Posts

, ,

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
>> Begitu pula murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua
 
Sesuai hadis Rasulullah ﷺ, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2)]
 
 
 
#rida, #ridha, #ridho, #redho, #Allah, #bergantung, #tergantung, #orang tua, #ortu, #murka, #kemurkaan #birrulwalidain #birulwalidain #baktikepadaorangtua

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH
 
Jika Allah menguji hamba-Nya dengan sesuatu, maka Allah akan mengujinya dengan beberapa jenis ujian:
 
Jika dia diuji, dan mengembalikan permasalahannya kepada Rabbnya, maka itu adalah tanda kebahagiaan, dan tanda datangnya kebaikan baginya. Dan kau yakin, bahwa kesempitan itu tidak akan berlangsung selamanya, meskipun lama.
 
Adapun seseorang, yang jika dia diuji, dia tidaklah mengembalikan permasalahannya kepada Allah, bahkan hatinya lari dari-Nya menuju makhluk, lupa dengan mengingat Rabbnya, lupa untuk mendekat kepada Rabbnya, lupa untuk merendahkan diri kepada-Nya, lupa untuk bertaubat dan kembali pada-Nya, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya, dan tanda datangnya keburukan bagi dirinya. [Ibnul Qoyyim rahimahullahu, Thoriqul Hijratain]
 
Sumber: @kemuslimahan_ypia

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
 
Pertanyaan:
Bagaimana cara penulisan insyaaAllah yang benar? InsyaAllah ataukah Insyaa Allah atau Insha Allah? Atau bagaimana? Katanya, kalau salah ucap, salah makna.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dalam bahasa Arab, kata “Insyaa Allah” ditulis dengan:
 
إِنْ شَاءَ اللَّهُ
 
Yang artinya, ‘Jika Allah menghendaki’.
 
Ada tiga kata dalam kalimat ini:
 
a. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa Arab disebut Harfu Syartin Jazim (Huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi Jazm)
 
b. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia Fiil Madhi (Kata kerja bentuk lampau), sebagai Fiil Syarat (Kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum.
 
c. Kata [اللَّهُ], sebagai subjek dari Fiil Syarat.
 
Memahami susunan di atas, berarti kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] adalah kalimat syarat, yang di sana membutuhkan jawab syarat. Namun di sana, jawab syaratnya tidak disebutkan, karena disesuaikan dengan konteks kalimat.
 
Sebagai contoh, jika konteks pembicaraan kita adalah berangkat ke kota Jogja, maka kalimat lengkapnya adalah: ’Jika Allah menghendaki, maka saya akan berangkat ke Jogja.’
 
Kalimat ’Maka saya akan berangkat ke Jogja’ merupakan jawab syarat tersebut.
 
Bagaimana Cara Penulisan yang Benar?
 
Kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa Arab. Dan karena sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa Arab BERBEDA, masyarakat akan sangat kerepotan jika harus menuliskan kalimat ini dengan teks Arabnya. Sehingga kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf Latin.
 
Karena itu, sebenarnya mengenai bagaimana transliterasi tulisan [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] yang tepat, ini kembali kepada ATURAN BAKU masalah infiltrasi kata dan bahasa.
 
Bagi sebagian orang, baku itu bukan suatu keharusan. Yang penting masyarakat bisa memahami. Misalnya kata ‘Allah’, yang benar ditulis Allah, Alloh, ALLAH, atau bagaimana. Bagi sebagian orang, ini kembali kepada selera penulisnya.
 
Sebagai catatan, transliterasi kalimat bahasa asing, dibuat untuk membantu pengucapan kalimat asing itu dengan benar. Kita bisa bandingkan, transliterasi teks Arab untuk masyarakat berbahasa Inggris dengan transliterasi teks Arab untuk orang Indonesia. Karena semacam ini disesuaikan dengan fungsinya, yaitu untuk membantu pengucapan kalimat Arab tersebut dengan benar.
 
Dengan demikian, sebenarnya transliterari TIDAK bisa dijadikan acuan benar dan salahnya tulisan. Karena tidak ada aturan yang disepakati di sana, semua kembali kepada selera penulis. Yang lebih penting adalah, bagaimana cara pengucapannya yang tepat, sehingga tidak mengubah makna.
 
Tulisan Arabnya yang benar adalah:
[إِنْ شَاءَ اللَّهُ],
 
Kita bisa menuliskan Latinnya dengan insyaaAllah atau insyaa Allah atau inshaaAllah atau inshaa Allah atau insyaallah. TIDAK ada yang baku di sini, karena ini semua transliterasi. Yang penting kita bisa mengucapkannya dengan benar, sesuai teks Arabnya.
 
Karena itu, sejatinya TIDAK ADA YANG PERLU DIPERMASALAHKAN dalam penulisan transliterasi semacam ini. Selama cara pengucapan dan makna yang dimaksud sama.
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
,

DOA MEMOHON CINTA KEPADA ALLAH

DOA MEMOHON CINTA KEPADA ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#DoaZikir
 
DOA MEMOHON CINTA KEPADA ALLAH
 
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
 
Allohumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal-ladzii yubbaligunii hubbaka. Allohummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal-maa’il-baarid.
 
Artinya:
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu, lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin (di padang yang tandus -pent).” [HR. At-Tirmidzi dari jalan Abu Darda’ radhiyallahu anhu, dan beliau (At-Tirmidzi) berkata derajat hadis ini Hasan (baik)]
 
Mari kita hafalkan doa ini, sebab cinta kita kepada Allah tidak datang begitu saja. Kita harus berusaha untuk memohon dan menggapainya. Orang yang mencinta Allah lebih dari segalanya, insya Allah akan dicintai oleh semua makhluk di langit dan di bumi. CINTA ALLAH, inilah sebenarnya cinta sejati dan abadi, baik ketika di dunia, di alam kubur, dan kelak di alam Akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril, “Sungguh Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sungguh Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta itu kepada penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhari 5580)
 
(Dengan penambahan seperlunya oleh tim Redaksi Nasihat Sahabat)
, ,

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#TauhidManhaj. #NasihatUlama

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahumallah:

مَن كان يائسًا ممَّا في أيدي النَّاس عاش حياتَه مهيبًا عزيزًا،

“Barang siapa yang berputus asa dari apa yang ada ditangan manusia, maka hidupnya tenang dan mulia.

ومَن كان قلبه معلَّقًا بما في أيديهم عاش حياته مهينًا ذليلًا

Dan barang siapa yang hatinya tergantung kepada manusia, maka hidupnya dalam keadaan hina dan rendah.

 

Sumber:[ Indonesia Bertauhid]

# Tidak Berharap Dari Manusia #Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahumallah :مَن كان يائسًا ممَّا في …

Posted by Indonesia Bertauhid on Saturday, August 26, 2017

,

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan” [Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H)] menjelaskan, bahwa kenikmatan tertinggi di Akhirat ini (melihat wajah Allah ta’ala) adalah balasan yang Allah ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafal doa Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang shahih:

أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

AS-ALUKA LADZDZATAN NAZHOR ILAA WAJHIK, WASY-SYAUQO ILAA LIQOO’IK

Artinya:
Aku memohon kepada-Mu (ya Allah), kenikmatan memandang wajah-Mu (di Akhirat nanti), dan aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia). [HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “
Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah” (no. 424)].

, ,

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#SayNoToBidah, #MutiaraTafsir

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

>> Seorang Hamba Tidak Boleh Mengatakan Halal atau Haram, Kecuali Setelah Mengetahui, Bahwa Allah Menghalalkan atau Mengharamkannya

 

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. [QS An-Nahl /16 : 116-117]

Penjelasan Ayat

Budaya Jahiliyah, Mengatur Penetapan Hukum dengan Hawa Nafsu

Budaya bangsa Jahiliyah yang berlawanan dengan ajaran Islam sungguh banyak. Islam datang untuk MENGHAPUSKANNYA, supaya umat manusia selalu berada di atas fitrah penciptaannya.

Ayat di atas membicarakan salah satu dari sekian banyak budaya jahiliyyah yang berkembang di tengah masyarakat zaman dulu, sebelum akhirnya terhapus syariat Muhammad ﷺ. Yakni, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa mengindahkan. dan tanpa merujuk kepada wahyu Ilahi. maupun ketetapan-ketetapan hukum samawi lainnya yang berasal dari Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk. Padahal mereka mengklaim sebagai para penganut ajaran Nabi Ibraahim Alaihissallam. Sehingga Allah ﷻ melarang umat Islam mengikuti jalan kaum musyrikin tersebut. [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (4/609), Aisarut-Tafasir (1/326)]

Realita yang terjadi, mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebaliknya, menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah al-Khaaliq. Mereka menetapkan hukum-hukum halal dan haram sesuai dengan hawa nafsunya. Dengan tindakan ini, mereka telah melakukan iftira ‘alallah ta’ala (kedustaan atas nama Allah ta’ala).

Allah ﷻ telah menjelaskan substansi ayat di atas melalui beberapa ayat lainnya. Di antaranya:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat memersaksikan, bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”. Jika mereka memersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka… [QS Al-An’am/6 : 150]

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS.Yunus/10 : 59].

Pengertian ayat ini (QS. An-Nahl/16 ayat 116-117) akan kian jelas, dengan memerhatikan ayat sebelumnya. Bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan agar mereka memakan makanan-makanan yang baik-baik lagi halal. Allah ﷻ berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. [QS. An-Nahl/16 : 114].

Selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan hal-hal yang diharamkan atas diri mereka dalam ayat berikutnya:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An Nahl/16 : 115].

Kenyataannya justru tidak sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Allah al-Hakam (Dzat Yang Maha Menentukan hukum) dalam ayat tersebut. Mereka justru menghalalkan bangkai, darah dan binatang-binatang yang mereka sembelih tanpa dengan menyebut nama Allah ta’ala. Dan sebaliknya, mereka mengharamkan pemanfaatan binatang-binatang, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai tunggangan, yang sebenarnya dihalalkan bagi umat manusia.

Sebagai contoh, sebagaimana tertuang dalam firman Allah ta’ala berikut ini:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [QS. Al-Ma`idah/5:103] [Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham, adalah sebutan untuk hewan ternak dalam kondisi tertentu. Kaum Jahiliyah mengharamkan pemanfaatannya sama sekali. Tentang makna istilah-istilah di atas, lihat footnote Alquran Terjemah yang diterbitkan Departemen Agama RI pada ayat tersebut. Contoh sikap pengharaman lainnya, silahkan lihat QS. al-An’am/6 ayat 138, 139, 140].

Demikianlah, konsep halal-haram di mata orang-orang Jahiliyyah pada masa lalu. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyatakan, yang menjadi biang keladi dalam masalah ini, ialah karena adanya perangkap nafsu dan syahwat serta doktrin tokoh-tokoh besar mereka [Lihat kitab al-Ath’imah wa Ahkamish Shaidi wadz-Dzaba`ih, karya Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakan II, Tahun 1419H-1999M, hlm. 26].

Ringkasnya, permulaan ayat ini MELARANG seseorang untuk menjatuhkan penilaian tentang halal dan haram terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah ﷻ. Karena hal itu merupakan kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah ta’ala. [Taisirul-Karimir-Rahman (451), al-Jalalain, hlm. 575]

Melebihi Kesalahan Perbuatan Syirik

Tak diragukan, perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa yang sangat besar, dan merupakan kesalahan sangat fatal. Perbuatan syirik ini lantaran mengandung perbuatan yang menyamakan antara al-Khaaliq Yang Maha Sempurna dari segala sisi, dengan makhluk yang sarat dengan segala kelemahan dari setiap sisi. Namun telah diberitakan oleh Allah ﷻ, bahwa ada dosa yang lebih tinggi derajat keburukannya dibandingkan syirik. Dosa itu ialah berdusta atas nama Allah ﷻ. Karena, sebenarnya, seluruh maksiat berawal dari kedustaan atas nama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-An’am/7:33].

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah mengharamkan berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu dalam urusan fatwa atau hukum pengadilan. Dia mengategorikannya termasuk perkara haram yang terbesar. Bahkan menempatkannya di urutan pertama [I’lamul-Muwaqqi’in, 2/73]. Karena urutan perkara-perkara yang diharamkan dalam ayat di atas secara at-ta’ali (dari urutan rendah menuju peringkat terparah) [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H].

Pangkal Dari Suatu Musibah

Gejala memrihatinkan ini jelas berpangkal dari faktor tertentu, bukan merupakan peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa sebab-musabab. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menunjuk fenomena at-ta’alum (sok pintar) sebagai faktor utama. Yakni, sifat merasa lebih mengetahui, merasa memiliki kapabilitas mengeluarkan fatwa atau menjawab, padahal kemampuannya masih sangat jauh dan penuh kekurangan.

Kata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah: “Sesungguhnya at-ta’alum merupakan pintu masuk menuju ‘Berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu’. Tidak itu saja, ta’alum, keganjilan pendapat, mencari-cari rukhshah, fanatisme buta, semua itu merupakan pintu-pintu menuju kejahatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu”. [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H]

Berfatwa merupakan kedudukan yang penting. Dalam fatwa ini seseorang mencoba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai seseorang atau masyarakat. Karena kuatnya pengaruh tindakan pemberian fatwa ini, maka tidak ada yang boleh menyampaikan fatwa, kecuali orang-orang yang memang telah mencapai kemampuan ilmiah tertentu. Bukan sembarangan orang. [Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420-1999, hlm. 75]

Ahli Bid’ah Terancam Oleh Ayat Ini

Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: “Termasuk dalam konteks ayat ini, yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan bid’ah” [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, 4/609]. Alasannya sangat jelas. Yakni, mereka menambah-nambahkan sesuatu dengan beranggapan, bahwa semua yang mereka tetapkan merupakan bagian dari agama Islam, setelah mengganggapnya sebagai perbuatan baik, padahal syariat tidak mengatakannya.

Ancaman Berat Terhadap Pelaku yang Berdusta Mengatasnamakan Allah

Manakala suatu perbuatan salah sudah menempati level yang sangat membahayakan, maka tak aneh jika balasannya pun sangat berat. Untuk perbuatan dusta atas nama Allah ta’ala dengan menghalalkan atau mengharamkan secara serampangan, maka Allah ﷻ telah menetapkan balasannya sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

…Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. [QS. An Nahl /16:116-117].

Allah ﷻ menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dusta yang mengatasnamakan nama-Nya dalam hukum-hukum syari. Juga terhadap pernyataan mereka tentang perkara yang tidak diharamkan “Ini haram”, atau pada perkara yang tidak dihalalkan “Ini halal”. Ayat ini menjadi penjelasan dari Allah ta’ala, bahwa seorang hamba TIDAK BOLEH mengatakan halal atau haram, kecuali setelah mengetahui bahwa Allah menghalalkan atau mengharamkannya [I’lamul-Muwaqqi’iin, 2/ 73-74].

Mereka tidak akan beruntung di dunia maupun di Akhirat. Dan pasti Allah ﷻ akan menampakkan kehinaan mereka. Meskipun mereka menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini, akan tetapi itu hanyalah kenikmatan sekejap. Tempat kembali mereka adalah Neraka. Di sana, bagi mereka siksaan yang pedih. [Taisirul-Karimir-Rahman, 451]

Pengendalian Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Di tengah masyarakat, kita dapat menyaksikan banyak bertebaran fatwa tanpa dasar yang dibenarkan. Anehnya, orang-orang berusaha menahan diri berbicara (berpendapat) dalam disiplin ilmu-ilmu umum di hadapan para ahlinya. Konkritnya, seorang yang bukan dokter merasa tidak nyaman berbicara dalam masalah-masalah kedokteran di hadapan dokter. Atau bukan arsitek merasa tidak nyaman berbicara tentang arsitektur di hadapan seorang insiyur. Namun sikap serupa tidak disaksikan dalam urusan-urusan agama, -sifat merasa lebih mengetahui terlalu menonjol. Padahal mereka meyakini Allah Maha Mendengar segala perkataan, Maha Melihat saat mengeluarkan hukum, penilaian maupun fatwa [Lihat Hasha`idul-Alsun, Syaikh Husain al-‘Awayisyah, Daarul-Hijrah, Cet. I, Th. 1412H-1992M, hlm. 51].

Pendapat-pendapat ganjil pun mengemuka. Bahkan terkadang sangat menggelikan, hingga benar-benar memerlihatkan betapa dangkal ilmu yang dimilikinya. Kekacauan sudah menjalar di mana-mana. Jadi, solusi “Problematika sosial” yang sudah mewabah dan tak bisa dianggap ringan ini, yang juga merupakan solusi bagi seluruh masalah ialah, menanamkan rasa takut kepada Allah ﷻ dan meningkatkan kadar ketakwaan, hingga terbentuk mentalitas wajib menahan diri tidak berbicara atau tidak menjawab, dan tidak mengeluarkan fatwa, jika benar-benar tidak mengetahui apa-apa, atau hanya setengah tahu. Dan hendaklah dimengerti, bahwa Allah-lah yang berhak menetapkan dan menciptakan (al-khalqu wal-amru). Tidak ada pencipta selain-Nya. Tidak ada syariat bagi makhluk selain syariat-Nya. Dia-lah yang berhak mewajibkan sesuatu, mengharamkannya, menganjurkan dan menghalalkan.

Oleh karena itu, jika seseorang ditanya permasalahan yang TIDAK diketahuinya, hendaklah dengan lantang menjawab tanpa malu-malu dan mengatakan “Aku tidak tahu, aku belum tahu, tanya orang lain saja”. Jawaban seperti ini justru menunjukkan kesempurnaan akalnya, kebaikan iman dan ketakwaannya, serta kesopanan di hadapan Allah ﷻ [Kitabul-‘Ilmi, hlm. 77].

Kehati-Hatian Generasi Salaf dalam Masalah Ini [I’lamul-Muwaqqi’in (2/75-77), Adhwa`ul-Bayan (3/347), Riyadhush-Shalihin (Bahjatun-Naazhirin)]

Dahulu, para generasi Ulama Salaf, mereka bersikap wara` (menjaga diri) dalam mengeluarkan pernyataan “Ini halal dan itu haram”, lantaran takut terhadap ayat di atas. Selain itu, ialah untuk menunjukkan tingginya sopan santun mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yang berhak menetapkan hukum atas umat manusia, padahal mereka mengetahui dalil penghalalan atau pengharamannya dengan jelas.

Imam Maalik rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Qabishah bin Dzuaib, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu mengenai dua perempuan bersaudara yang sebelumnya berstatus sebagai budak. ‘Utsman radhiyallahu anhu menjawab: “Sebuah ayat menghalalkannya, dan ayat lain telah mengharamkannya. Adapun saya, tidak suka untuk melakukannya” [Isnadnya shahih. Lihat al-Muwaththa (2/538), al-Umm (5/3), al-Baihaqi (7/163). Dinukil dari catatan kaki di I’lamul-Muwaqqi’in, 2/75. Dalam riwayat ini, ‘Utsman Radhiyallahu anhu dengan kehati-hatiannya menisbatkan penghalalan dan pengharaman kepada nash Alquran, bukan kepada dirinya, Pen].

Imam al-Qurthubi rahimahullah meriwayatkan: Ad-Darimi berkata dalam Musnad-nya: Harun telah memberitahukan kepada kami dari Hafsh dari al-A’masy, ia berkata: “Aku belum pernah mendengar Ibrahim (an-Nakha`i) berkata ‘(Ini) halal atau haram,’ akan tetapi ia mengatakan (bila menghukumi): ‘Dahulu, orang-orang tidak menyukainya. Atau, dahulu orang-orang menyukainya’.” [Al-Jami li Ahkamil-Qur`an]

Ibnu Wahb rahimahullah berkata dari Imam Malik rahimahullah: “Tidaklah menjadi kebiasaan orang-orang (sekarang) atau orang-orang yang telah berlalu, juga bukan menjadi kebiasaan orang-orang yang aku ikuti untuk mengatakan ‘Ini halal, itu haram’. Mereka tidak berani untuk melakukannya. Kala itu mereka hanya mengatakan nakrahu kadza (kami tidak menyukainya), naraahu hasanan (kami melihatnya baik), nattaqi hadza (kami menghindarinya), wala nara hadza (kami tidak berpandangan demikian)”.

Dalam riwayat lain: “Mereka tidak mengatakan ‘Ini halal atau haram’. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman (yang artinya):

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus/10 : 59), lantas beliau berkata: “Yang halal adalah semua yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang haram adalah semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” [I’lamul-Muwaqqi’in, 2].

Dalam kitab Al-Umm, Imam asy-Syafi’i rahimahullah sering mengatakan: Ahabbu ilayya, uhibbu, akrahu dan lafal-lafal semisal lainnya untuk menilai berbagai macam perkara. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Ayat:

1. Haram menetapkan halal dan haram tanpa dasar syari, qath’i maupun zhanni, kecuali yang sudah hampir diyakini sebagai hal yang diharamkan.

2. Haram berdusta atas nama Allah ta’ala.

3. Orang yang berdusta atas nama Allah ta’ala, ia tidak akan beruntung di Akhirat kelak. Sementara di dunia, ia akan dirundung oleh kehinaan.

4. Wajib menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara.

5. Ahli bid’ah diancam dengan ayat di atas.

Wallahu a’lam

 

Maraaji’:

1. Aisarut-Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.

2. Al-Jami li Ahkamil-Qur`an (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, Darul-Kitabil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.

3. I’laamul Muwaqqi’in ‘An Rabbil ‘Alamin Ibnul Qayyim, Tahqiq: Abu ‘Ubaidah Masyhuur bin Hasan Alu Salmaan Daar, Ibnu Jauzi, Cet. I, Th. 1423H.

4. Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420H-1999M.

5. Ma’alimut-Tanzil, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tahqiq dan Takhrij: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsman Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaiman Muslim al-Kharsy, Dar Thaibah, Tahun 1411 H.

6. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, al-Hafizh Abul-Fida Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi, Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1422 H – 2002 M.

7. Taisirul-Karimir-Rahman, ‘Allamah Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Darul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

 

Penulis: Ustadz Ashim bin Mushthofa hafizahullah

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/Ramadhan 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3346-jangan-mudah-memutuskan-ini-halal-dan-itu-haram.html

,

REZEKI TELAH DIATUR

REZEKI TELAH DIATUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

REZEKI TELAH DIATUR
.
Allah azza wa jalla telah mengatur rezeki seluruh makhluk-Nya dengan sangat bijaksana.
.
Bila unta yang tinggal di tempat yang sangat tandus saja tetap hidup dengan baik, apalagi kita yang hidup di daerah tropis nan subur.
.
Yang perlu kita lakukan adalah menggerakkan sebab, lalu menunggu takdir terbaik dari Allah. Bukan berpangku tangan, lalu menunggu keajaiban langit.
.
Ingatlah, bahwa langit takkan menurunkan hujan emas. Karena itu bekerjalah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ.

“Sesungguhnya Ruh Qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku, bahwa setiap jiwa tidak akan mati, hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh, kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
.
Selamat beraktivitas.
.

Penulis: Ustadz ACT EL-GHARANTALY, حفظه الله تعالى

BERHARAP KEPADA ALLAH DAN BERPALING DARI PENILAIAN MANUSIA

BERHARAP KEPADA ALLAH DAN BERPALING DARI PENILAIAN MANUSIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#TazkiyatunNufus

BERHARAP KEPADA ALLAH DAN BERPALING DARI PENILAIAN MANUSIA

Jika Allah selalu benar dan tiada pernah berdusta, lalu mengapa masih sibuk memikirkan penilaian manusia yang bisa, bahkan mudah berdusta?

Kunci terbesar kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang, padahal itu adalah hal yang mustahil.

>> Maka cukuplah menyenangkan Allah semata.

>> Maka biarlah Allah yang menggerakkan seluruh mahluk-Nya untuk menyenangi kita dengan cara-NYA.

 

Penulis: Al-Ustadz ACT El Gharantaly hafizahullah

Catatan:
Tammulat = Perenungan
,

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraTafsir

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

Bagian syukur dari nikmat adalah dengan menampakkan nikmat tersebut secara lahiriyah. Bukan malah kita menjadi orang pelit dan pura-pura “kere” (miskin). Kalau memang Allah beri kelapangan rezeki, nampakkanlah nikmat tersebut pada makanan dan pakaian kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Wa amma binikmati Robbika Fahaddits

Artinya:

“Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu siarkan.” [QS. Adh Dhuha: 11].

Berikut ini adalah beberapa pendapat ulama mengenai ayat di atas:

Dari Abu Nadhroh, ia berkata:

كان المسلمون يرون أن من شكر النعم أن يحدّث بها.

“Dahulu kaum Muslimin menganggap dinamakan mensyukuri nikmat adalah dengan seseorang menyiarkan (menampakkan) nikmat tersebut.” [Diriwayatkan oleh Ath Thobari dalam kitab tafsirnya, Jaami’ Al Bayaan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an (24: 491)].

Al Hasan bin ‘Ali berkata mengenai ayat di atas:

ما عملت من خير فَحَدث إخوانك

“Kebaikan apa saja yang kalian perbuat, maka siarkanlah pada saudara kalian.” [Disebutkan oleh Ibnu Katsir, dari Laits, dari seseorang, dari Al Hasan bin ‘Ali (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 387)].

Tentu saja nikmat atau kebaikan disampaikan pada orang lain jika mengandung maslahat, bukan dalam rangka menyombongkan diri dan pamer atau ingin cari muka (cari pujian, alias ‘riya’). Lihat perkataan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya:

“Yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup nikmat din (Akhirat) maupun nikmat dunia. Adapun “fahaddits” bermakna “Pujilah Allah atas nikmat tersebut”. Bentuk syukur di sini adalah dengan lisan dan disebut khusus dalam ayat, dibolehkan jika memang mengandung maslahat. Namun boleh juga penampakkan nikmat ini secara umum (tidak hanya dengan lisan). Karena menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda seseorang bersyukur. Perbuatan semacam ini membuat hati seseorang semakin cinta pada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala). Itulah tabiat hati yang selalu mencintai orang yang berbuat baik padanya.” (Taisir Al Karimir Rahman, 928)

Ulama besar dari negeri ‘Unaizah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam tafsir Juz ‘Amma menjelaskan: “Tahadduts Ni’mah (menyebut-nyebut nikmat Allah) adalah dengan ditampakkan, yaitu dilakukan dalam rangka syukur kepada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala), bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain. Karena jika hal itu dilakukan karena sombong, maka itu jadi tercela.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah memberikan penjelasan menarik tentang ayat di atas. Beliau rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan kepada Nabi ﷺ untuk menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan. Nikmat itu disyukuri dengan ucapan dan juga ditampakkan dengan amalan. Tahadduts Ni’mah (menyiarkan nikmat) dalam ayat tersebut berarti seperti seorang Muslim mengatakan: “Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik. Saya memiliki kebaikan yang banyak. Allah memberi saya nikmat yang banyak. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut.”

Tidak baik seseorang mengatakan dirinya itu miskin (fakir), tidak memiliki apa-apa. Seharusnya ia bersyukur pada Allah dan Tahadduts Ni’mah (siarkan nikmat tersebut). Hendaklah ia yakin, bahwa kebaikan tersebut Allah-lah yang memberi. Jangan ia malah menyebut-nyebut dirinya itu tidak memiliki harta dan pakaian. Janganlah mengatakan seperti itu. Namun hendaklah ia menyiarkan nikmat yang ada, lalu ia bersyukur pada Allah ta’ala. Jika Allah memberi pada seseorang nikmat, hendaklah ia menampakkan nikmat tersebut dalam pakaian, makanan dan minumnya. Itulah yang Allah suka. Jangan menampakkan diri seperti orang miskin (kere). Padahal Allah telah memberi dan melapangkan harta. Jangan pula ia berpakaian atau mengonsumsi makanan seperti orang kere (padahal keadaan dirinya mampu, pen). Yang seharusnya dilakukan adalah menampakkan nikmat Allah dalam makanan, minuman dan pakaiannya. Namun hal ini jangan dipahami, bahwa kita diperintahkan untuk berlebih-lebihan, melampaui batas dan boros.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, juz ke-4, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32]

Semoga kita diberi taufik untuk merealisasikan syukur kepada Allah.

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

  • Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.
  • Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
  • Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Asy Syamilah.
  • Mawqi’ Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ibnbaz.org.sa.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2027-tampakkanlah-nikmat-allah.html