Posts

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
 
Jangan menjadi orang yang dicintai oleh IBLIS.
Dan apa RAHASIANYA, amalan BID’AH itu LEBIH disukai oleh IBLIS daripada MAKSIAT ?
 
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
 
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
 
Ali bin Ja’d mengatakan, bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata, bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata:
  • BID’AH itu lebih disukai IBLIS dibandingkan dengan MAKSIAT biasa.
  • Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat.
  • Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22]
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertobat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan, tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah.
 
Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertobat ketika dia tidak merasa bersalah? Bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan. Itulah rahasianya kenapa IBLIS suka sekali dengan pelaku BID’AH.
 
Allah berfirman:
 
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
 
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap BAIK pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir:8]
 
Sufyan ats Tsauri mengatakan:
“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.”
 
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata:
“Kubinasakan anak keturunan Adam dengan DOSA, namun mereka membalas membinasakanku dengan ISTIGHFAR dan ucapan La ilaha illallah.
Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:BID’AH).
Akhirnya mereka berbuat dosa namun TIDAK MAU BERTOBAT, karena mereka merasa sedang berbuat BAIK.” [Lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62]
 
Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih BERBAHAYA dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu MERUSAK agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [Al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#alasan, #iblis, #setan, #syaithan, #syaithon, #lebihsuka, #lebihmenyukai, #bidah, #pelakubidah, #pelakumaksiat, #maksiat, #maksiyat, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat #lebihmudahbertobat, #sulitbertobat #aparahasianya, #inirahasianya

,

KENAPA KITA MEMBACA SURAT AL KAHFI SETIAP JUMAT?

KENAPA KITA MEMBACA SURAT AL KAHFI SETIAP JUMAT?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
KENAPA KITA MEMBACA SURAT AL KAHFI SETIAP JUMAT?
 
Agar tergambar pada hatimu empat kisah mengenai ujian yang banyak menimpa manusia saat ini:
 
(1) Ujian karena agama (pada kisah pemuda Ashabul Kahfi –pent),
(2) Ujian karena harta (pada kisah pemilik kebun –pent),
(3) Ujian karena ilmu (pada kisah Nabi Musa Dan Khidr –pent),
(4) Ujian karena kedudukan (pada kisah Dzulqarnain –pent).
 
Dan jalan keluar dari keempat ujian tersebut adalah: Keimanan pada Hari Kiamat.
 
[Dr Ibrahim ad Duwaisy, Dosen Sunnah Nabawiyyah di Universitas Qashim, Kepala Pusat Studi Kemasyarakatan.
@twitulama]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabJumat, #hariJumat, #nasihatulama, #petuahulama, #alasan, #kenapa, #bacaAlKahfi, #membacaAlKahfi #setiapJumat #Alkahfi

KENAPA HARUS BERMANHAJ SALAF DALAM BERAGAMA?

KENAPA HARUS BERMANHAJ SALAF DALAM BERAGAMA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KENAPA HARUS BERMANHAJ SALAF DALAM BERAGAMA?
>> Bolehkah kita hanya menyebut diri sebagai Muslimin saja tanpa penyandaran kepada Manhaj Salaf?
>> Cinta Salaf berarti cinta Islam, benci Salaf berarti benci Islam
 
Ada sebagian dari kita yang terlalu cepat memvonis agar tidak perlu bermanhaj dalam urusan agama. Yang penting yang bagus-bagus kita ambil, yang jelek-jelek kita buang. Demikianlah mereka berdalih.
 
Sebelum kita terlalu cepat memvonis sesuatu perkara sebagai keburukan, marilah kita cari tahu bersama, apa sesungguhnya  Manhaj Salaf itu. Seperti kata pepatah: “Tak kenal maka tak sayang”.
 
Secara ringkasnya, manhaj adalah metode/cara beragama. “Al Manhaj” secara istilah adalah aturan yang diikuti kaum Muslimin di dalam memahami, mengamalkan dan menyebarkan agama. [Al Manhaj, Yayasan ash shofwa, hal. 3-4, Jakarta]. Dan berdasarkan penelusuran pada manhaj-manhaj secara umum kita dapati, bahwa manhaj ada dua macam, yang benar dan yang rusak. Dan yang penting kita bahas di sini adalah yang pertama (yang benar).
 
Sedangkan salaf menurut para ulama adalah:
– Sahabat,
– Tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan
– Tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in).
Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan Salafush Shalih (orang-orang terdahulu yang saleh).
Merekalah TIGA GENERASI UTAMA dan TERBAIK dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” [HR. Ahmad, Ibnu Abi ’Ashim, Bukhari dan Tirmidzi]
 
Allah ta’ala berfirman:
 
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
 
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS Ali Imran:110].
 
Syaikh Salim Al Hilali berkata:
“Allah telah menetapkan keutamaan untuk para sahabat di atas seluruh umat. Ini berarti mereka istiqamah (berada di atas jalan lurus) dalam segala keadaan, karena mereka tidak pernah menyimpang dari jalan yang terang. Allah telah menjadi saksi untuk mereka, bahwa mereka menyuruh kepada seluruh yang ma’ruf dan mencegah dari seluruh yang munkar. Hal itu mengharuskan menunjukkan, bahwa pemahaman mereka merupakan argumen terhadap orang-orang setelah mereka”. [Limadza Ikhtartu Manhajas Salafi, hlm. 86].
 
Allah ta’ala juga berfirman:
 
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
 
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [QS At Taubah:100].
 
Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia, yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan, bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi Salafush Shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah yang disebut sebagai Salafi.
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini:
“Allah ta’ala mengabarkan, bahwa keridaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan bukti keridaan-Nya kepada mereka adalah dengan mempersiapkan Surga-Surga yang penuh dengan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi mereka…” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/140].
 
Lihatlah, Allah menyediakan Surga-Surga bagi dua golongan. Pertama: golongan sahabat, yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah Salafush Shalih generasi sahabat. Kedua: orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik.
 
Jika demikian, maka seluruh umat Islam, generasi SETELAH sahabat WAJIB MENGIKUTI para sahabat dalam beragama, sehingga meraih janji Allah di atas. Menjadi keharusan atas kita generasi masa kini untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita TIDAK BOLEH berkata: “Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah TANPA petunjuk Salafush Shalih”.
 
Kenapa Harus Manhaj Salaf?
 
Di zaman ini kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil. BELUM CUKUP kalau kita hanya mengucapkan: ”Saya seorang Muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian, baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka?
 
Kalau kita berkata: Saya seorang Muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga BELUM MEMADAI. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.
 
Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan: “Saya seorang Muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta berManhaj Salaf”, atau disingkat “Saya Salafi”.
 
Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, TANPA Manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, BELUMLAH CUKUP.
 
Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengritik, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai Muslimin saja tanpa penyandaran kepada Manhaj Salaf; padahal Manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar, lalu apakah mereka (pengritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka? Padahal sebutan itu tidak syari dan salah!? Orang yang mengingkari istilah Manhaj Salaf, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih? Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata, yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
 
Demikianlah penjelasan kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok/ golongan /partai/ aliran tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafush Shalih dalam memahami Alquran dan As-Sunnah.
 
Allah adalah Zat Maha Pemberi Petunjuk menuju jalan lurus.
Wallahu Waliyyut-Taufiq.
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, , ,

SEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA

SEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEPULUH PERKARA PENGHALANG TERKABULNYA DOA
 
Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah:
“Allah ‘azza wa jalla telah berfirman dalam kitab-Nya:
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
 
‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.’
 
Kami telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla sekian lama, namun tidak juga Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa kami.”
 
Beliau pun menjawab:
 
“Hati kalian telah mati karena sepuluh perkara:
 
1. Kalian mengenal Allah ‘azza wa jalla, namun tidak menunaikan hak-Nya.
 
2. Kalian membaca Kitabullah, namun tidak mengamalkannya.
 
3. Kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun meninggalkan Sunnahnya.
 
4. Kalian mengaku memusuhi setan, namun sepakat dengannya.
 
5. Kalian mengatakan bahwa kalian cinta Jannah (Surga), namun tidak beramal untuk itu.
 
6. Kalian katakan bahwa kalian takut-Naar (Neraka), namun menggadaikan diri-diri kalian kepadanya (An-Naar)
 
7. Kalian katakan, bahwa sesungguhnya kematian itu pasti (terjadi), namun kalian tidak bersiap-siap untuknya.
 
8. Kalian sibuk dengan aib saudara-saudara kalian dan mencampakkan aib-aib diri sendiri.
 
9. Kalian memakan nikmat Rabb kalian, namun tidak mensyukurinya.
 
10. Kalian mengubur mayit-mayit kalian dan tidak mengambil pelajaran darinya.
 
[Al-Hilyah,8/15-16]
 
 
Sumber: @IslamDiaries
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#DoaZikir, #sepuluhperkara, #sepuluhhal, #kabulkandoa, #doaterkabul, #do’a, #ijabah, #kabulkan, #doatertolak, #doatidakdikabulkan, #penyebab, #alasan #10hal #10perkara #terhalang #penghalang #nasihatulama
,

MENGAPA PEREMPUAN TIDAK BOLEH BERSUAMI LEBIH DARI SATU? (POLIANDRI)

MENGAPA PEREMPUAN TIDAK BOLEH BERSUAMI LEBIH DARI SATU? (POLIANDRI)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#MuslimahSholihah
 
MENGAPA PEREMPUAN TIDAK BOLEH BERSUAMI LEBIH DARI SATU?
>> Jika lelaki boleh beristri lebih dari satu, mengapa wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu (Poliandri)?”
 
Pertanyaan ini kadang terbesit di benak kita, atau bahkan digembar-gemborkan oleh sebagian aktivis feminis yang mengklaim sedang memerjuangkan kesetaraan gender. Mari kita simak jawabannya:
 
1. Ketentuan dari Allah
 
Aturan bahwa wanita tidak boleh memiliki beberapa suami dalam satu waktu adalah ketentuan Allah ﷻ. Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kepada Allah, kecuali menaati dan menerima dengan sepenuh hati, SETIAP ketentuan-Nya. Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan tunduk kepada hukum agama. Allah ﷻ berfirman:
 
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 
“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum di antara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung.” [QS. An Nuur: 51]
 
Tidaklah apa yang Allah tentukan untuk hamba-Nya, melainkan pasti memiliki hikmah yang besar bagi sang hamba. Namun sang hamba wajib pasrah kepada ketentuan itu, baik tahu akan hikmahnya, maupun tidak tahu hikmahnya. Kaidah fiqhiyyah mengatakan:
 
الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً
 
“Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.”
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: “Kaidah ini meliputi seluruh ajaran Islam, TANPA terkecuali. Sama saja, baik hal-hal Ushul (Pokok), maupun Furu’ (Cabang), baik yang berupa hubungan terhadap Allah, maupun terhadap sesama manusia. Allah ﷻ berfirman:
 
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
 
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [QS. An Nahl: 90]
 
Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setiap keadilan, kebaikan, silaturahim pasti diperintahkan oleh syariat. Setiap kekejian dan kemungkaran terhadap Allah, setiap gangguan terhadap manusia, baik berupa gangguan terhadap jiwa, harta, kehormatan, pasti dilarang oleh syariat. Allah juga senantiasa mengingatkan hamba-Nya tentang kebaikan perintah-perintah syariat, manfaatnya dan memerintahkan menjalankannya. Allah juga senantiasa mengingatkan tentang keburukan hal-hal dilarang agama, kejelekannya, bahayanya dan melarang mereka terhadapnya.” [Qawaid Wal Ushul Al Jami’ah, hal.27]
 
Adapun dalil tentang terlarangnya Poliandri, di antaranya firman Allah ﷻ:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا * وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ
 
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri. Tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya. (Dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” [QS. An Nisaa: 23-24]
 
Dalam Tafsir Ibni Katsir dijelaskan makna وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء maksudnya:
‘Diharamkan bagimu menikahi para wanita Ajnabiyah yang Muhshanat, yaitu yang sudah menikah’. Ibnu Katsir juga membawakan riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini:
 
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَصَبْنَا نِسَاءً مِنْ سَبْيِ أَوْطَاسَ، وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَكَرِهْنَا أَنْ نَقَعَ عَلَيْهِنَّ وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَتْ هذه الآية: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [قَالَ] فَاسْتَحْلَلْنَا فُرُوجَهُنَّ
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: “Kami mendapat wanita dari suku Authas yang ditawan. Para wanita itu memiliki suami lebih dari satu. Kami enggan bersetubuh dengan mereka, karena mereka memiliki suami. Kami pun bertanya kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah ayat (yang artinya):
‘Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki‘. Dengan itu kami pun mengganggap mereka halal dicampuri.” [Tafsir Ibni Katsir, 2/256]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَنَّ النِّكَاحَ فِي الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ …. وَنِكَاحٌ آخَرُ: يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ مَا دُونَ العَشَرَةِ، فَيَدْخُلُونَ عَلَى المَرْأَةِ، كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا، فَإِذَا حَمَلَتْ وَوَضَعَتْ، وَمَرَّ عَلَيْهَا لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا، أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ، حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا، تَقُولُ لَهُمْ: قَدْ عَرَفْتُمُ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ، فَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلاَنُ، تُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْتَنِعَ بِهِ الرَّجُلُ
 
“Pernikahan di masa Jahiliyah ada empat cara …(beliau lalu menyebutkannya)… jenis pernikahan yang lain (jenis ketiga), yaitu sejumlah orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh berkumpul, lalu masuk menemui seorang wanita. Setiap mereka menyetubuhinya. Setelah beberapa waktu sejak malam pengantin itu, jika ternyata ia hamil, ia pun memanggil semua suaminya. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi, hingga semua suaminya berkumpul. Wanita itu berkata: ‘Wahai suamiku, kalian sudah tahu apa yang kalian telah lakukan kepadaku, dan itu memang sudah hak kalian. Dan sekarang aku hamil. Dan anak ini adalah anakmu wahai Fulan’. Wanita itu menyebut salah satu nama suaminya sesuka dia, lalu menasabkan anaknya pada suaminya tersebut. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi.” [HR. Bukhari no.5127]
 
Rasulullah ﷺ menyifati Poliandri sebagai perilaku jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama:
 
كل ما نسب إلى الجاهلية فهو مذموم
 
“Setiap perkara yang dinisbatkan pada Jahiliyyah adalah sesuatu yang tercela.”
 
Jadi, mengapa Poliandri tidak dibolehkan? Jawabannya, karena Allah ﷻ telah menentukan demikian. Satu jawaban ini sejatinya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Jika masih ada yang penasaran lalu bertanya lagi ‘Kenapa sih kok bisa-bisanya Allah menentukan demikian?‘ Jawablah dengan firman Allah ﷻ:
 
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
 
“Allah tidak ditanyai oleh hamba, namun merekalah yang akan ditanyai oleh Allah.” [QS. Al Anbiya: 23]
 
2. Lelaki adalah Pemimpin Keluarga
 
Islam juga mengatur bahwa lelaki adalah pemimpin rumah tangga. Allah ﷻ berfirman:
 
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
 
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” [QS. An Nisaa: 34]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
 
“Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita bertanggung jawab terhadap urusan di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” [HR. Bukhari 893, Muslim 1829]
 
Oleh karena itu, seorang istri wajib taat kepada suaminya, selama bukan dalam perkara maksiat. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
 
“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya, akan dikatakan padanya kelak: ‘Masuklah ke dalam Surga, dari pintu mana saja yang engkau inginkan.” [HR. Ahmad 1661, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 1/660]
 
Nah, jika seorang wanita memiliki lebih dari satu suami, apakah organisasi rumah tangga akan berjalan dengan banyak pemimpin? Suami mana yang akan ditaati? Bagaimana jika para suami berselisih dan memberi perintah berlainan?
 
3. Cobaan Terbesar Bagi Lelaki adalah Wanita, Namun Tidak Sebaliknya
 
Cobaan terbesar dan terdahsyat serta paling menjatuhkan seorang lelaki pada titik terendahnya adalah wanita. Rasulullah ﷺ sering kali mewanti-wanti hal ini. Beliau ﷺ bersabda:
 
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
 
“Tidaklah aku tinggalkan cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki, selain wanita.” [HR. Bukhari 5096, Muslim 2740]
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
 
“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi. Kemudian Allah ingin melihat, bagaimana sikap kalian terhadapnya. Berhati-hatilah dari fitnah dunia, dan waspadalah terhadap wanita. Karena cobaan pertama yang melanda Bani Israil adalah wanita.” [HR. Muslim 2742]
 
Tentang godaan setan, Allah ﷻ berfirman:
 
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
 
“Sesungguhnya tipu-daya setan itu lemah.” [QS. An Nisaa: 76]
 
Namun tentang godaan wanita, Allah ﷻ berfirman:
 
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
 
“Sesungguhnya godaan wanita itu sangat dahsyat.” [QS. Yusuf: 28]
 
Oleh karena itulah Allah Al Hakim, Yang Maha Bijaksana, mensyariatkan poligami (baca: poligini) bagi laki-laki, sebagai salah satu jalan untuk meringankan cobaan dari godaan wanita. Namun sebaliknya, tidak kita dapati dalil yang menunjukkan, bahwa cobaan terbesar wanita adalah godaan pria. Ini adalah salah satu hikmah mengapa Poliandri tidak disyariatkan.
 
4. Menjaga Kejelasan Nasab
 
Dalam Islam, anak dinasabkan kepada ayahnya. Dan masalah nasab ini sangat urgen dalam Islam. Sampai-sampai mencela nasab dan menasabkan diri kepada selain ayah kandung dikategorikan oleh para ulama sebagai perbuatan dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
 
“Barang siapa menasabkan diri kepada selain ayah kandungnya, padahal ia tahu ayah kandungnya, maka Surga haram baginya.” [HR. Bukhari 4326, Muslim 63]
 
Sebagaimana juga hadis marfu’ dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu:
 
خِلاَلٌ مِنْ خِلاَلِ الجَاهِلِيَّةِ الطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ
 
“Di antara perbuatan orang Jahiliyyah adalah mencela nasab.” [HR. Bukhari 3850]
 
Di antara sebabnya, nasab menentukan banyak urusan, seperti dalam pernikahan, nafkah, pembagian harta warisan, dll.
 
Jika satu wanita disetubuhi oleh beberapa suami, maka tidak jelas anak yang lahir dari rahimnya adalah hasil pembuahan dari suami yang mana, sehingga tidak jelas akan dinasabkan kepada siapa.
 
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki‘, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah ﷻ kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari kebalikan sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau lebih, maka dunia akan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan.” [I’laamul Muwaqqi’in, 2/65]
 
Beberapa Syubhat (Kerancuan)
 
1. Jika yang menjadi kekhawatiran adalah percampuran nasab, bukankah sekarang sudah ada tes DNA?
 
Syaikh Abdullah Al Faqih hafizhahullah menjawab pertanyaan ini: ”Poliandri dapat menjadi sebab terjangkitnya berbagai penyakit berbahaya seperti AIDS atau yang lainnya. Selain itu, tidak adanya keteraturan dalam rumah tangga karena tidak adanya patokan nasab, dan anak-anak pun menjadi kacau. Adapun pemeriksaan medis yang sebutkan itu (cek DNA), tidak bisa dipastikan 100%. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran secara syari dalam penetapan nasab atau dalam mengingkarinya”. [Fatawa IslamWeb no.112109, http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=112109)
 
2. Kalau lelaki punya keinginan kepada banyak wanita karena alasan syahwat, bukankah wanita juga punya syahwat?
 
Ibnul Qayyim berkata: “Jika ada yang berkata, ‘Mengapa hanya memerhatikan dan mengangkat sisi kaum lelaki saja, serta hanya memenuhi kebutuhan syahwat lelaki saja sehingga mereka bisa berganti dari istri yang satu kepada istri yang lain sesuai kebutuhan syahwatnya? Padahal wanita juga memiliki panggilan syahwat‘. Kita jawab, wanita itu sebagaimana kebiasaan mereka, wajahnya terlindungi oleh cadar, dan berada di rumah-rumah mereka, gejolak mereka pun lebih dingin dibandingkan laki-laki. Pergerakan lahir dan batin mereka lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Oleh karena itulah lelaki yang diberi kekuatan dan gejolak panas, yang merupakan kunci penguasaan syahwat. Itu diberikan kepada laki-laki dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan kaum laki-laki pun mendapat cobaan karena hal itu, sedangkan wanita tidak. Sehingga dimutlakkan bagi laki-laki berupa banyaknya jumlah pernikahan yang bolehkan (dalam satu waktu), sedangkan wanita tidak. Ini adalah hal yang dikhususkan dan dilebihkan oleh Allah untuk kaum laki-laki. Sebagaimana juga Allah utamakan mereka dalam hal pengembanan risalah, kenabian, khilafah, kerajaan, kepemimpinan hukum, jihad dan hal lainnya.
 
Allah juga menjadikan lelaki pemimpin bagi wanita, yang berkewajiban menjaga maslahah istrinya, dan menjalani berbagai risiko dalam mencari penghidupan istrinya. Mereka menunggang kuda, menjelajah gurun, menghadapi berbagai bencana dan ujian demi kemaslahatan sang istri. Allah ﷻ itu Syakuur (Sebaik-baik Pemberi Ganjaran) dan Haliim (Maha Pemurah), sehingga Allah memberi balasan kepada kaum lelaki berupa kebolehan berpoligami, dan mengganti segala kesusahan mereka itu dengan membolehkan hal-hal yang tidak dibolehkan bagi wanita. Dan Anda yang berkata: jika Anda membandingkan antara cobaan bagi lelaki berupa lelah-letih, kerja keras, kesusahan yang dialami kaum lelaki demi masalahat istrinya dengan cobaan yang dialami kaum wanita yang berupa kecemburuan, Anda akan dapatkan, bahwa apa yang dialami kaum lelaki itu jauh lebih besar kadarnya. Inilah salah satu bentuk sempurnanya keadilan, kebijaksanaa dan kasih sayang Allah ﷻ. Segala puji bagi Allah, sebab memang Dialah yang memiliki segala pujian” [I’laamul Muwaqqi’in, 2/65-66]
 
3. Syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki
 
Karena syahwat wanita lebih besar dari lelaki, maka bagi wanita tidak cukup hanya satu suami. Demikian bunyi salah satu syubhat. Ibnul Qayyim membantah pernyataan ini: “Adapun perkataan seseorang, bahwa syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki, ini tidak benar. Syahwat itu sumbernya dari hawa panas. Hawa lelaki lebih panas dari wanita. Namun wanita, jika ia sendiri, kesepian, dan ia tidak bisa menahan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan syahwat dan memuaskan dirinya, maka ia pun dapat ditenggelamkan oleh syahwat, sehingga syahwat menguasai dirinya. Ketika tidak ada hal yang dapat menjadi pelampiasan, bahkan disertai perasaan kesepian, maka bisa terjadi apa yang terjadi. Sehingga ketika itu disangkalah, bahwa syahwat wanita lebih besar dari laki-laki. Ini tidak benar. Telah dibuktikan bahwa lelaki bisa mencampuri istrinya lalu mencampuri istrinya yang lain dalam satu waktu.
 
كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ
 
‘Nabi ﷺ biasa menggilir istri-istrinya dalam satu malam.‘
 
Bahkan Nabi Yusuf Sulaiman menggilir 90 istrinya dalam satu malam. Dan sudah kita ketahui bersama, bahwa wanita biasanya hanya memiliki satu kali klimaks. Jika seorang lelaki telah memuaskan seorang wanita hingga terpenuhi syahwatnya dan hilang nafsunya, wanita tersebut tidak akan meminta yang lain ketika itu. Maka sifat demikian sesuai dengan hikmah dari takdir Allah, dan hikmah ketetapan syariat bagi hamba dan umat.” [I’laamul Muwaqqi’in, 2/66]
 
Semoga bermanfaat.
 
 
Penulis: Yulian Purnama
[Artikel Muslim.Or.Id]
 
 

KENAPA SURAT AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI BASMALAH?

KENAPA SURAT AT TAUBAH TIDAK DIAWALI BASMALAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
KENAPA SURAT AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI BASMALAH?
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Ada dua versi penjelasan, mengapa di Surat at-Taubah tidak diawali dengan bacaan Basmalah:
 
Pertama: Tidak adanya Basmalah di awal Surat at-Taubah adalah ijtihad sahabat terkait urutan Alquran yang diajarkan Nabi ﷺ. Para sahabat menyimpulkan dari beliau, yang kemudian menjadi acuan penulisan dalam Mushaf Utsmani.
 
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menanyakan hal ini kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:
 
مَا حَمَلَكُمْ أَنْ عَمَدْتُمْ إِلَى الأَنْفَالِ وَهِىَ مِنَ الْمَثَانِى وَإِلَى بَرَاءَةَ وَهِىَ مِنَ الْمِئِينَ فَقَرَنْتُمْ بَيْنَهُمَا وَلَمْ تَكْتُبُوا بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَوَضَعْتُمُوهُمَا فِى السَّبْعِ الطُّوَلِ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ
 
Apa yang menyebabkan Anda memosisikan surat al-Anfal disambung dengan Surat at-Taubah, sementara Anda tidak menuliskan kalimat Basmalah di antara keduanya? Dan Anda letakkan di tujuh deret surat yang panjang. Apa alasan Anda?
 
Jawab Utsman:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا يَأْتِى عَلَيْهِ الزَّمَانُ وَهُوَ تَنْزِلُ عَلَيْهِ السُّوَرُ ذَوَاتُ الْعَدَدِ فَكَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الشَّىْءُ دَعَا بَعْضَ مَنْ كَانَ يَكْتُبُ فَيَقُولُ ضَعُوا هَؤُلاَءِ الآيَاتِ فِى السُّورَةِ الَّتِى يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا وَإِذَا نَزَلَتْ عَلَيْهِ الآيَةُ فَيَقُولُ ضَعُوا هَذِهِ الآيَةَ فِى السُّورَةِ الَّتِى يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا
 
Selama masa Rasulullah ﷺ mendapatkan wahyu, turun surat-surat yang ayatnya banyak. Ketika turun kepada beliau sebagian ayat, maka beliau akan memanggil sahabat pencatat Alquran, lalu beliau perintahkan, “Letakkan ayat-ayat ini di surat ini.” Ketika turun ayat lain lagi, beliau perintahkan, “Letakkan ayat ini di surat ini.”
 
Utsman melanjutkan:
 
وَكَانَتِ الأَنْفَالُ مِنْ أَوَائِلِ مَا أُنْزِلَتْ بِالْمَدِينَةِ وَكَانَتْ بَرَاءَةُ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ وَكَانَتْ قِصَّتُهَا شَبِيهَةً بِقِصَّتِهَا فَظَنَنْتُ أَنَّهَا مِنْهَا فَقُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلَمْ يُبَيِّنْ لَنَا أَنَّهَا مِنْهَا
 
Sementara surat al-Anfal termasuk surat yang pertama turun di Madinah. Sedangkan Surat at-Taubah, turun di akhir masa. Padahal isi at-Taubah mirip dengan surat al-Anfal. Sehingga kami (para sahabat) menduga, bahwa Surat at-Taubah adalah bagian dari surat al-Anfal. Hingga Rasulullah ﷺ wafat, beliau tidak menjelaskan kepada kami, bahwa at-Taubah itu bagian dari al-Anfal.
 
Lalu Utsman menegaskan:
 
فَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ قَرَنْتُ بَيْنَهُمَا وَلَمْ أَكْتُبْ بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَوَضَعْتُهَا فِى السَّبْعِ الطُّوَلِ
 
Karena alasan ini, saya urutkan al-Taubah setelah al-Anfal, dan tidak kami beri pemisah dengan tulisan Bismillahirrahmanirrahim, dan aku posisikan di tujuh surat yang panjang. [HR. Ahmad 407, Turmudzi 3366, Abu Daud 786, dan dihasankan at-Turmudzi dan ad-Dzahabi]
 
Alasan sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ini seolah menjelaskan latar belakang, mengapa di awal Surat at-Taubah tidak tertulis Basmalah. Yang sejatinya, ini merupakan hasil pemahaman sahabat terhadap Alquran yang mereka dapatkan dari Nabi ﷺ.
 
Kedua: Tidak adanya Basmalah di awal at-Taubah karena beda konten Basmalah dengan at-Taubah.
 
Basmalah menggambarkan keamanan dan kasih sayang Allah, sementara at-Taubah mennyebutkan tentang permusuhan Allah dan Rasul-Nya ﷺ kepada orang musyrikin dan orang munafik.
 
Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
 
لِـمَ لَمْ تَكْتُبْ فِي بَرَاءَة بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ؟
 
Mengapa Anda tidak menulis Bismillahirrahmanirrahim di awal Surat at-Taubah?
 
Jawab Ali bin Abi Thalib:
 
لِأَنَّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم أَمَانٌ ، وَبَرَاءَة نَزَلَت بِالسَّيْفِ ، لَيْسَ فِيهَا أَمَانٌ
 
Karena Bismillahirrahmanirrahim isinya damai, sementara Surat at-Taubah turun dengan membawa syariat perang. Di sana tidak ada damai. [HR. Hakim dalam al-Mustadrak 3273]
 
Penjelasan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah penjelasan mengenai hikmah tidak adanya Basmalah di Surat at-Taubah. Beliau menilik makna dari Basmalah dan makna dari Surat at-Taubah. Basmalah kalimat yang berisi rahmat Allah, memberikan kedamaian, keamanan. Sementara Surat at-Taubah merupakan pengumuman bagi orang musyrikin, bahwa Allah dan Rasul-Nya ﷺ memusuhi mereka dan menantang perang mereka.
 
Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
 
,

MENGAPA LAKI-LAKI DISIAPKAN BIDADARI SEDANGKAN WANITA TIDAK DISIAPKAN BIDADARA?

MENGAPA LAKI-LAKI DISIAPKAN BIDADARI SEDANGKAN WANITA TIDAK DISIAPKAN BIDADARA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
#MuslimahSholihah
 
MENGAPA LAKI-LAKI DISIAPKAN BIDADARI SEDANGKAN WANITA TIDAK DISIAPKAN BIDADARA?
 
Pertanyaan:
 
لماذا وعد الله الرجال في الجنة بالحور العين، ولم يعد النساء بشيء من ذلك؟ جزاكم الله خيرا
 
Mengapa Allah menjanjikan bidadari kepada laki-laki di Surga, sedangkan wanita tidak disiapkan sebagaimana laki-laki (bidadara)?
 
Jawaban:
 
الحكمة في ذلك -والله أعلم- أن الرجال هم القوامون على النساء، وأنهم إذا وعدوا بهذه الأشياء صار هذا أقرب إلى نشاطهم في طلب الآخرة، وحرصهم على طلب الآخرة، وعدم ركونهم إلى الدنيا الركون الذي يحول بينهم وبين المسابقة إلى الخيرات والنساء تابعات للرجال في الأغلب، فإذا رزق الرجل الحور العين في الجنة مع ما وعد الله به النساء المؤمنات من الخير العظيم والدرجات العالية في الجنة فلهن من الأجر ما يجعلهن زوجات للخيرين من الرجال في الجنة والرجل يعطى زيادة من الحور العين وليس في الجنة أذى ولا منافسة ولا ضرر كما يقع للضرات في الدنيا بل كل واحدة مع زوجها ولو معه آلاف النساء ما تتضرر بذلك ولا تندم من ذلك ولا تحزن من ذلك فالكل في خير وفي نعمة وفي راحة في أنس وطمأنينة اً.
 
Hikmah dari hal tersebut, wallahu a’lam, karena laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Jika laki-laki dijanjikan semisal ini, maka mereka akan lebih semangat dan berupaya dalam mencari Akhirat, dan tidak adanya kecondongan terhadap dunia, karena bisa menghalangi mereka dengan berlomba-lomba menuju kebaikan.
 
Wanita umumnya mengikuti laki-laki. Jika laki-laki (dijanjikan) diberikan bidadari di Surga, bersamaan dengan itu, Allah juga menjanjikan bagi wanita yang beriman, kebaikan yang besar dan kedudukan yang tinggi di Surga (yaitu mereka jauh lebih cantik dari bidadari, sehingga terkadang bidadari tidak ditoleh oleh suaminya sedikit pun, pent). Bagi mereka pahala yang menjadikan mereka istri bagi suami mereka yang baik di Surga (wanita di dunia akan mendapatkan suaminya di Surga, menjadi suami-istri abadi, pent).
 
Di Surga tidak ada gangguan, perselisihan dan bahaya, sebagaimana yang terjadi pada para madu (istri-istri) di dunia. Bahkan mereka bersatu (hatinya) bersama suami mereka. Walaupun bersama suaminya 1000 wanita, maka tidak membahayakan, tidak membuat menyesal dan bersedih. Semuanya berada dalam kebaikan, kenikmataan, kenyamanan dan ketenangan. [Fatwa syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/10391]
 
Catatan:
 
– Salah satu hikmahnya juga karena laki-laki bertugas mendidik wanita para istri mereka. Dan laki-laki akan diminta pertanggungjawaban terhadap istri mereka. Ketika si istri melakukan kemaksiatan, maka suami juga akan ditanya di Akhirat: “Mengapa engkau biarkan istrimu bermaksiat? Mengapa tidak kau didik?” Dan umumnya wanita terkadang mengingkari kebaikan suami mereka (sebagaimana dalam hadis) dan bidadari adalah sebagai motivasi serta hiburan bagi para suami dan laki-laki (misalnya semangat berperang dalam jihad).
 
Oleh karena itu jika si istri membangkang dan sulit dididik, maka para suami memiliki hiburan berupa bidadari. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
 
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا ؛ إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ: لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ ؛ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
 
“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, kecuali istrinya di Akhirat dari bidadari akan berkata: “Janganlah engkau mengganggunya. Semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu (sebentar) di sisimu. Sebentar lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami.” [HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 173]
 
– Wanita juga mendapatkan kenikmatan laki-laki yang ganteng, tubuhnya atletis dan penampilan yang sangat menarik. Yaitu suami mereka di dunia (jika suaminya masuk Surga). Para suami mereka akan diubah penampilannya menjadi sangat sempurna. Penduduk Surga akan menyerupai bentuk bapak mereka nabi Adam ‘alahissalam. Dan Nabi Adam adalah manusia yang sempurna, paling ganteng dan sempurna penampilannya, karena langsung diciptakan oleh tangan Allah Azza wa Jalla. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ آدَمَ
 
“Semua yang masuk Surga seperti bentuknya Nabi Adam.“ [HR Al-Bukhari no 3326]
 
Dalam riwayat yang lain:
 
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُوْلُوْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطُوْنَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُوْنَ … وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِيْنُ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ
 
“Sesungguhnya rombangan pertama yang masuk Surga seperti rembulan yang bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak membuang ludah, tidak beringus….istri-istri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai. Rupa mereka semua seperti rupa ayah mereka, Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit.“ [HR Al-Bukhari no. 3327]
 
Sebagaimana laki-laki, wanita juga ingin mendapatkan pasangan yang paras dan penampilannya indah. Maka para wanita Surga juga akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di Surga. Sebagaimana firman Allah:
 
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
 
“Mereka memeroleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik” [QS Az-Zumar: 34]
 
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
 
“Mereka di dalamnya memeroleh apa yang mereka kehendaki. Dan pada sisi Kami ada tambahannya” [QS Qaaf: 35]
 
Jika ada yang bertanya: “Nanti kalau berubah wajahnya, istrinya tidak kenal”?
 
Jawabannya: Allah Maha Mampu. Logikanya jika kita punya kenalan anak kecil (misalnya adik sepupu), parasnya kurang bagus, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian kita bertemu sekarang dengan keadaan wajahnya yang ganteng, tentu kita masih ingat si anak kecil tersebut sekarang sudah menjadi pemuda yang gagah.
 
– Jika ada yang bertanya: “Bagaimana jika wanita yang tidak punya suami di dunia, atau tidak sempat menikah, atau suaminya masuk Neraka”?
 
Jawaban: Mereka akan dipasangkan dengan laki-laki di Surga (misalnya laki-laki yang belum sempat menikah di dunia, jika mereka rida), karena tidak ada yang membujang di Surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
 
“Tidak ada seorang pun yang membujang di Surga.” [Lihat As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani]
 
– Tidak ada rasa cemburu dan sakit hati serta perselisihan bagi para istri (laki-laki yang memiliki lebih dari satu istri, maka di Surga ia juga dipasangkan dengan istri-istrinya).
 
Allah ta’ala berfirman:
 
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
 
“Dan Kami lenyapkan/hilangkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” [QS Al-Hijr: 47]
 
– Semua wanita dunia yang masuk Surga lebih tinggi kedudukannya daripada bidadari, mereka lebih cantik. Bahkan jika amal mereka baik, maka kecantikan mereka mengalahkan bidadari. Bisa jadi para bidadari yang sedemikian cantiknya dalam gambaran Alquran dan Sunnah, mereka hanya sebutir pasir di pantai, para bidadari tidak lagi ditoleh sedikit pun oleh suami wanita terebut di Surga. Oleh karena itu, para wanita bisa membuat cemburu bidadari di Surga, sesuai dengan amal dan kepatuhan mereka terhadap suami dalam perkara yang baik.
 
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
 
Penyusun: Raehanul Bahraen

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

Berkata Syaikh Utsaimin رحمه الله tentang Perang Uhud:

“Sungguh telah terjadi kekalahan menimpa kaum Muslimin disebabkan karena satu kemaksiatan (saja). Dan sekarang kita menginginkan pertolongan, sedangkan kemaksiatan di sisi kita amatlah banyak. [Al-Qoulul Mufid (1/289]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

Di antara jenis pakaian yang terlarang bagi pria adalah pakaian sutra. Pakaian ini terlarang bagi pria, namun dibolehkan bagi wanita.

Kebanyakan ulama, bahkan ada yang menukil sebagai konsensus (ijma’) mereka, bahwa memakai sutra murni bagi pria itu haram, kecuali jika dalam keadaan darurat. Dalil-dalil yang menunjukkan haramnya:

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutra, karena siapa yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak mengenakannya di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5633 dan Muslim no. 2069). Padahal pakaian penduduk Surga adalah sutra. Jadi seakan-akan hadis di atas adalah kinayah (ibarat) untuk tidak masuk Surga. Allah ta’ala berfirman mengenai pakaian penduduk Surga:

وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Dan pakaian mereka adalah sutra” (QS. Al Hajj: 23).

Juga terdapat riwayat dari Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلاَ الدِّيبَاجَ وَلاَ تَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِى صِحَافِهَا ، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِى الدُّنْيَا وَلَنَا فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian mengenakan pakaian sutra dan juga dibaaj (sejenis sutra). Janganlah kalian minum di bejana dari emas dan perak. Jangan pula makan di mangkoknya. Karena wadah semacam itu adalah untuk orang kafir di dunia, sedangkan bagi kita nanti di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5426 dan Muslim no. 2067).

Begitu pula dari ‘Umar bin Khottob, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ فِى الآخِرَةِ

“Sesungguhnya yang mengenakan sutra di dunia, ia tidak akan mendapatkan bagian di Akhirat” (HR. Bukhari no. 5835 dan Muslim no. 2068)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang kafir, mereka bisa mengenakan emas dan perak di dunia. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan orang Muslim, mereka akan mengenakan perak dan emas di Surga. Dan mereka akan mendapatkan kenikmatan yang lain yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 36)

Dari Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِى وَأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan bagi laki-laki dari umatku sutra dan emas, namun dihalalkan bagi perempuan.” (HR. Tirmidzi no. 1720).

Di antara hikmah kenapa sampai emas dan sutra dilarang:

  • 1- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam hadis Hudzaifah di atas.
  • 2- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan wanita.
  • 3- Berlebihan dalam mengenakan sutra bukanlah sifat jantan dari laki-laki. Memang laki-laki dituntut pula untuk berhias diri, namun tidak berlebih-lebihan. (Lihat Al Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom karya Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, 4: 207)

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3297-larangan-pria-memakai-pakaian-sutra.html

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (riba), dan kalian memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Daud Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 11]

Hadis yang mulia ini menjelaskan, bahwa sebab keterpurukan umat adalah karena dosa-dosa dan pelanggaran terhadap syariat. Tidak ada solusi untuk bangkit, kecuali kembali kepada agama. Dan tidak ada jalan untuk kembali kepada agama, kecuali dimulai dengan menuntut ilmu agama.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/827148344101316:0