SIFAT SHOLAT NABI [09]: TANGAN DULU ATAUKAH LUTUT SAAT TURUN SUJUD?

SIFAT SHOLAT NABI [09]: TANGAN DULU ATAUKAH LUTUT SAAT TURUN SUJUD?

Tangan Dulu Ataukah Lutut Saat Turun Sujud?

Pertama, yang mesti dipahami adalah kedua cara tersebut DIBOLEHKAN berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun para ulama berselisih pendapat manakah yang lebih afdhol di antara keduanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

أما الصلاة بكليهما فجائزة بإتفاق العلماء إن شاء المصلى يضع ركبتيه قبل يديه وإن شاء وضع يديه ثم ركبتيه وصلاته صحيحة فى الحالتين بإتفاق العلماء ولكن تنازعوا فى الأفضل

“Adapun sholat dengan kedua cara tersebut maka diperbolehkan dengan kesepakatan ulama. Kalau dia mau, maka meletakkan kedua lutut sebelum kedua telapak tangan. Dan kalau mau, maka meletakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut. Dan sholatnya sah pada kedua keadaan tersebut dengan kesepakatan para ulama. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang yang afdhol.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 449).

Kedua, yang paling afdhol adalah dilihat dari kondisi orang masing-masing. Tidak katakan yang paling afdhol adalah tangan dulu ataukah lutut dahulu, karena hadis yang membicarakannya hanyalah mengatakan:

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ

“Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum.” (HR. Abu Daud no. 840 dan An Nasai no. 1092. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

Namun ada tambahan:

وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

“Hendaknya dia letakkan tangannya sebelum lututnya.”

Versi lain mengatakan:

وَلْيَضَعْ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ

“Hendaknya dia letakkan dua lututnya sebelum dua tangannya.”

Para ulama berselisih pendapat manakah riwayat tambahan ini yang Shahih.

Pendapat yang tepat, kedua versi tambahan tersebut adalah riwayat yang goncang, tidak ada satu pun yang sahih. Keduanya idhtirob (goncang) [baca: lemah]. Sehingga riwayat yang valid hanyalah bagian awal hadis yang berbunyi, “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum”.

Sehingga dzahir hadis menunjukkan, bahwa orang yang sedang mengerjakan sholat dilarang turun sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika mau menderum. Turunnya unta untuk menderum itu memiliki bentuk yang khas. Bentuk khas ini bisa terjadi, baik kita turun dengan mendahulukan tangan dari pada lutut, ataupun kita mendahulukan lutut dari pada tangan. Sehingga makna sabda Nabi, “Janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya unta ketika hendak menderum” adalah, ketika hendak sujud hendaknya kepala tidak dibuat merunduk sampai ke lantai semisal unta ketika hendak turun, sedangkan punggung masih dalam posisi di atas. Inilah bentuk turunnya unta untuk menderum dan bentuk semacam ini berdampak negatif bagi orang yang mengerjakan sholat.

Ringkasnya, terdapat diskusi yang panjang tentang perselisihan ini di kalangan ulama. Pendapat yang paling baik, manakah yang mesti didahulukan apakah tangan ataukah lutut, ini menimbang pada kondisi masing-masing orang. Mana yang lebih mudah baginya, itulah yang ia lakukan. Ada orang yang berat badannya, ada orang yang ringan. Intinya, tidak ada hadis Shahih yang marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang membicarakan hal tadi. (Lihat Shifat Sholat Nabi karya guru kami, Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Thorifi, hal. 129).

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

https://rumaysho.com/7099-sifat-shalat-nabi-9-tangan-dulu-ataukah-lutut-saat-turun-sujud.html

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *