Posts

, ,

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangRiba
#FikihJualBeli

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

Ada ilustrasi berikut:

Contoh riba yang ‘kadang’ tidak kita sadari:
 
“Om, pinjem motornya ya…” tanya Pardi
“Ya, itu ambil aja sendiri di garasi, kuncinya ini. Tapi nanti bensinnya diisi penuh ya,” jawab Om Hadi.
Ribanya adalah tambahan pengembalian pinjaman berupa bensin.
Apa ini benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, STATUSNYA RIBA” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antarannya tambahan yang dipersyaratkan ketika pelunasan utang.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasihat kepada Abu Burdah, yang ketika itu baru tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah, yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan, dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” [HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro]

Namun larangan hadiah ketika pelunasan ini berlaku, apabila transaksinya utang-piutang. Dan di antara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan kepemilikan. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna sementara, selama izin yang diberikan pihak yang meminjamkan.

Jika kita utang motor, maka kita berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa kita jual, kita sewakan atau digadaikan untuk utang.

Lain halnya jika kita pinjam motor, lalu kita jual, atau kita sewakan atau digadaikan untuk utang, kita akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor kita, tapi motor kawan kita. Kita hanya punya hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya utang. Misalnya, makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ mengatakan:

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakikatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti. [Tuhfatul Fuqaha’, 3/178]

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh:

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

Berdasarkan penjelasan ini dipahami, bahwa meminjamkan Dinar atau Dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara Dinar Dirham tidak mungkin dimanfaatkan, kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain menghabiskan bendanya, bukan mengambil hak gunanya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan:

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang, bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya, bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’I as-Shana’I, 8/374)

Pinjam Motor, Bukan Utang Motor

Karena itulah, ketika akadnya pinjam motor, lalu dikembalikan dalam waktu yang ditentukan dengan kondisi barang yang sama, TIDAK bisa disebut utang motor.

Sehingga ketika pengembalian dipenuhi bensinnya, bukan termasuk tambahan atas utang, sehingga TIDAK ada kaitannya dengan riba.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29437-motor-kembali-bensin-isi-penuh-ini-riba.html

, ,

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FatwaUlama

HUKUM MEMANFAATKAN MAKANAN/ HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK TUMBAL/ SESAJEN

Jika makanan tersebut berupa hewan sembelihan, maka TIDAK BOLEH dimanfaatkan dalam bentuk apapun, baik untuk dimakan atau dijual. Karena hewan sembelihan tersebut dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ, maka dagingnya haram dimakan dan najis, sama hukumnya dengan daging bangkai. [Lihat keterangan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 175)] Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. al-Baqarah: 173).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah, tidak boleh dimakan dagingnya.” [Kitab Daqa-iqut Tafsiir (2/130)]

Dan karena daging ini haram dimakan, maka berarti haram untuk diperjual-belikan, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya, Allah ﷻ jika mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia (juga) mengharamkan harganya (diperjual-belikan).”[ HR Ahmad (1/293), Ibnu Hibban (no. 4938) dan lain-lain, Dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani dalam kitab Ghaayatul Maraam (no. 318)]

Adapun jika makanan tersebut SELAIN hewan sembelihan, demikian juga harta, maka sebagian ulama ada yang mengharamkannya dan menyamakan hukumnya dengan hewan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah ﷻ [Lihat keterangan Syaikh Muhammad Hamid al-Faqiy dalam catatan kaki beliau terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174)]

Akan tetapi pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, insya Allah, adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, yang membolehkan pemanfaatan makanan dan harta tersebut, SELAIN sembelihan, karena hukum asal makanan/harta tersebut adalah halal dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “(Pendapat yang mengatakan) bahwa uang (harta), makanan, minuman dan hewan yang masih hidup, yang dipersembahkan oleh pemiliknya kepada (sembahan selain Allah, baik itu) kepada Nabi, wali maupun (sembahan-sembahan) lainnya, haram untuk diambil dan dimanfaatkan, pendapat ini TIDAK BENAR. Karena semua itu adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya, serta hukumya tidak sama dengan bangkai (yang haram dan najis), maka (hukumnya) boleh diambil (dan dimanfaatkan), sama seperti harta (lainnya) yang ditinggalkan oleh pemiliknya untuk siapa saja yang menginginkannya, seperti bulir padi dan buah kurma, yang ditinggalkan oleh para petani dan pemanen pohon kurma untuk orang-orang miskin.

Dalil yang menunjukkan kebolehan ini adalah (perbuatan) Nabi Muhammad ﷺ (ketika) beliau mengambil harta (yang dipersembahkan oleh orang-orang musyrik) yang (tersimpan) di perbendaharaan (berhala) al-Laata, dan beliau ﷺ (memanfaatkannya untuk) melunasi utang (sahabat yang bernama) ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Rasulullah ﷺ (dalam hadis ini) tidak menganggap dipersembahkannya harta tersebut kepada (berhala) al-Laata sebagai (sebab) untuk melarang mengambil (dan memanfaatkan harta tersebut) ketika bisa (diambil).

Akan tetapi, orang yang melihat orang (lain) yang melakukan perbuatan syirik tersebut (memersembahkan makanan/harta kepada selain Allah ﷻ), dari kalangan orang-orang bodoh dan para pelaku syirik, wajib baginya untuk mengingkari perbuatan tersebut, dan menjelaskan kepada pelaku syirik itu, bahwa perbuatan tersebut adalah termasuk syirik, supaya tidak timbul prasangka, bahwa sikap diam dan tidak mengingkari (perbuatan tersebut), atau mengambil seluruh/sebagian dari harta persembahan tersebut, adalah bukti yang menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, dan bolehnya berkurban dengan harta tersebut, kepada selain Allah ﷻ. Karena perbuatan syirik adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang paling besar (dosanya), maka wajib diingkari/dinasihati orang yang melakukannya.

Adapun kalau makanan (yang dipersembahkan untuk selain Allah ﷻ) tersebut terbuat dari daging hewan yang disembelih oleh para pelaku syirik, maka (hukumnya) HARAM (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga lemak dan kuahnya, karena (daging) sembelihan para pelaku syirik hukumnya sama dengan (daging) bangkai, sehingga HARAM (untuk dimakan) dan menjadikan najis makanan lain yang tercampur dengannya. Berbeda dengan (misalnya) roti atau (makanan) lainnya yang tidak tercampur dengan (daging) sembelihan tersebut, maka ini semua halal bagi orang yang mengambilnya (untuk dimakan/dimanfaatkan). Demikian juga uang dan harta lainnya (halal untuk diambil), sebagaimana penjelasan yang lalu, wallahu a’lam.” [Catatan kaki Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz terhadap kitab Fathul Majiid (hal. 174-175)]

 

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A

[Artikel www.muslim.or.id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/4952-tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah.html

 

,

DOA KETIKA TERTIMPA BENCANA

DOA KETIKA TERTIMPA BENCANA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA KETIKA TERTIMPA BENCANA

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ قَالَ حَدَّثَنَا هِلَالٌ مَوْلَانَا عَنِ أَبِي عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أُمِّهِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ قَالَتْ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهَا عِنْدَ الْكَرْبِ اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami, Waki’, telah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz, berkata, telah menceritakan kepada kami budak kami, Hilal, dari Umar bin Abdul Aziz, dari Abdullah bin Ja’far, dari ibunya [Asma binti Umais] dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku beberapa kalimat, yang aku katakan ketika terkena bencana, yaitu:

 

اللَّهُ، اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

ALLAH, ALLAHU ROBBI LAA USYRIKU BIHI SYAI`A

Artinya:

Allah, Allah adalah Rabb-ku, yang aku tidak sekutukan dengan apapun. [HR Ahmad No. 25835]

, ,

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToRiba

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

Langsung saja saya berikan ilustrasi

Ali: ”Assalamu ‘alaykum. Adi lagi di mana?
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah. Lagi di pasar nih.
Ali: Oya kebetulan. Tolong belikan rambutan 1kg. Nanti sampai rumah diganti uangnya.
Adi: Ok deh
Ali: Ya udah itu aja saja. Assalamu ‘alaykum.
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah ‎

(Sudah sampai rumah Ali)
Adi: Assalamu ‘alaykum
Ali: Wa’alaykumus salam
Adi: Ini pesanannya.
Ali: Syukron. Ayo kita makan sama-sama. Tenang saja nanti diganti uangnya.

Kemudian Adi dan Ali makan rambutan bersama-sama. Maka Adi telah makan riba.

Apakah ini benar, bahwa Adi telah memakan riba?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antaranya adalah hadiah dan pemberian sebelum utang lunas. Meskipun bentuknya jasa.

Sahabat Abdullah bin Sallam pernah mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Dalam riwayat lain, nasihat Abdullah bin Sallam ini beliau sampaikan kepada Abu Burdah, yang ketika itu tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan, sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Hanya saja, ada catatan yang perlu kita perhatikan, bahwa:

‘Utang tidak memutus silaturrahmi’

‘Utang tidak memutus hubungan baik seseorang dengan kawannya’

Dan seterusnya.

Karena itu, siapa yang punya kebiasaan baik dengan saudaranya, seperti saling memberi hadiah atau saling membantu dalam berbagai urusan, jangan sampai kebiasaan ini dihentikan gara-gara utang.

 

Nabi ﷺ bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Lakukanlah saling menghadiahilah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 594 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kaitannya hadiah dengan akad utang piutang dibagi menjadi dua:

[1] Hadiah yang diberikan karena latar belakang akad utang piutang. Andai tidak berlangsung akad utang-piutang, tentu tidak akan akan ada hadiah.

[2] Hadiah yang tidak ada hubungannya dengan akad utang piutang, meskipun keduanya kadang melakukan akad utang piutang. Misalnya, kakak adik, mereka sudah terbiasa saling memberi hadiah ketika lebaran. Suatu ketika adik utang ke kakak. Dan ketika lebaran, mereka saling memberi hadiah, meskipun utang adik belum lunas.

Tapi kita bisa memahami, hadiah yang ada dalam hal ini sama sekali TIDAK ADA KAITANNYA dengan transaksi utang piutang. Hadiah yang sudah terjadi karena kebiasaan sebelumnya.

Hadiah ini diperbolehkan, meskipun utang belum lunas. Karena sudah menjadi kebiasaan sebelumnya, sehingga tidak ada hubungannya dengan utang piutang.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika sudah terbiasa mereka saling memberikan hadiah sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432)

Karena sekali lagi, utang tidak memutus silaturrahmi. Jangan sampai gara-gara utang, justru mereka saling tegang, tidak bisa cair, tidak semakin akrab, dan kaku terhadap jamuan.

Bagaimana dengan Kasus Talangan Jajan?

Kasus di atas, seperti yang umum di masyarakat kita, TIDAK ADA KAITANNYA dengan utang piutang. Dalam arti, mereka sudah terbiasa melakukannya, meskipun mereka tidak terlibat dalam akad utang piutang. Sehingga makan bersama di sini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan utang.

Insya Allah dibolehkan, dan bukan riba.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https: //konsultasisyariah.com/29299-riba-dalam-kegiatan-makan-bersama.html

 

,

NIATKU BAIK DAN TUJUANKU BAIK SAJA TIDAKLAH CUKUP

NIATKU BAIK DAN TUJUANKU BAIK SAJA TIDAKLAH CUKUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToBid’ah

NIATKU BAIK DAN TUJUANKU BAIK SAJA TIDAKLAH CUKUP

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak bisa menggapainya. Kebaikan tidak akan terwujud dengan semata-mata bermodalkan niat yang baik, dan mengabaikan kebenaran.

Sudah terang, laksana matahari di siang bolong, bahwa seluruh amalan tidak akan diterima di sisi Allah, kecuali dengan dua syarat, yakni:

  1. Ikhlas yakni seseorang beramal mencari keridaan Allah Azza wa Jalla dan
  2. Selaras dengan syariat Allah sesuai dengan Alquran dan As Sunnah.

Apabila hilang salah satu dari dua syarat di atas, tidaklah diterima amalan tersebut di sisi Allah. Kita memang menginginkan kebaikan, namun itu tidaklah cukup. Amalan saleh harus sesuai dengan syariat dalam bilangan, tata cara, sifat dan bentuk, mula dan akhir, dalam pokok dan cabang hukum, serta dalam tempat dan waktu.

Dalil-dalil tentang hal itu adalah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mengada-adakan amalan baru dalam urusan kami ini (agama Islam), maka ia tertolak.” (Muttafaq ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Dan dalam Shahih Muslim:

“Barang siapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari agama kami, maka itu tertolak.”

Lafal man termasuk lafal-lafal yang umum. Perbuatan apapun yang mengada- ngada ini seluruhnya tertolak. Maka otomatis IBADAHNYA AHLI BID’AH TERTOLAK.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat pelaku bid’ah, hingga dia meninggalkan bid’ahnya.” (Riwayat Thabrani, Baihaqi, dan Adh Dhiya dari Anas radliyallahu ‘anhu)

Ahli ibadah ini memacu jiwanya dan bersemangat dalam beribadah kepada Rabb- nya. Namun Allah tidak menerima sedikit pun amalan yang ia lakukan, kendati dia sangat mengharapkan pahala dari sisi Allah. Keikhlasannya dalam beramal TIDAK dibarengi dengan mengaji sumber syariat amalan tersebut.

Tiap kali dia sungguh-sungguh bertaubat, taubatnya senantiasa tertolak, meski niatnya baik dan tujuannya agung. Hal ini tidak menyelamatkan pelakunya dari kesalahan-kesalahan sama sekali.

Diriwayatkan dalam Shahihain dari hadis Usamah bin Zaid, beliau mengatakan:

[Saya pernah mengejar seorang musyrikin bersama seorang Anshar. Ketika kami hampir membunuhnya, dia mengatakan Laa Ilaha Illallah. Temanku mengurungkan niatnya, dan saya memenggalnya hingga tewas. Lantas saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal itu. Beliau ﷺ menjawab:

“Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaha Illallah?” Saya berkata: “Wahai Rasulullah, dia mengucapkan demikian hanya untuk berlindung diri.” Rasulullah ﷺ balik bertanya: “Apakah kamu telah membelah hatinya? Lantas apa yang akan kamu lakukan dengan kalimat Laa Ilaha Illallah, apabila telah datang Hari Kiamat?”

Usamah mengatakan, beliau ﷺ terus mengulang-ngulangnya, sampai saya berandai- andai, bahwa saya belum masuk Islam, kecuali pada hari ini].

Lihatlah Usamah dan maksudnya yang baik untuk menolong Islam. Apakah dia bermaksud jahat? Tidak! Meski demikian, Rasulullah ﷺ mencela perbuatannya, dan tidak memaafkan dengan sebab tujuannya yang baik.

Demikian pentingnya masalah ini, hingga para ulama pun telah mengarang banyak kitab yang memeringatkan umat dari BAHAYA BID’AH.

Adapun bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Lihatlah kitab Al I’tisham karya Asy Syatibi. Dengan sangat baiknya beliau berbicara tentang bahaya bid’ah, jenis-jenis dan cabangnya.

Seandainya orang-orang yang mengatakan: “Niatku baik dan tujuanku baik” dapat dibenarkan, tentu hal ini akan menyebabkan banyak orang melakukan pembunuhan, lantas berlindung di balik alasan “Niatku baik”.

Orang yang mengonsumsi minuman keras akan berkata “Niatku baik”. Yang seperti ini banyak dan kerap terjadi, karena menyangkut aktivitas hati. Kita tidak mampu untuk menetapkannya, dan kita tidak bisa mengambil faidah, kecuali dengan dalil yang menyertainya dari luar (hati).

Allah telah membimbing kita untuk mengambil lahiriah berbagai perkara dan Allah-lah yang menguasai urusan yang tersembunyi. Oleh karena inilah Umar berkata, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan lainnya:

“Sesungguhnya wahyu telah terhenti, dan sesungguhnya kami menghukumi kalian dengan hal-hal yang tampak bagi kami dari perbuatan kalian. Barang siapa yang nampak bagi kami kebaikannya, maka kami berikan keamanan, dan rahasianya bukanlah urusan kami sedikit pun. Allah yang akan menghisab rahasia-rahasia mereka. Barang siapa yang nampak bagi kami kejahatannya, kami tidak akan memberikan jaminan keamanan, dan tidak akan memercayainya meski dia mengatakan:

‘Sesungguhnya hatiku berniat baik.’

Sesungguhnya kami tidak bersedia untuk menerima orang yang mengaku hatinya baik. Kami memiliki dalil-dalil yang menunjukkan, bahwa zahir yang baik adalah bukti atas batin yang baik, dan rusaknya zahir merupakan bukti atas rusaknya batin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad.’” (Muttafaq ‘alaihi dari Nu’man bin Basyir)

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Menggugat Demokrasi – Kami Berniat Baik?” oleh Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam dan diterjemahkan oleh al-ustadz Wira Mandiri Bachrun

 

Sumber: https://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-kami-berniat-baik/

, ,

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

Pertanyaan:

Apa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat, saat membaca Alquran, dan ketika doa supaya bisa lebih khusyu’ ?

Jawaban:

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ala Rasulillah, wa ala alihi wa shahbih, amma ba’du,

Terkadang seseorang lupa, bahwa di antara prinsip dalam beragama Islam adalah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga, dan menjauhkan dari Neraka, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian”(HR. At-Thabrani, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah) [Http://almanhaj.or.id/content/1963/slash/0/Hadits-hadits-tentang-kesempurnaan-Islam/]

Dan di sisi yang lain, terkadang seseorang ketika beribadah juga lupa bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Muslim dalam Shahihnya dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma) [Http://Islamqa.info/ar/108382]

Akibatnya, terkadang ia berani ‘berkreasi’ sendiri dalam melakukan tata cara ibadah tertentu, tanpa ia sadari.

Pernahkah hal ini Anda lakukan?

Terkadang tanpa terasa, setelah menunaikan shalat, seseorang melanjutkan berzikir dengan memejamkan mata. Ia lakukan itu tanpa kesengajaan. Demikian pula, sebagian manusia ada yang berdoa sambil memejamkan matanya, dengan tujuan agar bisa berdoa dengan khusyu‘. Apakah kedua perkara itu dibenarkan?

Berikut Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah (no. 223681) menjelaskan hal itu.

Pertanyaan:

Bolehkah memejamkan kedua mata saat doa dan zikir?

Jawaban:

Alhamdulillah, TIDAK DIKENAL di dalam sunnah, bahwa Nabi ﷺ dahulu memejamkan kedua matanya dalam bentuk ibadah apapun juga, baik itu shalat, baca Alquran, zikir, doa, khutbah, atau selain itu. Telah berlalu jawaban atas pertanyaan no. 22174 yang menjelaskan, bahwa memejamkan kedua mata dalam shalat itu hukumnya makruh, kecuali jika ada keperluan, yaitu adanya perkara yang menyibukkan seseorang dalam shalatnya, berupa ukiran, hiasan, ornamen, gambar, lewatnya wanita, atau semisal itu. Namun jika tidak ada keperluan, tidaklah disayariatkan seseorang memejamkan kedua mata.

Hukum Memejamkan Kedua Mata Saat Berdoa dan Berzikir [-Pent]

(Berdasarkan dalil di atas), maka jika didapatkan sebab yang diperlukan untuk memejamkan kedua mata (saat berdoa dan berzikir), maka boleh (memejamkan mata), seperti ketika didapatkan sesuatu yang menyibukkan orang yang berdoa atau berzikir.

Adapun jika tidak didapatkan sebab yang diperlukan, maka meneladani Rasulullah ﷺ  -tanpa diragukan lagi- adalah lebih utama (afdhal).

Terkadang sebagian manusia memejamkan kedua matanya dengan alasan supaya khusyu’. Ini adalah perkara yang TIDAK DISYARIATKAN, dan ulama telah mengingkarinya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat saat membaca Alquran dan ketika doa Qunut supaya bisa khusyu’ dalam shalat?”

Beliau menjawab: “Ulama telah menyebutkan, bahwa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat adalah makruh, kecuali jika ada sebab, semisal di hadapan seseorang yang sedang shalat ada sesuatu yang menyibukkannya atau cahaya yang terang, sangat menyilaukan kedua matanya, dalam keadaan itu boleh ia memejamkan kedua matanya, untuk menghindari bahaya tersebut. Adapun sangkaan sebagian manusia, bahwa jika memejamkan kedua matanya bisa lebih khusyu’ baginya di dalam shalatnya, saya khawatir ini termasuk TIPU DAYA SETAN untuk menjerumuskannya dalam perkara yang makruh, sedangkan ia tidak merasa. Dan apabila ia membiasakan dirinya baru bisa khusyu’ jika memejamkan kedua matanya, maka inilah biang keladi yang menjadikan dirinya merasa lebih khusyu’, jika memejamkan kedua mata, dibandingkan jika membuka kedua matanya” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin 13/299).

Namun terkadang, tanpa disengaja, seseorang memejamkan mata begitu saja saat berdoa dan berzikir, maka hal ini tidaklah mengapa. Wallahu Ta’ala A’lam (Islamqa.info/ar/223681).

 

Penulis: Al-Ustadz Sa’id Abu Ukasyah hafizhahullah

Sumber: http://muslim.or.id/24270-hukum-memejamkan-kedua-mata-saat-zikir-dan-doa.html

 

,

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya tentang usaha atau bisnis yang akhir-akhir ini sedang marak di masyarakat, yaitu MLM (Multi Level Marketing). Bagaimanakah hukumnya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Banyak sekali pertanyaan yang datang kepada Al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhut al-Ilmiyah wal Ifta’ tentang aktivitas perusahaan-perusahaan pemarasan berpiramida (Multi Level Marketing), seperti Biznas. Yang inti dari aktivitas mereka adalah mengajak seseorang untuk membeli sebuah produk, agar dia juga bisa mengajak orang lain untuk membeli produk tersebut, demikian seterusnya.

Setiap kali bertambah tingkatan anggota di bawahnya, maka orang yang pertama akan mendapatkan keuntungan besar, yang bisa mencapai ribuan Real. Dan setiap anggota yang dapat mengajak orang-orang setelah bergabung, maka ia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar pula, selagi ia berhasil merekrut anggota-anggota baru ke dalam daftar para anggota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau Multi Level Marketing (MLM).

Maka, Lajnah Da’imah menjawab:

“Sesungguhnya transaksi jenis ini adalah HARAM, karena tujuannya adalah komisi, bukan produk. Terkadang komisi itu bisa mencapai puluh ribu, padahal harga produk tidaklah sampai seratus. Orang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusaan ini dalam memromosikan produk-produk mereka, adalah menampakkan jumlah komisi yang besar, yang mungkin didapatkan oleh anggota, dan menjanjikan buat mereka keuntungan yang melampaui batas, sebagai imbalan dari modal yang kecil, yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan ini sekadar label dan pengantar untuk mendapatkan keuntungan besar.

Melihat hakikat dari transaksi di atas, maka secara syari, usaha seperti ini adalah HARAM karena beberapa alasan:

Transaksi tersebut mengandung riba, baik Riba Fadhl atau Riba Nasi-Ah (Riba Fadhl adalah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawi [barang yang bisa diterapkan hukum riba padanya] yang sejenis dengan transaksi yang kontan. Adapun Riba Nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawi yang sama sebab ribanya, tapi tidak secara kontan). Orang yang ikut dalam bisnis itu membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar darinya. Maka, ia menukar uang dengan uang dalam bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak kontan). Ini adalah bentuk riba yang diharamkan menurut nash Alquran dan as-Sunnah dan kesepakatan para ulama. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut, dan bukan menjadi tujuan anggota untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya, sehingga keberadaan produk tidak berpengaruh dalam hukum transaksi jual beli.

Transaksi seperti ini termasuk gharar (yaitu hakikat atau kadar barang yang tidak diketahui oleh salah satu dari kedua belah pihak) yang diharamkan menurut syariat, karena anggota tidak mengetahui, apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak? Dan bagaimanapun pemasaran berpiramida itu berlanjut, pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung di dalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung, atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi. Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi, kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Dengan demikian, yang mendominasi adalah kerugian. Maka, ini adalah hakikat gharar (tidak ada kejelasan di antara dua belah pihak). Padahal, Rasulullah ﷺ telah melarang dari perbuatan gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Apa yang terdapat dalam transaksi ini merupakan praktik memakan harta manusia dengan cara yang batil, karena tidak ada yang mengambil keuntungan dari transaksi ini, selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan, dengan tujuan menipu anggota lainnya. Hal ini telah disebutkan dalam Alquran tentang keharamannya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” (QS. An-Nisa: 29).

Dalam transaksi ini terdapat penipuan, pengaburan dan penyamaran terhadap manusia. Dari sisi penampakan produk, seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataannya tidak demikian. Dan dari sisi yang lain, mereka menjanjikan komisi yang besar, tapi seringnya tidak terwujud. Dan ini semua terhitung penipuan yang diharamkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Siapa saja yang menipu, maka ia bukan golonganku.” (HR. Muslim 295).

Dan dalam hadis yang lain, beliau ﷺ bersabda:

الْبَيْعَانِ بِلْخِيَارِ مَا لِمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بِوْرِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Dua orang yang melakukan transaksi jual beli berhak menentukan pilihannya (khiyar) selama belum berpisah, niscaya akan mendapatkan berkah dari transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.” (HR. al-Bukhari, 2079 dan Muslim 1532).

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah (jasa sebagai perantara atau makelar), maka itu TIDAK BENAR. Karena samsarah adalah transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usaha menjual produknya. Adapun pemasaran MLM, anggotalah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut.

Hakikat atau maksud dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berbasis MLM, yang maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu, orang yang bergabung dalam MLM akan memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya. Berbeda dengan samsarah, (di mana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan di antara dua transaksi sangatlah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar. Andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syariat. (Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba.

Oleh karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah:

إِنَّكَ بِأَزْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ إَذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيْرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٌ فَإِنَّهُ رِبًا

“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka, jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadanya sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan, maka itu adalah riba.” (HR. al-Bukhari, 3814).

Dan (hukum) hibah tergantung dari SEBAB ADANYA hibah tersebut. Karena itu, ketika ada seorang pekerja yang datang lalu berkata: “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukankah seandainya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu (saja), apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” (HR. Muslim 1832).

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah, atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali TIDAK mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut juga, ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan. Wabillahi taufiq wa shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ tanggal 14/3/1425 no. 22935)

Sumber: Majalah Al Mawaddah, Vol. 34/Ramadhan-Syawwal 1431 H

Dipublikasikan oleh www.PengusahaMuslim.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh tim redaksi.

Sumber : http://pengusahamuslim.com/tanya-jawab-bagaimana-hukum-bisnis-mlm

 

 

,

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#DakwahManhaj

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

Pemerintah negeri ini, presiden negeri ini beragama Islam. Maka beliau adalah ULIL AMRI.

Orang yang mengatakan presiden RI saat ini bukanlah Ulil Amri, maka dia telah terkena pemikiran atau syubhat TAKFIRI.

Akibat fatal pemikirab takfiri ini adalah bolehnya memberontak pada penguasa negeri ini. Ini sungguh pemahaman yang SANGAT KELIRU.

Apa definisi Ulil Amri? Apakah Pemerintah Indonesia Bukan Ulil Amri? Bagi yang belum paham makna Ulil Amri, silakan baca yang berikut ini:

Kewajiban Menaati Ulil Amri

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian, dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59).

Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran:

  1. Terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna Ulil Amri. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad Shahih, beliau berkata: “Mereka, yaitu Ulil Amri, adalah para pemimpin/pemerintah.”

Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata, bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan.

Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah para ulama.

Mujahid juga mengatakan, bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat.

Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud Ulil Amri adalah para pemimpin/pemerintah (lihat Fath al-Bari [8/106] pdf).

Oleh sebab itu an-Nawawi rahimahullah membuat judul bab untuk hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai tafsir ayat ini dengan judul ‘Kewajiban taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat’. Kemudian beliau menukilkan ijma’/konsensus para ulama tentang wajibnya hal itu (lihat Syarh Muslim [6/467]).

Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah, dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti Shahih dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238] pdf)

  1. Wajibnya menaati pemerintah Muslim selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul ﷺ dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau ﷺ bersabda: “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
  1. Ketaatan kepada pemerintah Muslim ini dibatasi dalam hal ketaatan/perkara ma’ruf saja, sedangkan dalam perkara maksiat, maka tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wajib atas setiap individu Muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]).

Demikian juga hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])

  1. Kewajiban untuk mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim ini juga dibatasi selama tidak tampak dari mereka kekufuran yang nyata. Apabila mereka melakukan kekufuran yang nyata, maka wajib untuk mengingkarinya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka.

Adapun memberontak atau memeranginya, sezalim atau sefasik apapun mereka, maka tidak boleh, selama dia masih Muslim/tidak kafir (lihat Syarh Muslim [6/472-473], Fath al-Bari [13/11]).

Dalilnya adalah hadis Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata, dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘Kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu’ adalah adanya dalil tegas dari ayat atau hadis Shahih yang tidak menerima takwil. Konsekuensinya, tidak boleh memberontak kepada mereka, apabila perbuatan mereka itu masih mengandung kemungkinan takwil.” (Fath al-Bari [13/10]).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “… kecuali apabila kaum Muslimin telah melihat kekafiran yang nyata, yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka tidak mengapa melakukan pemberontakan kepada penguasa ini untuk menyingkirkannya, dengan syarat apabila mereka memunyai kemampuan yang memadai. Adapun apabila mereka tidak memiliki kemampuan itu, maka janganlah mereka memberontak. Atau apabila terjadi pemberontakan, dan diduga kuat akan timbul kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak, demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati menyatakan bahwa: ‘Tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang menimbukkan akibat lebih buruk dari keburukan semula. Akan tetapi wajib menolak keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya atau, minimal meringankannya.’…” (al-Ma’lum Min Wajib al-’Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 9-10)

  1. Wajib bagi orang-orang yang mampu, dari kalangan ulama atau yang lainnya, untuk menasihati penguasa Muslim yang melakukan penyimpangan dari hukum Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namun hal itu, menasihati penguasa, dilakukan tanpa menyebarluaskan aib-aib mereka di muka umum.

Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Iyadh bin bin Ghunm radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum. Akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya, lalu menasihatinya secara sembunyi. Apabila dia menerima nasihatnya, maka itulah yang diharapkan. Dan apabila dia tidak mau, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad Shahih, lihat al-Ma’lum, hal. 23, lihat juga perkataan asy-Syaukani dalam kitabnya as-Sail al-Jarar yang dikutip dalam kitab ini hal. 44)

  1. Wajibnya bersabar dalam menghadapi penguasa Muslim yang zalim kepada rakyatnya

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku, dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati setan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau ﷺ menjawab: “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/480]).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka, namun kalian mengingkari kekeliruan mereka. Barang siapa yang mengetahuinya, maka harus berlepas diri, dengan hatinya, dari kemungkaran itu. Dan barang siapa yang mengingkarinya [minimal dengan hatinya, -pent], maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya, dan tetap menuruti kekeliruannya.”

Mereka, para sahabat, bertanya: “Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?”. Maka beliau ﷺ menjawab: “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]).

Faidah: An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan, bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran, tidak berdosa semata-mata karena dia TINGGAL DIAM. Akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Catatan Penting:

Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa Muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep demokrasi rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas.

Di satu sisi mereka telah benar, yaitu mengingkari demokrasi yang hal itu termasuk dalam bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam kitab Tanwir azh-Zhulumat karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam hafizhahullah. Namun di sisi lain mereka telah melakukan kekeliruan yang sangat besar, yaitu serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang.

Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya): “Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44).

Anggaplah demikian, bahwa mereka, yaitu pemerintah, telah berhukum dengan selain hukum Allah, meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam. Namun ada satu hal penting yang perlu diingat, dan perkara inilah yang mereka lalaikan, bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu dihukumi kafir! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan ‘Setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka dia adalah thaghut’ (lihat al-Qaul al-Mufid [2/74]).

Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir.Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut, mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat. Bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan Ulama Salathin, alias kaki tangan pemerintah. Allahul musta’aan.

Maka untuk menjawab kerancuan ini, dengan memohon taufik dari Allah, berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid:

Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad, sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut, adalah dalam tiga keadaan:

[1] Apabila dia meyakini, bahwa berhukum dengan selain hukum Allah, yang bertentangan dengan hukum Allah, itu boleh, seperti contohnya: Meyakini bahwa zina dan khamr itu halal.

[2] Apabila dia meyakini, bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah.

[3] Apabila dia meyakini, bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah. Lalu, dia bisa dihukumi zalim, yang tidak sampai kafir, apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan, namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hokum, maka dia pun menerapkan selain hukum Allah.

Demikian juga ia dikatakan fasik, yang tidak kafir, apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan, bahwa hukum Allah-lah yang benar. Namun dia melakukan hal itu, berhukum dengan selain hukum Allah, karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb.

Kemudian beliau juga menjelaskan, bahwa tindakan orang yang mengganti syariat dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar. Yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays, beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka, bahwa hal itu termasuk urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat al-Qaul al-Mufid [2/68-69 dan 71]).

Dengan menyimak keterangan beliau di atas jelaslah bagi kita, bahwa tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya mengkafirkan penguasa negeri ini, semoga Allah membimbing mereka, serta menjuluki mereka sebagai rezim thaghut, adalah sebuah tindakan serampangan dan tidak dibangun di atas ilmu yang benar. Bahkan, kalau diteliti lebih jauh, ternyata mereka itu telah terjangkiti virus pemikiran Khawarij gaya baru, yang menebar kekacauan berkedok jihad. Subhanallah.

 

Sumber:

http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/

 

 

, ,

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FatwaUlama

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

  • Mengenai Dana Peduli Pesantren

Pertanyaan:

Bagaimana hukum dana dari orang kafir untuk pesantren-pesantren di Indonesia. Bahkan ada yayasannya. Semua orang paham, ini dalam rangka kampanye simpatik …

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Akan simak beberapa riwayat berikut untuk menyimpulkan, bagaimana hukum menerima hadiah dari orang kafir:

[1] Hadis dari Abdurrahman bin Kaab bin Malik, beliau bercerita:

جَاءَ مُلاعِبُ الْأَسِنَّةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَدِيَّةٍ ، فَعَرَضَ عَلَيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلامَ ، فَأَبَى أَنْ يُسْلِمَ ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي لا أَقْبَلُ هَدِيَّةَ مُشْرِكٍ

“Ada seorang yang bergelar ‘Pemain berbagai senjata’ (yaitu ‘Amir bin Malik bin Ja’far) menghadap Rasulullah ﷺ dengan membawa hadiah. Nabi ﷺ lantas menawarkan Islam kepadanya. Orang tersebut menolak untuk masuk Islam. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Sungguh aku tidak menerima hadiah yang orang musyrik.” (HR. al-Baghawi, 3/151).

[2] Hadis dari Irak bin Malik, bahwa Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

أَن مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- أَحَبَّ رَجُلٍ فِى النَّاسِ إِلَىَّ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا تَنَبَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ شَهِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الْمَوْسِمَ وَهُوَ كَافِرٌ فَوَجَدَ حُلَّةً لِذِى يَزَنَ تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا بِخَمْسِينَ دِينَاراً لِيُهْدِيَهَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Sungguh Muhammad adalah manusia yang paling aku cintai di masa jahiliyyah”. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi yang pergi ke Madinah, Hakim bin Hizam berjumpa dengan musim haji dalam kondisi masih kafir. Saat itu Hakim mendapatkan satu stel pakaian yang dijual. Hakim lantas membelinya dengan harga 50 Dinar untuk dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ.

فَقَدِمَ بِهَا عَلَيْهِ الْمَدِينَةَ فَأَرَادَهُ عَلَى قَبْضِهَا هَدِيَّةً فَأَبَى. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا لاَ نَقْبَلُ شَيْئاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ أَخَذْنَاهَا بِالثَّمَنِ ». فَأَعْطَيْتُهُ حِينَ أَبِى عَلَىَّ الْهَدِيَّةَ.

Akhirnya Hakim tiba di Madinah dengan membawa satu stel pakaian tersebut. Hakim menyerahkan kepada Nabi ﷺ sebagai hadiah namun beliau ﷺ menolaknya. Nabi ﷺ m mengatakan: “Sungguh kami tidak menerima sedikit pun dari orang kafir. Akan tetapi jika engkau mau, pakaian tersebut akan kubeli”. Karena beliau menolak untuk menerimanya sebagai hadiah, aku pun lantas memberikannya sebagai objek jual beli. (HR Ahmad 15323 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

[3] Hadis dari Iyadh bin Himar, dia menceritakan pengalaman beliau sebelum masuk Islam,

“Aku bermaksud memberi Nabi ﷺ seekor onta betina sebagai hadiah. Lantas Nabi ﷺ bertanya:

” أَسْلَمْتَ؟”. فَقُلْتُ لاَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- “إِنِّى نُهِيتُ عَنْ زَبْدِ الْمُشْرِكِينَ “

“Apakah kamu sudah masuk Islam?”.

“Belum”, jawabku.

Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku dilarang menerima hadiah dari orang musyrik” (HR. Abu Daud 3059, Tirmidzi 1672 dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga hadis di atas secara tegas menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ menolak hadiah dari non Muslim.

Kemudian, terdapat hadis lain yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ menerima hadiah dari orang kafir.

Hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – تَبُوكَ ، وَأَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بَغْلَةً بَيْضَاءَ ، وَكَسَاهُ بُرْدًا ، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

“Kami mengikuti perang Tabuk bersama Nabi ﷺ. Raja negeri Ailah memberi hadiah kepada beliau berupa baghal berwarna putih dan kain. Sang raja juga menulis surat untuk Nabi ﷺ. (HR. Bukhari 1481).

Ada sejumlah pendapat dalam memahami dua jenis hadis ini:

Ibnu Abdil Barr menjelaskan, bahwa maksud Nabi ﷺ menerima hadiah dari non Muslim adalah dalam rangka mengambil simpati hatinya, agar tidak lari dari Islam (al-Munakhkhalah an-Nuniyyah, Murod Syukri, hlm. 202-203).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ada pertanyaan mengenai hukum menerima hadiah hewan hidup dari orang non Muslim untuk disembelih saat Idul Adha. Jawaban fatwa menyatakan:

فلا مانع من قبول الهدية من الكفار بأنواعهم سواء كانت الهدية شاة أضحية أو غيرها مما أباح الله الانتفاع به بشرط ألا يكون ذلك على حساب دين المسلم، وقد كان النبي- صلى الله عليه وسلم- وصحابته الكرام يقبلون الهدية من الكفار وربما أهدوا للكفار أيضا

“Tidak masalah menerima hadiah dari orang kafir dalam bentuk apapun, baik berupa kambing qurban atau yang lainnya, yang Allah bolehkan untuk dimanfaatkan. Dengan syarat, JANGAN SAMPAI ADA LATAR BELAKANG BALAS BUDI AGAMA. Dulu Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia, mereka menerima hadiah dari orang kafir, dan terkadang mereka juga memberikan hadiah kepada orang kafir.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 116210)

Karena itu, TERLARANG menerima hadiah dari non Muslim jika tujuannya:

[1] Sekedar menjalin keakraban tanpa ada unsur dakwah.

[2] Ada latar belakang balas budi terkait masalah agama. Ketika mereka memberikan hadiah kepada kaum Muslimin pada waktu hari raya Islam, mereka berharap agar pada saat hari raya mereka, kaum Muslimin juga turut mendukung kegiatan keagamaan mereka. Yang diistilahkan fatwa Syabakah dengan Hisab ad-Din (balas budi agama).

[3] Untuk memengaruhi Muslim agar meninggalkan sebagian aturan syariat, dan mengikuti tradisi mereka.

Dana Peduli Pesantren

Gerakan yang dilakukan sebagian orang kafir untuk mendanai pesantren, sangat sarat dengan kepentingan. Mereka sedang mengemis simpati kaum Muslimin, agar mendapat dukungan. Agar Muslim Indonesia bisa dengan mudah mereka kendalikan.

Donasi pesantren ini sangat mirip dengan SOGOK. Ada pesan politik di balik itu.

Muslim harus menunjukkan jati dirinya, wibawanya. Bukan menjadi penjilat orang kafir yang hendak sedang haus kekuasaan.  Jangan korbankan anak bangsa dikuasai orang kafir, karena ulah pemimpinnya yang haus duit.

Inilah yang menjadi alasan terbesar, mengapa Nabi ﷺ menolak hadiah dari orang-orang musyrik itu…

Sogok Pemilu dan Pesanan Politik

Mengenai hadiah karena latar belakang mencari suara, Komite resmi untuk Fatwa dan Penelitian Islam KSA (Lajnah Daimah) telah menfatwakan HARAMNYA menerima pemberian dan hadiah dari calon yang akan ikut pemilihan legislative, karena latar belakang mencari suara.

Pertanyaan:

Apakah hukum Islam tentang seorang calon anggota legislatif dalam pemilihan yang memberikan harta kepada rakyat, agar mereka memilihnya dalam pemilihan umum?

Jawaban Lajnah Daimah:

إعطاء الناخب مالا من المرشح من أجل أن يصوت باسمه نوع من الرشوة، وهي محرمة. وأما النظر في العقوبة فمرجعه المحاكم الشرعية

Memberikan sejumlah uang kepada calon pemilih dari kandidat peserta pemilu agar mereka memilih dirinya, termasuk bentuk risywah (suap) dan hukumnya haram. Adapun sanksi pidana, ini kembali kepada keputusan pengadilan. (Fatawa Lajnah Daimah, 23/542).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28766-hukum-hadiah-untuk-pesantren-dari-orang-kafir.html

SEMUA PERKATAAN DAN PERBUATAN AKAN DICATAT DAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN

Semua perkataan dan perbuatan akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SEMUA PERKATAAN DAN PERBUATAN AKAN DICATAT DAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tidak akan dilupakan! Allah Taala berfirman:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Qaf: 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan dan perbuatan pasti dimintai pertanggungjawaban! Allah Taala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Israa: 36]

Wallahu ta’ala a’lam.