Posts

IT IS BETTER TO WALK ALONE

IT IS BETTER TO WALK ALONE

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

IT IS BETTER TO WALK ALONE
 
Yup, it’s better to walk alone, than to walk with a lot of people towards the wrong direction.
 
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
 
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء
ِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” [HR. Muslim no. 145]. 
 
Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadis di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi:
 
أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأ
َ
“Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut, sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula, sebagaimana awalnya.” [Syarh Shahih Muslim, 2: 143]
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: RumayshoCom

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#Islamdalamkeadaanasing, #kembal dalamkeadaan asing, #Islammulaikeadaan asing, #Islamdatangdalamkeadaanasing, #beruntunglah orang yang asing, #Islamdatangdalamkeadaan yang asing, #Islamkembalipuladalamkeadaanasing, #alghuroba, #alghuraba

,

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

إذا ﺍﺷﺘﺪﺕ ﻏﺮﺑﺔ ﺍﻹ‌ﺳﻼ‌ﻡ، ﻗﻞَّ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻏﻠﺐَ ﺍﻟﺴﻔﻬﺎﺀ.

“Jika keterasingan Islam semakin besar, maka para ulama semakin sedikit, dan orang-orang dungu yang akan mendominasi.” [Zaadul Ma’ad, jilid 3 hlm. 443]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

KETERASINGAN YANG INDAH

KETERASINGAN YANG INDAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#KajianSunnah

KETERASINGAN YANG INDAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء

“Islam bermula dalam keadaan asing (di tengah-tengah manusia), dan akan kembali terasing sebagaimana ia bermula. Maka beruntunglah Al-Ghuroba’ (orang-orang yang dianggap asing karena mengamalkan Islam).” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

السبب في كون القرن الأول خير القرون انهم كانوا غرباء في ايمانهم لكثرة الكفار حينئذ وصبرهم على اذاهم وتمسكهم بدينهم قال فكذلك اواخرهم إذا اقاموا الدين وتمسكوا به وصبروا على الطاعة حين ظهور المعاصي والفتن كانوا أيضا عند ذلك غرباء وزكت أعمالهم في ذلك الزمان كما زكت أعمال أولئك ويشهد له ما رواه مسلم عن أبي هريرة رفعه بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

“Sebab yang menjadikan generasi pertama (para sahabat) sebagai generasi terbaik adalah karena mereka Ghuroba’ (orang-orang yang asing) dalam keimanan mereka, disebabkan banyaknya orang-orang kafir ketika itu. Dan karena kesabaran mereka atas penderitaan yang mereka hadapi, serta berpegang teguhnya mereka dengan agama.

Demikianlah generasi akhir mereka (umat Islam yang meneladani para sahabat di akhir zaman). Apabila mereka menegakkan agama, berpegang teguh dengannya, dan bersabar dalam ketaatan kepada Allah ketika kemaksiatan dan berbagai macam cobaan semakin merajalela, maka mereka juga termasuk Ghuroba,’ dan amalan mereka berlipat ganda di masa tersebut, sebagaimana amalan generasi pertama juga berlipat ganda.” [Fathul Bari, 7/9]

Dan kunci utama untuk istiqomah dalam keterasingan yang indah ini adalah mendalami ilmu agama, kemudian berusaha mengamalkannya dan mendakwahkannya.

 

Hadirilah dan perbanyaklah doa di majelis-majelis ilmu. Dalam Hadis Qudsi, Allah ta’ala berfirman:

قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا، وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا

“Sungguh Aku telah mengampuni mereka (yang hadir di majelis ilmu). Maka Aku berikan kepada mereka apa yang mereka minta (Surga), dan Aku lindungi mereka dari Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/788446774638140:0

, ,

HUKUM SUAMI BERDUAAN DENGAN PEMBANTU PEREMPUAN DI RUMAH

HUKUM SUAMI BERDUAAN DENGAN PEMBANTU PEREMPUAN DI RUMAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HUKUM SUAMI BERDUAAN DENGAN PEMBANTU PEREMPUAN DI RUMAH

Fatwa Ulama Seputar Pembantu Rumah Tangga

Seorang wanita berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki untuk menimpakan kepadaku suatu penyakit yang membuatku terpaksa harus menjauh dari api. Dekat dengan api menyebabkan aku merasa sangat sakit. Karena itulah, aku mendatangkan seorang pembantu Muslimah ke rumahku. Akan tetapi, bila aku hendak keluar rumah untuk berkunjung, suamiku melarang pembantu tersebut pergi bersamaku, sehingga ia tetap tinggal di rumah. Aku sendiri tidaklah meragukan agama suamiku, demikian pula agama pembantuku. Akan tetapi, aku takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku telah meminta suamiku, agar mengembalikan pembantu itu ke negerinya, namun suamiku menolak. Apakah aku berdosa bila keluar rumah sendirian untuk mengunjungi keluargaku dan selain mereka, sementara pembantuku tidak bersamaku? Berilah kami fatwa. Jazakumullah khairan.”

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan, saya ingin mengatakan bahwa problem pembantu telah menjadi salah satu problem masyarakat yang paling penting, ditinjau dari beberapa sisi:

  1. Masalah pembantu ini telah menjadi fenomena kemewahan yang berlebihan, sampai-sampai kebanyakan wanita tidak mau bergerak (melakukan aktivitas di dalam rumah, segalanya mengandalkan pembantu). Tanpa diragukan, ini akan mengganggu kesehatan dan pikiran mereka. Alasannya, bila tubuh dibiarkan menganggur, tidak digunakan untuk beraktivitas, niscaya pikiran akan menerawang kesana kemari. Tubuh pun menjadi gemuk dan berat. Minimnya gerakan akan menyebabkan tubuh menjadi gembur dan peredaran darah tidak lancar. Akibatnya, darah tidak memiliki kemampuan yang semestinya untuk mengedarkan makanan. Demikianlah bila wanita tinggal menganggur di rumah, tidak mau menggerakkan tubuh dan pikirannya. Atau mungkin ia akan keluar ke pasar tanpa tujuan yang jelas. Sekadar jalan-jalan cuci mata hingga ia tergoda dan lelaki pun tergoda karenanya.
  1. Termasuk problematika pembantu, kebanyakan mereka datang dari negeri mereka tanpa disertai mahram, padahal Nabi ﷺ telah melarang wanita safar tanpa mahram.
  1. Ada pembantu yang masih muda dan berwajah cantik, sehingga menimbulkan godaan yang besar terhadap tuan rumah. Demikian pula lelaki lain yang ada di rumah tersebut. Ini merupakan kerusakan dan bahaya yang besar.

Adapun jawaban dari pertanyaan yang diajukan: Tidak halal bagi suamimu bila di rumah itu ada si pembantu sendirian bersamanya, tanpa ada orang lain, karena Nabi ﷺ melarang laki-laki khalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita ajnabiyah (asing). Khalwat dengan wanita merupakan sebab fitnah, karena setan akan menggerakkan apa yang sebelumnya tenang, hingga terjadilah perkara yang dilarang dan perbuatan keji. Berdasarkan hal ini, bila suami tidak memerkenankan pembantu itu keluar bersamamu ke pasar, (atau ke tempat lain di luar rumai, -pen), Anda wajib tetap tinggal di rumah, agar tidak terjadi khalwat antara suamimu dengan si pembantu, dan tidak timbul fitnah.

Saya nasihatkan kepada suami Anda agar ia tidak membiarkan pembantu itu tinggal sendirian bersamanya, bagaimana pun keadaannya. Hendaklah ia memandang bahwa termasuk kesempurnaan nasihat Anda kepadanya adalah, Anda tidak mau keluar rumah, kecuali bila si pembantu ikut bersama Anda, sebagai bentuk penjagaan terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhlak suami Anda, juga terhadap pembantu yang malang tersebut.

Wallahul musta’an.

 

[Fatawa Manarul Islam, 3/817-818 sebagaimana dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hal. 777-778]