PERBEDAAN USTADZ DENGAN DUKUN

Perbedaan Ustadz dengan Dukun

Perbedaan Ustadz dengan Dukun

Definisi Dukun

Yang dimaksud dengan istilah Dukun (Kahin, dalam bahasa Arab) adalah orang yang mengabarkan perkara gaib yang terjadi di masa depan dengan bersandarkan pada pertolongan syaitan (jin) (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 174). Ada pula yang menafsirkan istilah ‘Kahin’ dengan setiap orang yang mengabarkan perkara gaib di masa depan atau di masa lampau yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan hal itu didapatkannya dengan cara meminta bantuan kepada jin. Dukun dan tukang sihir itu memiliki kesamaan, dari sisi kedua-duanya sama-sama meminta bantuan jin untuk mencapai tujuannya (lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 317). Apabila dicermati, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya istilahKahin/dukun itu dipakai untuk menyebut orang yang mengambil berita dari sumber -jin- yang mencuri dengar -berita dari langit yang disampaikan oleh malaikat- (lihatFath al-Majid, hal. 282, al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1/329).

Adapun yang disebut dengan ‘Arraf (orang pintar) adalah orang yang memberitakan tentang berbagai peristiwa seperti halnya mengenai barang curian, siapa yang mencurinya, barang hilang dan di mana letaknya -melalui cara-cara tertentu yang tidak masuk akal-. Sebagian ulama memasukkan Kahin/dukun dan munajjim/ahli astrologi dalam kategori ‘Arraf. Ini artinya cakupan ‘Arraf itu lebih luas daripada Kahin. Walaupun ada juga yang berpendapat ‘Arraf sama dengan Kahin. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘Arraf adalah orang yang memberitakan perkara-perkara yang tersembunyi dalam hati (lihat Fath al-Majid, hal. 285-286, al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1/330,337).

Pendapat yang kuat -sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Shalih alu Syaikh- adalah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan, bahwasanya istilah ‘Arraf itu umum, mencakup dukun, ahli nujum, dan semacamnya yang mengaku mengetahui perkara-perkara gaib -masa lalu atau masa depan- dengan cara-cara perbintangan, membuat garis di atas tanah, melihat air di dalam mangkok, membaca telapak tangan, melihat rasi bintang/horoskop, dsb. (lihat at-Tam-hid, hal. 319 dan 324-325). [http://abumushlih.com/membongkar-kedustaan-wali-syaitan.html/]

Hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara gaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain…. (dinukil dari Kitabut Tauhid)

Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: HARAM dan SYIRIK, menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala. [http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya.html]

Meskipun mereka memakai sorban, peci, sarung, atau pun berkalungkan tasbih dan sajadah. Mereka adalah antek-antek dan kawan-kawan Iblis, para wali syaitan, BUKAN wali Allah! (http://buletin.muslim.or.id/aqidah/mereka-adalah-penjahat)

Karena hakikat dan hukum tidak akan berubah dengan berubahnya nama, yakni: Selama hakikat dari sesuatu itu sama, maka hukumnya juga sama walaupun namanya berbeda. (http://al-atsariyyah.com/hukuman-bagi-pelanggan-para-dukun.html)

Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram. [http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya.html]

Perhatian!

Definisi dukun dalam pembahasan ini khusus dukun yang mengaku-ngaku ilmu gaib/meramal atau berhubungan dengan jin. Tidak termasuk di dalamnya pengertian dukun secara umum seperti yang ada di Indonesia, seperti: dukun pijat, dukun bayi, dukun patah tulang, dukun tabib, dll. Mereka ini jika tidak bergelut dengan jin dan ilmu gaib, tentu tidak dihukumi sebagai ‘Arraf yang musyrik.

Definisi Kyai/Ustadz (Tulen)

Dalam kamus Bahasa Indonesia,  Prof. Dr. J.S Badudu mendefinisikan Kyai sebagai sebutan terhadap seseorang yang dipandang dan diakui sebagai ulama’ Islam. (http://ruqyahislam.blogspot.com/p/terpikat-dukun-berbaju-kyai.html). Para ‘Ulama yang sebenarnya merupakan orang yang bertaqwa. Hal ini merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya):

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28) [http://muslim.or.id/aqidah/memupuk-rasa-takut-kepada-allah.html]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah dengan sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308). [http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/4352-ilmu-membentengi-dari-maksiat.html]

Orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi) [http://muslim.or.id/aqidah/memupuk-rasa-takut-kepada-allah.html]

Bagaimana dengan orang-orang yang mengaku/ dianggap sebagai ulama tetapi melakukan perbuatan syirik, yakni sebesar-besar maksiat dan dosa yang tidak terampuni (an-Nisa: 48). Di manakah rasa takut mereka saat mereka mengaku mengetahui ilmu gaib dan mendemonstrasikan sihir? Hendaklah orang-orang yang masih sehat akalnya tidak tertipu dengan berbagai atribut agama yang mereka kenakan!

Perbedaan Dukun dengan Ustadz/ Kyai tulen

Di masa sekarang ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala di depan orang-orang. Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Alquran untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang  yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian. Tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah Fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati. (I’anatul Mustafid) [http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya.html]

Di bawah ini adalah perbedaan-perbedaan yang harus diketahui antara dukun dengan Ustadz/Kyai yang lurus tauhid dan manhajnya, agar kita tidak salah melangkah yang akan mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.

Dalam Hal Jenis Ilmu

Dukun: Ilmu hitam/sihir/ ilmu azimat /ilmu metafisika

Ustadz/Kyai: Ilmu agama

 

Dalam Hal Media

Dukun: Kekuatan dan aji kesaktian, tenaga dalam,

Ustadz/Kyai: Ketaatan pada Alloh

 

Dalam Hal Cara Perolehan

Dukun: Ngelmu yang bertentangan dengan syari’at agama (bertapa, puasa pati geni, merapal hizib, latihan tenaga dalam dll

Ustadz/Kyai: Belajar ilmu agama dan membentuk kesalehan diri

 

Dalam Hal Sumber Ilmu

Dukun: Iblis/syetan/Setan/ Khodam jin (jin yang mengaku malaikat)

Ustadz/Kyai: Alquran dan Hadis dengan pemahaman para salafush Sholih

 

Dalam Hal Pasien Diarahkan

Dukun: Untuk setia dan taat kepada dirinya dan jauh dari Allah

Ustadz/Kyai: Untuk taat kepada Allah jalla wa a’la

 

Dalam Hal Motivasi Menolong

Dukun: Materi, keuntungan, kepuasan

Ustadz/Kyai: Sebagai ibadah

 

Dalam Hal Bentuk komunikasi

Dukun: Pamer kemampuan kesaktian, meramal-ramal. Segala diramal padahal banyak yang tidak perlu. Banyak menceritakan yang akan terjadi padahal belum tentu bermanfaat. Senang dipuji, menolong tanpa menimbang-nimbang perlu tidaknya pertolongan diberikan

Ustadz/Kyai: Menghindari pamer kemampuan diri (tawadhu), memberikan nasihat dan bimbingan agama, menghindari meramal-ramal, berhenti melayani orang bila persepsi orang padanya adalah tukang ramal, memilih mana yang perlu diceritakan dan yang tidak kepada orang awam.

 

Dalam Hal Sifat Pelayanan

Dukun:

(1) Tidak ada usaha memerbaiki pasien agar menjadi lebih baik dan lebih benar dalam menjalan syariat agama dan kehidupan.

(2) Melayani keinginan apa saja termasuk balas dendam.

(3) Melakukan praktik perdukunan, senang memerlihatkan kemampuan bacaan gaibnya, suka sekali memberikan azimat atau benda-benda bertuah, senang memberi hizib/amalan kesaktian.

(4) Jarang sekali atau tidak memberikan nasihat kebaikan dan takwa pada orang-orang yang datang kepadanya. Tidak memeringatkan agar orang tidak bertanya apa-apa yang akan terjadi, agar menjauhi kemusyrikan

Ustadz/Kyai: Membimbing untuk lebih taat beribadah, memerbaiki akhlak, meningkatkan kualitas kesadaran diri. Lebih mementingkan memberikan taushiyah atau nasihat-nasihat ketakwaan dan selalu menjaga diri dari kebiasaan meramal-ramal

 

Dalam Hal Yang Disambat atau Dituju

Dukun: Makhluk-makhluk halus, khodam jin, arwah-arwah karuhun yang sewaktu hidup dikenal sakti

Ustadz/Kyai: Allah jalla wa a’la

 

Dalam Hal Yang Dianjurkan

Dukun: Bertentangan dengan ajaran agama

Ustadz/Kyai: Sesuai dengan ajaran agama

 

Dalam Hal Dampak bagi yang Sering Dekat

Dukun: Kagum, hormat dan ketagihan terus bertanya agar meramal yang akan terjadi dan melayani keinginan dirinya

Ustadz/Kyai: Kesadaran agama dan keshalehannya meningkat

 

Sumber (http://metafisis.wordpress.com/2012/10/06/perbedaan-kyai-vs-dukun/) (dengan pengubahan)

 

Waspadai juga ciri-ciri dukun berikut ini:

  1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.
  1. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.
  1. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.
  1. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.
  1. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.
  1. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.
  1. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.
  1. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  1. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.
  1. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.
  1. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.
  1. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.
  1. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama, misal menyobek tulisan-tulisan ayat Alquran atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
  1. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas Minas Sihr)

Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya, walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz. (http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya.html)

Trik-Trik Murahan Yang Digunakan Para Dukun

Terkadang mereka menggunakan kalimat-kalimat seperti: “Inikan hanya ikhtiar, yang menentukan kan Tuhan”.

Trik-trik itu sangat “jitu” dan sangat “efektif” untuk menipu orang-orang awam muslim yang jahil (bodoh) (http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/04/06/orang-pintar-berkedok-kyai-ustadz/)

Berikut trik-trik yang lain:

  1. Menggunakan pasien palsu, drama bohongan untuk mengelabui penonton.
  1. Mengaku punya pelanggan artis, pejabat, politisi, pengusaha sukes unuk meningkatkan pamor.
  1. Menggunakan ayat-ayat dari Alquran (yang diputar balikkan maknanya) dan hadis-hadis palsu (yang dimodifikasi untuk membenarkan praktik sihirnya)
  1. Tidak segan-segan mewajibkan puasa-puasa tertentu yang tidak disyariatkan untuk mencapai “ilmu-ilmu” fiktif tertentu, misalnya: Ilmu Pedang Senja!?
  1. Menggunakan gelar-gelar keduniaan (S2/S3), agar disebut intelek.
  1. Sambil berjualan barang-barang keramat (bisa berupa berupa keris, kaos, sabuk, batu cincin, dompet, bahkan foto-foto semua guru yang telah “Diisi”).
  1. Meramal dengan perkataan secara umum (tidak mendetil), sehingga celah-celah kosongnya bisa digunakan sebagai alasan /’ Ngeles’ bila ramalannya meleset
  1. Melecehkan perguruan lain. Hal ini karena mereka sama-sama tahu tentang kebusukan sesama paranormal.
  1. Menggemborkan ilmu-ilmu fiktif seperti: Pedang Senja Hikmatul Rohim, Fathyatul Sinai, Selereng Pisau dan lain-lain. Semakin meyakinkan lagi jika dibumbui dengan dongeng-dongeng mistis seputar ilmu tersebut.
  1. Menggunakan kata khodam, makhluk astral, atau ascended master (makhluk karangan yang konon mereka akui sebagai malaikat tapi keberadaannya tidak ada didalam Al-Quran
  1. Menumbuhkan sugesti para pengikut dan pasien yang menghadiri ceramah/pengajian keagamaan yang dibumbui dengan:

a. Penjualan benda-benda bertuah (jimat);

b. Aksi-aksi kesurupan (membuat salah satu pengikut menjadi kesurupan serta penyembuhan), penyembuhan-penyembuhan gaib, ramalan-ramalan, demonstrasi kekebalan dan lain-lain

c. Pengultusan guru mereka (memberi barang pribadi guru tersebut, mencantumkan nama guru mereka untuk disholawatkan, memberikan suatu pemikiran syirik yaitu seakan-akan para pengikutnya akan ditolong oleh guru mereka di mana pun mereka berada, seakan-akan guru mereka bukan manusia biasa.

d. Cerita-cerita tentang kesaktian seseorang, tentang ilmu-ilmu gaib yang bisa dipelajari yang dimaksudkan untuk memberikan pandangan bahwa mereka seakan-akan mengenal dunia gaib

Tentu segala bumbu tersebut akan ditutup dengan bualan: “Ilmu yang kami ajarkan datangnya dari Allah”

Mangsa Empuk Para Dukun

Berikut ini kriteria orang-orang yang mudah ‘Dikibuli’ para pembohong tukang dukun:

  1. Orang yang pemalas dan cepat frustasi, maunya kaya dan mendapat jabatan dengan cara instan, tidak mau bekerja keras.
  1. Bodoh, pengetahuan agamanya minim, apalagi imannya yang sangat tipis, mau-maunya ditipu sama dukun (baca: pendusta), walaupun bergelas S2/ S3
  1. Tidak percaya dengan kemampuan diri sendiri, bertawakkal kepada dukun dan jin.
  1. Mau melakukan apa saja demi meraih kejayaan semu, walaupun harus berkubang dalam kesyirikan.

(http://feehas.wordpress.com/2012/03/31/pengakuan-mantan-dukun-ternama/) Selengkapnya, bacalah situs tersebut

 

Sumber Rujukan:

Ini Ustadz, Kyai, Wali, atau Dukun? (5) [Perbedaan Ustadz/Kyai dengan Dukun]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *