis ini kepada keduanya, karena melihat asal hadis sebagaimana kebiasaan para ahli hadis, karena Muslim mentakhrij dari riwayat Ibnu Abbas tentang jamak antara dua shalat, tanpa memertimbangkan lafalnya. Inilah yang telah disepakati bersama. Menurut Ash-Shan’any. Al-Bukhary tidak metakhrijnya kecuali berupa catatan. Hanya saja dia menggunakan bentuk kalimat yang pasti]

Makna Hadis

Di antara kebiasaan Rasulullah ﷺ jika mengadakan perjalanan, apalagi di tengah perjalanan, maka beliau ﷺ menjamak antara shalat Zuhur dan Ashar, entah taqdim entah Ta’khir. Beliau ﷺ juga menjamak antara Maghrib dan Isya, entah taqdim entah Ta’khir, tergantung mana yang lebih memungkinkan untuk dikerjakan, dan dengan siapa beliau ﷺ mengadakan perjalanan. Yang pasti, perjalanan ini menjadi sebab jamak dan shalat pada salah satu waktu di antara dua waktunya, karena waktu itu merupakan waktu bagi kedua shalat.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Para ulama saling berbeda pendapat tentang jamak ini. Mayoritas sahabat dan tabi’in memerbolehkan jamak, baik taqdim maupun Ta’khir. Ini juga merupakan pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ats-Tsaury. Mereka berhujjah dengan hadis-hadis Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, begitu pula hadis Mu’adz, bahwa jika Rasulullah ﷺ berangkat sebelum matahari condong, maka beliau ﷺ menjamak shalat Zuhur dan Ashar pada waktu shalat Ashar. Beliau ﷺ mengerjakan keduanya secara bersamaan. Tapi jika beliau ﷺ berangkat sesudah matahari condong, maka beliau ﷺ shalat Zuhur dengan Ashar, lalu berangkat. Jika beliau ﷺ berangkat sebelum Maghrib, maka belaiu ﷺ menunda shalat Maghrib dan mengerjakannya bersama shalat Isya. Jika beliau ﷺ berangkat sesudah masuk waktu Maghrib, maka beliau ﷺ mengerjakan shalat Isya bersama shalat Maghrib. [Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidizy]

Sebagian Imam menshahihkan hadis ini, sementara yang lain memermasalahakannya. Asal hadis ini ada dalam riwayat Muslim tanpa menyebutkan Jama Taqdim.

Sementara Abu Hanifah dan dua rekannya. Al-Hasan dan An-Nakha’y tidak memerbolehkan jamak. Mereka menakwil hadis-hadis tentang jamak, bahwa itu merupakan jamak imajiner. Gambarannya, menurut pendapat mereka, beliau ﷺ mengakhirkan shalat Zuhur hingga akhir waktunya, lalu mengerjakannya, dan setelah itu mengerjakan shalat Ashar pada awal waktunya. Begitu pula untuk shalat Maghrib dan Isya.

Tentu saja ini tidak mengenai dan bertentangan dengan pengertian lafal jamak, yang artinya menjadikan dua shalat di salah satu waktu di antara dua waktunya, yang juga ditentang ketetapan Jamak Taqdim, sehingga menafikan cara penakwilan seperti itu. Al-Khaththaby dan Ibnu Abdil Barr menyatakan, jamak sebagai rukhshah. Mengerjakan dua shalat, yang pertama pada akhir waktunya, dan yang kedua pada awal waktunya, justru berat dan sulit. Sebab orang-orang yang khusus pun sulit mencari ketetapan waktunya. Lalu bagaimana dengan orang-orang awam?

Ibnu Hazm dan salah satu riwayat dari Malik menyatakan, yang boleh dilakukan ialah Jamak Ta’khir dan tidak Jamak Taqdim. Mereka menanggapi hadis-hadis yang dikatakan sebagian ulama, yang dipermasalahkan.

Mereka juga saling berbeda pendapat tentang hukum jamak. Asy-Syafi’i, Ahmad dan jumhur berpendapat, perjalanan merupakan sebab Jamak Taqdim dan Ta’khir. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Malik. Pendapat Malik dalam riwayat yang masyhur darinya, pengkhususan darinya, pengkhususan jamak pada waktu dibutuhkan saja, yaitu jika sedang mengadakan perjalanan. Ini juga merupakan pilihan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim. Menurut Al-Bajy, ketidaksukaan Malik terhadap jamak, karena khawatir jamak ini dilakukan orang yang sebenarnya tidak mendapat kesulitan. Adapun pembolehannya jika mengadakan perjalanan, didasarkan kepada hadis Ibnu Umar.

Abu Hanifah tidak memerbolehkan jamak, kecuali di Arafah dan Muzdalifah, karena untuk keperluan manasik haji dan bukan karena perjalanan.

Jumhur berhujjah dengan hadis-hadis yang menyebutkan jamak secara mutlak tanpa ada batasan perjalanan, ketika singgah atau ketika mengadakan perjalanan. Begitu pula yang disebutkan di dalam Al-Muwaththa’ dari Muadz bin Jabal, bahwa pada Perang Tabuk Rasulullah ﷺ mengakhirkan shalat, kemudian keluar shalat Zuhur dan Ashar bersama-sama, kemudian masuk dan keluar lagi untuk shalat Maghrib dan Isya’. Menurut Ibnu Abdil Barr, isnad hadis ini kuat. Asy-Syafi’y menyebutkannya di dalam Al-Umm. Menurut Ibnu Abdul Barr dan Al-Bajy, keluar dan masuknya Rasulullah ﷺ menunjukkan, bahwa beliau ﷺ sedang singgah dan tidak sedang dalam perjalanan. Ini merupakan penolakan secara tegas terhadap orang yang menyatakan, bahwa beliau ﷺ tidak menjamak, kecuali ketika mengadakan perjalanan.

Dalil Al-Imam Malik, Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim ialah hadis Ibnu Umar, bahwa jika beliau mengadakan perjalan, maka beliau menjamak Maghrib dan Isya’, seraya berkata: “Jika Rasulullah ﷺ mengadakan perjalanan, maka beliau ﷺ menjamak keduanya”.

Tapi menurut jumhur, tambahan bukti dalam beberapa hadis yang lain layak untuk diterima. Bagaimanapun juga, bepergian mendatangkan banyak kesulitan, baik ketika singgah maupun ketika dalam perjalanan. Rukhshah jamak tidak dibuat, melainkan untuk memberikan kemudahan didalamnya.

Ibnul Qayyim di dalam Al-Hadyu, menjadikan hadis Mu’adz dan sejenisnya termasuk dalil-dalilnya,bahwa rukhshah jamak tidak ditetapkan, melainkan ketika mengadakan perjalanan (bukan ketika singgah). Adapun pendapat Abu Hanifah tertolak oleh berbagai hadis yang Shahih dan jelas maknanya.

Faidah Hadis

Pertama:

Seperti yang disebutkan pengarang tentang jamak karena perjalanan, maka di sana ada beberapa alasan selain perjalanan yang memerbolehkan jamak, di antaranya hujan. Al-Bukhary meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ menjamak Maghrib dan Isya’ pada suatu malam ketika turun hujan. Jamak ini dikhususkan untuk Maghrib dan Isya’, bukan untuk Zuhur dan Ashar. Namun ulama lain membolehkannya juga, di antaranya Al-Imam Ahmad dan rekan-rekannya.

Begitu pula alasan sakit. Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menjamak Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ bukan karena takut dan hujan. Dalam riwayat lain disebutkan, bukan karena takut dan perjalanan. Tidak ada sebab lain kecuali sakit. Banyak ulama yang memerbolehkannya, di antaranya Malik, Ahmad, Ishaq dan Al-Hasan. Ini juga merupakan pendapat segolongan ulama dari madzhab Syafi’y, seperti Al-Khaththaby dan ini juga merupakan pilihan An-Nawawy di dalam Shahih Muslim. Ibnu Taimiyah menyebutkan, bahwa Al-Imam Ahmad menetapkan pembolehan jamak bagi orang yang terluka dan karena kesibukan, yang didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan tentang masalah ini. Ada pula yang menetapkan pembolehan jamak bagi wanita istihadhah, karena istihadhah termasuk penyakit.

Kedua:

Batasan perjalanan yang menyebabkan pembolehan jamak diperselisihkan para ulama. Asy-Syafi’i dan Ahmad menetapkan lama perjalanan selama dua hari hingga ke tujuan, atau sejauh enam belas farskah [Satu farskah sama dengan empat mil. Satu mil sama dengan satu setengah kilometer. Enam belas farsakh sama dengan enam puluh emapt mil, atau sama dengan sembilan puluh enam kilometer]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menetapkan pilihan, bahwa apa pun yang disebut dengan perjalanan, pendek atau jauh, diperbolehkan jamak di dalamnya. Jadi tidak diukur dengan jarak tertentu. Menurut pendapatnya, di dalam nash Al-Kitab dan As-Sunnah tidak disebutkan perbedaan antara jarak dekat dengan jarak jauh. Siapa yang membuat perbedaan antara jarak dekat dan jarak jauh, berarti dia memisahkan apa yang sudah dihimpun Allah, dengan sebagian pemisahan dan pembagian yang tidak ada dasarnya. Pendapat Syaikhul Islam ini sama dengan pendapat golongan Zhahiriyah, yang juga didukung pengarang Al-Mughny.

Ibnul Qayyim menyatakan di dalam Al-Hadyu, tentang riwayat yang membatasi perjalanan sehari, dua hari atau tiga hari, maka itu bukan riwayat yang Shahih.

Ketiga:

Menurut jumhur ulama, meninggalkan jamak lebih utama daripada jamak, kecuali dalam dua jamak, di Arafah dan Muzdalifah, karena di sana ada kemaslahatan.

Kesimpulan Hadis

  • Boleh menjamak shalat Zuhur dengan Ashar, shalat Maghrib denan Isya’
  • Keumuman hadis menimbulkan pengertian tentang diperbolehkannya Jamak Taqdim dan Ta’khir antara dua shalat. Beberapa dalil menunjukkan hal ini seperti yang sudah disebutkan di atas.
  • Menurut zhahirnya dikhususkan saat mengadakan perjalanan. Di atas telah disebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama dan dalil dari masing-masing pihak. Menurut Ibnu Daqiq Al-Id, hadis ini menunjukkan jamak jika dalam perjalan. Sekiranya tidak ada hadis-hadis lain yang menyebutkan jamak tidak seperti gambaran ini, tentu dalil ini mengharuskan jamak dalam kondisi yang lain. Diperbolehkannya jamak di dalam hadis ini berkaitan dengan suatu sifat yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Jika jamak dibenarkan ketika singgah, maka pengamalannya lebih baik, karena adanya dalil lain tentang pembolehannya diluar gambaran ini, yaitu dalam perjalanan. Tegaknya dalil ini menunjukkan pengabaian pengungkapan sifat ini semata. Dalil ini tentu tidak dapat dianggap bertentangan dengan pengertian di dalam hadis ini, karena pembuktian pembolehan apa yang disampaikan di dalam gambaran ini secara khusus, jauh lebih kuat.
  • Hadis ini dan juga hadis-hadis lainnya menunjukkan bahwa jamak dikhususkan untuk shalat Zuhur dengan Ashar, Mgahrib dengan Isya, sedangkan Subuh tidak dapat dijamak dengan shalat lainnya.

Hukum Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jumat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan sebagai berikut:

Tidak boleh menjamak (menggabungkan) shalat Ashar dengan shalat Jumat, ketika diperbolehkan menjamak antara shalat Ashar dan Zuhur (karena ada alasan syari, seperti perjalanan,-red). Seandainya seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh melintasi suatu daerah, lalu dia melakukan shalat Jumat bersama kaum Muslimin di sana, maka (dia) tidak boleh menjamak Ashar dengan shalat Jumat.

Seandainya ada seorang yang menderita penyakit sehingga diperbolehkan untuk menjamak shalat, (lalu ia) menghadiri shalat dan mengerjakan shalat Jumat, maka dia tidak boleh menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat. Dalilnya ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [An-Nisaa: 103]

Maksudnya, (ialah) sudah ditentukan waktunya. Sebagian dari waktu-waktu ini sudah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala secara global dalam firman-Nya:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh Malaikat)” [Al-Israa: 78]

Jika ada yang mengatakan, apakah tidak boleh mengqiyaskan jama shalat Ashar ke Jumat dengan menjamak shalat Ashar ke Zuhur?

Jawabnya adalah tidak boleh, karena beberapa sebab:

  • Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.
  • Shalat Jumat merupakan shalat tersendiri, memiliki lebih dari 20 hukum (ketentuan-ketentuan) tersendiri yang berbeda dengan shalat Zuhur. Perbedaan seperti ini menyebabkannya tidak bisa disamakan (diqiyaskan) ke shalat yang lainnya.
  • Qiyas seperti (dalam pertanyaan di atas, -pent) ini bertentangan dengan zahir sunnah. Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ menjamak Maghrib dengan Isya di Madinah dalam kondisi aman dan tidak hujan.

Pada masa Rasulullah ﷺ pernah juga turun hujan yang menimbulkan kesulitan. Akan tetapi beliau ﷺ tidak menjamak shalat Ashar dengan Jumat, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ pernah meminta hujan pada hari Jumat saat beliau ﷺ di atas mimbar. Sebelum beliau ﷺ turun dari mimbar, hujan turun dan mengalir dari jenggotnya. Ini tidak akan terjadi, kecuali disebabkan oleh hujan yang bisa dijadikan alasan untuk menjamak shalat, seandainya boleh menjamak Ashar dengan shalat Jumat. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, pada hari Jumat berikutnya, seseorang datang dan berkata: “Wahai, Rasulullah. Harta benda sudah tenggelam dan bangunan hancur, maka berdoalah kepada Allah agar memberhentikan hujan dari kami”.

Kondisi seperti ini, (tentunya) memerbolehkan untuk menjamak, jika seandainya boleh menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat.

Jika ada yang mengatakan: “Mana dalil yang melarang menjamak shalat Ashar dengan shalat Zuhur?”

Pertanyaan seperti ini tidak tepat, karena hukum asal beribadah adalah terlarang, kecuali ada dalil (yang merubah hukum asal ini menjadi wajib atau sunat, -pent). Maka orang yang melarang pelaksanaan ibadah kepada Allah dengan suatu amalan fisik atau hati, tidak dituntut untuk mendatangkan dalil. Akan tetapi, yang dituntut untuk mendatangkan dalil ialah orang yang melakukan ibadah tersebut, berdasarkan firman Allah yang mengingkari orang-orang yang beribadah kepadanya, tanpa dasar syari “Apakah mereka memunyai Sembahan-Sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” [Asy-Syuura: 21]

Dan firman-Nya:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agamamu” [Al-Maidah: 3]

Berdasarkan ini, jika ada yang menanyakan: “Mana dalil larangan menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat?” (Maka) kita mengembalikan pertanyaan: “Mana dalil yang memerbolehkannya? Karena hukum asal shalat Ashar dikerjakan pada waktunya. Ketika ada faktor yang memerbolehkan untuk menjamak shalat Ashar, hukum asal ini bisa diselisihi. (Maka yang) selain itu tetap pada hukum asalnya, yaitu tidak boleh diajukan dari waktunya.

Jika ada yang mengatakan: “Bagaimana pendapatmu jika dia berniat shalat Zuhur ketika shalat Jumat agar bisa menjamak?”

Jawab, jika seorang imam shalat Jumat di suatu daerah, berniat shalat Zuhur dengan shalat Jumatnya, maka tidak syak lagi (demikian) ini merupakan perbuatan haram, dan shalatnya batal. Karena bagi mereka, shalat Jumat itu wajib. Jika ia mengalihkan shalat Jumat ke shalat Zuhur, berarti mereka berpaling dari perintah-perintah Allah kepada sesuatu yang tidak diperintahkan, sehingga berdasarkan hadis di atas, (maka) amalnya batal dan tertolak.

Sedangkan jika yang berniat melaksanakan shalat Jumat dengan niat Zuhur adalah -seorang musafir (misalnya), yang bermakmum kepada orang yang wajib melaksanakannya, maka perbuatan musafir ini juga tidak sah. Karena, ketika dia menghadiri shalat Jumat, berarti dia wajib melakukannya. Orang yang terkena kewajiban shalat Jumat, namun dia melaksanakan shalat Zuhur sebelum imam salam dari shalat Jumat, maka shalat Zuhurnya tidak sah.

Sumber:

  • Silsilah Al-Hadis Ash-Shahihah Wa Syaiun Min Fiqhiha Wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadis Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan CV. Pustaka Mantiq, hal. 362-372.
  • 257 Tanya Jawab Fatwa-fatwa Al-Utsaimin, oleh Syaikh Muhammad Al-Shalih Al-‘Utsaimin, terbitan Gema Risalah Press, hal 133-134.
  • Kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadis Pilihan Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Penerbit Darul Fallah
  • Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005. Diambil dari Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
  • http://www.almanhaj.or.id

 

https://jacksite.wordpress.com/2007/12/06/hukum-shalat-qashar-dan-shalat-jama/

,

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukum, cara, syarat dan bilamana kita melakukan Jamak dan Qashar atas shalat kita?
Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Perlu dibedakan antara Jamak dengan Qashar. Mengingat banyak orang yang menganggap bahwa Jamak identik dengan Qashar, padahal hakikatnya mereka adalah dua hal yang berbeda.

Pertama: Hukum Qashar

Hukum Qashar terkait dengan safar (melakukan perjalanan). Atau dengan kata lain: Qashar identik dengan safar. Artinya, ketika orang bersafar, maka disyariatkan untuk meng-Qashar shalatnya. Hanya saja, ulama berbeda pendapat tentang hukum Qashar ketika safar. Ada yang mengatakan wajib, ada yang mengatakan bahwa hukum Qashar adalah Sunnah Muakkad, dan ada juga yang berpendapat bahwa hukum Qashar adalah mubah.

Intinya, semua sepakat bahwa orang yang boleh meng-Qashar shalat adalah musafir. Dalil akan hal ini adalah:

  1. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau ﷺ melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Sesungguhnya Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ: Untuk musafir: dua rakaat, untuk mukim: empat rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan satu rakaat.” (HR. Muslim).

Adapun rincian hukum Qashar, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hanya untuk shalat yang jumlahnya empat rakaat, yaitu: Zuhur, Ashar, dan Isya.
  2. Jika musafir bermakmum pada orang yang mukim, maka dia mengikuti imam sampai selesai dan tidak boleh Qashar.
  3. TIDAK PERLU melaksanakan shalat ba’diyah.

Kedua: Hukum Jamak

Hukum asal pelaksanaan shalat adalah dikerjakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Namun, jika ada sebab tertentu sehingga seseorang harus menjamak shalatnya, maka hal itu diperbolehkan. Batasannya adalah: Selama ada sebab yang mengakibat seseorang kesulitan untuk melaksanakan shalat sesuai waktunya, maka dia diperbolehkan untuk menjamak shalatnya.

Di antara penyebab bolehnya menjamak shalat adalah safar. Dengan demikian, orang yang safar, diperbolehkan untuk melaksanakan shalat dengan Jamak-Qashar.

Di antara aturan Jamak adalah:

  1. Hanya boleh untuk pasangan: Zuhur-Ashar atau Maghrib-Isya.
  2. Khusus untuk orang yang hendak safar:

– Jika berangkat safar sebelum shalat yang pertama, maka sebaiknya menjamak shalat  di akhir waktu (Jamak Ta’khir). Misalnya: Jika berangkat sebelum Zuhur, maka shalat Zuhur dan Ashar dijamak di waktu Ashar.

– Jika berangkatnya sesudah shalat pertama, maka sebaiknya menjamak shalat di awal waktu. Misalnya: Jika berangkat setelah Zuhur, maka shalat Asharnya dilakukan di waktu Zuhur.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah

[www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3894-tentang-menjamak-qashar-shalat.html