Posts

, ,

WASPADALAH DENGAN TIPUAN SETAN INI

WASPADALAH DENGAN TIPUAN SETAN INI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
WASPADALAH DENGAN TIPUAN SETAN INI
 
Ibnu Hubairoh rahimahullah berkata:
 
مِن مكَـايد الشّيطـان تَـنفيرُه عبَـادَ اللهِ ‏من تَدبّـر القـرآن لعلمِه أن الهُدى واقــعٌ عنــد التدبُّر
“Termasuk tipu daya setan adalah dengan membuat lari para hamba Allah dari upaya untuk menadabburi Alquran, karena setan mengetahui, bahwa hidayah itu akan diperoleh dengan menadabburinya.” [Thobaqat Hanabilah 1/111]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#tipudayasetan #setan #syaithon #syaithan #syaiton #hidayah #mentadaburyAlquran, #tadabur #tadabbur #Alquran #menadaburi, #menadabburi, #hidayahakandiperoleh

,

ALQURAN ADALAH PERINGATAN BAGI JIWA YANG HIDUP

ALQURAN ADALAH PERINGATAN BAGI JIWA YANG HIDUP
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ALQURAN ADALAH PERINGATAN BAGI JIWA YANG HIDUP
 
“Alquran adalah peringatan bagi jiwa yang hidup.”
Demikianlah mafhum ayat tersebut.
 
Dari situ kita bisa mengenali jiwa kita, apakah masih hidup atau sudah mati.
 
Jika jiwa kita belum takut ketika disebutkan ayat-ayat tentang Neraka dan azab, mungkin jiwa/hati telah mati.
 
Marilah berdoa kepada Allah taala, agar menjaga hati ini tetap hidup. Aamiin!
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#alquran, #peringatanbagijiwayanghidup, #bukansyair, #QSYasinayat69-70
, ,

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
 
 
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
 
“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penyembuh, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” [QS. Al-Isra`: 82)
 
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
نُنَزِّلُ
“Kami turunkan.”
 
Jumhur Ahli Qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. [Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253]
 
مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ
 
“Dari Alquran.”
 
Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Alquran. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Alquran, ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
 
Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:
 
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ
 
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” [QS. An-Nur: 55)
 
Kata min dalam lafal tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. [Lihat Tafsir al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan at-Thibb an-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138]
 
شِفَآءٞ
“Penyembuh.”
Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.
 
Penjelasan Tafsir Ayat
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Alquran, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya, baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Alquran itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum Mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Alquran-lah yang menyembuhkan itu semua.
 
Di samping itu, ia (Alquran) merupakan rahmat, yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan, dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan, kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Alquran akan menjadi penyembuh dan rahmat.
 
Adapun orang kafir yang menzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Alquran tidaklah bertambah baginya, melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, BUKAN pada Alqurannya. Seperti firman Allah ‘azza wa jalla:
 
قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤
 
“Katakanlah: ‘Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” [QS. Fushshilat: 44)
 
Dan Allah ‘azza wa jalla juga berfirman:
 
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥
 
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
 
Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [QS At-Taubah: 124-125]
 
Dan masih banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)
 
Al-’Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:
 
“Alquran mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum Mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang zalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya, kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.
 
Penyembuhan yang terkandung dalam Alquran bersifat umum, meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Alquran) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasihat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah ‘azza wa jalla. Di samping itu, Alquran juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
 
Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” [Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465]
 
Alquran Menyembuhkan Penyakit Jasmani
 
Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap Muslim, bahwa Alquranul Karim diturunkan Allah ‘azza wa jalla untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah ‘azza wa jalla dan dirahmati-Nya. Namun apakah Alquran dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
 
Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati. Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” [Fathul Qadir, 3/253]
 
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’ad:
 
“Alquran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan Akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya, dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya.
 
Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi? Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Alquran ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.” [Zadul Ma’ad, 4/287]
 
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Alquran.
 
Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadis ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ terkena sihir [1], sehingga beliau ﷺ menyangka, bahwa beliau ﷺ mendatangi istrinya, padahal tidak mendatanginya.
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu, bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku.
Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi. Ia seorang munafik.’
(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’
(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”
Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi ﷺ lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau ﷺ mengeluarkannya.
Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan.
Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”
 
[Hadis ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab at-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab al-Adab, bab Innallaha Ya`muru bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063]
 
[Juga diriwayatkan oleh al-Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul ‘azza wa jalla’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272)]. Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah ‘azza wa jalla):
 
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢
 
Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
 
Demikian pula yang diriwayatkan al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya, dari hadis Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Sekelompok [2] sahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
 
Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikit pun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para sahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’
 
Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu?
 
Sebagian sahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian, hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
 
Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing [3]. Maka dia (salah seorang sahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati.
 
Sebagian sahabat berkata: ‘Bagilah.’
 
Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah ﷺ lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau ﷺ perintahkan kepada kita.’
 
Mereka pun menghadap Rasulullah ﷺ kemudian melaporkan hal tersebut.
 
Maka beliau ﷺ bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau ﷺ tertawa.”
 
Adapun hadis yang diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
“Sebaik-baik obat adalah Alquran.”
 
Dan hadis:
 
الْقُرْءآنُ هُوَ الدَّوَاءُ
 
“Alquran adalah obat.”
Keduanya adalah hadis yang Dhaif, telah dilemahkan oleh al-Allamah al-Albani rahimahullah dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.
 
Membuka Klinik Ruqyah
 
Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktik khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah ﷺ.
 
Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:
 
“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi, bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para sahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para sahabat dan tabi’in. (Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan.
 
Petunjuk Salaf dan bimbingan as-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.
 
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk.
 
Barang siapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. [Ar-Ruqa wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh, hal. 20-21]
 
 
 
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
 
 
Catatan Kaki:
 
[1] Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan Orientalis dan Ahli Bid’ah mengingkari hadis yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah, walhamdulillah, para penolak hadis ini dalam sebuah kitab yang berjudul “Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammadﷺ pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadis. Silakan merujuk kepada kitab tersebut.
[2] Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
[3] Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatsahabat #mutiarasunnah #motivasiIslami #petuahulama #hadist #hadits #nasihatulama #fatwaulama #sunnah #aqidah #akidah #dakwahsunnah #Islam #makna, #alquran, #penyembuh, #asysyifa, #ashshifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,#obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa #tafsir #penyimpangandalammeruqyah #ruqyah #alquranpenyembuhsegalapenyakit #rukyah obat, #sembuhkan
, , ,

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
 
Pertanyaan:
Mohon penjelasan maksud tafsir “Penyembuh” dalam Alquran Surat Yunus(10):57 dan Surat Fussilat (41):44?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Kita akan simak ayatnya,
 
Di Surat Yunus, Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [QS. Yunus: 57]
 
Indah sekali, Allah sebut Alquran sebagai,
1. Mau’idzah (nasihat) dari Rabb kita
2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
3. Huda (sumber petunjuk)
4. Rahmat bagi orang yang beriman.
 
Ibnu Katsir mengatakan:
 
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
 
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/274]
 
Di ayat lain, Allah berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
 
Katakanlah: “Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang Mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. [QS. Fushilat: 44]
 
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di Surat Fushilat didetailkan dengan keterangan di Surat Yunus. Sehingga yang dimaksud Alquran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah OBAT BAGI SEGALA PENYAKIT HATI.
 
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di:
 
ALQURAN ADALAH PENYEMBUH BAGI SEMUA PENYAKIT HATI, baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat, atau penyakit syubuhat, yang mengotori akidah dan keyakinan. Karena dalam Alquran terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
 
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengaji makna Alquran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari rida Allah dari pada nafsu syahwatnya.
 
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas, ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya, dan mengotori akidahnya, sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
 
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 366]
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna, #alquran, #penyembuh, #asy syifa, #ash shifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa
, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AMANAT BERAT PADA MANUSIA
 
Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah ta’ala. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
Allah ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah ta’ala memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman.
 
Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka, atau ingin sedikit saja menuai pahala, lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.
 
Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:
1. Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara batin tidak.
2. Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.
3. Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.
 
Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah ta’ala berfirman:
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 73]
 
Ayat terakhir ini Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” [Taisir Al Karimir Rahman, 673-674]
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Alquran, #AlQuran, #tafsir, #QSAlAhzabayat73, #QSAlAhzabayat72, #AlAhzabayat73, #AlAhzabayat72 #arti, #definisi, #makna, #munafik, #munafiqun, #musyrikin,k #afir, #takwa, #taqwa #amanat, #amanah, #bebanberat, #bumi, #gunung #menjalankanperintah, #menjauhilaranganNya

KEAJAIBAN ALQURAN KITA TIDAK MAMPU MENGUBAH ISINYA, NAMUN …

KEAJAIBAN-ALQURAN-KITA-TIDAK-MAMPU-MENGUBAH-ISINYA,-NAMUN ...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEAJAIBAN ALQURAN KITA TIDAK MAMPU MENGUBAH ISINYA, NAMUN …
 
Alquran …
Tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Bukankah Allah ﷻ telah menetapkan, bahwa mereka tidak akan mampu membuatnya, walaupun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukannya. Allah ﷻ berfirman:
 
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah:
“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” [QS al-Isra’/17:88]
 
Alquran juga mampu mengubah seseorang, di antaranya kisah masuk Islamnya ‘Umar bin Khattab pada saat membaca surah Thaha:
إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [QS. Thaha: 14]
 
Maka ‘Umar bin Khattab berkata:
Betapa indah dan mulianya ucapan ini.
 
Kisah yang lain adalah Fudhail bin Iyadh ketika mendengar firman Allah:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah, dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hadid: 16]
 
Dan masih banyak lagi kisah yang lain.
 
Maka lihatlah Alquran adalah Kalamullah yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam hati makhluk-Nya. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ sering memperdengarkan Alquran pada telinga-telinga kaum musyrikin, agar mereka mendapatkan hidayah dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.
 
Sumber: [Almanhaj]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Alquran, #AlQur’an, #Miracle, #Ajaib, #keajaibanAlquran, #mengubah, #merubah, #hidup, #kehidupan, #tidakbisaubahisiAlquran, #walaupunseluruhmanusiadanjinberkumpul
, ,

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEUTAMAAN MEMBACA DUA AYAT TERAKHIR SURAT AL-BAQARAH PADA WAKTU MALAM
Dari Abu Mas‘ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullahﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah {ayat 285 dan 286} pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” [HR. Bukhari No. 5009 dan Muslim No. 808]
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رّٙبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۚ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلَآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
[Surat al-Baqarah : 285]
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نّٙسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
[Surat al-Baqarah : 286]
 
Mari kita amalkan.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#MutiaraSunnah, #fadhilah, #fadilah, #utama, #keutamaan, #baca, #membaca, #duaayatterakhir, #AlBaqarah, #alBaqoroh, #Alquran, #AlQuran, #kecukupan,  #diberikecukupan
,

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

PERUMPAMAAN DALAM ALQURAN
 
قال ربنا جل وعلا:
 
Rabb kita Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi berfirman:
 
{وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران (الآية 103)]
 
“Sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali ‘Imran : 103]
 
قال الإمام عبد العزيز بن باز رحمه الله:
 
“كل إنسان كل من كان على الكفر بالله، ثم تاب، فقد كان على شفا جرف من النار، فإذا كان كافراً بأي نوع من أنواع الكفر، من عبادة الأوثان والأصنام، من عبادة الأولياء والأنبياء، بسب الدين، بأي ذنب من الذنوب هو على حفرة من النار، على شفا حفرة من النار، متى مات فهو إليها نسأل الله العافية، لكن إذا من الله عليه بالتوبة فقد أنبه الله، وكان الصحابة الذين هداهم الله للإسلام على هذه الصفة على شفا حفرة من النار بكفرهم فلما هداهم الله للإسلام، وتابعوا النبي صلى الله عليه وسلم أنقذهم الله”.
 
من الموقع الرسمي للشيخ
 
 
 
Al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
“Setiap manusia, semua orang yang pernah (berbuat) kufur terhadap Allah lalu bertobat, maka ia berada di tepi jurang Neraka. Apabila ia berbuat satu macam kekufuran apa saja, baik itu berupa penyembahan terhadap berhala, patung, menyembah para wali dan para nabi, kufur dengan mencela agama, pun dengan melakukan dosa apa saja, maka ia berada di tepi jurang Neraka. (Sekali lagi) ia berada di tepi jurang Neraka. Setelah ia mati, maka ia akan kembali kepadanya (Neraka). Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. Tetapi, jika Allah menganugerahinya tobat, maka sungguh Allah hujamkan rasa penyesalan kepadanya. Begitulah para sahabat yang telah dianugerahi hidayah oleh Allah kepada cahaya Islam, mereka pernah berada pada kondisi seperti ini, yaitu berada di tepi jurang Neraka disebabkan oleh kekufuran mereka. Namun tatkala Allah memberi mereka hidayah kepada (cahaya) Islam dan mereka mengikuti Nabi , maka Allah menyelamatkan mereka dari sana.”
 
 
Disadur dari website resmi Syaikh Bin Baz
 
 
Semoga Allah selalu menyelamatkan kita dari jurang dosa dan kekufuran.

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#tepijurangNeraka, #jurangNeraka, #perumpamaandalamAlquran, #AlQur’an, #Alquran, #NasihatUlama, #syirik, #kesyirikan, #kufur, #kekufuran, #kufurterhadapAllah, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat, #penyembahanberhala, #patung, #menyembahparawali, #menyembahparanabi, #kufurmencelaagama, #menyembahkuburanwali

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?
 
Apabila ada seorang mubtadi’ namun dia menonjol/kuat dalam ilmu bahasa Arab, baik Balaghah, Nahwu, maupun Sharaf, bolehkah kita duduk dengannya dan mengambil ilmu darinya? Yakni ilmu yang dia menonjol di bidang tersebut. Ataukah kita tetap wajib meng-hajr-nya?
 
Jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah:
 
Kita TIDAK BOLEH duduk dengannya, karena hal itu akan memunculkan dua kerusakan:
 
Kerusakan Pertama: Dia (Ahlul Bid’ah tersebut) tertipu dengan dirinya sendiri. Dia mengira bahwa dirinya berada di atas al-Haq (kebenaran).
 
Kerusakan Kedua: Umat akan tertipu dengannya. Yaitu dengan berdatangannya para penuntut ilmu kepada dia dan mengambil ilmu darinya. Sementara orang awam tidak akan membedakan antara ilmu nahwu dengan ilmu akidah.
 
Oleh karena itu KAMI MEMANDANG UNTUK TIDAK BOLEH DUDUK DENGAN AHLUL BID’AH SECARA MUTLAK. Bahkan walaupun dia tidak mendapati ilmu bahasa Arab, ilmu Balaghah, dan ilmu Sharaf – misalnya, kecuali pada mereka. Allah akan menjadikan untuknya yang lebih bagi dari itu. Karena berdatangannya para penuntut ilmu kepada mereka (Ahlul Bid’ah) tidak diragukan akan menyebabkan mereka tertipu (dengan diri sendiri) dan menyebabkan umat tertipu dengan mereka.
 
Di sana ada masalah (lain), yaitu: Bolehkan mengambil ilmu Alquran (yaitu ilmu Qira’ah, Tajwid, dll, pen) dari seorang pengajar Ahlul Bid’ah?
 
Jawabannya: TIDAK BOLEH membaca kepada mereka (yakni tidak boleh mengambil ilmu Alquran dari mereka, pen).
 
– Selesai dengan sedikit perubahan –
 
Dari kaset: “Syarh Hilyah Thalibul ‘Ilmi”
Oleh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#FatwaUlama, #hukum, #hukummengambililmu, #ahlulbidah, #ahlibidah, #bidah, #bid’ah,