SIFAT SHOLAT NABI [10 A]: CARA SUJUD YANG BENAR DALAM SHOLAT

SIFAT SHOLAT NABI [10 A] CARA SUJUD YANG BENAR DALAM SHOLAT

Yang berikut adalah tata cara sujud yang benar dalam sholat, sesuai dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Lalu turun sujud dan bertakbir tanpa mengangkat tangan. Secara umum, tata cara sujud yang benar telah disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis tersebut di atas, tujuh anggota sujud dapat kita rinci sebagai berikut:

(1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya),

(2,3) Telapak tangan kanan dan kiri,

(4,5) Lutut kanan dan kiri, dan

(6,7) Ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa dahi dan hidung itu seperti satu anggota tubuh. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, sholatnya berarti tidak sah. Namun jika kita katakan wajib bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun yang lebih tepat, tidaklah wajib terbuka untuk dahi dan kedua telapak tangan.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 185).

Terdapat hadis dari Yazid bin Abi Hubaib bahwa dianjurkan bagi wanita untuk merapatkan tangan ketika sujud, tidak sebagaimana laki-laki. Namun hadis ini adalah HADIS MURSAL, sebagaimana disebutkan oleh Abu Daud dalam Al Marasil (87/117). Dan hadis mursal termasuk HADIS DHAIF yang TIDAK bisa dijadikan dalil dalam syari’at. Oleh karena itu, tata cara sholat laki-laki dan wanita PADA ASALNYA ADALAH SAMA, mengingat tidak adanya dalil yang membedakan. Untuk penjelasan lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: http://nasihatsahabat.com/sifat-sholat-nabi-10-c-cara-sujud-wanita-dalam-sholat/

Adapun bentuk sujud yang sempurna secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

  1. Menempelkan Dahi dan Hidung di Lantai

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan diShahihkan Al Albani dalam Sifat Sholat, Hal. 141)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً لَا يُصِيبُ الْأَنْفُ مِنْهَا مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ

“Allah tidak menerima sholat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”  (HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani dan diShahihkan Al Albani dalam Sifat Sholat, Hal. 142)

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.

  1. Meletakkan Kedua Tangan di Lantai dan Sejajar dengan Pundak atau Telinga

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) sejajar dengan pundaknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan diShahihkan Al Albani dalam Sifat Sholat, Hal. 141)

Dan terkadang “beliau  meletakkan tangannya sejajar dengan telinga.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad Shahih sebagaimana disebutkan Al Albani dalam Sifat Sholat, Hal. 141)

  1. Merapatkan Jari-Jari Tangan Ddn Menghadapkannya ke Arah Kiblat

Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, beliau rapatkan jari-jemarinya.” [Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 23], Shahiih Ibni Khuzaimah (I/324 no. 642), dan al-Baihaqi (II/112)]

“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah Kiblat.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad Shahih, sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Sholat).

Ibn Umar radliallahu ‘anhuma mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka menghadapkan anggota tubuhnya ke arah Kiblat ketika sholat. Sampai pun beliau menghadapkan jari jempolnya ke arah Kiblat.” (HR. Ibn Sa’d dan dishaihkan Al Albani dalam Sifat Sholat, Hal. 142).

  1. Mengangkat Kedua Lengan dan Membentangkan Keduanya Sehingga Jauh dari Lambung

Dari Abu Humaid, ketika menggambarkan sholat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata: “Jika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menggelarnya (di atas lantai) dan tidak pula menggenggamnya. Beliau hadapkan ujung jari-jemari kedua kakinya ke arah Kiblat.” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 672)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/305 no. 828), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/427/718)].

Dari al-Bara’, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.

“Jika engkau sujud, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu. Dan angkatlah kedua siku tanganmu.” [Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 126] dan Shahiih Muslim (I/356 no. 494)]

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meletakkan lengannya di lantai.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

Dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah Radhiyallahu anhu, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat, beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya (merentangkannya) sehingga jauh dari lambungnya hingga tampak putih kedua ketiaknya.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/294 no. 807)], Shahiih Muslim (I/356 no. 495), dan Sunan an-Nasa-i (II/212)].

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam merenggangkan kedua lengannya sekita sujud, sampai ada sebagian sahabat yang mengatakan: “Sungguh kami merasa kasihan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau sangat keras ketika membentangkan kedua lengannya pada saat sujud.” (HR. Abu Daud dan Ibn Majah dengan sanad Hasan sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Sholat)

Catatan:

Membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya. Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika sholat berjama’ah, maka tidak boleh membentangkan tangan, namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai. Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang terlarang.

  1. Menempelkan Kedua Lutut Di Lantai

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan:….salah satunya bertumpu pada kedua lutut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Catatan:

Kedua lutut dirapatkan ataukah direnggangkan?

Tidak terdapat keterangan tentang masalah ini. Oleh karena itu, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang sholat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya.

Syaikh Ibn Al Utsaimin mengatakan: “Hukum asal (gerakan sholat) adalah meletakkan anggota badan sesuai dengan kondisi asli tubuh sampai ada dalil yang menyelisihinya.” (Asy Syarhul Mumthi’, 1:574)

  1. Bersikap I’tidal Ketika Sujud

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud “I’tidal Ketika Sujud” adalah merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha, masing-masing kurang lebih 90o. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90o. (Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ

“Bersikaplah I’tidal ketika sujud.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Humaid radliallahu ‘anhu, beliau menceritakan tata cara sholatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: …Ketika beliau sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, tanpa sedikit pun menyentuhkan paha dengan perut beliau. (HR. Abu Daud dan diShahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)

As Syaukani mengatakan: Hadis ini dalil dianjurkannya meregangkan kedua paha ketika sujud dan mengangkat perut sehingga tidak menyentuh paha. Dan tidak ada perselisihan ulama tentang anjuran ini. (Nailul Authar, 2:286)

  1. Meletakkan Ujung-Ujung Kaki dan Ditekuk Sehingga Ujung-Ujungnya Menghadap Kiblat

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad Shahih, dinyatakan Shahih oleh Al Hakim dan diShahihkan Al Albani)

“Beliau menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad Shahih dan diShahihkan Al Albani) Dan “Beliau memerintahkan (umatnya) untuk melakukannya.” (HR. At Turmudzi, Al Hakim dan diShahihkan Al Albani)

“Beliau menghadapkan punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah Kiblat.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

  1. Merapatkan Tumit

“Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud).” (HR. At Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan diShahihkan Al Albani)

  1. Melaksanakan Gerakan Sujud Sebagaimana di Atas dengan Sungguh-sungguh

Karena demikianlah sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar sholat kita bisa sempurna, maka sunnah yang mulia ini harus kita jaga.

  1. Setelah itu bertakbir bangkit dari sujud tanpa mengangkat tangan.

Sebagaimana dalam hadis Muthorrif bin Abdullah, ia berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ – رضى الله عنه – أَنَا وَعِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ ، فَكَانَ إِذَا سَجَدَ كَبَّرَ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ كَبَّرَ ، وَإِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ أَخَذَ بِيَدِى عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ فَقَالَ قَدْ ذَكَّرَنِى هَذَا صَلاَةَ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – . أَوْ قَالَ لَقَدْ صَلَّى بِنَا صَلاَةَ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم –

“Aku dan Imron bin Hushain pernah sholat di belakang ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. Jika turun sujud, beliau bertakbir. Ketika bangkit dari sujud, beliau pun bertakbir. Jika bangkit setelah dua rakaat, beliau bertakbir. Ketika selesai sholat, Imron bin Hushain memegang tanganku lantas berkata, “Cara sholat Ali ini mengingatkanku dengan tata cara sholat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau ia mengatakan, “Sungguh Ali telah sholat bersama kita dengan sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 786 dan Muslim no. 393). Hadis ini menunjukkan bahwa Takbir Intiqol (berpindah rukun) itu dikeraskan. Dan itu juga jadi dalil adanya takbir setelah bangkit dari sujud.

 

Dalam hadis Abu Hurairah juga disebutkan:

ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ

“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun sujud. Lalu beliau bertakbir ketika bangkit dari sujud.” (HR. Bukhari no. 789 dan Muslim no. 392).

Adapun tanpa mengangkat ketika turun sujud atau bangkit dari sujud adalah berdasarkan hadis:

وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ وَيَصْنَعُهُ إِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ وَلاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِى شَىْءٍ مِنْ صَلاَتِهِ وَهُوَ قَاعِدٌ

“Jika beliau ingin ruku’ dan bangkit dari ruku’ (beliau mengangkat tangan). Namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya dalam sholatnya saat duduk.” (HR. Abu Daud no. 761, Ibnu Majah no. 864 dan Tirmidzi no. 3423. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

 

Sumber Rujukan:

https://carasholat.com/321-cara-sujud-video-panduan-cara-shalat-nabi.html

Tulisan Ustadz Ammi Nur Baits berjudul: “Cara Sujud yang Benar” di https://konsultasisyariah.com/11979-cara-sujud-yang-benar.html

Muhammad Abduh Tuasikal dalam artikel berjudul: Sifat Sholat Nabi (10): Cara Sujud di https://rumaysho.com/7125-sifat-shalat-nabi-10-cara-sujud.html

Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi dalam tulisannya berjudul: “Sunnah-Sunnah Sholat : Sunnah Perbuatan” di https://almanhaj.or.id/content/657/slash/0/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-perbuatan/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *