Posts

SERATUS AYAT SATU MALAM

SERATUS AYAT SATU MALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SERATUS AYAT SATU MALAM

 

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»

“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang membaca seratus ayat pada suatu malam, dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” [HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468]

 

Sumber: https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

,

BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA LEBIH HARUM DI SISI ALLAH, DARIPADA BAU MINYAK KASTURI

BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA LEBIH HARUM DI SISI ALLAH, DARIPADA BAU MINYAK KASTURI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA LEBIH HARUM DI SISI ALLAH, DARIPADA BAU MINYAK KASTURI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan dalam hadis di atas: “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi.”

Seperti kita tahu bersama, bahwa bau mulut orang yang berpuasa, apalagi di siang hari, sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah, karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan, dan karena mengharap rida Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada Hari Kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:

  1. Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di Akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini, sehingga makhluk pun tahu, bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya, karena dulu di dunia dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di Hari Kiamat nanti, karena amalan rahasia yang dia lakukan.
  2. Barang siapa yang beribadah dan menaati Allah, selalu mengharap rida Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap rida Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

DUA KEBAHAGIAAN YANG DIRAIH BAGI ORANG YANG BERPUASA

DUA KEBAHAGIAAN YANG DIRAIH BAGI ORANG YANG BERPUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

DUA KEBAHAGIAAN YANG DIRAIH BAGI ORANG YANG BERPUASA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Dalam hadis di atas dikatakan: “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya.”

Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.

Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabb-nya, yaitu dia akan jumpai, pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan
KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

Sebuah hadis agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi ﷺ dari Rabb-nya:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” [HR. Bukhari no. 1904]

Ini merupakan hadis yang mengandung fadhilah puasa dan keistimewaannya, dibandingkan dengan ibadah lainnya. Dan bahwa Allah ta’ala telah mengkhususkan ibadah puasa ini untuk-Nya.

Riwayat ini menunjukkan, bahwa setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

Pertama, karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu terjadi dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi, dan boleh menunda shalat, ketika dalam kondisi seperti itu.

Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua, seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memerhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab: “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari, bahwa dia berada dalam pengawasan Allah, meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka menaati Rabb-nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan: “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya, karena mengharap janji Rabb-nya yang tidak nampak di hadapannya”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

Kedua, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan: “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya. Berbeda dengan amalan lainnya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

IBADAH PUASA LANGSUNG DIHITUNG SENDIRI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH SENDIRILAH YANG AKAN MEMBALASNYA

>> Pahala Puasa untuk Allah

Ingatlah puasa itu memiliki keistimewaan dibanding amalan lainnya. Amalan lainnya akan kembali untuk manusia, yaitu dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga lebih dari itu. Namun tidak untuk amalan puasa. Amalan tersebut, Allah khususkan untuk diri-Nya. Sehingga pahala puasa pun bisa tak terhingga pahalanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” [HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151]

Pahala Puasa yang Tak Terhingga

Setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa TIDAK DIBATASI lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali, semoga Allah merahmati beliau mengatakan: ”Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az Zumar: 10]

Sabar itu ada tiga macam, yaitu:

  • (1) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
  • (2) Sabar dalam meninggalkan yang haram dan
  • (3) Sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.

Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan. Di dalamnya ada pula menjauhi hal-hal yang diharamkan. Begitu juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga, sebagaimana sabar.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): “PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA”

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): "PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

KENAPA PUASA DIKHUSUSKAN DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA (HADIS QUDSI): “PUASA UNTUKKU DAN AKU YANG AKAN MEMBALASNYA”

>> Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala mengkhususkan balasan puasa dari-Nya?

Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: ‘Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Ketika semua amal untuk Allah dan Dia yang akan membalasnya, maka para ulama berbeda pendapat dalam firman-Nya: “Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Mengapa puasa dikhususkan?

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah telah menyebutkan sepuluh alasan dari perkataan para ulama yang menjelasakan makna hadis dan sebab pengkhususan puasa dengan keutamaan ini. Alasan yang paling kuat adalah sebagai berikut:

1. Bahwa puasa tidak terkena riya sebagaimana (amalan) lainnya terkena riya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata: “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah. Maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya. Oleh karena itu dikatakan dalam hadis: ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata: ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya). Berbeda halnya dengan puasa.

  1. Maksud dari ungkapan ‘Aku yang akan membalasnya’, adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata: ‘Artinya bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali, sampai sekehendak Allah. Kecuali puasa, maka Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah azza wa jallah berfirman: ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

Yakni “Aku akan memberikan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya.” Hal ini seperti firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

  1. Makna ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’, maksudnya adalah, bahwa dia termasuk ibadah yang paling Aku cintai dan paling mulia di sisi-Ku. Ibnu Abdul Bar berkata: “Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, 2220 dari Abu Umamah rahdiallahu anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang menyamainya.” [Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Nasai]
  1. Penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana diungkapkan ‘Baitullah (rumah Allah)’, meskipun semua rumah milik Allah. Az-Zain bin Munayyir berkata: “Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini tidak dapat dipahami, melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hadis yang agung ini menunjukkan akan keutamaan puasa dari beberapa sisi:

Pertama: Sesungguhnya Allah khususkan puasa untuk diri-Nya dari amalan-amalan lainnya. Hal itu karena keutamaannya di sisi-Nya, cintanya padanya dan tampak keikhlasan padanya untuk-Nya subhanahu. Karena puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada yang melihatnya kecuali Allah. Karena orang yang berpuasa, di tempat yang sepi, mungkin baginya mengonsumsi apa yang diharamkan oleh Allah. (Akan tetapi) dia tidak mengonsumsikannya, karena dia mengetahui punya Tuhan yang melihat di tempat yang sunyi. Dan Dia telah mengharamkan hal itu. Maka dia tinggalkan karena takut akan siksa-Nya, serta berharap pahala dari-Nya. Maka, Allah berterimakasih akan keikhlasan ini, dengan mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dibandingkan amalan-amalan lainnya.

Oleh karena itu (Allah) berfirman: “Dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena diri-Ku”

Keistimewaan ini akan terlihat nanti di Hari Kiamat, sebagaimana yang dikatakan oleh Sofyan bin Uyainah rahimahullah: “Ketika Hari Kiamat, Allah akan menghisab hamba-Nya. Dan mengembalikan tanggungan dari kezalimannya dari seluruh amalnya. Sampai ketika tidak tersisa kecuali puasa, maka Allah yang akan menanggung sisa kezaliman, dan dia dimasukkan Surga karena puasanya.”

Kedua: Allah berfirman dalam puasa “Dan Aku yang akan membalasnya.” Maka balasannya disandarkan kepada diri-Nya yang Mulia. Karena amalan-amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya dengan bilangan. Satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali sampai berlipat-lipat. Sementara puasa, maka Allah sandarkan pahalanya kepada diri-Nya, TANPA ADA KADAR BILANGAN. Maka Dia subhanahu adalah zat yang paling dermawan dan paling mulia. Pemberian sesuai dengan apa yang diberikannya. Maka pahala orang puasa sangat besar tanpa batas. Puasa adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan Allah dan sabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan dari lapar, haus dan lemahnya badan serta jiwa. Maka terkumpul di dalamnya tiga macam kesabaran. Maka layak orang puasa termasuk golongan orang-orang sabar. Sementara Allah telah berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

[Majalis Syahru Ramadan, hal. 13]

Wallahu’alam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/50388

,

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

‏غداً توفى النفوس ما كسبت ويحصد الزارعون ما زرعوا، إن أحسنوا أحسنوا لأنفسهم، وإن أساؤوا فبئس ما صنعوا

“Esok hari (Kiamat), jiwa-jiwa akan disempurnakan, balasan atas perbuatan mereka. Orang-orang yang menanam, akan memanen apa yang mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, maka mereka telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri. Namun jika mereka berbuat buruk, maka alangkah buruknya apa yang mereka perbuatkan.” [Lathaiful Ma’arif, jilid 1, hlm 232]

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi” [HR. Muslim no. 1151].

Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula, puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (As Saabiqun Al Muqorrobun). [Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H]. Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” [HR. Bukhari no. 2506].

  1. Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya].

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah ﷺ biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” [HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih]

  1. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah

Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat, yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:

[1] Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
[2] Mengerjakan shalat Dhuha,
[3] Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari no. 1178]

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah:

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah ﷺ berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab: “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya: “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” [HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih]

Namun, hari yang UTAMA untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah, yang dikenal dengan Ayyamul Biidh. [Hari ini disebut dengan Ayyamul Biidh (Biidh = Putih, Ayyamul = Hari) sebab pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih, dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu]. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada Ayyamul Biidh, ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” [HR. An Nasai no. 2345. Hasan].

Dari Abu Dzar, Rasulullah ﷺ bersabda padanya:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” [HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan]

  1. Puasa Daud

Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak. Rasulullah ﷺ bersabda:

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” [HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ الَّذِى تَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ » قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ . قَالَ « إِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قَالَ قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَهْوَ عَدْلُ الصِّيَامِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ » .

Disampaikan kabar kepada Rasulullah ﷺ, bahwa aku berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku.” Maka Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata: “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?“ Kujawab: “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya“. Maka beliau ﷺ berkata: “Sungguh, kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah, dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan. Karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa, dan itu seperti puasa sepanjang tahun.” Aku katakan: “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari. Yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam, yang merupakan puasa yang PALING UTAMA“. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Maka beliau ﷺ bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu“. [HR. Bukhari no. 3418 dan Muslim no. 1159]

Ibnu Hazm mengatakan: “Hadis di atas menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ MELARANG dari melakukan puasa lebih dari puasa Daud, yaitu sehari puasa sehari tidak.” [Al Muhalla, Ibnu Hazm, 7/13, Mawqi’ Ya’sub]

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan: “Puasa seperti puasa Daud, sehari berpuasa sehari tidak, adalah lebih afdhol dari puasa yang dilakukan terus menerus (setiap harinya).” [‘Aunul Ma’bud, 5/303, Mawqi’ Al Islam]

Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu, dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyariatkan lainnya. Begitu pula, jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memerbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.” [Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H]

  1. Puasa Syaban

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi ﷺ tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya.” [HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156].

Dalam lafal Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” [HR. Muslim no. 1156]

Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya, (bukan seluruh harinya) [Karena kadang kata seluruh (kullu) dalam bahasa Arab bermakna mayoritas], sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir. [Lihat Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 4/621, Idarotuth Thob’ah Al Muniroh]. Para ulama berkata, bahwa Nabi ﷺ tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain  Ramadan, agar tidak disangka puasa selain Ramadan adalah wajib. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 8/37, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392]

  1. Puasa Enam Hari Syawal

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim no. 1164]

  1. Puasa di Awal Dzulhijjah

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi ﷺ menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, namun tidak ada yang kembali satu pun.” [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih]. Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. Sehingga amalan tersebut bisa dalam bentuk shalat, sedekah, membaca Alquran, dan amalan saleh lainnya. [Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijjah adalah amalan puasa.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi ﷺ mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi), …” [HR. Abu Daud no. 2437. Shahih].

  1. Puasa ‘Arofah

Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah. Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” [HR. Muslim no. 1162]. Sedangkan untuk orang yang berhaji, tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ

“Nabi ﷺ tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [HR. Tirmidzi no. 750. Hasan Shahih].

  1. Puasa ‘Asyura

Nabi ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163]. An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Hadis ini merupakan penegasan, bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55]

Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram. Namun Nabi ﷺ bertekad  di akhir umurnya, untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan: “Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan: “Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah keburu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134].

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah

Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari Nabi ﷺ menemuiku dan bertanya: “Apakah kamu memunyai makanan?” Kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau ﷺ datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau ﷺ pun berkata: “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” [HR. Muslim no. 1154].

An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim: “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke Barat), dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa uzur.”

Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadis ‘Aisyah di atas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang, ketika ia ingin memulainya. Begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat, bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/35]

Ketiga: Seorang istri TIDAK BOLEH berpuasa sunnah, sedangkan suaminya bersamanya, kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa, sedangkan suaminya ada, kecuali dengan seizinnya.” [HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah, puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadis di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut, karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi, gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib, yang sebenarnya bisa diakhirkan.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Beliau rahimahullah menjelaskan pula: “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Semoga Allah memberi kita taufik untuk beramal saleh.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html

 

,

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

PAHALA AMALAN PUASA, ALLAH SENDIRI YANG AKAN MEMBALASNYA

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi” [HR. Muslim no. 1151].

 

Sumber: https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html

 

,

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rohimahullah ta’ala:

Ada lima tingkatan manusia dalam mengerjakan sholat:

  1. Tingkatan orang yang zalim kepada dirinya dan teledor, yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu sholatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya.
    Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.
  3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya, agar jangan sampai berhasil mencuri sholatnya. Maka, dia sedang berada di dalam sholat, sekaligus jihad.
  4. Orang yang melaksanakan sholat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dipenuhi oleh urusan sholat dan penyembahan kepada Robbnya tabaaroka wa ta’ala.
  5. Orang yang melaksanakan sholat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Robbnya Azza wa Jalla.
    Dia memandang dan memerhatikan-Nya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepada-Nya.
    Seolah-olah ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya secara langsung.
    Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Robbnya telah diangkat. Jarak antara sholat orang semacam ini dengan sholat orang yang lainnya, lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam sholatnya, dia sibuk dengan Robbnya. Dia merasa tenteram lewat sholat.
  • Kelompok pertama akan disiksa.
  • Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya.
  • Kelompok ketiga akan dihapus dosanya.
  • Kelompok keempat akan diberi balasan pahala.
  • Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Robbnya, kerana dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam sholat.

Barang siapa yang tenteram hatinya dengan sholat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Robbnya di Akhirat, dan akan tenteram pula hatinya di dunia.

Barang siapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah ta’ala, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya.

Dan barang siapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia.

[Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29]

Maka nilailah diri kita sekarang.
Di manakah posisi kita dari tingkatan orang yang sholat?
Barang siapa yang berada di posisi yang terbaik, hendaknya ia memuji Allah.
Namun bila tidak, segeralah perbaiki diri, karena amalan sholat adalah termasuk penentu posisi kita di Akhirat kelak.

 

Penulis: Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah