Posts

,

MANA DALILNYA?

MANA DALILNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

MANA DALILNYA?

Jika kamu sudah mulai bertanya: “Mana Dalilnya?”, maka itu tanda kamu mula serius memerhatikan agamamu.

TERUSLAH MENUNTUT ILMU SYARI!

,

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MatematikaIslam

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” [HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil]

  • Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal.
  • Puasa Ramadan adalah selama sebulan. Berarti akan semisal dengan puasa sepuluh bulan.
  • Puasa Syawal adalah enam hari. Berarti akan semisal dengan enam puluh hari, yang sama dengan dua bulan.
  • Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari pada waktu Syawal, akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. [Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465].

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/377-puasa-Syawal-puasa-seperti-setahun-penuh.html

 

, ,

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FatwaUlama

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

Jika makanan tersebut berupa hewan sembelihan, maka TIDAK BOLEH dimanfaatkan dalam bentuk apapun, baik untuk dimakan atau dijual. Karena hewan sembelihan tersebut dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ, maka dagingnya haram dimakan dan najis, sama hukumnya dengan daging bangkai. [Lihat keterangan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 175)] Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. al-Baqarah: 173).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah, tidak boleh dimakan dagingnya.” [Kitab Daqa-iqut Tafsiir (2/130)]

Dan karena daging ini haram dimakan, maka berarti haram untuk diperjual-belikan, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya, Allah ﷻ jika mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia (juga) mengharamkan harganya (diperjual-belikan).”[ HR Ahmad (1/293), Ibnu Hibban (no. 4938) dan lain-lain, Dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani dalam kitab Ghaayatul Maraam (no. 318)]

Adapun jika makanan tersebut SELAIN hewan sembelihan, demikian juga harta, maka sebagian ulama ada yang mengharamkannya dan menyamakan hukumnya dengan hewan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ [Lihat keterangan Syaikh Muhammad Hamid al-Faqiy dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174)]

Akan tetapi pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, insya Allah, adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, yang membolehkan pemanfaatan makanan dan harta tersebut, SELAIN sembelihan, karena hukum asal makanan/harta tersebut adalah halal dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “(Pendapat yang mengatakan) bahwa uang (harta), makanan, minuman dan hewan yang masih hidup, yang dipersembahkan oleh pemiliknya kepada (sembahan selain Allah, baik itu) kepada Nabi, wali maupun (sembahan-sembahan) lainnya, haram untuk diambil dan dimanfaatkan, pendapat ini TIDAK BENAR. Karena semua itu adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya, serta hukumya tidak sama dengan bangkai (yang haram dan najis), maka (hukumnya) boleh diambil (dan dimanfaatkan), sama seperti harta (lainnya) yang ditinggalkan oleh pemiliknya untuk siapa saja yang menginginkannya, seperti bulir padi dan buah kurma, yang ditinggalkan oleh para petani dan pemanen pohon kurma untuk orang-orang miskin.

Dalil yang menunjukkan kebolehan ini adalah (perbuatan) Nabi Muhammad ﷺ (ketika) beliau mengambil harta (yang dipersembahkan oleh orang-orang musyrik) yang (tersimpan) di perbendaharaan (berhala) al-Laata, dan beliau ﷺ (memanfaatkannya untuk) melunasi utang (sahabat yang bernama) ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Rasulullah ﷺ (dalam hadis ini) tidak menganggap dipersembahkannya harta tersebut kepada (berhala) al-Laata sebagai (sebab) untuk melarang mengambil (dan memanfaatkan harta tersebut) ketika bisa (diambil).

Akan tetapi, orang yang melihat orang (lain) yang melakukan perbuatan syirik tersebut (memersembahkan makanan/harta kepada selain Allah ﷻ), dari kalangan orang-orang bodoh dan para pelaku syirik, wajib baginya untuk mengingkari perbuatan tersebut, dan menjelaskan kepada pelaku syirik itu, bahwa perbuatan tersebut adalah termasuk syirik, supaya tidak timbul prasangka, bahwa sikap diam dan tidak mengingkari (perbuatan tersebut), atau mengambil seluruh/sebagian dari harta persembahan tersebut, adalah bukti yang menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, dan bolehnya berkurban dengan harta tersebut, kepada selain Allah ﷻ. Karena perbuatan syirik adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang paling besar (dosanya), maka wajib diingkari/dinasihati orang yang melakukannya.

Adapun kalau makanan (yang dipersembahkan untuk selain Allah ﷻ) tersebut terbuat dari daging hewan yang disembelih oleh para pelaku syirik, maka (hukumnya) HARAM (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga lemak dan kuahnya, karena (daging) sembelihan para pelaku syirik hukumnya sama dengan (daging) bangkai, sehingga HARAM (untuk dimakan) dan menjadikan najis makanan lain yang tercampur dengannya. Berbeda dengan (misalnya) roti atau (makanan) lainnya yang tidak tercampur dengan (daging) sembelihan tersebut, maka ini semua halal bagi orang yang mengambilnya (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga uang dan harta lainnya (halal untuk diambil), sebagaimana penjelasan yang lalu, wallahu a’lam.” [Catatan kaki Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174-175)]

 

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A

[Artikel www.muslim.or.id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/4952-tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah.html

 

,

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JIKA ENGKAU TIDAK MALU, BERBUATLAH SESUKAMU

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

Takhrij Hadis

Hadis ini Shahih diriwayatkan oleh: Al-Bukhari (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abu Dawud (no. 4797), Ibnu Majah (no. 4183), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayalisi (no. 655), dan Ibnu Hibban (no. 606-at-Ta’liqatul Hisan).

Penjelasan Hadis

A. Pengertian Malu

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. [Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala’ (hal. 53)]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat, bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhur. Hidup dan matinya hati seseorang sangat memengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullah berkata: “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran, sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan, dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’” [Madarijus Salikin (II/270). Lihat juga Fathul Bari (X/522) tentang definisi malu]

Kesimpulan definisi di atas ialah, bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat, serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain. [Lihat al-Haya’ fi Dhau-il Qur-anil Karim wal Ahadis ash-Shahihah (hal. 9)]

B. Keutamaan Malu

  1. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan sifat-sifat yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Sahabat ‘Imran bin Husain]

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

  1. Malu Adalah Cabang Keimanan

Rasulullah ﷺ bersabda:

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha illallah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” [Shahih: HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abu Dawud (no. 4676), an-Nasa-i (VIII/110) dan Ibnu Majah (no. 57), dari Sahabat Abu Hurairah. Lihat Shahihul Jami’ ash-Shaghir (no. 2800)]

 

  1. Allah ﷻ Cinta Kepada Orang-Orang Yang Malu

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Pemalu, Maha Menutupi. Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.” [Shahih: HR.Abu Dawud (no. 4012), an-Nasa-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la]

  1. Malu Adalah Akhlak Para Malaikat

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para malaikat merasa malu kepadanya.” [ Shahih: HR.Muslim (no. 2401)]

  1. Malu Adalah Akhlak Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahih: HR.Ibnu Majah (no. 4181) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir (I/13-14) dari Sahabat Anas bin Malik. Lihat Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah (no. 940)]

  1. Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat

Ada salah seorang sahabat radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu, dan ia berkata kepadanya: “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abu Dawud (no. 4795), at-Tirmidzi (no. 2516), an-Nasa-i (VIII/121), Ibnu Majah (no. 58), dan Ibnu Hibban (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullah berkata: “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman, yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bari (X/522)]

  1. Malu Senantiasa Seiring dengan Iman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah yang Lainnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.” [Shahih: HR.al-Hakim (I/22), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhib wat Tarhib (no. 3827), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3200)]

  1. Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

[“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga. Dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” Shahih: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzi (no. 2009), Ibnu Hibban (no. 1929-Mawarid), al-Hakim (I/52-53) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah (no. 495) dan Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3199)]

C. Malu Adalah Warisan Para Nabi Terdahulu

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalimat kenabian terdahulu…”

Maksudnya, ini sebagai hikmah kenabian yang sangat agung, yang mengajak kepada rasa malu, yang merupakan satu perkara yang diwariskan oleh para Nabi kepada manusia generasi demi generasi, hingga kepada generasi awal umat Nabi Muhammad ﷺ . Di antara perkara yang didakwahkan oleh para Nabi terdahulu kepada hamba Allah ﷻ adalah berakhlak malu. [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/497) dan Qawa’id wa Fawa-id (hal. 179-180). Cet. I Dar Ibni Hazm]

Sesungguhnya sifat malu ini senantiasa terpuji, dianggap baik, dan diperintahkan serta tidak dihapus dari syariat-syariat para nabi terdahulu. [Lihat Syarh al-Arba’in (hal. 83) karya Ibnu Daqiq al-‘Ied]

D. Rasulullah ﷺ Adalah Sosok Pribadi Yang Sangat Pemalu

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi, kecuali bila kamu diizinkan untuk makan, dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). Tetapi jika kamu diundang, maka masuklah. Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memerpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. [al-Ahzab/ 33:53]

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi ﷺ lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” [ Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6119)]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah ﷻ sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharizah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi ﷺ memiliki dua jenis malu ini. Akan tetapi sifat tabiat beliau ﷺ lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.” [Fathul Bari (X/522)]

E. Makna Perintah Untuk Malu dalam Hadis Ini

Sabda Rasulullah ﷺ: “Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.”

Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran dari perintah dalam hadis ini, di antaranya:

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Peringatan dan Ancaman

Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di Akhirat, atau kedua-duanya. Seperti firman Allah ﷻ:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Perbuatlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Fushilat/41:40]

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Penjelasan

Maksudnya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang memunyai rasa malu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

“Barang siapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 110), Muslim (no. 30), dan selainnya dengan sanad Mutawatir dari banyak para sahabat]

Sabda beliau ﷺ di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan, bahwa barang siapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/498) dan Qawa’id wa Faawaid (hal. 180)]

  1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Pembolehan

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah ﷻ dan manusia, maka lakukanlah. Jika tidak, maka tinggalkanlah.” [Fathul Bari (X/523)]

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat Jumhur Ulama. [Lihat Madarijus Salikin (II/270)]

F. Malu Itu Ada Dua Jenis

  1. Malu Yang Merupakan Tabiat dan Watak Bawaan

Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah ﷻ kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 37)]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrah bin ‘Abdullah al-Hakami berkata: “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (I/501)]

  1. Malu Yang Timbul Karena Adanya Usaha

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullah (mengenal Allah ﷻ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah ﷻ sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabiat maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat, sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk, yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah ﷻ. [Lihat Qawa’id wa Fawa-id (hal. 181)]

Dahulu, orang-orang Jahiliyyah, yang berada di atas kebodohannya, sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang buruk, karena dicegah oleh rasa malunya. Di antara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan ketika bersama Heraklius, ketika ia ditanya tentang Rasulullah ﷺ., Abu Sufyan berkata:

فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ.

“Demi Allah ﷻ, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Rasulullah ﷺ).” [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 7)]

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah ﷺ, karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta.

G. Konsekuensi Malu Menurut Syariat Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barang siapa yang menginginkan kehidupan Akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barang siapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar malu. [Hasan: HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hakim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 935)]

H. Malu Yang Tercela

Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang lainnya mengatakan: “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak, bukanlah malu yang disyariatkan. Bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu, karena menyerupai malu yang disyariatkan.” [Fathul Bari (X/522)]. Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah ﷻ, sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum Muslimin, adalah tercela, karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. [Lihat Qawa’id wa Fawaid (hal. 182)]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syari, malu mengaji, malu membaca Alquran, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjamaah di masjid bersama kaum Muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syari, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela, karena akan menghalanginya memeroleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata:

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu. [Atsar Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara Muallaq dalam Shahih-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Haya’ fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jami’ bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879)]

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshar:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memerdalam ilmu Agama. [Atsar Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya kitab al-‘Ilmu bab al-Haya’ fil ‘Ilmi secara Muallaq]

Para wanita Anshar radhiyallahu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah ﷺ, jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah ﷺ! Sesungguhnya Allah ﷻ tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mimpi (berjima’)?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Apabila ia melihat air.”[Shahih: HR.al-Bukhari (no. 130) dan Muslim (no. 313)].

Maksud hadis ini ialah, wajib bagi laki-laki dan wanita mandi janabat, apabila ia mimpi jima’ (bersetubuh) lalu keluar mani. Apabila ia mimpi jima’ tetapi tidak keluar mani, maka tidak wajib mandi. Adapun jika suami-istri jima’ (bersetubuh), keduanya wajib mandi, meskipun tidak keluar mani.

I. Wanita Muslimah dan Rasa Malu

Wanita Muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Di dalamnya kaum Muslimin bekerjasama untuk memakmurkan bumi, dan mendidik generasi dengan kesucian fitrah kewanitaan yang selamat. Alquranul Karim telah mengisyaratkan, ketika Allah ﷻ menceritakan salah satu anak perempuan dari salah seorang bapak dari suku Madyan. Allah ﷻ berfirman:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa, salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu. Dia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami)…” [Al-Qashash/28: 25]

Dia datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki; tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, dan tidak merangsang. Namun, walau malu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetail, tidak grogi dan tidak terbata-bata. Semua itu timbul dari fitrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus merasa malu dengan fitrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya. Tetapi karena kesuciannya dan keistiqamahannya, dia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia berbicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.

Adapun wanita yang disifati pada zaman dahulu sebagai wanita yang suka keluyuran, adalah wanita yang pada zaman sekarang disebut sebagai wanita tomboy, membuka aurat, tabarruj (bersolek), campur baur dengan laki-laki tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan syariat. Maka wanita tersebut adalah wanita yang tidak dididik oleh Alquran dan adab-adab Islam. Dia mengganti rasa malu dan ketaatan kepada Allah dengan sifat lancang, maksiat, dan durhaka. Merasuk ke dalam dirinya, apa-apa yang diinginkan musuh-musuh Allah, berupa kehancuran dan kebinasaan di dunia dan Akhirat. [Lihat al-Wafi fi Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah (hal. 153)] Nas-alullaah as-salaamah wal ‘aafiyah.

Setiap suami atau kepala rumah tangga wajib berhati-hati, dan wajib menjaga istri dan anak-anak perempuannya, agar tidak mengikuti pergaulan dan mode-mode yang merusak dan menghilangkan rasa malu, seperti terbukanya aurat, bersolek, berjalan dengan laki-laki yang bukan mahram, ngobrol dengan laki-laki yang bukan mahram, pacaran, dan lain-lain. Para suami dan orang tua wajib mendidik anak-anak perempuan mereka di atas rasa malu, karena rasa malu adalah perhiasan kaum wanita. Apabila ia melepaskan rasa malu itu, maka semua keutamaan yang ada padanya pun ikut hilang.

J. Buah Dari Rasa Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa’ (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata: “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Di antara berkah mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu, adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu, berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah, dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup. [Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala’ (hal. 55)]

Beliau melanjutkan: “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya, maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya. Siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia. Siapa yang dibenci manusia, pasti ia akan disakiti. Siapa yang disakiti, pasti akan bersedih. Siapa yang bersedih, pasti memikirkannya. Siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya, dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu. Tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya ,dan berucap apa saja yang disukainya.”

Fawaid Hadis

  1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.
  2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyariatkan oleh para Nabi terdahulu.
  3. Hadis ini menunjukkan, bahwa malu itu seluruhnya baik. Barang siapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barang siapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
  4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
  5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
  6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
  7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa’ (setia).
  8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
  9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
  10. Allah ﷻ Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
  11. Rasulullah ﷺ adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
  12. Malaikat memunyai sifat malu.
  13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok). Ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya, serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.

Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan. [Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abu Hurairah Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abu Hurairah]

  1. Para orang tua wajib menanamkan rasa malu kepada anak-anak mereka.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

[Artikel: manhaj.or.id]

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/hadits/837-jika-engkau-tidak-malu,-berbuatlah-sesukamu

,

APRIL MOP, BUDAYA JAHILIYAH

APRIL MOP, BUDAYA JAHILIYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

APRIL MOP, BUDAYA JAHILIYAH

Prolog:

April Mop, dikenal dengan “April Fools’ Day” dalam bahasa Inggris, diperingati 1 April setiap tahunnya. Pada hari ini, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain, tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap teman dan tetangga, dengan tujuan memermalukan mereka-mereka yang mudah ditipu. Di beberapa negara, lelucon hanya boleh dilakukan sebelum siang hari. (April Fool’s Day BBC)

Ironinya, budaya ini pun diikuti oleh sebagian kaum Muslimin dengan latahnya. Untuk itulah, saya menurunkan ulasan dari seorang Ahli Hadis terkenal, DR. Ashim al-Qaryuti, murid Ahli Hadis zaman ini, Muhammad Nashiruddin al-Albani. DR. ‘Ashim dikenal sebagai seorang peneliti dan pembahas ulung, yang biasa berkutat di manuskrip-manuskrip dan naskah kuno peninggalan ulama salaf. Bahkan beliaulah yang ditugasi untuk merawat dan merestorasi manuskrip-manuskrip di Perpustakaan Universitas Islam Madinah. (Abu Salma)

Fadhilah asy-Syaikh, DR. ‘Ashim al-Qaryuti hafizhahullahu berkata:

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبيه الصادق الأمين إمام المتقين وبعد

Segala puji hanyalah milik Allah, Pemelihara semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi-Nya yang Jujur lagi tepercaya, penghulu hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wa ba’d:

Sesungguhnya dusta/bohong itu merupakan penyakit besar, karena bohong termasuk dosa yang paling buruk dan cela (aib) yang paling jelek. Dusta juga dijadikan sebagai indikasi dan tanda-tanda kemunafikan, dan pelakunya dianggap jauh dari keimanan. Rasulullah ﷺ sendiri adalah orang yang paling benci dengan kedustaan. Dusta dan iman tidak akan pernah bersatu, kecuali salah satunya pasti mendepak yang lainnya. Dusta itu menimbulkan keraguan dan kerusakan bagi pelakunya.

Sesungguhnya, menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kufroh) itu dilarang di agama kita, bahkan kita diperintahkan untuk menyelisihi orang kafir. Karena sesungguhnya, menyerupai mereka, walaupun hanya sekedar lahiriyah saja, namun ada kaitannya dengan batiniyah. Sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil Alquran dan sunnah Nabawiyah. Cukuplah kiranya bagi kita sabda Nabi ﷺ:

ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, yang apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila buruk, maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Dan bahaya yang paling besar di dalam menyerupai orang kafir itu adalah, apabila perkaranya berkaitan dengan urusan i’tiqadi (keyakinan).

Ritual “April Mop” merupakan bentuk taklid buta. Betapa sering kita melihat dan mendengar ritual bohong ini berimplikasi buruk, menimbulkan rasa dengki, dendam, saling memutus sillaturrahim dan saling membelakangi di antara manusia. Betapa sering ritual bohong ini menyebabkan terjadinya keretakan Ukhuwah (Persaudaraan) dan percekcokan di dalam keluarga. Betapa sering hal ini membuahkan keburukan dan menyebabkan kerugian, baik materil maupun moril, dan lain sebagainya. Dan ini semua disebabkan oleh taklid, membebek kepada kebiasaan kuno mayoritas bangsa Eropa.

Adapun April merupakan bulan keempat dari tahun Masehi (Gregorian). April sendiri asalnya merupakan derivasi kata dari bahasa Latin “Aprilis” di dalam sistem kalenderisasi Romawi kuno. Bisa juga merupakan derivat kata dari predikat (kata kerja) bahasa Latin “Arerire” yang berarti “Membuka” (Fataha), yang menunjukkan permulaan musim semi, ketika kuntum bunga bermunculan dan bunga-bunga bermekaran.

Bulan April merupakan permulaan tahun yang menggantikan bulan Januari (Kanun ats-Tsani, bahasa Suryani, pent.) di Perancis. Pada Tahun 1654, Raja Perancis, Charles VII memerintahkan untuk merubah awal tahun menjadi Januari, menggantikan April. Adapula penjelasan lain yang mengembalikan sebagian (kalenderisasi) kepada Greek (Yunani), sebab April adalah permulaan musim semi. Bangsa Romawi mengkhususkan hari pertama April untuk merayakan hari “Venus”, yang merupakan simbol kasih sayang, keindahan, kesenangan, riang tawa dan kebahagiaan. Para janda dan gadis-gadis berkerumun di Roma, tepatnya di kuil Venus, mereka menyingkapkan kekurangan (cacat) fisik dan mental mereka, berdoa kepada Dewi Venus, supaya menutup cacat ini dari pandangan pasangan mereka.

Adapun bangsa Saxon, mereka merayakan di bulan ini untuk memeringati dewa-dewa mereka, “Easter” (Paskah), yang merupakan salah satu dewa kuno. Nama yang sekarang dikenal sebagai Festival Paskah menurut kaum Kristiani di dalam bahasa Inggris.

Setelah ulasan di atas, jelaslah bagi kita, bahwa April ini memiliki urgensi yang spesial di tengah-tengah bangsa Eropa kuno.

Belum diketahui asal muasal ritual kebohongan ini (April Mop) secara khusus, dan ada beberapa versi pendapat tentangnya. Sebagiannya berpendapat, bahwa ritual ini berkembang beserta dengan perayaan Musim Semi, yang dirayakan siang malam pada 21 Maret.

Sebagian lagi berpandangan, bahwa bid’ah ini bermula di Perancis pada 1564, setelah pewajiban kalenderisasi baru, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Ada seseorang yang menolak kalenderisasi baru ini. Maka pada hari pertama April, dia menjadi korban sejumlah orang yang memermalukan dirinya dan mencemoohnya, sehingga jadilah hari ini sebagai waktu untuk mengolok-olok orang lain.

Sebagian lagi berpendapat, bahwa bid’ah ini meluas hingga ke zaman kuno dan perayaan Paganis, disebabkan korelasinya yang erat dengan historinya yang spesifik pada permulaan musim semi, yaitu merupakan peninggalan ritual paganis yang tersisa. Ada juga yang mengatakan, bahwa berburu (menangkap ikan) di sebagian negeri akan mendapatkan jumlah yang sedikit di permulaan hari penangkapan pada sebagian besar waktu. Dan inilah yang menjadi landasan rituan kebohongan yang terjadi pada awal April.

Masyarakat Inggris memberikan nama pada hari awal April sebagai hari untuk semua canda tawa dan lelucon, “All Fools Day”. Mereka mengisinya dengan perbuatan bohong yang terkadang dikira benar oleh orang yang mendengarnya, sehingga ia menjadi korban/obyek cemoohan.

Ritual April Mop ini, disebutkan pertama kali ke dalam bahasa Inggris di Majalah “Drakes Newsletter” yang diterbitkan pada hari kedua April 1698 M. Majalah ini menyebutkan, bahwa sejumlah orang menerima undangan untuk menghadiri proses ‘Bilasan Hitam’ di Tower London pada pagi hari awal April.

Di antara kejadian populer yang pernah terjadi di Eropa pada awal April adalah surat kabar berbahasa Inggris “Night Star” pada 31 Maret 1864 mengumumkan, bahwa besok, awal April, akan diadakan pelepasan keledai massal di lahan pertanian kota Aslington Inggris. Maka orang-orang pun berbondong-bondong datang untuk menyaksikan hewan tersebut, dan dan berkerumun sembari berbaris menunggu. Setelah menunggu cukup lama, mereka pun bertanya, kapan waktu dilepaskannya keledai-keledai tersebut, dan mereka tidak mendapati apa-apa. Akhirnya mereka pun sadar, bahwa mereka (telah terkecoh) datang dengan bergerombol, dan berkerumun seakan-akan mereka inilah keledainya!!!

Apabila Anda terheran-heran, maka lebih mengherankan lagi apa yang diduga oleh sebagian orang tentang kebohongan ini ketika mereka terkecoh, dengan serta merta mereka berteriak: “April mop”! Seakan-akan mereka menghalalkan kebohongan, wal’iyadzu billah. Kami mengetahui bahwa kedustaan itu tidak boleh, walaupun hanya untuk bercanda. Nabi ﷺ bersabda:

ويل للذي يحدث بالحديث ليضحك به القوم فيكذب، ويل له، ويل له

“Celakah orang yang bercerita untuk membuat suatu kaum tertawa namun ia berdusta. Celaka dirinya dan celaka dirinya.”

Memang, telah tetap (hadis-hadis yang menjelaskan), bahwa Rasulullah ﷺ pernah bercanda, akan tetapi beliau tidak pernah berkata di dalam candanya melainkan kebenaran. Canda Rasulullah ﷺ ini di dalamnya terdapat nilai kebaikan bagi jiwa para sahabatnya, menguatkan rasa cinta, menambah persatuan, dan meningkatkan semangat dan kekuatan. Yang menunjukkan hal ini adalah sabda beliau ﷺ:

والذي نفسي بيده لو تداومون على ما تكونون عندي من الذكر لصافحتكم الملائكة على فرشكم وفي طرقكم، ولكن يا حنظلة ساعة وساعة

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam kondisi sebagaimana ketika berada di sisiku dan terus-menerus sibuk dengan zikir, niscaya para malaikat pun akan menyalami kalian di atas tempat pembaringan dan di jalan-jalan kalian. Namun, wahai Hanzhalah. Ada kalanya begini, dan ada kalanya begitu.” Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali.

Perlu dicatat, bahwa kebanyakan bercanda itu dapat merusak muru’ah (kewibawaan) seseorang dan merendahkan dirinya, walaupun meninggalkan semua bentuk canda menyebabkan kepahitan (hidup) dan jauh dari Sunnah dan Sirah Nabawiyah. Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan. Di antara keburukan banyak bercanda adalah melalaikan dari mengingat Allah, menyebabkan hati menjadi keras, membawa sikap dendam dan hilangnya kasih sayang. Bercanda menyebabkan banyak tertawa, sehingga dapat mengeraskan hati. Secara umum, bercanda itu sepatutnya tidak dilakukan secara terus menerus dan menjadi kebiasaan. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Demikianlah akhir dari seruan kami. Segala pujian hanyalah milik Allah Rabb semesta alam.

 

Sumber: http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=3819

Penerjemah: Abu Salma

[Artikel www.abusalma.net, di-publish ulang oleh www.Muslim.or.id]

 

Sumber: https://Muslim.or.id/5809-april-mop-budaya-jahiliyah.html

 

, ,

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN, SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

  • Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan
  • Dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya

Salafiy adalah orang-orang yang mengikuti cara beragama As-Salafush-Shaalih. Maka mereka itu (As-Salafush-Shaalih) utamanya adalah tiga generasi pertama: Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, taabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’iin. Mereka adalah generasi yang diridlai Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah: 100].

Generasi terbaik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651, Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, dan yang lainnya].

Setelah itu, Nabi ﷺ bersabda tentang keadaan umat sepeninggal beliau ﷺ:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk Neraka kecuali satu (yang masuk Surga)”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641, Al-Haakim 1/218-219, Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 85, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain:

مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 dan Al-Ausath 5/137 no. 4886].

Dalam riwayat lain:

وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ia adalah Al-Jamaa’ah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4597].

Hadis di atas selaras dengan hadis ‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…..

“Karena siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Peganglah erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ahmad 4/126-127, dan yang lainnya; shahih].

 

Hadis-hadis ini menginformasikan, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya. Merekalah Salafi (sesuai dengan pengertian sebelumnya). Merekalah Ahlus-Sunnah, sebagaimana dikatakan As-Sam’aaniy rahimahullah mengenai ciri pokok mereka:

شعار أهل السنَّة اتباعهم السلف الصالح، وتركهم كل ما هو مبتدع محدث

“Syiar Ahlis-Sunnah adalah sikap ittiba’ mereka kepada As-Salafush-Shaalih, dan meninggalkan segala sesuatu yang diada-adakan (dalam agama)” [Al-Intishaar li-Ashhaabil-Hadiits hal. 31].

Selain mereka (Salafi/Ahlus-Sunnah), maka masuk dalam 72 golongan sisanya yang terdiri dari kelompok-kelompok menyimpang dalam Islam yang tidak mengikuti jalan As-Salafush-Shaalih.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah berkata:

شعار أهل البدع: هو ترك انتحال اتباع السلف

“Syiar Ahli Bid’ah adalah meninggalkan penerimaan dalam ittiba’ terhadap salaf” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/155].

Kelompok menyimpang/Ahli Bid’ah yang masuk ke dalam kelompok sempalan yang 72 buah itu di antaranya apa yang dikatakan oleh Yuusuf bin Asbath rahimahullah:

أُصُولُ الْبِدَعِ أَرْبَعٌ: الرَّوَافِضُ، وَالْخَوَارِجُ، وَالْقَدَرِيَّةُ، وَالْمُرْجِئَةُ، ثُمَّ تَتَشَعَّبُ كُلُّ فِرْقَةٍ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ طَائِفَةً، فَتِلْكَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً، وَالثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ الْجَمَاعَةُ الَّتِي قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِنَّهَا النَّاجِيَةُ “

“Pokok-pokok kebid’ahan ada 4 (empat), yaitu Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, dan Murji’ah. Kemudian masing-masing firqah tersebut bercabang-cabang lagi menjadi 18 golongan, sehingga totalnya menjadi 72 firqah. Dan yang ke-73 adalah Al-Jamaa’ah yang disabdakan Nabi ﷺ: ‘Inilah firqah/kelompok yang selamat” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 17].

Ada perkataan ulama lain yang merinci untuk 72 kelompok sempalan ini selain dari penjelasan Yuusuf bin Asbath rahimahullah di atas. Ke-72 kelompok tersebut masih memiliki pokok Islam, namun menyimpang dari jalan As-Salafush-Shaalih.

Jika demikian, apakah dapat dibenarkan untuk dikatakan semua Muslim adalah Salafiy? Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok sempalan/Ahli Bid’ah yang menggembosi Islam dari dalam? TENTU SAJA TIDAK.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/03/sebuah-masukan-1.html?m=1

 

JAUHI BURUK SANGKA

JAUHI BURUK SANGKA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JAUHI BURUK SANGKA

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut Su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal Su`u zhan kepada sesama kaum Muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Alquranil Karim, Allah ﷻ berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan), karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Dalam ayat di atas, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka, dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat, maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah. Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ dan dinyatakan oleh beliau ﷺ sebagai pembicaraan yang paling dusta (Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/191).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah ﷻ berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni. Maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka, kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang Mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan), karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.”

Beliau ﷺ mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan, bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian. Akan tetapi Dia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Zhan yang disebutkan dalam hadis di atas dan juga di dalam ayat, kata ulama kita, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum khamr, padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhan yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan/kesalehan. Beda halnya dengan seseorang yang terkenal di kalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan, seperti keluar masuk ke tempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 16/217, Ruhul Ma’ani 13/219).

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama, dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218).

Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata: “Demi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat.” (Al-Adabus Syar’iyyah, 1/70)

Dari hadis:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadis ini: “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadis, bahwa Allah ﷻ memaafkan umat ini, dari apa yang terlintas di hatinya, selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja.” (Al-Minhaj, 16/335). Lafal hadis yang dimaksud adalah:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka, selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.”  (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

Sufyan rahimahullahu berkata: “Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam/menyimpannya dan tidak membicarakannya, maka ia tidak berdosa.”

Dimungkinkan pula kata Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 8/28)

Kepada seorang Muslim yang secara zahir baik agamanya, serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang “miring” tentangnya, maka tidak ada yang sepantasnya kita lakukan, kecuali tetap berbaik sangka kepadanya. Karena itu, tatkala terjadi peristiwa Ifk di masa Nubuwwah, di mana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta, bahwa istri Rasulullah ﷺ yang mulia, shalihah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) Aisyah radhiyallahu ‘anha berzina, wal’iyadzubillah, dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu, Allah ﷻ mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap berprasangka baik, dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut. Dalam Tanzil-Nya, Dia ﷻ berfirman:

لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang Mukmin dan Mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa mereka tidak berkata: ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata’.” (An-Nur: 12)

Dalam Alquranul Karim, Allah ﷻ mencela orang-orang Badui yang takut berperang ketika mereka diajak untuk keluar bersama pasukan mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang Badui ini dihinggapi dengan zhan yang jelek.

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: ‘Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidah mereka, apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Katakanlah: “Maka siapakah gerangan yang dapat menghalangi-halangi kehendak Allah, jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kalian, atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Bahkan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tetapi kalian menyangka, bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan setan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian persangkaan tersebut. Dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk, kalian pun menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 11-12)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber:

http://asysyariah.com/print.php?id_online=695

http://www.darussalaf.or.id/Muslimah/jauhi-buruk-sangka/?fdx_switcher=true

 

 

MENYEBARKAN ILMU TERMASUK JIHAD TERBESAR

MENYEBARKAN ILMU TERMASUK JIHAD TERBESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

MENYEBARKAN ILMU TERMASUK JIHAD TERBESAR

  • Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad

Jihad ternyata bukan hanya dengan berperang mengangkat senjata. Menuntut ilmu agama bisa pula disebut jihad. Bahkan sebagian ulama berkata: bahwa jihad dengan ilmu ini lebih utama daripada dengan senjata. Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.

Perkataan Ulama: Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah, karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal, yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.

Sampai-sampai sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”

Karena menjaga syariat adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan, melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108)

Di halaman yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, bahwa ilmu yang dipuji di sini adalah ilmu agama yang memelajari Alquran dan As Sunnah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya: “Apakah afdhol saat ini untuk  berjihad di jalan Allah ataukah menuntut ilmu (agama), sehingga dapat bermanfaat pada orang banyak, dan dapat menghilangkan kebodohan mereka? Apa hukum jihad bagi orang yang tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih tetap pergi berjihad?”

Jawab beliau: “Perlu diketahui, bahwa menunut ilmu adalah bagian dari jihad. Menuntut ilmu dan memelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad. Karena menuntut ilmu itu wajib. Sedangkan jihad bisa jadi dianjurkan, bisa pula fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian sudah melaksanakannya, maka yang lain gugur kewajibannya. Akan tetapi menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Jika Allah mudahkan bagi dia untuk berjihad, maka tidaklah masalah. Boleh ia ikut serta asal dengan izin kedua orang tuanya. Adapun jihad yang wajib saat kaum Muslimin diserang oleh musuh, maka wajib setiap Muslim di negeri tersebut untuk berjihad. Mereka hendaknya menghalangi serangan musuh tersebut. Termasuk pula kaum wanita, hendaklah menghalanginya sesuai kemampuan mereka. Adapun jihad untuk menyerang musuh di negeri mereka, jihad seperti ini dihukumi fardhu kifayah bagi setiap pria.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 24: 74)

Dalil Pendukung

Adapun dalil yang mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)

“Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar” (QS. Al Furqon: 51-52).

Ibnul Qayyim berkata dalam Zaadul Ma’ad: “Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah, -pen). Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir dengan hujjah dan bayan (dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum Muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen). … Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yang khusus dari umat ini yang menjadi pewaris para Rasul.”

Dalam hadis juga menyebutkan, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa yang mendatangi masjidku (Masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik, yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang menilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Syaikh Al Albani).

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3383-menuntut-ilmu-bagian-dari-jihad.html

 

,

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

#KaidahFikih

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

الْمَأْمُوْرُ بِهِ أَعْظَمُ مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ

Kaidah: Perintah lebih besar daripada larangan

Makna Kaidah

Kaidah ini termasuk kaidah yang besar di sisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan termasuk patokan pokok dalam metode fikihnya. Hal ini nampak dari banyaknya tarjih dan ikhtiyar beliau yang dikaitkan dengan kaidah ini dan kaidah-kaidah lain yang menjadi cabangnya.

Kaidah ini menjelaskan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan, lebih besar dan lebih kuat, daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang. Sebagaimana dikatakan oleh Syaihul Islam Ibnu Taimiyah:

“Sesungguhnya jenis mengerjakan perintah itu lebih besar daripada jenis meninggalkan larangan. Dan jenis meninggalkan perintah lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan. Dan sesungguhnya pahala bani Adam karena mengerjakan kewajiban lebih besar daripada pahala yang diraihnya karena meninggalkan perkara yang haram. Dan dosa meninggalkan perintah lebih besar daripada dosa mengerjakan larangan.” [Majmu’ al-Fatawa, 20/85].

Karena perintah lebih besar daripada larangan, baik ditinjau dari jenisnya, pahalanya, maupun dosanya. Maka ini menunjukkan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan lebih besar daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang.

Ada beberapa kaidah lain yang menjadi cabang dan turunan dari kaidah ini. Semuanya semakin memerjelas dan menguatkan, bahwa tingkat keutamaan dalam perintah lebih besar daripada yang ada dalam larangan [Lihat pula pembahasan tentang kaidah ini dalam al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Ushuliyyah, Ibnu al-Lahham, hlm. 191; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 13/262. Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab, hlm. 83-84. Fath al-Mubin li Syarh al-Arba’in, Ibnu Hajar al-Haitsami, hlm. 132-133. Al-Bahr al-Muhith, az-Zarkasyi, 1/274].

Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah:

Kaidah Pertama:

اْلأُمُوْرُ الْمَنْهِيُّ عَنْهَا يُعْفَى فِيْهَا عَنِ النَّاسِي وَالْمُخْطِئِ

Perkara-perkara yang terlarang, pelakunya dimaafkan jika dilakukan oleh orang yang lupa atau tersalah

Misalnya seseorang yang makan atau minum ketika berpuasa karena lupa, maka ia dimaafkan dan puasanya tidak batal. Demikian pula seseorang yang memakai minyak wangi, atau memakai penutup kepala, atau memotong kukunya ketika dalam keadaan ihram karena lupa atau tersalah, maka ia tidak berdosa, dan tidak ada kewajiban membayar fidyah, karena seseorang yang mengerjakan larangan karena lupa atau tersalah maka dimaafkan.

Ini berkaitan dengan larangan. Adapun perkara yang diperintahkan, maka kewajiban pelaksanaannya tidak gugur dari orang yang lupa atau tersalah, bahkan tetap wajib untuk dikerjakan.

Kaidah Kedua:

مَا كَانَ مَنْهِيًّا عَنْهُ لِلذَّرِيْعَةِ فَإِنَّهُ يُفْعَلُ لِلْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Perkara yang dilarang dalam rangka preventif boleh dikerjakan saat ada maslahat yang lebih kuat

Seperti haramnya seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahramnya. Larangan tersebut ada, karena hal itu bisa menjadi sarana yang mengantarkan kepada fitnah atau sarana perzinaan. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka adakalanya hal tersebut diperbolehkan. Seperti seorang laki-laki yang ingin menikahi wanita, maka diperbolehkan baginya untuik melihat wajah si wanita. Atau seorang dokter yang perlu melihat anggota badan pasien wanita dalam rangka pengobatan.

Demikian pula haramnya shalat di waktu-waktu larangan. Pengharaman tersebut ada, karena bisa menjadi sarana yang mengantarkan pada tasyabbuh (menyerupai) ibadah orang-orang kafir yang sujud kepada matahari. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka shalat di waktu tersebut diperbolehkan, seperti mengqadha’ shalat wajib yang terlewat, shalat jenazah, dan shalat-shalat lainnya yang memiliki sebab menurut pendapat yang kuat [Lihat pula pembahasan tentang kaidah cabang ini dalam Syarh Manzhumah Ushul al-Fiqh wa Qawi’idihi, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Cet. I, Tahun 1426 H, Dar Ibni al-Jauzi, Damam, hlm. 64-67].

Dalil Yang Mendasarinya

Berkaitan dengan kaidah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan beberapa bentuk pendalilan yang sangat bagus. Beliau rahimahullah menyebutkan, tidak kurang dari dua puluh dua pendalilan. Adapun yang paling kuat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sesungguhnya perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali adalah dilakukan oleh nenek moyang jin (iblis) dan nenek moyang manusia (Adam). Dalam hal ini, kemaksiatan yang dilakukan oleh iblis lebih awal dan lebih besar. Kemaksiatan tersebut berupa PENOLAKAN iblis dari melaksanakan PERINTAH Allah Azza wa Jalla berupa sujud kepada Adam. Ini termasuk kategori meninggalkan perintah. Adapun yang dilakukan oleh Adam, yaitu memakan dari pohon di Surga. Ini termasuk kategori MENGERJAKAN LARANGAN. Dari dua jenis tersebut, ternyata kadar dosa Adam lebih ringan. Dari sini dapat diketahui, bahwa jenis meninggalkan perintah itu lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan.

Demikian pula, bentuk pelanggaran yang dilakukan iblis tersebut ternyata berupa dosa besar, sekaligus kekufuran yang tidak diampuni. Sedangkan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam berupa kesalahan yang lebih ringan, dan diberikan ampunan darinya. Sebagaimana firman-Nya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al –Baqarah/2:37]

Lima rukun Islam merupakan amalan-amalan yang masuk kategori perkara yang diperintahkan. Apabila seseorang meninggalkannya, maka banyak dari kalangan Ulama yang mewajibkan hukuman bunuh bagi pelakunya. Bahkan adakalanya dihukumi sebagai seorang yang kafir, keluar dari agama Islam. Di antaranya, apabila seseorang tidak mau mengucapkan Dua Kalimat Syahadat padahal ia mampu mengucapkannya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:, “Adapun Dua Kalimat Syahadat, apabila seseorang tidak mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah orang kafir berdasarkan kesepakatan kaum  Muslimin.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/609). (Lihat  at-Takfir wa Dhawabithuhu, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhailiy, Dar al-Imam Ahmad, hlm. 229)

Adapun mengerjakan larangan yang madharatnya tidak menyebar kepada orang lain, maka para ulama tidak mewajibkan hukuman bunuh atas pelakunya, dan tidak pula dihukumi kufur, asalkan perkara tersebut tidak membatalkan keimanan. Dari sini dapat diketahui, bahwa meninggalkan perintah perkaranya lebih besar daripada mengerjakan larangan.

Sesungguhnya maksud dari adanya larangan, adalah supaya perkara yang dilarang itu tidak ada, yaitu tidak dikerjakan. Sedangkan Al ‘Adam (Ketidakadaan) itu secara asal tidak ada unsur kebaikan di dalamnya. Adapun perkara yang diperintahkan itu adalah sesuatu yang maujud (dituntut keberadaannya). Dan perkara yang maujud asalnya merupakan perkara yang baik, bermanfaat, dan dicari. Bahkan merupakan suatu kepastian, bahwa setiap yang ada  pasti ada manfaatnya. Karena setiap yang ada itu telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla , dan Dia tidak menciptakan sesuatu pun kecuali dengan hikmah. Berbeda dengan sesuatu yang ma’dum (tidak ada) yang tidak ada sesuatu pun di dalamnya. Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. [as-Sajdah/32:7]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. [an-Naml/27:88]

Dengan demikian dapat kita ketahui, bahwa apa yang terkandung di dalam perintah itu lebih sempurna dan lebih mulia, daripada apa yang ada dalam larangan.

Contoh Penerapan Kaidah

Di antara contoh implementasi kaidah ini adalah sebagai berikut:

Perkara-perkara yang diperintahkan tidaklah gugur karena nisyan (lupa) atau jahl (tidak tahu). Adapun perkara-perkara yang dilarang, maka gugur (dimaafkan) jika seseorang lupa atau tidak tahu [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477].

Jika seseorang meninggalkan perkara yang diperintahkan maka ada kewajiban mengqadha’ (menggantinya), meskipun ia meninggalkannya karena uzur. Seperti seseorang yang meninggalkan puasa karena sakit atau safar, dan orang yang meninggalkan shalat karena tertidur, maka wajib untuk mengqadha’nya. Demikian pula orang yang meninggalkan salah satu kewajiban dalam manasik haji maka tetap wajib mengerjakannya jika masih memungkinkan atau dengan membayar dam. Maka tidaklah gugur tuntutan dalam perintah tersebut sampai ia mengerjakannya.

Adapun orang yang mengerjakan perkara yang dilarang karena lupa, tersalah, tertidur, atau tidak tahu, maka ia dimaafkan. Dan tidak ada kewajiban baginya untuk membayar ganti rugi, kecuali jika hal itu mengakibatkan kerusakan atau kerugian bagi orang lain [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 20/95].

Dipersyaratkan adanya niat untuk mengerjakan perkara-perkara yang diperintahkan, seperti shalat, puasa, haji, dan semisalnya [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477]. Adapun perkara-perkara yang dilarang maka tidak dipersyaratkan adanya niat untuk meninggalkannya, seperti menghilangkan najis, meninggalkan zina, meninggalkan pencurian, dan semisalnya [Diangkat dari kitab al-Qawa’id wa adh-Dhawabith al-Fiqhiyyah ‘inda Ibni Taimiyyah fi Kitabai at-Thaharah wa as-Shalah, Nashir bin ‘Abdillah al-Miman, Cet. II, Tahun 1426 H/2005 M, Jami’ah Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah, hlm. 199-202].

Wallahu a’lam.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4385-kaidah-ke-55-perintah-lebih-besar-daripada-larangan.html

,

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KaidahFikih

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

  • Mencium Bau tidak Jelas

Pertanyaan:

Terkadang ketika praktikum di lab, orang menemukan cairan yang sangat bau. Nah, kalau kita menyentuhnya, apakah itu termasuk terkena najis? Karena baunya sangat menyengat dan tidak sedap.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat kaidah dalam ilmu fikih yang disebutkan ulama:

الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ

“Hukum asal segala sesuatu adalah suci”

Kaidah ini berdasarkan firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian” (QS. al-Baqarah: 29)

Syaikh Abdurrahman as-Sa`di ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan:

Dia menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi, sebagai karena berbuat baik dan memberi rahmat, untuk dimanfaatkan, dinikmati, dan diambil pelajaran. Pada kandungan ayat yang mulia ini terdapat dalil, bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Karena ayat ini disampaikan dalam konteks memaparkan kenikmatan…

[Abdurrahman as-Sa`di, Taisir al-Karim ar-Rahman: al-Baqarah: 29]

Oleh karena itu, semua benda yang dihukumi najis harus berdasarkan dalil. Menyatakan satu benda tertentu statusnya najis, namun tanpa didasari dalil, maka pernyataannya tidak bisa diterima, karena pernyataannya bertolak belakang dengan hukum asal.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21195-hukum-asal-segala-sesuatu-adalah-suci.html