Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AMANAT BERAT PADA MANUSIA
 
Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah ta’ala. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
Allah ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah ta’ala memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman.
 
Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka, atau ingin sedikit saja menuai pahala, lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.
 
Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:
1. Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara batin tidak.
2. Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.
3. Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.
 
Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah ta’ala berfirman:
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 73]
 
Ayat terakhir ini Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” [Taisir Al Karimir Rahman, 673-674]
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Alquran, #AlQuran, #tafsir, #QSAlAhzabayat73, #QSAlAhzabayat72, #AlAhzabayat73, #AlAhzabayat72 #arti, #definisi, #makna, #munafik, #munafiqun, #musyrikin,k #afir, #takwa, #taqwa #amanat, #amanah, #bebanberat, #bumi, #gunung #menjalankanperintah, #menjauhilaranganNya

KEAJAIBAN ALQURAN KITA TIDAK MAMPU MENGUBAH ISINYA, NAMUN …

KEAJAIBAN-ALQURAN-KITA-TIDAK-MAMPU-MENGUBAH-ISINYA,-NAMUN ...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEAJAIBAN ALQURAN KITA TIDAK MAMPU MENGUBAH ISINYA, NAMUN …
 
Alquran …
Tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Bukankah Allah ﷻ telah menetapkan, bahwa mereka tidak akan mampu membuatnya, walaupun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukannya. Allah ﷻ berfirman:
 
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah:
“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” [QS al-Isra’/17:88]
 
Alquran juga mampu mengubah seseorang, di antaranya kisah masuk Islamnya ‘Umar bin Khattab pada saat membaca surah Thaha:
إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [QS. Thaha: 14]
 
Maka ‘Umar bin Khattab berkata:
Betapa indah dan mulianya ucapan ini.
 
Kisah yang lain adalah Fudhail bin Iyadh ketika mendengar firman Allah:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah, dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hadid: 16]
 
Dan masih banyak lagi kisah yang lain.
 
Maka lihatlah Alquran adalah Kalamullah yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam hati makhluk-Nya. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ sering memperdengarkan Alquran pada telinga-telinga kaum musyrikin, agar mereka mendapatkan hidayah dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.
 
Sumber: [Almanhaj]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Alquran, #AlQur’an, #Miracle, #Ajaib, #keajaibanAlquran, #mengubah, #merubah, #hidup, #kehidupan, #tidakbisaubahisiAlquran, #walaupunseluruhmanusiadanjinberkumpul
, ,

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM
Dari Abu Mas‘ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullahﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah {ayat 285 dan 286} pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” [HR. Bukhari No. 5009 dan Muslim No. 808]
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رّٙبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۚ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلَآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
[Surat al-Baqarah : 285]
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نّٙسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
[Surat al-Baqarah : 286]
 
Mari kita amalkan.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#MutiaraSunnah, #fadhilah, #fadilah, #utama, #keutamaan, #baca, #membaca, #duaayatterakhir, #AlBaqarah, #alBaqoroh, #Alquran, #AlQuran, #kecukupan,  #diberikecukupan
,

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN
 
قال ربنا جل وعلا:
 
Rabb kita Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi berfirman:
 
{وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران (الآية 103)]
 
“Sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali ‘Imran : 103]
 
قال الإمام عبد العزيز بن باز رحمه الله:
 
“كل إنسان كل من كان على الكفر بالله، ثم تاب، فقد كان على شفا جرف من النار، فإذا كان كافراً بأي نوع من أنواع الكفر، من عبادة الأوثان والأصنام، من عبادة الأولياء والأنبياء، بسب الدين، بأي ذنب من الذنوب هو على حفرة من النار، على شفا حفرة من النار، متى مات فهو إليها نسأل الله العافية، لكن إذا من الله عليه بالتوبة فقد أنبه الله، وكان الصحابة الذين هداهم الله للإسلام على هذه الصفة على شفا حفرة من النار بكفرهم فلما هداهم الله للإسلام، وتابعوا النبي صلى الله عليه وسلم أنقذهم الله”.
 
من الموقع الرسمي للشيخ
 
 
 
Al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
“Setiap manusia, semua orang yang pernah (berbuat) kufur terhadap Allah lalu bertobat, maka ia berada di tepi jurang Neraka. Apabila ia berbuat satu macam kekufuran apa saja, baik itu berupa penyembahan terhadap berhala, patung, menyembah para wali dan para nabi, kufur dengan mencela agama, pun dengan melakukan dosa apa saja, maka ia berada di tepi jurang Neraka. (Sekali lagi) ia berada di tepi jurang Neraka. Setelah ia mati, maka ia akan kembali kepadanya (Neraka). Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. Tetapi, jika Allah menganugerahinya tobat, maka sungguh Allah hujamkan rasa penyesalan kepadanya. Begitulah para sahabat yang telah dianugerahi hidayah oleh Allah kepada cahaya Islam, mereka pernah berada pada kondisi seperti ini, yaitu berada di tepi jurang Neraka disebabkan oleh kekufuran mereka. Namun tatkala Allah memberi mereka hidayah kepada (cahaya) Islam dan mereka mengikuti Nabi , maka Allah menyelamatkan mereka dari sana.”
 
 
Disadur dari website resmi Syaikh Bin Baz
 
 
Semoga Allah selalu menyelamatkan kita dari jurang dosa dan kekufuran.

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#tepijurangNeraka, #jurangNeraka, #perumpamaandalamAlquran, #AlQur’an, #Alquran, #NasihatUlama, #syirik, #kesyirikan, #kufur, #kekufuran, #kufurterhadapAllah, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat, #penyembahanberhala, #patung, #menyembahparawali, #menyembahparanabi, #kufurmencelaagama, #menyembahkuburanwali

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?
 
Apabila ada seorang mubtadi’ namun dia menonjol/kuat dalam ilmu bahasa Arab, baik Balaghah, Nahwu, maupun Sharaf, bolehkah kita duduk dengannya dan mengambil ilmu darinya? Yakni ilmu yang dia menonjol di bidang tersebut. Ataukah kita tetap wajib meng-hajr-nya?
 
Jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah:
 
Kita TIDAK BOLEH duduk dengannya, karena hal itu akan memunculkan dua kerusakan:
 
Kerusakan Pertama: Dia (Ahlul Bid’ah tersebut) tertipu dengan dirinya sendiri. Dia mengira bahwa dirinya berada di atas al-Haq (kebenaran).
 
Kerusakan Kedua: Umat akan tertipu dengannya. Yaitu dengan berdatangannya para penuntut ilmu kepada dia dan mengambil ilmu darinya. Sementara orang awam tidak akan membedakan antara ilmu nahwu dengan ilmu akidah.
 
Oleh karena itu KAMI MEMANDANG UNTUK TIDAK BOLEH DUDUK DENGAN AHLUL BID’AH SECARA MUTLAK. Bahkan walaupun dia tidak mendapati ilmu bahasa Arab, ilmu Balaghah, dan ilmu Sharaf – misalnya, kecuali pada mereka. Allah akan menjadikan untuknya yang lebih bagi dari itu. Karena berdatangannya para penuntut ilmu kepada mereka (Ahlul Bid’ah) tidak diragukan akan menyebabkan mereka tertipu (dengan diri sendiri) dan menyebabkan umat tertipu dengan mereka.
 
Di sana ada masalah (lain), yaitu: Bolehkan mengambil ilmu Alquran (yaitu ilmu Qira’ah, Tajwid, dll, pen) dari seorang pengajar Ahlul Bid’ah?
 
Jawabannya: TIDAK BOLEH membaca kepada mereka (yakni tidak boleh mengambil ilmu Alquran dari mereka, pen).
 
– Selesai dengan sedikit perubahan –
 
Dari kaset: “Syarh Hilyah Thalibul ‘Ilmi”
Oleh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#FatwaUlama, #hukum, #hukummengambililmu, #ahlulbidah, #ahlibidah, #bidah, #bid’ah,

,

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf
MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?
 
Allah telah menjelaskan, apa yang Dia turunkan bukan hanya al-Kitab (Alquran). Bahkan yang Allah turunkan ialah berupa al-Kitab (Alquran) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah ﷻ berfirman:
 
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
 
“Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah, serta ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. [QS. Al-Baqarah/2:231]
 
Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
 
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
 
“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [QS an-Nisa`/4:113].
 
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu Alquran, dan menyebutkan al-Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku ridai, yaitu seseorang yang ahli ilmu Alquran berkata: ’Al-Hikmah ialah Sunnah Rasulullah ﷺ.” [Adwin as-Sunnah an-Nabawiyyah, karya Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrani, Penerbit Darul- Khudhairi, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H / 1998 M]
 
Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi ﷺ ialah as-Sunnah, yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi ﷺ hanyalah Alquran dan as-Sunnah. Sementara Allah ta’ala berfirman:
 
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
 
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. [QS Al-Ahzab/33:34].
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi), apa yang diturunkan Allah tabaraka wa ta’ala kepada Rasul-Nya ﷺ di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”. [Tafsir Alquran `anil ‘Azhim, Surat al-Ahzaab/33 ayat 34]
 
Oleh karena itu Nabi ﷺ memberitakan, bahwa beliau ﷺ diberi al-Kitab dan yang semisalnya, yaitu as-Sunnah. Keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA, sama-sama wajib diikuti.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan al-Kitab berada pada SATU DERAJAT. Dari kedua sumber ini diambillah sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) dalam menentuankan hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: ‘Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan, bahwa al-Kitab (Alquran) MEMILIKI KEISTIMEWAAN DAN KELEBIHAN di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah, dilihat pada sisi ini, KEUTAMAANNYA berada di bawah Alquran.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan Al-Kitab berada pada SATU DERAJAT, dari sisi keduanya digunakan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) terhadap hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa Al-Kitab (Alquran) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah DI BAWAH Alquran, di dalam KEUTAMAAN pada sisi-sisi ini.
 
Akan tetapi hal itu TIDAK menyebabkan keduanya berbeda keutamaannya dalam masalah penggunaan sebagai HUJJAH. Yaitu menganggap kedudukan as-Sunnah di bawah Alquran dalam penggunaan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen), sehingga seandainya terjadi pertentangan, maka As-Sunnah disia-siakan, dan hanya Alquran yang diamalkan.
 
Sesungguhnya kedudukan Sunnah itu SEDERAJAT dengan al-Kitab (Alquran) dalam pengambilannya sebagai HUJJAH. Dijadikannya al-Kitab sebagai hujjah, karena ia merupakan wahyu dari Allah…, dan dalam masalah ini, as-Sunnah sama dengan Alquran, karena as-Sunnah juga merupakan wahyu seperti halnya Alquran. Sehingga wajib menyatakan, dalam hal i’tibar, as-Sunnah TIDAK berada di belakang Alquran” [Sebuah pembahasan dalam kitab Hujjiyyatus-Sunnah, hlm. 485-494. Dinukil dari Dharuuraat Ihtimaam bis-Sunnah Nabawwiyah, hlm. 24]
 
Oleh karena itu, Alquran dan as-Sunnah merupakan DUA PERKARA YANG SALING MENYATU, TIDAK TERPISAH, DUA YANG SALING MENCOCOKI, TIDAK BERTENTANGAN. Nabi ﷺ bersabda:
 
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
 
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” [Hadis Shahiih Li Ghairihi. HR Maalik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam at-Ta’zhim wal-Minnah Fil-Intisharis-Sunnah, hlm. 12-13].
 
Kesimpulan:
Dari uraian di atas maka jelaslah, bahwa as-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Alquran. Oleh karena itu, keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA sebagai hujjah (argumen), sumber akidah, dan hukum dalam agama, dan wajib diikuti. Baik Alquran maupun As-Sunnah mempunyai KESETARAAN TINGKAT. Kedudukan keduanya ini SATU DERAJAT, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah ta’ala. Yang demikian ini merupakan prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah.
 
Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hafizahullah menjelaskan, bahwa kalau ada MushafAlquran, tetap lebih utama membaca Alquran lewat Mushafdibanding lewat aplikasi dalam handphone.

Beliau membawakan dalil berikut:

من سره أن يحب الله و رسوله ، فليقرأ في المصحف

“Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah Mushaf.” [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2342. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

Jadi silakan pertimbangkan membaca Alquran lewat mushaf ataukah lewat handphone. Pahalanya bisa jadi sama, namun lebih utama menggunakan Mushaf, sebagaimana diperintahkan dalam hadis di atas.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/16127-lebih-besar-pahala-baca-al-quran-lewat-mushaf-dibanding-handphone.html

, ,

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama, #FatwaUlama

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المراد بأهل القرآن ليس الذين يحفظونه ويرتّلونه و إلى آخره .أهل القرآن هم الذين يعملون به حتّى ولو لم يحفظوه ، الذين يعملون بالقرآن بأوامره ونواهيه وحدوده ، هؤلاء هم أهل القرآن ، وهم أهل الله وخاصّته من خلقه . أمّا من , يحفظ القرآن , ويجيد التّلاوة , ويضبط الحروف , ويضيّع الحدود , فهذا ليس من أهل القرآن وليس من الخاصّة وإنّما هو عاص لله ولرسوله ومخالف للقرآن ، نعم. وكذلك أهل القرآن الذين يستدلّون به ولا يقدّمون عليه غيره في الاستدلال ويأخذون منه الفقه والأحكام والدّين هؤلاء هم أهل القرآن

Yang dimaksud dengan “Ahlul Quran” bukanlah semata-mata orang-orang yang menghapal Alquran, membacanya dengan tartil, dst..

Namun Ahlul Quran adalah orang-orang yang mengamalkan Alquran, meskipun dia belum menghapalnya. Orang yang mengamalkan Alquran, yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, dan batasan-batasannya, merekalah “Ahlul Quran”, merekalah Ahlullah dan khaashshatuh (orang-orang khususNya) dari kalangan makhluk-Nya.

Adapun barang siapa yang menghapal Alquran, bagus bacaannya, tepat (pengucapan) huruf-hurufnya, NAMUN melanggar batas-batas, Maka dia TIDAK termasuk Ahlul Quran, tidak pula termasuk orang-orang khusus. Tapi dia adalah penentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi Alquran.

Ahlul Quran juga adalah orang-orang yang berdalil dengan Alquran dan tidak mendahulukan apapun di atas Alquran dalam berdalil. Mengambil fikih dan hukum-hukum dari Alquran. Merekalah Ahlul Quran. [Syarh Kitab al-‘Ubudiyyah]

 

Sumber: https://shahihfiqih.com/nasehat-ulama/siapakah-yang-dimaksud-ahlul-quran/

,

BERBAGI DALAM ILMU

BERBAGI DALAM ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

BERBAGI DALAM ILMU

“Menolong kaum Muslimin dengan jiwa dan harta untuk membaca dan belajar Alquran ialah amal paling utama.” (Ibnu Taimiyah)

[Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, da’i di Saudi, murid Syaikh Ibnu Baz, pengasuh web IslamQA. 
Courtesy: @twitulama]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries