Posts

,

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

Oleh: Ustadz Mas’ud Abu Abdillah

(Narasumber Acara Konsultasi Rumah Tangga di Wesal TV)

Belum lama ini kita disuguhi berita heboh tentang tuntutan cerai dari istri seorang ustadz yang cukup sering tampil di layar kaca. Ia digugat cerai oleh sang istri yang sudah belasan tahun dinikahinya. Alasannya Karena ia berpoligami secara diam-diam. Usia pernikahannya dengan istri kedua sudah berjalan sekian tahun, bahkan sudah memiliki keturunan.

Serba salah, karena beliau dikenal sebagai tokoh agama, yang mana kekisruhan rumah tangga menjadi sesuatu yang kurang elok, bahkan bisa berimbas pada nilai yang didakwahkannya selama ini.

Menjalankan kehidupan berumah tangga dengan melakukan poligami yang tanpa izin istri pertama pun sebenarnya sah saja. Tapi bagaimanapun ada hal-hal yang perlu dijadikan renungan bagi pelaku, atau mereka yang hendak berpoligami, agar sunnah ini tidak mencoreng wajah syariat Islam, hanya karena kegagalan dirinya dalam menjalankannya.

1- Poligami itu memang dibolehkan. Tetapi pria yang hendak berpoligami hendaknya mengukur dirinya, kemampuan membimbing, kemampuan menafkahi dan kemampuannya untuk adil. Jika masih satu saja istri dan anak-anak agamanya atau kehidupannya berantakan, maka poligami dalam keadaan ini berpotensi menambah masalah.

2- Izin istri pertama memang bukan syarat sah poligami. Tetapi menikah lagi dengan diam-diam, atau tanpa memberitahukan di awal kepada istri pertama, tentu akan sangat menyakitkan. Apapun yang terjadi, dengan memberitahukan terlebih dahulu, akan jauh lebih selamat untuk jangka panjang. Jika istri pertama menerima alhamdulillah, jika sebaliknya reaksinya diluar dugaan, maka pertanda perlunya dikondisikan terlebih dahulu dengan menunda atau membatalkannya. Poligami diam-diam hampir pasti berdampak pada kebohongan dan ketidakadilan, yang keduanya diharamkan.

3- Syariat poligami dibuat untuk kemaslahatan, bukan untuk menghancurkan. Maka jangan hanya melihat maslahat sendiri, tetapi juga perhatikan kondisi istri dan anak-anak. Pastikan mereka tetap baik-baik saja. Poligami ibarat membangun bangunan yang baik, di samping bangunan yang kokoh dan berkualitas. Bukan malah meruntuhkan dan mengacak-acak bangunan sebelumnya.

4- Sadarilah, bahwa sebelum anak dan istri, maka sesungguhnya suamilah yang pertama merasakan konsekuensi dunia-Akhirat dari poligami. Waktu untuk beribadah mungkin tidak sebanyak jika hanya satu istri (apalagi jika rumah para istri berjauhan, waktu banyak habis di jalan). Perhatian ke anak-anak pun akan berkurang karena terbagi. Tanggungjawab menafkahi semakin bertambah. Tuntutan untuk membina dan mendidik istri semakin bertambah. Pertangungjawaban dan hisab di hadapan Allah semakin banyak, sebanyak anggota keluarga yang ada, dan sebagainya. Dengan begitu, ia akan memiliki kesadaran penuh dan pemahaman yang utuh, untuk melakukan poligami itu atau mengurungkannya, bukan berdasarkan emosi ataupun provokasi.

5- Milikilah motivasi, alasan, dan prinsip yang baik, tulus, sekaligus kokoh, yang lahir dari analisis kemampuan dan kelayakan yang komprehensif. Hindari alibi dan alasan yang dibuat-buat, karena selain menyakitkan, juga jadi lucu. Misalnya alasan menyelamatkan akhwat yang ditinggal mati suaminya. Maka solusinya bisa dengan menikahkannya dengan ikhwan yang masih single dsb.

6- Istrimu adalah anak perempuan dari kedua orang tuanya. Bayangkanlah jika engkau juga memiliki anak perempuan yang sangat kau sayangi. Maka perlakukanlah istrimu sebagaimana engkau ingin anak perempuanmu diperlakukan. Karena engkau pasti sedih dan marah jika putri kesayangnmu yang kau jaga selama dua puluh tahun lebih, kau didik dan kau sayangi sejak kecil, lalu dizalimi dan disakiti perasaanya. Maka begitu pulalah perasaan kedua orang tuanya terhadap putrinya atas sikapmu. Dan jika engkau tetap memutuskan berpoligami, maka ingatlah perasaan para orang tua istri-istrimu, agar kau tahu bagaimana pentingnya bersikap adil, menjaga perasaan, serta menghargai istri-istrimu.

7- Sadarilah, bahwa saat seorang berpoligami, maka secara tidak langsung ia menjadi “Duta” bagi syariat poligami yang dijalaninya. Karena mata msyarakat akan tertuju padanya. Jika gagal berantakan, maka bukan nama kita saja yang rusak, tapi justru syariat poligami yang tertuduh dan menjadi buruk, bahkan diolok-olok musuh Islam. Maka berjalanlah jika merasa bisa menjadi duta yang baik, dan jangan sembrono dan asal-asalan.

Demikian di antara renungan, yang dengannya, minimal seseorang memiliki pandangan yang utuh sebelum berpoligami. Sehingga jika jalan, maka ia berjalan dengan prinsip dan kesadaran serta kemampuan, sehingga tidak merusak citra Islam. Atau jika ia merasa banyak hal yang masih perlu dibenahi, maka dengan sadar pula ia menunda, atau bahkan membatalkannya.

Wallahu a’alam.

,

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

[Terjemah Al Qawaai’dul Arba’]

Aku memohon kepada Allah yang Mulia, Rabb pemilik ‘Arsy yang agung. Semoga Allah menjadikanmu wali di dunia dan Akhirat, dan menjadikan engkau orang yang mendapatkan berkah di mana pun engkau berada. Dan menjadikan engkau orang yang bila mendapatkan nikmat selalu bersyukur, jika mendapatkan musibah senantiasa bersabar, jika berbuat dosa segera beristighfar. Maka sesungguhnya ini adalah tiga sumber kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah senantiasa menunjuki Anda dalam ketaatan kepada-Nya, bahwasanya milah Ibrahim yang lurus adalah engkau menyembah Allah semata dengan ikhlas. Itulah perintah Alllah kepada seluruh manusia, dan itu pula tujuan makhluk diciptakan. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz Dzariyat:56].

Dan jika Engkau telah mengetahui, bahwasannya Allah menciptakanmu untuk menyembah kepada-Nya, maka ketahuilah, bahwasannya ibadah itu tidaklah dinamakan ibadah, kecuali disertai tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah dinamakan shalat, kecuali disertai dengan thaharah. Jika syirik bercampur dalam ibadah, ia akan merusaknya. Sebagaimana hadats membatalkan thaharah.

Maka apabila engkau telah mengetahui, bahwasanya syirik bila bercampur di dalam ibadah, ia dapat merusak ibadah itu, membatalkan amalan, dan menjadikan pelakunya kekal di dalam Neraka, engkau akan mengetahui pentingnya atas kalian untuk mengenal dan mengilmui perkara ini. Semoga Allah senantiasa melepaskan engkau dari jeratan itu, yaitu syirik kepada Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya, bagi siapa yang Dia kehendaki.” [QS. An-Nisaa ayat 48].

Dan memahami perkara ini (syirik), yaitu dengan mengetahui empat kaidah, sesuai dengan yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya:

Kaidah Pertama

Hendaknya engkau mengetahui, bahwasanya orang-orang kafir yang memerangi Rasulullah ﷺ. Mereka meyakini, bahwasanya Allah ta’ala-lah Pencipta dan Pengatur alam semesta. Akan tetapi itu tidaklah menjadikan mereka Muslim. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab “Allah”, maka katakanlah mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).” [QS. Yunus ayat 31]

Kaidah Kedua

Sesungguhnya mereka berkata: “Kami menyembah mereka (tandingan-tandingan selain Allah), dan bersimpuh kepada mereka, adalah hanya untuk Qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) dan meminta syafaat”.

Dalil tentang Qurbah, firman Allah ta’ala:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidaklah menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [QS. Az Zumar ayat 3].

Dalil tentang syafaat, firman Allah ta’ala:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka, dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” [QS. Yunus ayat 18]

Syafaat itu dibagi dua macam, yaitu Syafaat Manfiyah dan Syafaat Mutsbatah:

Syafaat Manfiyah (yang tertolak), yaitu engkau meminta kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya Allah yang mampu melakukannya. Dalilnya firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah), sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari itu tidak ada lagi jual-beli, dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al Baqarah ayat 254].

Syafaat Mutsbatah (syafaat yang ditetapkan), adalah syafaat yang diminta dari Allah dengan izin dari-Nya. Pemberi syafaat adalah pihak yang dimuliakan dengan syafaat, dan yang diberi syafaat adalah pihak yang Allah ridai perkataannya dan perbuatannya, setelah adanya izin Allah. Dalilnya firman Allah ta’ala:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberi syafaat, kecuali dengan izin-Nya.?” [QS. Al Baqarah ayat 255]

Kaidah Ketiga

Bahwasanya Nabi ﷺ hidup di tengah berbagai macam manusia dalam peribadatan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, dan ada yang menyembah matahari dan bulan. Namun Rasulullah ﷺ memerangi mereka semua dan tidak membeda-bedakannya. Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) ketaatan itu semata-mata untuk Allah.” [QS. Al Anfal: 39].

Dalil tentang penyembahan matahari dan bulan, firman Allah ta’ala:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah, yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [QS. Al Fushilat ayat 37]

Dalil tentang penyembahan malaikat, firman Allah ta’ala:

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan” [QS. Ali Imran ayat 80].

Dalil tentang penyembahan para Nabi, firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku, dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara-perkara yang gaib.” [QS. Al Maiadah ayat 116]

Dalil tentang penyembahan orang-orang saleh, firman Allah ta’ala:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

“Orang-orang (saleh) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” [QS. Al Isra: 57]

Dalil tentang penyembahan pohon dan batu, firman Allah ta’ala:

أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik), menganggap Al Latta dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah.” [QS. An Najm ayat 19-20].

Dan hadis Abi Waaqid Al Laitsy:

خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط

“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju ke Hunain. Ketika itu kami baru saja terbebas dari kekafiran. Kaum musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka jadikan tempat i’tikaf, dan menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon tersebut dinamakan “Dzatu Anwath”. Kemudian kami melalui sebatang pohon bidara, dan kami berkata “Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami “Dzatu Anwath” sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”

Kaidah keempat

Bahwasanya orang-orang musyrik di zaman sekarang lebih parah perbuatan syiriknya dari kaum Musyrikin terdahulu. Dikarenakan mereka (kaum Musyrikin terdahulu) menyekutukan Allah dalam keadaan lapang, tetapi ikhlas kepada Allah dalam keadaan sempit. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman sekarang menyekutukan Allah terus-menerus dalam keadaan lapang maupun sempit. Dalilnya firman Allah ta’ala:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya, tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) memersekutukan (Allah).“ [QS. Al Ankabuut ayat 65].

Selesai.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam

 

Penerjemah: Ummu Nadhifah Endang Sutanti

Sumber: https://Muslimah.or.id/6921-empat-kaidah-penting-dalam-memahami-syirik-dan-tauhid-terjemah-al-qawaaidul-arbaah.html

,

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ShirahNabawiyah
#KisahMuslim

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

Kisah Rasulullah ﷺ melarang Ali berpoligami adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami, atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa. Namun jangan sampai ia menolak syariat poligami, atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan, bahwa dari Nabi ﷺ sebenarnya melarang poligami, sebagaimana beliau ﷺ melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami Disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya:

“Apakah benar Nabi ﷺ melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah ﷺ). Dan apakah itu berarti Nabi ﷺ melarang poligami?”

Beliau menjawab:

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar:

إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

وإني لست أحرم حلالاُ، ولكن والله لا تجتمع بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبنت عدو الله مكاناُ واحد أبداً

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah ta’ala: “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib. Namun lafal “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan, bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadis Shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau ﷺ bersabda:

خير الناس أكثرهم أزواجاً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya.“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi ﷺ. Karena beliau ﷺ menikahi 13 wanita, namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ﷺ ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadis ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadis ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan:

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah KEDUSTAAN! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas, terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan:

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi ﷺ tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi ﷺ melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau ﷺ sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan: “Dan dalam kisah ini juga Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau ﷺ melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah ﷺ.

Syaikh Masyhur menambahkan:

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan, bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi ﷺ. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi ﷺ untuk melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta, bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya, setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum.

Wallahu a’lam.

Sehingga jelaslah bahwa kisah di atas tidak bisa menjadi dalil untuk menolak syariat poligami.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

 

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/30974

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html

 

,

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

SHALAT TASBIH, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SifatShalatNabi

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

Pertama, Disyariatkan atau Tidak?

Terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang shalat Tasbih, apakah disyariatkan atau tidak? Letak silang pendapat dalam hal ini adalah berkaitan dengan perbedaan pendapat ulama tentang kedudukan hadis Shalat Tasbih.

Yang lebih kuat, bahwa hadis tentang Shalat Tasbih adalah hadis yang kuat. Walaupun pada banyak riwayatnya terdapat kelemahan, namun terdapat sebagian jalur riwayat yang kuat. Karena itu, hadis Shalat Tasbih telah dishahihkan oleh banyak ulama, dari dahulu hingga hari ini.

Kedua, Tata Cara Shalat

Shalat Tasbih bukanlah tergolong ke dalam shalat sunnah Mu’akkad (yang ditekankan pelaksanaannya), bahkan hanya dilakukan kadang-kadang saja.

Secara umum, Shalat Tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan Tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar

Lafal ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap rakaat, dengan perincian sebagai berikut:

–   Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku, sebanyak 15 kali,

–   Ketika ruku’ sesudah membaca doa ruku’, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud pertama sesudah membaca doa sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud yang kedua sesudah membaca doa sujud, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat), dibaca lagi sebanyak 10 kali.

Demikianlah rinciannya, bahwa Shalat Tasbih dilakukan sebanyak empat rakaat dengan sekali Tasyahud, yaitu pada rakaat yang keempat, lalu salam. Bisa juga dilakukan dengan cara dua rakaat-dua rakaat, di mana setiap dua rakaat membaca tasyahud, kemudian salam. Wallahu A’lam.

Ketiga, Jumlah Rakaat

Semua riwayat menunjukkan empat rakaat, dengan Tasbih sebanyak 75 kali di setiap rakaat. Jadi keseluruhannya 300 kali Tasbih.

Keempat, Waktu Shalat

Waktu Shalat Tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan, bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallahu A’lam.

Terdapat pilihan dalam shalat ini. Jika mampu, bisa dikerjakan tiap hari. Jika tidak mampu, bisa tiap pekan. Jika masih tidak mampu, bisa tiap bulan. Jika tetap tidak mampu, bisa tiap tahun, atau hanya sekali seumur hidup. Karena itu, hendaklah kita memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Hadis tentang shalat Tasbih adalah hadis yang tsabit/sah dari Rasulullah ﷺ. Maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan di atas.

Demikian kesimpulan dari Shalat Tasbih dari makalah kami yang pernah dimuat di Risalah ‘Ilmiyyah An-Nashihah vol. 1.

Wallahu A’lam.

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka disertakan penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi sekitar pelaksanaan shalat Tasbih, di antaranya:

  1. Mengkhususkan pada malam Jumat saja.
  2. Dilakukan secara berjamaah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat ataupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya atau jamaahnya atau tariqatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di mesjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan Shalat Tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih sebelum atau sesudah shalat Tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

(Dengan tambahan Takhrij Hadis dari Ustadz Dzulqarnain)

 

[Jawaban di atas dinukil dari tulisan Ustadz Luqman Jamal -hafizhahullah- di majalah An-Nashihah]

Sumber: http://al-atsariyyah.com/shalat-tasbih.html

,

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

Shalat Jama’ maksudnya melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Zuhur dan shalat Ashar di waktu Zuhur dan itu dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’.

Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat fardhu, kecuali shalat Subuh. Shalat Subuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Zuhur.

Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Zuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Subuh tidak bisa diqashar.

Shalat Jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu” (QS. Annisa: 101).

Dan itu merupakan sedekah (pemberian) dari Allah subhanahu wata’ala  yang disuruh oleh Rasulullah ﷺ untuk menerimanya. [HR.Muslim]

Shalat Jama’ lebih umum daripada shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir, yang menyulitkan seorang Muslim untuk bolak- balik ke masjid. Dalam keadaan demikian, kita dibolehkan menjama’ shalat.

Ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah ﷺ menjama’ shalat Zuhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan: “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat Jama’ dan Qashar, apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan: “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir, kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan: “Saya shalat Zuhur bersama Rasulullah ﷺ di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat. [HR. Bukhari Muslim]

Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir, tidak mesti harus mengqashar shalatnya; begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Zuhur dua rakaat di waktunya dan shalat Ashar dua rakaat di waktu Ashar.

Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir, namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi. Selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Mina. Walaupun demikian, boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan, lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama’, seorang musafir yang SUDAH MENENTUKAN LAMA MUSAFIRNYA LEBIH DARI EMPAT HARI, maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang, maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  ﷺ ketika haji Wada’. Beliau ﷺ tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya.

Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya, maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh Mayoritas Ulama, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika penaklukkan kota Mekkah, beliau ﷺ tinggal sampai sembilan belas hari, atau ketika Perang Tabuk sampai dua puluh hari, beliau ﷺ mengqashar shalatnya [HR. Abu Daud. Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir, boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya [Fiqhussunah I/241].

Bagi orang yang melaksanakan Jama’ Taqdim, diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua, setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan Jama’ Ta’khir, tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Zuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Zuhur, boleh saja dia istirahat dulu, kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian, melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal, karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang mukim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang mukim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang mukim, maka ia harus mengikuti imam, dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam, maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.

Dan sunah bagi musafir untuk TIDAK MELAKUKAN Shalat Sunah Rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), kecuali Qobliyah Subuh, dan juga Shalat Witir dan Tahajjud, karena Rasulullah ﷺ  selalu melakukannya, baik dalam keadaan musafir atau mukim. Begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya, seperti shalat Tahiyatul Masjid, Shalat Gerhana, dan Shalat Janazah (maka boleh dilakukan – penj).

Wallahu a’lam bis Shawaab.

Referensi:
Fatawa As-Sholat, Syeikh Abd. Aziz bin Baz
Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abd. Adhim bin Badawi Al-Khalafi
http://abusalma.wordpress.com/2006/12/04/shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/

Untuk lengkapnya, silakan klik link berikut ini:

http://pepisusanti.blogspot.co.id/2013/02/panduan-shalat-jama-dan-qashar.html

,

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

Berikut ini adalah hadis-hadis yang menjelaskan jumlah shalat sunnah Rawatib beserta letak-letaknya:

  1. Dari Ummu Habibah istri Nabi ﷺ, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang Muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya` dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari AIsyah)

  1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghapal sesuatu dari Nabi ﷺ berupa shalat sunnat sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum shalat Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya: “Dua rakaat setelah Jumat.”

Dalam riwayat Muslim: “Adapun pada shalat Maghrib, Isya, dan Jumat, maka Nabi ﷺ mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

  1. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

  1. Hadis Ummu Habibah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”. [HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Ma Ja`a fiman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/191]

  1. Hadis yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar). [HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416)]

Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruh shalat sunnah Rawatib Zuhur, baik empat rakaat sebelum Zuhur maupun empat rakaat sesudahnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. [Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52]

Maka dari sini kita bisa mengetahui, bahwa shalat sunnah Rawatib adalah:

  1. Dua rakaat sebelum Subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  2. Dua rakaat sebelum Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  3. Dua rakaat setelah Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  4. Empat rakaat sebelum Ashar
  5. Dua rakaat setelah Jumat
  6. Dua rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  7. Dua rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah

Apakah shalat Rawatib empat rakaat dikerjakan dengan sekali salam atau dua kali salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam. Seseorang yang shalat rawatib empat rakaat, maka dengan dua salam, bukan satu salam, karena sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: “Shalat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Subuh, sebelum Jumat, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya?

Jawab:

Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau ﷺ mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau ﷺ bersabda: “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah Subuh dan Ashar, maka TIDAK ADA shalat sunnah Rawatib saat itu. Bahkan TERLARANG untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridai memersaksikan kepadaku, dan di antara mereka yang paling aku ridai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi ﷺ melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum Jumat, maka pendapat yang rajih adalah TIDAK DISUNNAHKAN.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-Rawatib.html

https://almanhaj.or.id/3506-shalat-sunah-rawatib-zhuhur.html

 

 

Tautan kajian video:

Berapa Jumlah Bilangan Shalat Sunnah Rawatib? – Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA: https://youtu.be/-NFMKRMXFQU

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib – Ustadz Khalid Basalamah: https://youtu.be/asFV38G-CwY

Sholat Rawatib – Ustadz Firanda Andirja, MA: https://youtu.be/OejZ41XFFuw

, ,

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah
#SifatSholatNabi

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

Sebagian orang mengamalkan sholat Roghaib pada malam Jumat pertama di bulan Rajab sebanyak 12 rakaat, di antara Maghrib dan Isya. Padahal TIDAK ADA satu pun dalil Shahih yang menunjukkan amalan tersebut.

Imam Besar Mazhab Syafi’i, An-Nawawi rahimahullah berkata:

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك

“Sholat yang dikenal dengan nama sholat Roghaib, yaitu sholat 12 rakaat antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam Nishfu Syaban sebanyak 100 rakaat, maka dua sholat ini adalah BID’AH yang MUNGKAR lagi JELEK.  Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumid Diin. Dan jangan tertipu dengan hadis (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu BATIL. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka, tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah SALAH BESAR dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]

Peringatan dari Beberapa Amalan Bid’ah

Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah:

قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب، وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها، وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر، وصلاة الاسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه

“Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah:

(1) Sholat Roghaib 12 rakaat yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab,
(2) Sholat Nishfu Syaban 100 rakaat,
(3) Sholat di Jumat terakhir Ramadan sebanyak 17 rakaat dengan niat qodho sholat lima waktu yang belum ia kerjakan,
(4) Sholat hari Asyuro 4 rakaat atau lebih,
(5) Sholat sunnah pekanan.

Adapun hadis-hadisnya, maka palsu lagi batil. Dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya. -Selesai-.” [Haasyiah I’anatit Thalibin, 1/312]

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

http://sofyanruray.info/adakah-amalan-khusus-di-bulan-rajab/

 

 

, ,

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

APAKAH DAPAT DIBENARKAN UNTUK DIKATAKAN, SEMUA MUSLIM ADALAH SALAFIY?

  • Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan
  • Dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya

Salafiy adalah orang-orang yang mengikuti cara beragama As-Salafush-Shaalih. Maka mereka itu (As-Salafush-Shaalih) utamanya adalah tiga generasi pertama: Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, taabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’iin. Mereka adalah generasi yang diridlai Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah: 100].

Generasi terbaik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651, Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, dan yang lainnya].

Setelah itu, Nabi ﷺ bersabda tentang keadaan umat sepeninggal beliau ﷺ:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk Neraka kecuali satu (yang masuk Surga)”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641, Al-Haakim 1/218-219, Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 85, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain:

مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 dan Al-Ausath 5/137 no. 4886].

Dalam riwayat lain:

وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ia adalah Al-Jamaa’ah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4597].

Hadis di atas selaras dengan hadis ‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…..

“Karena siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Peganglah erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ahmad 4/126-127, dan yang lainnya; shahih].

 

Hadis-hadis ini menginformasikan, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya. Merekalah Salafi (sesuai dengan pengertian sebelumnya). Merekalah Ahlus-Sunnah, sebagaimana dikatakan As-Sam’aaniy rahimahullah mengenai ciri pokok mereka:

شعار أهل السنَّة اتباعهم السلف الصالح، وتركهم كل ما هو مبتدع محدث

“Syiar Ahlis-Sunnah adalah sikap ittiba’ mereka kepada As-Salafush-Shaalih, dan meninggalkan segala sesuatu yang diada-adakan (dalam agama)” [Al-Intishaar li-Ashhaabil-Hadiits hal. 31].

Selain mereka (Salafi/Ahlus-Sunnah), maka masuk dalam 72 golongan sisanya yang terdiri dari kelompok-kelompok menyimpang dalam Islam yang tidak mengikuti jalan As-Salafush-Shaalih.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah berkata:

شعار أهل البدع: هو ترك انتحال اتباع السلف

“Syiar Ahli Bid’ah adalah meninggalkan penerimaan dalam ittiba’ terhadap salaf” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/155].

Kelompok menyimpang/Ahli Bid’ah yang masuk ke dalam kelompok sempalan yang 72 buah itu di antaranya apa yang dikatakan oleh Yuusuf bin Asbath rahimahullah:

أُصُولُ الْبِدَعِ أَرْبَعٌ: الرَّوَافِضُ، وَالْخَوَارِجُ، وَالْقَدَرِيَّةُ، وَالْمُرْجِئَةُ، ثُمَّ تَتَشَعَّبُ كُلُّ فِرْقَةٍ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ طَائِفَةً، فَتِلْكَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً، وَالثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ الْجَمَاعَةُ الَّتِي قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِنَّهَا النَّاجِيَةُ “

“Pokok-pokok kebid’ahan ada 4 (empat), yaitu Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, dan Murji’ah. Kemudian masing-masing firqah tersebut bercabang-cabang lagi menjadi 18 golongan, sehingga totalnya menjadi 72 firqah. Dan yang ke-73 adalah Al-Jamaa’ah yang disabdakan Nabi ﷺ: ‘Inilah firqah/kelompok yang selamat” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 17].

Ada perkataan ulama lain yang merinci untuk 72 kelompok sempalan ini selain dari penjelasan Yuusuf bin Asbath rahimahullah di atas. Ke-72 kelompok tersebut masih memiliki pokok Islam, namun menyimpang dari jalan As-Salafush-Shaalih.

Jika demikian, apakah dapat dibenarkan untuk dikatakan semua Muslim adalah Salafiy? Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok sempalan/Ahli Bid’ah yang menggembosi Islam dari dalam? TENTU SAJA TIDAK.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/03/sebuah-masukan-1.html?m=1

 

, ,

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahdanManhaj

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

Memang benar, keutamaan bulan dalam kalender hijriyah itu bertingkat-tingkat, begitu juga hari-harinya. Misalnya, Ramadan lebih utama dari semua bulan, Jumat lebih utama dari semua hari, malam Lailatul Qadar lebih utama dari semua malam, dan sebagainya. Namun harus kita pahami bersama, bahwa timbangan keutamaan tersebut hanyalah syariat, yakni Alquran dan hadis yang shahih, bukan hadis-hadis dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Di antara bulan Islam yang ditetapkan kemuliaannya dalam Alquran dan as-Sunnah adalah Rajab. Namun sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat-riwayat yang dha’if dan palsu seputar Rajab, serta amalan-amalan khusus Rajab, di tengah masyarakat kita. Hal ini dijadikan senjata oleh para pecandu bid’ah untuk memromosikan kebid’ahan-kebid’ahan ala jahiliyah di muka bumi ini.

Rajab, Definisi dan Keutamaannya

“Rajab” secara bahasa diambil dari kata:

« رَجَبَ الرَّجُلُ رَجَبًا »

Artinya: mengagungkan dan memuliakan. Rajab adalah sebuah bulan. Dinamakan dengan “Rajab” dikarenakan mereka dahulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah, yaitu dengan tidak menghalalkan perang di bulan tersebut [Al-Qamus al-Muhith 1/74 dan Lisanul Arab 1/411, 422].

Tentang keutamaannya, Allah telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. at-Taubah: 36)

Imam Thabari berkata: “Bulan itu ada dua belas, empat di antaranya merupakan bulan haram (mulia), di mana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Hingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu adalah Rajab Mudhar, dan tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Demikianlah dinyatakan dalam hadis-hadis Rasulullah.” [Jami’ul Bayan 10/124-125].

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya 4662 dari Abu Bakrah bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman itu berputar, sebagaimana keadaannya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada (akhir) dan Syaban.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Rajab sangat diagungkan oleh manusia pada masa jahiliyah adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah [al-Mushannaf 2/345. Atsar shahih, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 25/291 dan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 957)] dari Kharasyah bin Hurr, ia berkata: “Saya melihat Umar memukul tangan-tangan manusia pada bulan Rajab, agar mereka meletakkan tangan mereka di piring, kemudian beliau (Umar) mengatakan: ‘Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah.’”

Wallahu a’lam

 

Sumber: http://abiubaidah.com/ensiklopedi-amalan-bulan-rojab.html/

, , , ,

TATA CARA TASYMIT (MENDOAKAN) ORANG BERSIN PADA YANG KEEMPAT KALINYA

TATA CARA TASYMIT (MENDOAKAN) ORANG BERSIN PADA YANG KEEMPAT KALINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir
#FatwaUlama

TATA CARA TASYMIT (MENDOAKAN) ORANG BERSIN PADA YANG KEEMPAT KALINYA

Oleh: Syaikh Al-‘Allamah Al-Faqih Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah ta’ala

Pertanyaan:

Berkenaan dengan bersin, jika seseorang bersin sebanyak empat kali, kemudian pada bersin yang keempat kalinya, saudaranya mendoakan ia dengan ucapan: ‘AafaakAllah (Semoga Allah memberikanmu kesehatan) atau SyafakAllah (Semoga Allah menyembuhkanmu), lalu apa balasan atas doanya tersebut?

Jawaban:

Jika ada orang bersin untuk kali pertama, maka Anda mendoakannya dengan ucapan: Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Dan yang bersin pun akan menjawan dengan ucapan: Yahdiikumulloh wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memerbaiki urusanmu). Lalu bersin yang  kedua kali dan ketiga kalinya pun seperti doa yang pertama. Sedangkan pada bersin yang keempat kalinya, jika saudaranya mendoakannya dengan ucapan: AafaakAllah (Semoga Allah memberimu kesehatan) sesungguhnya engkau itu sakit flu, lantas apa yang harus diucapkan oleh orang bersin?

Kami berpendapat dengan menganalogikan (mengiaskan) kepada ucapan Tahiyyah (Penghormatan) yang mana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang sepadan dengannya.” (QS. An-Nisaa’: 86)

Dengan demikian, orang yang bersin hendaknya mengucapkan:

‘AafaakAllah (Semoga Allah memberimu kesehatan juga), atau mengucapkan: Wa iyyaak (Dan untukmu juga), atau mengucapkan: Laka mitsluhu (Dan untukmu seperti doa tersebut juga).

 

Sumber: Silsilah Liqaa’at Al-bab Al-Maftuh, Liqaa Al-bab Al-Maftuh (175)

Kebaikan dan Silaturahim, Adab dan Akhlak Hak-hak Kaum Muslimin