, ,

SERASA MENAMPAR WAJAHKU

SERASA MENAMPAR WAJAHKU

#DoaZikir

SERASA MENAMPAR WAJAHKU

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 menit. Sudah terasa malam bagi kami yang memang tinggal di ujung sebuah desa.

Sambil menenteng sekotak pizza pesanan dan masih mencari rumah yang memesan pizza, sepuluh menit saya bolak balik di area itu, mencari rumah yang dituju. Akhirnya ketemu juga.

Setelah menyampaikan pesanan pizza dan kaki ini hendak melangkah pergi meninggalkan rumah, tiba-tiba telinga ini menangkap lantunan suara.

Terdengar Kalamullah sedang dibaca. Spontan hati dan mata langsung mencari dari arah mana suara itu berasal.

Tak butuh waktu banyak, ternyata suara lantunan firman Allah itu berasal dari depan rumah yang tadi memesan pizza.

Bak orang yang sedang lalai kemudian mendapat tamparan keras dari orang yang menasihati, ya seperti itulah perasaan yang muncul dari hati saat itu. Kenapa?

Suara bacaan Kalamullah itu berasal dari sebuah rumah ‘Mewah’ (mepet sawah) dengan ukuran rumah yang kecil, terbuat dari geribik bambu yang sudah terlihat using. Sangat jauh dari kata ‘Ideal’ untuk ukuran rumah seorang ikhwan Salafy.

Terpancar cahaya lampu dari dalam rumah. Bahkan sebagian dalam rumah terlihat dari luar, karena banyak geribik yang sudah patah dan rusak.

Namun dari keterbatasan dan kesederhanaan itu, sang pemilik rumah tidak lupa untuk bersyukur kepada Allah dengan berzikir membaca Alquran, yang dengannya Allah akan menambahkan nikmat kepada seorang hamba dan diberikan hati yang tenang.

Subhanallah …

Bersyukurnya mereka yang mau bersabar, bahkan bersyukur dengan segala apa yang Allah takdirkan untuknya. Teringat firman Allah yang menyebutkan perkataan Iblis -laknatullah-

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Dengan segala keterbatasan, sang pemilik rumah tidak lupa dengan beribadah membaca Alquran.

Sungguh benar apa yang terjadi saat ini. Berapa banyak kaum Muslimin mereka mendapatkan apa yang ada di dunia ini, namun banyak di antara mereka pula lalai dari membaca buku pedoman hidup mereka (Alquran) selama mereka hidup di dunia ini. Bahkan bisa kita sebutkan dan ini bukanlah sebuah aib, berapa banyak di antara kaum Muslimin yang kondisi dan keadaannya jauh lebih baik dari yang kita sebutkan, tapi mereka tidak mampu untuk membaca Alquran. Bukan hanya orang tuanya, anak-anak merekapun juga demikian. Benarlah apa yang Allah firmankan:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau menjadi hamba yang bersyukur.”

Hanya beberapa detik saja saya mengarahkan mata ini k erumah tersebut. Lalu kaki ini melangkah bersama gelap dan dinginnya malam, seraya mata ini tak sengaja menoleh ke kanan dan ke kiri, membandingkan rumah-rumah sekitar dengan rumah yang sangat sederhana tadi.

Namun semua rumah yang saya lewati sudah sangat sepi, tidak ada terdengar aktivitas di dalamnya. Ya, mungkin karena rumah mereka terbuat dari tembok tebal dan rapat, sehingga jika mereka membaca Alquran, tak sampai terdengar sampai di luar (gumam hati ini).

Sesampainya di rumah, saya hanya bisa memerhatikan rumah yang saya tempati. Meskipun rumah yang saya tempati bukanlah milik saya, tapi kondisinya jauh sangat lebih baik dan lebih nyaman untuk beristirahat, daripada rumah yang terdengar bacaan Alquran tadi.

Berapa banyak Alquran yang sudah saya baca di rumah ini?

Saya bersyukur ya Allah. Dengan kejadian ini Allah mengingatkan saya, bahwa saya jauh lebih wajib untuk bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia). Dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita melihat mereka yang bergelimang harta, kita akan lupa, dan merasa kurang, atas apa yang Allah berikan kepada kita.

Sebagai penutup sekaligus doa, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ وَتَرْحَمَنِيْ، وَإِذََا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِيْ غََيْرَ مَفْتُوْنٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِيْ إِلَى حُبِّكَ.

ALLOHUMMA INNII AS ALUKA FI’LAL KHOIROOT,  WATARKAL MUNGKAROOT,  WAHUBBAL MASAAKIIN,  WA ANTAGHFIROLII WA TARHAMANII,  WA IDZAA ARODTA FITNATA QOWMIN FATAWAFFANII GHOYRO MAFTUUN,  WA AS ALUKA HUBBAKA,  WA HUBBA MAYYUHIBBUKA,  WA HUBBA ‘AMALIN YUQORRIBUNII ILAA HUBBIK.

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu.” [Hadis Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/243), lafadzh ini miliknya, at-Tirmidzi (no. 3235), dan al-Hakim (I/521), dan dihasankan oleh at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata,”Aku pernah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il –yakni Imam al-Bukhari- maka ia menjawab, ‘Hadis ini Hasan Shahih’].

Purwosari, Rabu, 18 Muharram 1437 H/ 19 Oktober 2016

✏Penulis memiliki nama dengan huruf depan I dan diakhiri dengan huruf A

┄┄┉┉✽̶»̶̥?»̶̥✽̶┉┉┄┄

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *