Posts

,

SEHARI BERAMAL SERIBU KEBAIKAN, MUNGKINKAH?

SEHARI BERAMAL SERIBU KEBAIKAN, MUNGKINKAH?
SEHARI BERAMAL SERIBU KEBAIKAN, MUNGKINKAH?
 
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: ‘Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk memperoleh seribu kebaikan setiap hari?’ Maka seseorang yang duduk bertanya: ‘Bagaimana seseorang bisa memperoleh seribu kebaikan?’ Beliau menjawab: ‘Ia bertasbih seratus kali, maka akan ditulis untuknya seribu kebaikan, atau dihapus darinya seribu kesalahan.’” [HR. Muslim] [HR. Muslim, no. 2698]
 
Al-Humaidi berkata: “Demikianlah yang terdapat dalam kitab Muslim, ‘Au yuhaththu’ (atau dihapus).’ Al-Barqani berkata: “Syu’bah, Abu ‘Awanah, dan Yahya Al-Qaththan meriwayatkan dari Musa yang diriwayatkan oleh Muslim dari arahnya. Mereka berkata: ‘Wa yahuththu, tanpa alif (aw).”
 
 
 
وَعَنْ سَعْدٍ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –
 
 
فَقَالَ : (( أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي كُلِّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ ! )) فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ : كَيْفَ يَكْسِبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ قَالَ : (( يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
 
 
قَالَ الحُمَيْدِيُّ : كَذَا هُوَ فِي كِتَابِ مُسْلِمٍ : (( أَوْ يُحَطُّ )) قَالَ البَرْقَانِي : وَرَوَاهُ شُعْبَةُ وَأَبُو عَوَانَةَ ، وَيَحْيَى القَطَّانُ ، عَنْ مُوْسَى الَّذِي رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ جِهَّتِهِ فَقَالُوا : (( وَيُحَطُّ )) بِغَيْرِ أَلِفٍ .
 
 
 
 
Penjelasan:
1. Hadis di atas dan hadis sebelumnya menunjukkan keutamaan zikir.
2. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal. Ini baru kelipatan minimal dari suatu amalan. Karena kelipatannya bisa mencapai 700 kali lipat.
3. Huruf aw (artinya: atau) dalam hadis bisa bermakna waw (artinya: dan), artinya dengan bertasbih seratus kali akan ditulis seribu kebaikan dan dihapus seribu maksiat.
4. Kalau aw dimaknakan dengan ‘atau’ maknanya menjadi ada yang bertasbih ditetapkan baginya seribu kebaikan, ada juga yang dihapuskan baginya seribu kesalahan.
5. Hendaklah seorang guru mengajarkan kepada murid-muridnya fadhilah-fadhilah suatu amalan.
6. Sahabat begitu semangat dalam melakukan kebaikan.
 
Amalkan zikir berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih.
 
Artinya:
“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya.”
 
Faidah:
Barang siapa yang mengucapkan kalimat ‘Subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 kali, maka tidak ada yang datang pada Hari Kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan, kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. [HR. Muslim, no. 2692]
 
 
 
Referensi:
Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:19.
Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:457.
Nuzhah Al–Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Hlm. 521.
Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. 5:511.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sehari,#satuhari,#beramal,#amalan,#seribu,#1000 #kebaikan,#doazikir,#tasbih #bertasbih #seratus,#100x #kali #keutamaan #fadhilah

ISILAH UMUR DENGAN AMALAN SALEH

ISILAH UMUR DENGAN AMALAN SALEH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

ISILAH UMUR DENGAN AMALAN SALEH

Berkata Asy-syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:

إذا لم نستدرك أعمارنا بالأعمال الصالحة ، فاتتنا الدنيا والآخرة .

“Jika kita tidak mengisi umur-umur kita dengan amal-amal saleh, niscaya kita kehilangan dunia dan Akhirat.”

[Syarh Al-Kafiyah Asy-Syafiyah(4/380)]

 

Sumber: IslamDiaries

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#NasihatUlama, #ManhajSalaf,#IsilahUmur

AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH ADALAH AMALAN YANG RUTIN DIKERJAKAN

AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH ADALAH AMALAN YANG RUTIN DIKERJAKAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#MutiaraSunnah
AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH ADALAH AMALAN YANG RUTIN DIKERJAKAN
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أحبّ الأعمال إلى الله أدومها و إن قلّ
 
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin, dilakukan meskipun sedikit.”
 
Penjelasan Hadis:
 
Hadis ini berisi anjuran untuk rutin dalam melakukan suatu amalan ibadah meskipun hanya sedikit.
 
Mengerjakan suatu ibadah yang sedikit namun terus-menerus adalah lebih baik daripada melakukan ibadah yang banyak sekaligus di suatu waktu tertentu saja, kemudian mengabaikannya di waktu yang lain. Karena apabila seseorang melakukan suatu ibadah yang meskipun hanya sedikit namun dilakukan terus-menerus, maka dia berarti akan terus berada dalam kondisi beribadah, dan terus menjalin ikatan dengan Rabb-nya tanpa terputus. Sehingga jikalau sewaktu-waktu datang ajalnya, maka dia sedang berada dalam kebaikan, karena terus melakukan ibadah.
 
Berbeda halnya dengan orang yang melakukan suatu ibadah secara sekaligus banyak di suatu waktu tertentu, kemudian mengabaikan ibadah tersebut di waktu yang lain, bisa jadi, ajalnya datang di saat dia sedang lalai dan meninggalkan ibadah sama sekali.
 
Oleh karena itulah, amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus dikerjakan meskipun hanya sedikit.
 
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang terus-menerus menjalankan ibadah kepada-Nya, dan menjadikan hari-hari kita penuh dengan kebaikan. Sehingga, kita telah siap kapan pun ajal mendatangi kita.
 
 
*****
Oleh : Ustadz Riki, Lc
[Artikel almufid.net]
 
,

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#AyoBertakbir
 
AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
>> Sunnah yang Terlupakan, Bertakbir Sejak Awal Dzulhijjah
>> Amalan Ringan Berpahala Besar di Bulan Dzulhijjah
 
Ada satu sunnah yang mungkin sudah banyak dilupakan orang, yaitu memerbanyak takbir di awal Dzulhijjah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
 
“Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI tersebut.” [Al-Hajj: 28]
 
Dan juga firman Allah ta’ala:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
 
“Dan berzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DITENTUKAN.” [Al-Baqoroh: 203]
 
“Dan berkata Ibnu ‘Abbas: “Berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI, maksudnya adalah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang sudah DITENTUKAN adalah hari-hari Tasyriq (Penyembelihan).” [Riwayat Al-Bukhari]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
 
“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh yang lebih dicintai Allah ta’ala, daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka perbanyaklah ucapan tahlil, takbir dan tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]
 
Penjelasan di atas menunjukkan, bahwa jumlah hari yang disunnahkan untuk memerbanyak zikir adalah sebanyak 13 hari, yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah dan tiga hari Tasyriq.
 
Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir
 
Terdapat dalil secara khusus untuk memerbanyak takbir dan mengeraskannya (bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, hendaklah dipelankan suaranya), baik di masjid, di rumah maupun di tempat umum.
 
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahih beliau:
 
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ
 
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam keadaan bertakbir, dan manusia pun ikut bertakbir, dan Muhammad bin Ali bertakbir setelah sholat sunnah.”
 
Takbir Muthlaq dan Muqoyyad
 
Ulama menjelaskan, bahwa takbir di sini ada dua bentuk:
 
1. Takbir Muthlaq, yaitu takbir yang dibaca KAPAN SAJA tanpa terikat waktu, dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq.
 
2. Takbir Muqoyyad, yaitu takbir yang TERKAIT dengan waktu sholat, dibaca setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq.
 
Hal ini disyariatkan berdasarkan Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu’anhum [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/312 no. 10777]
 
Takbir ini disyariatkan bagi selain jamaah haji. Adapun bagi jamaah haji, disunnahkan untuk memerbanyak ucapan Talbiyah sampai melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah. Barulah dibolehkan bertakbir, dan boleh mulai bertakbir sejak lemparan pertama pada Jamrah ‘Aqobah tersebut sampai akhir hari Tasyriq.
 
Dan takbir ini dibaca sendiri-sendiri. Adapun membacanya secara berjamaah dengan satu suara atau dipimpin oleh seseorang, maka termasuk perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam agama [Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 13/19]
 
Apalagi sampai mengadakan konvoi di jalanan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan terjadi berbagai macam kemaksiatan seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), meneriakkan takbir diiringi alat-alat musik (padahal musik itu sendiri diharamkan dalam Islam) dan berbagai kemungkaran lainnya yang biasa terjadi pada malam dan siang hari raya.
 
Bagaimana Lafal Takbir yang Sesuai Syariat?
 
Adapun lafal takbir di antaranya adalah seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau membaca takbir pada hari-hari Tasyriq:
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaLlah, waLlahu Akbar, Allahu Akbar, wa liLlahil hamd”
 
Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah).” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya no. 5697, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa no. 654 dan beliau mendha’ifkan hadis Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafal yang sama]
 
Dan beberapa lafal lain yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in. Namun tidak ada dalil adanya lafal khusus dari Nabi ﷺ, sehingga dalam perkara ini terdapat keluasan [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 5/169-171]
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
 
Catatan Tambahan:

Berikut ini beberapa bentuk lafal takbir yang disunnahkan:

1. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran.
2. Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
3. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illa lahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraTafsir

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

Di antara keutamaan surat Al-Kahfi adalah jika sepuluh ayat pertama itu dihafal. Bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa yang dihafal adalah sepuluh ayat terakhir. Apa keutamaannya?

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)

Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ mengabarkan, bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama atau terakhir dari surat Al-Kahfi, maka ia terlindungi dari Dajjal.

Imam Nawawi berkata, “Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebab mendapatkan keutamaan seperti itu adalah karena di awal surat Al-Kahfi terdapat hal-hal menakjubkan dan tanda kuasa Allah. Tentu saja siapa yang merenungkannya dengan benar, maka ia tidak akan terpengaruh dengan fitnah Dajjal. Begitu pula akhir surat Al-Kahfi, mulai dari ayat,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan Neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Kahfi: 102) (Syarh Shahih Muslim, 6: 84)

Isi surat Al-Kahfi adalah:

  1. Diturunkannya Alquran sebagai pembimbing pada jalan yang lurus.
  2. Menghibur Nabi ﷺ, karena orang kafir yang belum beriman.
  3. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi.
  4. Nabi ﷺ diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir.
  5. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah).
  6. Janji pada orang beriman, bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.
  7. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia.
  8. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh.
  9. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja.
  10. Penyebutan kejadian pada Hari Kiamat.
  11. Pembacaan kitab catatan amal.
  12. Manusia ditampakkan kebenaran.
  13. Iblis enggan sujud pada Adam.
  14. Keadaan orang kafir ketika masuk Neraka.
  15. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran.
  16. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu.
  17. Kisah Nabi Musa dan Khidr.
  18. Kisah Dzulqarnain.
  19. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.
  20. Rahmat yang akan datang pada Hari Kiamat.
  21. Sia-sianya amalan orang kafir.
  22. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik.
  23. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat.
  24. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan saleh. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117)

Namun perlu dicatat keutamaan lainnya dari surat Al-Kahfi, yaitu tentang keutamaannya dibaca pada waktu Jumat. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Ashaab berkata, disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada waktu Jumat dan malam Jumatnya.” (Al-Majmu’, 4: 295).

Baca selengkapnya dalil tentang sunnah membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat di sini: https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html

Semoga bermanfaat dan bisa jadi amalan bermanfaat untuk persiapan menghadapi Hari Kiamat.

 

Referensi:

  • Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12247-keutamaan-menghafal-sepuluh-ayat-surat-al-kahfi.html

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jumat atau hari Jumat, yaitu membaca Surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca Surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) pada waktu Jumat karena pahala yang begitu besar, sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar, yaitu Nabi ﷺ.

Hadis pertama:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barang siapa yang membaca Surat Al Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dia dan Kakbah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahihsebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6471)

Hadis kedua:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca Surat Al Kahfi pada waktu Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan pada waktu Jumat dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?]

 

——

Sumber: https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html

,

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

 

اللهم بارك لأمتى فى بكورها

 

“YA ALLAH BERIKANLAH KEBERKAHAN UNTUK UMATKU DI WAKTU PAGI MEREKA.“ [HR At Thabrani dalam Al Aushat: 771 dan disahihkan oleh syaikh Al Albany]

Begitulah doa yang diucapkan oleh Rasul yang mulia ﷺ, untuk mereka yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Tentunya sudah sepantasnya bagi seorang Muslim untuk menggunakan waktu yang mulia ini untuk yang terbaik dalam kehidupannya.

Apa yang dilakukan oleh seseorang di awal harinya, akan menentukan keadaan akhir harinya. Sehingga datang sebuah hadis dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa beliau selalu bertasbih di pagi hari sampai terbit matahari. Ketika matahari terbit beliau mengatakan:

الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يؤاخذنا بذنوبنا

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menjagaku di hari ini, dan tidak menyiksaku dengan dosa dosaku”.

Mari kita lihat bagaimana Abdullah bin Mas’ud menganggap dirinya telah dijaga oleh Allah di harinya, padahal beliau baru melewati waktu paginya. Hal ini menunjukkan, bahwa siapa yang menjaga di waktu paginya, maka Allah akan menjaga sisa di hari tersebut.

Oleh karena itu para ulama salaf terdahulu, mereka berusaha untuk tidak tidur setelah Subuh, walaupun mereka sangat lelah. Kemudian mereka berzikir dan bertasbih sampai terbit matahari, baru mereka tidur.

Subhanallah.

Berikut adalah keutamaan yang akan diraih oleh mereka yang selalu menjaga waktu pagi mereka dengan ketaatan:

  1. Mendapatkan keutamaan Qabliyah Subuh dan shalat Subuh secara berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR muslim]

Beliau ﷺ juga bersabda:

لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها يعني الفجر والعصر

“Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelam [Subuh dan Ashar]. [HR Muslim dari Sahabat Umarah Bin Ruwaibah]

  1. Mendapatkan barakah doanya Rasulullah ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Sehingga ada seorang sahabat yang selalu mengirimkan perniagaan di pagi hari, sehingga dia menjadi kaya dan banyak hartanya.

Berkata Syaikh Bin Ustaimin rahimahullah:

“Itu semua dikarenakan, bahwa waktu siang adalah waktu yang Allah menjadikannya sebagai tempat untuk mencari nafkah. Sehingga jika seseorang menyambut waktu siang dengan bergegas melakukan aktivitas di waktu pagi, maka dia akan mendapatkan berkah. Namun kebanyakan dari kita melewatkan kesempatan yang mulia ini, sehingga mereka tertidur di waktu pagi, dan tidak terbangun, kecuali di waktu Dhuha, sehingga terluputkan keberkahan di waktu pagi . Selesai dari Syarh Riyadhussalihin.

Berkata Al Imam An Nawawi: Disunnahkan bagi mereka yang memiliki tugas seperti membaca atau belajar ilmu syari atau tasbih atau i’tikaf , atau pekerjaan, maka hendaknya melakuannya di awal pagi. [Lihat Faidhul Qadir Syarh Jami’ As Saghir]

  1. Mendapatkan waktu dibaginya rezeki

Abdullah bin Abbas pernah melihat seorang tertidur di waktu pagi, lalu beliau berkata kepadanya: Bangunlah engkau. Apakah engkau tertidur di waktu yang dibagikan di dalamnya rezeki? “

[Lihat Adab As Syariyyah karya ibnu muflih]

Semoga Allah selalu memberikan semangat untuk melakukan aktivitas kita semua di waktu pagi.

Wallahu A’lam bishowab.

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Imam hafizhahullah

Sumber: http://www.el-imam.com/2015/10/sambutlah-waktu-pagimu.html

BERSEGERALAH BERAMAL

BERSEGERALAH BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

BERSEGERALAH BERAMAL

 

-(ِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا )-

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan Mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan Mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia.” [HR. Muslim: 169]

Silakan di share. Semoga bermanfaat. Baarakallahufiykum.

 

Penulis: Abu Abdillah Imam (Ghafarallahu Lahu Wa Liwaalidaihi)

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TIDAK ADA LIBUR DALAM BERAMAL

>> Penutup Setiap Amalan Ketaatan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut ayah-ayah/nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.” [Al-Baqarah: 200]

Allah memerintah untuk menutup ibadah haji dengan banyak berzikir kepada Allah. Dan di ayat sebelum ayat di atas kita diperintah untuk banyak beristighfar ‘Memohon ampun’ kepada Allah. Pada shalat lima waktu, kita dianjurkan untuk menutupnya dengan zikir-zikir yang dibaca selepas shalat dan shalat-shalat Rawatib. Pada syariat puasa Ramadan, kita diwajibkan untuk menutupnya dengan zakat Fitri, dan disunnahkan puasa enam hari di bulan Syawal. Demikianlah setiap ibadah agung dalam syariat Islam, agar penutup amalannya melengkapi dan menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam ibadah.

Itulah kaidah dalam beribadah. Tidak ada waktu beristirahat guna beramal kepada Allah. Tidak perlu berlibur di kehidupan yang kita tidak mengetahui kapan ajal datang menjemput. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ، وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu, sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Al-Hijr: 99]

 

Penulis: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Sumber: twitter.com/markazdakwahbt