Posts

, ,

DI ANTARA ADAB-ADAB MEMBACA ALQURAN

DI ANTARA ADAB-ADAB MEMBACA ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

DI ANTARA ADAB-ADAB MEMBACA ALQURAN

  1. Membaca Ta’awwudz (a’udzu billahi minasysyaithanirrajim).

Allah ta’alaa berfirman:

(فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) (النحل:98)

“Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. 16:98)

  1. Membaca Alquran dengan tartil (sesuai dengan kaidah-kaidah Tajwid).

Allah ta’alaa berfirman:

(وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً) (المزمل:4)

“Dan bacalah Alquran itu dengan tartil.” (QS. 73:4)

  1. Hendaklah dalam keadaan suci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إني كرهت أن أذكر الله إلا على طهر

“Sungguh aku membenci jika aku berzikir kepada Allah dalam keadaan tidak suci.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

  1. Membersihkan mulut sebelum membaca Alquran dengan siwak atau sikat gigi atau yang lain.

Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

إن أفواهكم طرق للقرآن . فطيبوها بالسواك

“Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan-jalan Alquran. Maka wangikanlah mulut-mulut kalian dengan siwak.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di Shahih Ibnu Majah 1/110-111).

  1. Memilih tempat yang bersih.
  2. Hendaknya merenungi apa yang terkandung di dalam Alquran.

Allah ta’ala berfirman:

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً) (النساء:82)

“Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. 4:82)

  1. Memohon rahmat Allah jika melewati ayat-ayat rahmat, dan meminta perlindungan dari kejelekan ketika melewati ayat-ayat azab.

Di dalam hadis Hudzaifah disebutkan, bahwa suatu saat beliau shalat malam bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ membaca Alquran ketika shalat:

إذا مر بآية فيها تسبيح سبح وإذا مر بسؤال سأل وإذا مر بتعوذ تعوذ

“Jika melewati ayat yang di dalamnya ada tasbih (penyucian kepada Allah) maka beliau bertasbih, dan jika melewati ayat tentang permintaan, maka beliau meminta, dan jika melewati ayat tentang memohon perlindungan, maka beliau memohon perlindungan.” (HR. Muslim)

  1. Tidak membaca Alquran dalam keadaan mengantuk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا قام أحدكم من الليل فاستعجم القرآن على لسانه فلم يدر ما يقول فليضطجع

“Kalau salah seorang dari kalian shalat malam kemudian lisannya tidak bisa membaca Alquran dengan baik (karena mengantuk), dan tidak tahu apa yang dikatakan, maka hendaklah dia berbaring.” (HR. Muslim)

(Lihat pembahasan lebih luas di At-Tibyan fii Aadaab Hamalatil Quran, An-Nawawy, dan Al-Itqan fii ‘Ulumil Quran, As-Suyuthi (1/276-299), Al-Burhan fii ‘Ulumil Quran, Az-Zarkasyi (1/449-480).

Wallahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/892-bolehkah-wanita-haid-membaca-Alquran.html

,

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

Pertama: Berusaha Disertai Tawakal

Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. Usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan, karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. Perubahan hanya akan terjadi, ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du: 11]

Karena itu, dalam Islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha, karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha, diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).

Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PeDe, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah menjanjikan, orang yang bertawakal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” [QS. At-Thalaq: 3].

Sebaliknya, orang yang tidak bertawakal, maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita: “Nabi Sulaiman pernah berikrar: “Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. Semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.” Beliau mengucapkan demikian, dan tidak mengatakan: “InsyaaAllah”. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan, kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi ﷺ bersabda:

لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah, niscaya akan terlahir 100 anak, dan semuanya berjihad di jalan Allah.” [HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Siapa kita dibandingkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam? Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakal, ternyata bisa menuai kegagalan.

Kedua: Hindari Sebab Yang Tidak Memenuhi Syariat

Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian, dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hapal. Ada yang zikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.

Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita, bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab, jika memenuhi dua kriteria:

  • Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiah. Misalnya belajar dan menghapal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.
  • Jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. Sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiah memiliki hubungan dengan akibat,namun selama ada dalil, maka boleh dijadikan sebagai sebab. Contoh, meruqyah dengan bacaan Alquran untuk mengobati orang sakit. Meskipun secara ilmiah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah hubungan antara bacaan Alquran dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut, maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.

Jika ada sebab yang TIDAK memenuhi dua kriteria di atas, maka menggunakan sebab tersebut hukumnya SYIRIK KECIL. Karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. Dia meyakini, bahwa hal itu bisa dijadikan sebab, padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.

Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. Jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid’ah.

Ketiga: Perbanyak Istighfar

Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. As-Syura: 40]

Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rezeki, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rezeki, disebabkan dosa yang dia perbuat. [HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani].

Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka. [HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya].

Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di Surat Hud:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang memunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [QS. Hud: 3]

Keempat: Banyak berdoa

Perbanyaklah berdoa kepada Allah, meminta segala hal yang kita butuhkan, baik dalam urusan Akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu, maka semakin besar peluang untuk dibukakan pintu tersebut. Semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta didoakan orang lain. Karena berdoa sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan, daripada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar, bila dibandingkan dengan doa yang diwakilkan orang lain. Di samping itu, berdoa sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Kelima: Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari Bentuk Penipuan

Pernahkah kita menyadari, bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan? Adakah di antara kita yang sadar, bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan? Pernahkah kita merasa, bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan, kalau itu tidak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan, antara UN dengan agama. Tak ada kaitannya dengan urusan Akhirat.

Perlu kita sadari, bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:

  1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan, karena orang yang melihat nilai kita beranggapan, bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. Padahal hakikatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Muslim].

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar, karena diancam dengan kalimat: “Bukan termasuk golongan kami”. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan].

Komite Tetap Tim Fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian, mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.

Berdasarkan hadis dari Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”

Dalam kesempatan yang sama Komite Fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “Barangs iapa yang menipu kami…” kemudian mereka menjawab:

“Hadis ini statusnya Shahih. Mencakup segala bentuk penipuan, baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren. Baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”

  1. Perbuatan ini termasuk di antara sifat orang yang diancam dengan azab. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

“…dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Jangan sekali-kali kamu mengira, bahwa mereka akan lolos dari azab…” [QS. Ali Imran: 188].

Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh, pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalau itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertakwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.

  1. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan, maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.” [HR. Ahmad & Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani].

Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud; “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan, bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan, padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. [Lihat Faidhul Qodir 6/338].

Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pintar, nilainyanya bagus, padahal aslinya….

Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai Muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab, karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan, orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan Surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada Surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada Neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Keenam: Tips dalam Menghadapi Kegagalan

a. Tanamkan Bahwa Semuanya Telah Ditakdirkan

Sebagai bukti, bahwa kita adalah orang yang beriman pada takdir, kita yakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya, baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat, jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada takdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah, dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا…

Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak…..”[QS. Al Fajr: 15-17].

b. Bersabar dengan Penuh Mengharapkan Pahala

Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup, maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap rida, atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi ﷺ bersabda:

 

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap Mukmin laki-laki maupun wanita, terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin].

Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa, jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.

c. Yakini Ada yang Lebih Buruk Dari Pada Kita

Inilah di antara cara yang diajarkan Islam, agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah, terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu. Karena akan memberi kekuatan kamu, untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” [HR. Muslim]d

d. Hindari Ber-Andai-Andai

Jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “Andai aku tadi pinjam bukunya si A, pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi…pasti…” “Andai aku…kan harusnya gak…” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul, ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan, agar manusia mengingkari takdir Allah. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian, tentu yang terjadi demikian..” Tetapi katakanlah: “Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan, ketika sedang mengalami kegagalan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”

e. Berusaha Untuk Memerbaikinya dan Jangan Putus Asa

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)…” [HR. Muslim].

Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua… Amiin

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17430-adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un.html

,

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON AGAR DIWAFATKAN DI ATAS FITRAH

  • Di Antara Doa Sebelum Tidur

Sebelum tidur kita berwudhu dan ketika sudah berbaring, maka bacalah doa berikut ini:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA, WA WAJJAHTU WAJHII ILAIKA, WA FAWWAD-TU AMRII ILAIKA, WA ALJA’-TU DZAHRII ILAIKA, ROGHBATAN WA ROHBATAN ILAIKA. LA MALJA-A WA LAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA. AAMAN-TU BI KITAABIKAL-LA-DZII ANZALTA WA BI NABIYYIKAL-LA-DZII ARSALTA

Artinya:

Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan diriku kepada-Mu, karena mengharapkan pahala-Mu dan takut azab-Mu. Tiada tempat bersandar dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu, kecuali berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.

Keutamaan:

Siapa yang membaca doa ini sebelum tidur, kemudian malam harinya dia meninggal, maka dia mati di atas fitrah (Islam). Dan jika bangun di pagi hari, maka dia mendapat pahala.  Hadis Selengkapnya:

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، ….، فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ “

“Jika kamu hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu ketika sholat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan dan ucapkan: Allahumma aslamtu nafsii ilaika…dst. Jika kamu meninggal, maka kamu mati dia atas fitrah. Dan jika bangun pagi, maka kamu mendapatkan pahala. Jadikanlah bacaan ini yang terakhir kamu ucapkan.” (HR. Bukhari 6311 dan Muslim 2710)

Keterangan:

– Yang dimaksud : Mati di atas fitrah adalah mati di atas Islam

– Dianjurkan untuk berwudhu sebelum tidur, jika tidak memberatkan.

– Dianjurkan tidur miring ke kanan, jika bisa melakukannya.

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

https://konsultasisyariah.com/14798-nasihat-agar-tidur-tidak-diganggu-setan.html

 

, , ,

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

من الآداب الطيبة؛ إذا حدثك المحدث بأمر ديني أو دنيوي، ألا تنازعه الحديث إذا كنت تعرفه، بل تصغي إليه إصغاء من لا يعرفه ولم يمر عليه، وتريه أنك استفدته منه، كما كان ألباء الرجال يفعلونه. وفيه من الفوائد تنشيط المحدث وإدخال السرور عليه، وسلامتك من العجب بنفسك، وسلامتك من سوء الأدب، فإن منازعة المحدث حديثه من سوء الأدب.

“Di antara adab-adab yang baik: jika seseorang berbicara kepadamu tentang sebuah perkara agama atau dunia, jangan merebut pembicaraan darinya, jika engkau telah mengetahuinya. Bahkan hendaklah engkau mendengarkan dengan baik, seperti orang yang belum mengetahuinya, dan belum pernah melewatinya. Dan tampakkanlah kepadanya, bahwa engkau mendapatkan faidah darinya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal. Di antara faidah dari adab semacam ini adalah memberi semangat kepada orang yang berbicara, dan memasukkan rasa senang ke dalam hatinya. Engkau selamat dari perasaan ujub terhadap dirimu sendiri, dan engkau selamat dari adab yang buruk. Karena sesungguhnya merebut pembicaraan orang yang berbicara termasuk adab yang buruk.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 276].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/665855726928522/?type=3&theater

, , ,

ADAB YANG MULIA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN HARTA BENDA

ADAB YANG MULIA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN HARTA BENDA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

ADAB YANG MULIA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN HARTA BENDA

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

فالآداب الحسنة خيرٌ للأولاد حالاً ومألاً من إعطائهم الذهب والفضة.

“Adab-adab yang mulia lebih baik bagi anak-anak untuk sekarang maupun nanti, dibandingkan memberi mereka emas dan perak.” [Bahjatu Qulubil Abrar, hlm. 197]

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/667586530088775/?type=3&theater

, , , ,

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Adab_Akhlak

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

Bismillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut ini adalah beberapa amalan sunnah ketika hujan turun:

Pertama: Merasa takut ketika melihat mendung gelap

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ, beliau sangat takut ketika melihat mendung yang sangat gelap. Karena kehadiran mendung gelap merupakan mukadimah azab yang Allah berikan kepada umat-umat di masa silam. Sebagaimana yang terjadi pada kaum ‘Ad. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِى أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِى صَلاَةٍ ثُمَّ يَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ». فَإِنْ مُطِرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا »

“Nabi ﷺ apabila melihat awan gelap di ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam sholat. Lalu beliau ﷺ membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”

Apabila turun hujan, beliau membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

ALLAHUMMA SHAYYIBAN HANI’A

Artinya:

Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat (HR. Abu Daud 5101 dan dishahihkan al-Albani)

Mengapa Nabi ﷺ meninggalkan semua aktivitasnya?

Karena beliau ﷺ takut. Beliau ﷺ keluar masuk rumah sambil berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan awan itu.

A’isyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ ( فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ .

Apabila Nabi ﷺ melihat mendung gelap di langit, beliau tidak tenang, keluar masuk, dan wajahnya berubah. Ketika hujan turun, baru beliau ﷺ merasa bahagia. A’isyahpun bertanya kepada beliau apa sebabnya. Jawab Nabi ﷺ:

“Saya tidak tahu ini mendung seperti apa. Bisa jadi ini seperti yang disampaikan kaum ‘Ad: “Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta, supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih” (HR. Bukhari 3206).

Kedua: Membaca doa ketika ada angin kencang

Ketika ada angin kencang, dianjurkan membaca doa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ ماَ فِيْهَا، وَخَيْرَ ماَ أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.

ALLAHUMMA INNI AS ‘ALUKA KHOYROHA WAKHOYRO MAA FII HAA, WA KHOYRO MAA URSILAT BIHI, WA-A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA, WA SYARRI MAA FII HAA WA SYARRI MA URSILAT BIHI

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan angin ini, kebaikan yang dibawa angin ini, dan kebaikan angin ini diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan angin ini, keburukan yang dibawa angin ini, dan keburukan angin ini diutus (HR. Muslim 2122)

A’isyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ »

Apabila ada angin bertiup, Nabi ﷺ membaca doa: [doa tersebut di atas]

Ketiga: Membaca doa ketika hujan turun

Ketika hujan turun, dianjurkan membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

ALLAHUMMA SHOYYIBAN NAAFI’AAN

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaatPost

Dari Ummul Mukminin, A’isyah radhiyallahu ‘anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi ﷺ ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan: “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].” (HR. HR. Ahmad no. 24190, Bukhari no. 1032, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, beliau ﷺ membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

ALLAHUMMA SHOYYIBAN HANI’AN

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat

Keempat: Perbanyak doa ketika turun hujan

Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua doa yang tidak akan ditolak: Doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dan dihasankan al-Albani; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)

Turunnya Hujan, Kesempatan Terbaik untuk Memanjatkan Doa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan: “Dianjurkan untuk berdoa ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ: عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

’Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: Bertemunya dua pasukan, Menjelang sholat dilaksanakan, dan Saat hujan turun.” (al-Mughni, 2/294)

Kelima: Ngalap berkah dari air hujan

Dalam Alquran, Allah menyebut hujan sebagai sesuatu yang diberkahi:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya), lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaf: 9)

Di antara bentuk ngalap berkah (tabarruk) yang diperbolehkan dalam syariat adalah ngalap berkah dengan air hujan. Bentuknya dengan menghujankan sebagian anggota tubuh kita. Mengapa ini diizinkan? Jawabnya, karena Nabi ﷺ pernah melakukannya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ menyingkap bajunya, lalu beliau ﷺ guyurkan badannya dengan hujan. Kami pun bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan demikian?” Jawab Rasulullah ﷺ:

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Ahmad 12700, Muslim 2120, dan yang lainnya).

An Nawawi menjelaskan:

ومعناه أَنَّ الْمَطَرَ رَحْمَةٌ وَهِيَ قَرِيبَةُ الْعَهْدِ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى لَهَا فَيُتَبَرَّكُ بِهَا

“Makna hadis ini adalah hujan itu rahmat. Rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bertabaruk (mengambil berkah) darinya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/195).

Kapan Dianjurkan Ngalap Berkah?

Kita simak keterangan an Nawawi:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوْلِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَطَرِ أَنْ يَكْشِفَ غَيْرَ عَوْرَتِهِ لِيَنَالَهُ الْمَطَرُ

“Dalam hadis ini terdapat dalil yang mendukung pendapat ulama Syafi’iyah tentang anjuran menyingkap bagian badan selain aurat pada awal turunnya hujan, agar bisa terguyur air hujan.” (Syarh Shahih Muslim, 6/196).

Contoh Bentuk Ngalap Berkah dengan Hujan

Praktik ngalap berkah ketika turun hujan juga dilakukan oleh Ibnu Abbas. Ketika hujan turun, Ibnu Abbas menyuruh pembantunya (Jariyah) untuk mengeluarkan barang-barangnya, agar terkena hujan.

Dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Apabila turun hujan, beliau mengatakan: ”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membaca (ayat):

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Dan Kami menurunkan dari langit, air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf: 9).” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1228 dan dinyatakan Shahih Mauquf, sampai Ibnu Abbas).

Keenam: Membaca doa ketika melihat atau mendengar suara petir

Doa ini menunjukkan pengagungan kita kepada Allah. Di saat kita terheran karena melihat fenomena alam yang mengerikan, kita memuji Allah yang telah menciptakannya.

Di antara doa yang dianjurkan untuk kita baca, doa ketika melihat atau mendengar petir:

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

SUBHAANALLADZI YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAAIKATU MIN KHIIFATIHI

Artinya:

Maha Suci Dzat, petir itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya

Dari Amir, dari ayahnya Abdullah bin Zubair:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيثَ وَقَالَ سُبْحَانَ الَّذِى يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ. ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ هَذَا لَوَعِيدٌ لأَهْلِ الأَرْضِ شَدِيدٌ

Apabila beliau mendengar petir, beliau berhenti bicara. Lalu membaca doa di atas. Kemudian beliau mengatakan: ‘Sungguh ini adalah ancaman keras bagi penduduk bumi.’ (al-Muwatha’, Malik, no. 1839 dan dihahihkan al-Albani dalam Shahih al-Kalim at-Thayib).

Ketujuh: Ketika Terjadi Hujan Lebat

Ketika turun hujan, kita berharap agar hujan yang Allah turunkan menjadi hujan yang mendatangkan berkah dan bukan hujan pengantar musibah. Karena itu, ketika hujan datang semakin lebat, dan dikhawatirkan membahayakan lingkungan, kita berdoa memohon, agar hujan dialihkan ke daerah lain, agar lebih bermanfaat.

Di Madinah pernah terjadi hujan satu pekan berturut-turut, hingga banyak tanaman yang rusak dan binatang kebanjiran. Para sahabat meminta pada Nabi ﷺ supaya berdoa agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau ﷺ berdoa:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan membahayakan kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari 1013 & Muslim 2116).

Kedelapan: Jangan Mencela Hujan

Sebagian orang merasa dirugikan ketika musim hujan. Tertuama mereka yang aktivitasnya dilakukan pada cuaca cerah. Memang benar, tidak semua yang terjadi di sekitar kita sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang kita berharap langit cerah, namun Allah turunkan hujan. Dan sebaliknya. Namun apakah kehendak Allah harus bergantung kepada kehendak kita?

Hati bisa saja sedih dengan kondisi tidak nyaman yang kita alami karena hujan. Namun jangan sampai kesedihan ini menyebabkan kita menjadi murka dan marah dengan takdir Allah. Terlebih, jaga lisan baik-baik, jangan sampai mengeluarkan kata celaan terhadap hujan yang Allah turunkan.

Terkadang kita tidak sadar, ucapan kita bisa menjadi sebab diri kita tergelincir ke dalam Neraka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang mengundang ridha Allah, yang tidak sempat dia pikirkan, namun Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Sebaliknya, ada hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dia pikirkan bahayanya, lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam.” (HR. Ahmad 8635, Bukhari 6478, dan yang lainnya).

Mencela Hujan = Mencela Dzat Yang Memberi Hujan

Protes seorang hamba ketika Allah menetapkan takdir, sejatinya dia protes kepada Allah. Tak terkecuali protes terhadap turunnya hujan. Dalam Hadis Qudsi, Allah ta’ala melarang kita mencela keadaan yang Dia ciptakan. Rasulullah ﷺ bersabda: bahwa Allah Ta’ala berfirman:

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Manusia menyakiti Aku. Dia mencaci maki masa (waktu), padahal Akulah adalah pemilik masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000, dan yang lainnya).

Dalil di atas berbicara tentang hukum mencela waktu. Kasus mencela hujan, tidak berbeda dengan mencela waktu.

Rincian Hukum Mencela Hujan

Para ulama memberikan rincian hukum untuk kasus mencela waktu, hujan atau semacamnya.

  • Pertama, hanya sebatas memberitakan. Misalnya seseorang mengatakan: ‘Sepatu saya rusak karena kehujanan.’ ‘Motor saya macet karena kehujanan.’
  • Kedua, mencela hujan dengan maksud mencela ketetapan dan takdir Allah. Misalnya seseorang mengatakan: ‘Ini hujan, ngapain turun. Bikin tambah macet aja.’ ‘Sebel, hujan terus. Pagi-pagi sudah hujan.’

Celaan semacam ini termasuk perbuatan dosa, karena hakikatnya, dia mencela Allah.

Kesembilan: Berwudhu dengan air hujan

Allah ta’ala menyebut hujan sebagai air untuk bersuci. Allah berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dialah yang menurunkan kepada kalian hujan dari langit yang menyucikan kalian.” (QS. al-Anfal: 11)

Allah juga berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Dan Kami turunkan dari langit air yang bisa digunakan untuk bersuci. (QS. al-Furqan: 48).

Ibnu Katsir mengatakan:

أي: آلة يتطهر بها

(Makna Maa’an Thahura), alat untuk bersuci. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/114).

Karena itulah diriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ, apabila ada aliran air hujan, beliau ﷺ berwudhu dengannya.

كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ “

Apabila air mengalir di lembah, Nabi ﷺ mengatakan: “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya.” (HR. Baihaqi 3/359 dan dishahihkan dalam Irwa al-Ghalil no. 679).

Ibnu bi Hatim membawakan keterangan dari Tsabit al-Bunani:

دخلت مع أبي العالية في يوم مطير، وطرق البصرة قذرة، فصلى، فقلت له، فقال: { وَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا } قال: طهره ماء السماء

Saya masuk kota Bashrah bersama Abul Aliyah di waktu cuaca hujan. Ketika masuk Bashrah, kami terkena kotoran. Kemudian Abul Aliyah sholat. Saya pun menegurnya. Lalu beliau membaca firman Allah, (yang artinya): ‘Kami turunkan dari langit air yang bisa digunakan untuk bersuci’. Lalu beliau mengatakan: “Telah disucikan oleh air hujan.” (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, 6/115).

Seperti itulah bagaimana respon para ulama terhadap ayat Alquran yang Allah turunkan. Mereka mempraktikkannya dalam kehiupan sehari-hari.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويستحب أن يتوضأ من ماء المطر إذا سال السيل

“Dianjurkan untuk berwudhu dengan air hujan apabila airnya mengalir.” (al-Mughni, 2/295)

Kesepuluh: Kalimat azan khusus ketika hujan

Bagi kaum pria, sholat jamaah di masjid merupakan syiar mereka. Hanya saja ketika turun hujan, mereka diizinkan untuk sholat di rumah. Karena hujan menjadi udzur baginya. Karena itu, bagi muadzin yang mengumandangkan azan di tengah derasnya hujan, dia dianjurkan untuk mengucapkan:

صَلّوْا فِي بُيُوتِكُـمْ

“Sholatlah di rumah kalian”.

Kalimat ini menggantikan ‘Hayya ‘alas Shalah’

Dari Abdullah bin Harits, bahwa Ibnu Abbas memerintahkan muadzin ketika suasana hujan:

إِذا قلتَ أشهد أنَّ محمداً رسول الله فلا تقُل: حيَّ على الصلاة، قل: صلّوا في بيوتكم

Jika kamu telah selesai mengumandangkan ‘Asyhadu anna Muhammadar rasulullah’, jangan ucapkan ‘Hayya ‘alas shalah’. Tapi ucapkanlah: SHALLU FII BUYUTIKUM.

Mendengar ini, banyak orang merasa aneh dan mengingkari nasihat Ibnu Abbas. Kemudian beliau mengatakan:

فعَله من هو خيرٌ منّي، إِنَّ الجُمعة عَزمةٌ، وإنِّي كرهتُ أن أحرجكم فتمشون في الطين والدَّحْض

Ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari pada aku (Rasullullah ﷺ). Sesungguhnya Jumatan itu kewajiban, dan saya tidak ingin memberatkan kalian, sehingga harus berjalan di tanah becek dan lumpur. (HR. Bukhari 901).

Atau bisa juga dengan mengumadangkan:

صلوا في رحالكم

“Sholatlah di tempat kalian”

Kalimat ini dibaca seusai Hayya ‘alal Falah.

Dari Nuaim bin an-Naham Radhiyallahu ‘anhu, mengatakan:

سمعت مؤذن النبي – صلى الله عليه وسلم – في ليلة باردة وأنا في لحاف فتمنيت أن يقول: صلوا في رحالكم، فلما بلغ حي على الفلاح، قال: صلوا في رحالكم، ثم سألت عنها فإذا النبي – صلى الله عليه وسلم – كان أمر بذلك

Saya mendengar muadzin Nabi ﷺ di malam yang sangat dingin, sementara aku sedang memakai selimut, maka saya berharap dia mengumandangkan: SHALLUU FII RIHALIKUM.’ Ketika sampai pada Hayya ‘alal Falah, muadzin mengumandangkan, ‘Shalluu fii rihalikum.’ Aku pun bertanya kepada Muadzin, dan ternyata Nabi ﷺ yang menyuruhnya. (HR. Ahmad 18098, dan Abdurrazaq dalam Mushannaf 1925)

Kesebelas: Doa Seusai Hujan

Doa ini menggambarkan rasa syukur kita kepada Allah, atas hujan yang telah Allah turunkan. Karena itu, doa ini menjadi lambang ketauhidan seseorang kepada Allah. Doa itu adalah

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

MUTHIRNA BI FADHLILLAHI WA ROHMATIH

Artinya:

Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah

Dari Zaid bin Kholid al-Juhani, Nabi ﷺ melakukan sholat Subuh bersama kami di Hudaibiyah, setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau ﷺ menghadap ke jamaah, lalu bersabda:

هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ

“Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?”

Jawab para sahabat: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dia beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari 486, Muslim 240 dan yang lainnya)

Kita bisa perhatikan, Allah membanggakan orang yang membaca doa di atas ketika usai hujan, karena doa ini melambangkan rasa syukur kepada Allah, dan menyandarkan nikmat kepada Allah. Bukti bahwa dia adalah orang yang mengagungkan Allah.

Syirik ketika Hujan

Kebalikan dari sikap di atas, menyandarkan hujan kepada selain Allah. Nabi ﷺ menyebutnya sebagai sikap kekufuran. Lantas kapan terhitung sebagai kekufuran?

Ibnu Rajab menjelaskan:

فإضافة نزول الغيث إلى الأنواء، إن اعتقد أن الأنواء هي الفاعلة لذلك، المدبرة له دون الله عز وجل، فقد كفر بالله، وأشرك به كفرا ينقله عن ملة الإسلام، ويصير بذلك مرتدا، حكمه حكم المرتدين عن الإسلام، إن كان قبل ذلك مسلما. وإن لم يعتقد ذلك، فظاهر الحديث يدل على أنه كفر نعمة الله. وقد سبق عن ابن عباس، أنه جعله كفرا بنعمة الله عز وجل.

Menyandarkan turunnya hujan kepada rasi bintang, ada dua keadaan:

  • Jika dia meyakini bahwa rasi bintang itu yang menurunkan hujan, yang mengatur hujan, dan bukan Allah, maka dia telah kufur kepada Allah, menyekutukan Allah. Dia melakukan kekufuran yang menyebabkannya keluar dari Islam. Sehingga dia menjadi murtad. Statusnya sebagaimana orang yang murtad dari Islam, jika sebelumnya dia Muslim.
  • Namun jika dia tidak meyakini demikian, zahir hadis menunjukkan, bahwa dia kufur nikmat. Dan telah disebutkan keterangan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau menilai perbuatan ini sebagai kufur kepada nikmat Allah ‘azza wa jalla.

(Fathul Bari, 9/260)

 

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/23808-amalan-ketika-hujan-bagian-01.html

https://konsultasisyariah.com/23819-amalan-ketika-hujan-bagian-02.html

 

 

 

, ,

SHOLAT SUNNAH DUA RAKAAT DI MALAM PERTAMA PENGANTIN

SHOLAT SUNNAH DUA RAKAAT DI MALAM PERTAMA PENGANTIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SHOLAT SUNNAH DUA RAKAAT DI MALAM PERTAMA PENGANTIN

Di Antara Adab Malam Pertama

Pertanyaan:

Apakah ada sholat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai malam pertamanya dengan sholat dua rakaat berjamaah. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

Dalil pertama: dari Abu Said beliau mengatakan:

Saya menikahi seorang wanita ketika saya masih sebagai budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzifah radhiallahu’anhum. Lalu tibalah waktu sholat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami sholat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka sholat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku:

إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

“Jika istrimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua sholat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan istrimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua.” (HR. Ibnu Abi Syaibah Al-Mushannaf no. 29733 dan dishahihkan Al-Albani)

Dalil kedua: dari Syaqiq, beliau mengatakan:

Ada seseorang yang bernama Abu Hariz mengatakan: “Saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas’ud memberi nasihat:

إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين

“Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika istrimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan sholat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

Allohumma baariklii fii ahlii wabaariklahum fiyya. Allohummaj ma’  baynanaa maa jama’ta bikhoirin wa farriq baynanaa idzaa farraqta ilaa khoirin

Artinya:

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”(Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 17156 dan dishahihkan Al-Albani).

Tata caranya sholat sebelum malam pertama:

  1. Tata cara sholat dua rakaat ketika malam pertama, sama dengan tata cara sholat biasa, yaitu
  2. Suami menjadi imam bagi istrinya.
  3. Bacaan sholat boleh dikeraskan.
  4. Tidak ada anjuran untuk membaca surat atau ayat tertentu.
  5. Tidak ada doa khusus, selain doa di atas dan dibaca setelah sholat.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/8726-sebelum-malam-pertama.html

 

, ,

MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA

MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA

MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA

Saat pertama kali pengantin pria menemui istrinya setelah akad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:

Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya, seraya mendoakan baginya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا (وَلْيُسَمِّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ) وَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak, maka peganglah ubun-ubunnya, lalu bacalah ‘Basmalah’ (ucapan Bismillaahirrohmanirrohim), serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan:

Allahumma inni as-aluka khoiro-ha wa khoiro ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa. [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menShahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)].

Kedua: Hendaknya ia mengerjakan sholat sunnah dua rakaat bersama istrinya

Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Sahabat dan Tabi’in).

  1. Hadis dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid

Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Sahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu sholat. Abu Dzarr bergegas untuk mengimami sholat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka sholat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku: ‘Jika istrimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua sholat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan istrimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua…!’”[ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H].

  1. Hadis dari Abu Waail

Ia berkata: “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata: ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari setan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan sholat dua rakaat di belakangmu, lalu ucapkanlah (berdoalah):

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

Allohumma baariklii fii ahlii wabaariklahum fiyya. Allohummaj ma’  baynanaa maa jama’ta bikhoirin wa farriq baynanaa idzaa farraqta ilaa khoirin

Artinya:

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan, dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461)].

Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya

Hal ini berdasarkan hadis Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah ﷺ. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau ﷺ supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau ﷺ pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah ﷺ disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya: ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah ﷺ!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H].

Keempat: Berdoa sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli istrinya, hendaklah ia membaca doa:

بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

Bismillah, allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma].

Kelima: Suami boleh menggauli istrinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya, asalkan pada kemaluannya

Allah Ta’ala berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Istri-Istrimu adalah ladang bagimu. Maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata: “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau ﷺ bertanya: ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab: ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ [Pelana adalah kata kiasan untuk istri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi istri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi istrinya berada di atas, yaitu menunggangi istrinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi istrinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209))]. Dan beliau ﷺ tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

“Istri-Istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja, dengan cara yang kamu sukai…” [Al-Baqarah : 223]

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ، وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ.

“Setubuhilah istrimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haid”  [Hadis Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan.” Hadis ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291)].

Juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

مُقْبِلَةٌ مُدْبِرَةٌ إِذَا كَانَتْ فِي الْفَرْجِ

“Silakan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang, asalkan pada kemaluannya” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini]

Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Istrinya Kapan Waktu Saja

  • Apabila suami telah melepaskan hajat biologisnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit, hingga istrinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Jika seseorang di antara kalian menggauli istrinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu].

  • Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Rafi’ radhi-yallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam. Beliau ﷺ mandi di rumah Fulanah dan rumah Fulanah. Abu Rafi’ berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau ﷺ menjawab:

هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ

“Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.” [Hadis Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108)].

  • Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) istrinya kapan waktu saja yang ia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi istrinya. Hal ini berdasarkan riwayat, bahwasanya Rasulullah ﷺ melihat wanita yang mengagumkan beliau ﷺ. Kemudian beliau ﷺ mendatangi istrinya -yaitu Zainab radhiyallaahu ‘anha- yang sedang membuat adonan roti. Lalu beliau ﷺ melakukan hajatnya (berjima’ dengan istrinya). Kemudian beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِيْ صُوْرَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِيْ صُوْرَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِيْ نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa setan, dan membelakangi dalam rupa setan  [Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu]. Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi istrinya. Karena yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471)].

Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata: “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak, agar segera mendatangi istrinya – atau budak perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya, untuk meredakan syahwatnya, juga agar jiwanya menjadi tenang.” [Syarah Shahiih Muslim (IX/178)].

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadis tersebut di atas adalah berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” .[An-Nuur : 30]

Dari Abu Buraidah, dari ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda kepada ‘Ali:

يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ اْلأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ

“Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan ke pandangan lainnya, karena yang pertama untukmu, dan yang kedua bukan untukmu” [Hadis Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149)].

  • Haram menyetubuhi istri pada duburnya dan haram menyetubuhi istri ketika ia sedang haid/ nifas.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah: ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah istri [Jangan bercampur dengan istri pada waktu haid] pada waktu haid; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyucikan diri.” [Al-Baqarah : 222]

Juga sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا: فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa yang menggauli istrinya yang sedang haid, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu].

Juga sabda beliau ﷺ:

مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

“Dilaknat orang yang menyetubuhi istrinya pada duburnya.” [Hadis Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105)].

  • Kaffarat bagi suami yang menggauli istrinya yang sedang haid

Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Barang siapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, lalu menyetubuhi istrinya yang sedang haid sebelum suci dari haidnya, maka ia harus bersedekah dengan setengah pound emas Inggris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi ﷺ tentang orang yang menggauli istrinya yang sedang haid, lalu Nabi ﷺ bersabda:

يَتَصَدَّقَ بِدِيْنَارٍ أَوْ نِصْفِ دِيْنَارٍ

“Hendaklah ia bersedekah dengan satu Dinar atau setengah Dinar.’” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122)].

  • Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan istrinya yang sedang haid, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

اِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاح

“Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima’/ bersetubuh).” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123)].

  • Apabila suami atau istri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu’ terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ

“Apabila beliau ﷺ hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau ﷺ berwudhu’ seperti wudhu’ untuk sholat. Dan apabila beliau ﷺ hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau ﷺ mencuci kedua tangannya, kemudian beliau makan dan minum.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659)].

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

“Apabila Nabi ﷺ hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu’) untuk sholat.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660)].

  • Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesehatan.
  • Suami istri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami istri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing.

Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah ﷺ adalah riwayat yang bathil, karena di dalam sanadnya ada seorang pendusta [Lihat Adabuz Zifaf hal. 109]

  • Haram hukumnya menyebarkan rahasia rumah tangga dan hubungan suami istri

Setiap suami maupun istri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami istri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya pada Hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan istrinya, dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadis ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadis-hadisnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadis ini semakna dengan hadis-hadis lain yang Shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami istri].

Dalam hadis lain yang Shahih, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami istri). Perumpamaannya seperti setan laki-laki yang berjumpa dengan setan perempuan di jalan, lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan), dilihat oleh orang banyak…” [Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457)].

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata: “Apa yang dilakukan sebagian wanita berupa membeberkan masalah rumah tangga dan kehidupan suami istri kepada karib kerabat atau kawan, adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang istri menyebarkan rahasia rumah tangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang. Allah Ta’ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [An-Nisaa’ : 34]

Nabi ﷺ mengabarkan, bahwa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan istrinya, dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia pasangannya” [Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212)].

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3228-malam-pertama-dan-adab-bersenggama.html

 

,

JANGAN LUPA BACA DOA INI DI MALAM PERTAMA PENGANTIN, SEMOGA KEBERKAHAN UNTUK KALIAN

JANGAN LUPA BACA DOA INI DI MALAM PERTAMA PENGANTIN, SEMOGA KEBERKAHAN UNTUK KALIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Doa_Zikir

JANGAN LUPA BACA DOA INI DI MALAM PERTAMA PENGANTIN, SEMOGA KEBERKAHAN UNTUK KALIAN

Ada beberapa adab yang telah diajarkan oleh Islam, untuk suami istri pada malam pertama pengantin mereka. Saat pertama kali pengantin pria menemui istrinya setelah akad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal. Hal ini sebagaimana dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ  bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا (وَلْيُسَمِّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ) وَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘Basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” [HRS Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), . Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)]

Berdasarkan hadis di atas maka, langkahnya sebagai berikut:

Pertama, pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya seraya mendoakan baginya.

Kedua, bacalah Basmalah (yaitu ucapan Bismillaahirrohmanirrohim).

Ketiga mendoakan keberkahan, misalnya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْها، وَبَارِكْ لَهَا فِيَّ

Allahumma barikly fiyha wa barik laha fiy

Artinya:

“Ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya.”

Keempat, kemudian membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Allahumma inni as-aluka khoiro-ha wa khoiro ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.

Silakan hafalkan doa ini. Semoga bermanfaat dan semoga keberkahan untuk kalian.

 

,

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Birrul_Walidain

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

MAKNA “AL BIRR”

Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ (artinya): “Al Birr adalah baiknya akhlak”. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).

Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq.

“Al Birr adalah menaati kedua orang tua di dalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.”  (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)

Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah ﷻ (artinya): “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS. Al Isra’: 24). Yaitu: “Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikit pun”.  (Ad Darul Mantsur 5/259)

Berkata Imam Al Qurtubi, mudah-mudahan Allah merahmatinya: “Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah. Sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau menaatinya, selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya. Demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, mudah-mudahan Allah merahmatinya: Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir “Barang siapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali”. (Ghadzaul Al Baab 1/382).

HUKUM BIRRUL WALIDAIN

Para Ulama’ Islam sepakat, bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua adalah wajib. Hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.

Berkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya: “Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkata beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: “Birrul walidain adalah wajib, pada selain perkara yang haram.” (Ghdzaul Al Baab 1/382)

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , di antaranya:

  1. Firman Allah ﷻ (artinya): “Sembahlah Allah dan jangan kamu memersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (An Nisa’: 36).

Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah. Dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak memersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

  1. Firman Allah ﷻ (artinya): “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra’: 23).

Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir: yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy: yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: “Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua, seiring dengan perintah untuk menauhidkan dan beribadah kepada-Nya. Ini pemberitahuan tentang betapa besar hak mereka berdua. Sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).

  1. Firman Allah ﷻ (artinya): “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman: 14).

Berkata Ibnu Abbas, mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua: “Tiga ayat dalam Alquran yang saling berkaitan, di mana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan di antaranya firman Allah ﷻ (artinya): “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu”. Berkata beliau: “Maka, barang siapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.” (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).

Berkaitan dengan ini, Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”  (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadis ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadis Ash Shahiihah No. 516).

  1. Hadis Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil). Dan Allah membenci atas kalian (mengatakan), katanya si Fulan begini si Fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN

Pertama: Termasuk Amalan Yang Paling Mulia

Dari Abdullah bin Mas’ud, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah? Bersabda Rasulullah ﷺ: “Sholat tepat pada waktunya”. Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Bersabada Rasulullah ﷺ: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi: Lalu apa lagi? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Berjihad di jalan Allah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

Kedua: Merupakan Salah Satu Sebab Diampuninya Dosa

Allah ﷻ berfirman (artinya): “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya: “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka, amal yang baik yang telah mereka kerjakan. Dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni Surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al Ahqaf 15-16)

Diriwayatkan oleh ibnu Umar, mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya, bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar. Apakah masih ada pintu taubat bagi saya? Maka bersabda Rasulullah ﷺ: “Apakah Ibumu masih hidup?” Berkata dia: Tidak. Bersabda beliau ﷺ: “Kalau bibimu masih ada?” Dia berkata: “Ya” . Bersabda Rasulullah ﷺ: “Berbuat baiklah padanya”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth: Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Ketiga: Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga

Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah ﷺ ditanya: Siapa wahai Rasulullah? Bersabda Rasulullah ﷺ: “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut, kemudian dia tidak masuk Surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah, mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah ﷺ, kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasihat pada Anda. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya”. Bersabda Rasulullah ﷺ: “Tetaplah dengannya, karena sesungguhnya Surga itu di bawah telapak kakinya”. (Hadis Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadis ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

Keempat: Merupakan Sebab keridhoan Allah

Sebagaimana hadis yang terdahulu “Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua”.

Kelima: Merupakan Sebab Bertambahnya Umur

Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang suka Allah besarkan rezekinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.

Keenam: Merupakan Sebab Barokahnya Rezeki

Dalilnya, sebagaimana hadis sebelumnya.

ADAB BIRRUL WAALIDAIN

(Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)

Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam Alquran, agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkannya berbarengan dengan penauhidan-Nya Azza wa Jalla, dan memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya sebagaimana akan disebutkan kemudian.

Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Di sini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya akan sebutkan beberapa adab tersebut, antara lain:

Hak-Hak Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup

Di antara hak orang tua ketika masih hidup adalah:

  1. Menaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah

Menaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua, kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk memersekutukan dengan Aku, sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Tidak boleh menaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasululah ﷺ:

“Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan.” (HR. Bukhari no. 4340, 7145, 7257, dan Muslim no. 1840, dari Ali radhiyallahu ‘anhu)

Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib menaati kedua orang tua selamanya, dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.

  1. Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapaknya…” (QS. Al-Ahqaaf: 15)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu memersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapak…” (QS. An-Nisaa’: 36)

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut, hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” (QS. Al-Israa’: 23-24)

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi, orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta, atau salah seorang dari mereka, kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” (HR. Muslim no. 2551, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan ‘Ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan.

  1. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya

Tidak boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua, atau di hadapan mereka berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, memersilakan mereka duduk di tempat yang empuk, menyodorkan bantal, janganlah mendahului makan dan minum, dan lain sebagainya.

  1. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka

Berbicara dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua, dan merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah ﷻ:

“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)

Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafaz yang bagus.

  1. Menyediakan Makanan Untuk Mereka

Menyediakan makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik, dan lebih mendahulukan mereka berdua daripada dirinya, anaknya, dan istrinya.

  1. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah ﷺ dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau ﷺ balik bertanya: “Apakah kamu masih memunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau ﷺ bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Aku datang membai’atmu untuk hijrah dan tinggalkan kedua orang tuaku menangisi (kepergianku). Maka Nabi ﷺ bersabda: “Pulanglah dan buatlah mereka tertawa, sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” (HR. Abu Dawud no. 2528, an-Nasa-i, VII/143, Ibnu Majah no. 2782, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud no. 2205)

Seorang laki-laki hijrah dari negeri Yaman, lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih memunyai kerabat di Yaman?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau ﷺ kembali bertanya: “Apakah mereka berdua mengizinkanmu?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak.” Lantas, Nabi ﷺ bersabda: “Kembalilah kamu kepada mereka, dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut berjihad. Namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.” (HR. Ahmad, III/76; Abu Dawud no. 2530; al-Hakim, II/103, 103, dan ia men-shahihkannya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahihh Abu Dawud no. 2207)

Seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Aku membai’at Anda untuk berhijrah dan berjihad, semata-mata hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau ﷺ bersabda kepada laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, bahkan keduanya masih hidup.” Beliau ﷺ kembali bersabda: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah ﷻ?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Kemudian, Nabi ﷺ bersabda: “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu, dan berbaktilah kepada keduanya.” (HR. Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

  1. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan

Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi ﷺ bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, II/204, Abu Dawud no. 3530, dan Ibnu Majah no. 2292, dari Ibnu ‘AMr radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami no. 1486)

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.

  1. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka

Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadis yang berkaitan dengan masalah ini.

  1. Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua

Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.

  1. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain, kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain, lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk.

Orang-orang sering bergurau dan bercanda dengan melakukan perbuatan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan.

  1. Mendahulukan Berbakti Kepada Ibu Daripada Ayah

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau ﷺ kembali menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya: “Lalu siapa lagi?” Beliau ﷺ kembali menjawab: “Ibumu.” Lalu siapa lagi?” tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau ﷺ.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadis di atas tidak bermaksud lebih menaati ibu daripada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan dalam syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat pada suaminya, yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang dari mereka menyuruh berbuat taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk menaati yang pertama.

Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu, yaitu lebih bersikap lemah-lembut, lebih berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran.

Sebagian salaf berkata: “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”

Demikian penjelasan umum hak-hak orang tua semasa mereka masih hidup.

Hak-Hak Orang Tua Setelah Mereka Meninggal Dunia

Di antara hak orang tua setelah mereka meninggal adalah:

  1. Menyalati Keduanya

Maksud menyalati di sini adalah mendoakan keduanya, yakni setelah keduanya meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendoakan keduanya, niscaya kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan dirinya.” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  1. Beristighfar Untuk Mereka Berdua

Orang tua adalah orang yang paling utama bagi seorang Muslim untuk didoakan, agar Allah mengampuni mereka, karena kebaikan mereka yang besar. Allah ﷻ menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Alquran:

“Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” (QS. Ibrahim: 41)

  1. Menunaikan Janji Kedua Orang Tua

Hendaknya seseorang menunaikan wasiat kedua orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua, apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.

  1. Memuliakan Teman Kedua Orang Tua

Memuliakan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik pada orang tua, sebagaimana yang telah disebutkan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab Badui di jalan menuju Makkah. Kemudian, Ibnu Umar mengucapkan salam kepadanya dan memersilakannya naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa berjalan.” Ibnu Umar berkata: “Sungguh, dulu ayahnya teman Umar bin al-Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya, bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” (HR. Muslin no. 2552 dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

  1. Menyambung Tali Silaturahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

Hendaknya seseorang menyambung tali silaturahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua orang tuanya, dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadis yang telah disebutkan dan sabda beliau ﷺ:

“Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Hibban no. 433 dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ no. 5960)

Demikianlah akhir dari adab berbakti kepada kedua orang tua yang telah dimudahkan Allah kepadaku untuk menuliskannya, yang seluruhnya berjumlah enam belas adab. Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.*

Referensi tambahan: Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman setelahnya, Fathul Baari (X/414) dan halaman setelahnya, al-Ihsan bi Tattiibi Shahiih Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya, al-Aadaab karya al-Baihaqi (hlm.5) dan halaman setelahnya, al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya, Ihyaa’ Uluumuddin karya al-Ghazali (II/216) dan halaman setelahnya, Birrul Waalidain karya ath-Thurthusi, dan lain-lain.

 

Dikutip langsung dari Ensiklopedi Adab Islam Menurut Alquran dan As-Sunnah, Jilid I, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, cetakan pertama Agustus 2007, hlm. 171-179).