Posts

,

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama, #TazkiyatunNufus

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

>> Lihat Hatimu, Masih Hidupkah Dia?

Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan:

“Seorang Mukmin tidak mungkin menjadi sempurna kenikmatannya karena kemaksiatan, tidak mungkin menjadi lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan. Bahkan, tidaklah dia melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya. Tapi karena syahwatnya yang mabuk menutupi hatinya, dia tidak merasakan kegundahan itu.

Ketika kegundahan ini hilang dari hatinya, bahkan rasa ingin dan senang terhadap kemaksiatan malah bertambah, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya dan menangisi KEMATIAN hatinya. Karena seandainya hatinya masih hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Ketika hati itu sudah tidak bisa merasakan (pedihnya) dosa, maka tidaklah sebuah luka menjadikan tubuh yang sudah mati merasakan sakit”. [Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199]

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sumber: Twitter @IslamDiaries

DI HADAPAN ALLAH ANGGOTA TUBUH BERSAKSI

DI HADAPAN ALLAH ANGGOTA TUBUH BERSAKSI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

DI HADAPAN ALLAH ANGGOTA TUBUH BERSAKSI

Di hadapan Allah, anggota tubuh bersaksi. Semoga mata bersaksi banyak melihat Mushaf, lisan gemar berzikir, dan semuanya bersaksi dengan kebaikan.

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizahullah

Sumber: @dzulqarnainms

, , ,

DOA BERSETUBUH: DOA DALAM ISLAM, SEBELUM SUAMI ISTRI BERSETUBUH

#DoaZikir
 
DOA BERSETUBUH: DOA DALAM ISLAM, SEBELUM SUAMI ISTRI BERSETUBUH
,

HUKUM MENGGUNAKAN SEPATU KULIT BABI

HUKUM MENGGUNAKAN SEPATU KULIT BABI

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SepatuKulitBabi

HUKUM MENGGUNAKAN SEPATU KULIT BABI
>> Bagaimanana hukumnya menggunakan sepatu kulit binatang yang haram dimakan?

Ketika ditanya tentang hukum memakai sepatu impor dari Barat, sementara tidak diketahui, apakah itu dari kulit yang halal dimakan ataukah kulit babi, Lajnah Daimah memberi jawaban:

الأصل الطهارة وجواز لبسها حتى يثبت ما يوجب الحكم بنجاستها وتحريم لبسها ، من كونها من جلد خنزير ، أو من حيوان غير مذكى ذكاه شرعية ولم يدبغ

Hukum asalnya adalah suci dan boleh digunakan, sampai kita yakin ada hal yang menyebabkan dia najis dan haram digunakan, baik karena terbuat dari kulit babi atau binatang yang tidak disembelih dengan cara yang syar’i, sementara tidak disamak. [Fatawa Lajnah Daimah, 24/29]

Kapan menyentuh benda najis menyebabkan terkena najis?

Setelah kita mendapat kesimpulan, bahwa sepatu dari kulit babi itu tidak boleh digunakan karena najis, bagaimana status kaki yang sudah memakai sepatu itu?

Prinsip penting yang bisa kita pegangi dalam hal ini adalah tidak semua bentuk menyentuh benda najis menyebabkan badan kita menjadi najis. Karena itu, ada dua hal yang perlu dibedakan, benda najis itu sendiri dan menyentuh benda najis.

Menyentuh benda najis bisa menyebabkan badan kita menjadi najis, jika ada bagian benda najis itu yang menempel. Sebaliknya, jika TIDAK ada bagian benda najis itu yang menempel, maka status badan kita tetap SUCI.

Syaikh Dr. Sholeh Al-Fauzan menjelaskan:

وإذا لمس الإنسان نجاسة رطبة؛ فإنه يغسل ما لمسها به من جسمه؛ لانتقال النجاسة إليه، أما النجاسة اليابسة؛ فإنه لا يغسل ما لمسها به؛ لعدم انتقالها إليه

“Jika ada orang menyentuh benda najis yang basah, maka dia harus mencuci bagian tubuhnya yang terkena benda najis itu, karena ada bagian najisnya yang berpindah kepadanya. Namun jika menyentuh najis kering, maka tidak perlu mencuci badan yang menyentuhnya, karena tidak ada bagian najis yang menempel.” [Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan].

Hal yang sama juga difatwakan oleh Syaikh Abdullah Al-jibrin. Beliau menjelaskan:

لا يضر لمس النجاسة اليابسة بالبدن والثوب اليابس ، وهكذا لا يضر دخول الحمام اليابس حافياً مع يبس القدمين لأن النجاسة إنما تتعدى مع رطوبتها

Tidak masalah menyentuh benda najis kering dengan badan atau pakaian yang kering. Oleh karena itu, tidak masalah memasuki kamar mandi yang kering dengan memakai sepatu yang kering. Karena najis hanya bisa menempel jika basah. (Fatawa Al-Mar-ah Al-Muslimah, 1/194).

Karena itu, bagi kita yang sempat memakai sepatu itu, sementara kaki kita kering dan sepatu juga kering, maka kita tidak perlu was-was, karena kaki kita tidak najis.

Bagaimana cara mencuci badan yang terkena kulit babi?

Bagi kita yang sempat memakai sepatu berkulit babi dalam kondisi basah, baik karena air dari luar maupun karena keringat kaki, wajib mencuci kaki, karena statusnya najis. Cara mencucinya HANYA SEKALI saja, sebagaimana najis pada umumnya. Sebagian ulama ada yang menyamakan najisnya babi seperti najisnya liur anjing. Namun analogi ini TIDAK benar dan TIDAK memiliki dasar yang kuat. Di antara ulama yang membantah pendapat yang menyamakan status najisnya kulit babi dengan liur anjing adalah Imam Ibnu Utsaimin. Beliau menjelaskan:

وهذا قياس ضعيف ؛ لأن الخنزير مذكور في القرآن ، وموجود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، ولم يرد إلحاقه بالكلب ، فالصحيح أن نجاسته كنجاسة غيره ، لا يغسل سبع مرات إحداها بالتراب

Menyamakan kulit babi dengan anjing adalah analogi yang lemah. Karena babi telah disebutkan dalam Alquran dan sudah ada di zaman Nabi ﷺ. Sementara tidak ada riwayat yang menyamakan babi dengan anjing. Karena itu, yang benar, najisnya babi sama dengan najisnya benda najis lainnya. TIDAK perlu dicuci tujuh kali. (As-Syarhul Mumthi’, 1/356).

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15676-empat-catatan-tentang-sepatu-kulit-babi.html

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

Sebagian kita ketika chating pada Yahoo atau WhatsApp, begitu pula pada Facebook, memberikan Smiley atau Emoticon yang nampak kepala manusia tanpa badan. Apakah Smiley dan Emoticon ini dibolehkan?

Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan Ibnu Qudamah berikut ini.

Ibnu Qudamah berkata: “Jika bagian kepala itu dipotong, maka hilanglah larangan. Ibnu ‘Abbas berkata:

الصُّورَةُ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلِيس بِصُورَةٍ

“Disebut gambar (yang terlarang) adalah jika ada kepalanya. Namun jika kepalanya itu terpotong, maka itu bukanlah gambar (yang terlarang).” Perkataan ini diceritakan dari ‘Ikrimah.

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ: أَتَيْتُك الْبَارِحَةَ ، فَلَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَكُونَ دَخَلْت إلَّا أَنَّهُ كَانَ عَلَى الْبَابِ تَمَاثِيلُ ، وَكَانَ فِي الْبَيْتِ سِتْرٌ فِيهِ تَمَاثِيلُ ، وَكَانَ فِي الْبَيْتِ كَلْبٌ ، فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِي عَلَى الْبَابِ فَيُقْطَعُ ، فَيَصِيرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَ ، وَمُرْ بِالسِّتْرِ فَلْتُقْطَعْ مِنْهُ وِسَادَتَانِ مَنْبُوذَتَانِ يُوطَآنِ ، وَمُرْ بِالْكَلْبِ فَلْيُخْرَجْ .

“Jibril pernah mendatangiku, lalu ia berkata: “Aku tadi malam hendak menemui engkau. Namun ada sesuatu yang merintangiku masuk, yaitu ada suatu gambar di pintu.” Dan ketika itu di rumahku, ada kain penutup yang bergambar (makhluk bernyawa). Di rumahku juga terdapat anjing.  Potonglah kepala dari gambar yang terdapat di pintu, maka bentuknya nanti sama seperti pepohonan. Untuk bantal atau sandaran pun demikian, yang ada gambarnya dipotong. Untuk anjing, maka usirlah dari rumah.” Rasululullah ﷺ lantas melakukan perintah dari Jibril.

Jika gambar tersebut dipotong lantas tidak nampak lagi bernyawa setelah dipotong, seperti yang terpotong adalah dada, perut, atau yang ada hanyalah kepala yang terpisah dari badan, maka tidak termasuk dalam larangan. Karena setelah dipotong, tidak nampak gambar (yang utuh). Terpotongnya bagian-bagian tadi statusnya sama seperti kepala yang terpotong.

Namun jika ketika dipotong masih teranggap bernyawa, seperti lengkap dengan mata, tangan, atau kaki, maka masih tetap terlarang.

Demikian pula jika di awal pembuatan gambar hanyalah ada badan tanpa kepala, kepala tanpa badan, atau  bentuknya tidak teranggap hidup dengan adanya kepala dan bagian lain dari badannya, maka tidak termasuk dalam larangan. Karena seperti itu bukanlah gambar sesuatu yang bernyawa.” (Lihat Al Mughni, 10: 201).

Dari penjelasan Ibnu Qudamah di atas, nampak bahwa hukum Smiley, Emoticon, dan ekspresi wajah TIDAKLAH MASALAH. Demikian pula yang dikatakan oleh guru kami, Syaikh Dr. Sa’ad Al Khotslan, “Yang nampak ekspresi wajah (face) dengan simbol seperti itu tidak mengapa. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan gambar menurut syariat. Emoticon hanyalah sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang dibuat untuk mengekspresikan perkataan.”

Namun tentu saja ekspresi wajah yang ditampilkan bukan yang memalukan dan merendahkan orang lain.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Mughni, Muwafaqquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.
  • Website Syaikh Dr. Sa’da Al Khotslan: http://www.saad-alkthlan.com/text-875

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/6761-hukum-Smiley-dan-Emoticon.html

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html

, , ,

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

APAKAH PENYAKIT 'AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#AdabAkhlak

APAKAH PENYAKIT ‘AIN HANYA DARI PANDANGAN YANG DENGKI SAJA?

Penyakit ‘ain adalah penyakit, baik pada badan maupun jiwa, yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki, ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan, dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena. Jadi penyakit ‘ain bukan hanya disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki saja, tapi bisa juga diakibatkan oleh pandangan mata orang yang takjub, senang, ataupun kagum terhadap kita. Ibnul Atsir rahimahullah berkata:

ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ

Dikatakan bahwa Fulan terkena ’ain , yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya, lalu pandangan itu memengaruhinya, hingga menyebabkannya jatuh sakit.” [An-Nihayah 3/332]

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal. Akan tetapi Rasulullah ﷺ menegaskan, bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ

Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” [HR. Muslim]

Contoh kasus:

  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja si anak tersebut terkena ‘ain. Tiba-tiba anak tersebut sakit, menangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering, tanpa ada sebab penyakit.
  • Ada teman memuji handphone kita yang baru. Tiba-tiba tanpa sebab yang disadari, handphone itu hilang begitu saja. Oleh karena itu disyariatkan, bila kita memuji atau mengagumi sesuatu, kita ucapkan “Baarakallahufiik (Semoga Allah memberkahimu). Yaitu mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah al-‘Ain.

Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad atau pandangan takjub kepada foto anak atau handphone itu. Dan yang PENTING diketahui, bahwa penyakit ‘ain bisa muncul, meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum saja, dan tidak ada rasa iri di dalam dirinya -pen).

Wallahu a’lam.

Dinukil dari: https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html dengan penambahan seperlunya oleh redaksi Nasihat Sahabat.

,

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoWisudaLIPIA

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

#WisudaAngkatanPertama_KJJ_MarkazIndonesia

Di antara sumbangsih besar Arab Saudi untuk kaum Muslimin Indonesia adalah dibukanya cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah, yang diberi nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), di beberapa kota di Indonesia.

Pemerintah Arab Saudi juga memberikan beasiswa kepada seluruh mahasiswa, plus uang saku bulanan dan berbagai santunan lainnya.

Dan alhamdulillaah, akan diadakan wisuda LIPIA dan Angkatan Pertama Ta’lim ‘an Bu’din Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah Markaz Indonesia.

Insya Allah ta’ala akan diadakan di Hotel Raffles Jakarta pada Kamis, 16 Rajab 1438 / 13 April 2017, dan akan dihadiri oleh Menteri Agama RI Bapak Lukman Hakim Saifudin hafizhahullah dan Asy-Syaikh Prof. DR. Sulaiman Abal Khail hafizhahullah (Rektor Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah, mantan Menteri Agama Arab Saudi dan Anggota Badan Ulama Besar Arab Saudi).

Selamat kepada para Ikhwan dan Akhwat yang akan diwisuda.

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi manfaat dari ilmu yang sudah dipelajari.

Baarokallaahu fiykum.

 

الحمد لله ثم الشكر والتقدير لفضيلة الشيخ الأستاذ د. أحمد بن صالح السديس حفظه الله وجميع القائمين لبرنامج تعليم عن بعد في السعودية ومركز أندونيسيا جزاهم الله خيرا.

أخوكم في الله

سفيان خالد بن إدهام روراي الأندونيسي

@ImamuElearn

#جامعة_الإمام_في_أندونيسيا

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/777942502355234:0