Bagaimanakah Cara Bangkit Ke Rakaat Ketiga Setelah Tasyahud Awal?

Mengenai bangkit dari duduk istirahat pada perpindahan rakaat, maka para ulama berbeda pendapat. Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang afdhal adalah, bertumpu pada kedua lututnya, bukan kedua tangannya, kecuali apabila dalam keadaan masyaqqoh (berat/sulit). Sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat, bahwa yang afdhal adalah bertumpu pada kedua telapak tangan tanpa menggenggam. Untuk lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/fiqh/477-bangkit-dari-sujud.

Bangkit ke Rakaat Ketiga

  1. Bangkit ke rakaat ketiga seusai Tasyahud Awal dengan bertumpu pada tangan sambil bertakbir “Allahu akbar”.

Menurut Madzhab Syafi’i, berdiri ke rakaat ketiga adalah dengan bertumpu pada tangan di tanah. (Al Majmu’, 3: 307). Penjelasan mengenai hadis tentang MENGEPALKAN KEDUA TANGAN KETIKA AKAN BERDIRI DALAM SHOLAT, ada di sini: https://nasihatsahabat.com/kedudukan-hadis-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-ketika-akan-berdiri-dalam-sholat/

  1. Dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari Tasyahud Awal.

Menurut ulama Syafi’iyah, disunnahkan mengangkat tangan ketika bangkit ke rakaat ketiga. (Idem).

Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi mengenai mengangkat tangan saat bangkit dari Tasyahud Awal, ia berkata:

ثُمَّ نَهَضَ ثُمَّ صَنَعَ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلاَةَ

“Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit, kemudian ia melakukan rakaat kedua seperti rakaat pertama. Sampai beliau selesai melakukan dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya sebagaimana yang beliau lakukan saat Takbiratul Ihram (ketika memulai sholat).” (HR. Tirmidzi no. 304 dan Abu Daud no. 963. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih).

  1. Membaca surat Al Fatihah dengan lirih di rakaat ketiga dan keempat.

Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa ulama Syafi’iyah berpendapat, rakaat ketiga dilakukan sama dengan rakaat kedua. Yang berbeda hanyalah bacaan yang tidak dijaherkan (tidak dikeraskan).

Abu Bakr Al Hishniy berkata: “Tidak dianjurkan untuk membaca surat lain selain Al Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat menurut pendapat yang lebih kuat. Kecuali jika sebagai makmum masbuk, maka surat selain Al Fatihah masih dibaca pada rakaat ketiga atau keempat. Demikian pendapat dari Imam Syafi’i.” (Kifayatul Akhyar, hal. 160).

Namun sebenarnya sesekali membaca surat lain setelah Al Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat itu dibolehkan. Berdasarkan hadis berikut:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الظُّهْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلاَثِينَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشَرَةَ آيَةً أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ وَفِى الْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca surat di sholat Dzuhur pada rakaat pertama dan kedua, pada setiap rakaat sekitar membaca 30 ayat. Pada rakaat ketiga dan keempat membaca 15 ayat. Sedangkan waktu Ashar membaca separuh dari waktu Dzuuhur, yaitu rakaat pertama dan kedua membaca 15 ayat di masing-masing rakaat. Kemudian di rakaat ketiga dan keempat membaca separuh dari itu. (HR. Muslim no. 452).

Padahal surat Al Fatihah berjumlah 7 ayat. Berarti di rakaat ketiga dan keempat bisa dibaca lebih dari surat Al Fatihah.

Sumber Rujukan:

Muhammad Abduh Tuasikal dalam tulisan berjudul ” Sifat Shalat Nabi [21]: Cara Bangkit ke Rakaat Ketiga Setelah Tasyahud Awal”  di https://rumaysho.com/8564-sifat-sholat-nabi-21-cara-bangkit-ke-rakaat-ketiga-setelah-Tasyahud-awal.html

http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/fiqh/477-bangkit-dari-sujud

https://carasholat.com/436-cara-bangkit-ke-rakaat-ketiga-dan-keempat-dalam-sholat.html