Posts

,

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
 
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
 
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
 
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taobat.” [Al Jawabul Kaafi, hal. 87]
 
Perkataan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syuraa: 30]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#DisebabkanOlehPerbuatanTanganmuSendiri #DosaDanMaksiat #SebabMusibah #Dosa #SebabKesusahan #MalapetakaDanBahayaAkanHilang #MasalahKarenaDosamusibah, #bencana, #malapetaka, #datang, #turun, #tiba, #maksiyat, #maksiat, #tobat, #taubat, #angkat, #diangkat
,

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#FatwaUlama

 

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

Dalil Memerbanyak Puasa Syaban

Syaban adalah satu bulan sebelum Ramadan. Terdapat hadis, bahwa Nabi ﷺ memerbanyak puasa di bulan Syaban. Bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memerbanyak puasa Syaban, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi ﷺ puasa beberapa hari sampai kami katakan: ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering, ketika Syaban” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Aisyah radhiallahu ‘anha juga berkata:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi ﷺ berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syaban sebulan penuh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Keutamaan Memerbanyak Puasa Syaban

Hikmah memerbanyak puasa Syaban adalah karena pada bulan itu amal terangkat, dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata:

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .

“Pendapat yang benar di dalam hal ini adalah, apa yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, sebagaimana engkau berpuasa Syaban. Kemudian beliau ﷺ menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam. Maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” [Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari].

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata:

فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Syaban, sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya. Dan aku suka diangkat amalanku, dalam keadaan aku berpuasa.” [Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313]

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, yaitu bulan setelah Syaban. Memersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata:

الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان

“Puasa Syaban dalam rangka persiapan puasa Ramadan.” [Fatawa Jawab wa Sual no. 92748]

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaban

  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah. Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada 13, 14 dan 15 Syaban, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Syaban

Timbul pertanyaan, apakah Puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya, seperti Puasa  Senin-Kamis? Ini ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh dikombinasikan

Berdasarkan hadis mengenai Abdullah bin ‘Amr yang dinasihati oleh Nabi ﷺ untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari Puasa Daud. Akan tetapi Nabi ﷺ melarangnya. Beliau ﷺ lalu bersabda:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada Puasa Daud.” [HR. Bukhari 3418, Muslim 1159].

  1. Boleh dikombinasikan

Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan:

ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً…  وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من المسارعة في الخيرات

“Mereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan, yaitu Puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikan.” [Fatawa no. 6488]

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29840-anjuran-memerbanyak-puasa-di-bulan-syaban.html

 

, , ,

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi
#DoaZikir

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

Aku mendengar bahwa Syekh Abdullah bin Jibrin berkata:

‘Dibolehkan mengankat jari setelah berwudhu dan membaca Laa ilaaha illallah, dan aku saksikan banyak orang yang melakukannya. Aku mohon pandangan yang menjelaskan masalah ini dengan tuntas.

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tidak terdapat riwayat dari Sunnah Nabi ﷺ, sepengetahuan kami, yang menyatakan disunnahkannya mengangkat jari telunjuk ketika berdoa setelah wudhu secara khusus. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip dasar dalam ibadah adalah tawqifi (ditetapkan berdasarkan wahyu, tidak dengan akal) dan tidak boleh ada penambahan dari apa yang dinyatakan dalam sunnah.

Yang disyariatkan bagi seorang Muslim setelah berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh’ [HR. Muslim, no. 234]

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Dan tidak cukup hanya membaca ‘Laa ilaaha illallah’ saja.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apa hukum mengangkat jari dalam doa setelah berwudhu, dan hal itu dilakukan secara terus menerus?

Beliau menjawab:

‘Saya tidak mengetahui adanya landasan dalam masalah itu. Akan tetapi yang disyariatkan bagi orang yang selesai berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj’alni minattawwaabin waj’alni minal mutathahhirin.

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya ALLAH, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang selalu menyucikan diri”.

Dan itu sudah cukup. [Nurun Alad-Darbi, Fatawa Thaharah, Furudhul Wudhu wa Sifatuh]

Adapun yang disebutkan penanya, bahwa Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menyatakan, bahwa hal itu (mengangkat jari ketika membaca doa wudhu) adalah sunnah, tidak dapatkan ucapannya yang menyatakan sunnahnya perbuatan tersebut.

Memang ada beberapa hadis shahih yang mengajarkan untuk memberi isyarat dengan telunjuk saat membaca tasyahhud dalam shalat, dan saat seorang khatib berdoa di atas mimbarnya pada hari Jumat. Adapun ketetapan hal tersebut setelah berwudhu, tidak ada.

Peringatan

Allah memberi sifat bagi kalam (perkataan)-Nya, dengan sifat ‘Qaulun Fashl’ (Memisahkan antara yang hak dan yang batil), sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ .   وَمَا هُوَ بِالْهَزْل  (سورة الطارق: 13-14)

Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. [QS. Ath-Thariq: 13-14]

Karena itu, tidak layak ijtihad para ulama dalam memahami teks dalam Alquran dan Sunnah dikatakan sebagai Qaulun Fashl, atau dengan redaksi lain: ‘Apakah kalimat yang tuntas dalam masalah ini?’ Kecuali jika pendapat tersebut dalilnya telah dinyatakan secara qath’i (jelas) dalam Alquran dan Sunnah, seperti haramnya zina, haramnya minuman keras, dll.

Adapun perkara ijtihad, maka tidak dikatakan padanya, ‘pendapat tuntas’, akan tetapi yang layak diucapkan adalah, ‘Yang lebih tampak..’ atau ‘yang lebih kuat, atau lebih benar’ dan redaksi yang semacamnya.

Wallahua’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/129501

, ,

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#DoaZikir

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

Inilah yang masih belum dipahami sebagian orang. Mereka menganggap, bahwa setiap berdoa harus mengangkat tangan, semacam ketika berdoa sesudah shalat. Untuk lebih jelas marilah kita melihat beberapa penjelasan berikut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan, “Bagaimanakah kaidah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdoa?” [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 51/13, Asy Syabkah Al Islamiyah]. Beliau rahimahullah menjawab dengan rincian yang amat bagus: Mengangkat tangan ketika berdoa ada tiga keadaan:

Pertama: Ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdoa. Contohnya adalah ketika berdoa meminta diturunkannya hujan. Jika seseorang meminta hujan pada khutbah Jumat atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan. Contoh lainnya adalah mengangkat tangan ketika berdoa di Bukit Shofa dan Marwah, berdoa di Arofah, berdoa ketika melempar Jumroh Al Ula pada hari-hari Tasyriq dan juga Jumroh Al Wustho.

Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat (yang dianjurkan) untuk mengangkat tangan (ketika berdoa) yaitu:

[1] Ketika berada di Shofa,
[2] Ketika berada di Marwah,
[3] Ketika berada di Arofah,
[4] Ketika berada di Muzdalifah setelah shalat Subuh,
[5] Di Jumroh Al Ula di hari-hari Tasyriq,
[6] Di Jumroh Al Wustho di hari-hari Tasyriq.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi dianjurkan untuk mengangkat tangan ketika itu, karena adanya petunjuk dari Nabi ﷺ mengenai hal ini.

Kedua: Tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Contohnya adalah doa di dalam shalat. Nabi ﷺ biasa membaca doa Istiftah: Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi …; juga membaca doa duduk di antara dua sujud: Robbighfirli; juga berdoa ketika tasyahud akhir; namun beliau ﷺ tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu pula dalam khutbah Jumat, beliau ﷺ berdoa, namun beliau ﷺ tidak mengangkat kedua tangannya, kecuali jika meminta hujan (ketika khutbah tersebut). Barang siapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama (alias bid’ah) dan melakukan semacam ini terlarang.
Ketiga: Tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak
Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan, karena ini termasuk adab dalam berdoa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa..” [HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan, bahwa hadis ini Shohih].

Nabi ﷺ juga pernah menceritakan seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan penuh debu, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya mengatakan: “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya itu haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya bisa dikabulkan? [HR. Muslim no. 1015]. Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ menjadikan mengangkat kedua tangan sebagai sebab terkabulnya doa. Inilah pembagian keadaan dalam mengangkat tangan ketika berdoa.

Namun ketika keadaan kita mengangkat tangan, apakah setelah memanjatkan doa diperbolehkan mengusap wajah dengan kedua tangan? Yang lebih tepat adalah tidak mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sehabis berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if), yang tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Apabila kita melihat seseorang membasuh wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai berdoa, maka hendaknya kita jelaskan padanya, bahwa yang termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah tidak mengusap wajah setelah selesai berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if).

Hukum Mengangkat Tangan untuk Berdoa Sesudah Shalat Fardhu

Pembahasan berikut adalah mengenai hukum mengangkat tangan untuk berdoa, sesudah shalat fardhu. Berdasarkan penjelasan di atas, kita telah mendapat pencerahan, bahwa memang mengangkat tangan ketika berdoa adalah salah satu sebab terkabulnya doa. Namun apakah ini berlaku dalam setiap kondisi? Sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas, bahwa hal ini tidak berlaku pada setiap kondisi. Ada beberapa contoh dari Nabi ﷺ yang menunjukkan, bahwa beliau tidak mengangkat tangan ketika berdoa. Agar lebih jelas, mari kita perhatikan penjelasan Syaikh Ibnu Baz mengenai hukum mengangkat tangan ketika berdoa sesudah shalat. Beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Tidak disyariatkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdoa) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi ﷺ mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdoa ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud (membaca doa robbighfirli, pen) dan ketika berdoa sebelum salam, juga ketika khutbah Jumat atau shalat ‘Ied. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdoa), karena memang Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Padahal beliau ﷺ adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah Jumat atau khutbah ‘Ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Maka ingatlah kaidah yang disampaikan oleh beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) berikut:

“Kondisi yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan, maka tidak boleh bagi kita untuk mengangkat tangan. Karena perbuatan Nabi ﷺ termasuk sunnah. Begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.”

Bagaimana Jika Tetap Ingin Berdoa Sesudah Shalat Fardhu?

Ini dibolehkan, namun setelah berzikir, dan dengan catatan TIDAK dengan mengangkat tangan. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/178) mengatakan:

“Begitu pula berdoa sesudah shalat lima waktu setelah selesai berzikir, maka tidak terlarang untuk berdoa ketika itu, karena terdapat hadis yang menunjukkan hal ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa TIDAK perlu mengangkat tangan ketika itu. Alasannya, karena Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Wajib bagi setiap Muslim senantiasa untuk berpedoman pada Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap keadaan, dan berhati-hati dalam menyelisihi keduanya. Wallahu waliyyut taufik.”

Mengangkat Tangan Untuk Berdoa Sesudah Shalat Sunnah

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Adapun shalat sunnah, maka aku tidak mengetahui adanya larangan mengangkat tangan ketika berdoa setelah selesai shalat. Hal ini berdasarkan keumuman dalil. Namun lebih baik berdoa sesudah selesai shalat sunnah tidak dirutinkan. Alasannya, karena tidak terdapat dalil yang menjelaskan, bahwa Nabi ﷺ melakukan hal ini. Seandainya beliau ﷺ melakukannya, maka hal tersebut akan dinukil kepada kita, karena kita ketahui, bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum jami’an- rajin untuk menukil setiap perkataan atau perbuatan beliau ﷺ, baik ketika bepergian atau tidak, atau kondisi lainnya.

Adapun hadis yang masyhur (sudah tersohor di tengah-tengah umat), bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Di dalam shalat, seharusnya engkau merendahkan diri dan khusyu’. Lalu hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu (sesudah shalat), lalu katakanlah: Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Hadis ini adalah hadis yang Dho’if (lemah), sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thoyib dan amalan yang diterima.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullahu ta’ala

Sumber: https://rumaysho.com/39-apakah-setiap-berdoa-harus-mengangkat-tangan.html

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

, , , ,

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

Oleh: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Para ulama sepakat, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan, pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah. [Kesepakatan ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’:42]

Dan yang terjadi PERSELISIHAN di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan, pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama: mengatakan, bahwa tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani. Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang pendapat beliau. [Dalam satu riwayat Malik mengatakan: diangkat tangan pada awal takbir dalam shalat jenazah. Dalam riwayat lain beliau mengatakan: Aku senang agar kedua tangan diangkat pada empat kali takbir. (Al-Mudawwanatul Kubra: 176)]

Pendapat kedua: mengatakan, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin Umar, Umar bin Abdil Aziz, Atha’, Yahya bin Sa’id, Qais bin Abi Hazim, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi ﷺ. [Lihat: Al-Mughni,Ibnu Qudamah: 2/373,Jami’ At-Tirmidzi: 3/388, Al-Muhalla, Ibnu Hazm:5/124, Nailul Authar: 4:105, Al-Majmu’, An-Nawawi: 5/136, Al-Mudawwanatul Kubra, Imam Malik:176. Ahkamul Janaiz, Al-Albani:148. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi:4/44. Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Al-Baihaqi (3/169). Al-Umm,Asy-Syafi’i:1/271, Al-Hawi Al-Kabir (3/55)]

Kesimpulan:

Dari pemaparan dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh masing-masing pendapat (untuk lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html), tampak bagi kita sekalian, bahwa riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama tidak satu pun yang shahih, namun berada di antara lemah dan sangat lemah sekali. Sementara riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, telah shahih datang dari beberapa sahabat Nabi ﷺ, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dalam hal ini, sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Faidah:

Telah ditanya Samahatusy Syekh Bin Baaz rahimahullah tentang mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah bersaman dengan takbir-takbir, apakah termasuk sunnah?

Maka beliau menjawab:

السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدارقطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد.

(مجموع فتاوى ابن باز:13؟148)

Beliau menjawab: “Yang sunnah adalah mengangkat kedua tangan bersamaan dengan empat takbir seluruhnya, berdasarkan (riwayat) yang shahih dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, bahwa keduanya mengangkat (kedua tangannya) bersama dengan seluruh takbir. Diriwayatkan (oleh) Ad-Daruquthni secara marfu’ dari hadis Ibnu Umar dengan sanad yang bagus.” [Majmu’ Fatawa Bin Baaz: 13/148]

Ini juga menjadi jawaban dari Lajnah da’imah, dalam fatwanya dinyatakan:

تجوز صلاة الجنازة بدون رفع اليدين؛ لأن الواجب فيها التكبيرات وقراءة الفاتحة والدعاء للميت والسلام، ولكن رفع اليدين هو السنة في جميع التكبيرات.وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس

عبدالله بن قعود، عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز

(فتاوى اللجنة:2514)

“Boleh shalat jenazah tanpa mengangkat kedua tangan, sebab yang wajib padanya adalah bertakbir dengan beberapa kali takbir, membaca al-Fatihah, berdoa untuk si mayyit, dan mengucapkan salam. Namun mengangkat kedua tangan adalah hal yang sunnah pada seluruh takbir, dan taufiq hanya milik Allah. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, para pengikutnya, dan para shahabat.”

  • Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
  • Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi
  • Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
  • Anggota: Abdullah bin Qu’ud. [Fatawa Al-Lajnah no: 2514

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Apakah termasuk dari sunnah, mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat jenazah?

Beliau menjawab:

نعم من السنة,أن يرفع الإنسان يديه عند كل تكبيرة في صلاة الجنازة كما صح ذلك عن عبد الله بن عمر ولأن رفع اليدين في صلاة الجنازة بمنزلة الركوع والسجود في الصلوات الأخرى ,الصلوات الأخرى تشتمل على فعل وقول ,صلاة الجنازة أيضا تشتمل على فعل وقول ,فكونك ترفع في الأولى وتسكت معناه لم تميز في الذكر بين التكبيرة الأولى والتكبيرة الثانية,ولذلك قد دل الأثر والنظر على أن صلاة الجنازة ترفع فيها الأيدي عند كل تكبيرة

“Iya, termasuk dari sunnah seseorang mengangkat kedua tangannya, pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah, sebagaimana yang telah shahih hal itu dari Abdullah bin Umar. Dan karena mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah kedudukannya seperti ruku’ dan sujud pada shalat-shalat yang lain, shalat-shalat yang lain mencakup perbuatan dan perkataan, shalat jenazah juga mencakup perbuatan dan perkataan. Maka ketika engkau mengangkat pada takbir pertama lalu engkau diam, maka maknanya engkau tidak memisahkan dalam zikir antara takbir pertama dengan takbir kedua. Oleh karenanya, telah ditunjukkan oleh atsar maupun pandangan, bahwa shalat jenazah diangkat kedua tangan pada setiap kali takbir.” [Silsilah Liqa’ al-bab al-Maftuh, kaset no:179, set kedua]

Sumber: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari
#ManhajSalaf

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

  • Mujahidin Penjaga Pertahanan Kaum Muslimin, Penuntut Ilmu Penjaga Syariat Islam

Allah ta’ala telah menjaga pertahanan kaum Muslimin dengan Mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan menjaga syariat Islam dengan para penuntut ilmu, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memerdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Pada ayat tersebut Allah ta’ala membagi orang-orang beriman menjadi dua kelompok:

  • Mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah, dan
  • Kepada yang lainnya memelajari ilmu agama.

Sehingga tidak berangkat untuk berjihad semuanya, karena hal ini menyebabkan rusaknya syariat, dan hilangnya ilmu. Dan tidak pula menuntut ilmu semuanya, sehingga orang-orang kafir akan mengalahkan agama ini. Karena itulah Allah ta’ala mengangkat derajat kedua kelompok tersebut [Hilyah al-‘Alim al-Mu’allim, Salim al-Hilaliy hal: 5-6].

Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syari, yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya ﷺ berupa keterangan dan petunjuk. Jadi ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah ta’ala turunkan saja. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Beliau ﷺ bersabda pula:
“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, berarti ia mengambil nasib (bagian) yang banyak.”(HR. Abu-Dawud dan At-Tirmidzi)

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah ta’ala, dan bukan yang lainnya [Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 11].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Adab Penuntut Ilmu Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta’ala” yang ditulis oleh: Abdullah Hadrami hafizahullah

 

Sumber: http://www.kajianislam.net/2012/02/adab-penuntut-ilmu-1-dari-12-mengikhlaskan-niat-hanya-karena-allah-taala/

,

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

#StopBid‘ah

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR  SECARA BERJAMAAH?

  • Apakah ada tuntunannya dari Nabi ﷺ?
  • Bila tidak ada, apakah kita boleh melakukannya?
  • Cukupkan dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi ﷺ, tidak dikurangi atapun ditambah.

Pertanyaan:

Sekarang banyak sekali kaum Muslimin berdoa dan zikir bersama, baik itu untuk keluarganya, kaum Muslimin, bahkan untuk pemimpin. Adakah secara sunnah yang benar, amalan-amalan tersebut?

Jawaban:

Berdoa bersama, kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa, sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada dua keadaan:

Pertama:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan, seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Alquran dll, maka ini boleh, jika dilakukan kadang-kadang, dan tanpa kesengajaan. Namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya, jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “Jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun zikir bersama, dipimpin oleh seseorang, kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama, maka ini termasuk bid’ah, TIDAK ADA DALILNYA dan TIDAK DIAMALKAN PARA SALAF. Bahkan mereka mengingkari zikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad. Betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad? Atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullah:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk zikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (zikrullah) dengan satu lisan dan satu suara, atau pada waktu tertentu yang khusus, maka tidak ada di dalam anjuran syariat, yang menunjukkan pengkhususan ini. Justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya. Karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat, akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Penulis: Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc hafizhahullah

Sumber:

tanyajawabagamaislam.blogspot.com

https://konsultasisyariah.com/805-apa-hukum-doa-dan-zikir-secara-berjamaah.html

,

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Demi Allah. Andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezaliman penguasa, maka tidak akan lama Allah ta’ala mengangkat kezaliman tersebut dari mereka. Namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Maka sempurnalah kalimat Allah (janji-Nya) kepada Bani Israel, disebabkan kesabaran mereka dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, (hal. 6)]

Penjelasan para ulama di atas dipahami dari banyak hadis Rasulullah ﷺ, di antaranya sabda beliau ﷺ:

من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه ، فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia BERSABAR. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma)

Juga sabda Nabi ﷺ:

إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها قالوا: ما تأمرنا يا رسول الله قال: أدوا إليهم حقهم وسلوا الله حقكم

“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu)

Dan sabda Nabi ﷺ:

قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

“Kami bertanya, wahai Rasulullah: “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr radhiyallahu’anhu)

Maka jelaslah, ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk mengubah kemungkaran penguasa, TIDAK DIBENARKAN SAMA SEKALI melakukan demonstrasi, meskipun berupa aksi damai dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan penguasa di khalayak ramai, karena semua itu BERTENTANGAN dengan tuntunan Allah ta’ala, yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, TIDAK ADA dalam Islam, istilah demonstrasi Islami. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita, Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu’anhum adalah sabar dan doa.

Inilah sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah ta’ala dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/754-tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa

,

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

ALLAH AKAN MENHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

  • Belum ada sejarahnya, ALLAH memuliakan orang yang MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA.
  • Yang ada dan sudah terjadi, yang melawan Allah hinakan.
  • Bahkan banyak di antara mereka DIBUNUH oleh pemerintah.
  • Bahkan akibat ulah mereka, RAKYAT yang tidak berdosa pun ikut menjadi KORBANNYA.
  • Betul perkataan Rasulullah ﷺ, Allah akan MENHINAKAN siapa yang melawan kepada pemerintahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الأَرْضِ؛ أَهَانَهُ اللهُ

“Barang siapa yang menghinakan Sulthan (yang dijadikan pemimpin oleh) Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.”

Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan [dalam “As-Sunnah” (II/488), dari Anas bin Malik, dia berkata: Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata:

لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تُبْغِضُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH membenci mereka! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”

Sanadnya Jayyid, semua perawinya terpercaya…Dan ada mutaaba’ah (penguat dari jalur sahabat yang sama):

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Ats-Tsiqaat” [V/314-315] dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” [XXI/287], dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

كَانَ الأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ الأُمَرَاءِ

“Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dari mencela para pemimpin.”

Dan atsar ini telah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abul Qashim Al-Ashbahani -yang dijuluki Qiwamus Sunnah- dalam kitabnya “At-Targhiib Wat Tarhiib” [III/68] dan dalam kitabnya “Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah Wa Syarhi ‘Aqiidati Ahlis Sunnah (II/406), dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata:

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تَعْصُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata: “JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH durhaka kepada mereka! Bertakwalah kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-, dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”…

Sebagaimana Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan atsar ini dalam kitabnya “Al-Jami’ Lisyu’abil Iimaan” [XIII/186-202]…dengan lafal:

أَمَرَنَا أَكَابِرَنَا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ نَسُبَّ أُمَرَاءَنَا…

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad ﷺ memerintahkan kami agar kami tidak mencela para pemimpin kami…”

Maka dalam atsar ini terdapat kesepakatan para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ atas HARAMNYA mencela dan mencaci para umara’ (pemimpin/penguasa).

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17299-tahukah-anda-allah-akan-menghinakan-orang-yang-menghinakan-pemimpin-negaranya.html