Posts

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraTafsir

KEUTAMAAN MENGHAFAL SEPULUH AYAT SURAT AL KAHFI

Di antara keutamaan surat Al-Kahfi adalah jika sepuluh ayat pertama itu dihafal. Bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa yang dihafal adalah sepuluh ayat terakhir. Apa keutamaannya?

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)

Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ mengabarkan, bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama atau terakhir dari surat Al-Kahfi, maka ia terlindungi dari Dajjal.

Imam Nawawi berkata, “Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebab mendapatkan keutamaan seperti itu adalah karena di awal surat Al-Kahfi terdapat hal-hal menakjubkan dan tanda kuasa Allah. Tentu saja siapa yang merenungkannya dengan benar, maka ia tidak akan terpengaruh dengan fitnah Dajjal. Begitu pula akhir surat Al-Kahfi, mulai dari ayat,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan Neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Kahfi: 102) (Syarh Shahih Muslim, 6: 84)

Isi surat Al-Kahfi adalah:

  1. Diturunkannya Alquran sebagai pembimbing pada jalan yang lurus.
  2. Menghibur Nabi ﷺ, karena orang kafir yang belum beriman.
  3. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi.
  4. Nabi ﷺ diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir.
  5. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah).
  6. Janji pada orang beriman, bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.
  7. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia.
  8. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh.
  9. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja.
  10. Penyebutan kejadian pada Hari Kiamat.
  11. Pembacaan kitab catatan amal.
  12. Manusia ditampakkan kebenaran.
  13. Iblis enggan sujud pada Adam.
  14. Keadaan orang kafir ketika masuk Neraka.
  15. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran.
  16. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu.
  17. Kisah Nabi Musa dan Khidr.
  18. Kisah Dzulqarnain.
  19. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.
  20. Rahmat yang akan datang pada Hari Kiamat.
  21. Sia-sianya amalan orang kafir.
  22. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik.
  23. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat.
  24. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan saleh. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117)

Namun perlu dicatat keutamaan lainnya dari surat Al-Kahfi, yaitu tentang keutamaannya dibaca pada waktu Jumat. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Ashaab berkata, disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada waktu Jumat dan malam Jumatnya.” (Al-Majmu’, 4: 295).

Baca selengkapnya dalil tentang sunnah membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat di sini: https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html

Semoga bermanfaat dan bisa jadi amalan bermanfaat untuk persiapan menghadapi Hari Kiamat.

 

Referensi:

  • Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12247-keutamaan-menghafal-sepuluh-ayat-surat-al-kahfi.html

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
, ,

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama, #FatwaUlama

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL QURAN?

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المراد بأهل القرآن ليس الذين يحفظونه ويرتّلونه و إلى آخره .أهل القرآن هم الذين يعملون به حتّى ولو لم يحفظوه ، الذين يعملون بالقرآن بأوامره ونواهيه وحدوده ، هؤلاء هم أهل القرآن ، وهم أهل الله وخاصّته من خلقه . أمّا من , يحفظ القرآن , ويجيد التّلاوة , ويضبط الحروف , ويضيّع الحدود , فهذا ليس من أهل القرآن وليس من الخاصّة وإنّما هو عاص لله ولرسوله ومخالف للقرآن ، نعم. وكذلك أهل القرآن الذين يستدلّون به ولا يقدّمون عليه غيره في الاستدلال ويأخذون منه الفقه والأحكام والدّين هؤلاء هم أهل القرآن

Yang dimaksud dengan “Ahlul Quran” bukanlah semata-mata orang-orang yang menghapal Alquran, membacanya dengan tartil, dst..

Namun Ahlul Quran adalah orang-orang yang mengamalkan Alquran, meskipun dia belum menghapalnya. Orang yang mengamalkan Alquran, yaitu perintah-perintah, larangan-larangan, dan batasan-batasannya, merekalah “Ahlul Quran”, merekalah Ahlullah dan khaashshatuh (orang-orang khususNya) dari kalangan makhluk-Nya.

Adapun barang siapa yang menghapal Alquran, bagus bacaannya, tepat (pengucapan) huruf-hurufnya, NAMUN melanggar batas-batas, Maka dia TIDAK termasuk Ahlul Quran, tidak pula termasuk orang-orang khusus. Tapi dia adalah penentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi Alquran.

Ahlul Quran juga adalah orang-orang yang berdalil dengan Alquran dan tidak mendahulukan apapun di atas Alquran dalam berdalil. Mengambil fikih dan hukum-hukum dari Alquran. Merekalah Ahlul Quran. [Syarh Kitab al-‘Ubudiyyah]

 

Sumber: https://shahihfiqih.com/nasehat-ulama/siapakah-yang-dimaksud-ahlul-quran/

,

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

AL HAMMAADUUN - SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

Inginkah Anda mendapat julukan AL HAMMAADUUN? Perbanyaklah ucapan ALHAMDULILLAH, baik dalam keadaan senang maupun sedih. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya, hamba Allah yang paling mulia pada Hari Kiamat adalah ‘Al-Hammaaduun’ (Orang yang paling banyak mengucapkan Hamdalah).” [Hadis Shahih riwayat Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir]

Di dalam hadis ini dinyatakan salah satu kriteria bagi seorang hamba untuk meraih kemuliaan di Hari Kiamat, yaitu banyak mengucapkan “Alhamdulillah”, banyak memuji Allah atas segala nikmat dan keagungan-Nya. Karena barang siapa yang banyak memuji-Nya, berarti ia telah mengenal sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, serta mengakui segala karunia dan nikmat-nikmat-Nya.

Hamdalah mencakup memuji Allah dalam segala keadaan, baik pada hal-hal yang menyenangkan, maupun pada musibah atau perkara-perkara yang kurang disukai. Seperti dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam hadis A’isyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, apabila melihat apa yang ia sukai menyatakan, ‘Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat.’ Dan bila melihat (mendapati) sesuatu yang tidak beliau sukai mengucapkan, ‘Alhamdulillah ‘ala kulli haal.” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 4727]

Ketika diberi kenikmatan kemudian mengucapkan Hamdalah, maka itulah bentuk syukur dengan lisan. Adapun ketika ia diberi cobaan, maka hendaklah pula mengucapkan Hamdalah, karena pada hakikatnya, ada banyak pahala yang bisa diraih dengan banyaknya ujian, yaitu dengan bersabar, sebagaimana juga musibah bisa menghapus dosa.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir dan banyak mengucapkan Hamdalah, sehingga kita bisa memeroleh kemuliaan di Hari Kiamat dengan predikat sebagai ‘Hammaaduun’ (Orang-orang yang banyak mengucapkan Hamdalah).

Sumber:

http://bbg-alilmu.com/archives/29218

http://www.programjodoh.com

,

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk Neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.

Di antaranya ada tiga hadis tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.

Hadis Pertama

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah ﷺ. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi ﷺ.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di Neraka”, jawab Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 140).

Hadis Kedua

عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats Tsauri mengatakan hadis berikut ini:

Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”

Beliau ﷺ bersabda: “Nasihatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata: “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan kepada orang-orang Muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab: “Bagaimana kalau tak ada orang Muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata: “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di Akhirat atau berhasil memertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i no. 4086 dan Ahmad 5: 294. Hadis ini Shahih menurut Al Hafizh Abu Thohir)

Hadis Ketiga

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya, atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih).

Maksud Syahid dan Macamnya

Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari:

لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ

“Karena Allah ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan Surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 142).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:

  1. Syahid yang mati ketika berperang melawan Kafir Harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia, dan mendapat pahala di Akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.
  2. Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini adalah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan. Begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadis Shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di Akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.
  3. Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di Akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).

Kesimpulan

Boleh membela diri ketika berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok, saat tidak ada di sekitar kita yang menolong, dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan. Membela diri dari tukang begal atau tukang rampok saat itu hingga mati dicatat sebagai syahid di Akhirat. Sedangkan untuk hukum di dunia, ia tetap dimandikan dan dishalatkan.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10453-membela-diri-dari-tukang-begal-hingga-syahid.html

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

INGAT JUMAT INGAT BACA AL KAHFI

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jumat atau hari Jumat, yaitu membaca Surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca Surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) pada waktu Jumat karena pahala yang begitu besar, sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar, yaitu Nabi ﷺ.

Hadis pertama:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barang siapa yang membaca Surat Al Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dia dan Kakbah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahihsebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6471)

Hadis kedua:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca Surat Al Kahfi pada waktu Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan pada waktu Jumat dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?]

 

——

Sumber: https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html

, ,

AYAT KURSI LATINNYA DAN TERJEMAHANNYA BAHASA INDONESIA

#BelajarAlquran
 
AYAT KURSI LATINNYA DAN TERJEMAHANNYA BAHASA INDONESIA
 
Ayat Kursi dengan tulisan latinnya dan tulisan Arab, disertai terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Ayat Kursi full dari awal hingga akhir. Video ayat kursi dan terjemahannya ini kami penggal bacaannya untuk memudahkan memelajari dan menghapalnya. Kami tambahkan tulisan latinnya beserta tulisan Arab. Pembacaan ayat kami baca dengan pelan agar dapat diikuti dengan mudah.
 
Ayat Kursi merupakan satu ayat dari dari Surat Al-Baqarah, yaitu ayat ke-255. Ayat Kursi memiliki keutamaan dan faidah yang menakjubkan. Insya Allah di lain waktu kita akan bahas mengenai dahsyatnya Ayat Kursi.
 
Semoga video Ayat Kursi Latinnya dan Terjemahannya Bahasa Indonesia ini bermanfaat untuk Anda.
 
PENTING!
Video bacaan Ayat Kursi ini kami susun dengan diulang-ulang. Sebelumnya kami ingin mengepaskan menjadi 100x dengan tujuan agar diketahui bahwa jika Anda mengulang-ulang dengan menyimak video Ayat Kursi ini sampai akhir video berarti Anda sudah mengulang menghafal 100x Ayat Kursi (kami tidak ada maksud yang lainnya selain itu), namun ini akan membuat videonya menjadi terlalu panjang jika dulang hingga 100 kali. Oleh karena itu kami mencukupkan durasinya hanya 30 menit-an.
 
 
Sumber: Banghen http://banghen.com
, ,

MENGAJI IQRO 1 SERI 5

#BelajarIqro
 
MENGAJI IQRO 1 SERI 5
 
Cara Cepat Belajar Membaca Alquran untuk Pemula (Mudah)
BELAJAR IQRO merupakan salah satu cara (metode) belajar membaca Alquran untuk pemula. Mengaji Iqro ini juga merupakan cara cepat membaca Alquran untuk anak-anak dan dewasa. Video ini adalah video BELAJAR IQRO 1 dengan menggunakan buku Iqro jilid 1. Ini adalah pertemuan seri pertama, halaman pertama. Di video ini kita belajar bersama bagaimana cara membaca Alquran dengan mudah, cepat, dan dengan membiasakan membaca dengan tajwid. Semoga video BELAJAR IQRO ini bermanfaat untuk saya dan Anda. Dan nantikan video selanjutnya, insya Allah.
 
Sumber: Banghen http://banghen.com
, ,

MENGAJI IQRO 1 SERI 4

#BelajarIqro

MENGAJI IQRO 1 SERI 4

Cara Cepat Belajar Membaca Alquran untuk Pemula (Mudah)

BELAJAR IQRO merupakan salah satu cara (metode) belajar membaca Alquran untuk pemula. Mengaji Iqro ini juga merupakan cara cepat membaca Alquran untuk anak-anak dan dewasa. Video ini adalah video BELAJAR IQRO 1 dengan menggunakan buku Iqro jilid 1. Ini adalah pertemuan seri pertama, halaman pertama. Di video ini kita belajar bersama bagaimana cara membaca Alquran dengan mudah, cepat, dan dengan membiasakan membaca dengan tajwid. Semoga video BELAJAR IQRO ini bermanfaat untuk saya dan Anda. Dan nantikan video selanjutnya, insya Allah.

Sumber: Banghen http://banghen.com

Tautan: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/videos/1904166676492156/

 

, ,

MENGAJI IQRO 1 SERI 3

#BelajarIqro
 
MENGAJI IQRO 1 SERI 3
 
Cara Cepat Belajar Membaca Alquran untuk Pemula (Mudah)
BELAJAR IQRO merupakan salah satu cara (metode) belajar membaca Alquran untuk pemula. Mengaji Iqro ini juga merupakan cara cepat membaca Alquran untuk anak-anak dan dewasa. Video ini adalah video BELAJAR IQRO 1 dengan menggunakan buku Iqro jilid 1. Ini adalah pertemuan seri pertama, halaman pertama. Di video ini kita belajar bersama bagaimana cara membaca Alquran dengan mudah, cepat, dan dengan membiasakan membaca dengan tajwid. Semoga video BELAJAR IQRO ini bermanfaat untuk saya dan Anda. Dan nantikan video selanjutnya, insya Allah.
 
Sumber: Banghen http://banghen.com