Posts

, ,

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin. Jangan pula kalian mencari-cari aib/kesalahan mereka. Karena, sesungguhnya orang yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan cari-cari aib yang ada pada dirinya. Dan barang siapa yang Allah cari-cari aibnya, maka Allah akan ungkap aibnya tersebut, meskipun dia ada di dalam rumahnya” [HR. Abu Daawud No. 4880]
 
Hal ini adalah yang harus dilakukan oleh seorang muhtasib dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menutupi aib orang yang berbuat maksiat, selama ia tidak melakukannya terang-terangan, dan tidak terdapat alasan yang syari untuk membukanya.
 
Sehingga tidak dibenarkan seorang muhtasib berdakwah kepada orang tertentu tanpa memperhatikan etika dalam berdakwah. Misalnya menasihati seseorang yang melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi, dengan terang-terangan di depan umum. Karena hal ini akan menimbulkan kebencian pada diri orang yang didakwahi tersebut, sehingga ia menolak ajakannya, walaupun ia tahu, bahwa itu adalah ajakan yang benar.
 
Oleh karena itu Imam Syafii berkata:
“Barang siapa menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barang siapa menasihati saudaranya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan menghinakannya.”
 
Alangkah baiknya jika seorang muhtasib benar-benar memahami masalah ini, sehingga ia tidak menasihati seseorang kecuali di tempat yang jauh dari pendengaran dan penglihatan orang lain. Jika hal ini dilaksanakan dengan baik dan ikhlas, insya Allah hati orang yang diajak akan mudah terbuka.
 
 
Kitab ‘Haqiqah Amar ma’ruf Nahi Mungkar’ DR. Muhammad Al-Ammar
 
 
Penyusun: Arinal Haq
 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#aib #ghibah #busybody #menasehati #menasihat #secaraterangterangan #diamdiam #muhtasib #adabakhlak, #adabberdakwah #menutupiaib, #orangyangberbuatmaksiat #mencaricariaib #sembunyisembunyi #menasihati #berimandenganlisannya

, ,

BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN

BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BAGI YANG SADAR, TAK AKAN TERTIPU PUJIAN
 
Al-Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
 
«قال العلماء: لا يَغُرُّ المَدحُ مَن عَرَفَ نفسَهُ!»
“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (menyadari dirinya memiliki banyak aib dan kekurangan -pent).” [Hilyatul Auliya’, jilid 7 hlm. 332]
 
 
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatulama, #petuahulama #pujian, #tertipupujian, #aib, #sadariaibsendiri, #adab, #akhlak #akhlaq
,

SETIAP YANG ADA PADA KITA ADALAH AIB, JAGALAH LISANMU

SETIAP YANG ADA PADA KITA ADALAH AIB, JAGALAH LISANMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SETIAP YANG ADA PADA KITA ADALAH AIB, JAGALAH LISANMU
 
إذا رمت أن تحيا سليماً من الردى | ودينك موفور وعرضك صين
فلا ينطقن منك اللسان بسوأةٍ | فكلك سوؤات وللناس السن
وعيناك إن أبدت إليك معايباً | فدعها وقل يا عين للناس أعين
وعاشر بمعروفٍ وسامح من اعتدى | ودافع ولكن بالتي هي أحسن
 
ديوان الإمام الشافعي / 114
المخلاة / 130
 
Jika engkau ingin hidup tanpa kehinaan,
(Yang mana) agama dan kehormatanmu senantiasa terjaga,
Maka janganlah terucap dari lisanmu keburukan seseorang,
Karena setiap yang ada padamu adalah aib, dan manusia memiliki lisan (untuk mengumbar aibmu).
 
Jika tampak pada kedua matamu aib orang lain,
Tinggalkanlah… dan katakan:
“Wahai mata (yang melihat aib orang lain), mereka juga punya mata (yang melihat aibku).”
 
Dan bergaullah engkau dengan baik, serta maafkan orang yang berbuat zalim kepadamu.
Atau engkau balas (kezaliman itu) namun dengan cara baik dan bijak.
 
(Diwan al Imam Asy Syafi’i rahimahullah)
 
 
Penulis: Muhammad Gazali Abdurrahim Arifuddin, حفظه الله تعالى
Sumber: IslamDiaries

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#jagalahlisanmu, #aib, #keburukan, #aiborang lain, #setiapadapadakitaaib, #janganumbaraiboranglain

,

AIB YANG SEBENARNYA

AIB YANG SEBENARNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

AIB YANG SEBENARNYA

Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata:

ليس العيب أن يخطئ الشخص، ولكن العيب أن يظهر له الحق ثم لا يرجع إليه.

“Bukanlah aib, seseorang melakukan kesalahan. Tetapi aib adalah ketika kebenaran nampak baginya, namun kemudian dia tidak mau kembali kepadanya.”

 

[Kaset “Al-Asilah al-Imaratiyyah”]

Sumber || https://twitter.com/channel_moh/status/847029090431520774

KEUTAMAAN MENUTUPI AIB SEORANG MUSLIM

KEUTAMAAN MENUTUPI AIB SEORANG MUSLIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

KEUTAMAAN MENUTUPI AIB SEORANG MUSLIM

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia, kecuali Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat.”

[HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1904431459789656:0

,

SELAMAT MENJADI LEBIH BAIK

SELAMAT MENJADI LEBIH BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SELAMAT MENJADI LEBIH BAIK

Bismillah

Akhi Ukhti…

Kenapa ada sebagian di antara kita yang sampai hari ini tidak berubah menjadi lebih baik?!

Padahal secara umur sudah matang.

Dari sisi pendidikan cukup, bahkan lebih dari yang lainnya.

Namun perilakunya masih tetap seperti yang lalu.

Karakternya masih kaku dan temperamental.

Lisannya pedas dan tajam bak pisau.

Kalau aku boleh urun rembuk dalam masalah ini, di antara penyebabnya:

Adalah karena sang pelaku merasa kalau dirinya sudah baik, atau berpendapat kalau aku memang seperti ini, terus mau apa?!

Perasaan bahwa dirinya telah baik, akan menghalangi seseorang untuk berubah kepada yang lebih baik

Dirinya sudah sempurna. Ini sudah cukup.

Jiwa kita tak ubahnya seperti sebuah mobil.

Ia harus masuk bengkel untuk perawatan.

Apalagi kalau memang ada yang rusak.

Akan tetapi sebagian orang tidak merasa, kalau mobilnya sedang rusak, karena dia bukan ahlinya.

Untuk dia, selama masih bisa dikendarai, berarti mobil itu bagus.

Padahal ada banyak hal yang perlu diperbaiki, kalau dia sadar.

Maka kau harus memerhatikan dan merawat mobilmu secara berkala.

Apalagi setelah dipakai bertahun-tahun.

Kau harus ganti oli, tambah air, tambah angin, ganti kampas rem dsb…

Dan tentunya engkau harus mencari orang yang ahli dalam hal tersebut…

Bagaimana dengan jiwa manusia?

Ada empat cara untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan diri, agar kita bisa memerbaiki dan berubah menjadi lebih baik, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama:

  1. Carilah seorang guru/ustadz yang memahami penyakit-penyakit jiwa (di masa kini sangat jarang guru yang seperti ini). Bila kau mendapatkannya, maka duduklah di sisinya, dan ceritakan tentang dirimu, kemudian dengarkan pencerahan darinya.
  1. Carilah teman yang jujur dan setia, yang senantiasa memberikan nasihat (bila melihat kekurangan, ia menegurmu). Bukan yang hanya cari manfaat darimu, walaupun biasanya engkau tidak akan nyaman bersamanya. Tapi demi menjadi lebih baik, bersabarlah.
  1. Dengarkanlah kritikan dari orang yang tidak menyukaimu. Karena biasanya sebuah aib yang tidak terlihat oleh kawan, akan tampak jelas di mata lawan. Tidak perlu kau mengritik balik. Bangunlah dirimu dengan kritikkannya.
  1. Bergaulah dengan masyarakat. Yang kau lihat dibenci, maka tinggalkan. Dan yang dianggap baik, kau lakukan. Tentunya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Jangan sok merasa sudah sempurna!

Sejatinya kita diciptakan dari air mani yang hina.

Ada banyak aib dan kekurangan kita yang kita tidak sadar dengannya.

erlapang dadalah bila ditegur dan diingatkan.

Selamat menjadi lebih baik.

Barakallahu fiik.

 

Penulis: Al-Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah M.A hafizhahullah

, ,

KEUTAMAAN MEMANDIKAN, MENGAFANI, DAN MENGUBURKAN MAYIT

KEUTAMAAN MEMANDIKAN, MENGAFANI, DAN MENGUBURKAN MAYIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KEUTAMAAN MEMANDIKAN, MENGAFANI, DAN MENGUBURKAN MAYIT

Sungguh besar keutamaan memandikan, mengafani dan menguburkan mayit Muslim. Ia akan mendapat pahala yang besar, dengan syarat ikhlas karena Allah dan tata caranya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan bersikap menutupi aib yang ada pada mayit dan tidak menyebarkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً ، وَمَنْ حَفَرَ لَهُ فَأَجَنَّهُ أُجْرِىَ عَلَيْهِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ كَفَنَّهُ كَسَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سُنْدُسِ وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang memandikan seorang Muslim kemudian menyembunyikan (aibnya), Allah akan ampuni untuknya 40 kali. Barang siapa yang menggalikan kubur untuknya, kemudian menguburkannya, akan dialirkan pahala seperti pahala memberikan tempat tinggal (rumah – pen) hingga Hari Kiamat. Barang siapa yang mengafaninya, Allah akan memberikan pakaian untuknya pada Hari Kiamat, sundus (pakaian dari kain sutera tipis)  dan istabraq (pakaian sutera tebal) dari Surga (H.R alBaihaqy, atThobarony, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

,

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

ومن تفرغ لعيوب الناس تفرغ الناس لعيوبه.

“Siapa yang menyibukkan diri atau meluangkan waktunya untuk membicarakan aib-aib orang lain, maka orang lain pun akan menyibukkan diri untuk membicarakan aib-aibnya.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 224]

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662710877243007/?type=3&theater

KHUROFAT DEMONSTRASI

KHUROFAT DEMONSTRASI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KHUROFAT DEMONSTRASI

Belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa “Demonstrasi” adalah bagian dari amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan. Namun kita harus melihat dari kacamata syari, apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh pemujanya sebagai metode amar ma’ruf nahi munkar, merupakan manhaj (cara beragama) Nabi yang mulia ﷺ dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan? Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.

Metode Nabi ﷺ dalam Ber-Amar Ma’ruf

Rasulullah ﷺ bersabda: “Agama adalah nasihat” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau ﷺ menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya,  para pemimpin kaum Muslimin serta orang-orang awamnya.” (HR. Muslim no. 55).

Agama kita mensyariatkan untuk memberi nasihat. Namun tidaklah nasihat tersebut disampaikan kecuali dengan cara yang baik, tidak dengan membuka aib penguasa. Simaklah baik-baik sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara, maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu (yang diinginkan). Dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati)” (Shahih, riwayat Ahmad, Al Haitsami dan Ibnu Abi Ashim).

Apakah seseorang dapat menerima saran kita dengan baik, jika kita jelek-jelekkan serta kita umbar aibnya di depan umum? Bagaimana jika kejengkelan hatinya telah mendahului nasihat kita?

Jatuh dalam Riba yang Paling Mengerikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang Muslim tanpa alasan” (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad). Kehormatan seorang Muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini, tidak jarang akan engkau temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang Muslim dengan mencelanya.

Fitnah Wanita dan Ikhtilath

Hampir di setiap gerakan massa diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas BERTENTANGAN dengan syariat islam, karena Allah melarang wanita untuk keluar dari rumahnya, kecuali dengan alasan yang syari. Selain itu, hal ini akan menimbulkan ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia ﷺ berikut ini bagi mereka. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari).

Tasyabbuh (Meniru) dengan Kaum Kuffar

Demonstrasi adalah produk Barat yang jelas-jelas menganut sistem kuffar. Maka tidak pantas bagi seorang Muslim untuk memasang label ‘Islami’, karena memang Islam TIDAK mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang Islami. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Sesungguhnya Islam tidak akan menang dengan cara yang menyelisihi syariat, namun Islam akan menang dengan cara yang benar, yang dibangun di atas akidah yang benar, dan jalan yang telah ditunjukkan Nabi Muhammad ﷺ. Maka sesungguhnya kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan mengikuti Rasul ﷺ, BUKAN dengan menyelisihi beliau ﷺ.

 ***

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

[Artikel www.Muslim.or.id]

https://Muslim.or.id/213-khurofat-demonstrasi.html

, ,

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Ustadz_Sunnah

JAWABAN RINGKAS TENTANG PERSATUAN KEBUN BINATANG

Persatuan Kebun Binatang mungkin sebuah ungkapan yang tidak elok untuk menggambarkan persatuan sebagian orang, dalam keadaan akidah dan manhaj yang berbeda-beda. Namun terlepas dari persoalan cocok atau tidaknya ungkapan tersebut, izinkan kami meluruskan lima poin kesalahpahaman terhadapnya:

Qiyas dengan kebun binatang dari sisi apanya?

Jawab: Dari sisi perbedaan akidah dan manhaj yang tidak mungkin disatukan. Sama dengan yang terjadi di kebun binatang, jenis hewannya berbeda-beda namun dalam satu kebun yang sama. Mungkin ini yang dimaksud. Sekali lagi kami tidak hendak membahas cocok atau tidaknya pemilihan ungkapannya, namun dari segi maknanya. Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لا يمكن الاجتماع مع اختلاف المنهج والعقيدة

“Tidak mungkin bersatu, jika berbeda manhaj dan akidah.” [Al-Ajwibah Al-Mufidah: 93]

Para ulama Salaf mencontohkan persatuan dalam maslahat bersama kaum Muslimin. Coba sebutkan peperangan setelah zaman Khulafaur Rasyidin yang murni hanya diikuti oleh Ahlussunnah. Lihatlah perang Ainun Jalut, Fathul Andalus, Hiththin, bahkan Fathul Qasthanthiniyah yang jelas-jelas disebut dalam hadis. Siapa yang memiliki andil besar dalam mewujudkannya, apakah Ahlussunnah menurut peristilahan mereka?

Jawab: Wajib berjihad bersama pemerintah Muslim yang baik maupun yang jelek. Karena Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Siapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan siapa yang bermaksiat terhadapku, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Dan siapa yang taat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah taat kepadaku. Dan siapa yang bermaksiat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya seorang pemimpin adalah tameng, dilakukan peperangan di belakangnya dan dijadikan sebagai pelindung.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

أَيْ يُقَاتَلُ مَعَهُ الْكُفَّارُ وَالْبُغَاةُ وَالْخَوَارِجُ وَسَائِرُ أَهْلِ الْفَسَادِ وَالظُّلْمِ مُطْلَقًا

“Maknanya: Berperang hendaklah dilakukan bersama pemimpin, untuk melawan orang-orang kafir, pemberontak, Khawarij dan semua orang yang melakukan kerusakan dan kezaliman, secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 12/230]

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata:

واعلم أن جور السلطان لا ينقص فريضة من فرائض الله عز وجل التي افترضها على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم؛ جوره على نفسه، وتطوعك وبرك معه تام لك إن شاء الله تعالى، يعني: الجماعة والجمعة معهم، والجهاد معهم، وكل شيء من الطاعات فشارك فيه، فلك نيتك

“Ketahuilah, kezaliman penguasa tidak mengurangi suatu kewajiban kepada Allah ‘azza wa jalla, yang Allah wajibkan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ (yaitu menunaikan hak Penguasa). Karena kezalimannya adalah dosa yang membahayakannya, adapun ketaatanmu dan kebaikanmu kepadanya akan dibalas sempurna untukmu insya Allah ta’ala. Yaitu: Tetaplah melakukan sholat berjamaah, sholat Jumat dan berjihad bersamanya, dan dalam semua bentuk ketaatan, bergabunglah dengannya (jangan memberontak). Maka engkau akan mendapatkan sesuai dengan niatmu.” [Syarhus Sunnah, hal. 113]

 

Ini dalam jihad syari, jihad yang dipimpin Kepala Negara. Bagaimana mungkin disamakan dengan perbuatan yang menyelisihi syariat?

Beliau mengatakan, bahwa hanya ketika ada permasalahan mereka bisa bersatu, setelah itu cakar-cakaran.

Jawabannya memang dalam hal seperti inilah seharusnya Ahlul Qiblah bersatu.

Lalu pertanyaan ke beliau: Kalau bukan dalam momen seperti ini kita bersatu, maka kapan antum bisa bersatu dengan kaum Muslimin lainnya agar antum tidak terkesan hizbi?

Jawabannya: Masih terlalu banyak momen yang syari untuk bersatu, seperti dalam sholat Jumat, sholat Jamaah, jihad syari dan semua amalan yang dianjurkan berjamaah dengan seluruh kaum Muslimin.

Beliau bilang, ketika ada masalah besar seperti ini bersatu, setelah itu cakar-cakaran.

Jawabannya: Sepertinya kita tidak pernah cakar-cakaran dengan kaum Muslimin lainnya, baik dalam keadaan genting ataupun aman. Atau bukannya mereka yang suka mencakar-cakar kaum Muslimin?

Jawab: Kalimat beliau umum, yaitu sifat umumnya golongan-golongan yang menyimpang. Adapun mencakar kaum Muslimin, apabila yang dimaksud adalah mengingatkan penyimpangan sebagian kaum Muslimin agar tidak diikuti oleh kaum Muslimin yang lain adalah termasuk nasihat.

Katanya berilmu dan ajari ilmu dulu baru bersatu, kita bilang justru karena ilmu kita tentang Sirah dan Tarikh serta manhaj Ahlussunnah yang benar, menyebabkan kita bersatu dalam masalah ini.

Jawab: Maksud beliau adalah seperti yang diingatkan oleh imam besar ahli hadis abad ini tentang kesalahan cara bersatu kelompok Ikhwanul Muslimin. Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

قاعدتهم هي كتل الناس جمعهم على ما بينهم من خلافات عقدية أو سلوكية أو فقهية ثم ثقف كتل ثم ثقف، على هذا قامت دعوتهم طيلة هذه السنين الطويلة، لكن الواقع يشهد أن لا شيء هناك سوى التكتيل وليس هناك شيء يسمى بالتثقيف

“Kaidah mereka (Ikhwanul Muslimin) adalah menghimpun dan mengumpulkan manusia walau berbeda-beda akidah, akhlak atau fikih, kemudian barulah didik mereka. Himpun lalu didik. Berdasarkan inilah tegak dakwah mereka dalam kurun waktu yang panjang ini. Akan tetapi kenyataannya, tidak ada yang mereka lakukan selain menghimpun, dan tidak ada yang namanya pendidikan (secara hakiki dalam dakwah mereka).” [Kaset Silsilatul Huda wan Nur: 609]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

إن دعوة الإخوان المسلمين لما كانت قائمة على أساس التكتيل ثم لا شيء من الثقافة، وكانت دعوة السلفيين قائمة على التثقيف وليس على التكتيل

“Sungguh, dakwah Ikhwanul Muslimin ketika ia dibangun di atas dasar penghimpunan, kemudian tidak ada sedikit pun pendidikan (yang hakiki). Maka dakwah para pengikut Salaf dibangun di atas dasar pendidikan, dan bukan semata penghimpunan.” [Kaset Silsilatul Huda wan Nur: 609]

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/706867676129384:0

 

Artikel Terkait:

SAUDARAKU MAAFKAN ORANG YANG MENASIHATIMU DAN LURUSKAN LOGIKAMU

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/694547880694697:0