PENJELASAN ROH YANG BERGENTAYANGAN DAN PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

//PENJELASAN ROH YANG BERGENTAYANGAN DAN PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PENJELASAN ROH YANG BERGENTAYANGAN DAN PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL
>> Kenali Jin yang Mendampingi Anda
 
Tidak sedikit orang yang masih percaya dengan keyakinan kuno, bahwa orang meninggal setelah dikuburkannya bisa pulang lagi. Mereka berkeyakinan, bahwa orang mati masih bisa menengok keluarga, atau memberi pesan buat keluarganya. Dalam masyarakat kita juga dikenal ritual untuk memanggil roh.
 
Berkembang pula anggapan, bahwa roh orang yang sudah meninggal akan bergentayangan. Dalam sebagian keyakinan kelompok lain, bahwa roh orang yang sudah meninggal bahkan akan menitis (reinkarnasi/raj’ah) kembali dalam kehidupan baru di dunia ini. Mereka menyebutkan beberapa kejadian yang berkaitan dengan peristiwa kematian, dan juga hasil dari cerita-cerita orang-orang tertentu sebagai sebuah bukti. Tentu anggapan semacam itu tidak lepas dari pengetahuan dan informasi yang diterimanya. Keyakinan demikian muncul karena yang mereka temui, alami, dan peroleh mengarah kepada simpulan tersebut.
 
Persis Berarti Sama Dengan?
 
Pengakuan yang sering terjadi di kalangan masyarakat kebanyakan adalah kerabatnya yang telah meninggal bisa kembali pulang untuk suatu keperluan. Entah itu kakek atau nenek, bapak atau ibu, guru, bahkan anak. Ada yang mengaku diberi petunjuk sesuatu. Ada yang mengatakan mendapat pesan. Ada yang katanyamendapatkan wasiat yang tidak sempat ditinggalkan. Dan seterusnya.
 
Sebutlah sebagai contoh. Ada sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati kakek yang sudah tua. Dengan penjelasan yang panjang lebar, sebagian cucunya berhasil meyakinkan keluarga besarnya untuk merawat dan menguburkan sang kakek sesuai ketentuan Islam. Kebanyakan keluarganya memang masih cukup terikat oleh paham animisme primitif. Meski cukup tegang beberapa saat, penjelasan beberapa cucunya bisa diterima, meski dengan setengah hati. Beberapa hari kemudian, sebagian keluarganya mengaku didatangi kakek yang baru saja meninggal tersebut. Digambarkan sang kakek datang kembali dengan muka sedih sembari protes, kenapa tidak dirawat sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Sebelum pergi, kakek tersebut berpesan untuk menebus ”kesalahan” tersebut, diminta keluarga yang ditinggalkan agar membuat nisan yang tinggi. Sebelumnya keluarganya juga diminta mencarikan tanah dari areal pekuburan Wali Songo. Selain itu, selama tiga bulan agar ada keluarganya yang menemaninya pada setiap hari meninggalnya. Masih banyak pesan yang ditinggalkan pada salah satu keluarga tersebut.
 
Keributan kecil kembali terjadi pada keluarga tersebut. Sebagian percaya dengan kejadian tersebut. Sebagiaan tidak percaya begitu saja. Bahkan sebagian merasa begitu saja tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang yang sudah meninggal bisa pulang kembali untuk sebuah keperluan? Sementara yang mengalami (didatang roh sang kakek) berusaha meyakinkan, bahwa wujud yang datang itu memang sang kakek tua; dari gaya bicaranya, mengenakan pakaian yang disukainya, hingga gerak-gerik tubuhnya. Baginya berbagai ciri tersebut sama dengan ciri kakeknya. Karena itu kesimpulannya, wujud yang datang itu memang sang kakek.
 
Jin Qarin Sang Pendamping
 
Sebenarnya sulit untuk mengatakan sesuatu yang mirip itu sama. Betapa tidak sedikit pemain sandiwara bisa memerankan seseorang tokoh secara mirip. Mirip dalam penampilan fisiknya, mirip gaya bicaranya hingga mirip gerak-geriknya. Orang-orang terkenal, bekas presiden, misalnya, menjadi obyek untuk ditiru. Sebut saja mantan presiden Soeharto, hingga yang baru saja tidak aktif, SBY. Berbagai parodi digelar dengan cerita tentang kehidupan pejabat yang diperankan dengan sangat mirip oleh tokoh-tokoh di muka. Apakah lantas pemeran dalam parodi tersebut sama dengan Soeharto atau Habibie, misalnya? Tentu saja tidak! Soeharto adalah sosok tersendiri, sementara pemeran yang mirip Soeharto adalah individu yang berbeda, meskipun mampu memerankan gerak dan suaranya dengan sangat mirip. Kemampuan tersebut, selain karena bakat, merupakan hasil pengamatan yang cukup intens terhadap tokoh yang diperankannya.
 
Demikian pula sosok yang sering dipercayai sebagai orang meninggal yang kembali ”pulang”. Dalam akidah Islam roh orang yang sudah meninggal tidak bisa bebas pergi pulang semaunya. Mereka ditempatkan oleh Allah dalam tempat tertentu. Lantas siapa sosok yang tidak jarang digambarkan oleh sebagian kalangan sebagai orang meninggal yang coba kembali pulang menemui kerabatnya?
 
Dalam beberapa ayat dan hadis disebutkan, bahwa SETIAP MANUSIA DIBERI PENDAMPING DARI GOLONGAN JIN. Sering disebut dengan istilah QARIN. Di antaranya adalah sebagai berikut:
 
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
 
“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan). Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [QS. Al-Zukhruf: 36]
 
سعيد الجريري قال بلغنا أن الكافر إذا بعث من قبره يوم القيامة سفع بيده شيطان فلم يفارقه حتى يصيرهما الله تبارك وتعالى إلى النار فذلك حين يقول ( يا ليت بيني وبينك بعد المشرقين فبئس القرين )
 
Orang yang lalai dari peringatan Allah akan dijerumuskan oleh setan sebagai Qarinnya ke jalan Neraka.
 
Sa’id al-Jariri mengomentari ayat tersebut dan beberapa ayat berikutnya mengatakan:
“Telah sampai berita kepada kami, bahwa orang kafir apabila dibangkitkan pada Hari Kiamat, setan akan mendorong dengan tangannya, hingga ia tidak bisa melawannya, sampai Allah menempatkan keduanya di dalam api Neraka. Dan ketika itu ia berkata (tersebut dalam surat yang sama nomor ayat ke-38.): ‘Aduhai, kiranya (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara Timur dan Barat. Setan memang sejelek-jelek teman pendamping.’ [Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir juz 4/129]
 
Dalam sebuah kesempatan Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya, bahwa setiap manusia memang diciptakan dengan memiliki Qarin (pendamping) dari jin. Sabda Nabi ﷺ:
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ
 
“Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan disertakan kepadanya Qarin (teman) dari Jin’. Para sahabat bertanya: “Kepada engkau juga, wahai Rasulullah?’ Beliau ﷺ menjawab, ‘Kepada saya juga. Akan tetapi Allah telah menolongku atasnya (Qarin) sehingga dia tunduk. Maka dia tidak pernah menyuruhku melainkan kepada kebaikan.” [Shahih Muslim (2814) dan Musnad Ahmad (3309, 3611, & 4160)]
 
Adalah sesuatu yang wajar, jika pendamping sangat mengenal yang didampinginya. Demikian pula jin pendamping tentu akan sangat mengenal orang yang didampinginya. Sangat mungkin, karena kalau roh tidak mungkin. Kemudian jin jahat tersebut MENYERUPAKAN DIRI DALAM WUJUD ORANG YANG DIDAMPINGINYA tersebut. Interaksi yang lama dengan manusia yang didampinya menjadikannya begitu mudah untuk meniru tingkah laku orang yang pernah didampinginya, seperti halnya para pelaku seni peran. Jin Qarin bisa MENIRUKAN SECARA PERSIS, dari gaya bicaranya, hingga gerak-gerik tubuhnya, termasuk tahu hal-hal yang disukai manusia yang didampinginya.
 
Tentang wujud yang mirip dengan manusia yang didampinginya, jangan dilupa, bahwa jin punya kemampuan untuk beralih rupa. Dengan izin Allah, jin bisa berubah-ubah bentuk menyerupai makhluk lain, termasuk rupa makluk aneh yang mungkin belum terlintas dalam benak manusia. Tentang berubahnya wujud jin ini pernah juga terjadi ketika terjadi pertempuran antara kaum Muslimin dengan musyrikin di zaman Rasulullah ﷺ ketika Perang Badar. Saat itu ada setan yang menyerupakan diri dalam wujud Suraqah bin Malik. Dia melakukan provokasi dan menjanjikan bantuan perang pada kaum musyrikin.
 
وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَغَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَّكُمْ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكُمْ إِنِّي أَرَى مَالاَتَرَوْنَ
 
“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu. Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat…” [QS. Al-Anfal:48]
 
Cerita di atas merupakan salah satu kasus tertipunya manusia oleh setan dari golongan jin. Mereka tertipu karena tidak mengenal ajaran Islam, tidak mau mengenal tentang sifat-sifat setan, dan tidak mau mengenal jenis-jenis perbuatan setan. Contoh kejadian tersebut di atas tidak lain adalah bentuk-bentuk kejahatan setan kepada manusia untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesesatan. Modusnya adalah setan menyaru dan mengaku sebagai orang yang bangkit dari kematiannya, untuk kemudian menyuntikkan racun keyakinan kepada manusia. Sayang masih banyak orang yang gampang tergoda dan percaya dengan tipuan setan tersebut, hanya dengan alasan bentuknya sama dengan orang yang telah meninggal dunia. Bentuk penyesatan itu dilakukan oleh kelompok jenis jin pendamping (Qarin).
[Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin al-Suyuthi]
 
 
Sumber: http://binbaz.atturots.or.id/berita-kenali-jin-yang-mendampingi-anda.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#jin #jinqarin #Qarin #Qorin #jinpendampingmanusia #rohgentayangan, #bertemuorangyangsudahmeninggaldunia #ruhgentayangan, #reinkarnasi, #akidah, #tauhid, #aqidah, #tawheed
2018-01-12T18:40:20+00:00 January 12th, 2018|Akidah & Tauhid|0 Comments

Leave A Comment

14 − 3 =