Posts

, ,

TIGA PERANGAI MULIA YANG WAJIB DIAMALKAN WALAU BERAT

Tiga 3 Sifat Perangai Mulia Wajib Amalkan Berat
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
TIGA PERANGAI MULIA YANG WAJIB DIAMALKAN WALAU BERAT
 
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
 
أعزُّ الأشياء ثلاثة : الجودُ من قِلَّة ، والورعُ في خَلوة ، وكلمةُ الحقِّ عند من يُرجى ويُخاف
 
Tiga perkara yang paling berat:
 
1) Kedermawanan dalam kekurangan.
2) Menjaga diri dari maksiat dalam kesendirian.
3) Mengucapkan yang benar di hadapan orang yang diharapkan maupun orang yang ditakuti. [Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 162]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
#tigaperangaimulia #tigaakhlakmulia #tigasifatmulia #akhlak #akhlaq #mulya #dermawandisaatkurang #tidakmaksiatwalausendirian #jujur #berkatabenar #ucapkanbenar #nasihatulama #petuahulama
, ,

MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA

MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA
 
Dalam sebuah nasihat berharga Nabi ﷺ kepada Abu Dzar disebutkan:
 
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
 
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut. Dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]
 
Di antara faidah hadis ini disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam Al Fawaid:
“Nabi ﷺ menggabungkan antara takwa dan berakhlak yang mulia. Karena takwa akan memperbaiki hubungan antara hamba dan Allah, sedangkan berakhlak yang mulia memperbaiki hubungan antar sesama. Takwa pada Allah mendatangkan cinta Allah, sedangkan akhlak yang baik mendatangkan kecintaan manusia.” [Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah]
 
Milikilah selalu sifat takwa dan akhlak yang mulia. Mohonlah selalu pada Allah sifat yang demikian.
 
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
 
Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.
 
Artinya:
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina. (HR. Muslim no. 2721)
 
An Nawawi rahimahullah mengatakan: “’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” [Syarh Muslim, 17/41]
 
Sifat al ghina yaitu dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qonaah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #adabakhlak, #adabIslami,  #akhlak,  #akhlaq,  #takwa,  #taqwa,  #ikutikejelekandengankebaikan  #menghapuskankejelekan,  #berakhlaklahdenganmanusiadenganakhlakyangbaik #doazikir, #dzikir, #zikir, #doa, #mohon, #memohon #akhlakmulia, #akhlaqmulia
,

MANUSIA TIDAK AKAN PERNAH PUAS DENGAN HARTA

MANUSIA TIDAK AKAN PERNAH PUAS DENGAN HARTA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 
MANUSIA TIDAK AKAN PERNAH PUAS DENGAN HARTA
 
Itulah sifat dan watak orang zaman ini, kecuali yang Allah beri taufik untuk menyikapi harta dengan benar. Ada yang menghabiskan waktunya hanya untuk urusan dunianya, sampai lupa melakukan ketaatan dan lalai akan kehidupan kekal di Akhirat.
 
Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:
“Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima tobat siapa saja yang mau bertobat.” [HR. Bukhari no. 6438]
 
Dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin yang disusun di antaranya oleh Syaikh Musthofa Al Bugho, yang dimaksud dengan “Tidak ada yang memenuhi perutnya kecuali tanah” adalah ia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati, lantas di kuburnya isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.
 
Hadis di atas mengandung beberapa pelajaran:
  • Semangatnya manusia untuk terus menerus mengumpulkan harta dan kemewahan dunia lainnya. Semangat seperti ini tercela, jika sampai membuat lalai dari ketaatan, dan hati menjadi sibuk dengan dunia daripada Akhirat.
  • Allah menerima tobat setiap hamba. [Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 30]
 
 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#manusiatidakakanpernahpuasdenganharta, #adabakhlak, #akhlaq, #akhlak, #rakus, #tamak, #tidakpernahpuas, #satulembahemas, #dualembahemas, #isiperutnyadipenuhidengantanah kuburan #tidakadayangmemenuhiperutnyakecualitanah #1lembahemas #2lembahemas

, ,

BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN

BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN
 
Al-Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
 
«قال العلماء: لا يَغُرُّ المَدحُ مَن عَرَفَ نفسَهُ!»
“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (menyadari dirinya memiliki banyak aib dan kekurangan -pent).” [Hilyatul Auliya’, jilid 7 hlm. 332]
 
 
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatulama, #petuahulama #pujian, #tertipupujian, #aib, #sadariaibsendiri, #adab, #akhlak #akhlaq
,

APA HUKUM MENJAWAB SALAM YANG DIUCAPKAN UNTUK SUATU ROMBONGAN?

APA HUKUM MENJAWAB SALAM YANG DIUCAPKAN UNTUK SUATU ROMBONGAN?
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
APA HUKUM MENJAWAB SALAM YANG DIUCAPKAN UNTUK SUATU ROMBONGAN?
 
Pendapat Jumhur (Mayoritas) Ulama menyatakan, bahwa menjawab salam bagi orang yang ada pada suatu rombongan atau majelis adalah FARDU KIFAYAH.
 
Sebagaimana seorang bila ia hendak memberi salam kepada orang-orang yang ada di suatu majelis, ia tidak perlu mengulangi salamnya sebanyak orang yang ada di majelis tersebut. Demikian pula TIDAK DIWAJIBKAN atas setiap orang yang ada di majelis tersebut untuk menjawab salam. Akan tetapi bila sudah ada salah seorang dalam majelis tersebut yang menjawab salam, maka kewajiban atas yang lainnya GUGUR.
 
Berikut ini adalah nukilan pernyataan Imam Nawawi rahimahullah mengenai permasalahan ini:
 
فَإِنْ كَانَ الْمُسْلِم عَلَيْهِ وَاحِدًا تَعَيَّنَ عَلَيْهِ الرَّدّ، وَإِنْ كَانُوا جَمَاعَة كَانَ الرَّدّ فَرْض كِفَايَة فِي حَقّهمْ، فَإِذَا رَدّ وَاحِد مِنْهُمْ سَقَطَ الْحَرَج عَنْ الْبَاقِينَ، وَالْأَفْضَل أَنْ يَبْتَدِئ الْجَمِيع بِالسَّلَامِ، وَأَنْ يَرُدّ الْجَمِيع. ( مسلم بشرح النووي جـ7 صـ394 )
 
”Bila salam diucapkan untuk seorang Muslim, maka wajib atas dirinya untuk menjawab salam. Bila mereka satu rombongan, maka menjawab salam atas mereka hukumnya Fardu Kifayah. Artinya, bila sudah ada SEORANG di antara mereka yang MENJAWAB salam, maka yang lainnya TIDAK terbebani kewajiban untuk menjawab salam. Namun yang lebih utama adalah hendaknya setiap orang yang ada dalam rombongan tersebut memulai untuk memberi salam, dan setiap di antara mereka menjawab salam.” [Syarh Shahih Muslim, 7/394]
 
Jadi kesimpulannya, hukum menjawab salam bagi suatu rombongan adalah FARDU KIFAYAH. Bila sudah ada salah seorang yang berada di antara rombongan, maka yang lainnya TIDAK TERBEBANI kewajiban untuk menjawab salam. Walaupun seandainya setiap orang di antara mereka hendak menjawab salam, maka itu lebih afdhal.
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #adab, #akhlak, #akhlaq, #hukum, #jawab, #menjwab, #salam, #assalamualaikum, #rombongan, #grup, #group, #saturombongan, #satugrup
,

PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI

PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#MuslimahSholihah, #FatwaUlama
 
PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI
 
Pertanyaan:
Apa pertimbangan pokok seorang wanita memilih suami. Apakah menolak (calon) suami yang saleh karena kepentingan dunia akan mendapatkan hukuman dari Allah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Sifat terpenting bagi seorang wanita untuk memilih pinangan adalah akhlak dan agama. Sementara harta dan keturunan adalah sekunder. Yang terpenting, orang yang meminang memiliki agama dan akhlak mulia. Karena jika orang tersebut memiliki agama dan akhlak yang baik, maka seorang wanita tidak akan disia-siakannya sedikit pun juga. Kalau dia tetap sebagai istrinya, maka dia akan diperlakukan dengan baik. Kalau pun harus bercerai, dilakukan pula dengan cara baik-baik. Kemudian orang yang punya agama dan akhlak akan mendatangkan barokah baginya dan keturunannya, di samping dia dapat belajar akhlak dan agama darinya.
 
Selain dari itu, hendaknya Anda menghindarinya. Apalagi jika orangnya meremehkan pelaksanaan shalat, atau dikenal sebagai peminum khamar, na’uzubillah. Adapun orang yang tidak pernah shalat sama sekali, mereka adalah kafir, dia tidak halal bagi wanita Muslimah, dan juga tidak untuk para wanita muslimah lainnya. Yang penting seorang wanita menfokuskan kepada akhlak dan agama. Sementara nasab (silsiah keturunan), kalau mendapatkan, maka hal itu lebih bagus. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا أَتَاكُمْ مَن تَرْضَونَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ
 
“Kalau datang kepada Anda orang yang Anda ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.”
 
Kalau mendapatkan yang sekufu (sepadan), maka itu lebih baik.
 
[Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, dari kitab Fatawa Al-Mar’ah]
 
 
 
,

BERWAJAH CERIALAH

BERWAJAH CERIALAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AdabAkhlak

BERWAJAH CERIALAH

Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam adalah bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sedikit di antara kita yang mau memerhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain pada dakwah adalah dengan akhlak mulia.

Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Lukman pada anaknya:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Lukman: 18]

Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut:

“Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya, atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu, dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah, dan  berwajah cerialah di hadapan orang lain” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 11: 56]

Dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga, walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” [HR. Muslim no. 2626]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/rumaysho/posts/10154487130761213:0

,

JANGAN MENIUP MINUMAN PANAS

JANGAN MENIUP MINUMAN PANAS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AdabAkhlak, #MutiaraSunnah

JANGAN MENIUP MINUMAN PANAS

Salah satu adab minum adalah kita dilarang bernafas di dalam wadah, dan juga dilarang meniup-niup saat minum. Adab ini kadang tidak diperhatikan oleh kita, karena kita ingin buru-buru segera menikmati minuman yang sedang panas. Padahal menunggu sebentar atau tanpa meniup-niup, itu lebih selamat bahkan lebih sehat. Karena perlu diketahui, bahwa saat meniup-niup seperti itu, sejatinya yang keluar adalah udara yang tidak bersih. Dengan alasan inilah Nabi ﷺ melarangnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ « أَهْرِقْهَا ». قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ « فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ »

“Nabi ﷺ melarang meniup-niup saat minum. Seseorang berkata: “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?” Beliau ﷺ bersabda: “Tumpahkan saja.” Ia berkata: “Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan nafas.” Beliau ﷺ bersabda: “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat mimum) itu dari mulutmu.” [HR. Tirmidzi no. 1887 dan Ahmad 3: 26. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih].

Di atas disebutkan mengenai bernafas di dalam wadah, itu pun terlarang. Artinya, saat minum dilarang mengambil nafas dalam wadah. Yang dibolehkan adalah bernafas di luar wadah. Sedangkan meniup-niup saat minum, sebagaimana kata Ibnu Hajar, itu lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata:

“Meniup-niup minuman dalam kondisi ini lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah.”

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/6930-meniup-niup-minuman-yang-panas.html

,

MEMULIAKAN TAMU

MEMULIAKAN TAMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AdabAkhlak, #MutiaraSunnah

MEMULIAKAN TAMU

Seseorang dianjurkan menjamu tamunya dengan penuh perhatian selama sehari semalam, dan sesuai kemampuan selama tiga hari. Sedangkan bila lebih dari itu dinilai sebagai sedekah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia perhatian dalam memuliakan tamunya.”
Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud perhatian di sini, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺmenjawab: “Yaitu perhatikanlah ia sehari semalam, dan menjamu tamu itu selama tiga hari. Siapa yang ingin melayaninya lebih dari tiga hari, maka itu adalah sedekah baginya.” [HR. Bukhari no. 6019 dan Muslim no. 48, dari Syuraih Al ‘Adawi]

Para ulama menjelaskan, bahwa makna hadis ini adalah, seharusnya tuan rumah betul-betul perhatian melayani tamunya di hari pertama (dalam sehari semalam), dengan berbuat baik dan berlaku lembut padanya. Adapun hari kedua dan ketiga, hendaklah tuan rumah memberikan makan pada tamunya sesuai yang mudah baginya, dan tidak perlu ia lebihkan dari kebiasaannya. Adapun setelah hari ketiga, maka melayani tamu di sini adalah sedekah dan termasuk berbuat baik. Artinya, jika ia mau, ia lakukan dan jika tidak, tidak mengapa. [Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 21/31]

Imam Asy Syafi’i rahimahullah dan ulama lainnya mengatakan: “Menjamu tamu merupakan bagian dari akhlak  mulia yang biasa dilakukan oleh orang yang nomaden dan orang yang mukim.” [Lihat Syarh Al Bukhari libni Baththol, 17/381]

Sudah sepatutnya kita dapat mencontoh akhlak yang mulia ini.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://muslim.or.id/1546-adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com