Posts

,

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

Pertama: Berusaha Disertai Tawakal

Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. Usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan, karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. Perubahan hanya akan terjadi, ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du: 11]

Karena itu, dalam Islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha, karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha, diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).

Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PeDe, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah menjanjikan, orang yang bertawakal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” [QS. At-Thalaq: 3].

Sebaliknya, orang yang tidak bertawakal, maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita: “Nabi Sulaiman pernah berikrar: “Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. Semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.” Beliau mengucapkan demikian, dan tidak mengatakan: “InsyaaAllah”. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan, kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi ﷺ bersabda:

لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah, niscaya akan terlahir 100 anak, dan semuanya berjihad di jalan Allah.” [HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Siapa kita dibandingkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam? Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakal, ternyata bisa menuai kegagalan.

Kedua: Hindari Sebab Yang Tidak Memenuhi Syariat

Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian, dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hapal. Ada yang zikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.

Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita, bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab, jika memenuhi dua kriteria:

  • Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiah. Misalnya belajar dan menghapal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.
  • Jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. Sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiah memiliki hubungan dengan akibat,namun selama ada dalil, maka boleh dijadikan sebagai sebab. Contoh, meruqyah dengan bacaan Alquran untuk mengobati orang sakit. Meskipun secara ilmiah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah hubungan antara bacaan Alquran dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut, maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.

Jika ada sebab yang TIDAK memenuhi dua kriteria di atas, maka menggunakan sebab tersebut hukumnya SYIRIK KECIL. Karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. Dia meyakini, bahwa hal itu bisa dijadikan sebab, padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.

Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. Jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid’ah.

Ketiga: Perbanyak Istighfar

Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. As-Syura: 40]

Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rezeki, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rezeki, disebabkan dosa yang dia perbuat. [HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani].

Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka. [HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya].

Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di Surat Hud:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang memunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [QS. Hud: 3]

Keempat: Banyak berdoa

Perbanyaklah berdoa kepada Allah, meminta segala hal yang kita butuhkan, baik dalam urusan Akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu, maka semakin besar peluang untuk dibukakan pintu tersebut. Semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta didoakan orang lain. Karena berdoa sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan, daripada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar, bila dibandingkan dengan doa yang diwakilkan orang lain. Di samping itu, berdoa sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Kelima: Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari Bentuk Penipuan

Pernahkah kita menyadari, bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan? Adakah di antara kita yang sadar, bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan? Pernahkah kita merasa, bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan, kalau itu tidak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan, antara UN dengan agama. Tak ada kaitannya dengan urusan Akhirat.

Perlu kita sadari, bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:

  1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan, karena orang yang melihat nilai kita beranggapan, bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. Padahal hakikatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Muslim].

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar, karena diancam dengan kalimat: “Bukan termasuk golongan kami”. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan].

Komite Tetap Tim Fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian, mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.

Berdasarkan hadis dari Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”

Dalam kesempatan yang sama Komite Fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “Barangs iapa yang menipu kami…” kemudian mereka menjawab:

“Hadis ini statusnya Shahih. Mencakup segala bentuk penipuan, baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren. Baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”

  1. Perbuatan ini termasuk di antara sifat orang yang diancam dengan azab. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

“…dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Jangan sekali-kali kamu mengira, bahwa mereka akan lolos dari azab…” [QS. Ali Imran: 188].

Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh, pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalau itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertakwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.

  1. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan, maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.” [HR. Ahmad & Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani].

Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud; “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan, bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan, padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. [Lihat Faidhul Qodir 6/338].

Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pintar, nilainyanya bagus, padahal aslinya….

Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai Muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab, karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan, orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan Surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada Surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada Neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Keenam: Tips dalam Menghadapi Kegagalan

a. Tanamkan Bahwa Semuanya Telah Ditakdirkan

Sebagai bukti, bahwa kita adalah orang yang beriman pada takdir, kita yakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya, baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat, jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada takdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah, dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا…

Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak…..”[QS. Al Fajr: 15-17].

b. Bersabar dengan Penuh Mengharapkan Pahala

Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup, maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap rida, atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi ﷺ bersabda:

 

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap Mukmin laki-laki maupun wanita, terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin].

Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa, jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.

c. Yakini Ada yang Lebih Buruk Dari Pada Kita

Inilah di antara cara yang diajarkan Islam, agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah, terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu. Karena akan memberi kekuatan kamu, untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” [HR. Muslim]d

d. Hindari Ber-Andai-Andai

Jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “Andai aku tadi pinjam bukunya si A, pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi…pasti…” “Andai aku…kan harusnya gak…” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul, ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan, agar manusia mengingkari takdir Allah. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian, tentu yang terjadi demikian..” Tetapi katakanlah: “Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan, ketika sedang mengalami kegagalan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”

e. Berusaha Untuk Memerbaikinya dan Jangan Putus Asa

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)…” [HR. Muslim].

Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua… Amiin

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17430-adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un.html

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

,

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#FatwaUlama

 

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

Dalil Memerbanyak Puasa Syaban

Syaban adalah satu bulan sebelum Ramadan. Terdapat hadis, bahwa Nabi ﷺ memerbanyak puasa di bulan Syaban. Bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memerbanyak puasa Syaban, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi ﷺ puasa beberapa hari sampai kami katakan: ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering, ketika Syaban” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Aisyah radhiallahu ‘anha juga berkata:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi ﷺ berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syaban sebulan penuh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Keutamaan Memerbanyak Puasa Syaban

Hikmah memerbanyak puasa Syaban adalah karena pada bulan itu amal terangkat, dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata:

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .

“Pendapat yang benar di dalam hal ini adalah, apa yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, sebagaimana engkau berpuasa Syaban. Kemudian beliau ﷺ menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam. Maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” [Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari].

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata:

فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Syaban, sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya. Dan aku suka diangkat amalanku, dalam keadaan aku berpuasa.” [Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313]

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, yaitu bulan setelah Syaban. Memersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata:

الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان

“Puasa Syaban dalam rangka persiapan puasa Ramadan.” [Fatawa Jawab wa Sual no. 92748]

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaban

  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah. Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada 13, 14 dan 15 Syaban, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Syaban

Timbul pertanyaan, apakah Puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya, seperti Puasa  Senin-Kamis? Ini ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh dikombinasikan

Berdasarkan hadis mengenai Abdullah bin ‘Amr yang dinasihati oleh Nabi ﷺ untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari Puasa Daud. Akan tetapi Nabi ﷺ melarangnya. Beliau ﷺ lalu bersabda:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada Puasa Daud.” [HR. Bukhari 3418, Muslim 1159].

  1. Boleh dikombinasikan

Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan:

ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً…  وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من المسارعة في الخيرات

“Mereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan, yaitu Puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikan.” [Fatawa no. 6488]

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29840-anjuran-memerbanyak-puasa-di-bulan-syaban.html

 

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

Berikut ini adalah beberapa amalan sederhana yang bila diamalkan, akan dibangunkan rumah atau istana di Surga. Amalan-amalan tersebut adalah:

Pertama: Membangun Masjid dengan Ikhlas karena Allah

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di Surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih)

Mafhash qathaah dalam hadis artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.

Hadis tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadis ‘Utsman bin ‘Affan. Di masa Utsman, yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul ﷺ. Utsman katakan pada mereka yang membangun, sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di Surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di Surga ada dua tafsiran:

1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di Surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.

2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di Surga dibanding dengan rumah di Surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)

Kedua: Membaca Surat Al-Ikhlas Sepuluh Kali

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca Qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (Surat Al-Ikhlas, pen.) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguat)

Ketiga: Mengerjakan Sholat Dhuha Empat Rakaat dan Sholat Sebelum Zuhur Empat Rakaat

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang sholat Dhuha empat rakaat dan sholat sebelum Zuhur empat rakaat, maka dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadis ini Hasan)

Keempat: Mengerjakan 12 Rakaat Sholat Rawatib dalam Sehari

Dari Ummu Habibah –istri Nabi ﷺ-, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengerjakan sholat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim, no. 728)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa merutinkan sholat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di Surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum  Dzuhur, dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini Hasan)

Kelima: Meninggalkan Perdebatan

Keenam: Meninggalkan Dusta

Ketujuh: Berakhlak Mulia

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga, bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan, walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Kedelapan: Mengucapkan Alhamdulillah dan Istirja’ (Inna ilaihi wa innaa ilaihi raaji’’un) ketika anak kita wafat

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata: “Benar.” Allah berfirman: “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab: “Benar.” Allah berfirman: “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata: “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman: “Bangunkan untuk hamba-Ku di Surga, dan namai ia dengan nama Baitul Hamdi (Rumah Pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan).

Kesembilan: Membaca Doa Masuk Pasar

Dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya Ibnu ‘Umar, dari kakeknya (‘Umar bin Al-Khattab), ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

“Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiit wa huwa hayyun laa yamuut biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir

Artinya:

Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah yang memiliki kekuasaan dan segala pujian untuk-Nya.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta kejelekan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3428. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dha’if).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَبَاعَ فِيْهَا وَاشْتَرَى ، فَقَالَ : لاَ إِلَه َإِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الملْكُ ، وَلَهُ الحَمْدُ ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ

“Siapa yang memasuki pasar lalu ia melakukan jual beli di dalamnya, lantas mengucapkan: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir; maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan, akan menghapus darinya sejuta kejelekan dan akan membangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, 1: 722)

Meskipun riwayatnya Dha’if atau Lemah, namun karena kita diperintahkan berzikir ketika orang itu lalai seperti kala di pasar, maka zikir di atas masih boleh diamalkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“إذا تضمنت أحاديث الفضائل الضعيفة تقديراً وتحديداً ؛ مثل صلاة في وقت معين ، بقراءة معينة ، أو على صفة معينة ؛ لم يجز ذلك – أي العمل بها – لأن استحباب هذا الوصف المعين لم يثبت بدليل شرعي ، بخلاف ما لو روي فيه : (مَن دخل السوق فقال : لا إله إلا الله كان له كذا وكذا) فإن ذكر الله في السوق مستحب ، لما فيه من ذكر الله بين الغافلين ، فأما تقدير الثواب المروي فيه فلا يضر ثبوته ولا عدم ثبوته

“Jika suatu hadis yang menerangkan fadhilah atau keutamaan suatu amalan dari sisi jumlah atau pembatasan tertentu seperti sholat di waktu tertentu, membaca bacaan tertentu, atau ada tata cara tertentu, tidak boleh diamalkan jika hadisnya berasal dari hadis Dha’if. Karena menetapkan tata cara yang khusus dalam ibadah haruslah ditetapkan dengan dalil.

Adapun mengenai doa masuk pasar yaitu hadisnya berbunyi, siapa yang masuk pasar lantas membaca laa ilaha illallah dan seterusnya, maka perlu dipahami bahwa secara umum, berzikir ketika masuk pasar itu disunnahkan. Karena kita diperintahkan berzikir saat orang-orang itu lalai. Besarnya pahala yang disebutkan dalam hadis tersebut (hingga disebutkan sejuta, pen.) tidaklah menimbulkan problema ketika bacaan tersebut diamalkan, baik nantinya hadis tersebut dihukumi Shahih ataukah tidak. ” (Majmu’ Al-Fatawa, 18: 67)

Dalil umum yang memerintahkan kita banyak zikir termasuk di pasar adalah hadis berikut. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata:

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada dua orang Arab (Badui) mendatangi Rasulullah ﷺ. Lantas salah satu dari mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau ﷺ. Salah satunya lagi bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berzikir pada Allah,” jawab beliau ﷺ. (HR. Ahmad 4: 188, sanad Shahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Hadis ini menunjukkan, bahwa zikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari zikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ketika hati seseorang terus berzikir pada Allah, maka ia seperti berada dalam sholat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524)

Kesepuluh: Menutup Celah dalam Shaf Sholat

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam Shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut, dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam Surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Kesebelas: Beriman pada Nabi ﷺ

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berhijrah, dengan sebuah rumah di pinggir Surga, di tengah Surga, dan Surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad, dengan rumah di pinggir Surga, di tengah Surga dan di Surga yang paling tinggi. Barang siapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan. Ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Semoga kita dimudahkan mendapatkan kaveling rumah atau istana di Surga. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

https://saaid.net/rasael/441.htm

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/13072-11-amalan-dapat-jaminan-rumah-di-Surga.html

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#TazkiyatunNufus

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أحبَّ اللّه عبداً عسّلَه .قالوا : ما عسّلَه ؟ . قال : يفتح اللّه – عز وجل – له عملاً صالحاً قبل موته ثمّ يقبضه عليه

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberinya madu”. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya memberinya madu?” Beliau ﷺ menjawab: “Allah akan membukakan baginya amal saleh sebelum kematiannya, kemudian Allah mewafatkannya di atas amal saleh tersebut (Husnul Khatimah).” [HR. Ahmad 17819. Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 1114]

 

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

SUCIKANLAH JIWAMU

SUCIKANLAH JIWAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

SUCIKANLAH JIWAMU

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman),” dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat.” [QS. Al-A’la 14-15]

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰٮهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” [Qs. Asy-Syams 9-10]

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]
Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

,

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TAKDIR DAPAT DITOLAK DENGAN DOA

>> Menolak Takdir Dengan Doa

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” [HR. Tirmidzi, no. 6 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak Ada Yang Menolak Takdir Kecuali Doa”]

Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja.
  • Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak.

Yang dimaksud umur tidaklah bertambah melainkan dengan kebaikan terdapat dua makna:

  • Kalau seseorang tidak melakukan kebaikan, maka umurnya pendek.
  • Kalau seseorang melakukan kebaikan, umurnya bertambah, yaitu bertambah berkah.

Jika dilihat dari pengertian di atas, berarti umur bertambah bisa bermakna hakiki. Atau ada yang mengatakan, bahwa semakin banyak amalan kebaikan, semakin bertambah umur. Sebagaimana pula semakin sering memanjatkan doa, musibah akan terus tertolak.

Artinya yang disebutkan di atas, berarti Allah memberkahi umur. Apa maksud Allah memberkahi umurnya? Ia cukup beramal saleh dalam waktu yang singkat, di mana dengan waktu seperti itu, yang lainnya tidak bisa melakukan amalan yang banyak. Maksud kedua di sini, bertambah umur berarti bertambah secara majaz.

Faidah penting yang bisa diambil:

  • Dorongan untuk memerbanyak kebaikan, serta bersegera melakukan kebaikan dan sebab-sebabnya.
  • Amalan kebaikan menyebabkan umur bertambah, baik secara hakiki atau majazi.
  • Doa punya kedudukan yang begitu mulia. Segala sesuatu yang telah Allah takdirkan pada hamba berupa hal yang dibenci, dapat tertolak dan dipalingkan dengan doa, asalkan seseorang ikhlas dan benar dalam niat.

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain. Cetakan kedua, tahun 1421 H. Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. Penerbit Dar Balansia.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15647-menolak-takdir-dengan-doa.html