Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

BERBAGI DALAM ILMU

BERBAGI DALAM ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

BERBAGI DALAM ILMU

“Menolong kaum Muslimin dengan jiwa dan harta untuk membaca dan belajar Alquran ialah amal paling utama.” (Ibnu Taimiyah)

[Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, da’i di Saudi, murid Syaikh Ibnu Baz, pengasuh web IslamQA. 
Courtesy: @twitulama]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

Alhamdulillaah, Ramadan, bulan yang penuh berkah telah berada di ambang pintu. Sudah sepatutnya setiap hamba memersiapkan diri untuk menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [Yunus: 58]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah berkata:

فقال: {قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ} الذي هو القرآن، الذي هو أعظم نعمة ومنة، وفضل تفضل الله به على عباده {وَبِرَحْمَتِهِ} الدين والإيمان، وعبادة الله ومحبته ومعرفته. {فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} من متاع الدنيا ولذاتها

“Firman Allah ta’ala, ‘Katakanlah: Dengan karunia Allah’, yaitu (karunia) Alquran yang merupakan nikmat dan anugerah terbesar, serta keutamaan yang Allah karuniakan atas hamba-hamba-Nya. ‘Dan rahmat-Nya’, yaitu agama (Islam), iman, ibadah kepada Allah, kecintaan kepada-Nya dan pengenalan terhadap-Nya. ‘Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’, yaitu yang mereka kumpulkan berupa kesenangan dunia dan semua kelezatannya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 366]

Ketika masuk Ramadan, Rasulullah ﷺ mengabarkan berita gembira kepada kaum Muslimin tentang keutamaan Ramadan, sebagaimana dalam sabda beliau ﷺ:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan puasanya atas kalian, padanya pintu-pintu langit di buka, pintu-pintu Neraka ditutup, setan-setan yang paling durhaka dibelenggu, dan Allah memiliki satu malam padanya, yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalangi kebaikannya, maka sungguh ia telah benar-benar terhalangi.” [HR. Ahmad dan An-Nasaai dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 55]

Inilah saatnya untuk memerbanyak kebaikan dan bertobat dari kemaksiatan, serta banyak berdoa dan memohon ampun dosa, karena bisa jadi inilah Ramadan terakhir kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍيَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila masuk hari pertama Ramadan, setan-setan dan para jin yang paling durhaka itu dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu-pintu Surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup, dan berserulah seorang penyeru: ‘Wahai Pencari kebaikan, sambutlah. Wahai Pencari kejelekan, berhentilah’. Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka, yang demikian itu pada setiap malam Ramadan.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 759]

Al-‘Allamah As-Sindi rahimahullah berkata:

قَوْلُهُ (يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ) مَعْنَاهُ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ (أَقْبِلْ) عَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ فَهَذَا شَأْنُكَ تُعْطَى جَزِيلًا بِعَمَلٍ قَلِيلٍ (وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ) أَمْسِكْ وَتُبْ فَإِنَّهُ أَوَانُ قَبُولِ التَّوْبَةِ

“Sabda Nabi ﷺ: ‘Wahai Pencari kebaikan, sambutlah’, maknanya adalah: Wahai Pencari kebaikan, bersegeralah melakukan kebaikan. Inilah urusanmu. Engkau akan diberikan pahala besar walau dengan amalan kecil. Dan sabda beliau ﷺ: ‘Wahai Pencari kejelekan, berhentilah’. Maknanya adalah: Berhentilah berbuat dosa dan bertobatlah, karena sungguh Ramadan adalah waktu diterimanya tobat.” [Haasyiyatus Sindi ‘ala Sunan Ibni Maajah, 1/503-504]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَلِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka di setiap siang dan malam Ramadan, dan bagi setiap Muslim di setiap malam dan siangnya ada doa yang pasti dikabulkan.” [HR. Ath-Thobrani dalam Al-Mu’jam Al-Aushat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1002]

Ringkasan Keutamaan Ramadan yang Terkandung dalam Hadis-hadis yang Mulia di Atas:

  • Ramadan adalah bulan yang diberkahi, artinya yang memiliki banyak kebaikan.
  • Bulan amalan wajib yang sangat agung, yaitu berpuasa.
  • Bulan pendidikan ibadah, latihan kesabaran dan menguatkan persaudaraan antara kaum Muslimin.
  • Setan-setan dibelenggu, sehingga faktor terjerumus dalam dosa berkurang.
  • Pintu-pintu langit dan Surga dibuka, dalam riwayat lain: Pintu-pintu rahmat dibuka.
  • Pintu-pintu Neraka ditutup, maka Ramadan adalah bulan yang lebih ditekankan untuk memerbanyak kebaikan dan bertobat dari kemaksiatan.
  • Adanya Penyeru yang berseru setiap malam: Wahai Pencari kebaikan, sambutlah. Wahai Pencari kejelekan,
  • Adanya hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka di setiap siang dan malamnya. Maka hendaklah siang hari diisi dengan puasa serta ibadah-ibadah lainnya, dan malam hari diisi dengan shalat Tarawih dan ibadah-ibadah lainnya, karena itulah sebab-sebab meraih rahmat Allah dan terbebas dari api Neraka.
  • Lailatul Qadar terdapat pada waktu Ramadan, yaitu malam yang ibadah padanya lebih baik dari ibadah selama seribu bulan.
  • Doa-doa kaum Muslimin dikabulkan pada waktu Ramadan di setiap siang dan malamnya.

Sungguh sebaik-baik persiapan untuk menyambut tamu yang agung ini adalah menuntut ilmu agama, khususnya ilmu tentang ibadah-ibadah yang disyariatkan di bulan yang mulia ini. Karena ibadah seseorang tidak mungkin diterima tanpa berdasar ilmu, yaitu tanpa mengikuti petunjuk-petunjuk Rasulullah ﷺ, maka wajib bagi setiap hamba untuk berilmu sebelum beramal. Tidak boleh hanya bermodal semangat belaka, kemudian ikut-ikutan dalam beribadah. Allah ta’ala telah mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” [Al-Isra’: 36]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (ﷺ) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama). Dan semua bid’ah (perkara baru dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara), meski pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama). Maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah Sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama), karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

Sahabat yang mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةُ وَإِنْ رَآهَا النَّاس حَسَنَة

“Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).” [Dzammul Kalaam: 276]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Sumber: http://sofyanruray.info/wahai-pencari-kebaikan-sambutlah-wahai-pencari-kejelekan-berhentilah/

 

 

,

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#FatwaUlama

 

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

Dalil Memerbanyak Puasa Syaban

Syaban adalah satu bulan sebelum Ramadan. Terdapat hadis, bahwa Nabi ﷺ memerbanyak puasa di bulan Syaban. Bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memerbanyak puasa Syaban, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi ﷺ puasa beberapa hari sampai kami katakan: ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering, ketika Syaban” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Aisyah radhiallahu ‘anha juga berkata:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi ﷺ berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syaban sebulan penuh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Keutamaan Memerbanyak Puasa Syaban

Hikmah memerbanyak puasa Syaban adalah karena pada bulan itu amal terangkat, dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata:

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .

“Pendapat yang benar di dalam hal ini adalah, apa yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, sebagaimana engkau berpuasa Syaban. Kemudian beliau ﷺ menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam. Maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” [Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari].

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata:

فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Syaban, sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya. Dan aku suka diangkat amalanku, dalam keadaan aku berpuasa.” [Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313]

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, yaitu bulan setelah Syaban. Memersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata:

الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان

“Puasa Syaban dalam rangka persiapan puasa Ramadan.” [Fatawa Jawab wa Sual no. 92748]

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaban

  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah. Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada 13, 14 dan 15 Syaban, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Syaban

Timbul pertanyaan, apakah Puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya, seperti Puasa  Senin-Kamis? Ini ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh dikombinasikan

Berdasarkan hadis mengenai Abdullah bin ‘Amr yang dinasihati oleh Nabi ﷺ untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari Puasa Daud. Akan tetapi Nabi ﷺ melarangnya. Beliau ﷺ lalu bersabda:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada Puasa Daud.” [HR. Bukhari 3418, Muslim 1159].

  1. Boleh dikombinasikan

Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan:

ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً…  وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من المسارعة في الخيرات

“Mereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan, yaitu Puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikan.” [Fatawa no. 6488]

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29840-anjuran-memerbanyak-puasa-di-bulan-syaban.html

 

,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#TazkiyatunNufus

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أحبَّ اللّه عبداً عسّلَه .قالوا : ما عسّلَه ؟ . قال : يفتح اللّه – عز وجل – له عملاً صالحاً قبل موته ثمّ يقبضه عليه

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberinya madu”. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya memberinya madu?” Beliau ﷺ menjawab: “Allah akan membukakan baginya amal saleh sebelum kematiannya, kemudian Allah mewafatkannya di atas amal saleh tersebut (Husnul Khatimah).” [HR. Ahmad 17819. Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 1114]

 

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama
#DakwahTauhid

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, bersumber dari hadis Nabi ﷺ. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah ﷺ, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga Alquran.” [HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612].

Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Sanggupkah kalian membaca sepertiga Alquran dalam semalam?”

Mereka bertanya: ‘Bagaimana caranya kita membaca sepertiga Alquran?’

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan:

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga Alquran.” [HR. Muslim 1922)]

Makna al-Ikhlas sepertiga Alquran

Dalam Alquran, ada tiga pembahasan pokok:

[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.

[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang Surga, Neraka, balasan, termasuk kisah orang saleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan, dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.

[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.

Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari Alquran.

Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar:

قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار

Sabda Nabi ﷺ: “Senilai sepertiga Alquran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna Alquran. Karena isi Alquran adalah hukum, berita, dan tauhid, sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  [Fathul Bari, 9/61]

Penjelasan kedua:

Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi dua:

[1] Kalimat Insya’ (non-berita): Berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.

[2] Kalimat Khabar (berita): Dan berita dalam Alquran ada dua:

[2a] Berita tentang makhluk: Kisah orang masa silam, baik orang saleh maupun orang jahat.

[2b] Berita tentang khaliq: Penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.

Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna Alquran.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan:

ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله

Surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, karena isi Alquran ada dua: Khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang khaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. [Fathul Bari, 9/61]

Pahalanya Senilai Membaca sepertiga Alquran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil, sesuai dengan hikmah Allah. Sehingga umat Nabi Muhammad ﷺ yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar, tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.

Umat Muhammad ﷺ diberi oleh Allah Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan. Ada juga Masjidil Haram, yang barang siapa shalat di sana, dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca sepertiga Alquran.

Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan, agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.

  • Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan
  • Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.

Membaca surat al-Ikhlas mendapat NILAI seperti membaca sepertiga Alquran, maknanya adalah senilai dalam PAHALA (al-Jaza’). BUKAN senilai dalam AMAL (al-Ijza’).

Sehingga misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu Alquran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu Alquran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh Alquran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu Alquran.

Sebagaimana ketika ada orang yang shalat dua rakaat shalat wajib di Masjidil Haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun, karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.

Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.

Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti Jumatan, yang dia menggantikan shalat Zuhur. Sehingga orang yang shalat Jumatan tidak perlu shalat Zuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu, bagi orang yang punya udzur.

Syaikhul Islam mengatakan:

فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه

Alquran dibutuhkan manusia untuk mengetahui keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisah yang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.

Lalu beliau mengatakan:

فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه

Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga Alquran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Alquran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah Alquran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. [Majmu’ al-Fatawa, 17/138].

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25969-mengapa-surat-al-ikhlas-senilai-sepertiga-Alquran.html

 

 

, , ,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA  ESOK HARINYA?

Pertanyaan:

إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟

Jika saya ketiduran (kelewatan)  shalat Witir, dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya meng-qadhanya?

السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.

وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.

Jawaban:

Yang sunnah diqadha (esok harinya) waktu Dhuha, ketika matahari telah meninggi, dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu Zuhur) dengan jumlah rakaat genap, bukan ganjil.

  • Jika kebiasaan engkau shalat Witir ganjil tiga rakaat pada malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari, empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
  • Jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari enam rakaat, dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).

Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Dahulu jika Rasulullah ﷺ terluput dari shalat malam (termasuk Witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qadha) pada (besok) siang (Dhuha) 12 rakaat” [HR. Muslim]

Kebanyakan jumlah shalat Witir Rasulullah ﷺ adalah 11 rakaat, dan termasuk sunnah meng-qadhanya dengan rakaat yang genap, dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), sebagaimana dalam hadis yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” [HR. Ahmad]

Dan hadis Shahih dari Ibnu Umar, akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”. Ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan.

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532

 

Penulis: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/mengqadha-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html

,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara mengqadha shalat Tahajud di waktu Dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi orang yang memiliki kebiasaan Tahajud, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara Subuh sampai menjelang Zuhur. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat Tahajud di malam hari.” [HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Penulis kitab Aunul Ma’bud mengatakan: “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4:139)

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud

Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat Tahajud, ditambah satu (digenapkan). Misalnya seseorang memiliki kebiasaan Tahajud 11 rakaat, maka nanti diganti di waktu Dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan Tahajud 3 rakaat, maka diganti di waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan:

كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة

“Apabila Rasulullah ﷺ melakukan satu amalan, beliau melakukannya dengan istiqamah. Dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit, maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat qadha 12 rakaat, karena beliau ﷺ memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7581-qadhashalat-Tahajud.html