Posts

,

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangPiutang
#FatwaUlama

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

>> Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah mengutangi orang itu mendapatkan pahala? Dan apakah wajib mencatat utang?

Jawaban:

Al Qardh (utang), atau yang dikenal banyak orang dengan At Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah, dan di dalamnya terdapat pahala, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al Baqarah: 195].

Dan tidak mengapa seseorang untuk berutang, karena Nabi ﷺ terkadang berutang. Maka utang hukumnya mubah, bagi orang yang hendak berutang, dan sunnah bagi orang yang mengutangi.

Namun orang yang mengutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut utang tersebut kepada orang yang ia utangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya: “Saya kan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan utang kepadamu…” atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” [QS. Al Baqarah: 264].

Adapun soal mencatat utang, jika harta yang diutangkan adalah milik sendiri, maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” [QS. Al Baqarah: 282].

 

Dan boleh saja jika tidak mencatatnya, apalagi jika utangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang diutangkan adalah miliki orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim, dan karena suatu maslahah ia mengutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap harta anak yatim. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” [QS. Al An’am: 154]

[Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah]

 

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/24150-fatwa-ulama-apakah-utang-wajib-dicatat.html

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

,

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatShalatNabi
#MutiaraSunnah

HUKUM SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMAK

Shalat Qashar

Dari Muhammad bin Ja’far: ”Telah bercerita kepadaku Syu’bah, dari Yahya bin Yazid Al-Hanna’i yang menuturkan: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Sedangkan aku pergi ke Kufah, maka aku shalat dua rakaat hingga aku kembali. Kemudian Anas berkata: “Artinya: Adalah Rasulullah ﷺ, manakala keluar sejauh tiga mil atau tiga farskah (Syu’bah ragu), dia mengqashar shalat. (Dalam suatu riwayat): Dia shalat dua rakaat”. (Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/129) dan Al-Baihaqi (2/146).

Syaikh Al Albani menilai hadis ini sanadnya Jayyid (Bagus). Semua perawinya tsiqah,yakni para perawi Asy-Syaikhain, kecuali Al-Hanna’i di mana dia adalah perawi Muslim. Namun segolongan orang-orang tsiqah juga telah meriwayatkan darinya.

Dan hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim (2/145), Abu Dawud (1201), Ibnu Abi Syaibah (2/108/1/2). Juga diriwayatkan darinya oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (Q. 99/2) dari beberapa jalur yang berasal dari Muhammad bin Ja’far, tanpa dengan ucapan Al-Hanna’i: “Sedangkan aku pergi ke Kufah….sampai aku kembali”. Meskipun ini tambahan yang benar. Bahkan oleh karenanya, hadis ini berlaku. Demikian pula hadis ini juga dikeluarkan oleh Abu Awannah (2/346) dari jalur Abu Dawud (dia adalah Ath-Thayalisi), dia berkata: “Telah bercerita kepadaku Syu’bah. Namun Ath-Thayalisi tidak meriwayatkannya dalam Musnad-nya”.

(Al-Farsakh) berarti tiga mil. Dan satu mil adalah sejauh mata memandang ke bumi, di mana mata akan kabur ke atas permukaan tanah, sehingga tidak mampu lagi menangkap pemandangan. Demikianlah penjelasan Al-Jauhari.

Namun dikatakan pula, batas satu mil adalah jika sekira memandang kepada seseorang di kejauhan, kemudian tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, dan dia hendak pergi atau hendak datang, seperti keterangan dalam Al-Fath (2/467). Dan menurut ukuran sebagian ulama sekarang adalah sekitar 1680 meter.

Kandungan Hukumnya

Hadis ini menjelaskan, bahwa jika seseorang pergi sejauh tiga farsakh (satu farsakh sekitar 8 km), maka dia boleh mengqashar shalat. Al-Khuththabi telah menjelaskan dalam Ma’alimus Sunan (2/49): “Meskipun hadis ini telah menetapkan, bahwa jarak tiga farsakh merupakan batas, di mana boleh melakukan qashar shalat, namun sungguh saya tidak mengetahui seorang pun dari ulama fikih yang berpendapat demikian”.

Dalam hal ini ada beberapa pertimbangan:

Bahwa hadis ini memang tetap seperti semula, namun Imam Muslim mengeluarkannya dan tidak dinilai lemah oleh lainnya.

Hadis ini tidak berbahaya dan boleh saja diamalkan. Soal tidak mengetahui adanya seorang pun ulama fikih yang mengatakan demikian, itu tidak menghalangi untuk mengamalkan hadis ini. Tidak menemukan, bukan berarti tidak ada.

Sesungguhnya perawinya telah mengatakan demikian, yaitu Anas bin Malik. Sedang Yahya bin Yazid Al-Hanna’i, sebagai perawinya juga telah berfatwa demikian, seperti keterangan yang telah lewat. Bahkan telah berlaku pula dari sebagian sahabat yang melakukan shalat qashar dalam perjalanan yang lebih pendek daripada jarak itu. Maka Ibnu Abi Syaibah (2/108/1) telah meriwayatkan pula dari Muhammad bin Zaid bin Khalidah, dari Ibnu Umar yang menuturkan. “Shalat itu boleh diqashar dalam jarak sejauh tiga mil”. Hadis ini sanadnya Shahih. Seperti yang telah Syaikh Al Albani jelaskan dalam Irwa’ul Ghalil (no. 561).

Kemudian diriwayatkan dari jalur lain yang juga berasal dari Ibnu Umar, bahwa dia berkata: “Sesunguhnya aku pergi sesaat pada waktu siang, dan aku mengqashar (shalat)”.

Hadis ini sanadnya juga Shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath (2/467). Kemudian dia meriwayatkan dari Ibnu Umar (2/111/1).

“Sesungguhnya dia mukim di Makkah, dan manakala dia keluar ke Mina, dia mengqashar (shalat),” Hadis ini sanadnya juga Shahih, dan dikuatkan. Apabila penduduk Makkah hendak keluar bersama Nabi ﷺ ke Mina, dalam haji Wada’, maka mereka mengqashar shalat juga, sebagaimana sudah tidak ada lagi dalam kitab-kitab hadis. Sedangkan jarak antara Makkah dan Mina hanya satu farsakh. Ini seperti keterangan dalam Mu’jamul Buldan.

Sementara itu Jibilah bin Sahim memberitahukan: “Aku mendengar Ibnu Umar berkata: “Kalau aku keluar satu mil, maka aku mengqashar shalat”

Hadis ini disebutkan pula oleh Al-Hafidz dan dinilainya Shahih.

Hal ini tidak menafikan terhadap apa yang terdapat dalam Al-Muwatha maupun lainnya dengan sanad-sanadnya yang Shahih, dari Ibnu Umar, bahwa dia mengqashar dalam jarak yang jauh daripada itu. Juga tidak menafikan jarak perjalanan yang lebih pendek daripada itu. Nash-nash yang telah Syaikh Al Albani sebutkan adalah jelas memerbolehkan mengqashar shalat dalam jarak yang lebih pendek daripada itu. Ini tidak bisa disanggah, terlebih lagi karena adanya hadis yang menunjukkan lebih pendek lagi daripada itu.

Al-Hafidzh telah menandaskan di dalam Al-Fath (2/467-468): “Sesunguhnya hadis itu merupakan hadis yang lebih Shahih dan lebih jelas dalam menerangkan soal ini. Adapun ada yang berbeda dengannya, mungkin soal jarak diperbolehkannya mengqashar, di mana bukan batas akhir perjalanannya.

Apalagi Al-Baihaqi juga menyebutkan, bahwa Yahya bin Yazid bercerita: “Saya bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Saya keluar Kufah, yakni Bashrah, saya shalat dua rakaat dua rakaat, sampai saya kembali. Maka Anas berkata: (Kemudian menyebutkan hadis ini)”.

Jadi jelas, bahwa Yahya bin Yazid bertanya kepada Anas tentang diperbolehkannya mengqashar shalat dalam bepergian, bukan tentang tempat di mana dimulai shalat qashar. Kemudian yang benar dalam hal ini adalah, bahwa soal qashar itu tidak dikaitkan dengan jarak perjalanan, tetapi dengan melewati batas daerah, di mana seorang telah keluar darinya. Al-Qurthubi menyanggahnya sebagai suatu yang diragukan, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan. Jika yang dimaksudkannya adalah bahwa jarak tiga mil itu tidak bisa dijadikan pegangan adalah bagus, akan tetapi tidak ada larangan untuk berpegang pada batas tiga farsakh. Karena tiga mil memang terlalu sedikit, maka diambil yang lebih banyak sebagai sikap berhati-hati.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Hatim bin Ismail, dari Abdurrahman bin Harmilah yang menuturkan: “Aku bertanya kepada Sa’id bin Musayyab: “Apakah boleh mengqashar shalat dan berbuka di Burid dari Madinah?” Dia menjawab: “Ya”. Wallahu a’lam. [Syaikh Al Albani mengatakan sanad atsar ini, menurut Ibnu Abi Syaibah (2/15/1) adalah Shahih.]

Diriwayatkan dari Allajlaj, dia menceritakan: “Kami pergi bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu sejauh tiga mil, maka kami diberi keringanan dalam shalat dan kami berbuka”.

Hadis ini sanadnya cukup memadai untuk perbaikan. Semua adalah tsiqah, kecuali Abil Warad bin Tsamamah, di mana hanya ada tiga orang meriwayatkan darinya. Ibnu Sa’ad mengatakan: “Dia itu dikenal sedikit hadisnya”.

Atsar-atsar itu menunjukkan diperbolehkan melakukan shalat qashar dalam jarak yang lebih pendek daripada apa yang terdapat dalam hadis tersebut.

Ini sesuai dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu anhum. Karena dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, kata safar (bepergian) adalah mutlak, tidak dibatasi oleh jarak tertentu, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’al,.“ yang artinya:

“Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat….” [An-Nisaa: 101]

Dengan demikian, maka tidak ada pertentangan antara hadis tersebut dengan atsar-atsar ini. Karena ia memang tidak menafikan diperbolehkannya qashar dalam jarak bepergian yang lebih pendek daripada yang disebutkan di dalam hadis tersebut.

Oleh karena itu, Al-Allamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (juz I, hal. 189) mengatakan: “Nabi ﷺ tidak membatasi bagi umatnya pada jarak tertentu untuk mengqashar shalat dan berbuka. Bahkan hal itu mutlak saja bagi mereka mengenai jarak perjalanan itu. Sebagaimana Nabi ﷺ memersilakan kepada mereka untuk bertayamum dalam setiap bepergian. Adapun mengenai riwayat tentang batas sehari, dua hari atau tiga hari, sama sekali tidak benar. Wallahu ‘alam”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Setiap nama di mana tidak ada batas tertentu baginya dalam bahasa maupun agama, maka dalam hal itu dikembalikan kepada pengertian umum saja, sebagaimana ‘bepergian” dalam pengertian kebanyakan orang yaitu bepergian, di mana Allah mengaitkannya dengan suatu hukum”.

Para ulama telah berbeda pendapat mengenai jarak perjalanan diperbolehkannya qashar shalat. Dalam hal ini ada lebih dari dua puluh pendapat. Namun apa yang kami sebutkan dari pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyah adalah yang paling mendekati kebenaran, dan lebih sesuai dengan kemudahan Islam.

Pembatasan dengan sehari, dua hari, tiga hari atau lainnya, seolah juga mengharuskan mengetahui jarak perjalanan yang telah ditempuh, yang tentu tidak mampu bagi kebanyakan orang. Apalagi untuk jarak yang belum pernah ditempuh sebelumnya.

Dalam hadis tersebut juga ada makna lain, yakni bahwa qashar itu dimulai dari sejak keluar dari daerah. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

Sebagaimana dalam kitab Nailul Authar (3/83) di mana penulisnya mengatakan:  “Sebagian ulama-ulama Kufah, manakala hendak berpergian memilih shalat dua rakaat, meskipun masih di daerahnya. Sebagian mereka ada yang berkata:”Jika seseorang itu naik kendaraan, maka qashar saja kalau mau”.

Sementara itu Ibnul Mundzir lebih cenderung kepada pendapat yang pertama. Di mana mereka sepakat, bahwa boleh qashar setelah meninggalkan rumah. Namun mereka berbeda mengenai sesuatu sebelumnya. Tapi hendaknya seseorang menyempurnakan sesuatu yang perlu disempurnakan, sehingga dia diperbolehkan mengqashar shalat. Ibnul Mundzir berkata lagi: “Sungguh saya tidak mengetahui bahwa Nabi ﷺ mengqashar shalat dalam suatu perjalanannya, kecuali setelah keluar dari Madinah”.

Syaikh Al Albani menemukan: Sesungguhnya hadis-hadis yang semakna dengan hadis ini adalah banyak. Syaikh Al Albani telah mengeluarkan sebagian darinya dalam Al-Irwa’ yaitu dari hadis Anas, Abi Hurairah, Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Silakan periksa no. 562!

Adapun mengenai shalat qashar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berpendapat: “Qashar shalat itu dianjurkan, bukan wajib, walau dari zhahir nas terlihat wajib, sebab di sana sini masih banyak nas lainnya yang menunjukkan tidak wajib. Safar yang bisa membolehkan qashar shalat, berbuka puasa, menyapu dua sepatu atau dua kaos kaki, adalah tiga hari lamanya. Hal ini masih diperselisihkan ulama. Sebagian mereka mensyaratkan, bahwa jarak qashar itu harus mencapai sekitar 81 Km. Sebagian lainnya tidak menentukan jarak tertentu, yang penting sesuai dengan adat yang berlaku, sebab syara’ tidak menentukannya. Dalam suatu nazham disebutkan: “Setiap perkara yang timbul dan tak ada ketentuan syara’, maka lindungilah dengan ketentuan adat suatu tempat (‘uruf)“.

Dengan demikian, jika telah berlaku hukum safar, baik menurut jarak atau ‘uruf, maka setiap orang patut mengikutinya, baik dalam hal qashar shalat, berbuka puasa atau menyapu sepatu, dalam waktu tiga hari lamanya. Jika tidak ada kesulitan, maka puasa lebih baik tetap dipenuhi, bagi yang tengah dalam perjalanan.

Qashar Dalam Perjalanan

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam berpendapat sebagai berikut:

Qashar di sini berlaku untuk shalat-shalat empat rakaat, yaitu Zuhur, Ashar dan Isya. Dinukil dari Ibnul Mundzir adanya ijma’, bahwa tidak ada qashar dalam shalat Maghrib dan Subuh. Tidak ada sebab untuk qashar ini kecuali perjalanan, karena ini merupakan rukhshah yang ditetapkan sebagai rahmat bagi musafir, dan adanya kesulitan yang dialaminya.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhum, dia berkata: ‘Aku menyertai Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak melebihkan shalat dalam perjalanan dari dua rakaat, begitu pula yang dilakukan Abu Bakar, Umar dan Utsaman”.

Makna Hadis

Abdullah bin Umar menuturkan, bahwa dia pernah menyertai Nabi ﷺ dalam perjalan beliau. Dia juga pernah menyertai Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam perjalanan mereka. Ternyata masing-masing di antara mereka senantiasa mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua rakaat, dan tidak lebih dari dua rakaat itu.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Para ulama saling berbeda pendapat tentang qashar, apakah itu wajib ataukah rukhshah yang disunnatkan pelaksanaannya?

Tiga Imam, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad membolehkan penyempurnaan shalat, namun yang lebih baik adalah mengqasharnya. Sedangkan Abu Hanifah mewajibkan qashar, yang juga didukung Ibnu Hazm. Dia berkata: “Fardhunya musafir ialah shalat dua rakaat”.

Dalil orang yang mewajibkan qashar ialah tindakan Rasulullah ﷺ yang senantiasa mengqashar dalam perjalanan. Hal ini dapat ditanggapi, bahwa perbuatan tidak menunjukkan kewajiban. Begitulah pendapat jumhur. Mereka juga berhujjah dengan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha di dalam Ash-Shahihaian: “Shalat diwajibakan dua rakaat, lalu ditetapkan shalat dalam perjalanan, dan shalat orang yang menetap disempurnakan.

Hujjah ini dapat ditanggapi dengan beberapa jawaban. Yang paling baik ialah, ini merupakan perkataan Aisyah yang tidak dimarfu’kan kepada Nabi ﷺ. Sementara Aisyah juga tidak mengikuti masa difardhulkannya shalat.

Adapun dalil-dalil jumhur tentang tidak wajibnya qashar ialah firman Allah “Maka tidaklah mengapa kalian mengqashar shalat kalian” [An-Nisa: 101]

Penafian kesalahan di dalam ayat ini menunjukkan, bahwa qashar itu merupakan rukhshah dan bukan sesuatu yang dipastikan. Di samping itu, dasarnya adalah penyempurnaannya. Adanya qashar, karena dirasa shalat itu terlalu panjang. Dalil lainnya adalah hadis Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengqqashar dalam perjalanan dan menyempurnakannya, pernah puasa dan tidak puasa [Diriwayatkan Ad-Daruquthni, yang menurutnya, ini hadis Hasan]

Dalil-dalil jumhur dapat ditanggapi sebagai berikut: Ayat ini disebutkan tentang qashar sifat dalam shalat khauf dan hadis tentang hal ini dipermasalahkan. Sampai-sampai Ibnu Taimiyah berkata: “Ini merupakan hadis yang didustakan terhadap Rasulullah ﷺ”.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam mengatakan, sebaiknya musafir tidak meninggalkan qashar, karena mengikuti Rasulullah ﷺ dan sebagai cara untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan orang yang mewajibkannya, dan memang qashar inilah yang lebih baik menurut mayoritas ulama.

Dikutip dari Ibnu Taimiyah di dalam Al-Ikhtiyarat, tentang kemakruhan menyempurnakannya. Dia menyebutkan nukilan dari Al-Imam Ahmad, yang tidak mengomentari sahnya shalat orang yang menyempurnakan shalat dalam perjalanan, Ibnu Taimiyah juga berkata: “Telah diketahui secara mutawatir, bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa shalat dua rakaat dalam perjalanan. Begitu pula yang dilakukan Abu Bakar dan Umar setelah beliau. Hal ini menunjukkan, bahwa dua rakaat adalah lebih baik. Begitulah pendapat mayoritas ulama.

Kesimpulan Hadis

  • Pensyaratan qashar shalat empat rakaat dalam perjalanan menjadi dua rakaat saja.
  • Qashar merupakan sunnah Rasulullah ﷺ dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidun dalam perjalanan mereka.
  • Qashar bersifat umum dalam perjalanan haji, jihad dan segala perjalanan untuk ketaatan. Para ulama juga memasukkan perjalanan yang mubah. Menurut An-Nawawy, jumhur berpendapat bahwa dalam semua perjalanan yang mubah boleh dilakukan qashar. Sebagian ulama tidak membolehkan qashar dalam perjalanan kedurhakaan. Yang benar, rukhshah ini bersifat umum dan sama untuk semua orang.
  • Kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya dan keluwesan syariat ini, yang memberi kemudahan dalam beribadah kepada makhluk. Karena perjalanan lebih sering mendatangkan kesulitan, maka dibuat keringanan untuk sebagian shalat, dengan mengurangi bilangan rakaat shalat. Jika tingkat kesulitan semakin tinggi seperti karena memerangi musuh, maka sebagian shalat juga diringankan.
  • Perjalanan di dalam hadis ini tidak terbatas, tidak dibatasi dengan jarak jauh. Yang lebih baik ialah dibiarkan menurut kemutlakannya. Lalu rukhshah diberikan kepada apapun yang disebut perjalanan. Pembatasanya dengan tempo tertentu atau jarak farsakh tertetntu, tidak pernah disebutkan di dalam nash. Syaihul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Perjalanan tidak pernah dibatasi oleh syariat, tidak ada pembatasan menurut bahasa. Hal ini dikembalikan kepada tradisi manusia. Apa yang mereka sebut dengan perjalanan, maka itulah perjalanan”

Shalat Jamak

“Adalah Rasulullah ﷺ dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau ﷺ mengakhirkan Zuhur, hingga beliau ﷺ mengumpulkannya dengan Ashar. Lalu beliau ﷺ melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau ﷺ hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau ﷺ menyegerakan Ashar bersama Zuhur, dan melakukan shalat Zuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau ﷺ berjalan. Dan apabila beliau ﷺ hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau ﷺ mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’, dan apabila beliau ﷺ berangkat setelah Maghrib, maka beliau ﷺ menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (1220), At-Tirmidzi (2/438) Ad-Daruquthni (151), Al-Baihaqi (3/165) dan Ahmad (5/241-242), mereka semua memerolehnya dari jalur Qutaibah bin Sa’id: ” Telah bercerita kepadaku Al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abi Habib dari Abi Thufail Amir bin Watsilah dari Mu’adz bin Jabal, secara marfu. Dalam hal ini Abu Dawud berkomentar:”Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini kecuali Qutaibah saja”.

Syaikh Al Albani menilai: “Dia adalah tsiqah dan tepat. Maka tidak mengapa meskipun dia sendirian dalam meriwayatkan hadis ini dari Al-Laits selain darinya. Inilah yang benar, semua perawinya tsiqah. Yakni para perawi Asy-Syaikhain. Juga telah dinilai Shahih oleh Ibnul Qayyim dan lainnya. Namun Al-Hakim dan lainnya menganggapnya ada ‘illat yang tidak baik, seperti yang telah saya jelaskan dalam Irwa ‘Al-Ghalil (571). Di sana saya menyebutkan mutabi’ (hadis yang mengikuti) kepada Qutaibah dan beberapa syahid (hadis pendukung) yang memastikan keShahihannya.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik (I/143/2) dari jalur lain yang berasal dari Abi Thufail dengan redaksi: “Sesungguhnya mereka keluar bersama Rasulullah ﷺ pada tahun Tabuk. Maka adalah Rasulullah ﷺ mengumpulkan antara Zuhur dan Ashar serta Magrib dan Isya. Abu Thufail berkata: ‘Kemudian beliau mengakhirkan (Jamak Takhir) shalat pada suatu hari. Lalu beliau ﷺ keluar dan shalat Zuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau ﷺ masuk (datang). Kemudian keluar dan shalat Maghrib serta Isya sekalian“.

Dan dari jalur Malik telah dikeluarkan oleh Imam Muslim (7/60) dan Abu Dawud (1206), An-Nasa’i (juz I, hal 98), Ad-Darimi (juz I, hal 356), Ath-Thahawi (I/95), Al-Baihaqi (3/162), Ahmad (5/237) dan dalam riwayat Muslim (2/162) dan lainnya dari jalur lain:

“Kemudian saya berkata: ‘Apa maksudnya demikian?” Dia berkata: Maksudnya agar tidak memberatkan umatnya”.

Kandungan Hukumnya

Dalam hadis ini terdapat beberapa masalah.

  • Boleh mengumpulkan dua shalat pada waktu bepergian, walaupun pada tempat selain Arafah dan Muzdalifah. Demikian pendapat jumhurul ulama. Berbeda dengan mazdhab Hanafiyah. Mereka menakwilkannya dengan ‘Jamak Shuwari,’ yakni mengakhirkan DZuhur sampai mendekati waktu Ashar, demikian pula Maghrib dan Isya’. Pendapat ini telah dibantah oleh Jumhurul Ulama dari berbagai segi. Pertama: Pendapat ini jelas menyalahi pengertian jamak secara zahir. Kedua: Tujuan disyariatkan jamak adalah untuk memermudah dan menghindarkan kesulitan, seperti yang telah dijelaskan oleh riwayat Muslim. Sedangkan jamak dalam pengertian ‘Shuwari’ masih mengandung kesulitan. Ketiga: Sebagian hadis tentang jamak jelas menyalahkan pendapat mereka itu. Seperti hadis Anas bin Malik yang berbunyi. “Mengakhirkan Zuhur sehingga masuk awal Ashar, kemudian dia menjamak (mengumpulkan) keduanya”. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (2/151) dan lainnya. Keempat: Bahkan pendapat itu juga bertentangan dengan pengertian Jama Taqdim sebagaimana dijelaskan oleh hadis Mu’adz berikut ini:

“Dan apabila dia berangkat setelah tergelincir matahari, maka dia akan menyegerakan Ashar kepada Zuhur”. Dan sesungguhnya hadis-hadis yang serupa ini adalah banyak, sebagaimana telah disinggung.

  • Sesungguhnya soal jamak (mengumpulkan dua shalat), disamping boleh Jama Takhir, boleh juga Jama Taqdim. Ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Um (I/67), disamping oleh Imam Ahmad dan Ishaq, sebagaimana dikatakan oleh At-Tarmidzi (2/441).
  • Sesungguhnya diperbolehkan jamak pada waktu turunnya (dari kendaraan), sebagaimana diperbolehkan manakala berlangsung perjalanan. Imam Syafi’i dalam Al-Um, setelah meriwayatkan hadis ini dari jalur Malik, mengatakan: “Ini menunjukkan, bahwa dia sedang turun bukan sedang jalan. Karena kata ‘dakhala’ dan ‘kharaja’ (masuk dan keluar) adalah tidak lain bahwa dia sedang turun. Maka bagi seorang musafir, boleh menjamak pada saat turun dan pada saat berjalan’.

Syaikh Al Albani berpendapat: Dengan nash ini maka tidaklah perlu menghiraukan kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/189) menuturkan: “Bukanlah petunjuk Nabi ﷺ, melakukan jamak sambil naik kendaraan dalam perjalanannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Dan tidak juga jamak itu harus pada waktu dia turun“.

Nampaknya banyak kaum Muslimin yang terkecoh oleh kata-kata Ibnul Qayyim ini. Oleh karenanya mestilah ingat kembali.

Adalah janggal, bila Ibnul Qayyim tidak memahi nash yang ada dalam Al-Muwatha’, Shahih Muslim dan lain-lain ini. Akan tetapi keheranan tersebut akan hilang, manakala kita ingat, bahwa dia menulis kitab Az-Zad itu adalah pada waktu di mana dia jauh dari kitab-kitab lain, yakni dia dalam perjalanan, sebagai seorang musafir. Inilah sebabnya mengapa dalam kitab tersebut, di samping kesalahan itu, banyak juga kesalahan yang lain. Dan mengenai hal ini telah saya jelaskan dalam At-Ta’liqat Al-Jiyad ‘Ala Zadil Ma’ad.

Yang membuat pendapat ini tetap janggal adalah, bahwa gurunya, yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah menjelaskan dalam sebuah bukunya, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Mengapa hal itu tidak diketahui oleh Ibnul Qayyim padahal dia orang yang paling mengenal Ibnu Taimiyah dengan segala pendapatnya? Setelah menuturkan hadis itu, Syaikhul Islam dalam Majmu’atur Rasail wal-Masa’il (2/26-27) mengatakan: “Pengertian jamak itu ada tiga tingkatan: Manakala sambil berjalan, maka pada waktu yang pertama. Sedangkan bila turun, maka pada waktu yang kedua. Inilah jamak sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Anas dan Ibnu Umar. Itu menyerupai jamak di Muzdalifah. Adapun manakala di waktu yang kedua, baik dengan berjalan maupun dengan kendaraan, maka dijamak pada waktu yang pertama. Ini menyerupai jamak di Arafah. Sungguh hal ini telah diriwayatkan dalam As-Sunnan (yakni hadis Mu’adz ini). Adapun manakala turun pada waktu keduanya, maka dalam hal ini tidak aku ketahui hadis ini menunjukkan, bahwa beliau Nabi turun di kemahnya dalam bepergian itu. Dan bahwa beliau mengakhirkan Zuhur, kemudian keluar, lalu shalat Zuhur dan Ashar sekalian.

Kemudian beliau masuk ke tempatnya, lalu keluar lagi dan melakukan shalat Maghrib dan Isya’ sekalian. Sesungguhnya kala ‘ad-dukhul’ (masuk) dan ‘khuruj’ (keluar), hanyalah ada di rumah (kemah saja). Sedangkan orang yang berjalan tidak akan dikatakan masuk atau keluar. Tetapi turun atau naik.

“Dan Tabuk adalah akhir peperangan Nabi ﷺ. Sesudah itu beliau ﷺ tidak pernah bepergian, kecuali ketika haji Wada’. Tidak ada kasus jamak darinya, kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Adapun di Mina, maka tidak ada seorang pun yang menukil, bahwa beliau pernah menjamak di sana.

Mereka hanya menukilkan, bahwa beliau ﷺ memang mengqashar di sana. Ini menunjukkan, bahwa beliau ﷺ dalam suatu bepergian terkadang menjamak dan terkadang tidak. Bahkan yang lebih sering adalah bahwa beliau ﷺ tidak menjamak . Hal ini menunjukkan, bahwa beliau ﷺ tidak menjamak. Dan juga menunjukkan, bahwa jamak bukan menjadi sunah Safar sebagaimana qashar, tetapi dilakukan hanya bila diperlukan saja, baik dalam bepergian, maupun sewaktu tidak dalam bepergian, supaya tidak memberatkan umatnya. Maka seorang musafir, bilamana memerlukan jamak, maka lakukan saja, baik pada waktu kedua atau pertama, baik ia turun untuknya atau untuk keperluan lain seperti tidur dan istirahat pada waktu Zuhur dan waktu Isya’. Kemudian dia turun pada waktu Zuhur dan waktu Isya. Dia turun pada waktu Zuhur karena lelah dan mengantuk serta lapar, sehingga memerlukan istirahat, tidur dan makan. Dia boleh mengakhirkan Zuhur kepada waktu Ashar, kemudian menjamak Taqdim Isya dengan Maghrib, lalu sesudah itu bisa tidur, agar bisa bangun di tengah malam dalam bepergiannya.

Maka menurut hadis ini dan lainnya, adalah diperbolehkan menjamak. Adapun bagi orang yang singgah beberapa hari di suatu kampung atau kota, maka meskipun ia boleh mengqashar, karena dia musafir, namun tidak diperkenankan menjamak. Ia seperti halnya tidak boleh shalat di atas kendaraan, tidak boleh shalat dengan tayamum dan tidak boleh makan bangkai.

Hal-hal seperti ini hanya diperbolehkan sewaktu diperlukan saja. Lain halnya dengan soal qashar. sesungguhnya ia memang menjadi sunnah dalam shalat perjalanan”.

Menjamak Dua Shalat Dalam Perjalanan

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam berpendapat sebagai berikut:

Diperbolehkan baginya manjamak shalat Zuhur dengan Ashar dalam salah satu waktu di antara keduanya, menjamak shalat Maghrib dengan Isya’ dalam salah satu waktu di antara keduanya. Semua ini merupakan keluwesan syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ dan kemudahannya, yang berarti merupakan karunia dari Allah, agar tidak ada keberatan dalam agama.

“Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: ‘Rasulullah ﷺ pernah menjamak antara Zuhur dan Ashar jika berada dalam perjalanan, juga menjamak antara Maghrib dan Isya” [Ini lafazh Al-Bukhary dan bukan Muslim, seperti yang dikatakan Abdul haq yang menghimpun Ash-Shahihain. Ibnu Daqiq Al-Id juga mengingatkan hal ini. Mushannif mengaitkan takhrij hadis ini kepada keduanya, karena melihat asal hadis sebagaimana kebiasaan para ahli hadis, karena Muslim mentakhrij dari riwayat Ibnu Abbas tentang jamak antara dua shalat, tanpa memertimbangkan lafalnya. Inilah yang telah disepakati bersama. Menurut Ash-Shan’any. Al-Bukhary tidak metakhrijnya kecuali berupa catatan. Hanya saja dia menggunakan bentuk kalimat yang pasti]

Makna Hadis

Di antara kebiasaan Rasulullah ﷺ jika mengadakan perjalanan, apalagi di tengah perjalanan, maka beliau ﷺ menjamak antara shalat Zuhur dan Ashar, entah taqdim entah Ta’khir. Beliau ﷺ juga menjamak antara Maghrib dan Isya, entah taqdim entah Ta’khir, tergantung mana yang lebih memungkinkan untuk dikerjakan, dan dengan siapa beliau ﷺ mengadakan perjalanan. Yang pasti, perjalanan ini menjadi sebab jamak dan shalat pada salah satu waktu di antara dua waktunya, karena waktu itu merupakan waktu bagi kedua shalat.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Para ulama saling berbeda pendapat tentang jamak ini. Mayoritas sahabat dan tabi’in memerbolehkan jamak, baik taqdim maupun Ta’khir. Ini juga merupakan pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ats-Tsaury. Mereka berhujjah dengan hadis-hadis Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, begitu pula hadis Mu’adz, bahwa jika Rasulullah ﷺ berangkat sebelum matahari condong, maka beliau ﷺ menjamak shalat Zuhur dan Ashar pada waktu shalat Ashar. Beliau ﷺ mengerjakan keduanya secara bersamaan. Tapi jika beliau ﷺ berangkat sesudah matahari condong, maka beliau ﷺ shalat Zuhur dengan Ashar, lalu berangkat. Jika beliau ﷺ berangkat sebelum Maghrib, maka belaiu ﷺ menunda shalat Maghrib dan mengerjakannya bersama shalat Isya. Jika beliau ﷺ berangkat sesudah masuk waktu Maghrib, maka beliau ﷺ mengerjakan shalat Isya bersama shalat Maghrib. [Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidizy]

Sebagian Imam menshahihkan hadis ini, sementara yang lain memermasalahakannya. Asal hadis ini ada dalam riwayat Muslim tanpa menyebutkan Jama Taqdim.

Sementara Abu Hanifah dan dua rekannya. Al-Hasan dan An-Nakha’y tidak memerbolehkan jamak. Mereka menakwil hadis-hadis tentang jamak, bahwa itu merupakan jamak imajiner. Gambarannya, menurut pendapat mereka, beliau ﷺ mengakhirkan shalat Zuhur hingga akhir waktunya, lalu mengerjakannya, dan setelah itu mengerjakan shalat Ashar pada awal waktunya. Begitu pula untuk shalat Maghrib dan Isya.

Tentu saja ini tidak mengenai dan bertentangan dengan pengertian lafal jamak, yang artinya menjadikan dua shalat di salah satu waktu di antara dua waktunya, yang juga ditentang ketetapan Jamak Taqdim, sehingga menafikan cara penakwilan seperti itu. Al-Khaththaby dan Ibnu Abdil Barr menyatakan, jamak sebagai rukhshah. Mengerjakan dua shalat, yang pertama pada akhir waktunya, dan yang kedua pada awal waktunya, justru berat dan sulit. Sebab orang-orang yang khusus pun sulit mencari ketetapan waktunya. Lalu bagaimana dengan orang-orang awam?

Ibnu Hazm dan salah satu riwayat dari Malik menyatakan, yang boleh dilakukan ialah Jamak Ta’khir dan tidak Jamak Taqdim. Mereka menanggapi hadis-hadis yang dikatakan sebagian ulama, yang dipermasalahkan.

Mereka juga saling berbeda pendapat tentang hukum jamak. Asy-Syafi’i, Ahmad dan jumhur berpendapat, perjalanan merupakan sebab Jamak Taqdim dan Ta’khir. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Malik. Pendapat Malik dalam riwayat yang masyhur darinya, pengkhususan darinya, pengkhususan jamak pada waktu dibutuhkan saja, yaitu jika sedang mengadakan perjalanan. Ini juga merupakan pilihan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim. Menurut Al-Bajy, ketidaksukaan Malik terhadap jamak, karena khawatir jamak ini dilakukan orang yang sebenarnya tidak mendapat kesulitan. Adapun pembolehannya jika mengadakan perjalanan, didasarkan kepada hadis Ibnu Umar.

Abu Hanifah tidak memerbolehkan jamak, kecuali di Arafah dan Muzdalifah, karena untuk keperluan manasik haji dan bukan karena perjalanan.

Jumhur berhujjah dengan hadis-hadis yang menyebutkan jamak secara mutlak tanpa ada batasan perjalanan, ketika singgah atau ketika mengadakan perjalanan. Begitu pula yang disebutkan di dalam Al-Muwaththa’ dari Muadz bin Jabal, bahwa pada Perang Tabuk Rasulullah ﷺ mengakhirkan shalat, kemudian keluar shalat Zuhur dan Ashar bersama-sama, kemudian masuk dan keluar lagi untuk shalat Maghrib dan Isya’. Menurut Ibnu Abdil Barr, isnad hadis ini kuat. Asy-Syafi’y menyebutkannya di dalam Al-Umm. Menurut Ibnu Abdul Barr dan Al-Bajy, keluar dan masuknya Rasulullah ﷺ menunjukkan, bahwa beliau ﷺ sedang singgah dan tidak sedang dalam perjalanan. Ini merupakan penolakan secara tegas terhadap orang yang menyatakan, bahwa beliau ﷺ tidak menjamak, kecuali ketika mengadakan perjalanan.

Dalil Al-Imam Malik, Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim ialah hadis Ibnu Umar, bahwa jika beliau mengadakan perjalan, maka beliau menjamak Maghrib dan Isya’, seraya berkata: “Jika Rasulullah ﷺ mengadakan perjalanan, maka beliau ﷺ menjamak keduanya”.

Tapi menurut jumhur, tambahan bukti dalam beberapa hadis yang lain layak untuk diterima. Bagaimanapun juga, bepergian mendatangkan banyak kesulitan, baik ketika singgah maupun ketika dalam perjalanan. Rukhshah jamak tidak dibuat, melainkan untuk memberikan kemudahan didalamnya.

Ibnul Qayyim di dalam Al-Hadyu, menjadikan hadis Mu’adz dan sejenisnya termasuk dalil-dalilnya,bahwa rukhshah jamak tidak ditetapkan, melainkan ketika mengadakan perjalanan (bukan ketika singgah). Adapun pendapat Abu Hanifah tertolak oleh berbagai hadis yang Shahih dan jelas maknanya.

Faidah Hadis

Pertama:

Seperti yang disebutkan pengarang tentang jamak karena perjalanan, maka di sana ada beberapa alasan selain perjalanan yang memerbolehkan jamak, di antaranya hujan. Al-Bukhary meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ menjamak Maghrib dan Isya’ pada suatu malam ketika turun hujan. Jamak ini dikhususkan untuk Maghrib dan Isya’, bukan untuk Zuhur dan Ashar. Namun ulama lain membolehkannya juga, di antaranya Al-Imam Ahmad dan rekan-rekannya.

Begitu pula alasan sakit. Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menjamak Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ bukan karena takut dan hujan. Dalam riwayat lain disebutkan, bukan karena takut dan perjalanan. Tidak ada sebab lain kecuali sakit. Banyak ulama yang memerbolehkannya, di antaranya Malik, Ahmad, Ishaq dan Al-Hasan. Ini juga merupakan pendapat segolongan ulama dari madzhab Syafi’y, seperti Al-Khaththaby dan ini juga merupakan pilihan An-Nawawy di dalam Shahih Muslim. Ibnu Taimiyah menyebutkan, bahwa Al-Imam Ahmad menetapkan pembolehan jamak bagi orang yang terluka dan karena kesibukan, yang didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan tentang masalah ini. Ada pula yang menetapkan pembolehan jamak bagi wanita istihadhah, karena istihadhah termasuk penyakit.

Kedua:

Batasan perjalanan yang menyebabkan pembolehan jamak diperselisihkan para ulama. Asy-Syafi’i dan Ahmad menetapkan lama perjalanan selama dua hari hingga ke tujuan, atau sejauh enam belas farskah [Satu farskah sama dengan empat mil. Satu mil sama dengan satu setengah kilometer. Enam belas farsakh sama dengan enam puluh emapt mil, atau sama dengan sembilan puluh enam kilometer]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menetapkan pilihan, bahwa apa pun yang disebut dengan perjalanan, pendek atau jauh, diperbolehkan jamak di dalamnya. Jadi tidak diukur dengan jarak tertentu. Menurut pendapatnya, di dalam nash Al-Kitab dan As-Sunnah tidak disebutkan perbedaan antara jarak dekat dengan jarak jauh. Siapa yang membuat perbedaan antara jarak dekat dan jarak jauh, berarti dia memisahkan apa yang sudah dihimpun Allah, dengan sebagian pemisahan dan pembagian yang tidak ada dasarnya. Pendapat Syaikhul Islam ini sama dengan pendapat golongan Zhahiriyah, yang juga didukung pengarang Al-Mughny.

Ibnul Qayyim menyatakan di dalam Al-Hadyu, tentang riwayat yang membatasi perjalanan sehari, dua hari atau tiga hari, maka itu bukan riwayat yang Shahih.

Ketiga:

Menurut jumhur ulama, meninggalkan jamak lebih utama daripada jamak, kecuali dalam dua jamak, di Arafah dan Muzdalifah, karena di sana ada kemaslahatan.

Kesimpulan Hadis

  • Boleh menjamak shalat Zuhur dengan Ashar, shalat Maghrib denan Isya’
  • Keumuman hadis menimbulkan pengertian tentang diperbolehkannya Jamak Taqdim dan Ta’khir antara dua shalat. Beberapa dalil menunjukkan hal ini seperti yang sudah disebutkan di atas.
  • Menurut zhahirnya dikhususkan saat mengadakan perjalanan. Di atas telah disebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama dan dalil dari masing-masing pihak. Menurut Ibnu Daqiq Al-Id, hadis ini menunjukkan jamak jika dalam perjalan. Sekiranya tidak ada hadis-hadis lain yang menyebutkan jamak tidak seperti gambaran ini, tentu dalil ini mengharuskan jamak dalam kondisi yang lain. Diperbolehkannya jamak di dalam hadis ini berkaitan dengan suatu sifat yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Jika jamak dibenarkan ketika singgah, maka pengamalannya lebih baik, karena adanya dalil lain tentang pembolehannya diluar gambaran ini, yaitu dalam perjalanan. Tegaknya dalil ini menunjukkan pengabaian pengungkapan sifat ini semata. Dalil ini tentu tidak dapat dianggap bertentangan dengan pengertian di dalam hadis ini, karena pembuktian pembolehan apa yang disampaikan di dalam gambaran ini secara khusus, jauh lebih kuat.
  • Hadis ini dan juga hadis-hadis lainnya menunjukkan bahwa jamak dikhususkan untuk shalat Zuhur dengan Ashar, Mgahrib dengan Isya, sedangkan Subuh tidak dapat dijamak dengan shalat lainnya.

Hukum Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jumat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan sebagai berikut:

Tidak boleh menjamak (menggabungkan) shalat Ashar dengan shalat Jumat, ketika diperbolehkan menjamak antara shalat Ashar dan Zuhur (karena ada alasan syari, seperti perjalanan,-red). Seandainya seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh melintasi suatu daerah, lalu dia melakukan shalat Jumat bersama kaum Muslimin di sana, maka (dia) tidak boleh menjamak Ashar dengan shalat Jumat.

Seandainya ada seorang yang menderita penyakit sehingga diperbolehkan untuk menjamak shalat, (lalu ia) menghadiri shalat dan mengerjakan shalat Jumat, maka dia tidak boleh menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat. Dalilnya ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [An-Nisaa: 103]

Maksudnya, (ialah) sudah ditentukan waktunya. Sebagian dari waktu-waktu ini sudah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala secara global dalam firman-Nya:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh Malaikat)” [Al-Israa: 78]

Jika ada yang mengatakan, apakah tidak boleh mengqiyaskan jama shalat Ashar ke Jumat dengan menjamak shalat Ashar ke Zuhur?

Jawabnya adalah tidak boleh, karena beberapa sebab:

  • Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.
  • Shalat Jumat merupakan shalat tersendiri, memiliki lebih dari 20 hukum (ketentuan-ketentuan) tersendiri yang berbeda dengan shalat Zuhur. Perbedaan seperti ini menyebabkannya tidak bisa disamakan (diqiyaskan) ke shalat yang lainnya.
  • Qiyas seperti (dalam pertanyaan di atas, -pent) ini bertentangan dengan zahir sunnah. Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ menjamak Maghrib dengan Isya di Madinah dalam kondisi aman dan tidak hujan.

Pada masa Rasulullah ﷺ pernah juga turun hujan yang menimbulkan kesulitan. Akan tetapi beliau ﷺ tidak menjamak shalat Ashar dengan Jumat, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ pernah meminta hujan pada hari Jumat saat beliau ﷺ di atas mimbar. Sebelum beliau ﷺ turun dari mimbar, hujan turun dan mengalir dari jenggotnya. Ini tidak akan terjadi, kecuali disebabkan oleh hujan yang bisa dijadikan alasan untuk menjamak shalat, seandainya boleh menjamak Ashar dengan shalat Jumat. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, pada hari Jumat berikutnya, seseorang datang dan berkata: “Wahai, Rasulullah. Harta benda sudah tenggelam dan bangunan hancur, maka berdoalah kepada Allah agar memberhentikan hujan dari kami”.

Kondisi seperti ini, (tentunya) memerbolehkan untuk menjamak, jika seandainya boleh menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat.

Jika ada yang mengatakan: “Mana dalil yang melarang menjamak shalat Ashar dengan shalat Zuhur?”

Pertanyaan seperti ini tidak tepat, karena hukum asal beribadah adalah terlarang, kecuali ada dalil (yang merubah hukum asal ini menjadi wajib atau sunat, -pent). Maka orang yang melarang pelaksanaan ibadah kepada Allah dengan suatu amalan fisik atau hati, tidak dituntut untuk mendatangkan dalil. Akan tetapi, yang dituntut untuk mendatangkan dalil ialah orang yang melakukan ibadah tersebut, berdasarkan firman Allah yang mengingkari orang-orang yang beribadah kepadanya, tanpa dasar syari “Apakah mereka memunyai Sembahan-Sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” [Asy-Syuura: 21]

Dan firman-Nya:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agamamu” [Al-Maidah: 3]

Berdasarkan ini, jika ada yang menanyakan: “Mana dalil larangan menjamak shalat Ashar dengan shalat Jumat?” (Maka) kita mengembalikan pertanyaan: “Mana dalil yang memerbolehkannya? Karena hukum asal shalat Ashar dikerjakan pada waktunya. Ketika ada faktor yang memerbolehkan untuk menjamak shalat Ashar, hukum asal ini bisa diselisihi. (Maka yang) selain itu tetap pada hukum asalnya, yaitu tidak boleh diajukan dari waktunya.

Jika ada yang mengatakan: “Bagaimana pendapatmu jika dia berniat shalat Zuhur ketika shalat Jumat agar bisa menjamak?”

Jawab, jika seorang imam shalat Jumat di suatu daerah, berniat shalat Zuhur dengan shalat Jumatnya, maka tidak syak lagi (demikian) ini merupakan perbuatan haram, dan shalatnya batal. Karena bagi mereka, shalat Jumat itu wajib. Jika ia mengalihkan shalat Jumat ke shalat Zuhur, berarti mereka berpaling dari perintah-perintah Allah kepada sesuatu yang tidak diperintahkan, sehingga berdasarkan hadis di atas, (maka) amalnya batal dan tertolak.

Sedangkan jika yang berniat melaksanakan shalat Jumat dengan niat Zuhur adalah -seorang musafir (misalnya), yang bermakmum kepada orang yang wajib melaksanakannya, maka perbuatan musafir ini juga tidak sah. Karena, ketika dia menghadiri shalat Jumat, berarti dia wajib melakukannya. Orang yang terkena kewajiban shalat Jumat, namun dia melaksanakan shalat Zuhur sebelum imam salam dari shalat Jumat, maka shalat Zuhurnya tidak sah.

Sumber:

  • Silsilah Al-Hadis Ash-Shahihah Wa Syaiun Min Fiqhiha Wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadis Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan CV. Pustaka Mantiq, hal. 362-372.
  • 257 Tanya Jawab Fatwa-fatwa Al-Utsaimin, oleh Syaikh Muhammad Al-Shalih Al-‘Utsaimin, terbitan Gema Risalah Press, hal 133-134.
  • Kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadis Pilihan Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Penerbit Darul Fallah
  • Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005. Diambil dari Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
  • http://www.almanhaj.or.id

 

https://jacksite.wordpress.com/2007/12/06/hukum-shalat-qashar-dan-shalat-jama/

,

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TENTANG JAMAK QASHAR SHALAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukum, cara, syarat dan bilamana kita melakukan Jamak dan Qashar atas shalat kita?
Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Perlu dibedakan antara Jamak dengan Qashar. Mengingat banyak orang yang menganggap bahwa Jamak identik dengan Qashar, padahal hakikatnya mereka adalah dua hal yang berbeda.

Pertama: Hukum Qashar

Hukum Qashar terkait dengan safar (melakukan perjalanan). Atau dengan kata lain: Qashar identik dengan safar. Artinya, ketika orang bersafar, maka disyariatkan untuk meng-Qashar shalatnya. Hanya saja, ulama berbeda pendapat tentang hukum Qashar ketika safar. Ada yang mengatakan wajib, ada yang mengatakan bahwa hukum Qashar adalah Sunnah Muakkad, dan ada juga yang berpendapat bahwa hukum Qashar adalah mubah.

Intinya, semua sepakat bahwa orang yang boleh meng-Qashar shalat adalah musafir. Dalil akan hal ini adalah:

  1. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau ﷺ melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Sesungguhnya Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ: Untuk musafir: dua rakaat, untuk mukim: empat rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan satu rakaat.” (HR. Muslim).

Adapun rincian hukum Qashar, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hanya untuk shalat yang jumlahnya empat rakaat, yaitu: Zuhur, Ashar, dan Isya.
  2. Jika musafir bermakmum pada orang yang mukim, maka dia mengikuti imam sampai selesai dan tidak boleh Qashar.
  3. TIDAK PERLU melaksanakan shalat ba’diyah.

Kedua: Hukum Jamak

Hukum asal pelaksanaan shalat adalah dikerjakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Namun, jika ada sebab tertentu sehingga seseorang harus menjamak shalatnya, maka hal itu diperbolehkan. Batasannya adalah: Selama ada sebab yang mengakibat seseorang kesulitan untuk melaksanakan shalat sesuai waktunya, maka dia diperbolehkan untuk menjamak shalatnya.

Di antara penyebab bolehnya menjamak shalat adalah safar. Dengan demikian, orang yang safar, diperbolehkan untuk melaksanakan shalat dengan Jamak-Qashar.

Di antara aturan Jamak adalah:

  1. Hanya boleh untuk pasangan: Zuhur-Ashar atau Maghrib-Isya.
  2. Khusus untuk orang yang hendak safar:

– Jika berangkat safar sebelum shalat yang pertama, maka sebaiknya menjamak shalat  di akhir waktu (Jamak Ta’khir). Misalnya: Jika berangkat sebelum Zuhur, maka shalat Zuhur dan Ashar dijamak di waktu Ashar.

– Jika berangkatnya sesudah shalat pertama, maka sebaiknya menjamak shalat di awal waktu. Misalnya: Jika berangkat setelah Zuhur, maka shalat Asharnya dilakukan di waktu Zuhur.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah

[www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3894-tentang-menjamak-qashar-shalat.html

, , ,

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#StopBidah
#KajianSunnah

SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)

Di antara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami, bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah melarang puasa Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak. Dan tidak jarang kesalahan memahami tersebut ditambah dengan kesalahan berikutnya yang lebih besar, yaitu menjelek-jelekan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan memberi gelar “Wahabi” dan gelar-gelar lainnya yang mereka anggap jelek.

Padahal yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis khusus tentang puasa Rajab adalah para ulama yang hidup jauh sebelum Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Bahkan ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, yaitu Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah memiliki buku khusus yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut, yang beliau beri judul “Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab”.

Dan kesalahan tersebut berasal dari kesalahan memahami ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ucapan para ulama Ahlus Sunnah lainnya yang semisal, tentang hadis-hadis puasa Rajab secara khusus. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) berkata:

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh hadisnya LEMAH, bahkan PALSU. Tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya. Dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan beramal). Bahkan seluruhnya termasuk hadis palsu lagi dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290-291]

Sebagian orang menyangka, bahwa beliau melarang puasa Rajab secara mutlak dan membid’ahkannya, sebagai jawaban atas kesalahpamahaman ini:

Pertama: Beliau hanyalah menjelaskan, bahwa hadis-hadis khusus yang berbicara tentang puasa Rajab dan keutamaannya adalah lemah dan palsu, sebagai peringatan untuk tidak menyebarkannya, karena Rasulullah ﷺ telah memeringatkan dengan keras sekali:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di Neraka.” [Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menyampaikan hadis atas namaku, padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

Dan bukan hanya beliau yang menjelaskan kelemahan dan kepalsuan hadis-hadis tersebut. Masih banyak ulama Ahli Hadis yang lainnya yang menjelaskannya, di antaranya:

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Dan semua hadis yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif: 170]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada satu hadis Shahih pun yang berbicara tentang keutamaan Rajab, tidak pula puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab: 11]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

 

📙 SALAH KAPRAH TENTANG PUASA RAJAB (KOREKSI UNTUK PENCELA ULAMA)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ🚧 Diantara…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 5 April 2017

 

 

Terkait:

 

🌙 ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB?بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 27 Maret 2017

 

 

 

, ,

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah
#SifatSholatNabi

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

Sebagian orang mengamalkan sholat Roghaib pada malam Jumat pertama di bulan Rajab sebanyak 12 rakaat, di antara Maghrib dan Isya. Padahal TIDAK ADA satu pun dalil Shahih yang menunjukkan amalan tersebut.

Imam Besar Mazhab Syafi’i, An-Nawawi rahimahullah berkata:

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك

“Sholat yang dikenal dengan nama sholat Roghaib, yaitu sholat 12 rakaat antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam Nishfu Syaban sebanyak 100 rakaat, maka dua sholat ini adalah BID’AH yang MUNGKAR lagi JELEK.  Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumid Diin. Dan jangan tertipu dengan hadis (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu BATIL. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka, tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah SALAH BESAR dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]

Peringatan dari Beberapa Amalan Bid’ah

Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah:

قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب، وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها، وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر، وصلاة الاسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه

“Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah:

(1) Sholat Roghaib 12 rakaat yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab,
(2) Sholat Nishfu Syaban 100 rakaat,
(3) Sholat di Jumat terakhir Ramadan sebanyak 17 rakaat dengan niat qodho sholat lima waktu yang belum ia kerjakan,
(4) Sholat hari Asyuro 4 rakaat atau lebih,
(5) Sholat sunnah pekanan.

Adapun hadis-hadisnya, maka palsu lagi batil. Dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya. -Selesai-.” [Haasyiah I’anatit Thalibin, 1/312]

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

http://sofyanruray.info/adakah-amalan-khusus-di-bulan-rajab/

 

 

, ,

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#FatwaUlama

ADAKAH PUASA DAN SHOLAT KHUSUS DI BULAN RAJAB?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka SELURUH hadisnya LEMAH, bahkan PALSU. Tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya. Dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan-keutamaan beramal). Bahkan seluruhnya termasuk hadis palsu yang dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Dan semua hadis yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah DUSTA yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif, 96]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak ada satu hadis Shahih pun yang yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab. Tidak puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu, dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab, hal. 11]

Maka TIDAK BOLEH menyebarkan hadis-hadis palsu tersebut. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di Neraka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menyampaikan hadis atas namaku, padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

 

 

 

, ,

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DoaZikir
#MutiaraSunnah

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

Adakah zikir yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amalan?

Ada. Zikir tersebut adalah bacaan SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Keutamaannya disebutkan dalam hadis berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman. Ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan), yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” [HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694]

Penjelasan:

Hadis ini termasuk hadis mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan.

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘Al Kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu.

2- Zikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan zikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

Namun zikir yang lebih sempurna adalah zikir dengan hati dan lisan.

3- Allah mencintai kalimat yang Thoyyib (yang baik).

4- Penetapan sifat cinta (Mahabbah) bagi Allah.

5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia).

6- Adanya mizan (timbangan), dan amalan manusia akan ditimbang pada Hari Kiamat.

7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya.

8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘Subhana’ (Maha Suci).

9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘Subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘Subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya.

10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘Al Hamdu’.

11- Lafal zikir itu beraneka ragam. Dalam hadis ini disebut dua macam zikir sekaligus. Pertama, SUBHANALLAH WA BIHAMDIH. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni, walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan zikir kedua, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Kalimat ini ada, jika bersambung dengan kalimat lainnya, sebagaimana yang ada dalam hadis ini.

12- Keutamaan dua kalimat: SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Hadis ini menunjukkan kita diperintah memerbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadis nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya.

13- Zikir SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM sudah mengandung bacaan zikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya, yaitu menauhidkan Allah, yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘Laa ilaha illallah’.

14- Meraih keutamaan suatu amalan, tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya.

15- Boleh menggunakan kalimat bersajak, selama tidak menyusah-nyusahkan diri.

16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan, sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut.

17- Ada suatu kalimat yang berisi berita, namun berisi ajakan atau perintah, seperti yang ada dalam hadis ini, yang berisi ajakan untuk berzikir.

18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya ia awali dengan hadis niat, yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadis ini untuk menunjukkan, bahwa penutup kehidupan adalah dengan zikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik.

Wallahu a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berzikir pada-Nya.

Catatan:

Faidah tauhid di sini adalah kumpulan dari faidah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10273-faedah-tauhid-9-zikir-ringan-namun-berat-di-timbangan-amalan.html

,

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

#StopBid‘ah

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR  SECARA BERJAMAAH?

  • Apakah ada tuntunannya dari Nabi ﷺ?
  • Bila tidak ada, apakah kita boleh melakukannya?
  • Cukupkan dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi ﷺ, tidak dikurangi atapun ditambah.

Pertanyaan:

Sekarang banyak sekali kaum Muslimin berdoa dan zikir bersama, baik itu untuk keluarganya, kaum Muslimin, bahkan untuk pemimpin. Adakah secara sunnah yang benar, amalan-amalan tersebut?

Jawaban:

Berdoa bersama, kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa, sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada dua keadaan:

Pertama:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan, seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Alquran dll, maka ini boleh, jika dilakukan kadang-kadang, dan tanpa kesengajaan. Namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya, jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “Jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun zikir bersama, dipimpin oleh seseorang, kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama, maka ini termasuk bid’ah, TIDAK ADA DALILNYA dan TIDAK DIAMALKAN PARA SALAF. Bahkan mereka mengingkari zikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad. Betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad? Atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullah:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk zikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (zikrullah) dengan satu lisan dan satu suara, atau pada waktu tertentu yang khusus, maka tidak ada di dalam anjuran syariat, yang menunjukkan pengkhususan ini. Justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya. Karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat, akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Penulis: Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc hafizhahullah

Sumber:

tanyajawabagamaislam.blogspot.com

https://konsultasisyariah.com/805-apa-hukum-doa-dan-zikir-secara-berjamaah.html

, ,

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan dengan pakaian yang terkena air rembesan (dari kemaluan) sebanyak seperempat dari satu tetes, saat kita sedang shalat? Apakah harus diganti dan cuci, atau adakah sikap lain yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika keluar atau tidaknya air kencing tersebut hanya merupakan was-was atau keragu-raguan, hanya perasaan, dan tidak ada buktinya, atau mungkin memang keluar tetapi hanya seperempat dari satu tetes (seperti yang ditanyakan), maka hal semacam ini tidaklah membatalkan wudhu, dan tidak pula membatalkan shalat atau thawaf. Ini hanyalah was-was setan untuk menggoda anak Adam agar ibadahnya rusak.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فًأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا

“Apabila salah seorang di antara kamu menjumpai sesuatu di perutnya, sedangkan dia ragu-ragu apakah sesuatu itu keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari mesjid (shalat), sehingga dia mendengar suara atau mencium baunya.” (Hr. Muslim: 805)

Al-‘Allamah Ibnu Baz ditanya: “Seusai saya buang air kecil dan berhenti kencing, maka tidak lama setelah saya bercebok, kemaluan saya bergerak dan terasa ada sesuatu yang keluar. Peristiwa ini sudah lama dan tidak bisa sembuh, tetapi hanya keluar air beberapa tetes sesudah kencing.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya mencukupkan diri dengan wudhu yang pertama, lalu saya bersihkan kemaluan saya, kemudian saya sempurnakan wudhu, ataukah saya harus menunggu sampai selesai kencing? Mohon penjelasannya.”

Beliau menjawab: “Perkara ini bisa terjadi karena was-was atau ragu-ragu. Ini berasal dari setan, dan kadangkala memang terjadi betul.

Jika ternyata benar-benar terjadi, maka jangan terburu-buru sehingga selesai kencing, lalu membasuh kemaluan dengan air, dan ini sudah cukup.

Jika dikhawatirkan bahwa air kencing akan keluar lagi, setelah berwudhu hendaknya menyiram di sekeliling kemaluan. Selanjutnya, jika terasa ada sesuatu yang keluar setelah itu, hendaklah dipahami bahwa yang keluar itu adalah sisa air yang disiramkan tadi, karena ada dalil dari sunnah, bahwa hendaknya kita meninggalkan was-was setan. Orang Mukmin tidak perlu memerhatikan was-was setan ini, karena begitulah pekerjaan setan. Setan selalu berusaha merusak ibadah anak Adam, baik ketika shalat atau ibadah lainnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Maqakah Mutanawwi’ah, Ibnu Baz: 10/123)

Jawaban beliau ini sudah jelas sekali. Anda tidak perlu memerhatikan perasaan was-was ini. Serta, bila Anda khawatir air menetes pada celana dalam Anda, maka alasilah di bawah kemaluan Anda dengan kain setelah Anda bercebok, sampai nantinya Anda akan kencing lagi. Anda tidak perlu bercebok setiap ada perasaan was-was bahwa air kencing merembes, dan Anda pun tak perlu mengganti celana.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/1988-pakaian-terkena-kencing.html

 

Catatan Tambahan:

Di Antara Adab Ketika Buang Hajat adalah:

Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

“Nabi ﷺ berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat:

[1] Benda tersebut suci,

[2] Bisa menghilangkan najis, dan

[3] Bukan barang berharga seperti uang atau makanan [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34]. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

Sumber: https://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html