Posts

, ,

KISAH ITSAR PARA SALAF, SUDAHLAH BIARKAN DIA DULUAN!

KISAH ITSAR PARA SALAF, SUDAHLAH BIARKAN DIA DULUAN!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KISAH ITSAR PARA SALAF, SUDAHLAH BIARKAN DIA DULUAN!
 
Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia, walau kita pun sebenarnya butuh.
 
Secara bahasa Itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud Itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah, berharap pahala Akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan.
 
Contohnya dapat dilihat pada orang Muhajirin dan Anshar dalam ayat:
 
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [QS. Al-Hasyr: 9]
 
Yang dimaksudkan ayat ini adalah ia mendahulukan mereka yang butuh dari kebutuhannya sendiri, padahal dirinya juga sebenarnya butuh. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:229]
 
Dalam masalah dunia kita bisa mendahulukan orang lain. Itu memang yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia kita harus memperhatikan orang di bawah kita, agar kita bisa mensyukuri nikmat Allah.
 
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
 
“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan penampilan, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” [HR. Bukhari, no. 6490 dan Muslim, no. 2963]
 
Dari Abu Hurairah dan ‘Abdullah bin Hubsyi Al-Khats’ami, bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya sedekah mana yang paling afdal. Jawab beliau ﷺ:
 
جَهْدُ الْمُقِلِّ
 
“Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” [HR. An-Nasa’i, no. 2526. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Kisah Itsar #01: Menyambut Tamu, Padahal Hanya Punya Makanan untuk Bayi
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
 
أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ
 
Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah ﷺ (dalam keadaan lapar), lalu beliau ﷺ mengirim utusan ke para istri beliau ﷺ. Para istri Rasulullah ﷺ menjawab: “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air.”
 
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا
 
Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.”
 
فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي
 
Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ!” Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.”
 
فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا
 
Orang Anshar itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.
 
ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ
 
Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.
 
فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
 
Keesokan harinya sang suami datang menghadap Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya):
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. Al-Hasyr: 9]. [HR Bukhari, no. 3798].
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Anshar yang melayani tamu tersebut adalah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Istri Abu Thalhah adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha (Rumaysho atau Rumaisha).
 
Kisah Itsar #02: Abu Bakar Bersedekah dengan Seluruh Harta
 
Sifat ini juga dimiliki oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia pernah bersedekah dengan seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ lantas bertanya kepadanya:
 
« مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قُلْتُ لاَ أُسَابِقُكَ إِلَى شَىْءٍ أَبَدًا
 
“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab: “Aku titipkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab lantas mengatakan, “Itulah mengapa aku tidak bisa mengalahkanmu selamanya.” Sebelumnya Umar bersedekah dengan separuh hartanya dan menyisakan separuhnya untuk keluarganya. [HR. Abu Daud, no. 1678 dan Tirmidzi, no. 3675. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Kisah Itsar #03: Abu Thalhah Bersedekah dengan Kebun Kurma Terbaik
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia sukai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah ﷺ pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.”
 
Anas berkata: “Ketika turun ayat:
 
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
 
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” [QS. Ali Imran: 92]
 
Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah ﷺ, ia menyatakan: “Wahai, Rasulullah, Allah subhanahu wa taala berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” [QS. Ali Imran: 92]
 
Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di Akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah subhanahu wa taala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” [HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998]. Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.
 
Pelajaran dari Hadis:
 
• Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadis di atas dalam Syarh Shahih Muslim.
• Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit.
• Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala, yaitu pahala menjalin hubungan kerabat, dan pahala sedekah.
 
Kisah Itsar #04: Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari Membagi Harta dan Istrinya pada Abdurrahman bin Auf
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia menyatakan, bahwa Abdurrahman bin Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi ﷺ dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh Abdurrahman akan diceraikan, lalu diserahkan kepada Abdurrahman setelah ‘iddahnya. Abdurrahman ketika itu menjawab:
 
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ
 
“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.”
 
Lantas ditunjukkanlah kepada Abdurrahman pasar, lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi ﷺ melihat pada Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi ﷺ lantas mengatakan: “Apa yang terjadi padamu wahai Abdurrahman?” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul ﷺ kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” Abdurrahman menjawab: “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima Dirham).” Kemudian Nabi ﷺ berkata ketika itu:
 
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
 
“Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” [HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193]
 
Pelajaran dari Hadis:
 
• Boleh seorang imam bertanya tentang keadaan jamaahnya yang sudah lama tak terlihat.
• Boleh seorang wanita memakai wewangian untuk suaminya. Bahkan dianjurkan untuk tampil wangi di hadapan suami, lebih-lebih lagi di malam pertamanya.
• Tidak masalah jika ada bekas wewangian istri ada pada baju suami kalau memang tidak disengaja, walau yang terkena sebenarnya adalah syiar khas para wanita. Namun asalnya tetap tidak boleh laki-laki tasyabbuh (menyerupai) wanita.
• Disunnahkan mendoakan berkah. Contoh, doa kepada pengantin.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia menyatakan, bahwa jika Nabi ﷺ ingin memberikan ucapan selamat pada seseorang yang telah menikah, beliau ﷺmendoakan:
 
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
 
“Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” [HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
 
• Yang dimaksud walimah adalah makanan yang disajikan ketika resepsi nikah. Walimah itu berarti berkumpul karena ketika itu kedua pasangan telah menyatu menjadi suami-istri.
• Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum walimah. Ada yang mengatakan wajib dan ada yang sunnah. Menurut ulama Syafi’iyah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah, hukum walimah adalah Sunnah Mustahab. Kata perintah dalam hadis ini dipahami sunnah (anjuran).
• Sebagian ulama menyatakan, bahwa walimah itu diadakan sesudah dukhul (jima’ atau malam pertama) seperti pendapat Imam Malik dan selainnya. Sedangkan sekelompok ulama Malikiyah menyatakan, bahwa walimah diadakan ketika akad itu berlangsung.
• Bagi orang yang mudah mengadakan walimah, maka tetaplah mengadakan walimah jangan sampai kurang dari seekor kambing. Namun untuk acara walimah tadi tidak ada batasan tertentu, bentuk makanan apa pun yang dibuat untuk walimah tetap dibolehkan. Ketika Nabi ﷺ menikahi Shafiyyah, walimahnya tidak dengan daging. Ketika menikahi Zainab disediakan untuk walimah dengan roti dan daging. Yang tepat, semuanya disesuaikan dengan kemampuan pengantin.
• Pelajaran dari Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari adalah saling mendahulukan yang lain (Itsar). Lihatlah sikap Sa’ad yang sampai mendahulukan Abdurrahman dalam hal harta dan dua istrinya.
• Abdurrahman mengajarkan pada kita tidak bergantung pada pemberian orang lain yang didapat secara gratis. Mendapatkan hasil dari bekerja walau dengan berdagang itu lebih baik.
• Hendaknya mendoakan kebaikan kepada siapa saja yang ingin berbuat baik kepada kita.
 
Bagaimana kita bisa Itsar?
 
1. Memperhatikan kewajiban, anggap selalu kurang ketika melakukan yang wajib sehingga kehati-hatiannya ia mendahulukan orang lain walau ia pun butuh.
2. Meredam sifat pelit.
3. Semangat punya akhlak yang mulia karena Itsar adalah tingkatan akhlak yang paling mulia. Sampai-sampai Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Diin menyatakan, bahwa Itsar adalah tingkatan dermawan (as-sakha’) yang paling tinggi. [Nudhrah An-Na’im fii Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim, 3:630, 639]
 
Faidah dari Itsar:
 
1. Menunjukkan iman yang sempurna dan kebagusan Islam seseorang.
2. Ini adalah jalan mudah untuk menggapai rida dan cinta Allah.
3. Akan timbul rasa cinta dan sayang antar sesama manusia.
4. Menunjukkan begitu dermawannya seseorang karena sampai ia butuh pun dikorbankan.
5. Punya sifat husnuzhan yang tinggi kepada Allah.
6. Menunjukkan amalan yang baik di penghujungnya (husnul khatimah).
7. Menunjukkan seseorang memiliki semangat yang tinggi dan terjauhkan dari sifat tercela.
8. Itsar membuahkan keberkahan.
9. Itsar memudahkan seseorang masuk Surga dan terbebas dari Neraka.
10. Itsar mengantarkan kepada keberuntungan (falah) karena telah mengalahkan sifat pelit (syuhh).
 
 
 
Referensi:
 
• Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
 
• Nudhrah An-Na’im fi Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim. Dikumpulkan oleh para ahli dengan pembimbingan: Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (Imam dan Khatib Al-Haram Al-Makki). Penerbit Dar Al-Wasilah. 3:629-640.
 
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
 
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#mendahulukankepentinganoranglain #dahulukankepentinganoranglain #itsar #ahlulitsar #adabakhlak #akhlakmulia #walimahan #doanikah #doapernikahan #doakepadapengantin #hukumwalimah #pestapernikahan #kisahitsarparasalaf #sudahlahbiarkandiaduluan #apaituitsar #arti #makna #assakha #syuh #MuhajirindanAnshar

MAKNA LA ILAHA ILLALLAH YANG BENAR

MAKNA LA ILAHA ILLALLAH YANG BENAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKNA LA ILAHA ILLALLAH YANG BENAR
 
La Ilaha Illallah ( لا إله إلا الله ) bermakna “Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Dan sesuatu SELAIN Allah jika diibadahi, maka ibadah tersebut adalah ibadah yang batil atau salah”.
 
Inilah makna yang benar terhadap kalimat La Ilaha Illallah ( لا إله إلا الله ).
 
Allah ﷻ berfirman:
 
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
 
“Demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Sesembahan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, maka itu adalah sesembahan yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” [QS. Al Hajj: 62]
 
Dan Allah ﷻ berfirman:
 
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
 
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah…” [QS. Muhammad: 19]
 
 
 
 
Diterjemahkan oleh Ustadz Bambang Abu Ubaidillah al Atsariy hafizhahullah dari kitab al Qaulul Mufid Fi Adillatit Tauhid
Sumber:
 Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna #arti #definisi #kalimattauhid #maknalailahaillallahyangbenar #laailahaillallah
,

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHALAT JUMAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
 
“Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di Surga, meski ia memasukinya.” [HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365]
 
Beberapa Pelajaran:
 
1) Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan shalat Jumat. Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata:
 
وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا
 
“Dalam hadis ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka terlambat dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari amalan yang tinggi kepada yang amalan yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457]
 
2) Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan shalat Jumat adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk Surga. Bisa juga bermakna derajatnya di Surga diturunkan.
 
3) Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar.
 
4) Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Alquran dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf), jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam.
 
5) Keutamaan shalat Jumat di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#janganterlambatshalatJumat #jangantelatdatangshalatJumat #shalat #sholat #solat #salat #Jumat #adabhariJumat #maksudmendekatiimam #makna #arti #dekatiimam #telatmasukSurga, #terlambatmasukSurga #khutbahJumat, #khotbahJumat
, ,

LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH TAALA

LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH TAALA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LARANGAN BERPUTUS ASA ATAS RAHMAT ALLAH TAALA
 
Bismillah. Washsholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
 
Sebagai seorang Muslim kita tentu memahami, bahwa berputus asa merupakan hal yang tercela dalam agama Islam yang mulia ini. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah Ar Rahman merupakan salah satu tanda kebinasaan. Sebagaimana Allah subhanahu wa taala berfirman dalam Alquran, mengisahkan perkataan Nabi Yaqub ‘alaihissalam kepada putra-putranya:
 
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
Artinya: “Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” [QS. Yusuf: 87]
 
Putus asa dari rahmat Allah taala termasuk dosa besar. Allah taala berfirman:
 
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
 
“Ibrahim berkata : ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.’”[QS. Al Hijr: 56]
 
Dan firman-Nya:
 
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [QS. Yusuf : 87]
 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu memasukkan berputus asa dari rahmat Allah sebagai salah satu dosa besar yang letaknya di hati. Setelah membawakan ayat di atas sebagai dalil, beliau menambahkan dengan riwayat dari Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (yang artinya), Nabi ﷺ ditanya: “’Apa sajakah yang termasuk dosa-dosa besar?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Mempersekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah.’” [l Kaba’ir. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Muhaqqiq: Isma’il Al Anshory. (e-book version via www.waqfeya.net)]
 
Maka berputus asa dari rahmat Allah dan merasa jauh dari rahmat-Nya merupakan dosa besar. Kewajiban seorang manusia adalah selalu berbaik sangka terhadap Rabb-nya:
  • Jika dia meminta kepada Allah, maka dia selalu berprasangka baik, bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya.
  • Jika dia beribadah sesuai dengan syariat dia selalu optimis, bahwa amalannya akan diterima,dan
  • Jika dia ditimpa suatu kesusahan dia tetap berprasangka baik, bahwa Allah akan menghilangkan kesusahan tersebut.
Islam senantiasa mengajarkan optimisme dalam segala hal yang bermanfaat, baik bagi dunia maupun Akhirat bagi pemeluknya. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi ﷺ:
 
احْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ
 
Artinya: “Bersemangatlah dalam apa yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.” [HR. Muslim]
 
Setelah kita mengetahui hal ini, maka JANGANLAH kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana. Apalagi jika kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!
 
Maka ketika DIRI KITA terjatuh kedalam maksiat, JANGANLAH KITA BERPUTUS ASA dari rahmat Allah. Bertobatlah kepada-Nya dengan BENAR, karena Allah ﷻ PASTI mengampuni orang-orang yang bertobat (namun apakah tobat yang kita lakukan sudah benar?!)
 
Di antara orang yang PUTUS ASA terhadap rahmat-Nya adalah ia merasa, bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar). “Sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah. Ini keliru. Padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Tobatnya orang-orang yang bertobat.
 
Demikian pula terhadap orang lain yang jatuh kepada maksiat. Janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun tetap selalu mengingatkannya dari azab-Nya). Kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang Hari Akhir, dsb. Yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertobat kepada-Nya.
 
Janganlah kita sampai PUTUS ASA dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “Segala usaha sudah aku kerahkan. Sepertinya ia tidak mungkin untuk bertobat.” Ini adalah KEPUTUS-ASAAN. Jika BENAR bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertobat, tidak gampang menyerah. Ini membuktikan KEPUTUSASAAN kita akan rahmat Allah terhadap dirinya.
 
Jangan pula kita SAMPAI berkata: “Temanku (–yang masih Muslim–) ini sepertinya AHLI NERAKA dan Allah tidak akan mengampuninya.”
 
Ini perkataan yang berbahaya.
Dari mana kita tahu, bahwa dia Ahli Neraka?
Dari mana kita tahu, bahwa Allah tidak mengampuninya?
Apakah kita mendapatkan WAHYU dari ALLAH yang mengabarkan demikian?!
Benar, PERBUATANnya tersebut diancam Neraka.
Benar, bahwa Allah akan mengazab orang YANG BERBUAT demikian.
Tapi apakah hal ini PASTI berlaku pada SETIAP ORANG?
Tidak demikian……
 
– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepada-Nya sebelum ia wafat, sehingga ia bertobat dan ia mati dalam keadaan SELURUH DOSANYA ALLAH AMPUNI. (inilah yang seharusnya senantiasa tertanam dalam diri kita terhadap saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasihatinya DAN TIDAK BERPUTUS ASA)
 
– KALAUPUN dia wafat dalam keadaan tidak bertobat, bukankah Allah berfirman:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia MENGAMPUNI SEGALA DOSA SELAIN dari (syirik) itu, BAGI SIAPA YANG DIKEHENDAKI-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [QS. An-Nisaa: 48]
 
>> Bukankah SECARA ZHAHIR dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?!
>> Bukankah BISA JADI, bahwa dia termasuk dalam ayat di atas “Bagi siapa yang dikehendaki-Nya”?!
>> Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang demikian ini tentang teman kita.
 
Ketahuilah, DAHULU ada dua orang dari Bani Israil. Yang satunya orang saleh dan yang satunya lagi suka maksiat. Si orang saleh ini senantiasa menasihati si tukang maksiat. Terus ia lakukan demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan pada diri temannya yang suka maksiat ini. Kemudian dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…”
Maka ketika di Hari Kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:
 
مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si Fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu.” [HR al-Bukhari]
 
Maka BERHATI-HATILAH.
  • Jangan sampai BANYAKNYA MAKSIAT YANG KITA PERBUAT juga menjadikan kita PUTUS ASA dari rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA TAKUT kita terhadap azab-Nya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA HARAP kita terhadap rahmat-Nya, menjadikan kita malah MERASA AMAN dari azab-Nya.
  • Akan tetapi, takutlah akan azab-Nya, dan jangan putus asa dari rahmat-Nya.
 
Allah taala berfirman:
 
فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
 
Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”. [QS. Al-An’aam: 147]
 
 
Sumber:
100 Pelajaran dari Kitab Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#laranganberputusasaatasrahmatAllah #dilarangberputusasaatasrahmatAllah #putusasadarirahmatAllah #janganputusasadarirahmatAllah #arti #makna #maksudnya #apamaksudnya

,

DEFINISI MUKMIN, MUSLIM, MUJAHID DAN MUHAJIR

DEFINISI MUKMIN, MUSLIM, MUJAHID DAN MUHAJIR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DEFINISI MUKMIN, MUSLIM, MUJAHID DAN MUHAJIR
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ
 
“Maukah kalian aku kabarkan siapakah seorang Mukmin?
  • Mukmin (orang yang beriman) adalah seorang yang manusia merasa aman kepadanya atas harta dan jiwa mereka,
  • Muslim (orang yang beragama Islam) adalah seorang yang manusia selamat dari lisan dan tangannya,
  • Mujahid (orang yang berjihad) adalah seorang yang memerangi nafsunya agar taat kepada Allah,
  • Muhajir (orang yang berhijrah) adalah seorang yang berhijrah meninggalkan kesalahan dan dosa.” [HR. Ahmad dari Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 549]
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna, #arti, #definisi, #mukmin, #muslim, #mujahid, #muhajir, #hijrah #jihad
,

APA ITU RUWAIBIDHAH?

APA ITU RUWAIBIDHAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
APA ITU RUWAIBIDHAH?
>> Hati-hati Mengambil Sumber Ilmu
 
Allah bercerita tentang penyesalan sebagian penduduk Neraka, karena mereka mengikuti tokoh yang sesat:
 
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
 
(Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. [QS. al-Furqan: 27-29]
 
Kita bisa perhatikan penyesalan mereka di Hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, mengapa dulu mengikuti guru sesat itu. Padahal sudah datang peringatan yang sangat jelas yang menunjukkan kesesatannya.
 
Karena itulah, semua mukmin menyadari, mengambil sumber ilmu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Prinsip apapun yang terjadi sudah ditanggung guru, harus ditinggalkan, jika dia jelas menyimpang, membela kekufuran. Jangan lagi dijadikan referensi dalam ilmu agama.
 
Dulu Muhammad biin Sirin, ulama tabi’in muridnya Anas bin Malik, mengingatkan:
 
إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذون دينكم
 
“Ilmu adalah bagian dari agama. Karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian.” [Siyar A’lam an-Nubala’, 4/606]
 
Orang yang belajar agama, hakikatnya sedang membangun ideologi. Ketika sumber ilmunya orang sesat, akan terbentuk ideologi sesat dari muridnya. Benarlah apa yang dikatakan Nabi ﷺ:
 
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”
 
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya: “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab: “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” [HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth]
 
Definisi ini tidak terbatas pada orang atau kelompok tertentu. Tapi siapapun yang sembarangan ketika bicara masalah agama, maka dia termasuk Ar Ruwaibidhah.
 
 Wallahu a’lam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#apaituruwaibidhah, #ruwaibidhah. #ruwaibidah, #orangbodoh, #orangkonyol, #dalammasalahagama, #arti, #definisi, #makna, #turutcampurdalamurusanmasyarakat, #ikutcampurdalamurusanmasyarakat, #ArRuwaibidhah
, ,

PILIH TEMAN YANG MEMBUATMU ZUHUD TERHADAP DUNIA

PILIH TEMAN YANG MEMBUATMU ZUHUD TERHADAP DUNIA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PILIH TEMAN YANG MEMBUATMU ZUHUD TERHADAP DUNIA
>>  Pengertian Zuhud Yang Benar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
. . والزهد المشروع هو: ترك الرغبة فيما لا ينفع في الدار الآخرة، وهو: فُضول المباح التي لا يستعان بها على طاعة الله. . .
 
“Zuhud yang sesuai dengan syariat adalah meninggalkan keinginan pada hal-hal yang tidak bermanfaat di negeri Akhirat, yaitu hal-hal mubah yang melebihi kebutuhan, yang tidak membantu ketaatan kepada Allah.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 10 hlm. 21]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#zuhud, #arti, #definisi, #makna, #pengertian, #pilihteman, #zuhudterhadapdunia
, ,

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
 
 
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
 
“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penyembuh, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” [QS. Al-Isra`: 82)
 
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
نُنَزِّلُ
“Kami turunkan.”
 
Jumhur Ahli Qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. [Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253]
 
مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ
 
“Dari Alquran.”
 
Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Alquran. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Alquran, ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
 
Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:
 
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ
 
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” [QS. An-Nur: 55)
 
Kata min dalam lafal tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. [Lihat Tafsir al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan at-Thibb an-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138]
 
شِفَآءٞ
“Penyembuh.”
Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.
 
Penjelasan Tafsir Ayat
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Alquran, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya, baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Alquran itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum Mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Alquran-lah yang menyembuhkan itu semua.
 
Di samping itu, ia (Alquran) merupakan rahmat, yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan, dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan, kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Alquran akan menjadi penyembuh dan rahmat.
 
Adapun orang kafir yang menzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Alquran tidaklah bertambah baginya, melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, BUKAN pada Alqurannya. Seperti firman Allah ‘azza wa jalla:
 
قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤
 
“Katakanlah: ‘Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” [QS. Fushshilat: 44)
 
Dan Allah ‘azza wa jalla juga berfirman:
 
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥
 
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
 
Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [QS At-Taubah: 124-125]
 
Dan masih banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)
 
Al-’Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:
 
“Alquran mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum Mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang zalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya, kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.
 
Penyembuhan yang terkandung dalam Alquran bersifat umum, meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Alquran) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasihat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah ‘azza wa jalla. Di samping itu, Alquran juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
 
Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” [Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465]
 
Alquran Menyembuhkan Penyakit Jasmani
 
Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap Muslim, bahwa Alquranul Karim diturunkan Allah ‘azza wa jalla untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah ‘azza wa jalla dan dirahmati-Nya. Namun apakah Alquran dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
 
Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati. Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” [Fathul Qadir, 3/253]
 
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’ad:
 
“Alquran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan Akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya, dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya.
 
Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi? Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Alquran ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.” [Zadul Ma’ad, 4/287]
 
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Alquran.
 
Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadis ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ terkena sihir [1], sehingga beliau ﷺ menyangka, bahwa beliau ﷺ mendatangi istrinya, padahal tidak mendatanginya.
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu, bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku.
Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi. Ia seorang munafik.’
(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’
(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”
Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi ﷺ lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau ﷺ mengeluarkannya.
Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan.
Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”
 
[Hadis ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab at-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab al-Adab, bab Innallaha Ya`muru bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063]
 
[Juga diriwayatkan oleh al-Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul ‘azza wa jalla’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272)]. Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah ‘azza wa jalla):
 
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢
 
Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
 
Demikian pula yang diriwayatkan al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya, dari hadis Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Sekelompok [2] sahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
 
Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikit pun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para sahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’
 
Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu?
 
Sebagian sahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian, hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
 
Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing [3]. Maka dia (salah seorang sahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati.
 
Sebagian sahabat berkata: ‘Bagilah.’
 
Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah ﷺ lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau ﷺ perintahkan kepada kita.’
 
Mereka pun menghadap Rasulullah ﷺ kemudian melaporkan hal tersebut.
 
Maka beliau ﷺ bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau ﷺ tertawa.”
 
Adapun hadis yang diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
“Sebaik-baik obat adalah Alquran.”
 
Dan hadis:
 
الْقُرْءآنُ هُوَ الدَّوَاءُ
 
“Alquran adalah obat.”
Keduanya adalah hadis yang Dhaif, telah dilemahkan oleh al-Allamah al-Albani rahimahullah dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.
 
Membuka Klinik Ruqyah
 
Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktik khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah ﷺ.
 
Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:
 
“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi, bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para sahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para sahabat dan tabi’in. (Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan.
 
Petunjuk Salaf dan bimbingan as-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.
 
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk.
 
Barang siapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. [Ar-Ruqa wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh, hal. 20-21]
 
 
 
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
 
 
Catatan Kaki:
 
[1] Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan Orientalis dan Ahli Bid’ah mengingkari hadis yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah, walhamdulillah, para penolak hadis ini dalam sebuah kitab yang berjudul “Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammadﷺ pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadis. Silakan merujuk kepada kitab tersebut.
[2] Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
[3] Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatsahabat #mutiarasunnah #motivasiIslami #petuahulama #hadist #hadits #nasihatulama #fatwaulama #sunnah #aqidah #akidah #dakwahsunnah #Islam #makna, #alquran, #penyembuh, #asysyifa, #ashshifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,#obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa #tafsir #penyimpangandalammeruqyah #ruqyah #alquranpenyembuhsegalapenyakit #rukyah obat, #sembuhkan
, , ,

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
 
Pertanyaan:
Mohon penjelasan maksud tafsir “Penyembuh” dalam Alquran Surat Yunus(10):57 dan Surat Fussilat (41):44?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Kita akan simak ayatnya,
 
Di Surat Yunus, Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [QS. Yunus: 57]
 
Indah sekali, Allah sebut Alquran sebagai,
1. Mau’idzah (nasihat) dari Rabb kita
2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
3. Huda (sumber petunjuk)
4. Rahmat bagi orang yang beriman.
 
Ibnu Katsir mengatakan:
 
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
 
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/274]
 
Di ayat lain, Allah berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
 
Katakanlah: “Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang Mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. [QS. Fushilat: 44]
 
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di Surat Fushilat didetailkan dengan keterangan di Surat Yunus. Sehingga yang dimaksud Alquran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah OBAT BAGI SEGALA PENYAKIT HATI.
 
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di:
 
ALQURAN ADALAH PENYEMBUH BAGI SEMUA PENYAKIT HATI, baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat, atau penyakit syubuhat, yang mengotori akidah dan keyakinan. Karena dalam Alquran terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
 
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengaji makna Alquran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari rida Allah dari pada nafsu syahwatnya.
 
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas, ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya, dan mengotori akidahnya, sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
 
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 366]
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna, #alquran, #penyembuh, #asy syifa, #ash shifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa
, , ,

NASIHAT PARA ULAMA TENTANG TAWADHU

NASIHAT PARA ULAMA TENTANG TAWADHU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
NASIHAT PARA ULAMA TENTANG TAWADHU
 
 
قال الحسن رحمه الله: هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .
 
Al Hasan Al Bashri berkata:
“Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang Muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”
 
يقول الشافعي: « أرفع الناس قدرا : من لا يرى قدره ، وأكبر الناس فضلا : من لا يرى فضله »
 
Imam Asy Syafi’i berkata:
“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” [Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304]
 
يقول بشر بن الحارث: “ما رأيتُ أحسنَ من غنيّ جالسٍ بين يدَي فقير”.
 
Basyr bin Al Harits berkata:
“Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.” Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.
 
قال عبد الله بن المبارك: “رأسُ التواضعِ أن تضَع نفسَك عند من هو دونك في نعمةِ الله حتى تعلِمَه أن ليس لك بدنياك عليه فضل [أخرجه البيهقي في الشعب (6/298)].
 
‘Abdullah bin Al Mubarrok berkata:
“Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” [Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298]
 
قال سفيان بن عيينة: من كانت معصيته في شهوة فارج له التوبة فإن آدم عليه السلام عصى مشتهياً فاستغفر فغفر له، فإذا كانت معصيته من كبر فاخش عليه اللعنة. فإن إبليس عصى مستكبراً فلعن.
 
Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
“Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka tobat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya. Namun jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”
 
قال أبو بكر الصديق: وجدنا الكرم في التقوى ، والغنى في اليقين ، والشرف في التواضع.
 
Abu Bakr Ash Shiddiq berkata:
“Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), dan kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”
 
قال عروة بن الورد :التواضع أحد مصائد الشرف، وكل نعمة محسود عليها إلا التواضع.
 
‘Urwah bin Al Warid berkata:
“Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri, kecuali pada sifat tawadhu’.”
 
قال يحيى بن معين :ما رأيت مثل أحمد بن حنبل!! صحبناه خمسين سنة ما افتخر علينا بشيء مما كان عليه من الصلاح والخير
 
Yahya bin Ma’in berkata:
“Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”
 
قال زياد النمري :الزاهد بغير تواضع .. كالشجرة التي لا تثمر
 
Ziyad An Numari berkata:
“Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”
 
Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.
 
اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ
 
Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta.
 
Artinya:
Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlak tersebut kecuali Engkau.” [HR. Muslim no. 771]
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
 
 
Sumber: Rumaysho.com
 
Catatan Kaki
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatulama, #nasehatulama, #petuahulama, #tawadhuk, #tawaduk, #tawadho, #tawado, #arti, #definisi, #makna #doazikir, #doa, #doa, #zikir, #mohon, #memohon, #akhlaqmulia, #akhlakmulia